Selasa, 17 Mei 2016

[ TRANSLATE ] Oregairu Vol 3 Chapter 3 : Yukinoshita Yukino Memang Benar-Benar Menyukai Kucing

x x x







  Dari semua hari dalam seminggu, Sabtu adalah yang terkuat. Apa kau tidak merasa gemetaran ketika merasakan superioritasnya? Itu adalah hari libur dan besoknya lagi masih hari libur. Ini seperti sebuah penawaran yang berada dalam level super saiyan.

  Aku juga menyukai Sabtu dengan segenap jiwa dan ragaku, aku ingin hidup setiap hari seperti hari Sabtu. Minggu adalah hari yang memberikan stress karena kau akan berpikir, “Besok aku harus bekerja lagi...”

  Hal pertama yang kulakukan di pagi hari adalah membaca koran. Kobo si Berandal adalah bagian terbaik dari koran, seperti biasanya. Atau mungkin lebih tepat, satu-satunya bagian koran yang kubaca.

  Setelah selesai kubaca – dan itu artinya Kobo si Berandal sudah kubaca – aku memeriksa iklan diskon disana. Ketika aku melihat sesuatu yang murah, aku menaruh lingkaran merah disana dan memberikannya ke Komachi, dimana dia mencatatnya dan memasukkannya ke daftar belanjaan. Biasanya Komachi atau Ibu yang pergi belanja di keluarga ini.

  Lalu aku melihat sebuah cahaya yang terang di tengah-tengah halaman iklan disini. Saking terangnya sehingga kau bisa menyebutnya photon. Aku ini sedang membicarakan tentang partikel cahaya, bukan orang.

  “K-Komachi! Lihat ini!”

  Tanpa berpikir, aku berteriak kepadanya. “Ada pameran tahunan Kucing dan Anjing di Tokyo!”

  Suaraku seperti ada di salah satu adegan Lion King. Aku mungkin sedang meneriakkan sebuah Battle Cry tanpa berpikir juga. U-Ra-Ra!! Kalau tidak salah barusan itu kata-kata di geronimo ya?

  “Ya ampun! Onii-chan benar! Ini luar biasa! Penglihatanmu tajam sekali, Onii-chan!”

  “Hahaha! Berterimakasihlah kepadaku, wahai rakyatku!”

  “Wow, kau sangat luar biasa! Onii-chanku luar biasa!”

  “...Kalian berdua diamlah! Kalian berdua berisik sekali.”

  Ibuku keluar dari kamarnya, memaki, dan terlihat seperti golem. Rambutnya seperti baru bangun dari tidur, kacamatanya miring sebelah dan ada semacam bayangan hitam di bawah matanya yang tidak mau pergi darinya.

  “Ma-Maaf...”

  Akupun meminta maaf, setelah itu Ibuku mengangguk dan mulai berjalan kembali ke kamarnya. Tampaknya dia berencana untuk tidur panjang hari ini.

  ...Tampaknya menjadi wanita karir memang berat. Jujur saja, aku kasihan dengan wanita yang akan menikah denganku kelak. Aku akan menjadi pria yang bergantung dengan penghasilan istri – aku seperti menyia-nyiakan salah satu sumber daya manusia yang ada.

  Ketika tangannya hendak membuka pegangan pintu, Ibuku melihat kami dari balik bahunya.

  “Kamu,” katanya. “Kamu boleh mengajak Komachi jalan-jalan, tapi hati-hati dengan mobil-mobil diluar sana. Karena ini panas dan mobil-mobil terlihat suka ngebut-ngebutan di cuaca seperti ini, jadi rawan akan kecelakaan. Jangan melakukan hal yang bodoh seperti membiarkan Komachi mengendarai sepeda denganmu.”

  “Yeah, yeah. Memangnya aku mau melihat Komachi dalam situasi berbahaya?”

  Kedua orangtuaku benar-benar menyayangi Komachi. Yeah, itu karena dia adalah gadis, dia sering melakukan semua pekerjaan rumah dan pekerjaannya juga bagus, tidak lupa kalau dia itu juga sangat manis. Tidak heran kedua orangtuaku memperlakukan dia seperti sesuatu yang berharga.

  Sedang bagi kakaknya, di lain pihak, aku sendiri ragu kalau mereka akan memperlakukan hal yang sama.

  Entah mengapa, Ibuku mengembuskan napasnya yang terlihat berat dan melihat ke arahku.

  “Yang kukhawatirkan itu kamu, dasar idiot.”

  “...Huh?”

  Akupun terasa kaget. Melihatnya yang ternyata memikirkanku selama ini...Aku awalnya yakin kalau aku tidak cukup dicintai disini karena dia tidak pernah membangunkanku ketika pagi, memilih untuk memberikanku 500Yen daripada memasakkan makan siang dan kadang-kadang membelikanku kaos jelek di toko terdekat. Serius, ada apa dengan selera fashion orangtuaku? Saking buruknya sehingga aku ingin menangis karena malu. Aku yakin mereka membenciku.

  Meski begitu...Hubungan antara orangtua dan anak adalah hal yang manis. Kedua mataku terlihat seperti hendak menangis saja.

  “B-Bu...”

  “Aku benar-benar khawatir. Jika kau membuat adikmu terluka, ayahmu akan membunuhmu.”

  “S-Si Tua Bangka...”

  Akupun terkejut.

  Si Tua Bangka itu sedang berada di dunia mimpi, tertidur lelap.

  Jujur saja, tidak ada yang bagus jika ayahku ada di sekitar sini. Dia sering memeluk Komachi dan melihatku dengan tatapan mata yang curiga. Dia hanya memberitahuku hal-hal yang tidak ada hubungannya denganku. Misalnya “hati-hati dengan preman di luar sana”, atau “Wanita yang baru saja mengobrol denganmu di jalan hanya tertarik dengan dompetmu”, atau “tawaran investasi masa depan hanyalah tiupan belaka”, atau “Bekerja berarti kalah”. Yang membuatnya terasa buruk adalah semua itu berasal dari pengalaman pribadi ayahku, jadi aku tidak bisa menyepelekan itu.

  Kapanpun dia meninggalkan rumah, dia selalu membanting pintunya dengan keras, sangat menggangguku.

  “Ibu tidak perlu khawatir karena kami akan pergi naik bus!” Komachi lalu mendatangi Ibu dan tertawa kecil. “Ah, kami juga butuh uang untuk biaya busnya!”

  “Baiklah kalau begitu,” kata Ibuku. “Memangnya berapa untuk bolak-balik kesana?”

  “Uhh...”

  Komachi mulai menghitung menggunakan jari-jarinya. Umm, jika sekali berangkat butuh 150Yen, maka bolak balik ya 300Yen. Aku tidak tahu mengapa dia masih membutuhkan jarinya untuk menghitung itu.

  “Itu 300Yen,” akupun menjawabnya.

  Mendengar hal itu, Ibuku mengatakan “Oke” sambil mengambil beberapa koin dari dompetnya. “Ini, 300Yen.”

  “Terima kasih!” kata Komachi.

  “Bu, maaf nih ya. Tapi aku ini pergi juga loh...”

  Ada sesuatu yang aneh dengan kata-kataku, aku seperti Masuo-san yang berbicara kepada Fune.

  “Oh, jadi kau butuh uang juga?”

  Ibuku menaruh tangannya di dompet seperti baru saja menyadari eksistensi diriku.

  “Ah, dan Komachi akan makan diluar juga hari ini, jadi Komachi butuh uang makan siang juga!” kata Komachi.

  “Huh? Kurasa itu ada benarnya...”

  Sesuai request Komachi (yang merayu dengan nada optimis), Ibuku mulai mengambil dua lembar uang 1000Yen.

  Wow, Komachi ini luar biasa. Biasanya, uang makan siangku adalah 500Yen, entah mengapa itu diartikan 1000Yen ketika Komachi yang memintanya. Tolong jelaskan itu, Ibu.

  “Terima kasih! Okeee, ayo pergi Onii-chan!”

  “Mmm.”

  “Oke, selamat bersenang-senang.”

  Ibuku melambaikan tangannya kepadaku sebelum kembali ke kamarnya lagi. Tidur yang nyenyak, Ibu.

  Lalu, ketika aku hendak meninggalkan rumah, aku memegangi pegangan pintu dengan sepenuh hatiku dan membantingnya keras-keras.

  Suara itu untukmu. Bangun dan nikmati, Ayah!









x x x









  Butuh sekitar 15 menit dari bus ke tempat Pameran Kucing dan Anjing Tokyo,  yaitu di Expo Hall Makuhari. Meski namanya Pameran Tokyo, tapi sebenarnya itu digelar di Chiba. Aku tidak punya uang jika itu sebuah pameran yang ada di Tokyo atau sejenisnya.

  Lokasinya dipenuhi keramaian orang. Banyak juga yang datang dengan membawa binatang peliharaan mereka.

  Komachi dan diriku datang dengan berpegangan tangan karena itulah yang seharusnya kami lakukan. Kami bukannya sepasang kekasih atau sejenisnya, tapi kami sudah melakukan ini sejak kecil sehingga terkesan sebagai sebuah kebiasaan. Komachi menggumamkan lagu sambil mengayun-ayunkan tanganku. Tulang bahuku hampir copot dibuatnya.

  Kulihat Komachi lebih ceria dari biasanya, mungkin karena apa yang sedang dia pakai: tanktop yang dipadu dengan mini dress tipis dengan leher terbuka, bersama dengan celana pendek, mengesankan sedang memakai rok pendek saja. Plus, dia memasang senyuman senilai jutaan dollar. Ketika adikku tersenyum seperti itu, dia terlihat sangat bangga dengan dirinya. Meski dia tidak tersenyum seperti itu setiap harinya.

  Ngomong-ngomong, mungkin ini dinamakan Pameran Anjing dan Kucing Tokyo, tapi ini sebenarnya adalah arena penjualan binatang peliharaan dengan menampilkan berbagai jenis binatang secara besar-besaran. Di lain pihak, aku sendiri kagum karena banyak sekali jenis-jenis hewan langka yang ditampilkan. Juga tidak ada tiket masuk atau sejenisnya – ini adalah event yang menyenangkan. Chiba benar-benar yang terbaik.

  Setelah kita masuk, Komachi menunjuk ke suatu hal yang menarik.

  “Lihat, Onii-chan! Pinguin! Banyak sekali pinguinnya! Manisnya!”

  “Oh, itu mengingatkanku akan sesuatu. Kudengar kalau kata Pinguin itu berasal dari kata latin yang berarti ‘gemuk’. Kalau dipikir-pikir, mereka itu memang mirip dengan budak perusahaan yang kegemukan dan sedang berjalan-jalan di luar kantornya.”

  “Oh, wow. Tiba-tiba, aku tidak bisa melihat mereka sebagai hewan manis lagi...Terima kasih dengan info-info tidak bergunamu, aku akan selalu teringat dengan ‘gemuk’ ketika aku melihat pinguin, Onii-chan...”

  Dia menggumamkan itu sambil komplain, tapi itu tidak ada gunanya mengatakan hal seperti itu kepadaku. Salahkan orang yang menamakan itu pinguin.

  “Tahu tidak, Onii-chan, kau harusnya tidak mengatakan hal-hal semacam itu ketika kencan, tahu tidak? Kalau ada seorang gadis mengatakan, ‘manisnya!’, kau harusnya mengatakan, ‘yeah, tapi kau sendiri lebih manis’.”

  “...Konyol sekali.”

  Bahkan pinguin yang hidup di kutub selatan akan kena flu jika mereka terlibat pembicaraan dingin seperti itu, menurutku begitu.

  “Oke, okelaaah. Aku bukannya hendak memberitahumu agar mengatakan itu kepadaku, tahu tidak. Aku ini sudah tahu kalau aku manis.”

  “Mengatakan itu ke dirimu sendiri malah mengacaukan efeknya...”

  Sebuah pembicaraan yang luar biasa sementara anjing, kucing, dan pinguin berlarian di samping kami.

  “Terima kasih dengan komentar yang tidak bergunanya! Ngomong-ngomong, lihat, lihat! Ayo kita kesana sebentar!” Komachi mengatakan itu sambil berlari menarik tanganku.

  “Oi, tunggu dulu, jangan buru-buru. Kau akan menabrak sesuatu.”

  Entah mengapa, kami akhirnya berakhir di area burung, mayoritas berisi kakaktua dari berbagai jenis. Sebuah dunia yang dihiasi berbagai warna terhampar di depan kami. Kuning, merah, hijau...Semua warna-warna utama bercampur aduk disini sehingga melukai penglihatan mataku. Ketika burung-burung tersebut mengepakkan sayapnya dan bersuara, kesan dari bulu-bulunya itu, menunjukkan aura yang luar biasa.

  Tapi dari semua aura warna yang brillian itu, yang paling terlihat mencolok adalah rambut hitam panjang yang mengkilap.

  Setiap kali pemilik rambut hitam itu menatap pamflet pameran yang ada di tangannya itu, rambut twintail miliknya seperti melambai-lambai.

  “Bukankah itu...Yukino-san?” tampaknya Komachi mengenalinya.

  Serius, tidak ada orang lain yang begitu mencolok disini kecuali dirinya. Dia sendiri sangat menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Memakai cardigan berukuran seperempat yang rapi, one-piece dress dengan rok mengembang dan sebuah pita di depan dadanya, dia memberikan kesan lembut. Ketika dia berjalan, sandal yang dia pakai membuat suara yang kecil dan keren. Tapi gadis yang sedang kubahas ini tidak memperhatikan sekitarnya, melihat-lihat sekitarnya tanpa mempedulikan orang lain, persis seperti dirinya di klub.

  Yukinoshita memperhatikan nomor stand dan melihat lagi pamfletnya. Lalu dia melihat-lihat sekitarnya lagi. Lalu dia mendesah kesal.

  Ada apa dengannya? Apa dia tersesat?

  Yukinoshita lalu menggulung pamfletnya seperti sudah memutuskan sesuatu dan dia mulai berjalan – ujung jalan itu adalah jalan buntu.

  “Oi, kalau kau terus kesana, itu jalan buntu,” akupun memberitahunya, aku tidak bisa terus diam begini.

  Tindakanku itu membuatnya menatapku dengan serius. Meep.

  Tapi ketika dia sadar kalau aku yang memanggilnya, entah mengapa dia memasang ekspresi yang aneh dan berjalan ke arah kami.

  “Apa yang kulihat ini? Semacam hewan yang langka?”

  “Bisakah kau tidak memanggilku Homo Sapiens? Kau menyangkal nilai kemanusiaanku.”

  “Apakah aku salah?”

  “Kau benar, tapi kau lupa sesuatu...”

  Hal pertama yang dia lakukan ketika melihatku adalah memperlakukanku seperti primata. Mungkin dia ada benarnya jika dari sisi biologi, tapi itu adalah sapaan yang terburuk.

  “Jadi mengapa kau berjalan ke arah jalan buntu?”

  “...Aku tersesat,”

  Yukinoshita mengatakan itu dengan ekspresi yang gelap, hanya bisa kudefinisikan dengan satu kata...Kekalahan. Dia seperti hendak melakukan seppuku saja. Tatapan matanya seperti terganggu oleh sesuatu dan dia melihat ke arah pamflet itu lagi.

  “Uh, tempat ini tidak cukup besar untuk bisa disebut tersesat, tahu tidak...”

  Jadi gadis ini memiliki kesulitan dalam menentukan arah, huh...Well, kurasa akan ada saatnya dimana kau tersesat meski kau punya peta. Peta sendiri tidaklah terlalu berguna, terutama ketika kau berada di sebuah tempat dimana setiap sudut terlihat seperti tempat yang sama. Seperti Comiket atau ruang bawah tanah dari Stasiun Shinjuku. Stasiun Umeda juga sangat buruk, kau akan tersesat jika kau tidak membawa peta.

  “Selamat sore, Yukino-san!”

  “Oh, jadi kau ikut juga, Komachi-san. Selamat sore.”

  “Tapi, aku tidak menyangka bisa menemuimu disini,” kataku. “Apa kau datang kesini ingin melihat sesuatu?”

  “...Well, aku ada keperluan saja, kurasa begitu.”

  Sederhananya, kucing. Dia bahkan melingkari stand pameran kucing di pamflet itu...

  Menyadari tatapanku ke pamflet yang dipegangnya, Yukinoshita lalu menyembunyikan pamflet itu seperti tidak terjadi sesuatu. “Hi-Hikya...” dia mencoba mengalihkan topiknya, tapi dia kesulitan dalam memilih kata-katanya.

  “Ahem, apa yang kau lakukan disini, Hikigaya-kun?”

  Sedangkan diriku, aku bersikap seperti pura-pura tidak melihat sesuatu, kuberikan yang terbaik agar tidak terlihat seperti sedang mempermainkannya. Lagipula, jika aku mengatakan sesuatu, dia mungkin akan menyerangku balik 5x lebih parah...

  “Aku biasa datang kesini setiap tahunnya bersama adikku.”

  “Disini juga tempat kami pertama kali bertemu kucing kami!” Komachi memotong.

  Seperti kata Komachi, ini adalah tempat dimana kami bertemu kucing kami untuk pertama kali, Kamakura. Dia mungkin terlihat seperti kucing nakal yang bandel, tapi dia memiliki kecocokan dengan kami. Ketika Komachi mengatakan dia menginginkannya sebagai binatang peliharaannya, maka itu sudah diputuskan. Aku merasa tidak enak ke Ayahku, dia ditelpon untuk datang kesini hanya untuk membayar tagihannya.

  Yukinoshita melihat ke Komachi dan diriku, sebuah senyuman juga terlihat di wajahnya. Ya beginilah. Dia pernah memasang ekspresi seperti ini sebelumnya.

  “...Kalian berdua ternyata akrab sekali ya.”

  “Tidak juga, kami jarang-jarang terlihat begini.”

  “Oke.” lalu dia berhenti sejenak. “Kalau begitu, aku permisi dulu.”

  “Yeah, sampai jumpa.”

  Kami berdua memberikan sapaan selamat tinggal, dan menghindari pembicaraan ini terus berlanjut.

  “Tunggu dulu, Yukino-san. Karena kau sudah datang kesini, ayo kita jalan bersama-sama!”

  Komachi memeluk lengan Yukinoshita sebelum dia pergi. “Kakakku itu benar-benar goblok ketika membuka mulutnya. Aku merasa sangat senang jika bisa ditemani olehmu, Yukino-san.”

  “Be-Begitu kah?” tanya Yukinoshita, yang berusaha memberi jarak setengah langah dari Komachi, yang terus berusaha memeluknya.

  Komachi mengangguk. “Yep yep! Ayooooo!”

  “Apa akan terlihat menghalangi saja?...Hikigaya-kun, maksudku.”

  Aku tidak dianggap olehnya seperti sebuah hal yang lumrah di dunia ini.

  “Tunggu dulu, omong kosong apa lagi ini? Aku akan diam saja ketika banyak orang di sekitarku, jadi aku tidak akan menganggu kalian, oke?”

  “Dengan kata lain, kau akan menjadi satu dengan alam sekitarmu, begitu ya...Kalau begitu, kau punya bakat yang luar biasa...”

  Yukinoshita tidak terlihat terkejut ataupun kagum. Tapi, memang, jika kau merupakan bagian dari suatu grup dan kau hanya diam saja, maka semua orang akan mempermasalahkanmu.

  “...Baiklah, kita akan melihat pameran bersama-sama,” kata Yukinoshita. “Apa ada sesuatu yang ingin kau lihat? Ji-Jika tidak ada...”

  “Hmm bagaimana ya...” Komachi menaikkan tangannya seperti memiliki sebuah ide. “Karena kita sudah ada disini, mari kita lihat sesuatu yang biasanya jarang dilihat di tempat lain!”

  “...Sebenarnya aku tidak ingin berkomentar mengenai bagaimana kau tidak bisa membaca suasana ini,” kataku.

  “Huh? Memangnya apaan?” tanya Komachi.

  “...Aku akan mengikuti saranmu.” Yukinoshita terlihat mendesah dan menyerah.

  Aku sebenarnya kesulitan untuk mengatakan sesuatunya. Dari dalam hatiku, aku ingin meminta maaf ke adikku.

  Kalau membahas hewan langka, pameran ini menyediakan porsi yang cukup besar untuk jenis itu. Kalau melihat situasinya, bagian burung memiliki persentase langka terbesar. Mungkin karena kandangnya sendiri tidak butuh tempat yang besar.

  Setelah meninggalkan stand burung dari negara-negara selatan Jepang, kami menuju area yang menampilkan burung yang luar biasa. Area ini, dibatasi kandang yang terbuat dari besi, rumah bagi burung luar biasa yang memiliki paruh tajam, cakar berbahaya, dan sayap yang lebar.

  “Li-Lihat ini, Komachi! Elang! Rajawali! Ya ampun, andai saja aku punya salah satunya.”

  Kerennya...Aku hampir saja menyelipkan tanganku untuk menerobos kandang itu tanpa berpikir. Jika ada sebuah penyakit yang bisa dikontrak oleh chuunibyou, mungkin kemampuan agar tidak bergerak secara spontan jika melihat sesuatu yang mengagumkan. Mungkin seperti inilah rasanya jika menjadi Tentara Amerika atau chuunibyou tulen.

  Tapi Komachi, yang tidak paham apa yang keren dari itu, tersenyum sinis kepadaku.

  “Eh? Ini tidak ada manis-manisnya. Ini cuma kekaguman chuuni saja.”

  “Oi, ada apa dengan omong kosong barusan? Bukankah burung ini terlihat manis ketika menggerakkan kepalanya, lihat?” Akupun membalikkan badanku, mencoba mempengaruhinya, tapi Komachi sudah meninggalkanku sejak tadi. Kejam sekali.

  “Hewan ini tidak ada manis-manisnya.”

  Yang menjawabku barusan bukan adikku yang dingin, tapi Yukinoshita. “Tapi aku memang setuju jika menganggap hewan ini luar biasa dan indah,” tambahnya, kurasa aku terkejut mendengarnya.

  Tampaknya dia tidak berbohong. Yukinoshita berdiri di sampingku, memegangi pegangan besi di tepi kandang, dia melihat ke arah burung tersebut.

  “Whoa! Jadi kau ternyata paham juga tentang apa yang keren dari ini! Kau memang memahami chuuni!”

  “...Kalau itu, aku tidak paham.”

  Setidaknya, dia mengerti meski awalnya saja...

  Sial, lama-kelamaan aku akan mulai terdengar seperti Zaimokuza...



Kutukan chuunibyou
Penyakit yang tidak bisa disembuhkan
Penyakit hati (terlalu banyak gangguan)




  Sebuah puisi pendek, yang ditulis oleh Hachiman. Secara tidak sengaja, puisi tersebut membicarakan tentang chuunibyou. Chuunibyou merupakan perwujudan dari masa muda.

  Kami mulai keluar dari area burung dan menuju area binatang yang lebih kecil. Ini adalah area binatang peliharaan semacam hamster, kelinci, dan musang.

  Komachi benar-benar menikmati area ini, buktinya dia seperti ooh-ing dan aaah-ing sambil tidak bergerak dari posisinya. Yukinoshita, sebaliknya, dia hanya memiringkan kepalanya melihat binatang-binatang tersebut. Tampaknya bulu-bulu binatang ini bukanlah sensasi yang sedang dicari olehnya. Dia tampak lebih diam daripada yang kubayangkan...

  Entah mengapa, binatang-binatang itu selalu kabur ketika aku mendekatinya. Sial, jangan beritahu aku kalau aku juga dibenci oleh binatang kecil ini.

  “”Komachi, ayo jalan...”

  “Eeek, ini manis loh! Aku menyukai mereka! Oh, huh. Onii-chan, kau duluan saja. Aku akan disini dulu.”

  “Begitu kah...” Binatang yang dia pikir manis tidak ada manis-manisnya bagiku. Apa gadis ini baik-baik saja?

  Karena aku sudah mendapatkan lampu hijau dari Komachi, kuputuskan untuk berjalan ke depan. Kalau tidak salah, di depan adalah area anjing dan setelah itu masuk area kucing.

  “Oke, Yukinoshita. Area kucing ada setelah area di depan. Maaf, bisakah kau awasi Komachi untukku?”

  “Aku tidak keberatan, tapi Komachi-san kupikir sudah cukup dewasa untuk menjaga dirinya sendiri. Apa kau ini semacam overprotektif?”

  “Tidak. Ini disebut mengawasi dia agar dia tidak masuk ke kandang mereka lebih dalam.”

  “Aku tidak masuk lebih dalam,” kata Komachi. “Oh, Yukino-san, kau bisa duluan saja dan menuju ke area kucing, oke?”

  “Oh, be-begitukah? W-Well, karena kita sudah sampai disini...” kata Yukinoshita, berdiri dengan posisi agak ragu.

  Seberapa besar sih keinginannya untuk melihat kucing-kucing itu?

  “Ya sudah, ayo pergi.”

  Tanpa mempedulikan eksistensiku, dia berjalan di depanku.

  Tapi ketika dia melihat papan pengumuman yang bertulisakan “PAMERAN ANJING”, dia menghentikan langkahnya.

  “Apa ada sesuatu?” tanyaku.

  “Tidak ada...”

  Yukinoshita lalu berjalan tepat di belakangku, membiarkanku berjalan di depannya. Sial, dia ada di belakangku! Ini kacau! Kupikir begitu, tapi aku tidak bisa melihat sesuatu yang berbahaya darinya.

  ...Ah benar juga, ini mungkin karena anjing. Dia benar-benar tidak menyukai mereka, huh?

  “Aku yakin kau tahu ini, tapi apa kau sadar kalau anjing disini itu hanya anak anjing?”

  Karena pameran ini juga berfungsi sebagai tempat penjualan, maka didominasi oleh tipe-tipe hewan peliharaan rumahan – kucing dan anjing – dan mayoritas berusia anak-anak. Mungkin agak menyedihkan, tapi begitulah bisnis.

  Entah apa kata-kataku bisa dipahaminya, tapi Yukinoshita memalingkan pandangannya.

  “Anak anjing malahan lebih buru...A-Aku hanya mengatakan ini untuk menjelaskan sesuatu, ini bukannya aku tidak begitu bagus dengan anjing atau sejenisnya, kau mengerti? Itu sebenarnya...Mereka tidaklah cocok denganku, bisa dikatakan begitu.”

  “Tahu tidak, di komunitas sosial masyarakat itu memiliki makna yang sama dengan tidak suka.”

  “Pernyataanmu itu bisa dikategorikan error margin.”

  Benarkah...? Ya sudah kalau dia bersikeras.

  “Hikigaya-kun...Apa kau ini dog person?”

  “Aku ini netral. Aku memutuskan untuk tidak bergabung dengan salah satu fraksi.”

  Pejuang sejati tidak bergabung ke grup manapun. Penyendiri akan selalu melawan seluruh orang di dunia ini. Kata-kata “Aku versus Dunia” seperti sesuatu yang berasal dari film Steven Seagal. Aku berpikir seperti Steven Seagal, jadi aku Steven Seagal person.

  Tapi Yukinoshita terlihat kurang setuju.

  “Apa dibalik kata-katamu tadi sebenarnya tidak ada satupun fraksi yang mau menerimamu?”

  “Kurang lebih begitu. Tapi terserah kamu saja, ayo kita pergi.”

  Dia ada benarnya, jadi aku tidak bisa menyangkalnya. Mengobrol dengan Yukinoshita hanya memberikan rasa sakit dan penderitaan, jadi aku putuskan untuk segera mengakhiri kekalahanku dan berjalan ke tempat selanjutnya.

  “Kupikir awalnya kau ini adalah dog person,” Yukinoshita mengatakan itu secara pelan dari belakangku.

  “Huh? Kenapa begitu?” tanyaku, melihat dari balik bahuku.

  Tapi Yukinoshita tidak menjawabku secara langsung dan hanya memberiku petunjuk.

  “Itu karena kau terlihat begitu putus asanya.”

  Apakah Yukinoshita pernah melihatku putus asa atau sejenisnya? Hanya ada satu hal yang terlintas di pikiranku. Mungkin waktu itu.

  Pertandingan tenis Totsuka.

  Yeah, aku sangat putus asa waktu itu. Aku bertarung keras demi Totsuka. Maksudku, dia memang manis. Lagipula, Totsuka itu sangat berharga seperti Chihuahua, jadi itu akan membuatku terlihat seperti dog person, kurasa begitu.

  Kalau begitu, mungkin paling tepat jika aku disebut Totsuka person. Kurasa aku sudah sangat menyukai Totsuka.

  Ketika aku memikirkan itu, Yukinoshita menepuk pundakku berulang kali.

  “Bisakah kau terus berjalan?”

  “Oh, benar.”

  Seperti yang diminta Yukinoshita, aku melewati sebuah gerbang yang bertuliskan “ZONA WOOF WOOF”. Kumpulan calon pembeli potensial berkumpul di area ini. Sepertinya, anjing-anjing ini menarik perhatian orang-orang ini. Anjing kecil peranakan populer seperti Chihuahua, Dachshunds, Shiba Inu, dan Corgis adalah daftar utama di pameran ini, diikuti oleh peranakan standar seperti Labrador, Golden Retrievers, Beagles, Bulldogs, dan lain-lain. Penjualnya menjelaskan anjing-anjing itu seperti seorang ahli, dia menggunakan istilah-istilah yang sulit untuk di pahami, seperti GRAND CHAMPION dan FESTIVAL NOMINEE, juga WORLD SELECTION dan GOOD DESIGN.

  Setelah masuk area anjing, Yukinoshita terlihat sangat pendiam sekali. Saking diamnya, aku sempat mengira kalau dia tidak bernapas lagi. Yang membuat suasana ini pecah yaitu adanya suara berisik dari seseorang di sekitar kami. Serius ini, terlalu berisik disini. Terutama dengan wanita yang sedang mengambil foto itu.

  ...Tunggu dulu, bukankah itu Hiratsuka-sensei disana? Mari kita pura-pura tidak melihatnya. Sensei...Tolong berkencanlah dengan seseorang ketika libur.

  Meh, setelah kita keluar dari sini kita bisa segera masuk ke area kucing, pikirku, tapi waktu itu Yukinoshita terlihat mengembuskan napasnya.

  Di depan kami ada sebuah toko bertuliskan “Trimming Corner”.

  “Ini tempat apa?” tanyaku. “Apa ini semacam tempat memproses foto-foto hewan?”

  “Bukan. Mereka memotong rambut anjing, merawat rambut dan menyehatkan bulu mereka. Dikenal dengan sebutan grooming.”

  Grooming...Up jaja uma? Kurasa itu manga terkenal.

  Ketika aku memikirkan empat saudara di Peternakan Watarai, Yukinoshita menambahkan.

  “Sederhananya, itu salon kecantikan untuk anjing,” katanya.

  “Eh begitu kah? Sangat berkelas sekali. Aku yakin Shogun Kelima akan menyetujui itu.”

  “Tidak hanya grooming, disana juga menyediakan kelas pelatihan agar anjing patuh. Mungkin ada baiknya jika kau mendaftar kesana?”

  Dia baru saja menaruhku selevel dengan anjing tanpa berpikir. Karena aku sudah terbiasa, jadi terserah sajalah.

  Setelah diskusi kami selesai, tampaknya ada seekor anjing baru selesai grooming. Seekor Dachshund dengan mulut terbuka sedang berlari. Loh, memangnya pemiliknya kemana?

  “Tu-Tunggu dulu, Sable! Anak nakal, ikat lehermu belum dipasang!”

  Dachshund yang lepas itu menolehkan kepalanya ke arah pemiliknya, lalu dia tidak mempedulikannya. Anjing itu lalu berlari keluar dari pintu dengan cepat – dengan kata lain, berlari ke arah kami. Meski itu hanya anjing.

  “H-Hikigaya-kun. Anjing itu...”

  Yukinoshita terlihat panik, seperti tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia terlihat panik dan tangannya memukul-mukul punggungku.

  ...Sangat langka untuk melihatnya bereaksi seperti ini. Ini seperti sebuah adegan yang menyenangkan, jujur saja, aku ada keinginan untuk meninggalkannya disini sendirian, tapi suaranya yang panik itu membuatku tidak nyaman.

  “Lihat sini,” kataku, sambil memegangi leher anjing itu.

  Tapi pengecualian untuk kucingku, ketika dia merasa jengkel denganku dan berusaha kabur setiap hari. Menangkap hewan dengan tangan merupakan bakat spesialku.

  Anjing itu melihatku dengan tatapan sedih, tapi setelah itu dia merasa terkejut, dia lalu menjilati jari-jari tanganku dengan antusias. Secara spontan, aku melepaskan peganganku ke anjing itu.

  “Whooops, dia lepas dari tanganku...”

  “Ugh, dasar bodoh,” Yukinoshita mengatakan itu dengan kesal. “Kalau kau lepaskan, dia bisa...”

  Tapi anjing itu tidak kabur, malahan dia bermain-main di sekitar kakiku dan mengguling-gulingkan badannya. Dia menunjukkan perutnya kepadaku, sedang lidahnya menjulur keluar.

  Ada apa dengan anjing ini...? Sepertinya dia tertarik denganku.

  “Anjing ini...”

  Yukinoshita menatap ke arah anjing itu dengan seksama dari belakangku. Um, menurutku ini bukanlah makhluk yang menakutkan...

  “S-Sable! Maafkan aku!”

  Pemiliknya, datang ke arah kami, memegangi anjing itu di tangannya, dan merendahkan kepalanya untuk meminta maaf. Gaya rambutnya, seperti memiliki bola sanggul, dan melambai ketika bergerak.

  “Aku minta maaf atas Sable – “

  “Ya ampun, bukankah ini Yuigahama-san,” kata Yukinoshita, sedang pemilik anjing itu terlihat kebingungan.

  Gaya rambut itu, suara itu, sikap gadis ini – tidak salah lagi. Dia memang Yuigahama.









x x x









  “Huh? Y-Yukinon?” dia lalu menoleh ke arahku. “Oh. Oh. Huh? Hikki? Kau sedang bersama Yukinon?”

  Yuigahama melihat ke arah Yukinoshita dan diriku secara bergantian, mengatakan itu sambil keheranan.

  “Yep,” kataku.

  “Oh. O-Oke...”

  Sebuah kesunyian yang aneh melanda kami. Sial, ini sulit sekali...

  Kesunyian ini dipecahkan oleh suara gonggongan anjing yang dipegang Yuigahama. Yukinoshita, yang sedari tadi bersembunyi di belakangku, berjalan ke depan dan menutup jarak diantara kita. Tampaknya dia memiliki settingan default ketika terjadi bahaya untuk berlindung di belakangku.

  “...Oh, uuuh. Um...”

  Yuigahama secara perlahan menyentuh kepala anjingnya, sambil berulang kali menatap Yukinoshita dan diriku. Aku bisa merasakan kalau dia sedang membuat jarak dari sikapnya itu.

  “Aku tidak menyangka bisa melihatmu disini,” Yukinoshita mengatakan itu ke Yuigahama, membuatnya sedikit bergetar ketika meresponnya.

  “Y-Yeah. Kenapa kau dan...Hikki bersama-sama, Yukinon? Maksudku, jarang sekali melihat kalian berdua bersama-sama...”

  Yuigahama mengatakan itu ke Yukinoshita dengan nada yang agak berat, seperti dibebani perasaan tidak bertemu selama berhari-hari. Dia lalu memeluk anjingnya di depan dadanya, tidak menatap langsung ke mata Yukinoshita.

  Dia mungkin bertanya mengapa melihat kami bersama hari ini, tapi sebenarnya tidak ada alasan tertentu karena itu hanya kebetulan saja. Yukinoshita dan diriku hanya bisa menatap satu sama lain sebelum mulut kami berdua terbuka secara bersamaan.

  “Begini, sebenarnya – “

  Yuigahama memotong kami.

  “Oh, jangan terlalu dipikirkan! Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa. Kalian tidak perlu memberitahuku...Bukankah itu sudah jelas kalau kalian pergi bersama-sama di hari libur, benar? Yeah...Aku tidak pernah menyadari itu sama sekali, bodohnya diriku. Dan aku masih saja berpikir kalau aku ini sangat bagus dalam membaca suasana sekitar,” katanya dengan senyum yang dibuat-buat.

  Sambil merendahkan tatapan matanya, sebuah suara tawa yang dibuat-buat terdengar dari mulutnya. Mungkin dia merasa salah paham akan sesuatu. Apa aku terlihat seperti berkencan dengan Yukinoshita? Well, dia mungkin menyadari yang sebenarnya jika dia mau memikirkan itu baik-baik, dan lagipula, mengatakan hal semacam “Kami sebenarnya tidak sedang berkencan” terasa, well, agak bodoh.

  Salah paham merupakan sebuah pemahaman yang keliru tentang sebuah fakta. Itu sebenarnya bukan kebenarannya. Kalau begitu, mungkin ada baiknya jika kusimpan itu untuk diriku sendiri. Aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang tentangku. Tunggu, semakin kau salah paham akan sesuatu, maka semakin dekat dirimu dengan jalan yang salah. Ah sudahlah, aku menyerah saja.

  Anjing yang ada di tangan Yuigahama sedang melihat ekspresi pemiliknya dan menggonggong. Yuigahama mengelus kepala Sable, dan mengatakan kata-kata yang menenangkannya. Wajahnya terus menatap ke bawah.

  “Ka-Kalau begitu, aku harus pergi sekarang.”

  Dia mulai berjalan, sambil menatap ke arah lantai. Dia berhenti ketika Yukinoshita memanggilnya.

  “Yuigahama-san.”

  Yukinoshita mengatakan sesuatu dengan jelas di tengah keramaian ini. Suaranya terdengar di telingaku, dan suara keramaian ini terasa hilang entah kemana. Yuigahama, yang sedari tadi menatap ke arah lantai, melihat ke arah Yukinoshita.

  “Ada sesuatu yang ingin kuberitahu kepadamu, ini tentang kita. Jadi, bisakah kau datang ke ruangan klub hari senin?”

  “...Oh, ahaha...Aku mungkin tidak benar-benar ingin mendengarnya...Seperti, bukankah itu tidak ada gunanya dengan memberitahuku soal itu, ketika itu bukan lagi urusanku,”

  Yuigahama mengatakan itu dengan lembut. Meski, aku melihat ada senyum yang dipaksakan terlihat di wajahnya, kata-katanya itu jelas mengatakan penolakan.

  Yukinoshita merendahkan tatapan matanya, seperti bereaksi atas sikap Yuigahama. Suara keramaian ini tiba-tiba terdengar jelas – atau mungkin aku sendiri yang menganggapnya begitu. Seperti ditelan oleh suara-suara di sekitarnya, Yukinoshita mengatakan sesuatu.

  “...Aku tidak bisa mengatakan ini kepadamu karena beginilah diriku.” Dia berhenti sejenak, seperti mencari kata-kata yang tepat. “Tapi aku ingin mengatakan langsung kepadamu.”

  Untuk sejenak, Yuigahama terdiam, sebelum akhirnya mengatakan “mmm” dalam responnya. Itu bukanlah sebuah penerimaan ataupun penolakan. Sebuah tatapan yang mencurigakan terlihat dari ekspresinya ketika melirik ke arah Yukinoshita, meski dia secara cepat memalingkan pandangannya. Dia lalu membalikkan badannya dan mulai berjalan menjauh. Yukinoshita dan diriku hanya melihatnya pergi begitu saja.

  Setelah Yuigahama benar-benar sudah tidak terlihat lagi, akupun bertanya kepada Yukinoshita, yang berdiri di sebelahku.

  “Hei. Apa yang ingin kau bicarakan dengan Yuigahama?”

  “Tanggal 18 Juni. Kau tahu apa itu?” tanya Yukinoshita, sambil melihat wajahku dari bawah.

  Wajah Yukinoshita sangat dekat denganku sehingga aku secara spontan mundur setengah langkah.

  “Well, itu bukanlah hari libur, itu saja yang kutahu,” kataku.

  Setelah tahu kalau aku tidak tahu dengan apa yang terjadi, dia menambahkan.

  “Itu adalah ulang tahun Yuigahama,” dia mengatakan itu dengan bangga. Tidak lupa dia menambahkan “kupikir begitu”.

  “Serius kamu?...Dan tunggu dulu, kaupikir katamu?”

  “Ya, alamat emailnya ada angka 0618, karena itulah.”

  “Jadi kau tidak bertanya langsung kepadanya...” Itulah kekuatan komunikasi dari Yukinoshita.

  “Oleh karena itu aku ingin merayakan ulang tahun Yuigahama-san. Meski dia tidak mau kembali lagi ke Klub Relawan...Aku ingin berterima kasih kepadanya atas semua hal yang dia lakukan,” Yukinoshita mengatakan itu dengan malu-malu, tatapan matanya terlihat merendah.

  “Begitu ya...”

  Kurasa aku tidak ragu kalau Yukinoshita, gadis yang memiliki spesifikasi tinggi yang membuat semua orang iri kepadanya, Yuigahama adalah teman pertamanya. Aku ragu kalau keinginannya untuk berterimakasih ke Yuigahama adalah benar. Mungkin ada benarnya jika dia tidak ingin kehilangan hubungan pertemanannya.

  ...Ohhh. Jadi ini semua terjadi karena apa yang sudah kukatakan ke Yuigahama?

  Aku merasa sedikit bersalah, akupun lalu melirik ke arah Yukinoshita, yang terlihat kurang nyaman setelah dia menyadari aku melihatnya. Ahh, dia mungkin ingin memberitahuku untuk tidka melirik ke arahnya karena aku terlihat menjijikkan. Karena itu, aku memalingkan pandanganku sebelum dia mengatakan sesuatunya. Akupun pura-pura batuk, entah mengapa wajahku terasa sedikit memerah.

  “Hei, Hikigaya-kun...”

  “Yeah?”

  Yukinoshita melihat ke arahku, kedua tangannya memegangi dadanya. Suaranya terdengar ragu-ragu, seperti gugup atau sejenisnya. Untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah, dia melirikku .

  Sekarang aku mulai gugup juga, gara-gara menatap matanya.

  Kata-kata Yukinoshita selanjutnya terdengar pelan, seperti bisikan, seperti tenggorokannya terganggu oleh sesuatu.

  “Err, soal itu...Ma-Maukah kau pergi keluar bersamaku?”

  “...Huh?”




 

x Chapter III | END x





  Pertama, saran Komachi tentang kencan dengan gadis yang gombalan "kau lebih manis". Aneh bin ajaib, dilakukan Hachiman dalam kencan di LalaPort, vol 3 chapter 4. 

  Adegan pertama, ketika Yukino mencoba celemek. Meski mereka berdua tahu kalau mereka sedang mencari hadiah untuk Yui.
  Yukino:
     "Bagaimana dengan ini?"
  Hachiman:
     "Kau tanya pendapatku? Jujur saja, kau terlihat bagus dengan itu."
  Hasil adegan tersebut ... Yukino membeli celemek dimana Hachiman mengatakan itu cocok untuknya.

  Adegan kedua, ketika mereka hendak keluar dari LalaPort:
  Hachiman:
     "Kakakmu itu memang benar-benar sesuatu..."
  Yukino:
     "Hmm, wajah yang atraktif, siswa terbaik, ahli beladiri, wanita multi-talenta, belum lagi dia baik dan lembut...Aku ragu jika ada orang yang bisa menyamainya, semua orang seperti memujanya..."
  Hachiman:
     "Huh? Tapi kau masih lebih baik darinya. Kenapa kau merendahkan dirimu sendiri barusan?"
  .....
  Hachiman:
     "Memang wajah kalian hampir mirip, tapi ketika kau tersenyum, senyummu itu sangat berbeda darinya."

  Entah apa motivasi Hachiman mengatakan itu, tapi dia tidak mengatakan hal yang serupa ketika berkencan dengan Yui (vol 5 chapter 6) dan Iroha (vol 10.5 chapter 2). Apa dia benar-benar menyukainya?





  Kedua, "dasar idiot" itu merupakan kata-kata dari Ibu Hachiman, Komachi, dan Yukino. Entah kebetulan atau tidak, Yukino mengucapkannya di chapter selanjutnya.





  Ketiga, maksud dog person dan cat person? Ada semacam psikologi populer yang membedakan orang berdasarkan sifatnya. Mungkin akan lebih tepat jika dijelaskan gambar-gambar berikut.


  Yukino jelas cat person. Hachiman jelas cat person. Yuigahama dog person.

  Apa maksud Yukino yang mengatakan Hachiman terlihat putus asa? Sebenarnya, ini cukup mudah. Oke, cukup sulit saja. Di volume 1, dalam berbagai diskusi mereka di Klub, terutama ketika chapter 1 dan 2, Hachiman ini menyatakan kalau dia ini adalah orang yang tidak diinginkan oleh komunitas. Tapi, Hachiman mengajak Yukino berteman. Dengan kata lain, komunitas yang membuang Hachiman, tapi Hachiman sendiri ingin punya komunitas. Hachiman ingin punya sebuah hubungan yang solid, punya nama, dll, dengan sebutan teman.

  Memang dalam berbagai kesempatan, Hachiman beberapa kali berharap punya kehidupan baru di SMA Sobu. Tapi benarkah itu yang Hachiman inginkan? Dalam volume 5, perdebatan cat and dog ini mulai menemui titik terang. Entah Watari mulai bermain kata-kata secara sengaja atau tidak, di chapter ini Hachiman mengatakan dia netral. Lalu di volume 5 Hachiman awalnya mengatakan suka kucing dan anjing, dia suka dua-duanya. Tapi, ditutup monolog, kalau dia suka kucing. Dari situ saya berpendapat kalau perdebatan cat/dog person akan segera berakhir.

  Tepatnya di volume 6 chapter 6, perdebatan berakhir. Monolog Hachiman ketika naik lift untuk turun dari apartemen Yukino (naik lift untuk turun? kata-kata macam apa ini?!!). Hachiman tidak suka dengan komunitas (dunia). Hachiman lalu menyatakan dengan tegas kalau dia berbeda dari semua panitia di ruangan rapat slogan. Yeah, Hachiman ini cat person.





  Keempat, huruf hitam tebal yang sengaja saya tandai. Hachiman sadar kalau pertemanan Yukino-Yui retak gara-gara kata-katanya ke Yui.

  Mari kita analisis baik-baik. Ini adalah masalah pribadi Hachiman-Yui. Tapi karena itu Yui bersikap menjauhi Yukino dan membohongi Yukino. Bandingkan dengan vol 1 chapter 8 dimana Yui-Hachiman tidak ada masalah. Bahkan Yui jujur meminta ijin Yukino untuk tidak hadir klub untuk sekedar jalan-jalan dengan Miura.

  Saya tidak tahu apa motif sebenarnya Yui berteman dengan Yukino ataupun masuk menjadi anggota Klub Relawan. Tapi 100% jika hubungan Yui-Hachiman memburuk, maka otomatis Yui tidak berteman lagi dengan Yukino.

  Well sudahlah, sederhananya, Yui berteman dengan Yukino dan bergabung ke Klub Relawan sedikit banyak karena Hachiman. Kalau ada yang tidak setuju dengan kesimpulan itu, sebaiknya punya argumen yang lebih baik dari analisis ini. Jangan bilang menurut perasaan dan gestur tubuh di anime...

  Kemungkinan besar, pertimbangan ini yang dipakai Hachiman untuk menggantung perasaan Yui. Hachiman mungkin merasa akan kembali lagi ke situasi ini jika dia menjelaskan ke Yui bahwa perasaan Yui kepadanya bukanlah hal yang tulus.






  Kelima, Hachiman bisa melihat jelas pamflet pameran dimana ada pameran kucing yang dilingkari tulisan merah oleh Yukino. Lalu, mengapa Komachi tidak bisa melihatnya? Jelas Komachi melihat itu dan menyimpulkan kalau Yukino hendak melihat kucing.

  Kemungkinan besar Komachi sengaja tidak membawa langsung ke tempat kucing, karena dia ingin mencari sebuah tempat dimana dia bisa menyuruh Hachiman dan Yukino meninggalkannya karena alasan ingin terus melihat hewan lain. Lalu membiarkan Yukino dan Hachiman berduaan, dimana lagi kalau tidak di arena pameran kucing.






1 komentar: