Kamis, 03 Maret 2016

[ TRANSLATE ] Oregairu Volume E Chapter 2 : Pada akhirnya, Hikigaya Hachiman membulatkan tekadnya




x x x










  Agar tidak mengganggu Komachi yang tengah belajar, akupun berpindah dari kotatsu menuju kamarku. Melihat sebentar ke arah jam yang ada di samping tempat tidurku, ternyata ini masih bisa dibilang belum terlalu malam. Meski aku seperti menghabiskan seluruh hidupku di taman tadi, sebenarnya memang tidak memakan begitu banyak waktu. Mungkin, aku merasa itu lama sekali karena aku sendiri yang kelelahan, atau mungkin karena diriku yang merasa tidak berguna waktu itu.

  Meski aku merasa kalau ini bisa dibilang ‘kemalaman’ untuk menghubungi seseorang, kupikir tidak begitu buruk jika kuhubungi via SMS. Lagipula, si penerima SMS bisa membalasnya kapanpun dia mau. Alasan tidak membalas dengan segera bisa dengan mudah diselesaikan dengan kalimat, “aku ketiduran”, “aku tidak lihat HP-ku sama sekali”, “tidak mendengar HP-ku berbunyi” dan sejenisnya. Berbicara soal SMS, aplikasi terbaru mengenai SMS memang benar-benar menjengkelkan. Mereka memberikan info kepada si pengirim SMS kalau SMS yang mereka kirim sudah kubuka, lalu aku mulai digosipkan seperti, “Hikigaya pura-pura enggak baca SMS gue!”, “Dih  brengsek”, “Ini pasti sering terjadi jika berurusan dengannya”, “Benar, kan?” menyebar dengan cepat. Dari dulu, aku sudah keberatan dengan aplikasi ini. Mereka selalu menampilkan kalau SMS sudah dibaca beserta jam dibukanya, gara-gara itu pula aku selalu diinterograsi seperti “kau jelas-jelas membaca SMS-nya, kenapa tidak segera membalasku?!”

  Apa-apaan dengan komunitas ‘Kakak tertua’ ini? Sangat menakutkan, kalau boleh jujur. Apa mereka semua itu Hiratsuka-sensei? Serius ini, menakutkan sekali.

  Begitulah trend populer yang marak dalam dunia SMS belakangan ini. Tapi, aku tidak hendak memakai aplikasi yang populer itu untuk saat ini. Malahan, aku mulai menekan-nekan layarku ini untuk mengirim SMS secara tradisional.

  Meski begitu, mengirim SMS adalah hal yang mengganggu.

  Karena tidak ada kehangatan dari kotatsu, akupun menyelimuti tubuhku ini dengan selimut, dan mulai menggerakkan jari-jariku yang mulai mati rasa karena dingin. Mulai memasukkan kata demi kata, dan menekan tombol di layar. Ketika kutekan tombol ‘kirim’, ternyata menghabiskan waktu kurang lebih 10 menit sejak pertama kali menulisnya.

  SMS yang kukirim : Berikan aku nomor Hayama.

  SMS-nya hanya terdiri dari 4 kata, tapi kenapa memakan waktu selama itu?

  Alasannya sangat jelas.

  Entah itu SMS tradisional ataupun memakai aplikasi smartphone, kata-kata yang telah dikirim tidak bisa ditarik lagi. Jika aku mengatakan secara langsung, aku masih bisa mencari celah dengan menambahkan beberapa kata setelahnya. Tapi dalam kasus SMS, ada catatan-catatan tentang kata-kata apa saja yang telah kukirim, dan inilah yang membuatnya sangat menakutkan. Kau tidak bisa melihat ekspresi si penerima, jadi kau tidak tahu apakah kau harus mengirimkan SMS lagi untuk memperlancar penyampaian maksud atau tidak.

  Karena itulah, aku harus memastikan kalau kata-kata yang kukirim tidak ada makna yang aneh. Tapi, daripada sekedar memeriksa kata-katanya berulang-ulang, aku lebih sering melihat catatan SMS yang telah kukirim selama ini dan berkata, “Arg, harusnya aku tidak mengirim kata-kata seperti ini”.

  Melihat kata-kata yang dingin dan buruk dari SMS yang kukirim, akupun mendesah kesal. Lalu HP yang kupegang ini ternyata bergetar. Kalau dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan untukku mengirim SMS, balasan yang kuterima ini bisa dibilang hanya beberapa detik.

  Alasan mengapa aku menerima balasannya dengan cepat, sangat jelas sekali...

  SMS diterima : Kenapa?

  Hanya dibalas satu kata.

  Well, SMS pendek seperti itu memang hanya butuh beberapa detik untuk menulisnya.

  Tapi, kurasa ini kurang tepat jika hanya membalas dengan satu kata tanya.

  Ketika aku bingung harus menjelaskan apa selanjutnya, HP-ku bergetar lagi. Kupikir itu adalah SMS lain, tapi ketika kulihat layarnya, ternyata ada yang menelponku. Di layar tertulis [✰★ Yui ]

  Sambil berpikir kalau ini adalah hal yang aneh bagi seseorang langsung menelpon balik setelah mengirim SMS, akupun menekan tombol ‘terima’.

  “...Halo.”

  [“Ah, Hikki?”]

  Dari suaranya, aku bisa mendengar suaranya yang ceria bercampur dengan latar yang berisik. Tampaknya dia sedang berada di luar.

  Meski begitu, tidak peduli berapa kali aku mendengar suara Yuigahama di telepon, aku tetap tidak terbiasa dengan itu. Akupun menarik napas yang dalam untuk menstabilkan suaraku.

  “Ah...Maksudku, kenapa menelponku tiba-tiba?”

  Pakai saja SMS, sial. Aku jelas tidak masalah dengan SMS. Maksudku, jangan menakut-nakuti orang yang tidak terbiasa menerima panggilan telepon.

  Ketika aku memikirkan itu, aku bisa mendengar suara yang kurang senang darinya.

  [“Karena SMS itu kelamaan Hikki!”]

  “Ah, benar juga. Memang, whoops, salahku.”

  Kalau begitu maafkan aku. Akupun meminta maaf kepadanya.

  ...Tapi, tahulah.

  Kalau dipikir-pikir, hal itu, mengirim SMS ke gadis, kau harus berpikir keras sebelum menekan tombol ‘kirim’, benar tidak? Misalnya, memikirkan kata-kata yang tidak terkesan menjijikkan bagi mereka, juga memikirkan kalau membalas SMS dengan cepat akan membuatmu terlihat seperti orang yang menakutkan.  Mungkin mereka juga akan berpikir kalau kau sangat menakutkan jika kau mengirimi mereka SMS tentang apapun yang terjadi hari itu. Waktu SMP, aku pernah mengirim SMS basa-basi tentang jawaban ujian hari itu, meski aku sendiri sudah tahu. Memikirkan kejadian itu saja sudah membuatku ketakutan, rasanya aku ingin mati saja.

  Sebenarnya, aku ingin tahu lebih banyak tentang apa yang ada di pikiran seorang gadis...

  [“Ngomong-ngomong, kau mau nomor Hayato? Aku tidak yakin apakah boleh memberikannya kepadamu...”]

  “Well, sebenarnya dia punya nomorku. Dulu, dia pernah meminta nomorku. Waktu itu, aku lupa untuk meminta balik nomornya.”

  [“Begitu ya...?”]

  Jawaban Yuigahama tadi agak telat. Entah apa dia kagum atau terkejut mengetahui kalau aku meminta nomor Hayama.

  [“Tapi, kenapa harus saat ini?”]

  Ini memang terdengar seperti pertanyaan yang normal. Ah, apa-apaan sih dengan semua pertanyaan mengapa ini darinya? Apa kamu ini Vivian Hsu dari era Black Biscuit?

  “Kenapa katamu? Hmm, begini...Ada sesuatu yang hendak kubicarakan dengannya.”

  Bahkan diriku sendiri tahu kalau jawabanku barusan memang mencurigakan. Hikigaya Hachiman sedang berusaha agar bisa berbicara dengan Hayama Hayato. Jangan lupa juga kalau dia tidak ingin melakukan itu di sekolah, dan memilih untuk berbicara dengan Hayama lewat telepon. Sangat normal jika orang-orang akan berpikir apa yang hendak kubicarakan dengannya. Daripada memberitahunya alasan yang terdengar kurang logis, mungkin akan terdengar lebih baik bagiku jika kukatakan saja, “aku ingin tahu nomor Hayama sehingga aku bisa menjual nomornya ke para gadis yang menyukainya”.

  Yuigahama tampaknya memikirkan sesuatu karena dia hanya diam saja dari tadi. Jika merasa kurang puas dengan jawabanku, dia biasanya pura-pura batuk dan menunggu jawabanku. Tapi, Yuigahama berbicara, mengatakan sesuatu yang  mengejutkan karena tidak berkaitan dengan pembicaraan.

  [“Hmm...Ah, kalau begitu, bagaimana jika begini. Saat ini, Yukinon dan aku sedang makan malam. Bisa tidak kau kesini, Hikki?”]








x  x  x







  Akupun bersepeda disinari cahaya lampu jalanan kurang lebih selama 10 menit.

  Padahal aku baru mandi dengan air hangat beberapa saat lalu, sekarang tubuhku menggigil kedinginan lagi. Ketika aku pulang nanti, aku ingin berendam di ‘air beraroma Komachi’ lagi....Ketika pikiranku dihibur dengan hal-hal semacam itu, tidak lama kemudian aku sampai di gedung yang tampak familiar bagiku.

  Dari depan gedung, terlihat sebuah restoran masakan China dengan tulisan berwarna merah. Setelah naik ke lantai 2, aku bertemu dengan orang yang menyuruhku datang, dan dia bersama seseorang yang hanya berjarak beberapa gelas darinya.

  Yuigahama dan Yukinoshita.

  Setelah aku masuk ke restoran, mereka dengan cepat menyadari kehadiranku dan melambaikan tangannya dengan enerjik.

  “Oh, Hikki. Yahallo!”

  “Selamat malam.”

  “Yo.”

  Setelah membalas sapaan mereka, akupun berjalan ke arah mereka.

  Yuigahama dan Yukinoshita duduk di meja untuk empat orang....Tapi, kenapa mereka duduk bersebelahan? Apa kalian berdua sepasang kekasih? Tapi justru karena itulah, ini artinya tempat duduk yang bisa kuambil adalah di seberang mereka.

  Setelah duduk, akupun menekan bel untuk memanggil pelayan restoran ini. Aku bahkan tidak perlu membuka daftar menu ketika pelayan tersebut datang kepadaku.

  “Pesan satu ramen dan nasi goreng, termasuk paket minuman yang ada di makanan itu. Juga, aku tidak mau sup yang sepaket dengan nasi gorengnya.”

  Itu karena sup dari ramen dan sup biasa memiliki rasa yang hampir sama...Si pelayan tampaknya tahu apa maksudku, dan tanpa mempertanyakan pesananku, dia meninggalkan meja kami.

  Yuigahama yang duduk di seberangku, menatapku dengan terkejut.

  “Whoa...Kau ternyata sudah sering kesini.”

  “Well, bisa dikatakan begitu. Ketika kau selevel denganku, kau bisa menjadi penyendiri profesional di berbagai restoran keluarga. Tidak peduli keluarganya, kau tidak akan punya kesulitan dalam memesan makanan.”

  “Dan apa maksudmu dengan mengatakan ‘keluarga di restoran keluarga’?”

  Yukinoshita seperti menekan-nekan keningnya seperti mendapatkan sakit kepala. Eh? Bukan begitu, err, karena itu, umm, sebenarnya karena kau sendirian, jadi kau bisa memesan dengan cepat tanpa mengganggu keluarga yang  ada di restoran itu. Hachiman berpikir kalau nona Yukinoshita harusnya juga memanfaatkan momen ini untuk menunjukkan skillnya juga.

  Tapi, Yukinoshita tampaknya lebih banyak menghabiskan waktu bersama Yuigahama daripada sendirian, mungkin aku harusnya tidak mengkhawatirkan soal itu. Hari ini, mungkin dia memutuskan untuk berjalan-jalan di Chiba sebelum pulang ke rumah. Yuigahama juga mungkin memanfaatkan ini sebagai alasan untuk menginap di apartemen Yukinoshita.

  Sebenarnya tidak ada masalah soal itu. Kuharap keduanya akan bisa terus akrab. Yang membuatnya bermasalah adalah alasan mengapa aku disuruh kesini dan mengganggu ‘happytime’ mereka berdua.

  “...Kembali ke topiknya, ada apa menyuruhku kesini?”

  Ketika kukatakan itu, pesananku datang. Dibalik uap panas ramen, aku menatap ke arah Yuigahama, kulihat dirinya hanya menunduk dan menjawabku.

  “Ah, un, soal itu, kupikir akan lebih baik jika melakukannya sesuai urutan yang benar.”

  “Urutan yang benar?”

  Aku melihat ke arahnya sambil memakan ramenku, dan Yuigahama terlihat memasang senyum yang malu-malu sambil menepuk dadanya.

  “Yup! Jadi, kupikir aku akan menelpon Hayato dulu? Setelah itu, Hikki akan berbicara dengan Hayato lewat HP-ku. Lalu, kau bisa meminta nomornya sendiri dengan cara itu. Dengan begitu, tidak akan ada yang merasa dicurangi. Bukankah itu bagus?”

  Yuigahama tertawa dengan puas, tampaknya dia puas dengan sarannya tadi.

  Tapi, aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya sehingga dia menyarankan hal itu. Sederhananya, aku tidak paham.

  Argh, mengapa harus begini. Bukankah lebih baik jika kau beri saja nomornya kepadaku secara langsung...Ketika aku duduk disini, tampak kecewa dengan apa yang terjadi, aku melihat Yukinoshita juga menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tampaknya juga tidak setuju dengannya.

  “...Saat ini, kita tidak tahu bagaimana situasi Hayama-kun. Kita harusnya tidak menelponnya sesuka kita.”

  Eh? Itukah yang ada di pikiranmu? Bukankah kau harusnya bertanya tentang ‘urutan yang benar’ dari usulan Yuigahama? Well, meski aku memiliki pemikiran yang berbeda, tapi aku tidak bisa tidak sependapat dengan Yukinoshita.

  “...Memang ada benarnya. Pilihan terbaik saat ini memang menghindari kontak dengan Hayama.”

  Seperti itulah. Bagaimana jika Hayama sedang keluar dengan teman-temannya saat ini? Bagaimana jika dia menerima panggilan dari salah satu artis gosip itu, Yuigahama, ini sama saja menambah bumbu dalam gosipnya. Tapi jika yang tahu adalah Tobe, kurasa tidak masalah karena dia juga bersimpati dengan masalah ini. Tapi, akan ada orang seperti perjaka tanggung, Ooka, diantara teman-teman Hayama. Meski tampilan Ooka sendiri memberitahukan kalau dia bukanlah ancaman, dia mungkin akan membumbui gosip ini ketika mengobrol dengan orang lain, dengan harapan akan membuatnya terdengar lebih menarik, membuat gosipnya melebar dan menyebabkan kepanikan.

  Oleh karenanya, yang terbaik adalah berbicara dengan dia di sekolah. Tapi, sejujurnya jika kau ada kepentingan pribadi dengan seseorang lewat telepon, lalu menggunakan HP orang lain, si penerima mungkin akan curiga kalau kau punya motif tertentu.

  Dengan dua orang menolak idenya, Yuigahama terlihat kurang senang.

  “Begitu ya, mungkin memang ada benarnya...Kalau begitu, ayo kita kirim SMS dulu sebelum menelponnya.”

  “Erm, bukankah lebih enak kalau kau kirimi saja SMS kepada dia? Bisakah begitu saja tanpa perlu menelponnya?”

  Aku memintanya begitu karena kupikir menelponnya dengan HP orang lain kurasa diluar rencana. Yuigahama yang memiringkan kepalanya memberikanku jawaban yang membingungkan.

  “Unn...Well, beberapa orang tidak menyukai itu. Kurasa akan lebih baik jika berbicara langsung!”

  “Apa kamu sendiri tidak merasa aneh jika orang lain menerima SMS dimana isinya ada orang lain meminta nomor orang itu?”

  Yukinoshita tampaknya setuju dengan kata-kata Yuigahama. Dia terlihat menganggukkan kepalanya, sambil memindahkan rambut panjangnya yang ada di bahunya. Dia mengucapkan itu dengan nada yang kurang senang dan jijik. Dia mungkin pernah mengalami itu di masa lalu.

  Bagi siswa SMA, benda seperti HP ini tidak sekedar alat komunikasi. Meski data pribadi adalah hal yang bernilai tinggi, tapi bagaimana cara penggunanya berpikir untuk memanfaatkannya adalah hal yang terpenting. Bagi para siswa SMA, jika ini berarti menunjukkan seberapa banyak temannya, berarti juga menunjukkan seberapa populer dirinya, dan tentunya juga mendongkrak status sosial mereka.

  Misalnya, Hayama dan Yukinoshita, juga Yuigahama yang punya tampilan menarik ataupun status sosial tinggi di SMA. Jelas ada sebuah nilai ekstra jika punya nomor pribadi mereka.  Entah karena banyak yang menanyakan nomornya, atau nomornya tersebar di kalangan siswa, jelas akan ada hal-hal yang mereka rasa mengganggu dari hal itu.

  “...Begitu ya. Baiklah kalau begitu. Meski, itu terdengar sedikit merepotkan, ya sudah lakukan saja.”

  “Oke.”

  Ketika kukatakan itu, Yuigahama tampaknya sangat lega dan menganggukkan kepalanya, lalu mulai menekan-nekan layar HP-nya. Dia mungkin sedang mencari nomor kontak Hayama untuk mengirimanya SMS.

  Ketika melihatnya mencari-cari nomor kontaknya, tiba-tiba aku mengatakan sesuatu secara spontan.

  “Dia itu, memang merepotkan.”

  Aku mengatakannya begitu saja tanpa berpikir terlebih dahulu. Kemudian, mereka berdua terdiam. Bahkan Yuigahama yang jari-jarinya menekan-nekan layar dengan cepat-pun terdiam.

  “...”

  “...”

  Baik Yukinoshita dan Yuigahama menatap ke arahku. Dengan tatapan mataku, kutanya balik ke mereka, “memangnya ada apa?”, tatapanku bertemu dengan Yuigahama dan dia tertawa.

  “Un,...Hikki, kamu sendiri juga biasanya merepotkan.”

  “Tunggu dulu, apa kau baru saja mengatakan sesuatu yang kejam kepadaku?”

  Bahkan Yukinoshita sendiri terlihat sedang menggeleng-gelengkan kepalanya.

  “Hayama-kun mungkin tidak mau dipanggil seperti itu olehmu.”

  “Yup, faktanya, mungkin dia sendiri tidak mau dipanggil apapun olehmu.”

  Tapi, yang mereka berdua katakan masuk akal. Fakta bahwa baik Hayama dan diriku adalah sebuah eksistensi yang cukup mengganggu. Juga, masalah kami ini berada di titik yang sama.

  Bagaimana cara kami bersikap dengan orang lain.

  Dari titik ini saja, kami tidak bisa saling menatap satu sama lain.

  Tapi, aku merasa kalau bagaimana dirinya dan diriku menyikapi ini berbeda, dari level biasa hingga ekstrem. Bahkan kami juga menolak untuk mencoba memahami satu sama lain.

  Ketika aku memikirkan itu, HP Yuigahama berdering. Dia melihat ke arah layar HP-nya, dan seketika ekspresinya berubah suram.

  “Ah, maaf, mama sedang menelponku.”

  Sambil mengatakan itu, dia berdiri dengan cepat.

  “Halo. Ya, ini aku. Ya, aku sudah makan.”

  Setelah mengatakan itu, dia mulai berjalan meninggalkan meja menuju pintu keluar.

  Melihat teman-teman SMA-mu mendengar percakapanmu dengan ibumu memang cukup memalukan, kurasa begitu. Akupun merasakan itu. Mengingat kejadian serupa terjadi kepadaku di masa lalu, waktu itu aku seperti ingin meledakkan kepalaku saja. Waktu itu, ayahku berusaha menyanyikanku lag Jacknife, pura-pura menjadi Ozaki Yutakan versi Chiba, atau menyanyikan lagu tidur dari Jagged Heart agar membuatku tenang.

  Akupun mengembalikan pandanganku kembali ke meja ini. Di saat yang sama, tatapan Yukinoshita juga kembali ke arah meja dan kedua pasang mata kami bertemu.

  Ketika kami saling menatap satu sama lain, Yukinoshita terlihat malu-malu, dia pura-pura batuk dan memalingkan pandangannya dariku.

  Lalu, tidak lama kemudian dia menatapku kembali.

  “Apa yang hendak kau bicarakan dengan Hayama-kun?”

  Tatapan matanya tampak berbeda dari sebelumnya. Sepertinya, dia bertanya dengan serius.

  Sebelumnya, aku meminta mereka untuk menikmati waktu berdua sehingga aku bisa mengobrol dengan Hayama. Dirinya yang ingin tahu apa yang ingin kubicarakan memang cukup bisa dipahami.

  Tapi, pembicaraanku dengan Hayama tadi tidak menghasilkan sesuatu. Malahan, lebih emosional dari pertemuan kami sebelumnya. Tapi, dia tidak dapat keuntungan apapun dari berbohong. Oleh karena itu, aku menaikkan bahuku dan memberitahunya dengan jujur.

  “Well...Dia tidak mengatakan apapun soal bagaimana memecahkan masalah ini.”

  Begitulah, dia banyak sekali membicarakan hal-hal yang tidak berguna.

  Apa yang dia katakan kepadaku, jujur saja tidak membantuku. Bahkan, dia tidak memberitahuku apa metodenya untuk memecahkan masalah ini.

  Itu bahkan tidak bisa dibilang sebuah percakapan. Itu hanya terdengar seperti mengoceh kesana-kemari, seperti memberitahu sesuatu ke orang yang tidak dikenal.

  Bahkan jika kuberitahu kepadanya tentang isi percakapan kami tadi, dia mungkin tidak akan paham. Aku, dan mungkin Hayama juga, tidak bisa saling memahami.

  Oleh karena itu, aku hanya memberitahunya apa hasil pembicaraanku tadi. Meski begitu, mungkin ini sudah cukup baginya. Dia menaruh tangannya di dagu dan mulai berpikir.

  “Begitu ya...”

  Akupun menganggukkan kepalaku, dan Yukinoshita melanjutkan kata-katanya.

  “Mungkin memang harusnya aku sendiri yang berbicara dengannya...”

  Dia mengatakan itu dengan menundukkan kepalanya, suaranya sangat pelan. Tapi, aku tidak memperbolehkan telingaku untuk tidak mendengar itu. Oleh karenanya, mulutku terbuka, dan tanpa sadar, aku sendiri mengeluarkan sebuah nasehat kepadanya.

  “Bukankah ini berbeda dengan yang barusan kau katakan? Orang yang terseret di gosip ini tidak hanya Yuigahama, tapi kau juga. Mendekati Hayama tanpa perhitungan bukanlah tindakan yang bagus.”

  “...Begitu ya....Lebih tepatnya karena memang situasinya seperti itu, aku berpikir demikian.”

  Yukinoshita mengatakannya sambil menunduk, dan bahunya terlihat turun. Dari sikapnya, aku langsung tahu kalau dirinya baru sadar apa makna dibalik kata-kata tersebut.

  Dengan kata lain, dia ingin mengorbankan dirinya di gosip itu dan membiarkan gosipnya terfokus ke dirinya.

  Belakangan ini, ada beberapa gosip di sekitar Hayama. Misalnya, Yukinoshita sedang berpacaran dengannya, atau kalau tidak itu berarti Yuigahama yang berpacaran dengannya. Juga, ada gosip dengan beberapa gadis yang berhubungan dengan Hayama, bagaimana perang psikologis diantara mereka, dan sebentar lagi akan menjadi peperangan, dan lain-lain.

  Karena itulah banyak sekali versi gosip itu yang abu-abu. Yang membuatnya ironis adalah fakta kalau tidak ada versi yang jelas soal gosip itu, karena banyak sekali bagian-bagian dari gosip itu yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya, sepertinya sangat mustahil untuk tahu siapa yang sebenarnya menjadi korban terparah.

  Selain itu, jujur saja aku sendiri tidak masalah dengan gosip itu, aku tinggal menutup telingaku saja dengan gosip-gosip itu.

  Karena gosipnya tidak jelas, membuat orang lain menyiramkan bensin ke apinya, dan hasilnya bisa kita lihat saat ini.

  Hasilnya, ketiganya baik Hayama, Yukinoshita, dan Yuigahama tidak bisa mengambil tindakan. Jika salah satu dari mereka mengambil tindakan, akan menyebarkan gosip yang lain. Misalnya, ada yang bergerak untuk klarifikasi gosipnya. Jika kita berpikir bagaimana reaksi publik soal itu, maka itu adalah tebakan yang mudah.

  Rasa penasaran publik akan berubah menjadi serangan. Karena publik sangat putus asa ingin gosipnya setidaknya terlihat benar-benar berkaitan dengan korbannya. Karena mereka pikir kau sedang mencari-cari alasan untuk kabur dari tuduhan publik. Karena mereka pikir harusnya kalau kau merasa tidak ada yang disembunyikan, kau akan menghadapi gosip itu dengan santai. Begitulah seterusnya. Mereka akan menggunakan semua logika yang bisa dipakai untuk menantangmu ketika apinya membesar.

  Jika ada satu orang yang terlibat skandal itu terlihat hendak kabur, fokus publik akan berpindah. Mereka akan fokus ke satu orang, dan melepaskan tekanan ke yang lain.

  Mungkin itulah yang Yukinoshita hendak katakan.

  Tapi, aku tidak akan mengijikan dirinya menggunakan metode semacam itu. Setidaknya, aku tidak akan memperbolehkan seseorang yang sebelumnya menolak bagaimana caraku menyelesaikan masalah, meniru caraku itu dan mengorbankan dirinya.

  “Aku tidak akan pernah menyetujui tindakanmu.”

  Mendengarku mengatakan itu, Yukinoshita menegakkan kepalanya.

  “...Aku sudah menduga kalau kau akan mengatakan itu.”

  Lalu, dia tertawa kecil. Wajahnya tidak terlihat lagi ekspresi yang suram seperti sebelumnya, tapi sebuah senyuman yang penuh determinasi seperti sebelumnya.

  “Tidak apa-apa. Anggap saja itu sebagai usaha paling terakhir yang bisa kutempuh.”

  “Kalau begitu, kurasa tidak apa-apa.”

  “Hmm...Tapi, kalau situasi seperti ini berlanjut, aku sebenarnya tidak mempermasalahkan itu...”

  Ketika dia mengatakan itu, dia tampak khawatir dan menatap ke arah pintu. Tampaknya Yuigahama baru saja selesai berbicara dengan ibunya. Dia menyadari kalau Yukinoshita melihat ke arahnya, dan melambaikan tangannya ke arah kami.

  Beberapa hari lalu, Yukinoshita yang punya pengalaman serupa di masa lalu, mengingatkan Yuigahama kalau dia sedang dalam bahaya karena banyak yang menggosipinya dari belakang. Akupun juga menyaksikan sendiri ketika jam pelajaran olahraga.

  Karena itulah, Yukinoshita ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya. Mungkin itulah alasan dia mengatakan kata-kata barusan. Ekspresinya ketika dia menatap ke arah Yuigahama terlihat lembut dan penuh rasa peduli. Dipenuhi semacam perasaan cinta dan kasih sayang. Yuigahama juga kadang memasang ekspresi seperti itu juga. Meski keduanya terlihat berbeda, mereka memang punya sesuatu yang mirip. Hal ini membuatku tersenyum.

  Melihat wajahku yang tersenyum ketika melihat wajahnya, Yukinoshita menatapku dengan tajam.

  “...Ada apa denganku?”

  “Ti-Tidak ada. Kalau dipikir-pikir, soal itu, kupikir memang jalan terbaik adalah aku yang  berbicara langsung dengan Hayama.”

  Aku lalu mencoba mencari alasan dengan kata-kata tersebut, dan Yukinoshita menatapku dengan terkejut.

  “Begitukah?...Tapi, bisakah kau menggelar sebuah percakapan secara normal?”

  “Aku bisa berbicara dengan normal. Hei, jangan menatapku seperti itu. Aku ini juga pengguna bahasa lokal! Aku tidak punya masalah dengan cara pengucapan, stok kata-kata, dan juga tata bahasa. Masalahku hanya aku tidak punya rasa percaya diri untuk menyampaikan maksudku.”

  “Bukankah itu yang paling penting...”

  Dia membalasku dengan sarkasme, dan tertawa sambil memasang ekspresi kagum.

  Tapi, aku tidak mengatakan logika berbeda tersebut tanpa tujuan. Aku mengatakan itu, karena aku melihat adanya harapan ketika aku melihat ke arah Yukinoshita dan Yuigahama.

  Meski aku dan Hayama berbeda, tapi jika ada satu saja bagian dari kami yang sama, maka pasti ada sesuatu yang bisa kami sepakati.

  Kalau begitu, meski aku dan Hayama tidak bisa seperti mereka berdua, setidaknya, kami berdua bisa membicarakan sesuatu. Meski ada basa-basi yang menyelimuti pembicaraan kami, sebuah bentuk kebaikan dan hal-hal yang mengganggu adalah dua hal yang berbeda.

  Ketika aku memikirkan itu, Yuigahama kembali. Seperti biasanya, dia duduk di sebelah Yukinoshita.

  “Maaf maaf. Aku akan mengirim Hayato SMS sekarang.”

  “Ah, itu tidak perlu.”

  Mendengarku mengatakan itu, Yuigahama terlihat terkejut.

  “Huh, mengapa?”

  “Kalau dipikir-pikir, aku sendiri tidak terbiasa berbicara lewat telepon. Aku bahkan tidak bisa melihat ekspresi orang yang berbicara denganku...Oleh karena itu, kupikir aku akan berbicara dengannya secara langsung.”

  Aku mengambil uang 1000Yen dari dompetku dan menaruhnya di atas meja. Keduanya mungkin akan ke apartemen Yukinoshita setelah ini. Kurasa aku akan meninggalkan mereka disini saja.

  Ketika aku berdiri dari kursiku, kemudian aku mendengar suara tawa dari Yukinoshita.

  “Sikapmu tadi kurang meyakinkan untuk terlihat keren ketika kau merespon ekspresi orang lain.”

  “Tahu tidak? Mayoritas komunikasi itu tidak berasal dari kata-kata. Dengan kata lain, mata orang dan sikapnya itulah yang terpenting.”

  “Tidak heran kalau kau sangat buruk dalam berkomunikasi.”

  Mendengarkan jawabanku, Yukinoshita lalu meresponnya dengan kata-kata yang dingin, sambil meminum teh dari cangkirnya. Oi, aku tahu maksudmu itu. Kau sedang membuat mata ikan busukku ini sebagai bahan becandaan, benar tidak?

  Ketika aku menatap Yukinoshita dengan mata ikan matiku, Yuigahama menggumamkan sesuatu, tampaknya dia memikirkan sesuatu. Lalu, dia mengatakan sesuatu sambil menatapku.

  “...Apa, apa maksudmu, semacam extrasensory perception?”

  Bukan oi.

 


 





x  x  x









  Setelah meninggalkan restoran, aku mulai memikirkan banyak hal sambil mengayuh sepedaku ke rumah.

  Soal gosip. Soal Hayama. Soal mereka, tentang diriku.

  Aku masih belum paham soal itu semua.

  Aku tidak punya pengalaman untuk memperoleh jawaban-jawaban itu.

  Kalau begitu, bagaimana dengan Hayama.

  Entah mengapa, aku berhasil mengumpulkan beberapa informasi dari pengalamanku, meski jawabannya meragukan, tapi setidaknya aku bisa melihatnya. Hubungan diantara kita. Dari dulu memang sangat bermasalah untuk menyebut itu sekedar teman sekelas ataupun kenalan saja. Tapi, kata ‘teman’ memang tidak cocok untuk itu. Hubungan kami tidaklah bagus dan banyak hal dimana kami ini menolak untuk memberitahu satu sama lain.

  Tapi, mengatakan hal seperti itu menyadarkanku sesuatu.

  Oleh karena itu, aku ingin mengatakan itu. Mungkin kami ini, bisa dibilang rekan seperjuangan?

  Mungkinkah kata-kata itu cocok untuk menggambarkannya.

  Rekan punya satu hal yang sama, tapi sisanya berbeda.

  Kalau begitu, dirinya dan diriku, Hikigaya Hachiman dan Hayama Hayato, pasti ada hal yang sama untuk dibahas.

  Sebuah percakapan yang dulu berakhir tanpa hasil. Karena waktu itu aku sangat yakin kalau kita tidak akan pernah bisa saling memahami.

  Tapi, sebuah kesalahan dariku jika aku berusaha memahaminya. Karena tidak diperlukan adanya pemahaman ataupun keinginan untuk memahami.

  Tidak akan pernah ada sebuah kesepahaman antara diriku dan dirinya, yang ada hanyalah apa yang menguntungkan dan apa yang tidak menguntungkan.

  Yang dibutuhkan bukanlah percakapan, tapi sebuah perundingan. Kami berdua harusnya bernegosiasi untuk mencapai kata sepakat.

  Kalau begitu, aku harus memilih tempat yang tepat, memikirkan dimana aku akan mengatakannya, dan memikirkan apa yang kumau darinya.

  Di sebuah tempat dimana kami berdua tidak akan bisa lari, dalam situasi dimana kami berdua tidak akan teralihkan dengan hal lain. Aku yakin bisa menyentuh dasar permasalahan ini dengan kata-kata yang tepat.

  Agar itu terjadi, mungkin ini satu-satunya momen dimana aku dan dirinya bisa berbicara dengan benar.

 

 

 

 x Chapter II | END x


  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar