Senin, 28 Maret 2016

[ TRANSLATE ] Oregairu Vol 4 Chapter 8 : Dan mobil itulah yang menjemput Yukinoshita Yukino






x  x  x





  Suasana di dalam mobil terasa sangat sunyi sekali.

  Kursi penumpang di belakangku seperti habis dihancurkan oleh sesuatu. Tidak sampai 30 menit dan kita sudah mencapai situasi paling umum dari perjalanan wisata menggunakan mobil     kunamakan begitu, semua orang mulai tertidur. Aku sendiri berada di kursi penumpang yang berada di sebelah pengemudi, pikiranku sudah pergi entah kemana dan aku mulai mengantuk. Meski begitu, aku merasa tidak enak kepada Hiratsuka-sensei kalau aku tertidur di sebelahnya, jadi aku memberikan yang terbaik agar tetap terjaga.

  Jalan raya ini sangat sepi. Para siswa yang sedang liburan seperti kami tidak bisa mengucapkan banyak terima kasih yang cukup untuk ini, tapi selain anak sekolahan, mereka sedang sibuk bekerja di tengah pekan. Ini sebenarnya belum mencapai festival Obon, jadi tidak ada yang memblokir jalanan menuju Chiba.

  Mungkin aku akan terus berpikir seperti ini hingga kami tiba di kota Chiba dua atau tiga jam selanjutnya.

  “Aku berencana untuk menurunkan kalian semua di sekolah, tidak apa-apa? Mengantar kalian satu-persatu ke rumah kurasa hanya akan membuatku bertambah capek.”

  Kira-kira Sensei mengatakan itu karena dia sudah memperkirakan rute-rute yang akan dia jalani ketika mengantar kami pulang? Begitulah yang terpikirkan olehku ketika mendengarnya.

  “Sensei tidak perlu sampai sejauh itu,” aku menjawabnya sambil mengangguk.

  Hiratsuka-sensei mungkin sudah lelah, aku bahkan merasa kalau dia lebih baik mengambil peluang tercepat untuk menurunkan kami di Chiba.

  Sambil melihat ke depan, Sensei, mengatakan sesuatu dengan lembut.

  “Kau...Kemarin kau berjalan di atas tali yang sangat tipis. Jika kau salah langkah, itu mungkin bisa menjadi sebuah masalah serius.”

  Aku tidak ingat kalau aku pernah menceritakan masalah itu dengannya, tapi tampaknya dia mendengarnya entah dari mana. Masalah yang dia katakan itu berhubungan dengan Tsurumi Rumi.

  Akupun mengembuskan napasku. “Maafkan saya.”

  “Aku tidak ingin menyalahkanmu atau sejenisnya. Kau mungkin hanya melakukan apa yang harus kau lakukan. Bahkan faktanya, kupikir yang kau lakukan itu cukup bagus mengingat keterbatasan waktu yang kau miliki.”

  “Meski begitu, saya sudah memilih metode yang terburuk.”

  “Yeah, begitulah. Kau memanglah yang terburuk.”

  “Kenapa Sensei malah mengkritik sifat saya...? Bukankah yang sedang kita bicarakan ini metode saya?”

  “Kau adalah orang terburuk ketika memikirkan metode tentang masalah itu. Tapi karena kau orang yang paling hina dari yang terburuk-lah, kau bisa mendekati orang yang sudah jatuh hingga menghantam batu di dasar. Memiliki orang yang bersifat seperti itu merupakan sebuah keuntungan di situasi seperti itu.”

  “Cara yang kurang menyenangkan untuk memuji seseorang...”

  Aku seperti memiliki sesuatu yang tidak bisa diukur.

  Tapi Hiratsuka-sensei, di lain pihak, tiba-tiba menggumamkan sesuatu dengan ceria.

  “Sekaraaaang, kira-kira poin yang besar ini akan diberikan kepada siapa...”

  “Ini harusnya menjadi sebuah kemenangan besar bagi Hikigaya Hachiman.”

  Aku yang melakukan perencanaan dan memproduseri hal itu. Er, well, kalau membahas hasil dan apakah mencapai target atau tidak, itu agak sulit untuk dibahas, tapi kurasa keputusan itu masuk akal jika mempertimbangkan seberapa besar tekad dan tindakan yang kulakukan dalam masalah itu.

  Hiratsuka-sensei tersenyum.

  “Tapi jika Yukinoshita tidak mendengarkanmu dan mengambil keputusan, kau mungkin tidak akan bisa melakukan apapun. Plus, jika Yuigahama tidak meyakinkanmu, kau tidak akan menemukan alasanmu untuk melakukannya.”

  “Sial, jadi Sensei pikir semua orang pantas menjadi yang terbaik dalam masalah itu...?”

  Hampir saja aku menang. Atau begitulah yang kupikirkan, ketika dia mengatakan itu dengan ekspresi menyeringai.

  “Sejak kapan kau mulai berhalusinasi untuk menjadi pemenangnya?”

  “Oh ayolah, kita tidak perlu membahas ini lagi...”

  “Kau mungkin sudah menjadi masalah tersendiri sejak hari pertama. Aku sudah mengurangi nilaimu sejak itu. Yukinoshita dan Yuigahama masing-masing punya satu poin awal dan poinmu sendiri adalah nol.”

  “Entah mengapa, saya sudah menduga kata-kata itu akan keluar dari Sensei...”

  “Secara garis besar, yang kau lakukan sudah bagus.”

  Sebuah tangan yang berasal dari kemudi mobil tiba-tiba meraihku. Dengan tangan yang lain untuk mengemudi, Hiratsuka-sensei menepuk kepalaku.

  “Sangat memalukan diperlakukan seperti anak kecil, tolong hentikan itu Sensei,” kataku.

  “Aww, jangan malu-malu begitu.”

  Hiratsuka-sensei terus mengelus kepalaku, seperti menemukan tempat yang menyenangkan untuk bermain.

  “Ah, yang saya maksud itu bukan saya. Maksud saya itu memalukan bagi Sensei. Serius ini, Sensei ini sudah setua apa hingga memperlakukan saya seperti anak kec     

  “Hikigaya. Kau lebih baik tidur saja.” Tangannya tiba-tiba terbang begitu saja ke leherku seperti sebuah pedang.

  “Meep.”

  Dan begitulah, tiba-tiba aku merasa sedang masuk terowongan yang gelap dan tidak sadarkan diri.




x x x




  Aku merasa seseorang menggoyang-goyangkan tubuhku dan membangunkanku.

  “Hikigaya. Kita sudah sampai, bangunlah.”

  “Mm...”

  Ketika kubuka mataku, sebuah pemandangan yang familiar terbentang di depanku. Itu adalah sekolah yang biasa kudatangi setiap harinya.

  Sekarang sudah lewat tengah hari.

  Aku pasti sangat lelah sekali, karena aku merasa tidur seperti bayi. Siapa yang tahu aku sudah tidur berapa lama? Ketika aku bangun, aku merasa sangat segar.

  “Maaf, tampaknya saya tertidur.”

  “Hm?” katanya, “Oh benar. Jangan khawatirkan itu. Kau mungkin kelelahan. Sekarang, bangunlah.”

  Dibangunkan oleh Hiratsuka-sensei yang baik dan tidak seperti biasanya, akupun keluar dari mobil. Udara hangat dari pertengahan musim panas mulai menyapa kulitku. Udara semacam ini tidaklah aneh bagi orang yang tinggal di dekat laut. Hanya dua atau tiga hari berlalu dan entah mengapa suasana seperti ini serasa nostalgia.

  Di sekitar, kulihat tiap orang seperti berusaha melemaskan dirinya dan sesekali menguap. Kami mengeluarkan tas kami dari minivan dan bersiap untuk pulang dengan keadaan masih setengah mengantuk. Radiasi panas dari aspal tidak membantu sama sekali dengan rasa kantuk ini.

  Setelah semuanya memastikan kalau tidak ada yang ketinggalan di mobil, kamipun membentuk barisan. Hiratsuka-sensei menatap kami dengan ekspresi puas.

  “Kalian semua sudah melakukan yang terbaik. Perkemahan ini benar-benar selesai setelah kalian sampai ke rumah. Tolong hati-hati di perjalanan. Baiklah, dengan ini kalian kububarkan.”

  Sensei memasang ekspresi licik di wajahnya, entah mengapa. Tebakanku kalau dia mungkin sudah menyiapkan kata-kata itu dengan rapi sebelum kami pulang...

  Sambil menaruh pegangan tas di punggungnya, Komachi melihat ke arahku.

  “Onii-chan, bagaimana kita akan pulang ke rumah?”

  “Kurasa kita akan naik bus ke kereta Tokyo-Chiba. Sekalian kita mampir untuk belanja sebentar dalam perjalanan pulang.”

  “Aye aye, sir!” dia menjawabnya dengan ceria sambil memberikan hormat. “Tapi kalau kita akan naik kereta Tokyo-Chiba, apa Yukino-san mau pulang bersama kita?”

  “Memang...Kalau begitu aku akan menemanimu di setengah perjalanan.” Yukinoshita mengangguk.

  Yuigahama dan Totsuka saling menatap satu sama lain.

  “Oh oke. Kalau begitu kami duluan ya,”

  Mereka berdua mengucapkan selamat tinggal dan mulai mengambil langkah untuk pulang.

  Dan ketika itulah, itu terjadi.

  Dengan perlahan dan senyap seperti sengaja dikemudikan secara diam-diam, ada sebuah mobil hitam muuncul di depan kami.

  Seorang pria paruh baya duduk di kursi pengemudi. Ketika kulihat, dia memakai topi sopir yang menutupi rambut putihnya. Sedang kursi penumpang di belakangnya terhalang oleh kaca hitam, jadi aku tidak tahu siapa yang ada disana.

  “Tampaknya itu mobil milik orang kaya...” kataku.

  Ada sebuah hiasan berwarna keemasan, seperti seekor ikan terbang yang menempel di ujung hidung mobil. Bemper depannya seperti baru saja diganti dengan yang lebih mengkilap. Entah mengapa, aku merasa pernah melihat ini sebelumnya...

  Ketika aku mulai menatap mobil itu dengan seksama, si sopir yang berpakaian formal itu keluar dari mobil, sedikit membungkuk kepada kami dan membuka pintu penumpang dengan sikap yang terlatih.

  Keluarlah seorang wanita yang menebarkan aura musim semi, meski ini sedang di tengah musim panas.
[note: Haruno bisa berarti musim semi.]

  “Hiii, Yukino-chan!”

  Yukinoshita Haruno, dibalut gaun putih, keluar dari mobil dengan anggun.

  “Nee-san...”

  “Huh, apa itu...Kakak Yukinon?”

  Yuigahama mengatakan itu sambil mengedip-ngedipkan matanya dan melihat bolak-balik antara Yukinoshita dan Haruno-san.

  “Whoa, mereka mirip sekali...” Komachi menggumam.

  Totsuka mengangguk mendengarnya. Mereka berdua memang mirip meski berbeda satu sama lain, seperti Nega dan Posi.

  “Yukino-chan, kau bilang kalau kau akan pulang ke rumah di liburan musim panas ini, tapi kau tidak datang-datang juga. Jadi kakakmu ini sangat khawatir dan datang kesini untuk menjemputmu!”

  “Dari mana dia tahu kalau kita ada disini...?” tanyaku. “Ini sangat menakutkan.”

  “Kurasa dia melihat posisiku lewat GPS di HP-nya. Dia selalu melakukan apapun yang memungkinkan meskipun itu sangat buruk.”

  Ketika aku membicarakan itu sambil berbisik ke Yukinoshita, Haruno-san memotong.

  “Ah, ternyata Hikigaya-kun! Wow, jadi kalian ternyata benar-benar berpacaran. Hmm? Kalian pasti sedang berkencan ya? Pasti ini kencan! Aku ini cemburu loooh! Oh enaknya jadi anak muda!”

  “Jangan itu lagi...Bukankah sudah kuberitahu kalau kau salah?”

  Dia tiba-tiba menyikutku     dia ini benar-benar orang paling menyakitkan di dunia ini, sumpah ini. Jauh dari kata berhenti, sikapku yang lengah barusan membuatnya mulai terus-terusan menyikutku sehingga kedua tubuh kami ini seperti ditempelkan oleh lem. Dia sangat mengganggu dan lembut, juga senyumnya manis, sejujurnya, perutku ini dibuat sakit olehnya.

  “Ma-Maafkan aku! Kau membuat Hikki kurang nyaman!”

  Yuigahama menarik lenganku, menjauhkanku dari Haruno-san.

  Seperti sedang dipotong, keusilan Haruno-san terhenti. Haruno-san menatap tajam ke Yuigahama dengan penuh tanda tanya. Tapi tatapan tajam matanya tidak mengendur sedikitpun.

  Dengan senyum yang tenang di bibirnya, Haruno-san membalikkan tubuhnya ke arah Yuigahama.

  “Er, uh...Ada karakter baru, huh? Apa kamu ini...Pacarnya Hikigaya-kun?”

  “Bu-Bukan! Kami tidak seperti itu!”

  “Ya ampun, itu membuatku lega. Aku tidak tahu akan bersikap apa jika kau ini mengganggu hubungan Yukino-chan. Aku ini Yukinoshita Haruno, kakak dari Yukino-chan.”

  “Ah, senang berkenalan denganmu...Aku teman Yukinon, Yuigahama Yui.”

  “Teman, huh...”

  Berbeda dengan ekspresinya yang sedang tersenyum, suaranya sangat dingin. “Oh benar, bahkan Yukino-chan punya teman. Sungguh bagus, aku merasa lega mendengarnya.”

  Nada dan kata-katanya mungkin terdengar lembut, tapi suasana tempat ini seperti dipenuhi tumbuhan berduri tajam.

  “Oh, tapi kau jangan sentuh-sentuh Hikigaya-kun. Dia itu miliknya Yukino-chan.”

  “Bukan begitu,”

  “Bukan begitu,”

  Yukinoshita dan diriku mengatakan hal yang sama di waktu yang bersamaan.

  “Nah lihat sendiri kan! Mereka sangat kompak.” Haruno-san tertawa kecil ketika mengatakan kekagumannya.

  Apa membuat kami sebagai bahan becandaan merupakan caranya untuk bersenang-senang, ataukah dia hanya pura-pura seperti itu?

  “Haruno, sudah cukup,” tiba-tiba ada seseorang mengatakan itu.

  Haruno-san hanya tersenyum dingin.

  “Lama tidak bertemu, Shizuka-chan.”

  “Berhentilah memanggilku dengan nama itu.”

  Hiratsuka-sensei memalingkan wajahnya dengan “hmph” seperti merasa malu dengan itu.

  Karena merasa terkejut oleh mereka berdua yang ternyata saling kenal, akupun menoleh ke arah Hiratsuka-sensei dan bertanya.

  “Sensei, anda kenal dia?”

  “Dia dulu muridku.”

  “Apakah itu artinya...?”

  Aku hendak bertanya tentang arti sebenarnya dari jawaban Hiratsuka-sensei, tapi Haruno-san memotongku.

  “Well, kita bisa mengobrol di lain waktu, benar tidak, Shizuka-chan? Kalau begitu, Yukino-chan. Saatnya kita pulang, huh?”

  Begitulah kata Haruno-san, tapi Yukinoshita tidak menunjukkan tanda-tanda akan bergerak. Dia tidak mempedulikan kata-katanya.

  “Ayolah, Ibu sudah menunggumu.”

  Yukinoshita, yang sikapnya dari tadi tidak tergoyahkan, tiba-tiba bereaksi.

  Dia mulai terlihat ragu-ragu. Tapi kemudian seperti menetapkan keputusannya dan menoleh ke arah Komachi dan diriku.

  “Komachi-san, maaf sudah mengecewakanmu meski sudah mengajakku. Aku tidak bisa menemanimu.”

  “Apa? Oh, oke...Well, mau bagaimana lagi, kau kan masih ada keperluan keluarga...”

  Komachi menjawabnya dengan tidak jelas, seperti kaget mengapa Yukinoshita terkesan menjaga jarak dari pilihan kata-kata yang dia keluarkan tadi.

  Yukinoshita hanya bisa tersenyum kecil.

  “...Selamat tinggal,” dia mengatakan itu dengan pelan, suaranya mulai menghilang diterpa angin.

  Dengan dituntun oleh Haruno-san, Yukinoshita dengan cepat masuk ke dalam mobil.

  “Sampai jumpa lagi, Hikigaya-kun. Bye bye!”

  Haruno-san melambai-lambaikan tangannya sebelum masuk ke mobil.

  “Jalan ke tengah kota,” dia memberitahu sopirnya.

  Si sopir kemudian sedikit membungkuk dan menutup pintunya. Dia lalu menuju kursi pengemudi yang berseberangan dari posisi kita. Entah mengapa, sikap membungkuknya tadi tidak diarahkan ke kita, tapi ke Yukinoshita.

  Mustahil aku bisa melihat situasi di balik kaca hitam itu. Tapi aku sangat yakin kalau Yukinoshita duduk dengan tegak, hanya saja kedua matanya sedang menatap suatu tempat.

  Mesin mobil mulai dinyalakan dan si sopir mulai mengemudikan mobil itu dengan pelan. Mobil berjalan lurus ke depan hingga tidak terlihat lagi di pojokan.

  Aku terus melihat arah dimana mobil itu pergi. Yuigahama kemudian menarik lengan bajuku.

  “Hei...Kau kenal mobil itu...”

  “Well, mobil sewaan terlihat sama satu sama lain. Yang ada di kepalaku waktu itu hanya rasa sakitnya saja, bukannya aku ingat tentang detail-detail kecil soal itu.”

  Aku mengatakan sesuatu yang harusnya tidak kukatakan.

  Sejujurnya, aku sudah menyadari itu ketika aku melihat mobil tersebut.




  -




  Itulah terakhir kalinya aku melihat Yukinoshita Yukino di liburan musim panas ini.






 


  

x Volume 4 | END x




  Buat yang belum tahu, Hiratsuka-sensei ini jago karate, vol 1 chapter 1.

  ...

  Hachiman sebenarnya sadar kalau mobil yang menabraknya setahun lalu adalah mobil yang sama ketika menjemput Yukino.

  ...

  Dalam adegan ini, Yukino terlihat santai meladeni Haruno. Namun, ketika Haruno mulai membawa nama Ibu mereka, Yukino mulai berubah sikap.

  Terlihat jelas kalau ada sebuah masalah besar antara Yukino dengan Ibunya.

  ...

  Sebenarnya, yang dilihat Yukino dari dalam mobilnya adalah Hachiman. Jelas untuk meyakinkan dirinya kalau Hachiman tidak menyadari, kalau mobil yang di depannya adalah mobil yang sama ketika terjadi insiden tabrakan tahun lalu.

  ...

  Sebenarnya, Hachiman secara tidak langsung sudah memberitahu Yui kalau itu adalah mobil yang menabraknya. Yui hanya mengatakan mobil itu, tapi Hachiman membahas kecelakaan. Entah Yui sadar atau tidak, harusnya Yui sadar...






1 komentar: