Sabtu, 05 Maret 2016

[ TRANSLATE ] Oregairu Volume E Chapter 3 : Dengan mempesona, Hayama Hayato mulai berlari menjauh


x x x









  Taman yang akan menjadi tempat start marathon kali ini sudah dipenuhi oleh para siswa dan siswi kelas 1 dan 2. Rute yang akan dilalui marathon pria adalah berlari melewati jalan pinggir pantai dan berbalik ke taman ini lagi setelah melewati Jembatan Mihama.

  Jaraknya sangat jauh, sangat jauh. Apapun yang lebih besar dari tiga akan terhitung sebagai sesuatu yang besar di matematika oleh Hachiman –kun!

  Well, setidaknya, misiku kali ini tidak ada hubungannya dengan jumlah kilometer yang harus kulalui.

  Kami kemudian diinstruksikan untuk berbaris, dan kami mulai berbaris rapi di belakang garis putih di tempat start.

  Akupun berusaha maju ke depan, bergerak dengan licin seperti belut. Diluar dugaan, semua orang memberikanku jalan dengan mudah.

  Ini sebenarnya adalah marathon khusus siswa SMA Sobu. Bukanlah sebuah event yang populer dan juga tidak ada pengaruhnya ke nilai akademis. Dipaksa lari dalam cuaca sedingin ini sudah membuat orang kehilangan motivasi.

  Semua orang merasakan hal yang sama, kecuali satu orang.

  Dengan semua ekspektasi yang mengharapkannya menang tahun ini, Hayama tidak bisa lolos dari event ini dengan hasil yang tidak memuaskan. Dia tidak boleh terlihat menggampangkan event ini di mata publik.

  Dia ada di barisan terdepan di barisan start, aku bisa melihatnya langsung dan hanya berjarak beberapa orang dari posisiku saat ini.

  Ketika dia melakukan pemanasan, para gadis yang melihat start marathon pria mulai berteriak histeris.

  Tiga puluh menit setelah marathon pria diberangkatkan, maka marathon untuk para gadis akan dimulai. Sampai saat itu, tampaknya mereka akan melihat dan menyemangati marathon pria.

  Hayama mengangkat sedikit tangannya untuk menjawab teriakan histeris penonton. Diantara kerumunan para gadis yang dia lihat, terdapat Miura.

  Mungkin gugup karena banyak sekali gadis di sekitarnya, Miura hanya menatap saja ke arah Hayama. Disampingnya ada Ebina-san dan Yuigahama. Tidak jauh di belakang mereka juga ada Yukinoshita.

  Dan ada seorang gadis yang berjalan bergabung ke kerumunan mereka, Isshiki.

  Mengetahui kedatangan Isshiki, Miura tampak menyapanya. Isshiki-pun mengangguk. Baik Miura dan Hayama terlihat saling menatap satu sama lain. Isshiki yang mengetahui adegan ini, memandangi Miura dengan tatapan yang licik. Lalu, dia menaruh kedua tangannya di depan mulutnya dan berteriak dengan suara keras.

  “Hayama-senpai, berikan yang terbaiiiiiik...! Ah, sekalian saja, Senpai juga yaaaaa!”

  Setelah mendengarkan itu, Hayama melambaikan tangannya dengan senyum yang kecut, entah mengapa Tobe yang agak jauh dari Hayama juga membalas “Yeaaaaah!”.

  “Bukan, bukan, aku tidak mengatakan itu kepadamu, Tobe-senpai,” kata Isshiki sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajahnya dan mengatakan, “bukan lu!”.

  Miura yang sejak tadi hanya diam melihatnya, tiba-tiba menarik napas yang dalam, dia lalu meneriakkan sesuatu.

  “Ha-Hayatooooo...Be-Berikan yang terbaik!”

  Suaranya tidak begitu keras sehingga terkesan tertelan oleh suara histeris penonton. Tapi Hayama dengan segera menaikkan tangannya dan tentunya, memasang senyum yang lembut.

  Miura yang melihat itu kemudian mengangguk.

  Isshiki melihat keduanya dengan ekspresi puas dan menoleh ke arahku.

  “...Senpai, kau juga lakukan yang terbaik, okeeeeeee!”

  B-Baiklah...Tapi kenapa dia tidak mau menyebutkan namaku...? Apa dia tidak ingat namaku...Ketika memikirkan itu, Yuigahama yang sejak tadi melihat Isshiki, kemudian mengambil satu langkah ke depan.

  Kemudian, Yuigahama melambaikan tangannya.

  “La-Lakukan yang terbaik!”

  Suaranya bisa dibilang lebih lembut dari Isshiki, seperti takut kalau didengar oleh orang-orang di sekitarnya, tapi memang terdengar jelas di telingaku...Untung saja dia tidak menyebut namaku. Aku senang kalau dia juga mempertimbangkan hal itu.

  Akupun menaikkan tanganku untuk mengapresiasi sikapnya dan Yuigahama terlihat mengepalkan kepalan tangannya. Kemudian, di sebelahnya, tatapan mata Yukinoshita bertemu denganku.

  Dia hanya mengangguk kecil. Mulutnya seperti sedikit bergerak dan mengatakan sesuatu, tapi aku tidak bisa mendengar suaranya.


  Tapi, aku termotivasi.


  Baiklah, saatnya fokus ke pekerjaanku...

  Aku lalu menyelipkan tubuhku diantara celah-celah barisan ini dan berada tepat di belakang garis start, seperti Hayama. Kedua mata Hayama lurus menatap ke depan, tidak melihat ke arahku.

  Aku putar bahuku, menggerakkan lututku, sedikit demi sedikit, dan bergeser secara perlahan hingga berada di samping Hayama. Ketika bergeser, aku bisa mendengar suara orang-orang yang kesal dengan ekspresi wajah yang kurang menyenangkan. Sebenarnya aku ingin mengatakan “maaf ya”, tapi malahan hanya tertawa dan mengatakan maaf itu dari dalam hati. Akhirnya, aku ada di samping Hayama.

  Dia sedang mengobrol dengan Tobe dan yang lain tentang sesuatu. Ketika dia menyadari kehadiranku, dia hanya tersenyum seperti bertanya apa aku ada perlu dengannya.

  Aku hanya diam saja dan melihat lurus ke arah depan.

  Sebentar lagi, marathon akan dimulai. Aku bahkan bisa tahu tanpa melihat ke arah jam besar di taman.

  Suara berisik dari para siswa di belakangku tiba-tiba menghilang. Teriakan para gadis di barisan penonton juga tampak mereda.

  Ketika semua orang terdiam, seperti menunggu momen tersebut, seseorang berjalan menyusuri garis putih start marathon dan berhenti di salah satu ujung garis.

  “Sekarang, apa kita semua sudah siap?”

  Orang yang mengatakan itu dan mengarahkan pistolnya ke atas adalah Hiratsuka-sensei.

  Kenapa Hiratsuka-sensei? Biasanya guru olahraga yang melakukannya. Ya ampun, tampaknya orang ini tidak bisa melewatkan satupun peluang agar tampak menonjol dari yang lain. Ataukah dia hanya ingin menembakkan pistolnya?

  Hiratsuka-sensei menaikkan pistolnya tinggi-tinggi dan menggunakan tangan satunya untuk menutup telinganya. Ketika jarinya menyentuh pelatuk, para siswa disini terdiam dan para gadis seperti menahan napasnya ketika melihat itu.

  Beberapa detik kemudian Hiratsuka-sensei membuka mulutnya.

  “Ambil posisi...Siap.”

  Seketika, pelatuk ditarik dan suara tembakan terdengar.

  Kemudian, kami semua mulai berlari.

  Pertama, aku akan memanasi kakiku ini dulu dengan berlari lambat. Tujuanku hanya mengejar Hayama saja.

  Tapi beberapa orang yang berlari di sebelahku langsung tancap gas seperti finish ada di depan mata.

  Alasannya karena di posisi start ini ada kamera dokumentasi. Entah untuk buku tahunan atau apa itu, tapi dengan alasan tertentu, marathon ini dipasangi kamera.

  Para kumpulan orang bodoh itu berlari dengan sekuat tenaga mereka hanya untuk mengesankan kalau mereka akan berlari seperti itu sepanjang marathon. Pada akhirnya mereka hanya mengatakan, “Aku awalnya di marathon ini di barisan pertama, loh!”. Para pria ini memang bodoh.

  Mereka yang mempertaruhkan seluruh stamina mereka di awal marathon akan dengan cepat kehilangan staminanya.

  Oleh karena itulah, pertempuran sebenarnya akan dimulai di jalan pinggir pantai, keluar dari taman ini.

  Secara perlahan aku meninggalkan grup orang bodoh tersebut dan mulai mendekati Hayama.

  Akupun berusaha mengimbangi kecepatan langkah dari orang-orang yang ada di posisi atas marathon ini. Mereka seperti bergerombol di depan, dimana rombongan ini memiliki karakteristik yang sudah bisa kuduga. Semua orang di rombongan itu menatap ke depan, tidak ada yang berbicara, tidak ada yang memasang ekspresi. Orang-orang semacam ini merupakan jaminan tempat teratas di perlombaan, oleh karena itu mereka tidak terpancing untuk tancap gas seperti orang-orang tadi di awal marathon. Terutama, bagi Hayama yang berada di depan grup tersebut, yang mengincar tempat teratas.

  Tapi, diantara orang-orang tersebut, ada sebuah pengecualian. Siapa kira-kira orang itu?

  Itu adalah diriku! Hei, bukankah pertanyaan tadi terlalu mudah?

  Biasanya, aku ada di rombongan ‘orang-orang yang terkucilkan’. Kali ini, aku bergabung dengan rombongan siswa-siswa top di barisan depan. Tapi jelas, aku tidak ada keinginan untuk menjadi juara di marathon ini. Aku bahkan tidak membuat satupun rencana bagaimana memenangkan marathon ini.

  Karena itulah, aku bisa melakukan sesuatu yang sangat berlawanan dengan mereka.

  “Hayama.”

  Sambil berlari, aku memanggilnya. Siswa-siswa yang lain di rombongan ini tampak terkejut. Bahkan Hayama sendiri terkejut melihatku.

  “Jadi, apa yang akan kau lakukan?”

  Aku berlari di samping Hayama dan menanyakan itu. Hayama tidak mengurangi kecepatannya dan tatapannya kembali ke arah depan.

  “...Bisa ditunda dulu untuk dibahas sesudah marathon?”

  “Tidak, harus kita selesaikan sekarang. Kalau dibiarkan terus, orang-orang yang terlibat akan semakin menderita. Tidak ada waktu lagi.”

  Mungkin karena kukatakan sambil berlari, nada suaraku terdengar tajam.

  Bukannya aku menderita karena gosip itu atau semacamnya. Tapi, orang-orang yang menggosipkan itu di sekitarku membuatku kurang nyaman. Atau mungkin, kukatakan saja aku membencinya.

  Hayama melihatku dengan tatapan yang mengganggu, mungkin dia melihat sebuah hal yang penting dari kata-kataku.

  “...Mungkin aku bisa melakukan sesuatu di marathon ini.”

  “Begitu ya. Kalau begitu tidak masalah. Maksudku, kau kan Hayama.”

  Sambil mengatakan itu, aku menggerakkan daguku untuk memberinya tanda kalau aku menyetujuinya dan meningkatkan laju lariku. Tapi, Hayama menolak untuk mempercepat langkahnya.

  “Kupikir tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi saat ini.”

  Hayama memberitahuku dengan suara yang pelan. Mungkin karena dia tidak ingin percakapan ini didengar orang-orang yang berlari di sekitarnya.

  Bagi orang luar, melihat para pelari ‘top’ di marathon ini sedang mengobrol pasti menimbulkan tanda tanya. Pelari lain mulai melirik ke arahku dan Hayama.

  Tapi, situasi seperti inilah yang kuperlukan.

  Eksistensi Hayama Hayato selalu menarik bagi orang-orang di sekitarnya, meski, tindakannya juga sebatas terhadap orang-orang di sekitarnya juga. Oleh karena itu, dia tidak bisa bertindak sesuka-hatinya.

  Dengan seluruh tatapan mata yang menuju ke arahnya, pasti opini tiap orang akan berbeda-beda soal dirinya. Kalau kita ambil rata-rata opini publik soal dirinya, akan muncul gambar “Hayama yang setiap orang suka dan harapkan”.

  Jika aku tidak menghancurkan image palsu ini, image idola yang dipunyainya, aku tidak akan bisa menembus inti dari Hayama itu sendiri.

  Akupun berusaha mengatur napasku yang sudah tidak karuan karena laju lari yang cepat. Meski dadaku terasa kesakitan, aku berusaha menekan rasa sakit itu dan membuka mulutku dengan senyuman.

  “Bukankah kau pernah mengatakan itu terakhir kali?...Kapan kau akan berhenti lari dari kenyataan?”

  Setelah mengatakan kata-kataku, Hayama menoleh ke arahku.

  Ekspresinya tidak setenang sebelumnya. Matanya terbuka lebar, dan dia terlihat seperti menggigit sesuatu tanda frustasi. Dia seperti kehabisan napas.

  Hei Hayama, ekspresi ini terlihat bagus padamu. Ah, benar, ekspresi seperti ini yang ingin kulihat.

  Akupun meresponnya dengan menyeringai. Lalu, Hayama terlihat terkejut sebelum tertawa dengan pelan.

  “...Provokasimu sangat murahan.”

  Sambil mengatakan itu, dia mempercepat larinya. Tidak lama kemudian, dia mengejarku dan menyalipku. Seketika, jarak antara kami dan para pelari ‘top’ semakin menjauh. Yang lain hanya bisa melihatnya saja dan tidak ada yang berusaha mengejarnya.

  Ini bagus sekali. Sangat bagus karena ini menciptakan situasi dimana hanya ada aku dan dirinya yang berlari, tanpa adanya orang lain.

  Akupun menatap ke depan, melihat Hayama yang sedang berlari di depanku.

  Panggung sudah siap.

  Setelah ini, negosiasi antara dirinya dan diriku akan dimulai.









x  x  x








  Angin yang bertiup dari laut menerpa wajahku. Ketika tubuh yang panas diterpa angin dingin, untuk sejenak aku merasakan ada bagian tubuhku yang menggigil.

  Setiap kali sol sepatu ini menyentuh aspal, tubuhku serasa menerima getaran.

  Aku tidak bisa menghilangkan suara dari angin dan tubuhku ini. Keduanya bercampur dengan uap panas yang keluar dari mulutku.

  Akupun bernapas dengan sekuatku dan tercium bau garam.

  Pepohonan yang ditanam di sepanjang garis pantai ini tampaknya sengaja dibuat untuk menjadi penahan angin. Tempat start marathon ini, ditanami banyak sekali pohon pinus, tapi setelah keluar dari area taman, pepohonan yang ada di pinggir pantai ini seperti tulang belulang kering tanpa adanya dedaunan.

  Aku terus memaksa kakiku untuk berlari meski diriku sendiri sudah tidak bisa merasakan keberadaan kakiku sendiri. Seperti detak jantung yang secara spontan terus memompa darah. Detak jantung dan langkah kakiku seperti berlomba, dimana tidak ada satupun yang berusaha memimpin.

  Bermacam-macam pikiran terus datang dan pergi ketika aku berlari.

  Aku sangat bersyukur pergi ke sekolah dengan bersepeda. Kalau tidak, aku tidak akan bisa berlari sebaik ini meski tidak bergabung dengan klub olahraga. Bukannya aku ini buruk dengan marathon. Bahkan, permainan apapun selain yang memakai bola merupakan spesialisasiku. Itu karena aku bisa mengakhiri permainan tersebut sesuka hatiku. Aku tidak perlu mengganggu orang lain, itulah intinya. Pada akhirnya, yang kulakukan hanyalah membuat pikiranku sibuk sambil berusaha menggerakkan kakiku.

  Tapi, marathon hari ini berbeda.

  Marathon ini lebih menyiksa dari biasanya.

  Karena langkahku kali ini jauh lebih cepat daripada ketika pelajaran olahraga. Juga karena dingin yang luar biasa dari terpaan angin dingin. Juga karena aku berpikir terlalu banyak semalam sehingga aku tidak punya cukup waktu tidur.

  Banyak sekali alasannya.

  Tapi, alasan terbesarnya karena di depanku kali ini, ada Hayama Hayato.

  Sebagai orang yang sudah terbiasa dengan aktivitas klub olahraga, Hayama tidak tampak kelelahan dan bisa berlari dengan stabil. Tubuh bagian atasnya tampak santai dan tubuh bagian bawahnya stabil, seperti hendak mengatakan kondisinya sedang prima. Aku bisa melihat mengapa dia menjuarai marathon ini tahun lalu.

  Di lain pihak, aku hanya bisa melihat ke depan dan berusaha mengejar Hayama.

  Jarak antara posisiku dengan titik balik di Jembatan Mihama masih jauh, tapi tubuhku ini sudah hendak mencapai batasnya. Dari tadi, tubuhku berteriak karena terus menerima rasa sakit, kakiku mulai kesakitan, dan juga suara-suara yang berteriak di telingaku. Sejujurnya, aku ingin pulang saja. Jika aku baru saja makan, aku pasti akan muntah saat ini.

  Entah mengapa, aku bisa memaksakan hingga sejauh ini. Karena aku tahu kalau sebentar lagi tubuhku akan mencapai batasnya, aku tidak bisa menyembunyikan semua kartuku lagi. Sudah ada jarak yang cukup jauh antara kita dan kelompok ‘pelari top’. Ini adalah momen yang sempurna untuk berbicara.

  Setelah berlari sekuatnya, aku bisa mengejar Hayama dan berada di sampingnya, lalu akupun memanggilnya.

  “Hei, kau, kau katanya mau melakukan sesuatu. Memangnya apa itu?”

  “..Aku akan cari kesempatan untuk menjelaskannya. Tapi, tidak ada metode yang bisa menyelesaikan masalah ini dengan cepat. Oleh karenanya, aku akan berusaha mengontrol gosipnya secara perlahan.”

  Hayama seperti kehabisan napas ketika mengatakannya. Akupun membalasnya setelah menemukan momen diantara tarikan napasku.

  “Begitu ya. Tapi, bukankah itu memakan waktu yang lama?”

  “Memang.”

  Sambil mengatakan itu, Hayama menganggukkan kepalanya. Seperti dugaanku, Hayama ini sudah terbiasa dengan gosip semacam ini. Tapi, apa yang dia sarankan tadi hanyalah solusi sementara. Bukanlah solusi yang mengarah ke inti dari permasalahan itu.

  “...Karena itu, aku punya sebuah penawaran untukmu.”

  Hayama lalu memiringkan kepalanya sambil melirik ke arahku dengan tatapan mata penuh tanda tanya.

  “Caramu mengatakannya membuatku merasa kalau idemu itu bukanlah sesuatu yang enak untuk didengar.”

  Nadanya yang merasa kurang senang, dicampur dengan ekspresi serius membuatku tertawa.

  Hayama-kun, itu benar sekali! Delapan puluh ribu poin untukmu!

  Dengan tenggorokan yang sudah kering, aku mulai terbatuk ketika tertawa. Setelah batukku terhenti, aku lalu melanjutkan kata-kataku.

  “Kenapa kau tidak berpacaran saja dengan Miura?”

  Setelah mengatakannya, ekspresi Hayama berubah. Suasana santai yang sebelumnya terpancar, kini berubah dastris. Kedua matanya seperti dirasuki amarah ketika menatapku.

  “Kupikir Miura sangat cocok denganmu.”

  Aku katakan saja sejujurnya, aku tahu kalau Miura bukanlah gadis yang jahat. Sebagai seseorang yang pernah melihat sisi tulus dari Miura, membuatku merasa tidak enak mengatakan hal-hal semacam ini. Aku memang merekomendasikan Miura-san. Harusnya, orang yang mendengarkanku itu merasakan hal yang sama.

  “Kurasa, candaanmu barusan itu agak berlebihan.”

  Hayama bahkan tidak melihat ke arahku ketika mengatakan kata-kata itu. Sangat jauh dari sikapnya yang tenang, dia seperti menekanku dan sikapnya ini serasa ingin membuatku kabur saja.

  Tapi, aku berusaha melawan balik tekanannya dengan keinginanku yang sangat kuat.

  “Aku hanya berusaha mengatakan kalau itu adalah solusi paling sederhana untuk masalah ini, itu saja. Aku tidak keberatan jika kau punya ide yang lain. Kalau kau mau, mungkin berpacaran dengan Isshiki daripada Miura?”

  Goblok bener, apa sih yang barusan kukatakan? Aku bahkan membenci diriku sendiri karena itu. Aku sering mengobrol dengan Isshiki. Aku tahu kalau dia bisa menunjukkan sisi lugu dari dirinya, dan di saat yang berbeda dia juga bisa menunjukkan sikap yang dewasa. Kira-kira dia akan marah tidak jika dia mendengar yang kukatakan barusan, ataukah dia akan memintaku untuk terus ‘mempromosikan dirinya’ di depan Hayama? Kurasa, itu bukanlah masalahnya. Meski Isshiki sering terlihat memanfaatkan orang lain, dia sendiri adalah gadis dengan keinginan yang kuat. Kupikir dia tidak akan memperbolehkanku mengatakan hal semacam tadi.

  Pikiran-pikiran tersebut dihancurkan oleh sebuah suara yang tajam.

  “...Kau gak usah banyak omong.”

  Setidaknya, sebuah emosi yang terbakar terlihat dari kata-kata tersebut.

  “Kenapa aku harus diam hanya karena kamu yang mengatakan itu?...Aku ini tidaklah sebaik yang kau kira.”

  Entah kapan dan dimana. Kata-kata dari siapa yang barusan kupinjam? Kata-kata ini diucapkan kepadaku dengan senyum yang dibuat-buat. Lalu, Hayama melihatku dengan tatapan yang kesal, dan tiba-tiba dia tertawa.

  “Kau becanda ya? Aku tidak pernah sedikitpun melihatmu sebagai pria yang baik.”

  Ketika dia mengatakan itu, tiba-tiba laju lariku melambat. Tapi, kalau terus begini, jarakku akan menjauh darinya. Karena itu, akupun mempercepat lagi langkahku.

  “Dasar pria brengsek...”

  Kata-kata tersebut keluar begitu saja dariku dan Hayama tersenyum sinis kepadaku.

  “Aku tidak ingin mendengar itu darimu.”

  Kau benar sekali. Akupun hampir tersenyum karenanya. Tapi usahaku ini membuahkan hasil karena aku bisa membuatnya bereaksi dengan tidak wajar, tidak seperti dirinya yang biasanya. Kalau begitu, maka inilah momen yang tepat.

  Akupun mengatur napasku sehingga kata-kataku tidak akan terputus.

  “Jujur saja ya, aku tidak tahu apa ada cara yang lain selain yang tadi kukatakan...Karena itulah, aku ingin tahu bagaimana menurutmu.”

  Ketika mengatakan itu, aku berusaha mempercepat langkahku. Kakiku terasa sangat berat, tapi dengan keinginan yang kuat, akupun bisa menyalip Hayama. Setelah itu, akupun menoleh ke belakang dan melihat ke arahnya.

  Karenanya, aku bisa melihat ekspresi langka dari Hayama. Dia seperti terkejut. Tapi, dia secara cepat kembali ke dirinya sendiri dan mengejarku.

  “...Itu sangat diluar dugaan, kau mengatakan sesuatu seperti itu.”

  Bahkan tarikan napas Hayama terlihat mulai sengaja dipercepat, mungkin dia sendiri bingung dengan kata-kataku. Aku bisa melihat suara tawa dari mulut Hayama. Dia mungkin pura-pura bodoh. Karenanya, laju Hayama terlihat melambat. Akupun berusaha mengikuti langkahnya. Setelah menyadari aku juga mengikuti langkahnya, dia menatapku dan mulai berbicara.

  “Maaf ya, aku ini dari awal tidak punya keinginan sama sekali untuk bekerjasama denganmu. Bukankah sudah kukatakan kalau masalah ini hanya melibatkanku saja? Jadi kau tidak perlu ikut campur soal ini.”

  “Anggap saja aku ini juga merasa terganggu dengan gosip itu.”

  Ketika aku mengatakan itu, tatapan mata Hayama menajam, tatapannya itu seperti memaksaku untuk memberikan penjelasan lebih lanjut.

  “Aku sangat terganggu dengan orang-orang yang menyebarkan gosip tidak bertanggung jawab. Aku jengkel kepada mereka yang mengatakan apapun seenak mereka.”

  Akupun mengatakan kata-kata yang selalu tertahan di tenggorokanku semenjak gosip itu beredar. Alasan semacam ini adalah alasan dimana aku tidak bisa mengatakannya begitu saja, tidak peduli seberapa banyak yang sudah kutahan selama ini.

  Tapi, tatapan Hayama tidak menunjukkan tanda-tanda melemah. Melihatnya seperti itu, aku sendiri tidak bisa mengatakan apapun lagi. Tapi, jika aku terus diam, dan berusaha mencairkan suasananya, maka akan berakhir seperti di taman dekat Saize. Aku tidak akan bisa mendapatkan jawabannya.

  “...Lagipula, mustahil gosip ini bukanlah urusanku.”

  Mengesampingkan fakta kalau tenggorokanku ini sangat kering karena haus, aku akhirnya bisa mengeluarkan kata-kata terakhir yang terus menghantui dadaku ini.

  “Begitu ya?...”

  Hayama melihat ke arah lain, dan melihat ke depan. Aku bisa melihat kalau dirinya seperti tersiksa oleh sesuatu. Dengan ekspresi seperti itu, dia berbicara.

  “...Tapi, aku tidak bisa sepakat dengan permintaanmu yang pertama tadi...Lagipula, hubungan yang terjadi diantara kita bukanlah hubungan dimana kita bisa bekerjasama, benar tidak?”

  “Benar sekali. Kita ini bukanlah teman ataupun partner.”

  Tidak ada yang salah dalam kata-kata Hayama. Kami ini berbeda satu sama lain, sehingga berusaha memberikan definisi terhadap hubungan kita adalah absurd. Ideologi kita, emosi kita, situasi kita, dan semuanya hal dari kita adalah berbeda.

  Tapi, ada kesamaan yang muncul diantara kami berdua.

  “Tapi, kita bisa sepakat dengan keuntungan dan kerugiannya. Kalau begitu, masalah yang kita hadapi ini bisa kita bagi rata berdua.”

  Mendengarku mengatakan itu, Hayama hanya terdiam dan tidak menjawab apapun. Dia hanya berlari dan terdiam. Tapi, aku tahu kesunyian ini adalah tanda darinya agar aku terus melanjutkan kata-kataku.

  “...Oleh karena itu, well, kupikir aku bisa mempertimbangkanmu sebagai rekan seperjuangan.”

  Ketika aku mengatakan kata-kata itu, entah mengapa, aku merasakan sebuah tekanan yang luar biasa. Aku bisa merasakan kalau keringat mulai muncul dari tubuhku. Entah apa Hayama juga merasakan hal yang sama. Hayama menyadari kalau wajahnya juga berkeringat dan dia menyeka rambutnya, kemudian dia melihat ke arah laut.

  Lalu, dia berbicara dengan pelan.

  “Seperti dugaanku, kita ternyata masih belum bisa punya hubungan yang baik, huh?”

  “Huh?”

  Aku tidak mengerti apa maksudnya dan ketika aku hendak bertanya lagi, terdengar suara langkah-langkah kaki yang mendekat.

  Tampaknya, selama percakapan tadi, kita menurunkan kecepatan lari kita, sehingga rombongan pelari ‘top’ itu mengejar kita. Aku sendiri tidak keberatan mereka menyalipku, tapi bagaimana dengan Hayama? Akupun melihat ke arahnya untuk menunggu reaksinya, dia sepertinya tidak keberatan disalip. Dia lalu melihat ke arah kakinya dan melanjutkan kata-katanya.

  “Rekan seperjuangan?”

  “Jangan membuatku mengulangi itu. Aku malu mengatakannya.”

  Aku merasa bulu kudukku berdiri ketika mendengar kata-kataku diulangi oleh orang lain. Aku berusaha membuatnya berhenti, dan kemudian, Hayama memotong kata-kataku dengan tenang.

  “Aku tidak menyukaimu sama sekali.”

  “Be-Benar...”

  Dia mengatakannya tanpa menoleh sedikitpun ke arahku, kata-katanya itu seperti membuatku kehilangan suaraku. Meski aku tahu kalau aku ini bukan orang yang dengan mudahnya disukai orang, tapi diberitahu secara langsung seperti ini, dan yang terpenting, ini adalah kejadian pertama. Hayama tampak tidak peduli dengan reaksiku dan terus melihat ke depan, melihat jarak kita dengan rombongan pelari ‘top’, lalu melanjutkan kata-katanya.

  “Aku tidak tahan ketika aku kalah denganmu. Oleh karena itu aku ingin kau terlihat setara denganku. Oleh karena itulah aku ingin menganggapmu tinggi, dan mungkin dengan begitu, aku bisa menerima dengan lapang dada hal dimana aku kalah denganmu.”

  “...Begitu ya.”

  Aku yakin kalau akupun begitu. Akupun menganggap Hayama makhluk spesial untuk meyakinkan diriku, untuk membohongi diriku selama ini, kebohongan yang kukatakan ketika melihat Hayama Hayato, tanpa ragu, aku menganggap dirinya sebagai pria yang baik.

  Aku meresponnya dengan terdiam, dia sendiri menatapku seperti ada sesuatu. Dia lalu tersenyum dengan senyum yang lebih segar dan lebih provokatif daripada sebelumnya.

  “Oleh karena itu, aku tidak akan melakukan permintaanmu tadi. Aku akan melakukan sesuatu dengan caraku sendiri...Caramu melakukan sesuatu berbeda denganku, juga bagaimana dirimu melihat sesuatu.”

  “Begitu ya.”

  Akupun mengangguk dan Hayama juga melakukan hal yang serupa.

  Pada akhirnya, baik Hayama dan diriku bukanlah teman ataupun sahabat. Akupun mulai yakin kalau kami berdua tidak akan bisa bekerjasama. Meski begitu, meski cara kita berbeda, meski cara kita melihat sesuatu berbeda, pasti ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk memecahkan masalah ini.

  Hayama tampaknya sudah memutuskan sesuatu, dan dia mulai melakukan pemanasan untuk memastikan kondisi bahu dan tubuhnya.

  “Oleh karena itu, aku harus menang.”

  “Begitu ya. Yakin bisa menang? Mereka sudah di belakang kita.”

  Kakiku mulai terasa berat dan aku seperti tidak bisa memerintah mereka. Aku sudah merasa tidak bisa berlari lagi, tapi Hayama merasakan hal yang berbeda.

  “Tidak masalah.”

  Hayama mengatakan itu tanpa melihat ke belakang.

  “...Tidak, aku akan menang...Karena itulah diriku selama ini.”

  Dia menyatakannya seperti itu, kemenangan itu, dia ingin menjawab ekspektasi semua orang, dan dia bersikap seperti Hayama Hayato yang diharapkan semua orang, seolah-olah itulah Hayama yang sebenarnya.

  Aku cukup yakin kalau itulah cara hidupnya selama ini. Memiliki banyak harapan tentang dirinya, menaruh harapan-harapan itu di atas segalanya, dan menerima itu sebagai dirinya. Sebuah jalan hidup yang berbeda denganku. Mungkin karena itulah kita berdua punya pandangan ekstrem yang berbeda mengenai bagaimana cara untuk menyelesaikan masalah yang melibatkan orang-orang terdekat.

  Semuanya. Atau. Tidak sama sekali.

  Sampai saat ini, Hayama selalu menjadi nomor satu, sedang aku memilih untuk menjadi yang terakhir.

  Kalau begitu, kenapa dengan dia sebelumnya?

  Hayama mempercepat langkahnya dan mulai berada beberapa langkah di depanku, menoleh kepadaku dengan senyumnya yang biasa.

  “Kalau kau sendiri, apa yang akan kau lakukan?”

  Kau tidak perlu bertanya soal itu. Kau akan mengerti ketika kau melihatnya sendiri. Tapi, daripada memberinya jawaban, yang kukeluarkan hanyalah suara keluhanku.

  “...Sudah kau lari saja duluan.”

  Tanpa menunjukkan adanya penyesalan apapun, Hayama menaikkan bahunya.

  “...Tapi, orang pertama yang akan bergerak lebih dulu mungkin adalah dirimu.”

  Dengan senyum yang penuh rasa kesendirian itu, Hayama mulai berlari.

  Meninggalkanku di belakang, jauh dan jauh di belakang.

  Aku sudah tidak punya stamina lagi untuk mengejarnya. Yang bisa kulakukan hanyalah melihatnya berlari.

  Sebuah jawaban yang tidak bisa kuberikan. Sebuah kemungkinan yang tidak terbayangkan pernah kulihat di mimpiku. Dan Hayama Hayato mulai berlari menjauh.

  Sial, kamu ini keren apa bagaimana?

  Meski itu terdengar tidak seperti dariku, tapi aku tidak punya pilihan lain kecuali berlari.

  Menang atau kalah, ketika sudah sampai disini, itu bukan masalah lagi.

  Yang ingin kulakukan hanyalah berlari. Ketika pikiran-pikiran itu memenuhi kepalaku, kakiku mulai berlari kencang. Tiba-tiba kaki kananku bertabrakan dengan belakang kaki kiriku. Karena tidak mampu menahan, akupun terjatuh di jalan. Lalu aku berbaring saja di jalan itu, melihat ke arah langit.

  Seperti yang kuduga, aku tidak bisa seperti Hayama.


  Uap putih dari napasku itu mulai menghilang ditelan oleh birunya langit di atasku ini.

 





 




x Chapter III | END x


Tidak ada komentar:

Posting Komentar