Rabu, 02 Maret 2016

[ TRANSLATE ] Oregairu Volume E Chapter 1 : Aku tidak bisa terus mengandalkan Hikigaya Komachi


x x x








  Angin yang dingin menggoyang daun pepohonan.

  Tidak peduli seberapa besar usahaku untuk menatap langit malam ini, bintang-bintang tersebut tidak berkedip sedikitpun. Mereka tetap berada di tempatnya, dan bersinar seperti biasanya.

  Meski jika aku hanya berdiri dan melihat ke arah mereka, jarak diantara para bintang dan diriku tidak akan berkurang.

  Pagi akan menjelang dengan segera, dan cahaya bintang beserta bulan akan secara perlahan menghilang oleh cahaya matahari yang menyinari perumahan disini.

  Setelah Hayama Hayato meninggalkanku di taman, aku melihat sejenak ke arah langit malam.

  Siapa yang dia bilang sedang lari dari masalah?

  Jika seandainya kutanya kepadanya kepada siapa pertanyaannya waktu itu, kira-kira jawaban apa yang akan dia berikan?

  Aku sangat yakin kalau dia akan menjawab, “diriku sendiri”, dengan suara yang lembut dan senyum yang gelap.

  Tapi jika dia mengatakan itu, itupun bukanlah sebuah kebohongan, karena itu juga termasuk kebenarannya.

  Meski begitu, jika aku benar-benar mendengarnya, meski aku tahu kalau dia akan menjawab itu, aku sendiri tampaknya tidak akan benar-benar yakin. Itu memang bukan sebuah kebohongan.

  Tapi, itu juga bukan kebenaran yang menyeluruh.

  Makna-makna sebenarnya tersebunyi dibalik kata-kata, atau kebenaran itu sendiri hanya berterbangan di sekitar hati nurani seseorang. Meski sadar atau tidak sadar, kata-kata tersebut akan menusuk hati seseorang, seperti tanaman sulur yang menembus tembok gedung.

  Sejujurnya, ada sesuatu dibalik kata-kata Hayama Hayato tadi. Seperti sebuah pasak, atau mungkin hanya penyesalanku saja, yang membuatku tertahan di tempat ini.

  Aku hanya bisa duduk disini, tanpa tahu sudah berapa lama kuhabiskan waktuku untuk hal ini.

  Di depan mataku, aku bisa melihat bintang-bintang di langit malam, cahaya dari gedung-gedung yang jauh disana, cahaya lampu dari mobil-mobil yang berada di jalan raya, dan juga cahaya lampu penerangan jalan yang mulai terlihat redup.

  Selain itu, yang ada hanyalah kegelapan yang pekat.

  Angin dari cuaca bulan Januari ini mulai merayap lewat ujung kakiku, dan mulai mengambil alih hati dan pikiranku. Hanya ketika aku mengembuskan napas beratku saja aku baru benar-benar sadar kalau suhu udara ini benar-benar terasa beku.

  Tapi, tidak peduli seperti apa tubuhku ini, pikiranku masih saja tidak tenang. Jauh dari kata tenang, selalu ada hal yang muncul disini dan disitu, membuatku seperti melupakan kebekuan yang sudah membayangi pikiranku. Pertanyaan yang sama terus berputar-putar di kepalaku, tapi aku sendiri tidak punya jawabannya.

  Meskipun aku memikirkan banyak sekali hal yang tidak berguna, aku terus memberitahu diriku kalau jawabannya tidak akan pernah kutemukan. Lagipula, yang Hayama katakan tadi memang benar. Kata-katanya, “Kau berusaha menghindari masalahnya lagi,” terus datang ke pikiranku.

  Aku tidak tahu apa yang Hayama pikirkan hingga dia memberiku jawaban yang seperti itu. Suaranya yang menghilang karena tiupan angin musim dingin, mempercayakan diriku untuk melakukan sesuatu, tapi entah mengapa aku tidak bisa mendengarnya. Aku tidak mengerti satupun hal yang dia katakan padaku waktu itu. Dengan melakukan apa yang kita lakukan selama ini, baik Hayama dan diriku merasa seperti punya alasan.

  Sampai saat ini, kita memang bisa menghindari masalah sebenarnya.

  Tidak.

  Ini sangat memalukan dan menjijikkan.

  Karena aku sadar soal itu, karena aku percaya kalau aku bisa menangani apa yang terjadi, karena aku sendiri yang mengijinkan itu terjadi, karena aku percaya kalau suatu hari nanti tindakanku ini akan dimaafkan. Ini seperti menyiapkan alasan jika terjadi sesuatu. Aku sendiri paham kalau alasan semacam itu tidak akan pernah berhasil.

  Dia mengatakan seperti itu sebelumnya, kalau ini tidak bisa terus seperti ini.

  Kata-katanya terus menggema di bagian terdalam telingaku dan tidak mau pergi. Dulu, aku pernah mengalami itu secara pribadi, jadi aku paham rasanya mengalami itu.

  Sejak saat itu, aku juga sadar aku ini harusnya ada dimana.

  Pada waktu itu, aku bisa merasakan perasaan itu.

  Suatu hari nanti, pasti, kalau ini akan berakhir. Aku sadar betul soal itu.

  Aku paham sekali kalau aku tidak bisa mencegah atau melindungi itu sendirian. Pengalaman diriku yang kubangun lebih dari 17 tahun memberitahuku hal itu.

  Karena aku tidak tahu bagaimana caranya agar seseorang mencintaiku, orang-orang yang kutemui hingga saat ini, dan orang-orang yang akan kutemui di masa depan, sangat jelas kalau suatu hari nanti pasti akan ada perpisahan.

  Seperti bagaimana bunga-bunga hilang, bahkan tanpa adanya badai, mengucapkan selamat tinggal ke yang lain merupakan bagian dari hidup.

  Setidaknya, itulah hidup dari Hikigaya Hachiman.

  Tapi, aku tidak tahu bagaimana dengan hidup Hayama Hayato.

  Dia berbeda dariku. Dia berteman dengan siapapun, punya teman yang banyak, dan juga mungkin dicintai banyak orang. Bahkan jika Hayama sendiri tidak berpikir demikian, orang-orang di sekitar Hayama mungkin akan terus menunjukkan kebahagiaannya bisa berhubungan dengan Hayama.

  Karena itulah, Hayama sendiri selalu berusaha memenuhi ekspektasi mereka.

  Well, setidaknya, setahun terakhir aku berkesempatan untuk mengamatinya secara langsung, dia memang pria yang baik.

  Pada akhirnya, Hayama memilih untuk tidak menjadi beban siapapun, dan juga berteman akrab dengan siapapun.

  Sejak awal, waktu dia bertemu kami, waktu dia menemui kami untuk berkonsultasi, waktu itu ketika kami menghadapi insiden itu bersama, ketika dia menantangku dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, bahkan waktu itu aku bisa melihat perbedaan diantara kami berdua sangat jelas terlihat. Waktu itu juga, ketika dia mengandalkan orang lain karena dia sendiri seperti berusaha melawan apa yang dia yakini, dan ketika itu pula, dia tidak bisa mengubah perasaan seseorang, sampai saat ini, ketika dia berharap untuk mengubah cara hidup seseorang sesuai dengan cara hidupnya selama ini.

  Meski semua hal tentang kami adalah berbeda, dia dan diriku punya jawaban yang sama.

  Meski begitu.

  Hikigaya Hachiman dan Hayama Hayato pada dasarnya berbeda. Eksistensi mereka tidak cocok satu sama lain. Karena itulah, jawabannya dan jawabanku harusnya tidak sama. Kalau begitu, harusnya kata-kata yang kita perdebatkan dari dasar hati kita harusnya menunjuk ke hal yang berbeda. Ketika dia mengatakan itu untuk mengingatkanku, perbedaan antara diriku dan dirinya menjadi sejelas kristal. Meski aku tidak tahu bagaimana aku mengatakan itu dengan kata-kata, tubuhku akhirnya mulai bergerak.

  Aku berdiri dari bangku yang dingin ini dan membuka kunci sepedaku yang kuparkir di gerbang taman. Mungkin sikapku ini dibuat-buat.

    Pikiran-pikiran tersebut ternyata belum berhenti menggangguku, aku merasa seperti hal-hal tersebut punya tempat untuk menguncinya di suatu sudut hatiku.

  Oleh karena itu, aku memaksakan diriku untuk bergerak.

  Memerintahkan tubuhku untuk bergerak, bergeraklah.

  Bersama sepedaku, aku lalu berjalan mengikuti jalan raya. Kukayuh dengan kuat, dan meningkatkan lajuku. Secara perlahan, detak jantungku bertambah kencang.

  Udara yang dingin ini menerpa wajahku.

  Karat yang menyelimuti beberapa bagian sepeda mulai menimbulka n bunyi yang tidak nyaman. Meski gerigi, rantai, dan pedal sepeda hanya berputar-putar di tempat yang sama, selama mereka tetap berada di posisinya, bagian-bagian tersebut akan terus bersama sebagai sebuah sistem, mereka bisa merubah cara mengendarai sepeda ini.

  Yang harus kulakukan adalah menghadapi realita yang ada di depanku.

  Karena aku selalu menjebak diriku dalam delusi milikku sendiri, aku tidak bisa bergerak maju, kalau begitu, aku tidak akan bisa bergerak ke depan.

  Akupun terus bersepeda di jalur jalan raya, dan jika masuk jalur khusus sepeda di pinggiran sungai, akan melewati sebuah jembatan.

  Begitulah diriku yang biasa pulang ke rumah sehari-harinya.

  Di sepanjang jalan, banyak sekali perempatan yang kulewati, percabangan itu juga menjadi jalur alternatif untuk pulang ke rumah. Meski beberapa jalur tersebut berujung buntu, tapi dengan berbalik kembali, aku bisa dengan mudah kembali ke jalan utama dan mengambil jalan yang benar untuk pulang. Ini hanyalah bagaimana memilih cara paling efektif untuk ke rumah, itu saja.

  Pulang ke rumah setiap hari, tidak aku tidak perlu khawatir apa aku memilih jalan yang benar atau tidak. Tidak mungkin diriku bisa tersesat oleh beberapa jalan ini.

  Jika orang sudah tahu akhir dari perjalanan mereka seperti apa, tidak masalah apa jalan yang mereka pilih. Mereka akan mencapainya.

  Tapi, jika kau tidak tahu kemana dirimu akan pergi, tidak tahu apa yang kau inginkan, maka mustahil untuk bergerak maju.

 






x  x  x






  Tidak peduli selarut apa malam musim dingin itu, selama aku terus mengayuh sepeda kurang lebih 20 menit, tubuhku akan mulai menghangatkan dirinya sendiri. Tidak hanya karena mantel dan syal di tubuhku ini, itu juga karena keringat yang keluar, membuat bajuku lengket ke kulitku.

  Aku tidak memikirkan hal lain, dan akupun tidak mendengarkan hal yang lain. Yang kulakukan hanyalah terus mengayuh sepeda hingga rumah. Sambil mengatur napasku, aku lalu memarkir sepedaku di dekat pintu masuk rumah, dan kakiku mulai bergerak secara perlahan, kelelahan terasa mulai menyambut tubuhku ini.

  Akupun membuka pintu rumah dan masuk ke dalam. Karena dari tadi diterpa oleh angin dingin, udara hangat di rumah mulai menyambutku. Rasanya sangat gatal dan bercampur dengan baju yang lengket, membuatku merasa sangat terganggu. Aku melempar tasku ke pinggir dan membuka syalku. Lalu, melepas mantel dan menuju kamar mandi. Ketika kubuka kamar mandinya, aku seperti dikelilingi oleh udara hangat ketika masuk ke bagian depan kamar mandi, dan aroma dari shampoo mulai tercium.

  Udara di luar terasa sangat dingin dan kering, oleh karena itu udara hangat dan lembab ini merupakan sambutan yang baik, bahkan aku bisa merasakan kalau hatiku ini meleleh secara perlahan. Sekali lagi, akupun menarik napasku dalam-dalam dan melihat mencoba melihat bagian dalam kamar mandi.

  Hmm...

  Kaca yang berembun, pengering rambut yang siap dipakai, ikat rambut yang digantung, handuk di keranjang pakaian, dan terakhir aroma udara ruangan ini. Kalau melihat situasi ini, tampaknya seseorang baru saja selesai menggunakan kamar mandinya.

  Waktu seperti ini masih terlalu awal bagi kedua orangtuaku yang merupakan budak-budak perusahaan untuk pulang. Lagipula, suasana kamar mandi ini terasa sempit oleh barang-barang ini, juga ada pengering rambut yang kabelnya lupa dicabut karena baru terpakai. Menganalisis semua info tadi, kupikir orang yang baru saja menggunakan kamar mandi ini adalah Komachi.

  ...Kira-kira apa ada air dalam bak mandinya.

  Tiba-tiba aku merasa tidak nyaman.

  Ini karena adikku tersayang, Komachi, belakangan ini menerapkan aturan ketat denganku karena dirinya juga beranjak dewasa. Misalnya, dia menolak untuk menggunakan bak mandi yang baru saja kupakai. Kalau dipikir-pikir Komachi melakukan yang sebaliknya, aku merasa kalau [air hangat beraroma Komachi] yang dia pakai mungkin sudah dibuang. Ini memang masalah bagiku.

  ...Tidak, aku bukannya kesal karena air yang kupakai mandi bukanlah beraroma Komachi. Kalau dipikir-pikir, apa sih ‘air hangat beraroma Komachi’? Kedengarannya seperti minuman yang akan terjual dengan laris! Ini akan menjadi minuman yang revolusioner. Tapi, sebagai Onii-chan, aku tidak memperbolehkan itu~ Kuharapkan kalian, para perusahaan minuman mau bekerja sama dan memilih ‘rasa adik perempuan’ daripada rasa Komachi. Aku juga yakin kalau rasa yang itu juga akan sama larisnya!

  Ngomong-ngomong, sejujurnya aku tidak peduli apakah air hangat itu ada ‘rasa Komachi’ atau tidak. Aku hanya ingin menghangatkan tubuh dinginku ini di dalam bak mandi, itu saja. Kalau begitu, aku akan memeriksa bak mandinya.

  Akupun melepas kaus kakiku dan melepas pakaianku, melangkahkan kakiku ke lantai basah kamar mandi. Aku awalnya memiliki ekspektasi ketika aku merasakan hangatnya pintu kamar mandi ini. Setelah kubuka, aroma ringan dari aroma pemandian dan uap panas mulai terasa.

  Ah, seperti yang kuharapkan dari Komachi, adikku ini...Tampaknya dia menyisakan air hangat disini. Mata dari Onii-chanmu ini mulai basah, tapi itu jelas karena uap panas ini. Akupun melepas pakaianku yang tersisa dan masuk ke bak mandi. Menutup pintunya dan melakukan kegiatan pertamaku, menyirami diriku dengan air hangat.

  “Splash, spoosh,” suara yang terdengar ketika aku menyirami diriku beberapa kali dengan air hangat. Setelah membasuh tubuhku dengan air, akupun langsung masuk ke bak mandi.

  “Ahhhhh.” Akupun melepas desahan itu secara spontan.

  Akupun menenggelamkan kepalaku di bawah air, dan sekarang, seluruh tubuhku benar-benar tenggelam. Menggunakan hidungku, akupun melepaskan udara dari tubuhku, menciptakan gelembung-gelembung air. Dengan melakukan ini, mungkin hal-hal di dada yang membuatku depresi ini akan hilang seperti gelembung udara ini. Tapi, meski begitu...

  Hal yang membebaniku ini, yang sedang berada di dasar hatiku ini masih ada disana terus, tidak sedikitpun bergerak.







x  x  x





  Setelah mandi, akupun berpakaian, dan membawa tumpukan pakaianku sebelumnya, dan meninggalkan ruangan itu. Sambil membawa tumpukan pakaian di tangan satunya, akupun mengeringkan wajahku dengan handuk menuju ruang keluarga di lantai dua. Aku melihat Komachi disana, belajar di atas kotatsu.

  “Selamat datang kembali!”

  Dia berbaring, separuh badannya miring  ke samping sambil memainkan rambutnya dengan pensil.

  “Yup. Aku pulang.”

  Meski aku sudah membalasnya, Komachi tampaknya hanya diam saja disana, memikirkan soal-soal di tangan satunya. Tampaknya dia melanjutkan kembali belajarnya.

  Biasanya, aku akan menyuruhnya untuk belajar di kamarnya, tapi karena aku merasa segar setelah mandi air hangat, kuputuskan untuk membiarkannya kali ini.

  Tidak peduli apapun, dia jelas-jelas mendaptkan poin yang sangat banyak dengan menyiapkan air hangat di bak mandi tadi. Jika dia bertanya kepadaku, “apa kau mau mandi dulu? Ataukah makan malam dulu? Atau mungkin, Ko-Ma-Chi?”, jika dia melakukannya, harga saham Komachi pasti naik tidak karuan! Jika ada sesuatu seperti SSR kartu [Adik Komachi yang licik], aku akan langsung menaruh taruhan disana! Onii-chan bersedia mengeluarkan ribuan dollar untuk memperoleh kartu ini. Akan sangat indah jika kau bisa melempar uang ke mesin judi dan mendapatkan apapun yang kau suka! Tapi, entah itu [air hangat rasa Komachi] atau SSR, menggunakan adik kecilmu untuk memperoleh uang memang sangat menakutkan. Disini, aku ingin berterimakasih kepada ayah dan ibuku yang telah membuat eksistensi Komachi ada. Juga, apa aku sudah mengucapkan ketidaksukaanku terhadap grup-grup menjengkelkan di Chiba?

  Ngomong-ngomong, kurasa aku harus berterimakasih ke Komachi karena menyiapkan air hangat untukku.

  Akupun menaruh tumpukan pakaianku yang ada di tangan di suatu tempat dan mulai bergabung ke kotatsu. Disana, aku bisa merasa kalau kucing kami, Kamakura naik ke lututku. Tampaknya dia memanfaatkanku sebagai sumber panas baru karena aku baru saja keluar dari kamar mandi.

  “Komachi, terima kasih soal kamar mandi.”

  “Un. Itu karena kau masih belum pulang ketika Komachi di rumah, dan juga hari ini sangat dingin.”

  Komachi membalasku tanpa sedikitpun menoleh ke arahku, dan melanjutkan pose setengah tertidurnya.

  “Begitu ya?”

  “Yup.”

  Setelah percakapan singkat itu, aku mulai mendengar lagi suara pensilnya. Lalu aku mulai bermain dengan Kamakura.

  Sebuah percakapan sehari-hari yang sangat normal. Tidak ada makna apapun di dalamnya. Mungkin ini sebenarnya tidak bisa dikategorikan dalam sebuah percakapan normal.

  Bahkan jika kami berdua tidak memperhatikan satu sama lain, jika kami melihat hal yang berbeda, melakukan hal yang berbeda, kita tidak akan saling membenci satu sama lain.

  Bagi seseorang sepertiku yang tidak tahu bagaimana caranya agar bisa punya hubungan dengan orang lain, Komachi mungkin satu-satunya pengecualian untuk itu.

  Tapi, bukannya mengatakan kalau kita ini tidak pernah bertengkar, kita sering bertengkar karena hal-hal kecil, seperti memutuskan siapa yang akan memakai kamar mandinya pertama kali. Meski begitu, kami masih berhubungan layaknya saudara.

  Ini bukanlah sesuatu seperti cinta dan rasa saling percaya. Ini adalah sesuatu yang sangat sederhana, mungkin sesuatu yang memang terikat sejak dulu kepada dua orang. Ini semacam sesuatu yang sudah terbiasa dilakukan oleh dua orang dan menjadi semacam kebiasaan.

  Seperti bagaimana diriku menerima gaya hidupnya yang bebas, Komachi juga menerima diriku yang tidak berguna ini. Aku pikir kalau diriku ini tidak akan bisa membuat hubungan yang seperti itu dengan siapapun.

  Pertama, orang tidak berguna sepertiku ini tidak akan diterima oleh orang normal kebanyakan. Ah, maaf, Komachi, karena menjadi Onii-chan yang tidak berguna.

  Tapi, meski aku tidak diterima oleh orang lain, aku masih bisa menerima orang lain. Aku bisa menjamin ini karena hingga saat ini, aku belum pernah punya ekspektasi atau berusaha memahami orang lain. Dengan begitu, tidak peduli kalau kita ini berbeda, tidak peduli kalau kita ini tidak bisa memahami satu sama lain, tidak peduli kalau kita tidak bisa menerima satu sama lain, kita pasti bisa menjalankan hidup kita dengan damai. Tapi, masalahnya adalah dunia ini sendiri sudah membuatku stress.

  Akupun mengambil blazer seragamku dari tumpukan pakaian itu dan mencari HP-ku.

  “Haaah...”

  Ketika aku memikirkan tentang apa yang akan kulakukan selanjutnya, secara spontan aku mendesah.

  “Oh? Kau tampaknya sangat lelah sekali.”

  Telinga Komachi yang sensitif mendengar desahanku dan menoleh ke arahku. Seperti mengikutinya, Kamakura juga menoleh kepadaku.

  Begitulah caranya bertanya apa ada sesuatu denganku. Akupun menggeleng-gelengkan kepalaku dan mencolek telinga Kamakura untuk memberitahu kalau tidak ada apa-apa. Adik perempuanku ini memang sangat pintar dan manis. Tidak hanya itu, dia juga lembut dan sensitif terhadap sekelilingnya. Jika aku bercerita apapun, dia pasti akan mendengarkanku dengan serius, tidak peduli seperti apa ceritanya.

  Tapi, aku tidak bisa selamanya melibatkan Komachi. Aku tidak bisa berharap kalau Komachi akan selalu ada disampingku. Lagipula, kupikir masalah antara Hayama dan diriku bukanlah hal yang bisa kujelaskan ke orang lain. Meski kami berdua tidak mau memberikan nama atas masalah itu. Memutuskan kalau masalahnya akan kuselesaikan lalu mempercayakan masalah itu ke orang lain bukanlah sebuah hal yang bisa dibenarkan.

  Agar bisa menyelesaikan permasalah-permasalahan itu, ada satu hal yang harus kulakukan terlebih dahulu.

  Sebuah masalah yang belum pernah kusentuh, atau kupikirkan.

  Hayama Hayato, pusat dari semua masalah ini.

  Tidak masalah apa yang kukatakan dan bagaimana caraku mengatakannya. Aku akan memperoleh beberapa jawaban darinya, dan menghapus ‘tatapan tahu semuanya’ dari wajahnya. Aku tidak senang membiarkannya mengatakan itu.

  Rasa kurang senang itu menjalar ke jari-jari tanganku dan akupun membuka daftar kontak di HP-ku dan mulai mencari namanya. Di saat itulah, aku menyadari sesuatu.

  ...Aku, aku tidak punya nomornya sama sekali.









x Chapter I | END x

Tidak ada komentar:

Posting Komentar