Selasa, 31 Mei 2016

[ TRANSLATE ] Oregairu Vol R Chapter 2 : Meski Begitu, Hikigaya Hachiman menolaknya - 2


x x x




  Pesta perayaannya digelar di sebuah kafe yang terlihat menarik, bergaya bar ala barat. Disana, sudah banyak kumpulan siswa yang berkumpul di sekitar grup Hayama dan Isshiki, membuat suasananya menjadi gaduh.

  Kalau melihat tingkat kegaduhannya, ini lebih mirip pesta perayaan kemenangan Hayama daripada pesta setelah marathon. Entah mengapa ada Zaimokuza diantara grup Hayama, Isshiki, dan Totsuka.

  Setelah memasuki kafe, Miura langsung pergi menuju ke arah Hayama. Yuigahama terlihat ragu untuk melakukan sesuatunya, tapi ketika Yukinoshita mengangguk ke arahnya, dia tersenyum dan pergi menyusul Miura.

  Ditinggalkan Miura dan Yuigahama, aku dan Yukinoshita pergi memesan minuman dan berdiri di pojokan. Aku lalu mengembuskan napasku seperti berusaha melepaskan semua rasa lelahku bersamaan dengan dentuman irama musik di kafe ini.

  Meresponku, Yukinoshita terlihat tersenyum.

  “Terima kasih atas kerja kerasmu.”

  “Mm, yeah.”

  Setelah mendengarkan jawabanku, Yukinoshita mengambil posisi yang sama denganku dan bersandar di pinggir bar. Dia mungkin kelelahan atau juga tidak terbiasa dengan suasananya. Meski begitu, dia tidak terlihat seperti biasanya.

  Kami tidak terbiasa dengan suasana ramai semacam ini, begitulah Yukinoshita dan diriku. Melihat para siswa dari pojokan merupakan posisi yang sempurna bagi kami berdua.

  Aku meneguk kembali Ginger Aleku. Di saat yang bersamaan, Yukinoshita yang sedari tadi menaikkan gelasnya, mendesah.

  “Pada akhirnya, aku berterimakasih padamu dan Yuigahama...”

  “Bukan, seperti kataku, kau harusnya berterimakasih ke Yuigahama. Aku tidak melakukan apapun.”

  “Meski begitu, kau ikut membantu. Malahan, bisa kubilang kau selalu membantu. Setahuku begitu...”

  Aku bisa merasakan kalau nada suaranya seperti terdengar kesepian, tapi aku tidak bisa melihat ke arahnya. Tapi, aku tahu kalau dia sejak tadi melihat ke arah meja Yuigahama. Meski begitu, pandangannya terlihat jauh. Kedua matanya terlihat diliputi warna biru yang dalam, dan tampak tidak hanya melihat pemandangan orang-orang di dalam kafe ini, seperti melihat sesuatu yang lain.

  Melihat figur impian seperti dirinya itu berdiri seperti itu, memang menarik perhatianku. Dia lalu menaikkan gelas sampanyenya.

  “Oleh karena itu...”

  Sambil mengatakan itu, Yukinoshita tersenyum dan menaikkan gelas sampanyenya.

  Dia tidak melanjutkan kalimatnya. Aku yakin, ada kata-kata yang sulit untuk dikatakan olehnya, tapi tanpa mengatakannya, tanpa berbicara, itu tidak akan bisa menggapaiku.

  Seperti dirinya, aku tidak berbicara sama sekali. Aku hanya menaikkan gelas ginger aleku dan menyentuh gelasnya.

  Di tempat yang ramai dan gaduh ini, suara dari kedua gelas yang bersentuhan terdengar jelas olehku. Suaranya sangat jelas, tanpa ada gangguan apapun. Sebuah suara yang bisa menyampaikan perasaanku yang tidak bisa digambarkan, ataupun memberi nama hal itu. Seperti sebuah gelembung yang muncul di permukaan air dan hancur, hanya saja kali ini, suara itu terdengar indah, dan kini hilang. Suara dari gelas-gelas kami yang bersentuhan kini menjadi sebuah momen yang sudah kami lewati.

  Tidak lama kemudian, suara ramai di ruangan ini mulai terdengar di telingaku.

  Yukinoshita dan diriku tidak mengatakan satupun kata, seperti biasanya. Kecuali kali ini, aku meminum minumanku, sehingga aku bisa melancarkan sesuatu yang terasa tersumbat di tenggorokanku.

  Tidak lama kemudian, kami melanjutkan pengamatan kami ke kerumunan di depan kami, seperti menyadari tatapan kami, Hayama yang sedari tadi berkeliling, berjalan ke arah kami. Berbasa-basi kesana-kemari sebagai bintang utama di ruangan ini benar-benar situasi yang sulit...

  “Halo yang disana...Terima kasih atas kedatangannya.”

  Yukinoshita menggeleng-gelengkan kepalanya seperti bukan masalah yang besar baginya dan aku mengangguk saja sebagai tanda setuju. Ketika kupikir kalau ini adalah momen yang tepat untuk mengucapkan selamat kepadanya, Hayama tiba-tiba menundukkan kepalanya.

  “Maaf...Atas semua masalah yang kuberikan...Seperti gosip itu...Dan hal lainnya.”

  Yukinoshita seperti tertahan oleh sesuatu ketika melihatnya. Tapi itu hanya sebentar karena dia langsung membetulkan sikapnya dan mengulangi lagi kata-katanya di ruangan Klub.

  “Ini bukanlah masalah yang besar. Kurasa ini hanya masalah waktu saja kalau dibandingkan dengan masalah yang sebelumnya.”

  “Yang itu ya, huh?” Hayama mengatakan itu seperti menyebutkan kejadian yang memalukan.

  Melihat hal itu, ekspresi Yukinoshita terlihat gelap.

  “...Kurasa aku sudah paham sekarang. Aku yakin kita dulu harusnya bisa menangani masalah itu dengan lebih baik. Oleh karena itu, aku percaya kalau ini juga sudah menyebabkan masalah untukmu...Maafkan aku.”

  Kali ini, Yukinoshita-lah yang menundukkan kepalanya. Dia lalu menegakkan kepalanya dan dengan tatapan mata seperti teringat akan sesuatu yang nostalgia, dia menambahkan.

  “Tapi aku berterima kasih karena kau sudah peduli dengan hal ini.”

  Hayama terlihat terkejut. Seperti baru saja kembali ke dirinya yang dulu, dia menatap Yukinoshita.

  “...Kau ternyata sudah sedikit berubah.”

  “Entah kalau soal itu. Hanya saja banyak hal yang berbeda dari waktu itu dan yang terjadi saat ini,” kata Yukinoshita, lalu dia memindahkan pandangannya ke arah Yuigahama. Kemudian, dia menatap ke arahku.

  Merasa tidak nyaman karena mendengar sesuatu yang harusnya tidak kudengar, aku lalu memalingkan pandanganku.

  Yukinoshita mengembuskan napasnya sambil tersenyum, lalu menatap Hayama kembali.

  “Kau harusnya tidak membiarkan dirimu terus dihantui masa lalu...Kau tidak perlu memaksakan dirimu lagi untuk mengejar seseorang.”


  “...Tampaknya itu juga menyindir diriku,” kataku.

  Hayama tersenyum, entah mengapa dia terlihat puas.

  Terlihat Yuigahama sedang berjalan menuju arah kami dari belakang Hayama. Seperti sudah teracuni oleh suasana ramai di kafe, Yuigahama lalu memeluk lengan Yukinoshita.

  “Yukinon, ada banyak sekali makanan disana! Seperti, banyak sekali ayamnya! Ayamnya dipanggang semua!”

  Meski begitu, respon kami terlihat lemah. Aku, Yukinoshita, dan Hayama hanya bisa melihat ke arahnya dengan senyum yang kecut.

  “Eh?...”

  Dia mungkin menyadari kalau suasana di sini sangat kontras dengan suasana ramai dan gembira di meja. Yuigahama kemudian bergegas untuk membetulkan posisi berdirinya dan pura-pura tertawa untuk melupakan sikapnya yang tadi. Lalu, Hayama tersenyum dengan lembut.

  “Maaf dengan semua yang terjadi, Yui. Mungkin terasa tidak menyenangkan untukmu.”

  “Ah, uh, tidak, tidak seperti itu!”

  Mendengar jawaban Yuigahama, Hayama lalu merendahkan kepalanya.

  “Begitu ya. Terima kasih...Karena sudah membantu.”

  “Tidak, tidak perlu segitunya...”

  Yuigahama tampak bingung dengan sikap Hayama yang tiba-tiba berubah seperti itu. Well, ngomong-ngomong, dengan ucapan terimakasihnya, kupikir masalah ini sudah terselesaikan dengan damai. Merasa lega, akupun meminum ginger aleku lagi. Melihat sikapku, Hayama menatapku dengan senyumnya.

  “Hikigaya juga, terima kasih.”

  Dia menatapku dengan hangat seperti melihat sesuatu yang menyenangkan...Aku sendiri tidak tahu harus merespon seperti apa, dan tubuhnya hanya spontan terbatuk-batuk seperti tersedak sesuatu. Senyumnya yang tulus seperti melihat sesuatu di diriku, entah mengapa terasa mudah kuterima. Mungkin jika kautanya kapan dia terlihat sebagai orang yang mengganggu bagiku, kurasa akan kujawab saat ini, di momen dimana dia terasa seperti dirinya sendiri.

  Mendapatkan semacam kehangatan seperti ini merupakan sesuatu yang kurang menyenangkan bagiku. Ketika aku mencoba melihat ke seberang, aku mendengar suara batuk.

  “...Yu-Yukinon! Ayo kita kesana! Ayam panggang!”

  Dia mengatakan itu sambil memegangi tangan Yukinoshita dan menariknya. Melihat sikapnya itu, Yukinoshita tersenyum.

  “...Baiklah, ayo. Ayo kita ke ayam tersebut.”

  Mereka seperti dua bocah berusia 5 tahun yang sedang berpantun...Ketika aku memikirkan apakah aku harus mengikuti mereka sambil mengatakan “Ayo kita pergi sebagai trio!”, Hayama menepuk bahuku.

  “Bisa bicara sebentar?”

  “Jelas tidak.”

  Seperti tidak mempedulikan jawaban spontanku, Hayama tersenyum ke arah Yuigahama dan Yukinoshita yang sudah pergi terlebih dahulu, seperti memberi tanda bagi mereka untuk pergi terlebih dahulu. Melihat hal ini, Yuigahama mengangguk.

  “Kalau begitu, kami tunggu disana!”

  Seperti itulah, dia begitu saja pergi sambil menarik Yukinoshita bersamanya. Sambil melihat keduanya pergi, dia menaikkan gelasnya. Aku bisa mendengar suara es batu yang berbenturan dari gelasnya.

  “Dia sedikit berubah...Kau juga.”

  “...Huh?”

  Hayama melihatku dengan ekspresi yang terlihat kesepian, ditambah dengan senyum yang dibuat-buat. Kata-katanya itu sungguh diluar dugaan, oleh karena itu aku menjawabnya dengan sesuatu yang bodoh. Tapi, Hayama tampaknya memang tidak berharap banyak dengan jawabanku.

  Dia lalu meminum minumannya dan mengatakan sesuatu setelah itu.

  “Satu-satunya orang yang belum berubah hanyalah diriku,” dia mengatakan itu dengan pelan.

  Akupun mencoba melirik ke arahnya untuk membaca ekspresinya, meski kupikir dia memiliki wajah yang tampan, kedua matanya tampak sangat suram. Meski begitu, ini tidaklah buruk karena kedua matanya tidak berubah menjadi busuk.

  “Entahlah kalau soal itu. Kalau kau pikir seseorang telah berubah, bukankah itu berarti kalau juga sudah berubah? Meski aku sendiri tidak tahu kebenaran soal itu.”

  “Begitu kah?”

  “Seperti kataku, aku tidak tahu kebenaran soal itu.”

  Itu terdengar seperti sebuah jawaban yang tidak bertanggungjawab dariku. Tapi, Hayama menatapku sambil menggigit bibirnya sendiri, dia tidak sekalipun memindahkan tatapannya tersebut.

  Sampai saat ini, Hayama dan diriku, selalu mencoba saling menghindar, melihat ke arah yang berbeda, mencoba memilih kata-kata kami dengan hati-hati. Tapi, setidaknya, kali ini aku tidak berniat untuk memalingkan pandanganku.

  Oleh karena itu, meski ini terdengar aneh, harusnya ada sesuatu yang pantas untuk kukatakan kepadanya. Sambil meminum minumanku kembali, aku lalu menaikkan bahuku, dan itu adalah pertanda kalau aku akan mengatakan itu.

  “Ketika orang-orang di sekitarmu berubah, maka kau harus merubah caramu bersikap untuk menyamakan dirimu dengan mereka. Kalau begitu, bukankah itu artinya kau juga sudah berubah?...Well, pada akhirnya, cepat atau lambat maka itu akan terjadi.”

  Mendengarkanku mengatakan itu, Hayama hanya bisa mengedip-ngedipkan matanya. Dia lalu memasang senyum yang sinis.

  “Sebuah penggambaran yang kurang menyenangkan. Kau memang orang yang mudah sekali untuk dibenci.”

  Ketika Yuigahama dan yang lainnya sudah duduk di kursinya, Miura dan Isshiki melambaikan tangannya ke arah Hayama. Mereka mungkin memberikan tanda agar cepat bergabung dengan mereka. Hayama melambai balik seperti hendak memberitahu mereka kalau dia akan segera bergabung, dia tiba-tiba mengatakan “ah” seperti mengingat sesuatu dan membalikkan badannya.

  “Benar juga, aku lupa menanyakan itu.”

  “Huh?”

  “Ketika kau bilang kalau kau tidak bisa mengabaikan ‘hal itu’, apa maksudmu?”

  Entah karena pencahayaan yang kurang, atau posisi dia berdiri. Aku tidak tahu apa itu. Tapi, karena pencahayaan yang kurang, aku tidak tahu bagaimana ekspresi Hayama ketika dia menanyakanku pertanyaan itu. Tapi, aku bisa tahu kalau dia tidak sedang becanda, atau dia sebenarnya tahu jawabannya, dia seperti baru saja memikirkan hal itu.

  Mungkin dia ingin tahu apakah jawabanku adalah jawaban yang tidak pernah dia pikirkan, atau mungkin, sebuah jawaban yang akan dia pilih di kemudian hari. Kalau itu masalahnya, aku tahu apa yang harus kukatakan.

  “Pura-pura saja kau tidak mendengar itu...Setidaknya, aku berbeda denganmu.”

  “Begitukah...”

  Mendengarkan jawaban itu, Hayama lalu menaikkan bahunya. Di momen seperti itu, dia melihat ke arah sebelahnya.

  Itu adalah ekspresi yang sama ketika aku melihat dirinya di marathon.

  Dia memberikan jawaban yang tidak bisa kuberikan, sebuah kemungkinan dimana aku sendiri tidak mempercayai sesuatu yang pernah kulihat di mimpiku, dan sebuah senyum kesepian darinya yang terus teringat di kepalaku.

  Hayama pasti akan melakukan sesuatu dengan memberikan yang terbaik. Jika orang-orang di sekitarnya berubah, maka dia akan berubah juga untuk menyamai perubahan itu. Jika sekitarnya tidak berubah, maka dia tidak berubah. Hayama terus menjawab ekspektasi orang-orang. Meski, dia membuatnya serasa itu benar-benar keinginannya sendiri.

  Oleh karena itu, aku akan menjadi satu-satunya orang yang tidak akan menyangkal hal itu. Aku harus menunjukkan padanya kalau akan ada seseorang yang tidak akan memaksakan ekspektasinya.

  Itu karena dia merasa kalau dia tidak perlu memahami orang lain dan sebuah perbedaan bukanlah sesuatu yang bagus. Baginya, orang-orang yang tidak bisa memahami dirinya hanya dipandang sebagai sebuah rantai yang membelenggu dirinya.

  “Aku juga lupa untuk memberitahumu...Aku juga membencimu,” kataku sambil memalingkan wajahku.

  Hayama melihatku seperti bertanya-tanya akan sesuatu, tapi dia tiba-tiba tertawa.

  “Begitu ya. Mungkin ini pertamakalinya aku mendengarkan itu secara langsung.”

  Hayama berusaha menahan tawanya karena puas. Kali ini, dia mengambil satu langkah untuk menjauh dari bar.

  “Meski begitu...Aku tidak akan memilih. Aku percaya kalau itulah yang terbaik.”

  Dia lalu menambahkan.

  “Aku hanya ingin menghibur diriku sendiri,” dan dia tersenyum, kembali ke mejanya.

  Tapi aku tidak bisa tersenyum.

  Jika jawaban yang Hayama Hayato berikan merupakan jawaban yang dirasa tidak memuaskan dan tidak terdengar jelas, maka pastinya, pria yang satunya harusnya punya jawaban yang memuaskan. Pria itu pasti akan memberikan jawaban yang berbeda dari Hayama Hayato. Karena pria itu harusnya seperti itu.

  Aku lalu menghabiskan ginger ale yang tersisa di gelasku dan melihat ke arah meja dimana semua orang sudah berkumpul.

  Sebuah sensasi pahit masih tersisa di suatu tempat yang berada di tenggorokanku.






x Chapter II | END x

Tidak ada komentar:

Posting Komentar