Kamis, 26 Mei 2016

[ TRANSLATE ] Oregairu Vol R Chapter 1 : Sejenak, Di Ruangan Yang Hangat Ini - 1


x x x












  Angin yang kencang terasa menyapu tempat ini, disertai dengan aroma laut yang khas. Angin tersebut sebenarnya bertiup dari arah pegunungan, menuju ke laut. Sensasi udara dingin dan kering dari udara di akhir Januari serasa membuat wajahku terbakar.

  Marathon akhirnya berakhir, begitu juga dengan upacara pengukuhan juara dan sambutan-sambutan. Yuigahama dan diriku mulai berjalan menuju sekolah dari lokasi kami saat ini, Taman Kaihin.

  Kalau Aku ini adalah diriku yang dulu, aku tidak akan mau melakukan hal-hal seperti melihat upacara pengukuhan pemenang, dimana Hayama sendiri dinobatkan sebagai juaranya; mungkin Aku akan memilih langsung pulang saja tanpa memikirkan hal itu. Bahkan aku juga tidak memiliki satupun simpati dengan kegiatan semacam itu.

  Tapi, aku tidak bisa melakukannya hari ini.

  Aku telah melakukan sesuatu yang bodoh ketika marathon dan membuat diriku sendiri terluka. Lalu aku menerima perawatan dari Yuigahama. Saat ini, dia sedang memapahku untuk berjalan.

  Kami berdua akhirnya berjalan menuju ke sekolah.

  Melihat ke arahnya, akan membuatku merasa malu. Meski, kedua mataku sejak tadi terus melihat ke kanan dan kiri, atas dan ke bawah. Aku juga membawa kotak P3K di tanganku. Kubetulkan lagi pegangan tanganku ke kotak itu dan mulai fokus berjalan di sepanjang jalan yang dihiasi pepohonan ini.

  Pemandangan dari dedaunan yang jatuh dari dahan pohon sekitarku, memberikan kesan suasana yang terasa menyeramkan.

  Sedang kaosku yang basah dengan keringat ini seperti sedang merampok kehangatan tubuhku.

  Lalu angin musim dingin datang menerpa kami, membuat telingaku berwarna kemerahan dan disertai rasa perih.

  Ketika bibirku kusentuh dengan lidah, aku tidak bisa merasakan apapun seperti mati rasa. Udara musim dingin ini seperti mematikan seluruh fungsi panca indraku dengan sensasi dingin ini. Meski begitu, aku masih bisa merasakan sebuah kehangatan, di tempat dimana tidak ada seorangpun bisa melihat, dimana tidak ada seorangpun bisa menyentuhnya.

  Tanpa sadar, aku menelan sendiri air liurku, mungkin ini karena aroma dari orang yang ada di sampingku terasa begitu menyengat hidungku.

  Kami terus berjalan meski diselimuti kesunyian yang terasa kurang nyaman ini. Satu-satunya suara yang terdengar di telingaku hanyalah suara desahan napas. Entah itu berasal dariku atau dirinya, aku tidak tahu. Ketika suara desahan napas kami tiba-tiba keluar di tempo yang sama, kami saling memandang satu sama lain.

  “Ahaha...”

  Yuigahama tertawa dengan malu-malu untuk menyembunyikan rasa malunya. Jika memang bisa, aku akan tertawa juga, agar bisa mencairkan suasananya. Tapi, sayangnya aku tidak punya skill semacam itu.

  Cukup aneh memang...Kudengar kalau tertawa adalah sesuatu yang pasti bisa dilakukan oleh semua orang...

  Meski begitu, aku harus mengatakan sesuatu, meski itu terdengar tidak berguna, tapi masih lebih baik dari sekedar senyum-senyum saja. Aku lalu berusaha mengatakan sesuatu untuk mencairkan suasana yang aneh ini.

  “Erm, tahu tidak, begini...”

  Sebuah kata-kata yang tidak jelas keluar dariku, dan ekspresi Yuigahama terlihat terkejut. Dia mulai memegangi lenganku dengan kuat seperti menunggu diriku untuk menyelesaikan kata-kataku. Aku mulai bisa merasakan kehangatan tubuhnya, seperti menyalurkan panas tubuh melalui seragam olahraga kami.

  Mendapatkan kehangatan semacam ini, membuat diriku kehilangan kata-kata yang hendak kuucapkan.

  “...Dingin sekali hari ini.”

  Aku hanya bisa mengucapkan kata-kata itu. Meski begitu, kata-kata itu terdengar seperti kata-kata yang tidak berguna.

  “Uh, me..memang.”

  Tampaknya, dia mulai kelelahan karena sedari tadi memegangi kaosku dengan kuat, kekuatannya terasa mulai melemah.

  Itu menandai berakhirnya percakapan kami.

  Sekali lagi, sunyi melanda kami.

  Yang terasa oleh telingaku ini bukanlah kurangnya bunyi-bunyian, tapi kurangnya suara manusia.

  Diantara suara napas kami yang tersengal-sengal, aku merasa ada sesuatu yang tersembunyi dibalik itu. Yang sedari tadi tidak pernah kusadari, adalah suara tarikan napasku sedari tadi yang tersengal-sengal ternyata terdengar sangat keras.

  Entah Yuigahama menyadari itu atau tidak, angin dingin dari utara kembali berembus menerpa kami.

  Air dingin yang menerpa tubuhku dari leher hingga lenganku membuatku menggigil seketika.

  “Dinginnya...”

  Aku menggumamkan komplainku. Yuigahama terlihat setuju denganku.

  “Benar sekali. Hyaa! Anginnya dingin sekali!”

  Tubuh Yuigahama bergetar, lalu dia berpindah posisi. Begitulah, dia selangkah mendekati arahku.

  “Haloo? Bisakah kau berhenti memanfaatkanku sebagai tameng anti-anginmu?”

  “Tapi, dingin sekali...”

  Seperti katanya, dia melihat ke arahku dengan ekspresi seperti anak anjing yang ditinggal diluar swalayan. Ketika dia memasang ekspresi seperti itu, kurasa sangat sulit untuk membuatnya menjauh dariku. Tidak ada yang bisa kulakukan kecuali menggerutu tentang sikapnya itu.

  “...Ya sudahlah, lagipula cuacanya memang dingin sekali.”

  “Umm, ya, memang dingin.”

  Setelah menatapku dengan serius, Yuigahama tiba-tiba tersenyum.

  Memang faktanya, hari ini benar-benar dingin.

  Awalnya, kupikir suhu hari ini tidak akan berbeda dengan kemarin.

  Tapi, ternyata lebih dingin dari dugaanku.

  Mungkin jika tubuhku terasa hangat, aku akan memuji datangnya cuaca dingin yang seperti ini.

  ...Ya sudahlah, cuacanya memang dingin.

  Kurasa tidak masalah jika kita berjalan dengan posisi seperti ini.

 

  




x x x

Tidak ada komentar:

Posting Komentar