Senin, 21 September 2015

[ TRANSLATE ] Oregairu Vol 6.5 Chapter 3 : Seperti yang kuduga, Sagami Minami ternyata belum berubah



*   *   *









 Ketika Meguri-senpai tiba di ruangan klub pada esok harinya, aku ditinggal sendirian di ruangan klub dan hanya bisa melihat mereka bertiga pergi meninggalkanku di ruangan ini.

  Udara musim gugur yang menyegarkan berembus dari jendela yang terbuka. Ruangan klub sangat sunyi sekali, kecuali suara detik jam dan suara halaman buku yang sedang dibuka.

  Tinggal sendirian di ruangan klub ini memang terasa aneh bagiku.

  Kalau dipikir-pikir kembali, aku adalah orang terakhir yang tiba di ruangan klub ini setiap harinya.

  Biasanya, keduanya sudah berada disini sebelum aku tiba. Tapi sekarang, aku sendirian disini.

  Seperti yang disepakati kemarin dengan Meguri-senpai, Yukinoshita dan Yuigahama pergi dengannya untuk meminta Sagami menjadi Ketua Panitia Festival Olahraga.

  Karena ini aktivitas Klub Relawan, mungkin seharusnya aku ikut dengan mereka. Tetapi aku sedang punya hubungan yang buruk dengan Sagami, jadi jika aku hadir disana, Sagami mungkin akan bersikap enggan dan menjauh dari mereka. Setidaknya, itulah yang aku pikirkan.

  Dan sekarang, aku hanya diserahi tanggung jawab untuk menunggui ruangan Klub.

  Dengan sunyinya ruangan ini, aku bisa membaca dengan tenang meskipun suhu ruangan ini mulai lebih dingin dari biasanya.

  Ruangan ini mirip dengan Ruangan Jiwa dan Waktu di Dragon Ball. Ketika aku mulai memahami antara karakter dan cerita di buku ini, sebelum aku sadar sepenuhnya, aku ternyata sudah masuk ke halaman terakhir buku ini.

  Ketika selesai membacanya, aku menguap begitu saja sebagai rasa puas dan lelah karena membaca buku ini.

  Sepertinya aku sudah 30 menit sendirian disini.

  Mereka harusnya sudah mencapai sebuah kesepakatan ketika bernegosiasi dengan Sagami.

  Karena aku sangat ahli dalam membuang-buang waktu, aku sebenarnya tidak ada masalah dengan diam disini sendirian. Tetapi aku sangat cemas tentang hasil negosiasi mereka. Jika Sagami menolak menjadi Ketua, maka posisi itu sepertinya akan dipaksakan lagi ke kita.

  Bahkan jika aku tidak diberi tawaran menjadi Ketua Panitia, tampaknya posisi itu akan diambil oleh Yukinoshita atau Yuigahama. Orang yang merekomendasikan Sagami adalah Yukinoshita, dan dari pandangannya, Yukinoshita akan merasa bertanggung jawab jika gagal merekrutnya. Dengan begitu, Yukinoshita akan menjadi Ketua Panitia. Namun di lain pihak, Yuigahama akan berusaha untuk membuat dirinya terpilih menjadi Ketua Panitia untuk melindungi Yukino.

  Pada akhirnya, aku akan terseret ke dalam masalah ini.

  Kemungkinan terburuknya, Hiratsuka-sensei akan melemparku ke dalam sebuah kolam yang sudah kacau balau.

  Karena aku tidak bisa menolak pekerjaan yang sudah ditujukan kepadaku, maka aku harusnya terlibat dalam pekerjaan itu sejak awal. Tujuannya agar aku bisa mendapatkan posisi di kepanitiaan yang tidak memberatkanku dan akhirnya aku tidak akan terlalu repot menjalani tugas-tugas tersebut.

  Mungkin ini sudah jamannya di mana Raja Iblis harus bekerja seperti di Anime Hataraku Maou-sama. Karena aku sudah dipastikan terlibat dalam pekerjaan mereka kali ini, maka aku seharusnya memilih posisi dimana aku tidak akan menerima terlalu banyak pekerjaan. Dan kalau ada kesempatan dimana aku tidak bekerja, aku dengan senang hati mengambilnya.

  Sambil mempersiapkan diriku dengan kemungkinan terburuknya, aku ingin tahu bagaimana hasil negosiasi mereka dengan Sagami. Kupikir aku sebaiknya pergi kesana dan melihatnya sendiri. Ketika aku berdiri, aku mendengar suara-suara datang dari arah lorong.

  Pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan cukup keras.

  "Ah~ Aku sangat lelah."

  "...Lega rasanya."

  Baik Yukinoshita dan Yuigahama langsung berkomentar seperti itu ketika masuk ruangan.

  "Terima kasih atas kerja kerasnya."

  Mendengar suaraku, Yukinoshita dan Yuigahama mengembuskan napas pendeknya, lalu mengangguk secara bersamaan. Ah, mereka tampaknya lelah sekali. Aura kelelahan mereka tampaknya sudah menular ke diriku. Atau, bisa jadi ini membuatku merasa cemas dengan hasilnya.

  Kemudian, aura hangat muncul dari belakang mereka berdua.

  "Terima kasih kepada kalian berdua. Juga Hikigaya-kun."

  Orang yang mengatakan itu tersenyum hangat, Meguri-senpai. Dia tampaknya mengikuti mereka kesini setelah bernegosiasi dengan Sagami.

  Ah, aku merasa sangat segar melihatnya. Senyum dan kata-katanya itu...

  Gadis-gadis dengan aura hangat dan senyum manis itu biasanya sering ditembak oleh pria-pria tampan. Tepat ketika aku sedang berada dalam sebuah trauma psikologis masa lalu dan sedang dalam proses rehabilitasi, suara Yukinoshita seperti membuyarkan lamunanku dengan air dingin ke wajahku.

  "Shiromeguri-senpai, pria di depanmu itu tidak lelah sama sekali, jadi kamu tidak perlu bersikap peduli dengannya."

  Sial, dia mengatakan kebenarannya.

  "Yukinon, itu cuma basa-basi saja, jadi kupikir itu tidak masalah."

  Tepat sekali! Yuigahama-san! Aku tahu itu! Tapi kamu tidak perlu mengatakannya di depanku! Apa maksudmu dengan mengatakan tidak masalah dengan basa-basi?

  Tapi, lebih dari itu, aku memang mengkhawatirkan sesuatu.

  "Jadi? Bagaimana dengan Sagami?"

  Mendengarku mengatakannya, Yuigahama menurunkan posisi bahunya dengan ekspresi sedikit kecewa.

  "Sagami sangat sulit untuk diajak bicara...Dia seperti tidak berniat untuk bicara, dia mengatakan banyak hal di luar topik..."

  "Banyak hal..."

  Aku mencoba mengulang kata-kata yang kuanggap perlu dijelaskan lebih lanjut. Yuigahama menganggukkan kepalanya.

  "Ya, itu saja, bagaimana ya, aku merasa kita sudah berusaha membujuknya baik-baik."

  Yukinoshita tiba-tiba menambahkan setelahnya.

  "Kamu tampaknya sengaja memilih untuk bertanya ke Yuigahama dengan tujuan tertentu, ya?"

  Ada apa dengan Yuri-Yuri ini?

  Tampaknya Yukinoshita tidak tahu maksudku yang sebenarnya. Wajahnya tampaknya menginginkan penjelasan dariku.

  "Bukan begitu, aku memang tidak punya maksud-maksud tertentu."

  "Benarkah?"

  Melihat tatapannya, seperti mengatakan kalau ini memang tidak normal. Yukinoshita merendahkan tatapannya seperti cemburu akan sesuatu.

  "...Maaf, Hikigaya-kun memang tidak pernah mempunyai hubungan normal dengan siapapun sehingga dia tidak tahu. Jadi ini bisa dibilang hal yang normal, tolong agar itu diingat."

  Oh benarkah? Jadi ini normal...Dunia ini memang damai ternyata...

  Ah, sudahlah. Aku tidak ada waktu mengurusi hubungan "Yuri" antara Yukinoshita dan Yuigahama, dan bagaimana Hak Asasiku sedang dilukai saat ini. Masalah utama saat ini adalah 'Apakah Sagami menerima jabatan Ketua Panitia?'.

  "Jadi, apa yang sebenarnya terjadi disana?"

  Mendengarku bertanya seperti itu kepadanya, Yukinoshita menjawabnya dengan dingin.

  "Dia menerimanya, kurang lebih begitu..."

  "Kurang lebih...?"

  Aku memiringkan kepalaku dengan penuh tanda tanya.

  Melihatku begitu, Yukinoshita menatap ke arah jendela sambil menjawabku.

  "Ya. Setelah kami mengatakan apa yang harus kami katakan, Hayama-kun juga membantu kami untuk meyakinkannya. Jadi kata 'kurang lebih' kupikir tepat untuk menggambarkannya."

  "Jadi kamu menggunakan Hayama? Ide yang bagus."

  Meski begitu, kupikir akan terlihat aneh jika Yukinoshita meminta bantuan Hayama. Apakah ini pertanda besok akan ada badai topan?

  Ketika aku memikirkannya, Yuigahama menambahkan.

  "Sebenarnya, Hayato-kun tiba-tiba ikut membantu karena tidak tahan melihat suasana kita sedang bernegosiasi dengannya."

  Sebuah image terlintas di kepalaku.

  Sagami mungkin pura-pura menolak dengan mengatakan "Aku tidak yakin bisa melakukannya~," sambil menunjukkan ekspresi gembira ketika menerima pekerjaan itu.

  Sifat asli manusia tidak akan berubah dengan begitu mudahnya.

  "Setidaknya, dia setuju untuk menerimanya."

  Meguri-senpai ikut dalam obrolan barusan untuk menegaskan segalanya. Memang, asalkan tujuan akhir tercapai, prosesnya bagaimana bukanlah masalah. Tidak adanya Ketua Panitia, suasana suram di kelas 2F, tampaknya masalah ini sudah menunjukkan titik keluarnya. Atau bisa juga, landasan penyelesaiannya sudah disiapkan dengan baik. Akan sangat bagus jika semua itu bisa berjalan dengan baik, tetapi aku juga ragu kalau itu adalah masalah yang sebenarnya...

  Meguri-senpai melanjutkan kata-katanya.

  "Kalau begitu, kita harusnya mulai bergerak..."



  "Kemana?"

  Yuigahama bertanya dan Meguri-senpai tersenyum.

  "Selanjutnya adalah Rapat Panitia Festival Olahraga."

  Rapat...Sepertinya aku mendengar sebuah kata yang tidak menyenangkan.

  Meski begitu, senyumnya adalah sesuatu yang tidak bisa kutolak. Lebih jauh, Yukinoshita dan Yuigahama menganggukkan kepalanya dan juga ikut berdiri...

  Kalau begini keadaannya, maka aku tidak punya pilihan lain selain ikut ke Rapat. Aku berdiri dari kursiku dan pergi meninggalkan ruangan Klub.









*   *   *








  Ruang konferensi yang dipakai untuk Rapat Panitia Festival Olahraga adalah tempat yang sama untuk melangsungkan rapat di Festival Budaya yang lalu. Tempat dimana para panitia melakukan kegiatan sehari-harinya.

  Meski aku tidak sering kesini setelah itu, ruang konferensi kali ini terlihat senggang dan rapi, tidak seperti terakhir kali kulihat di Festival Budaya.

  Para panitia Festival Olahraga mulai berdatangan berdua maupun bertiga ke ruangan ini.

  Mayoritas mereka adalah Pengurus OSIS. Tampaknya hal ini memang disengaja untuk menaruh mayoritas panitia adalah Pengurus OSIS.

  "Terima kasih atas kerja kerasnya."

  Ketika Meguri-senpai mengatakannya, para Pengurus OSIS membungkuk dan membukakan jalan untuknya. Apa dia melatih para pengurus OSISnya untuk menjadi Ninja?

  Selain Pengurus OSIS, ada juga orang-orang yang memakai seragam olahraga. Melihat penampilannya, mereka tampaknya berasal dari Klub Olahraga.

  Tepat ketika aku sedang membayangkan tujuan mereka disini, Meguri-senpai berbisik di telingaku.

  "Aku sudah meminta semua Klub Olahraga agar mengirimkan sukarelawan untuk membantu kita disini. Ini bisa mengurangi kesibukan kita dalam mempersiapkan festivalnya."

  Ah, begitu ya... Para panitia berasal dari para Pengurus OSIS, Klub Relawan dan Sagami, lalu para sukarelawan yang berasal dari Klub Olahraga.

  Sederhananya, Panitia berisi separuh pekerja administrasi dan separuh pekerja lapangan.

  Para pekerja lapangan tampak familiar bagiku.

  Ada seseorang yang kuingat samar-samar. Setelah menatapku sejenak, dia mulai mengobrol dengan orang-orang sekitarnya. Tampaknya familiar.

  Dari posisinya berdiri, dia dekat dengan meja dengan tulisan sukarelawan Klub Basket. Apa orang ini bagian dari Klub Basket?

  Dimana aku pernah melihat orang ini...Kenapa aku tidak bisa mengingat satupun petunjuk tentangnya.

  Well...Aku memang tidak bisa mengingat semua orang yang tidak penting bagiku.

  Agar mudah diingat, manusia memerlukan sebuah kejadian yang bisa memberikan kenangan agar mudah mengingatnya. Karena itulah, Kawa-sesuatu sengaja menunjukkan celana dalam berenda hitamnya kepadaku untuk kulihat.

  Lepas dari dua minor karakter tadi, aku berjalan masuk ke ruang rapat bersama Meguri-senpai.

  Lalu, di sudut ruangan, ada seorang wanita membolak-balik dokumen. Kaki panjangnya menyilang, dan jubah lab putihnya berkibar.

  "Hiratsuka-sensei..."

  Jadi memang dia...Ketika aku menggumamkan namanya, Hiratsuka-sensei menyadari kehadiran kami.

  "Oh, akhirnya kau berhasil mendapatkan mereka."

  Hiratsuka mengatakannya sambil tersenyum ke Meguri-senpai. Meguri-senpai meresponnya dengan tersenyum.

  "Ya, seperti yang Sensei katakan, inilah hasil terbaik yang bisa kudapatkan."

  "Jadi, ini semua Sensei yang merencanakan?"

  Dia tampaknya tahu aku melihatnya dengan tatapan curiga, Sensei lalu tertawa.

  "Aku mulai bosan dengan dengan Festival Olahraga yang terlihat begitu-begitu saja tiap tahunnya. Aku berharap banyak dari ide-idemu kali ini."

  "Tampaknya dia akan bersenang-senang hari ini...."

  Yuigahama mengatakannya dengan jujur. Bisa jadi dia memang menginginkan festival kali ini tidak seperti sebelum-sebelumnya. Sebenarnya sudah berapa kali sih festival ini begitu-begitu saja?

  Hiratsuka-sensei tampaknya sudah berpengalaman dengan festival-festival sebelumnya. Yukinoshita menganggukkan pandangannya seperti hendak mengkonfirmasi sesuatu.



  "Apa sensei menjadi Guru Pembina dalam Festival Olahraga ini, Hiratsuka-sensei?"

  "Ya. Pekerjaan ini memang diserahkan ke Guru muda. Jadi, aku ini masih muda, masih muda."

  Apa sebegitu pentingnya hingga anda mengulangnya dua kali?

  Aku sebenarnya merasa kasihan melihat Hiratsuka-sensei mengatakannya dengan gembira. Entah mengapa, tidak ada yang berani berkomentar tentang perkataannya tadi. Cepatlah, tolong seseorang nikahi dia! Nikmatilah kegembiraan bersamanya selagi dia masih muda!

  Kami semua terdiam mendengarnya. Hiratsuka-sensei mungkin sudah membaca suasana itu, lalu pura-pura membersihkan tenggorokannya.

  "Ngomong-ngomong, soal Ketua Panitia, sudah diputuskan siapa orangnya?"

  Meguri-senpai tersenyum ketika pertanyaan itu muncul.

  "Aku sebenarnya ditolak oleh Yukinoshita-san. Tetapi, dia merekomendasikan seseorang untuk pekerjaan itu. Jadi aku sudah memintanya untuk menerima pekerjaan itu."

  "Oh? Rekomendasi..."

  Hiratsuka-sensei seperti memberi isyarat kepada Meguri-senpai untuk melanjutkan kata-katanya.

  "Ya. Kami akhirnya memutuskan untuk memberikan pekerjaan itu ke Sagami-san."

  "Sagami? Oh...Begitu ya..."

  Hiratsuka-sensei sepertinya sedang berpikir ketika mengatakannya sambil melipat lengannya.

  "Selama orang itu dipilih olehmu, kupikir tidak ada masalah. Lalu, orangnya sendiri dimana sekarang? Aku kok belum melihatnya ada di ruangan ini..."

  Hiratsuka sendiri seperti sedang mencari-cari seseorang di belakang kita. Kalau kamu mencarinya di belakang kami, Sagami tidak ada disitu. Tapi aku juga heran, kenapa sagami tidak ada disini? Meski aku sendiri senang kalau dia tidak ada disini.

  Aku melihat ke arah Yukinoshita untuk menunggu jawabannya.

  Yukinoshita menjawabnya tanpa ragu.

  "Sagami-san akan segera datang kesini."

  "Begitu ya...Kalau begitu kita akan mulai rapatnya setelah Sagami kesini."

  Hiratsuka-sensei menatap ke arah pintu ketika mengatakannya.

  Kita-pun menatap ke arah pintu tersebut. Tidak ada tanda-tanda kalau akan ada seseorang datang dari pintu tersebut.








*   *   *








  Tidak lama setelah kami tiba di ruangan ini, terdengar banyak suara orang mengobrol dan tertawa, lalu diam sejenak dan melanjutkan obrolannya. Hal-hal tersebut terulang terus di ruangan ini.

  Aku menatap ke arah jam di dinding.

  Ini sudah lewat dari waktu yang seharusnya.

  Tetapi, rapat masih belum juga dimulai karena Sagami telat.

  Sebenarnya, telat 5 - 10 menit itu bukanlah masalah besar. Itu adalah hal yang bisa dimaklumi. Telat beberapa menit masih bisa ditoleransi.

  Sekarang, telat 15 menit memberikan arti kalau kamu benar-benar telat. Lagipula, tempat kerja biasanya memberikan toleransi 15 menit sebagai tanda bahwa kamu akan hadir atau absen.

  Akhirnya, semua orang menatap ke arah pimpinan rapat dengan tatapan "Apa sudah mau dimulai?" seperti mengantri untuk membeli sebuah game yang harusnya dijual di musim dingin tetapi ternyata dijual di musim semi.

  Kami tidak ada pilihan kecuali menunggu. Meskipun Yuigahama sudah mengirimkan SMS dan menelpon, tetapi tidak ada respon darinya.

  Kekecewaan ini tampaknya menyebar dengan cepat ke seluruh ruangan.

  Aku membuat percakapan kecil dengan Yuigahama dan Yukinoshita yang berada di sampingku.

  "Apa kita harusnya pergi atau mengirim orang untuk mencarinya?"

  "Ah, mungkin..."

  Yukinoshita membalasnya dengan suara yang kecil sambil melihat ke arah jam dinding.

  "Ah, aku juga akan pergi dan..."

  Tepat ketika Yuigahama hendak berdiri, pintu tiba-tiba terbuka. Semua orang memindahkan perhatiannya ke arah pintu.

  "Aku benar-benar minta maaf karena telat.........."

  Meski sebenarnya dia tidak terlihat menyesal mengatakannya, Sagami berjalan dengan santai.

  Tidak menunggu respon yang lainnya, dia langsung berjalan ke depan dan duduk di kursi pimpinan, seperti tidak ragu sama sekali apakah itu kursi miliknya atau tidak.

  Ketika melihat sekelilingnya, dia sepertinya menyadari ada wajah yang familiar, lalu dia melambaikan tangan ke mereka. Aku penasaran siapa mereka dan ternyata mereka adalah dua karakter minor yang kulihat sebelumnya.

  "Haruka dan Yukko juga bagian dari Panitia Administrasi. Mohon bimbingannya."

  "...Uh, tolong bimbingannya."

  Keduanya melambaikan tangannya dengan ekspresi yang lemah.

  Entah mengapa, aku mulai ingat nama mereka.

  Minor karakter A dan B, mereka bersama Sagami ketika Festival Budaya. Mungkin karena mereka juga anggota Klub Basket maka mereka dikirim kesini oleh Klubnya untuk menjadi panitia festival.

  Seperti yang kuduga dari Sagami yang menemukan teman seperjuangannya disini, Sagami berubah seperti merasa di atas angin.

  Memang, kita yang memintanya untuk menjadi Ketua Panitia. Karena kita yang mengundangnya kesini, aku membayangkan kalau dia menganggap dirinya memiliki keuntungan posisi disini.

  Meski begitu, orang yang tahu hal itu hanyalah pimpinan panitia, sukarelawan lainnya tidak tahu tentang hal itu. Mereka melihat tingkah-laku Sagami dengan penuh curiga.

  Ketika Sagami duduk di kursinya, dia tampaknya menyadari tatapan mereka dan berkata.

  "Eh, maaf...Saya adalah Ketua Panitia, Sagami Minami."

  Dia membungkukkan badannya dan meminta maaf.

  Untuk memastikannya, Hiratsuka-sensei melihat seluruh peserta rapat dulu dan memulai rapatnya.

  "Shiromeguri, ayo mulai rapatnya!"

  Mendengar namanya dipanggil, Meguri-senpai menganggukkan kepalanya dan memberikan perintah dengan suara yang lembut.

  "Ya, mari kita mulai rapatnya, Sagami-san."

  "Ya. Ya"

  Sagami terlihat frustasi mendengar namanya dipanggil tiba-tiba.

  "Untuk rapat perdana ini, aku akan disampingmu. Tetapi untuk seterusnya, kamu yang memimpin rapat ini."

  Keputusan yang bagus. Dengan situasinya, aku tidak berpikir kalau Sagami mampu memimpin diskusi di rapat. Dia memang sudah ditakdirkan untuk membuat rapat berantakan seperti Festival Budaya yang lalu.

  Daripada membiarkan Sagami memimpin rapatnya, akan lebih baik jika Meguri-senpai langsung menuju hal terpenting dari rapat ini, persis ketika dia datang ke Klub.

  Meguri-senpai berdiri dan berjalan menuju papan tulis. Seorang Pengurus OSIS mengikuti di belakangnya, dan berdiri di samping papan tulis dengan spidol.

  "Topik hari ini adalah tentang acara utama di Festival Olahraga."

  Setelah itu, Meguri-senpai mengambil spidol dari Pengurus OSIS tersebut, dan menulis "Topik Utama" dengan huruf besar, dilingkari, dan tulisan yang terlihat manis.

  Lalu, dia mengetuk papan tulisnya.

  "Semuanya tolong berikan idenya! Mereka yang punya ide tolong naikkan tangannya!"

  Setelah Meguri-senpai mengatakannya, orang-orang hanya melihat satu sama lain dan terdiam.

  Dalam kesunyian itu, Yuigahama menaikkan tangannya.

  "Yak! Yuigahama-san!"

  Dalam suasana seperti ini, selama ada seseorang yang memulai untuk memberikan idenya sejak awal, maka akan mengubah suasana rapatnya. Tidak masalah idenya seperti apa, yang terpenting adalah sebagai pijakan awalnya. Sederhananya, meski idenya terkesan idiot, itu tetap lebih baik.

  Dalam hal ini, Yuigahama bisa dikatakan kartu as dalam situasi ini. Seperti yang kuharapkan dari wanita jalang yang mampu membaca suasana dengan sekali lihat. Karena faktanya dia mampu melihat situasinya dengan baik, dia bisa menemukan jalan keluar situasi ini...bisa kukatakan luar biasa.

  Orang ini bisa kukatakan sudah tumbuh berkembang...Tepat ketika aku hendak menangis haru, aku melihat bagaimana ekspresinya. Dia seperti gembira sekali bisa mengatakan sesuatu seperti "Meskipun tidak buruk, tetapi lumayanlah~". Orang ini tampaknya hanya mengatakan apa yang ingin dikatakan tanpa berpikir dahulu.

  Setidaknya perilakunya bisa kutebak seperti itu! Orang ini adalah tipe orang yang tidak mau berpikir lebih dalam tentang strateginya di rapat.

  Yuigahama berdiri, mengatakan hal sejenis "Aku ingin ini, aku ingin itu, aku ingin coba itu, aku ingin melakukannya lagi!" dengan suara yang penuh semangat.

  "Sesuatu seperti perlombaan estafet antar klub!"

  "Jika kita melakukannya, maka mereka yang tidak punya klub tidak akan bisa berpartisipasi. Mereka akan cemburu melihatnya, bukan begitu...?"

  Tepat ketika Yuigahama selesai berbicara, Hiratsuka-sensei langsung mengatakan hal itu.


  Setelah itu, kata-kata tertulis di papan tulisnya [Estafet antar-klub], lalu dicoret dengan sebuah garis horisontal.

  Ekspresinya yang ditolak dengan cepat. Aku tidak tahu harus mengatakan apa...

  Yuigahama langsung duduk setelah ditolak.

  Yukinoshita tampaknya sedang memiringkan kepalanya. Dia lalu menepuk pundak Yuigahama, mungkin untuk menyemangatinya.

  "Tolong jangan ragu untuk mengatakan semua ide yang kau miliki!"

  Kali ini, Yukinoshita menaikkan tangannya.

  Meguri-senpai melihatnya dengan gembira.

  "Oke! Yukinoshita-san!"

  Yukinsohita meresponnya dengan tenang ketika dipanggil.

  "Lomba tradisional, lomba memakan roti."

  "Saya takut nantinya ada orang-orang yang komplain karena kita secara turun-temurun sudah terbiasa memakan nasi."

  Hiratsuka-sensei meresponnya dengan cepat. 
  
  "Kalau begitu, bagaimana dengan lomba memakan nasi? Seperti lomba memakan bola nasi atau sejenisnya."

  Meskipun Meguri-senpai mengusulkan itu, kemungkinan besar akan ditolak dengan alasan sejenis.

  Hiratsuka lalu memberikan ekspresi yang sama seperti ide Yukinoshita barusan.

  Setelah ditolak, Meguri-senpai menggumam "un-un-" lalu menepuk kedua tangannya.

  "Ah, bagaimana dengan lomba memakan Kue Mochi? Itu akan membuat wajah mereka dipenuhi tepung kue, dimana akan membuat perlombaan itu terlihat menarik!"

  "...Kalau mereka tidak hati-hati, mereka bisa mendapat masalah serius."

  Hiratsuka-sensei melihat ke arah Meguri-senpai dengan tajam. Tidak, Meguri-senpailah yang terlihat menakutkan....Apakah dia terlihat menakutkan karena keluguannya?

  "Ah, sayang sekali..."

  Ketika dia mengatakannya, dia lalu mencoret [Lomba memakan roti], [Lomba memakan nasi], dan [Lomba memakan mochi] dengan sebuah garis.

  Meski Meguri-senpai terlihat down dengan hal itu, tetapi dia langsung menyemangati dirinya dengan suara yang enerjik.

  "Ayo kita lakukan dengan semangat dan coba lagi! Selanjutnya!"

  Meski begitu, tidak ada yang berani menaikkan tangannya karena ketakutan. Bahkan, Yuigahama terlihat ragu tidak seperti biasanya.

  Sekali lagi, ada teriakan "Saya!" datang darinya dan menaikkan tangannya dengan penuh enerjik.

  "Oke! Yuigahama-san!"

  Meguri-senpai memanggil namanya.

  "Lomba mengumpulkan barang-barang dari berbagai tempat!"

  Ketika Yuigahama menyelesaikan kalimatnya, Hiratsuka-sensei menolaknya lagi.

  "Boleh saja melakukannya, tetapi kalian juga harus tahu kalau tingkat keamanan siswa harus dipertimbangkan. Banyak dari orang tua siswa yang belum melunasi cicilan uang pembangunan sekolah..."

  ...Kau tidak perlu sejauh itu, dasar monster komplain!

  Meski begitu, aku tidak bisa membantu banyak. Hutang memang berat. Kalau dipikir-pikir, aku juga punya hutang ke orang tuaku dan Komachi. Karena hutang ini diantara anggota keluarga, mungkin terserah mereka mau dibayar kapan olehku.

  Oleh karena itu, sebuah garis mencoret [Lomba mencari barang].

  "Apa semua ide memang harus ditolak seperti itu...?"

  "Belakangan ini, banyak komplain dari siswa dan orang tua....Oleh karena itu kita juga punya keterbatasan..."

  Ternyata Hiratsuka-sensei juga merasa terganggu dengan hal itu. Hmm begitu ya, jika Hiratsuka-sensei menyetujui perlombaan yang terlalu beresiko, dia akan ditegur oleh atasannya dan orang tua siswa...Memang berat hidup menjadi pegawai sepertimu.

  Ketika bara api semangat peserta rapat mulai mengecil, Meguri-senpai mencoba yang terbaik untuk membuat semangat mereka tetap tinggi.

  "Ngomong-ngomong, semuanya tolong berpikir dan mencoba memberi idenya!"

  Ide satu dan ide lainnya diajukan.

  Meski banyak sekali ide, tetapi mereka semua ditolak oleh suara yang entah darimana.

  Papan tulis sekarang terlihat seperti sebuah benda dengan coretan yang menakutkan.

  [Lomba melempar bola]

 [Lomba mendorong bola]

 [Lari halang rintang]

 [Lomba makan]

 [Lomba summon]

 [Decathlon]

 [Decamelon]

 [Boticelli]

 [Chim Chim cher-ee]

 [Ooka Cherry]

 Semuanya sudah dicoret.



  Apa cuma aku yang merasa kalau mulai dari tengah, kata-kata jenis perlombaannya mulai terdengar aneh? Juga, jangan membuat nama Ooka Tadasuke menjadi bahan becandaan! Tidak ada yang salah dengan menyandang nama jejaka!

  Jika ini begini terus, rapat hanya akan berakhir tanpa memperoleh satupun keputusan.
  
 Jika aku mengatakan sesuatu sekarang, aku takut itu akan berakhir seperti ide-ide yang lain. Ada sebuah konsep dalam rapat bernama "aliran suasana". Ketika suasananya baik, semua ide akan diterima dengan mudah. Jika suasananya buruk, sebagus apapun idenya, akan ditolak ataupun dipertimbangkan.

  Manusia adalah makhluk sosial. Mereka akan berubah sesuai dengan suasana sekelilingnya. Mereka dinamis, berubah-ubah, dan akan berubah mengikuti aliran orang-orang sekitarnya.

  Oleh karena itu, tidak ada satupun yang bisa mengubah suasana ini.

  Jika melawan aliran suasana ini, maka akan berakhir dengan perselisihan. Jika seandainya aku orang yang punya tekad baja dan pantang mundur, misalnya, aku akan berjuang seperti sedang menyelamatkan pulau kecil milikku. Sayangnya aku bukan orang seperti itu, sehingga tidak akan melawan aliran suasana ini.

  Mereka yang tidak memahami konsep itu akan terkikis secara perlahan.

  "Tolong berikan ide, semuanya."

  Orang yang barusan mengatakannya adalah orang yang menjadi pemimpin rapat ini, Sagami.

  Suaranya terdengar keras, meski dia memimpin rapat ini, tetapi Meguri-senpai yang melakukan mayoritas pekerjaannya. Kupikir tidak banyak orang disini yang akan mendengarkan Sagami.

  Meski begitu, masih ada saja orang yang melihat ke arah Sagami.

  Suara yang familiar pasti akan terdengar oleh telingamu. Bukan karena ketanggapan indra pendengar, tetapi karena hubungan antar manusia itu yang menyebabkannya. Oleh karena itu, orang-orang yang memang pernah berhubungan dengan Sagami adalah orang yang mendengarkan suaranya.

  Dimana rapat ini terancam berakhir buntu, orang ini tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang di posisinya.

  Orang ini...Jelas sekali dia tidak memberikan ide satupun, tetapi memaksa yang lainnya untuk memberikan ide...Apa kamu bossnya!

  Meskipun aku memikirkannya, aku tidak mau membicarakan itu kepadanya. Sederhananya, Akulah bossnya!

  Meski aku berpikir kalau akan luar biasa sekali jika suatu hari nanti, aku terpilih menjadi boss. Lalu para anak buah yang kupimpin terlihat menyedihkan. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk tidak bekerja. Tidak bekerja, dan tidak akan pernah. Bekerja berarti kalah!

  Ketika aku menambahkan kata-kata dalam filosofiku untuk tidak bekerja, aku melihat ke arah jendela seperti tidak ada pekerjaan lain yang bisa kulakukan lagi.








*   *   *







  Matahari yang terbenam mulai terlihat diluar jendela. Musim gugur nampaknya sedang berjalan, dan siang hari terlihat lebih pendek dari biasanya.

  Biasanya jika siang menjadi lebih pendek, udara akan terasa lebih dingin dari biasanya. Aku tidak tahu kapan, tetapi suasana di rapat ini terlihat lebih buruk dari sebelumnya.

  Rapat yang lama akan membuat semua pesertanya terlihat kebosanan.

  Bosan hingga membuang waktu dengan bermain HP, menatap sudut kosong, atau mengipasi dirinya dengan kertas dan dokumen. Para pimpinan rapat sendiri terlihat kurang gembira dari ekspresi mereka.

  "Uuuuu...Jika, jika ada yang punya ide, tolong katakan...Apakah ada...?"

  Meguri-senpai mengatakannya dengan suara yang lelah, dan respon dari peserta rapat terlihat lambat sekali.

  Sagami lalu berkata, "Ada ide lainnya?...." tidak ada yang membalasnya.

  Ketika keduanya seperti mengatakan hal yang sama bergiliran, Hiratsuka-sensei hanya terdiam melihatnya.

  Apakah kita rapat hanya untuk melindungi kesucian dirinya? Ini terlalu kuat!

  Sepertinya, dia sedang membaca pikiranku barusan. Hiratsuka-sensei yang sedang melipat lengannya dan menutup kedua matanya, sekarang membuka sebelah matanya dan menatap ke arahku. Lalu dia menggerakkan dagunya seperti memberiku kode khusus.

  Dia mungkin memintaku untuk memikirkan sesuatu.

  Lalu aku mengembuskan napasku secara tiba-tiba.

  "Jika terus seperti ini, kita tidak bisa memutuskan sesuatu..."

  Kata-kata Yukinoshita terdengar dari belakangku, dan menekan keningnya seperti sedang kelelahan.

  "Ya. Rapat ini seperti kekurangan ide, tidak seperti yang kita duga..."

  "Apapun yang kita katakan, orang yang menolaknya jauh lebih banyak daripada jumlah ide yang tertulis di papan..."

  Meskipun Yuigahama sudah memberikan beberapa ide, tetapi beberapa kali Hiratsuka-sensei dan peserta rapat lainnya menolaknya dengan berbagai macam alasan.

  Keduanya sepertinya sudah menyerah dengan suasana rapat.

  Dalam situasi dimana aliran rapatnya sudah tidak seperti yang kita harapkan, sebuah ide yang bagus hanya akan memiliki efek yang lemah. Rapat tidak berguna ini harusnya diakhiri secepatnya.

  "Ada batasan dimana pemikiran seseorang mencapai puncaknya. Memikirkan permasalahan ini sendirian adalah sia-sia."

  Ketika aku selesai mengatakannya, Hiratsuka-sensei menatap ke arahku dengan tajam.

  Juga, Yukinoshita dan Yuigahama menatap ke arahku.

  Oh begitu...Jadi kalian masih tertarik dengan rapat ini dan belum menyerah...

  "Lalu, apa yang harus kita lakukan?"

  Aku mulai berpikir setelah Yuigahama bertanya itu kepadaku di rapat ini.

  Kita tidak bisa mencari ide ini sendirian. Maka kita harus membiarkan orang yang mampu untuk melakukan pekerjaan ini. Atau juga kita memaksa mereka yang tidak bisa melakukannya. Entahlah, mungkin mereka akan menemukan idenya jika diberikan waktu yang cukup. Melihat situasinya, tampaknya kita harus membiarkan orang yang benar-benar mampu untuk mengambil alih pekerjaan ini daripada aku.

  "Lebih tepatnya, kita akan 'Menempatkan orang yang tepat untuk pekerjaan ini'."

  Mendengar istilah manis tersebut dariku, Yukinoshita menganggukkan kepalanya.

  "Kalimat itu memang benar untuk situasi ini."

  Yup, yup. Cara berpikir seperti ini memang penting.

  Entah kamu sedang bekerja atau tidak, dengan alasan tertentu, ketika kamu pernah menunjukkan kemampuanmu, maka akan banyak orang yang mendatangimu untuk meminta bantuanmu. Hanya karena kamu mampu melakukannya, bukan berarti kamu pasti mau melakukannya. Orang-orang harusnya mempertimbangkan hal ini terlebih dahulu.

  Aku terus melanjutkan kata-kataku sesuai pengalamanku tadi.

  "Sederhananya, sudah rahasia umum kalau perusahaan akan memanfaatkan tenagamu secara maksimal sampai habis. Meski begitu, kamu tidak akan mendapatkan kenaikan gaji sehingga kamu terlihat idiot ketika bekerja terus menerus."

  "Aku tahu itu! Aku merasakannya!"

  Aku melihat arah dari suara itu. Hiratsuka-sensei tampaknya menepuk lututnya dan mengangguk setuju.

  "Hiratsuka-sensei, saya rasa ini bukan saat yang tepat untuk setuju dengannya..."

  Tatapan dingin Yukinoshita tampaknya sudah mewakili tatapan menyedihkan dari peserta rapat lainnya kepadanya. Sebenarnya cukup luar biasa melihat dia mengakuinya. Mataku mulai berair karena air mata sekarang. Jika tidak ada seseorang yang melamarnya dengan segera, aku mungkin akan mulai bekerja serius untuk merawatnya. Cepatlah! Seseorang tolong nikahi dia secepatnya! Tolonglah!

  Aku mencoba menghapus setetes air mata di sudut mataku ini dan melanjutkan kata-kataku.

  "Akan percuma jika menempatkan orang yang tidak ahli mengerjakannya untuk mengerjakan pekerjaan ini. Lebih baik bagi kita untuk memanggil orang yang ahli dalam bidang ini."

  "Kalau begitu, apa kita akan melepaskan requestnya?"

  Yukinoshita melihatku dengan terkejut.

  "Bukan. Ini namanya membagi pekerjaan, mutasi jabatan, atau outsourcing."

  Mendengar kata-kata asing tersebut, Yuigahama seperti terkagum-kagum.

  "Meski aku tidak paham artinya, tetapi kedengarannya keren!"

  Terima kasih atas pujiannya. Ngomong-ngomong, gadis ini sepertinya mudah ditipu orang lain, dan sebaiknya berhati-hati. Dia sepertinya dengan mudah dibujuk untuk membeli produk-produk alami atau semacam itu dan akhirnya jatuh ke Skema Ponzi MLM.

  Di lain pihak, Yukinoshita tampaknya kesulitan untuk memahaminya. Jika kamu bisa mulai mempercayai orang lain, kamu kupikir akan memiliki hidup yang lebih bahagia!

  "Aku terkesan dengan caramu menampilkan banyak kosakata dengan arti yang sepadan...Mengejutkan mendengarnya darimu..."

  Yukinoshita mengatakannya dan Meguri-senpai yang di sebelahnya berdiri setelah mendengarnya.

  "Meski begitu, selama itu bisa memecahkan masalah maka itu bukanlah masalah! Belajar mempercayai orang lain adalah hal yang penting juga!"

  Aku menerima sebuah support yang sangat kuat. Aku menganggukkan kepalaku dan melihat ke arah Yukinoshita.

  "Yukinoshita."

  "Eh eh."

  Tepat ketika aku membuka mulutku, Yukinoshita menjawabnya dengan cepat. Meski itu hanya jawaban pendek diantara kita, tampaknya apa yang ada di pikiranku bisa dipahaminya.

  Lalu, aku menaikkan tanganku dan melihat ke arah Meguri-senpai.

  "Shiromeguri-senpai, sebagai bagian dari panitia, saya ingin merekrut beberapa orang asisten penasihat."

  Mendengarnya, Meguri-senpai mengedipkan matanya.

  "A SIS TEN."

  "...SIS TEN."

  Meguri-senpai memiringkan kepalanya dan mengulangi kata-kata itu, Yuigahama mengikutinya juga.

  "Tidak ada gunanya mengandalkan kami karena dari tadi tidak memberikan satupun keputusan. Sekarang, mari kita dengar pendapat dari profesional dalam bidang ini, bukankah begitu?"

  Mendengar jawabanku, Meguri-senpai tersenyum.

  "Kalau begitu, aku akan senang kalau mereka mau datang dan menolong kita. Benar, Sagami-san?"

  Meskipun cuma numpang nama, tetapi Sagami tetaplah Ketua Panitia. Setidaknya dia menyetujui itu untuk membuat permintaanku sah. Meguri-senpai sepertinya mengatakannya dengan baik, Sagami tampaknya takut kalau dia ketahuan tidak mengikuti topiknya dengan baik sehingga dia meresponnya dengan malu-malu.

  "Ya, ya. Seperti yang sudah kuduga. Kita tidak memiliki ide yang bagus..."

  Sagami sepertinya sudah tahu situasinya, dan mungkin juga dia tidak punya opsi lain untuk menolaknya. Orang-orang di rapat ini mungkin juga akan mengatakan hal yang sama.

  Lalu kemudian, setelah Sagami selesai mengatakannya, kesunyian mendadak pecah.

  Seperti tinta yang dijatuhkan ke air, meskipun kecil, suara-suara yang lemah mulai terdengar. Suara-suara kecil mulai bermunculan di berbagai sudut.

  "Sensei."

  Suara-suara itu menghilang ketika Meguri-senpai mengatakannya.

  Hiratsuka-sensei menganggukkan kepalanya.

  "Oke....Akupun juga ingin menyelesaikan ini secepatnya. Penasihat....atau semacam itu."

  Hiratsuka-sensei melihatku dengan tatapan yang kurang senang, tetapi aku tidak mempedulikannya. Setelah itu, dia seperti memikirkan sesuatu, dan berbicara.

  "Jadi? Siapa yang ingin kaupanggil kesini? Aku ingin menyelesaikan ini secepatnya dan makan malam!"

  "Aku sudah punya bayangan siapa yang harus kupanggil, aku akan memanggilnya secara pribadi."

  Melihatku yang ternyata tidak sekedar alasan agar rapat ini cepat selesai, Hiratsuka-sensei lalu menatapku tajam.

  "Baiklah, ini keputusannya, aku akan mengijinkannya."

  "....."

  Hiratsuka-sensei menatapku seperti sedang kesepian. Sebenarnya aku juga merasa kasihan melihat dirinya yang ingin segera makan malam, tetapi kita harus menyelesaikan permasalahan utama di rapat ini. Aku akan menemanimu makan malam lain kali jika senggang, jadi tolong maafkan aku kali ini.

  Aku memalingkan pandanganku dari Hiratsuka-sensei dan melihat ke arah Yuigahama.

  "Ada seseorang yang ingin kaupanggil untukku, Yuigahama."

  "Eh?"

  Yuigahama mengedipkan matanya sembari menggunakan jari telunjuknya untuk menunjuk dirinya.

  Aku mengibaskan tanganku dan Yuigahama memindahkan kursinya dekat denganku, dan dia terlihat dekat denganku.

  Ini terlalu dekat...

  Wangi parfum dan shampoonya seperti berusaha menyerang indraku. Aku berusaha menenangkan diriku dengan mengambil napas panjang. Karena aku terdiam sejenak, Yuigahama melihatku dengan curiga. Kamu ini sudah terlalu dekat!





  Karena posisi kami yang berdekatan, kami berdua merasa malu. Kami berdua berusaha memalingkan pandangan kami.

  Aku berusaha mengatakan pesanku kepadanya dengan posisi yang tidak melihatnya secara langsung. Ketika mendengarkanku, Yuigahama merendahkan kepalanya. Telinganya yang ditutupi rambutnya terlihat memerah, mungkin karena pencahayaan ruangan ini.

  Ketika aku selesai, Yuigahama menaikkan posisi kepalanya.

  "Aku mengerti. Aku akan pergi sekarang dan memanggilnya kesini."

  Sambil memegang HP di tangannya, dia meninggalkan ruangan rapat untuk menelpon seseorang.

  Aku melihatnya meninggalkan ruangan dan menenggelamkan posisi tubuhku yang sudah kelelahan ini di kursi.







*   *   *







  Tidak lama kemudian, para asisten penasihatku sudah datang.

  "Jadi, mereka ini?"

  Yukinoshita menatap ke arah dua orang yang berada di pintu keluar.

  "Ada perlu apa memanggilku kesini?"

  "FUMU?"

  Ebina-san melihat ke arah kami dengan penuh tanda tanya, begitu pula...Zaimokuza.

  Sejujurnya, aku juga merasa aneh melihat Zaimokuza berada di tempat seperti ini.

  "Kenapa ada Zaimokuza disini? Siapa yang sudah memanggilnya?"

  "Kamu jangan pura-pura bodoh Hachiman! Dimana ada Hachiman, disitu ada diriku. Ketika Hachiman memikirkanku, maka aku akan selalu ada di sisinya."

  Aku memang tidak memahaminya...Juga, ini sangat menjijikkan. Jangan katakan kalau dia adalah partner fusion ku seperti di manga Dragon Ball! Aku pastinya tidak akan mau fusion  dengan Zaimokuza, terlebih jika ada Ebina-san disini, ini buruk sekali!


  Meskipun aku berpikir seperti itu, Ebina-san masih dipenuhi tanda tanya dan menanyakan alasan kehadirannya ke Yuigahama.

  "Hey, Yui. Kenapa kamu memanggilku kesini?"

  ...Tampaknya di hati Ebina-san, tidak ada daftar bernama ZaimokuzaxHachiman. Ini bagus sekali...TUNGGU! BAHKAN MEMBUAT DAFTAR PASANGAN HOMO ITU SUDAH SALAH DARI AWAL!

  "Ada yang hendak kudiskusikan denganmu."

  "Diskusi?"

  Ebina-san melihat ke arah penjuru ruangan. Memang, Festival Olahraga ini tidak ada hubungannya dengan dirinya.

  "Ya, sebenarnya..."

  "Festival Olahraga SMA Sobu setiap tahunnya memiliki lomba-lomba utama. Meski begitu, kami belum memperoleh satupun ide yang bagus tentang lomba-lomba tersebut untuk festival tahun ini...Jadi kami ingin dibantu oleh kreativitas yang kau miliki."

  Sebelum aku mencoba menjelaskannya juga, Yukinoshita sudah menjelaskannya dengan baik.

  "Sebenarnya aku juga sedang bosan saat ini, jadi tidak masalah bagiku....Tetapi kenapa aku yang dipilih?"

  "Ah ah, itu karena Hikki yang memilihmu."

  Mendengar jawaban itu dari Yuigahama, Ebina melihat ke arahku dengan penuh rasa ketertarikan.

  "Dipilih oleh Hikigaya-kun...ya..."

  Ebina-san menatap ke arahku seperti sedang terkejut.

  "...Ketika Festival Budaya, bukankah drama Sang Pangeran Kecil menjadi big hit? Kupikir jika kamu bisa mendapatkan ide-ide aneh tersebut maka kupikir kami bisa mengandalkanmu untuk hal serupa di festival ini."

  Sejujurnya, Ebina-san memiliki kreativitas yang sangat tinggi.

  Seorang produser mampu membuat 1 dari 0 dan merubah 1 menjadi 10. Tapi, ada juga yang bisa membuat hal sebaliknya. Merubah 1 menjadi 0 dan 10 menjadi 1. Dan Zaimokuza mencerminkan hal itu.

  Kalau kita berbicara mengenai Ebina-san, maka dia sendiri sudah membuktikan dirinya adalah seorang produser yang luar biasa, produser yang mampu merubah 1 menjadi 10. Lebih jauh, sangat normal apabila dia mampu menangani aspek manajemen dan lapangan dari pengalamannya di Festival Budaya. Juga, dia punya koneksi ke siswa top sekolah ini yaitu Hayama dan grupnya. Kalau kita bicara tentang SMA Sobu, maka tidak ada seorang produser yang memiliki kualifikasi setara dengannya.

  "Umm, karena kalian semua sudah menaruh harapan yang tinggi kepadaku, maka mari kita lakukan yang terbaik bersama-sama."

  Ebina-san tertawa kecil ketika mengatakannya.

  Zaimokuza yang berada di sampingnya juga terlihat bersemangat.

  "Hachiman! Aku juga! Aku akan melakukan yang terbaik!"

  "Ya ya ya..."

  Aku secara cepat meresponnya agar menghentikan Zaimokuza yang secara spontan menyentuhku dengan memegangi lenganku. Dan ini membuatku ketakutan!

  "Jadi, ini kuserahkan padamu. Untuk lomba utama yang menarik antusiasme siswa, aku serahkan kepadamu."

  Mendengar hal itu, Ebina-san tiba-tiba menegakkan arah pandangannya kepadaku.

  "Menarik antusiasme siswa...Sederhananya, lomba yang akan membuat siswa tertarik untuk melihatnya?"

  "Yeah, sederhananya begitu."

  "Yang penting harus terlihat menarik, bukan? Dan kata 'menarik' itu bisa dari segala cara, benar?"

  Ebina-san memiliki tatapan yang tajam ketika melakukannya, tetapi dia langsung tertawa lebar setelahnya. Apa maksudmu dengan segala cara? Orang ini sangat menakutkan...menakutkan...

  Zaimokuza lalu memalingkan wajahnya ke arahku. Apa kamu hendak menyerangku dengan pedang terkutuk Ryushikae? Ketika aku hendak meminta penjelasan sikapnya itu, Zaimokuza mengatakan sesuatu kepadaku.

  "Hey, Hachiman. Biar kukatakan agar semuanya jelas...Asal semuanya terlihat antusias, maka apapun tidak masalah...benar begitu?"

  "Yeah, tidak masalah. Berikan yang terbaik!"

  Seperti yang kuduga, dia memang benar-benar menggangguku sehingga aku perlu menjelaskan ulang. Lalu terdengar suara orang menepuk kedua tangannya.

  "Un un. Akan sangat bagus sekali jika kalian bisa memberikan yang terbaik. Kalau begitu, bisa kuserahkan kepadamu?"

  Meguri-senpai akhirnya menyimpulkan semuanya, Ebina-san dan Zaimokuza, keduanya menganggukkan kepalanya.

  "Kalau begitu, berikan kami waktu untuk memikirkannya~"

  "Serahkan ini kepada Yoshiteru~✩"

  Mereka mengatakannya secara bersamaan dan saling melihat satu sama lain.

  "Lakukan yang terbaik. Eh, Za, Za? Za Za mushi?"
  
  Terdengar cocok dengannya ketika Ebina-san mengatakan itu.

  Meski begitu, Zazamushi Yoshiteru tampak tidak gembira dan menaikkan kepalan tangannya.

  "Jangan tertawa! Aku akan memenangkan perlombaan ini. Dan juga, jangan memanggilku Zazamushi! Dasar, kau udang!"

  Dia mengatakannya seperti sedang diejek oleh murid SD.

  Bagaimana aku mengatakannya? Dia seperti menganggap Ebina-san adalah lawannya...Kupikir itu adalah harga diri dari seorang Otaku idiot agar tidak mengalah kepada Gadis Fujoshi. Ini memang buruk, tetapi siapa peduli.

  "Sejak kapan ini menjadi perlombaan..."

  Yukinoshita bertanya hal itu dengan ekspresi penuh tanda tanya.

  "Entahlah? Mungkin lebih baik begini karena ide yang akan dihasilkan berdasarkan sebuah kompetisi."

  "Kamu ada benarnya juga."

  Seperti yang kuduga dari Yukinoshita, menyetujui kalau yang kalah dan yang menang seperti pihak hitam dan pihak putih. Dia sepertinya setuju saja. Apa itu alasannya dia menyukai Pan-san? Itu juga motifnya hitam putih...

  Dan akhirnya, kompetisi antara Zazamushi dan Udang telah dimulai...

  






x Chapter III | END x






Tidak ada komentar:

Posting Komentar