Minggu, 20 Maret 2016

[ TRANSLATE ] Oregairu Vol 5 Chapter 1 : Tiba-tiba, ada yang menghancurkan kebiasaan sehari-hari keluarga Hikigaya


x Chapter I x








  Akhirnya aku bisa melepaskan diriku dari keyboard laptop ini dan berbaring di lantai.

  Aku sudah menyelesaikan sebagian besar proyek penelitian ini. Sekarang yang tersisa hanyalah membuat presentasinya.

  Begitulah, tapi proyek ini bukanlah milikku. Tugas musim panas dari sekolahku hanyalah PR matematika yang akan kuselesaikan dengan mencontek hasil kerja orang lain. Bukanlah masalah besar bagiku, karena aku ini sudah memutuskan untuk kuliah di universitas swasta, jurusan Liberal Art, jadi matematika bukanlah hal yang penting. Proyek penelitian ini bukanlah milikku, tapi Komachi, adik perempuanku.

  Dan orang yang sedang kita bicarakan ini, sedang berbaring di sebelahku, seperti mencoba untuk memulihkan diri dari kelelahan belajar. Dia sedang bermain-main dengan kucing tercinta kami, Kamakura, dengan meremas-remas cakarnya.

  Dasar bocah brengsek...bagaimana bisa dia melakukan itu sementara di sampingnya ada orang yang menjadi budak atas pekerjaan miliknya...? Jangan sampai membuatku meremas cakarmu!

  Well, aku tidak mau mengganggu konsentrasi ujiannya, jadi aku akan berusaha memberikan apapun yang kubisa untuk membantunya. Istilah ‘tidak ada gunanya kecuali kau lakukan sendiri tugasmu’ sebenarnya adalah hal yang benar, tapi logika semacam itu tidak berlaku bagi adikku. Moralitas dan logika tidaklah berarti baginya, itu hanyalah kumpulan hal-hal kecil. Arti sebenarnya dari ‘adik perempuan’ adalah kombinasi dari ‘wanita’ dan ‘cukup sampai disitu’.

  Dengan kata lain, awal mula dan masa depan dari semua wanita ini berasal dari adik perempuan. Seperti alpha dan omega, begitu kata mereka.

  Begitulah dari awal sampai akhir. Mungkin bisa disebut juga kalau itu adalah evolusi akhir dari semua wanita. Berdiri paling tinggi diantara para wanita berarti berdiri di atas seluruh umat manusia; mustahil aku bisa melawan musuh yang seperti itu. Oleh karena itulah, kami menciptakan teori ‘Ultimate Little Sisters’.

  Oleh karena itulah, aku akhirnya mengerjakan separuh tugas proyek dari Komachi...Apa-apaan dengan ‘oleh karena itu’? Well, coba kita ubah menjadi begini saja? ‘Belajar bagaimana memanfaatkan orang berdasarkan hubungan pribadi sehingga mereka bisa membantumu’ terkesan lebih baik.

  Ketika hal-hal tersebut bermunculan di kepalaku, akupun melihat frustasi ke arah keyboard itu, dan akhirnya laporan proyek idiot dan tidak menyenangkan ini selesai.

  Sekarang, tinggal menambahkan nama ‘Hikigaya Komachi’ di laporan ini.

  Terakhir, ‘menekan ENTER, BAM!’ klik ‘save document’. Akupun mendorong laptopnya ke arah Komachi.

  “Selesai. Coba lihat dulu untuk memastikannya.”

  “Mmmm.”

  Komachi menggulingkan badannya menuju sebelahku.

  Komachi melihat ke arah layar, mengangguk, dan terdiam.

  “...Onii-chan.” Komachi secara perlahan membuka mulutnya. Suaranya sangat tajam, dan aku sendiri belum pernah mendengarnya berkata seperti ini. Sangat dalam, dengan senyum yang menakutkan.

  “Kira-kira tulisan ini apa?”

  “U-Um...Kupikir aku bisa menulis sesuatu yang terkesan itu memang sifat Komachi, jadi...” akupun membalasnya dengan spontan.

  Bahu Komachi bergetar ketika mendengar jawabanku.

  “Sifat Komachi...O-Onii-chan, apa kau pikir aku selama ini seperti itu...? Aku sangat terkejut! Sangat terkejut!”

  Dia memegangi kepalanya dengan kedua tangannya dan berguling-guling di lantai sambil menggerutu. Aku hanya diam saja melihatnya seperti itu karena pemandangan manis tersebut, hingga dia melompat dan menunjukkan jarinya ke arahku.

  “Bagaimana mungkin ini terdengar seperti aku yang menulisnya!? Maksudku, dua kalimat terakhir itu terlihat jelas kalau kau yang menulisnya, Onii-chan!”

  Oh oke, kurasa paragraf ini memang ide yang buruk... Tidak, sebenarnya, aku sudah merasa kalau yang kutulis itu memang agak memaksa. Tunggu dulu, jadi kalau begitu separuh paragrafnya memang terkesan Komachi-sekali? Ini mengejutkanku.

  “Oke, oke, aku akan perbaiki itu. Hanya dua kalimat saja, bukan? Oke, oke. Meski ini bukan pekerjaanku, tapi aku akan tutup mulut dan mengerjakannya.”

  “Stop! Jangan sekali-kali kau bersikap seperti budak perusahaan ketika berurusan denganku!”

  Komachi menaruh kedua tangannya di pinggang sambil marah-marah, tapi dia terlihat mendesah kesal. Dia lalu menggerutu seperti mengerti situasinya.

  “...Ya sudahlah, ini memang awalnya tugasku, aku akan mengerjakan sisanya. Terima kasih sudah membantuku sejauh ini.”

  Ketika dia menunjukkan sisi dirinya yang mengagumkan itu, membuatku gatal ingin menyelesaikan laporan miliknya itu. Mungkin ini terdengar bukan seperti diriku, tapi harusnya aku mengerjakan itu dengan serius setelah menerima pekerjaan tersebut, meski aku sendiri orang yang malas.

  “Ya...tahulah. Aku memang agak memaksakan di separuh paragraf terakhirnya, jadi itulah yang terjadi...Maaf, biarkan aku membantumu sebisaku.”

  Mata Komachi terlihat berbinar-binar. Dia terlihat seperti ‘yamapikaryaa’. Kata itu berarti ‘Iriomote cat’ di sekitar sini. Yamapikaryaa!

  “Aku tahu kau akan mengatakan itu, Onii-chan! Oleh karena itulah aku menyayangimu, Onii-chan!”

  “Yeah, yeah, aku sayang, sayang, sayang, sangat menyayangimu juga.”

  Dia mulai memunculkan banyak sekali Komachi poin seperti biasanya, meskipun ini agak menggangguku, tapi aku tetap melakukannya. Lagipula, aku yang mengerjakan sebagian besar tugas laporannya, jadi aku harusnya yang menulis itu sampai selesai.

  Ketika aku menulis ulang penjelasannya, kucing kami mulai mendekatiku dan duduk di depan layar.

  Kenapa kucing selalu dengan santainya duduk di depan TV dan di atas koran...?

  “Komachi.”

  “Siap Pak!”

  Komachi memberikan hormat dan langsung melakukan tindakan untuk memindahkan Kamakura.

  Ketika dia mengangkatnya, Kamakura menjulurkan kakinya seperti berusaha kabur. Persis seperti orang yang punya rambut lembut, bulu-bulu kucing juga lembut dan halus.

  Komachi dengan cepat membuatnya lengah dengan menggelitiki lehernya, setelah itu dia mulai mengelusnya. Dari kepala hingga ekor dengan menggumamkan lagu.

  “Fufufu. Kau ini kucing yang nakal jika kau pikir bisa mengganggu kami.”

  “Dia sebenarnya cukup tua jika melihat umurnya.”

  Sebenarnya, umur Kamakura berapa sih? Dia dulu sekitar 4 atau 5 tahun ketika menjadi bagian keluarga ini. Kalau dikonversi menjadi umur manusia, maka umurnya kurang lebih sama seperti umur Hiratsuka-sensei. Aku ingin memperkenalkan kucing kami ini kepadanya.

  Akupun menyerahkan laporan proyek yang sudah selesai itu ke Komachi dan mulai memikirkan urusanku sendiri.

  Jam menunjukkan kalau sebentar lagi akan masuk jam 11. Aku harus bersiap-siap untuk pergi ke kelas bimbingan belajar hingga sore.

  Ketika aku sedang mengganti bajuku, interkom rumah ini berbunyi.

  Apakah itu kiriman ulang paket yang kuminta dari Amazon? Kalau dipikir-pikir, mereka ini selalu datang dimana aku tidak ada di rumah, apa kalian ini ninja atau semacamnya?

  Ketika aku membuka pintu sambil memegang stempel di tangan satunya, ada seseorang yang tidak terduga berdiri disana.

  “Y-Yahallo.”

  Rambut berwarna coklat muda yang dimodel sanggul, memakai pakaian musim panas, dan membawa sebuah tas besar dengan kedua tangannya, Yuigahama Yui berdiri sambil menoleh ke arah sekitarnya.

  “Y-Yeah...”

  Pemandangan tidak terduga ini membuatku terdiam. Kami berdua terdiam seperti tahu apa yang kami rasakan, sambil berpikir harus bersikap apa dengan situasi ini.

  Kalau berbicara tentang orang yang datang ke rumah kami hingga hari ini, orang yang bisa terpikirkan olehku adalah jasa kurir dan nenek tua yang bertetangga dengan kami, dia biasanya memberikan barang titipan yang dikirimkan ketika rumah kami kosong. Oleh karena itu, sangat sulit diterima logika jika ada seseorang dari sekolahku datang ke rumahku. Mungkin kalau dianalogikan, seperti melihat rusa bertanduk di sebuah akuarium. Satu-satunya tempat dimana kau bisa melihat rusa bertanduk itu di padang rumput, kebun binatang, atau dunia Ultimate Muscle 2.

  Akupun memegangi pintuku, pura-pura bersikap tenang, dan berkata, “Ada perlu sesuatu?”

  Ini harusnya menjadi kunjungan kedua Yuigahama ke rumah kami. Kunjungan pertama ketika dia hendak berterima kasih kepadaku mengenai insiden kecelakaan itu. Tapi, aku tidak menemuinya.

  “U-Um...apa Komachi-chan ada di rumah?”

  Dia sepertinya membuat janji dengan Komachi.

  “Komachiii, ada temanmu datang!”

  Akupun memanggil Komachi seperti seorang ibu dan dia datang menuju pintu. Ternyata, dia sudah berganti pakaian. Bukannya kamu tadi cuma memakai kaos panjang saja di rumah?

  “Hei Yui-san, selamat datang. Masuk, masuk, jangan malu-malu.”

  “Oke, terima kasih. Ma-maafkan aku sudah mengganggu...”

  Yuigahama mengatakan itu sambil ragu-ragu apakah mau masuk atau tidak, dia lalu menghirup napas dalam-dalam. Dia lalu melangkah masuk seperti menyiapkan dirinya akan sesuatu. Rumah gue bukan semacam dungeon terakhir di RPG atau semacam itu.

  Sambil berjalan masuk ke rumah kami, Yuigahama menoleh kesana-kemari. Ayolah, kau tidak perlu menyentuh beruang yang terbuat dari kayu itu.

  Rumah orang lain tidak hanya sesuatu yang misterius, tapi seperti sebuah negara lain. Aku cukup yakin kalau kau akan mengalami semacam ‘culture shock’ ketika memasuki budaya yang berbeda. Yuigahama melihat ke hal-hal yang paling normal sekalipun, seperti tangga, jendela, dan dinding. Dia seperti, “ohh” atau “wooow” yang membuatku merasa takut.

  Bahkan ketika kami tiba di ruang keluarga di lantai dua, Yuigahama masih menoleh kesana-kemari, lalu pandanganya terhenti di rak buku. Dia lalu menyentuh sebentar rak buku tersebut dengan hati-hati dan berkata.

  “Whhoa, banyak sekali bukunya.”

  “Baik ayahku dan Onii-chan adalah kutu buku, jadi jumlah buku ini akan terus bertambah banyak di masa mendatang.”

  Komachi menjawabnya dari dapur.

  Aku tidak merasa kalau buku-buku di rak ini sangat banyak, lagipula kau ini tidak terlihat seperti seorang penggemar buku...

  Sangat jarang sekali ada orang datang ke rumah kami.

  Kami ini menggambarkan bagaimana keluarga modern di Jepang saat ini; kedua orang tua sibuk bekerja dan tidak sering bersosialisasi dengan para tetangga. Meski kita pada akhirnya bertemu mereka, biasanya kita hanya sekedar menyapa dan yang kita tahu hanya sebatas nama masing-masing.

  Karena itulah, aku tidak tahu bagaimana caranya memperlakukan tamu. Tidak ada yang bisa kulakukan karena aku sendiri bukanlah manusia yang terlibat dalam peradaban semacam itu. Aku mungkin hanya sekedar orang yang tahu bagaimana cara memperlakukan abu jenazah ayahku kelak. Oh wow, aku ini seperti tokoh terkenal. Hanya pikiran-pikiran konyol, tapi pria yang mengatakan dengan bangga, “Tapi hei, bahkan Edison sendiri tidak bagus dalam belajar!” tidak hanya buruk dalam belajar, tapi pria itu juga buruk dalam segala hal. Itulah yang akan kau ketahui jika mempelajarinya lebih jauh.

  “Mm...”

  Akupun menggumamkan, “duduk saja dulu?” ke Yuigahama.

  Situasi ini sungguh aneh karena aku sendiri tidak tahu bagaimana cara memperlakukan tamu. Ini seperti anak desa yang menawarkan payung kepada gadis kota di tengah hujan. Sial, aku mungkin akan langsung saja berteriak kepadanya, “Haha! Rumahmu pasti banyak hantunya”!

  “Te-Terima kasih.”

  Ketika Yuigahama duduk, Komachi datang dari dapur dan menaruh minuman di meja. Ada beberapa es teh barley di meja ini.

  “Jadi, ada perlu apa kesini?” tanyaku yang tidak tahu ada apa dia kesini.

  Lalu, Yuigahama dengan perlahan membuka tas yang dia taruh di pangkuannya sejak tadi.

  “Um, aku meminta pertolongan Komachi-chan soal Sabure...” kata Yuigahama sambil membuka tasnya.

  Ketika terbuka, seekor makhluk berbulu yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata melompat keluar ke arahku. Bulunya berwarna coklat muda, dengan mata bulat yang manis, kaki yang pendek, dan juga ekor yang mengibas. Jika aku berada di jaman yang benar, maka makhluk dengan ciri seperti di atas; anjing.

  Anjing milik Yuigahama, Sabure, langsung melompat ke arahku. Lu kira gue apaan, Friskies MonPetit? Dia lalu berlari-lari di ruangan ini seperti meluapkan seluruh energinya.

  Sabure lalu melompat dan menghantamku! Sangat efektif! Hachiman hampir pingsan!

  Sabure melompat ke arahku dengan energi yang luar biasa, menjilatiku sebisanya seperti tertanam di kepalanya, “Hachiman, jilat, jilat” dan aku berusaha menjauhkannya dariku. Akupun mengangkatnya dan yang kulihat hanyalah kibasan ekornya.

  “Apa-apaan dia ini...? Huh? Bulunya terlihat lebih pendek dari yang kulihat terakhir kali?”

  Kalau dibandingkan dengan 2 bulan lalu, bulunya lebih pendek. Apa dia baru saja menggunakan jurus Beast Spear atau sejenisnya?

  “Ah, benar. Sabure bulunya panjang-panjang, jadi kami mencukurnya awal musim panas ini.”

  “Oh begitu ya...”

  Maksudku, tidak masalah, apakah modelnya Somersault, Uppercut, ataupun Spinning Piledriver.

  “Jadi, mengapa kau bawa makhluk ini kesini?”

  Akupun melepas Sabure dari tanganku, tapi dia terus berlarian di sekitar kakiku dan tidak berniat untuk menjauh dariku. Dia sangat memaksa sekali, aku sendiri tidak tahu harus melakukan apa, mungkin woof, woof, woof’d.

  Akupun menatap Yuigahama dengan kesal berharap dia akan melakukan sesuatu dengan itu, dan Yuigahama memanggilnya.

  “Sabure, kesini.”

  Setelah dia mendekatinya, dia menggendongnya dan berkata.

  “Keluargaku mau pergi liburan musim panas sebentar lagi.”

  Liburan keluarga, huh...? Kata-kata tersebut memang agak nostalgia.

  Meski ini bukanlah topik yang bisa kau bicarakan ketika kau sudah menjadi siswa SMA, tapi sekali lagi, aku ini tidak punya seorangpun untuk diajak mengobrol, begitulah.

  “Keluargamu tampaknya akrab sekali. Tidak seperti keluargaku     

  “Hanya saja Onii-chan memutuskan untuk di rumah saja, benar tidak?” kata Komachi, langsung memotong jawabanku.

  Yuigahama menggumamkan sesuatu sambil terkesima, “Begitulah Hikki...”

  Dia seperti menghormati jalan hidupku. Oh hei, mungkinkah kau bisa menilai orang dengan baik? Begitulah pikirku, tapi ternyata dia menatapku dengan kasihan.

  “...Bukan begitu. Itu karena aku sering menolak ajakan kedua orangtuaku ketika SMP dulu. Setelah itu, aku tidak ikut acara mereka lagi.”

  Aku tidak berada dalam fase ‘remaja pemberontak’, tapi liburan bersama keluarga terlihat memalukan. Oleh karena itu, aku menolak ajakan mereka, tapi ayahku terlihat senang sekali ketika aku menolaknya...

  Well, persetan dengan ayahku itu. Sekarang yang menjadi topik pembicaraan di ruangan ini adalah liburan keluarga Yuigahama.

  “Jadi ada apa dengan liburan keluargamu?”

  “Ah, ya, jadi selama kami menjalani liburan, kami berharap bisa menitipkan Sabure disini atau semacam itu.”

  Yuigahama lalu melihat ke arahku dan menambahkan, “Apa kalian tidak keberatan?”

  Meski aku adalah orang Jepang yang sanggup mengatakan “TIDAK” kepada mayoritas permintaan, melihat Komachi tersenyum semanis itu ketika mengelus Sabure membuatku sulit untuk menolaknya.

  Tapi aku tidak bisa mengatakan begitu saja, “Oke, oke”. Karena ketika aku sudah memberikan jawabannya, jika aku menyesalinya maka aku tidak bisa merubahnya lagi.

  “...Kenapa menitipkan ke kami sedangkan rumah kami ini sangat jauh dari rumahmu?”

  Karena yang kita bahas ini Yuigahama, aku yakin dia punya banyak teman dekat yang bisa dimintai tolong. Kalau tidak salah, belakangan ini grupnya ramai membicarakan tentang hotel-hotel yang menerima tamu yang membawa binatang peliharaan.

  “Masalahnya, Yumiko dan Hina tidak pernah punya binatang peliharaan. Lalu, aku juga sudah meminta tolong ke Yukinon, tapi dia bilang di rumahnya sedang ada kesibukan, jadi...”

  Yuigahama mengatakan itu dengan ragu-ragu.

  Well, sebenarnya Yukinoshita takut dengan anjing, jadi aku sangat yakin kalau dia akan menolak meskipun dia tidak sedang ada di rumah...Ah, tidak, mungkin saja dia akan bilang, “serahkan padaku” dan menerima itu. Lalu dia akan selalu ketakutan ketika tiba waktunya untuk memberi makan Sabure. Sambil membayangkan skenario menyenangkan itu, Komachi yang menyadari sikap diam Yuigahama bertanya lebih lanjut.

  “Apa terjadi sesuatu dengan Yukino-san?”

  Ketika ditanya, Yuigahama gugup. Dia lalu menatapku dengan ragu.

  “Be-Benar...Hikki, apa kau pernah menghubungi Yukinon?”

  “Enggak lah, aku bahkan tidak punya nomor HP-nya.”

  Aku ini tidak punya merpati pembawa pesan, juga aku tidak pernah mencoba mengirimkan surat di dalam botol dan membiarkan lautan yang membawa suratku ke dirinya, jadi aku tidak punya satupun cara untuk menghubunginya. Akupun bertanya ke Komachi dengan ekspresi wajah yang berkata “kalau kamu?”, dan dia mencondongkan kepalanya.

  “Aku belakangan ini sering mengiriminya SMS dan menelponnya.”

  “Memangnya ada yang aneh?”

  “Ketika aku menelponnya, yang menjawab hanyalah mesin penerima dan dia akan mengirimiku SMS sebagai balasannya. Lalu dia membalas SMS-ku lama sekali...Juga, SMS balasannya terlihat tidak semangat atau bisa dibilang seadanya daripada waktu-waktu sebelumnya...Ketika aku mencoba mengajaknya pergi keluar, entah mengapa, dia belakangan ini selalu mengatakan sedang sibuk...”

  “Haha...”

  Dia jelas-jelas berusaha menghindarimu. Maksudku, itulah yang para gadis sekelasku lakukan ketika aku mengirimi mereka SMS, begitulah yang ingin kukatakan, tapi aku menghentikan niatku itu.

  Lagipula, Yuigahama pasti sadar jika ada seseorang yang berusaha menjauh darinya. Dia adalah ahli dalam membaca suasana dan menyesuaikan diri dengan suasananya, jadi mustahil dia tidak melihat hal-hal mendasar seperti itu.

  “Aku kadang berpikir apa aku pernah berbuat salah kepadanya...”

  Yuigahama mengatakan itu dengan suara tawa yang pelan.

  “Kau harusnya tidak terganggu dengan hal-hal kecil seperti itu. Mungkin dia memang benar-benar punya banyak kesibukan di rumah. Ketika sudah masuk sekolah lagi, semuanya akan kembali seperti biasanya.”

  Meskipun itu terdengar aneh karena aku biasanya tidak mengatakan hal-hal semacam itu, aku mencoba mencairkan suasananya. Aku memang sangat ahli untuk menutupi hal-hal semacam ini. Ini semacam mengatakan ‘penuh kebohongan’ yang terdiri lebih dari 800 kebohongan. Malahan, aku ingin itu bisa merepresentasikan 80 ribu kebohongan.

  Tapi sejujurnya, dia tidak benar-benar berbohong. Memang benar kalau banyak hal terjadi di rumahnya.

       Di awal Agustus, dua minggu lalu.

  Waktu itu kami berpisah setelah pulang dari perkemahan.

  Setelah itu, Yukinoshita dijemput oleh kakaknya, Haruno-san, dan kita tidak pernah bertemu lagi sejak saat itu.

  Tapi mobil yang dipakai oleh kakak Yukinoshita untuk menjemputnya membuatku mengalami flasback.

  Setahun yang lalu, Yuigahama dan diriku terlibat dalam sebuah kecelakaan. Aku ditabrak mobil yang dikemudikan oleh sopir. Aku sendiri tidak yakin apakah mobil waktu kecelakaan itu adalah mobil yang sama dengan dua minggu lalu. Yang tampil di kepalaku hanyalah ingatan yang samar-samar.

  Tidak ada satupun bukti yang meyakinkan itu. Keterangan saksi mata, pengakuan, analisis, tidak ada satupun dari itu.

  Dalam suasana ruangan yang suram ini, yang bergerak hanyalah waktu.

  Setelah kata-kataku yang mencurigakan tadi, Yuigahama terus menatapku dengan ragu.

  “Ka-Kau pikir begitu...?”

  “Entahlah.”

  “Apa-apaan itu? Jawabanmu tidak jelas.”

  Yuigahama tersenyum seperti orang bodoh.

  Jujur, aku tidak tahu apapun.

  Aku tidak tahu Yukinoshita Yukino.

  Tentunya, aku hanya tahu dia luarnya seperti apa; aku tahu namanya, aku tahu wajahnya, seberapa bagus nilai-nilai akademisnya, mengapa dia tidak dekat dengan orang-orang, mengapa dia menyukai kucing dan Pan-san, mengapa kata-katanya begitu tajam, dan mengapa dia kadang-kadang bersikap tanpa berpikir panjang.

  Aku hanya tahu itu saja tentang dirinya.

  Tapi tahu sebanyak itu tidak bisa dikatakan aku kenal dirinya. Sama halnya dengan bagaimana orang-orang tidak memahamiku, aku juga tidak mengenal mereka. Itu adalah kata-kata yang harus aku camkan dengan baik.

  Sebenarnya, seberapa dalam pengetahuan yang kau butuhkan agar kau bisa dibilang ‘kenal’ dengan seseorang?

  Ketika aku mulai jatuh lebih dalam di labirin pikiran, sebuah suara gonggongan kecil dan berisik terdengar olehku.

  Ketika kulihat, ada suara rendah yang menggerutu setelahnya. Tampaknya Sabure dan Kamakura seperti hendak mengintimidasi satu sama lain, diantara Komachi.

  Kamakura menunjukkan sebuah peringatan agar Saburo tidak mendekatinya, tapi dia tidak peduli dan mulai mengejarnya. Komachi hanya melihatnya saja tanpa berusaha menghentikan mereka.

  Apa drama semacam ini akan terjadi sementara waktu di rumah ini...? Akupun menatap Yuigahama dengan ekspresi yang jengkel dan Yuigahama mengatakan maaf.

  “A-Ahaha, ma-maaf. Kami sempat memikirkan untuk menyewa hotel yang memperbolehkan membawa peliharaan, tapi mereka sudah penuh di musim seperti ini.”

  “Kalau begitu, disitulah kita akan membantu, Onii-chan.”

  Komachi memegangi dadanya sambil berkata “ta-dah!” dan tertawa kecil. Kenapa kau pura-pura terlihat bisa diandalkan? Apa kau ini semacam kapten kapal?

  Hmph, well, karena dia sering SMS Yuigahama, tampaknya kejadian ini sudah diskenariokan dengan baik olehnya.

  “Maksudku, jika kita tidak melakukannya, tidak ada jaminan kesempatan serupa akan datang lagi di musim panas selanjutnya. Ini peluangmu!” Komachi menggumamkan itu.

  Aku merasa kalau matanya mulai dipenuhi bintang-bintang yang bersinar, tapi lebih berbintang daripada mata Zaimokuza ketika mengatakan kata favoritnya, “peluang!”. Apa mungkin dia seperti itu karena pengaruhku? Aku berharap kalau diriku tidak akan populer...Aku ini adalah korban.

  “...Ya sudah, kalau Komachi tidak mempermasalahkan itu.”

  Kita ini sedang membicarakan adikku yang pintar. Dia kemungkinan besar sudah mencapai kata sepakat dengan Ibu soal ini. Setelah Ibu ditaklukkan, yang tersisa hanyalah ayah yang mudah ditaklukkan dengan sedikit sikap manjanya.

  Dalam keluarga Hikigaya, anak tertua tidak punya kekuatan untuk memutuskan sesuatu. Struktur tertinggi dalam keluarga ini adalah Ibuku, kemudian Komachi, lalu Ayahku, dan terakhir aku. Oh, tapi posisi tertinggi dipegang oleh kucing, oke? Mereka hanya melihat manusia sebagai pelayannya.

  “Ngomong-ngomong, kami tidak ada masalah soal itu, tapi bagaimana soal makanannya? Pita Woof? Frontline? Jangan bilang kalau kamu juga mau Pedigree untuknya? Kami tidak punya uang untuk itu, asal kau tahu saja.”

  “Mengapa kau bisa tahu sampai sejauh itu...? Tunggu, Frontline itu agar dia tidak memiliki kutu! Aku sekarang mulai khawatir...” Yuigahama mulai diselimuti keraguan.

  Komachi lalu tersenyum untuk menenangkannya.

  “Jangan khawatir, kami dulu pernah pelihara anjing.”

  “Be-Benarkah?”

  “Begitulah” kataku.

  Itu adalah cerita lama. Ingatanku agak kacau, tapi aku merasa kalau orang tuaku atau Komachi yang merawat anjing itu.

  Yuigahama lalu tersenyum.

  “Ohh, itu cukup mengejutkan.”

  “Kakakku ini menyukai kucing dan anjing. Dia hanya benci kepada manusia...”

  Apa aku ini semacam detektif dari dunia lain atau semacamnya...?

  Tapi, Komachi tidak salah. Memang benar aku tidak membenci kucing ataupun anjing. Tapi kalau ada campuran dari kedua hewan itu, boleh juga.

  Hanya saja, saat ini aku lebih suka dengan kucing.

  Tuan-tuan semuanya, aku suka sekali kucing. Tuan-tuan semuanya, aku suka sekali kucing. Aku suka kucing American dengan rambut pendek. Aku suka kucing toroiseshell. Aku suka kucing sphinx. Aku suka ragdolls. Aku suka American curl. Aku suka Scottish fold. Aku suka kucing persian. Singapura. Juga kucing Russian blue.

  Kucing jalanan, kucing yang ada di kamar tidur, kucing di atap rumah, kucing di atas kulkas, kucing di bawah kamar tidur, di beranda, di dalam kotak karton, di dalam kantong, di bahu seseorang, dan di matras tidur.

  Aku menyukai kucing yang berada di manapun.

  ...Sebenarnya, aku paling benci bajingan yang suka mengkasari kucing. Aku ingin orang yang tidak menghargai kehidupan agar mati saja. Aku sangat benci orang yang tidak mensyukuri kehidupan!

  Ketika aku berusaha memancarkan amarahku, Yuigahama tersenyum lega.

  “Kurasa aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Lagipula, Sabure tampaknya menyukai Hikki.”

  “Jangan berharap banyak. Aku adalah tipe orang yang lebih suka diawasi daripada mengawasi. Kau bahkan bisa memanggilku sebagai profesional dalam hal ‘diolah’.”

  Aku sudah hidup selama 17 tahun seperti ini, jadi hidup dengan cara yang berbeda bukanlah pilihan yang perlu ditanyakan kepadaku. Karena cara hidupku ini sudah tertanam sampai remaja, mustahil aku bisa mengubahnya.

  Ketika aku menjawab sambil menyentuh perut Sabure di sebelahku, Komachi langsung menariknya menjauh dariku.

  “Ngomong-ngomong, serahkan Sabure-chan padaku! Aku akan merawatnya dengan baik sehingga dia akan lebih betah denganku!”

  Komachi tampaknya termotivasi untuk mengambil alih Sabure.

  “Oh, aku tidak begitu yakin soal itu, tapi...Oke, tolong rawat dia untukku.”

  Yuigahama dengan ekspresi ragunya, membungkuk. Dia lalu melihat arlojinya untuk memastikan waktunya.

  “Ah, aku harus pergi sekarang. Keluargaku sudah menungguku.”

  “Oke, oke, sampai jumpa.”

  Aku melihat keduanya pergi ke bawah lewat tangga, diriku sendiri hanya memeriksa tas yang digunakan untuk membawa Sabure, yang sengaja ditinggalkan Yuigahama. Dalam tas tersebut ada makanan anjing dan kebutuhan-kebutuhan lainnya untuk merawat Sabure. Ngomong-ngomong, makanan anjingnya bermerk Science Diet. Tampaknya anjing ini hidup jauh lebih enak daripada diriku...

  Sedang Sabure sendiri, anjing yang menjadi pembicaraan kita, sedang mengendus-endus sesuatu sambil berjalan mengelilingi ruangan ini. Ahh, mungkin dia bereaksi seperti itu karena mencium bau kucing di sekitar sini?

  Sedang Kamakura, apa dia pergi? Dia ternyata ada di atas kulkas dan melihat ke arah Sabure dan diriku dengan mata setengah tertutup.

  Dia bukannya benci Sabure atau tidak tertarik. Dia hanya mencoba menjaga jarak karena dia belum mengenalnya.

  Tatapannya seperti dia sedang membuat garis yang tidak boleh dilewati, akupun teringat sesuatu.

  Ada sesuatu yang baru saja teringat dengan jelas di kepalaku, kejadian waktu kami merayakan ulang tahun Yuigahama di klub.

  Sore yang cerah di tengah musim penghujan. Seorang gadis dengan senyumnya yang kesepian, diterangi cahaya matahari senja dari belakang tubuhnya.

  Waktu itu, di sedang menggambar sebuah garis.

  Sebuah garis yang menandakan kalau gadis itu berbeda dari kami berdua, para korban.

  Sebenarnya, garis apa yang dia gambar itu?

  Sekarang aku akhirnya paham garis apa yang dia gambar waktu itu.









x Chapter I | END x




  Kedatangan Yui pertamakali ke rumah Hachiman sebenarnya dijelaskan di vol 1 chapter 6 oleh Komachi.

  Setahun lalu, Yui pernah datang untuk berterimakasih, tapi Hachiman sedang tidur, sehingga Yui membuat janji ke Komachi kalau dia akan berterimakasih secara langsung di sekolah. Sayangnya, Yui berbohong dalam hal ini, dan Hachiman tidak menceritakan kebenaran itu kepada Komachi.

  ...

  Ternyata, selama ini Komachi sering SMS dan telepon Yukino...

  ...

  Semua hal yang Hachiman katakan tentang Yukino, sebenarnya banyak yang Yui sendiri tidak ketahui.

  ...

  Hachiman sebenarnya sudah sadar kalau Yukino adalah penumpang mobil yang menabraknya sejak vol 4 chapter 8.

  ...

  Kemungkinan besar Yukino menutup dirinya dari Komachi dan Yui selama liburan musim panas karena merasa bersalah dengan Hachiman. Yukino yakin Hachiman sadar kalau itu adalah mobil yang menabraknya setahun lalu, ketika Haruno menjemputnya di sekolah, vol 4 chapter 8.

  Yukino memilih untuk menjaga jarak karena tidak ingin rumit seperti insiden nice girl Yui-Hachiman di vol 2 chapter 5. Yukino tidak ingin Hachiman melihatnya baik dan berbicara kepadanya karena ada hutang budi sebagai penumpang mobil tersebut.

  Meski kebenarannya, Hachiman di vol 6 chapter 5 memutuskan untuk merelakan masa lalu antara dirinya dan Yukino dan move on.

  ...



 

  




4 komentar:

  1. Gk suka anjing malah di suruh ngerawat anjing 😑😑😑

    BalasHapus
  2. Btw soal yukino yg menggambar garis, itu mungkin merujuk waktu yukino bilang hachiman dan yui ini hanya korban, yg salah ada penabrak itu... Probably

    BalasHapus