Jumat, 18 September 2015

[ TRANSLATE ] Oregairu Vol 6.5 Chapter 2 : Kesempatan untuk bertemu Shiromeguri Meguri, akhirnya datang lagi


*   *   *







  Mata bisa menggambarkan sesuatu seperti mulut. Yaitu, bisa berbicara. Sederhananya, tatapan seseorang bisa terlihat jauh lebih mengganggu daripada mulutnya.

  Bel pulang sekolah telah berbunyi. Tetapi, kami harus mendengarkan arahan-arahan dari wali kelas kami sebelum pulang.

  Aku merasa ada yang sedang menatapku sehingga aku menolehkan kepalaku ke arah tatapan tersebut berasal.

  Karena aku sendiri bukanlah orang yang terlihat menarik di mata orang lain, maka aku sedikit sensitif jika mendapatkan atmosfer seperti ini. Apa-apaan dengan penilaian diriku yang menyedihkan ini?

  Dan setelah aku menolehkan kepalaku, aku melihat mereka.

  Mereka adalah gadis-gadis di kelasku. Wow, aku tidak tahu kalau ternyata aku sangat populer di kalangan gadis-gadis    Meskipun kata-kata barusan hanya sekedar menghiburku, aku tahu pasti kalau kenyataannya pasti jauh dari itu.

  Tatapan mereka seperti berbelok tajam, semacam bulan sabit, mengandung penuh dendam dan kebencian kepadaku. Melihat itu, aku membalikkan badanku ke depan. Ketika aku melakukannya, aku mendengar mereka tertawa sinis.

  Tatapan mereka terasa menjijikkan dan penuh penuh kebencian membuat bulu kuduk di leherku berdiri.

  Meskipun aku mengatakan kalau mereka adalah gadis-gadis di kelasku, tetapi mereka bukanlah grup dari Miura yang merupakan grup kasta teratas, lebih tepatnya mereka adalah grup dengan kasta sosial di bawahnya. Pimpinan grup tersebut adalah Sagami Minami. Sampai hari ini, dia menatapku dengan ekspresi yang sama, ekspresi seperti habis tenggelam dan dilukai olehku.

  Meski aku tidak bisa mengatakan kalau kita berdua memiliki suatu relasi, tetapi Sagami dan diriku memang memiliki 'sesuatu' diantara kita. Meskipun aku sendiri seperti diisolasi oleh separuh siswa SMA ini, tetapi hubungan kita ini bukanlah berdasarkan hal itu. Dalam kasus ini, hubungan yang ada diantara kami berdua adalah dendam pribadi, atau bisa dibilang dendam kesumat.

  Dan hubungan yang semacam itu adalah hubungan yang terburuk dari yang pernah ada.

  Jika kami berdua adalah orang yang tidak saling kenal, maka kita berdua bisa pura-pura tidak peduli dan menghindari hal ini dengan baik. Jika sebuah hubungan antara manusia berdasarkan hal yang tidak penting, kedua pihak pasti bisa menjaga jarak, dan membuatnya terus seperti ini selamanya.

  Tetapi, lain ceritanya jika emosi yang bermain. Tidak peduli bagaimana usahamu untuk menghindari orang itu, kamu pasti akan bertemu dengannya di sebuah tempat dan waktu.

  Jika kamu tidak menginginkan hubungan bermasalah yang seperti itu, maka kamu harusnya mulai tidak mempedulikan mereka. Tidak peduli terhadap sesama, dan lakukan itu seperti layaknya bernapas setiap waktu.

  Tetapi ada sebuah trik dalam masalah 'membenci orang lain'.

  Jika kamu terlibat dalam suatu masalah dengan seseorang, maka kita bisa memakai logika terbalik. Tidak hanya slogan 'musuh dari musuhku adalah temanku' atau 'teman dari temanku adalah temanku juga'. Sebuah pengelompokan secara natural akan terjadi, dan membuat kita tahu siapa sebenarnya yang musuh, dan siapa sebenarnya yang teman.

  Seperti yang terjadi hari ini, meski aku tidak punya hubungan yang tidak bisa dibilang baik dengan Miura, pendapat kami mengenai kelakuan Sagami semakin hari semakin sama.

  Sagami, kamu ini orang yang naif.

  Tidak memperlakukan buruk musuhmu akan membuatmu bisa melihat semua kartu As yang dimiliki musuhmu dengan lebih baik.

  Namun sekali lagi, bukannya aku ini hendak memberinya pelajaran atau semacamnya.

  Setelah wali kelas selesai, orang-orang mulai berdiri dan hendak pergi.

  Ada banyak sekali jenis-jenis orang dalam situasi ini. Mereka yang langsung pulang secepatnya, mereka yang masih ingin mengobrol dengan yang lain, dan mereka yang masih harus membereskan sesuatu sebelum pulang.

  Sedangkan diriku, dimana aku punya request dari e-mail Miura untuk mengumpulkan informasi, aku memutuskan untuk tetap di kelas, pura-pura sekedar beristirahat sejenak atau sibuk melakukan sesuatu.

  Karena ini adalah suasana pulang sekolah, melihat suasana kelas seperti ini, seperti membuatku merasakan betul suasana SMA seperti apa.

  Lebih dari itu, member dari grup-grup kasta sosial teratas berkumpul dan membicarakan rencana mereka.

  Hayama, Tobe, Miura, dan teman-temannya.

  "Kalau begitu, aku pergi ke klubku dulu ya."

  "Ah   , hati-hati di jalan   . Ah, Yui, aku ada rencana belanja hari Sabtu ini."

  "Oh, ok. Aku akan ikut, aku akan ikut. Aku pergi dulu ya."

  Yuigahama menjawabnya dengan meyakinkan, meskipun kupikir Miura sudah mengundangnya dengan kalimat yang kurang jelas. Kalau dipikir-pikir, cara Miura mengundang seseorang sangat buruk sekali...Mirip caraku mengajak seseorang untuk pergi denganku. Meski begitu, karena dia adalah Ratu di sekolah ini, maka itu bukanlah masalah serius. Kalau memakai silogisme, berarti aku bisa dikatakan Raja? Mungkin raja di dongeng 'Raja yang telanjang'.

  Yuigahama melambaikan tangannya ke Miura dan teman-temannya sambil meninggalkan kelas. Kupikir dia akan menuju ruangan klub. Miura tersenyum sambil melihatnya pergi. Kupikir Miura tahu kalau Yuigahama akan pergi ke klub. Seperti Miura paham betul Yuigahama akan mengatakan apa hanya melihat ekspresinya. Oh sial, aku ternyata sudah selangkah lebih dekat untuk memahami Miura.

  Miura yang duduk di belakang, sedang membelakangi tembok, dan disampingnya ada Ebina-san. Hayama dan gerombolannya mungkin punya kegiatan klub masing-masing, dan mereka sudah selesai mengemas barang-barang mereka dan berjalan keluar sambil mengobrol. Kelas ini memiliki dua pintu keluar, di depan dan belakang. Tentunya, Hayama dan teman-temannya akan memilih pintu yang terlihat jelas di depan mereka, yaitu pintu belakang.

  Ketika Hayama dan teman-temannya melewatinya, mereka mengucapkan salam dan selamat tinggal ke setiap orang. Apa-apaan ini? Apa ini semacam pulang dari tempat kerja?

  Sekali lagi, hal-hal semacam itu hanya terbatas ke mereka yang memiliki hubungan baik dengan Hayama dan teman-temannya. Mereka yang tidak termasuk di dalamnya hanya sekedar lewat dan menghilang dari pintu keluar begitu saja.

  Ada satu orang yang hendak meninggalkan kelas. Orang ini kalau tidak salah Kawa.........Saki? Hmm, kupikir namanya mungkin Kawasaki. Bagaimana kabarnya dia, apa dia masih kerja sambilan?

  Ketika dia melewatiku, Kawasaki tiba-tiba mempercepat langkahnya, seperti hendak joging saja. Lalu, ketika sudah melewatiku, langkahnya kembali normal. Ketika dia hendak keluar menuju pintu, dia menatap ke arahku. Ketika tatapan mata kami bertemu, dia seperti hendak berkata "uuuu..." dan seperti kesulitan untuk mengucapkannya. Dia merendahkan kepalanya dan keluar meninggalkan kelas.



  Tampaknya dia ingin mengucapkan selamat tinggal kepadaku. Dasar bodoh, kau harusnya mengucapkannya ketika melewatiku tadi!

  Ketika Kawasaki sudah pergi, aku melamun sejenak. Setelah itu, Sagami berjalan melewatiku. Kupikir, dia akan menggunakan pintu depan sebagai pintu keluarnya, untuk menjaga jarak dengan Miura dan teman-temannya yang dekat dengan pintu belakang. Dari sini saja, aku tahu kalau dirinya lebih malas berurusan dengan Miura daripada berurusan denganku.

  Menurutku, sikapnya yang tadi justru akan membuat Miura semakin malas dengannya. Seperti kasus Yuigahama di masa lalu, tindakan yang tidak jelas akan membuat Miura jengkel.

  Dan yang terpenting, kesimpulan tadi sudah lebih dari cukup untuk hari ini.

  Solusi instan masalah ini, Sagami harusnya bersikap dimana dia tidak akan membuat Miura jengkel atau terganggu. Jadi yang terpenting adalah sikapnya setelah ini.

  Ngomong-ngomong, cara paling efektif adalah menganggap ini sebuah "Time Out Battle". Artinya, mereka tinggal bersikap tidak peduli saja sampai ganti kelas nanti. Meskipun ini adalah saran yang kukatakan pertama kali di masalah ini, Yukinoshita malah ingin menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin. Artinya, metodeku tadi tidak akan bisa bekerja.

  Setelah informasi ini kurasa cukup, aku mulai berdiri dan berjalan meninggalkan kelas menuju ruangan Klubku.






*   *   *







  Ini adalah waktunya minum teh seperti yang sudah menjadi kebiasaan di Klub ini. Tampaknya acaranya akan hendak dimulai.

  Ketika aku memasuki ruangan klub, keduanya ternyata sudah duduk di depan laptop.

  Ketika keduanya meminum red tea mereka, tangan-tangan mereka sambil sibuk memegangi snack, wajah mereka tampak penuh rasa ingin tahu sambil melihat ke arah layar.

  Aku duduk di tempat yang biasa, dan melihat mereka membicarakan berbagai macam topik.

  Karena aku tidak melihat jatah red tea untukku di meja tersebut, aku mulai meminum MAX COFFEE yang kubeli ketika berjalan ke ruangan Klub ini.

  Musim gugur yang hendak menyambut musim dingin adalah waktu terbaik untuk meminum MAX COFFEE yang hangat. Juga, sekaleng MAX COFFEE yang dingin akan terasa lezat jika meminumnya ketika memasuki musim semi ke musim panas. Sepertinya, lebih mudah kalau kukatakan MAX COFFEE sangat cocok untuk diminum sepanjang tahun?

  Juga, snack hari ini adalah kue beras.

  Kue beras adalah produk terkenal dari Chiba. Yang spesial dari itu adalah Kue Beras sudah menjadi oleh-oleh khas dari Chiba. Chiba terkenal karena produksi berasnya, tidak lupa juga kalau Chiba juga terkenal dengan produksi minyak kedelainya.

  Jika mengkombinasi kedua produk khas Chiba tersebut, yaitu Beras dan minyak kedelai, maka akan membentuk kata "Yu-Me" yang berarti mimpi.

  Ngomong-ngomong, aku merekomendasikan untuk memakan Kue Beras yang dipanggang di oven, lalu menambahkan mayonaise plus perasa tambahan.

  ....Jika kita membicarakan Kue Beras yang dihidangkan dengan MAX COFFEE, mungkin aku akan menjawabnya dengan "Aku Cinta Chiba!" dengan senyum lebar di wajahku.

  Tepat ketika aku hendak membuat produk-produk Chiba tersebut menjadi bahan obrolan, Yukinoshita melipat lengannya sambil bergumam.

  "Lalu, apa yang akan kita lakukan?"

  "Ah, ini              "

  Selain Yukinoshita, Yuigahama nampaknya juga menggumamkan hal yang sama. Tampaknya mereka sedikit frustasi dengan aktivitas baru ini.

  E-mail Konsultasi Warga Chiba. Itu adalah sistem misterius yang ditambahkan Sensei agar menjadi kegiatan Klub kita.

  Aku berdiri dari kursiku dan menuju belakang mereka, sekedar ingin tahu apa E-mail yang membuat mereka seperti itu.








[ Konsultasi dari Meguri✰Meguri ]

Aku ingin mengumpulkan ide-ide tentang Festival Olahraga nanti, sehingga terlihat sangat menarik. Juga, karena ini adalah tahun terakhirku, aku harus memenangkannya!




  Aku memakan habis Kue Beras tersebut dalam sekali gigit ketika membaca e-mail itu, aku juga agak terkejut melihatnya.

  ...Ini adalah pertama kalinya orang menulis request di e-mail dengan sangat baik. Tunggu dulu, kalau aku agak terkejut dengan e-mail normal ini, bukankah itu berarti selama ini aktivitas Klub kami menanggapi e-mail-email sebelumnya cukup dipertanyakan?

  "Festival Olahraga, ya..."

  Yukinoshita mengatakannya dengan nada melankolis.

  "Ha...Sudah saatnya kah?"

  Ngomong-ngomong, berarti Pak Wali Kelas tadi yang 'mengoceh' team merah dan tim putih berdasarkan nomor genap dan ganjil absen, sebenarnya sedang membagi siswa untuk grup-grup di Festival Olahraga nanti.

  Biasanya, kebanyakan Festival Olahraga ataupun Turnamen Olahraga diadakan di musim semi, tetapi sekolah kita mengadakannya di musim gugur. Ketika Festival selesai, menandai beralihnya musim gugur ke musim dingin. Bagi kami yang di kelas dua, ini berarti pertanda kalau Darmawisata sekolah sudah dekat.

  Aku sendiri tidak heran kalau para siswa melihat Festival Olahraga sebagai event yang besar. Mereka yang dipenuhi semangat masa muda melihatnya sebagai event yang menyenangkan. Terutama bagi para pria di klub olahraga yang bisa menunjukkan kemampuan mereka di olahraga kepada para gadis. Selama aku menunjukkan kelebihanku pada mereka, maka aku akan bisa punya pacar...Para siswa yang punya delusi seperti itu bisa jadi tidak hanya satu atau dua orang.

  Meski begitu, para gadis, terlebih lagi Yukinoshita, tidak akan bersikap seperti itu. Mungkin dia akan merasa jijik dengan itu.

  "...Aku benar-benar benci lomba lari antar kelas."

  Ah, aku tahu itu. Aku pernah melakukannya ketika SD dulu.

  "Tekanan misterius itu..."

  Aku tiba-tiba teringat sesuatu dan menyetujui pendapatnya. Yuigahama juga terlihat mengangguk seperti menyetujui pendapat kami.

  "Aku tidak bisa berlari dengan cepat, kupikir itu akan sangat berat bagiku    "

  "Tepat sekali, aku tahu maksudmu. Dulu ada si Nagayama dari Klub Sepakbola yang selalu mengatakan "tut-tut" ketika ada siswa di kelasku yang disalipnya."

  "Siapa itu?! Kenapa sampai menyebut namanya dengan spesifik?!"

  Yuigahama membalikkan badannya karena terkejut. Kamu tidak tahu Nagayama? Dia adalah teman sekelasku ketika SD. Well, kurasa lebih baik kau lupakan saja dia, karena aku takut akan terjadi sesuatu yang buruk jika kamu mengenalnya...

  Tidak, aku benar-benar benci dia. Kupikir dia juga membenciku.

  Sebenarnya bukan hanya Nagayama yang dari Klub Sepakbola saja yang kubenci. Mungkin saja ini tidak akan terjadi jika tidak ada yang menyebutkan "lomba lari antar kelas" yang menimbulkan kebakaran di folder 'trauma' milikku.

  "Lalu ada juga gadis yang menolak menerima tongkat estafet dariku. Mengapa mereka melakukan hal-hal seperti itu ketika dia jelas-jelas berposisi sebagai pelari selanjutnya? Tsundere-kah?"

  Entah mengapa ketika aku memikirkan kejadian itu, aku berpikir kalau mereka melakukannya hanya untuk mencari perhatianku saja. Apakah aku hanya dijadikan pelarian sesaat dari orang yang mereka sukai? Dengan kata lain, mungkin aku memang pria populer ketika SD. Benar tidak?

  Ketika aku memberikan ekspresi senyum yang kecut, Yuigahama tertawa.

  "Tidak, sebenarnya bukan itu..."

  Ah. Tatapan Yuigahama yang kasihan denganku ternyata cukup menyakitkan. Kadang-kadang, kekhawatiran semacam itu membuatmu lebih terluka ketika mengingatnya lagi.

  "Kupikir kamu harusnya paham situasinya ketika itu, aku mencoba mengatakannya secara halus saja. Ketika gadis merasa membenci sesuatu, kemungkinan besar dia memang membencinya."

  Tapi, Yukinoshita-san. Bukannya kamu mengatakan kalau kebenaran itu lebih mudah diterima orang-orang?

  Terdengar suara beritme "knock knock" dari arah pintu seakan-akan itu adalah ketukan berirama dalam sebuah musik. Kami bertiga terdiam mendengarnya.

  Semua mata sekarang tertuju ke arah pintu.

  "Silakan masuk."

  Membuka pintu dan masuk setelah mendengar suara ijin tersebut, seorang siswi yang sangat familiar sedang memasuki ruangan ini.

  "Maafkan saya sudah mengganggu~."

  Sebuah atmosfer hangat selalu mengikuti tubuhnya, setiap dia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat ruangan ini, rambut pigtailnya juga bergerak mengikutinya. Poninya diikat dengan sebuah jepit rambut dan alis rambutnya yang cantik menggambarkan matahari sore. Itu memberikan kesan keceriaan seperti sifat orangnya sendiri.

  Shiromeguri Meguri. Dia kakak tingkatku alias siswi kelas 3. Juga, dia adalah Ketua OSIS SMA Sobu. Yukinoshita dan diriku mengenalnya ketika menjadi bagian dari Panitia Festival Budaya.

  Meguri-senpai melihat-lihat ruangan klub dengan sangat antusias diikuti suara "Ehh" yang diiringi senyum.

  "Apa...Ini benar Klub Relawan? Aku sudah mengirimkan e-mail konsultasi mengenai Festival Olahraga, dan karena belum dibalas, aku akhirnya memutuskan untuk ke sini langsung."

  Mendengar dia mengatakan hal itu, kami melihat layar monitor laptop itu sekali lagi.

  Pengirim: Meguri¤Meguri

  Oh begitu, jadi ini maksud Meguri-senpai soal sudah mengirimkan e-mail. Disitu tertulis sesuatu mengenai Festival Olahraga, "Karena ini tahun terakhirku", deskripsi itu memang menggambarkan dirinya.

  "Jadi, orang yang mengirimkan e-mail ini..."

  Yuigahama melihat ke arah komputer dan Meguri-senpai secara bolak-balik, yang membuat Meguri-senpai akhirnya menggunakan jari telunjuknya untuk menunjuk dirinya sendiri.

  "Ah, itu kemungkinan besar aku."

  Setelah dia mengatakannya, dia berjalan menuju meja kami berada.

  "Aku ingin Festival Olahraga ini menjadi lebih hidup seperti Festival Budaya. Aku sendiri tidak tahu apakah kalian bisa membantuku mewujudkannya atau tidak? Yukinoshita-san, dan uh..."

  Sambil menatapku, Meguri-senpai sepertinya kehilangan kata-katanya. Melihatnya kesulitan dan terdengar suara "Ummmm..." darinya, Yuigahama mengatakannya dengan lantang.

  "Hikigaya. Hikigaya."

  Mendengarnya, Meguri-senpai menepuk kedua tangannya bersamaan. Lalu dia tersenyum hangat ke Yuigahama.

  "Ah, jadi kamu Hikigaya-kun ya...Lalu ini..."

  Setelah berhenti sebentar, Meguri-senpai sekali lagi menatapku dengan penuh tanda tanya. Seperti tahu kalau ada yang salah paham, Yuigahama dengan cepat membenarkannya.

  "Bukan, aku, aku ini Yuigahama. Dan yang ini Hikigaya."

  "Oh oh, begitu ya."

  Menderngarnya, Meguri-senpai sepertinya lega dan menganggukkan kepalanya.

  "Ya...Itulah, Hikigaya, untuk sekedar mengingatnya saja, aku saja agak kesulitan..."

  Yuigahama memalingkan pandangannya, suaranya menjadi semakin pelan saja. Malahan, aku sudah tidak bisa mendengar suaranya lagi.

  Benar sekali, aku juga tidak tahu harus berkata apa ketika mendengar orang lain mengatakan hal semacam itu.

  "Kalau mendengar orang sangat kesulitan untuk mengingat namamu, berarti memang namamu itu adalah sesuatu yang tabu. Seperti yang kuduga dari dirimu, Hikigaya-kun."

  Yukinoshita menganggukkan kepalanya seperti kagum atas diriku.

  Jangan seperti itu! Jangan pakai nama orang untuk bahan becandaan!

  "Maafkan aku, aku sendiri memang punya kesulitan dalam mengingat nama orang lain."

  Meguri-senpai meminta maaf sambil membungkukkan badannya.

  Melihatnya begitu, Yukinoshita mencoba membalas keramahannya dengan kata-katanya yang tajam.

  "Tidak perlu dimasukkan ke hati. Dia memang ahlinya ketika membuat orang lain tidak bisa mengingat namanya, itu saja."

  "Bukankah itu agak aneh mendengarnya darimu? Meskipun sebenarnya itu ada benarnya."

  Sejujurnya, orang-orang memang sering memanggilku dengan "Kamu" atau "Hei". Sial, aku sekarang mulai curiga kalau orang-orang selama ini memang tidak bisa mengingat namaku.

  "Bukankah memang begitu? Bukankah kamu juga sangat ahli ketika mencoba menghapus eksistensimu di sebuah komunitas?"

  Yukinoshita tersenyum kepadaku. Apa maksudmu dengan "memang begitu?" aku tidak paham maksudnya. Juga tidak lupa kamu menyebutkan "juga". Meski begitu, karena itu memang fakta, aku memang tidak bisa membalasnya balik.

  "Itu, itu tidaklah benar!"

  Meski begitu, orang yang tidak terduga menyanggahnya. Yuigahama memotong pembicaraan antara Yukinoshita dan diriku.

  "Bahkan sebaliknya, ketika dia sendirian di kelas, dia bahkan terlihat mencolok!"

  "Apa kamu tahu cara yang lebih baik untuk menyenangkan seseorang..."

  Ini benar-benar tidak menolongku. Kenapa kamu malah menambah damage serangannya kepadaku? Apa kamu mempermainkanku?

  "Aha"

  Meguri-senpai tidak bisa menahan tawanya melihat percakapan kami ini.

  Lalu dia mendekatiku, berada sangat dekat di depanku.

  "Hikigaya-kun."



  Mendengarnya memanggil namaku dalam jarak yang sangat dekat, aku kaget dan mundur selangkah.

  "Y-Ya..."

  Meguri-senpai menganggukkan kepalanya dengan suara "Un" ketika mendengarku membalasnya.

  "Jadi, kamu ya yang bernama Hikigaya-kun. Oke, aku sekarang sudah ingat. Waktu itu ketika orang-orang sedang kesulitan di Festival Budaya, kamu ternyata bekerja sangat keras ya. Kamu orang yang bisa diandalkan."

  Melihat senyum yang lugu itu, kupikir tidak buruk-buruk amat kalau namamu dilupakan orang. Atau, sangat normal jika orang lupa namaku.

  Yang paling penting, aku merasa terharu mendengar ada seseorang yang mengakui diriku sudah bekerja sangat keras ketika Festival Budaya kemarin.

  Juga, di saat yang bersamaan, aku tersipu malu.

  Meskipun jarak diantara kita sangat dekat, Meguri-senpai terus tersenyum hangat kepadaku seperti tidak mempedulikan apapun.

  Karena itu, aku memalingkan pandanganku darinya.

  "Ha, Ha....Baiklah, aku akan membantu masalahmu..."

  Tepat didepanku ini, dimana aku berusaha memalingkan pandanganku, aku berharap tidak membuatnya kecewa.

  "Mu             ."

  Di belakang kata-kata Yuigahama yang terlihat tidak senang, terdengar nada suara yang dingin.

  "Meguri-senpai, bisakah kita kesampingkan "itu" dulu untuk sementara? Tolong beritahu kami tentang detail requestnya."

  Seperti yang kuduga, dia semakin dingin seperti musim dingin sudah dekat saja...Nada suara yang seperti itu yang membuat bulu kudukku berdiri. Mungkin karena itu, senyum dari Meguri-senpai tiba-tiba hilang, disertai dengan "Oh" ketika menepuk kedua tangannya bersamaan seperti mendapatkan sesuatu.

  "Ah, itu dia, itu dia. Aku menginginkan kalian semua untuk membantuku mencari ide-ide tentang permainan di Festival Olahraga yang sangat menarik antusiasme siswa."

  Meguri-senpai menaikkan ibu jarinya ketika menjelaskannya.

  "Permainan yang menarik..."

  Ini adalah request yang agak abu-abu dan bisa membuat imajinasi orang berkembang kemana-mana. Ini seperti ada senior di tempat kerjamu dan memintamu untuk menceritakan sebuah kisah yang menarik ketika istirahat kerja. Ketika aku selesai menceritakan kisahku, lalu dia mengatakan "membosankan" dan membuat kisah yang sudah kupikirkan dengan matang akan menarik ternyata hilang begitu saja. Lalu, setelah itu dia akan berpikir kalau aku ada teman yang kurang menarik. Sebenarnya, bagaimana cara membuatmu puas akan diriku? Mereka sudah capek-capek memikirkan topik yang menarik sementara definisi membosankan itu sendiri berbeda tiap orang. Serius saja, mungkin lebih baik jika orang itu dipecat saja!

  Meski aku merasa Meguri-senpai tidak berada di kategori itu, tetapi topiknya memang bukanlah hal yang konkrit. Dengan begitu, kami sendiri juga ragu dengan apa yang harus kami lakukan.

  Ternyata tidak aku saja yang berpikir demikian. Yuigahama menaikkan tangannya dengan cepat.

  "Apa maksudmu?"

  Yukinoshita yang berada di samping Yuigahama juga melipat lengannya.

  "Sederhananya, aku ingin bertanya, apa yang kamu ingat dari Festival Olahraga tahun lalu...?"

  "Jujur saja, saya tidak ingat apapun tentang Festival Olahraga tahun lalu."

  Aku mencoba mengingat tentang itu tahun lalu, tetapi aku memang tidak bisa mengingat apapun. Perasaan itu, seperti duduk di kursi dan melamun. Meski aku ingat betul kalau aku ikut dalam beberapa perlombaan, aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi di Festival Olahraga tahun lalu.

  Jika kita membahas apa yang samar-samar kuingat, maka aku ingat kalau ada orang di sebuah klub olahraga bilang "Kenapa kita masih melakukan Festival Olahraga sementara kita sudah SMA begini?", "Yang benar saja, mengapa kita masih melakukannya?" ketika pertandingan dimulai, mereka tiba-tiba serius dan terlihat menikmatinya. Ketika selesai, mereka melakukan high-five dengan para gadis. Di lain pihak, aku hanya menatapi para gadis tersebut.

  Mengingat hal-hal yang seperti itu, bisa dibilang kalau Festival Olahraga bukanlah event yang penting. Yukinoshita mengembuskan napas panjangnya seperti tahu apa yang sedang kupikirkan.

  "Orang-orang hanya akan melupakan kenangan-kenangan yang mereka anggap kurang menyenangkan."

  "Bisakah kamu berhenti memperlakukan Festival Olahraga kita seperti sebuah sejarah kegelapan di SMA ini? Jika bisa melupakannya dengan mudah, artinya event itu tidak menyebabkan trauma psikologis. Ngomong-ngomong, bukankah kamu sama saja denganku, karena kamu sendiri juga tidak ingat tentang Festival itu!"

  "Bukankah ada pepatah mengatakan kalau melupakan masa lalu adalah salah satu cara untuk menatap masa depan?"


  Kenapa dia mengatakannya dengan ekspresi penuh kemenangan?

  "Apa? Kenapa kamu sekarang malah menyudutkanku [dan aku mulai memahamimu]? Pepatah barusan bukanlah kata-kata yang tepat untuk situasi itu."

  "Ahaha. Jangankan mereka, aku sendiri juga tidak mengingat apapun di Festival Olahraga tahun lalu."

  Meski Yuigahama terlihat seperti menyetujui pendapat kita, tetapi dia tetaplah dia, aku berani bertaruh dia juga lupa segalanya. Mungkin saja kami bertiga sudah melewatkan sesuatu yang menurut Meguri-senpai perlombaan yang menarik. Melihat respon kami bertiga, Meguri-senpai seperti merasa kecewa.

  "Kalian sepertinya memang tidak ingat, seperti yang kuduga...Padahal tahun lalu ada lomba yang menurutku menarik, yaitu lomba Cosp-race. Lomba lari dengan memakai baju cosplay..."

  Jujur saja, aku tidak mengingat apapun. Meski begitu, aku memang pernah melihat beberapa kakak kelasku yang cukup populer sedang bercosplay dan becanda, mungkin itu yang dia maksud.

  Meski dia sudah menjelaskan beberapa lomba yang menurutnya menarik, Yukinoshita dan Yuigahama masih menatapnya dengan penuh tanda tanya.

  Melihat respon mereka, Meguri-senpai tersenyum kecut. Setelah berkata "Kalau begitu", sepertinya dia menemukan beberapa ide baru.

  "Beberapa tahun belakangan memang lombanya begitu-begitu saja, jadi aku ingin tahun ini menjadi berbeda."

  Aku bisa melihat sebuah kehangatan dan determinasi dibalik tatapannya itu. Mungkin karena aura kuat itulah, Yuigahama dan Yukinoshita seperti mengambil satu langkah ke belakang.

  "Be-begitu ya..."

  "Aku tampaknya sudah cukup mengerti situasinya. Kapan kau butuh ide-ide itu?"

  Mendengar pertanyaan Yukinoshita tadi, Meguri-senpai memegang tangan Yukinoshita.

  "Soal itu, bisakah kamu memberikannya ketika rapat Panitia Festival Olahraga?"

  "Ha? Ah, kalau itu bisa saja. Oleh karena itu, tanganku...Bisakah kamu lepaskan tanganku...."

  Yukinoshita nampaknya kurang nyaman dengan kontak tubuh yang tiba-tiba seperti itu. Meskipun aku berpikir dia sudah terbiasa dengan itu karena Yuigahama sering melakukan aksi "Yuri" kepadanya, tapi tampaknya ini hal yang berbeda. Mungkin tepatnya begini, dia sudah terbiasa dipegang oleh Yuigahama?

  Meski Yukinoshita memintanya untuk melepas tangannya, Meguri-senpai tampaknya tidak berniat untuk melakukannya. Malahan, dia selangkah ke depan dan sekarang dia berada tepat di depannya.

  "Sejujurnya, kami belum memiliki pimpinan Panitia untuk Festival Olahraga ini...Jadi, bisakah kau yang menjadi pemimpin panitia ini, Yukinoshita-san?"

  Yukinoshita merasa kurang nyaman dengan tatapannya, meski begitu, dia tampaknya masih punya kekuatan untuk menolaknya, dan berhasil melepaskan tangannya dari Meguri-senpai.

  "Aku menolak."

  "Seperti yang kuduga~"

  Meguri-senpai tampak menundukkan kepalanya seperti sedang menyesali sesuatu, dia tampaknya sudah tidak mau membujuknya lagi, dan tidak bertanya lebih jauh.

  Lalu, matanya menatap ke arah Yuigahama.

  "Lalu, lalu, bagaimana dengan Yuigahama-san?!"

  "Eh?!"

  Yuigahama seperti melompat ketika dia bertanya kepadanya. Lalu, dia tiba-tiba melambai-lambaikan tangannya di depannya.

  "E, Eh, tidak, mustahil!"

  "Hmm, itu memang sudah kuduga. Kamu pasti kurang nyaman tiba-tiba ditanya hal-hal yang seperti itu."

  Meguri-senpai tersenyum sambil menurunkan posisi bahunya seperti kecewa akan sesuatu. Mungkin dia kurang nyaman jika melihat ekspresi seperti itu.

  "Maaf ya..."

  "Itu tidak apa-apa. Jangan kamu khawatirkan soal itu. Hanya saja, aku lebih senang kalau kamu menerimanya. Terima kasih sudah mengkhawatirkan itu."

  Meguri-senpai menepuk pundak Yuigahama ketika mengatakannya. Meskipun Yuigahama terlihat terkejut melihat tindakannya yang tiba-tiba, Meguri-senpai tampaknya tidak keberatan akan sikapnya itu.

  Tetapi, tidak bisa memilih Ketua Panitia dimana Festivalnya sudah dekat memang masalah yang serius. Apakah itu akan mengganggu perencanaan eventnya?

  "Memang, kesulitan memilih Ketua Panitia akan memberikan masalah..."

  Kalau begini....Coba aku pikirkan dulu baik-baik. Bila ini dugaanku benar. Jika memang benar, maka begitulah akhirnya. Jika mengikuti alurnya, maka orang yang akan ditanya untuk menjadi Ketua Panitia selanjutnya pastilah aku. Karena dia sebelumnya sudah bertanya ke Yukinoshita dan Yuigahama, bukankah berarti selanjutnya adalah aku? Kalau dia akan memegangi tanganku dan menepuk pundakku, aku tampaknya tidak bisa menolak tawarannya.

  Ini buruk, buruk sekali.

  Meski aku sudah memikirkan banyak cara untuk kabur dari situasi itu, Meguri-senpai sepertinya sudah memutuskan sesuatu.

  "Kalau begitu, kupikir jalan yang terbaik untuk saat ini adalah mencari ide-ide tentang lombanya dahulu."

  Meguri-senpai menganggukkan kepalanya sambil mengatakan "Un-Un" ketika mengatakannya.

  ...Huh, apa-apaan ini? Satu-satunya orang yang Senpai belum tanya ada disini! Cepat, lihat kesini, ini aku! Aku!

  Aku!

  Meski begitu, teriakan-teriakan di hatiku tadi tidak bisa mencapainya, meski mungkin masalah tentang Ketua Panitia sudah diselesaikan olehnya dalam pikirannya tadi. Aku juga ingin Meguri-senpai menyentuhku...Tidak, aku memang punya adik perempuan tetapi aku tidak punya kakak perempuan. Tampaknya aku memikirkan hal itu sudah cukup lama.

  Ketika kepingan-kepingan pemikiranku ini mulai berlarian di kepalaku, Yukinoshita menggumam dan terdengar oleh telingaku.

  "Belum menemukan kandidat Ketua Panitia yang lainnya?"

  Aku melihat Yukinoshita menaruh tangannya ke dagunya, seperti berpikir tentang masalah ini. Dia tampaknya sedang memikirkan sesuatu, dan mengatakannya ke Meguri-senpai.

  "Tidak masalah siapa orangnya, bukan?"

  Meguri-senpai mengedipkan matanya mendengar pertanyaan tadi.

  "Eh? Tidak, bukannya tidak masalah siapa orangnya. Sebenarnya aku tidak masalah siapa dia asalkan dia melakukan pekerjaannya dengan baik dan serius, seseorang yang bisa kita berikan tanggung jawab tanpa perlu khawatir."

  Kalau melihat syaratnya, bukankah aku adalah orang yang tidak mengejarkan pekerjaan dengan serius dan juga bukan orang yang bisa diandalkan?

  Well, Ketua Panitia, adalah pekerjaan bagi orang yang memiliki karakter kuat. Aku paham maksudnya tanpa bertanya lebih lanjut.

  Meski begitu, Yukinoshita tampaknya sedikit kurang setuju.

  "Bukan, sebenarnya tidak ada masalah dengan karakter kepemimpinannya. Masalahnya hanya di keterbatasan kemampuan dan sedikit punya masalah dengan beberapa grup di sekolah ini."

  Dengan penjelasannya, Meguri-senpai nampaknya mengerti maksudnya.

  "Ahah, jadi itu maksudmu. Jika cuma itu kekurangannya, kurasa bukan masalah. Sejujurnya, kami sudah berusaha merekrut beberapa kandidat, tetapi tidak ada yang mau menerimanya..."

  "Jadi kamu sudah berusaha merekrut orang ya..."

  Yuigahama tampaknya terkejut mendengar itu. Responnya membuat Meguri-senpai tampak sedikit gagap.

  Wow, dia seperti memberitahukan kegagalannya di depan wajahnya seperti tidak tahu bagaimana perjuangan mereka melakukannya...Yuigahama tampak terkejut dan mengatakannya dengan santai, tetapi kata-katanya memang buruk.

  Meguri-senpai mulai menggerutu.

  "Tidak ada yang tahu...Mungkin juga itu salah satu masalahnya...Yaitu caraku mengajak seseorang untuk menerima posisi itu sangat buruk sekali. Aku menempelkan banyak sekali pengumuman. Kami menyebarkan banyak brosur, juga meminta bantuan guru-guru untuk menyebarkan info itu. Bahkan aku menuliskan hal itu di blog milikku..."

  Tidak, aku tidak menyangka kalau Senpai punya blog. Apa Senpai seorang idola?....Tidak, ini malah membuatnya terlihat manis menurutku. Hehe.

  "Ah, maaf soal itu! Aku sendiri tidak benar-benar ingin mencari info! Bahkan aku sendiri tidak tahu dimana papan pengumuman sekolah ini. Tetapi, aku akan mencoba untuk melihat info-info di papan pengumuman semenjak kejadian ini."

  Yuigahama mencoba memperbaiki kesalahannya, Meguri-senpai menaikkan tangannya secara diam-diam, dan menghentikannya untuk melanjutkan kata-katanya. Dia seperti menggosok-gosok matanya lalu tersenyum.

  "Tidak apa-apa, tidak apa-apa, Yuigahama-san. Itu memang salahku, aku akan menggunakan Twitter ke depannya."

  "Aku malah berpikir kalau itu bukan masalahhnya..."

  Aku secara spontan mengatakannya.

  Bagaimana aku bisa berbicara dengannya secara normal dengan situasi seperti ini! Meski begitu, aku merasa dia juga tidak akan keberatan meskipun yang mengatakannya bukan diirku.

  Mungkin juga, Meguri-senpai juga tidak begitu peduli siapa yang mengatakannya.

  "Ya, aku juga akan menggunakan LINE untuk menyebarkannya!"

  Bukan, bukan itu maksudku...Tetapi rasa optimisnya itu memang sangat mengagumkan.

  "Meguri-senpai, kamu tidak perlu melakukan hal-hal semacam itu."

  Yukinoshita mengatakannya sambil terkejut melihat jawaban Meguri-senpai tadi.

  "Apa maksudmu?"

  Meguri-senpai memutar kepalanya ke arah Yukinoshita, dan dia menjawabnya.

  "Aku punya orang yang bisa direkomendasikan untuk pekerjaan ini."

  "Eh? Siapa? Siapa orang yang cocok untuk ini?"

  Meguri-senpai mendekatkan tubuhnya ke arahnya seperti tertarik dengan jawaban Yukinoshita.

  "Ada orang yang punya pengalaman untuk memimpin Panitia, juga, dia punya keinginan untuk berkembang dan mau menerima jabatan-jabatan yang terhormat. Sederhananya, gadis ini adalah orang yang mau mengerjakan pekerjaan itu."

  Jika melihat aspek positif kata-katanya, tampaknya aku punya bayangan siapa orangnya meski Meguri-senpai menepuk kedua tangannya seperti sangat antusias. Ini membuatku tidak tenang.

  Sebuah image muncul di kepalaku ketika berusaha mencocokkan petunjuk yang Yukinoshita katakan tadi. Aku sangat pandai jika menebak-nebak.

  Otakku yang brillian itu sudah menemukan jawabannya. Juga, ini jawaban yang sangat buruk.

  "Hey, Yukinoshita, hey...Jangan bilang kalau..."

  Dia memotongku, seperti tahu kalau aku sudah menebaknya dengan benar. Yukinoshita menatap ke arahku, dan seperti menggerakkan bibirnya tanpa suara, bibirnya seperti mengatakan "Benar sekali" kepadaku.

  Wow, bibir gadis ini memang sangat memukau. Meski ini adalah perasaan yang spontan, tetapi aku merasa sangat kecewa ketika mengetahui jawabanku benar.

  Yuigahama dan Meguri-senpai tampaknya tidak mengerti, dan hanya melihat interaksi kami berdua dengan penuh tanda tanya.

  Aku yakin mereka akan memiliki reaksi yang sama denganku ketika mendengar jawabannya. Bibir gadis ini sangat memukau...Well mungkin mereka tidak memikirkan itu.

  "Yukinoshita-san, tolong katakan kepadaku!"

  Merasa didesak olehnya, Yukinoshita sekali lagi melihat ke arah Meguri-senpai.

  "Kelas 2-F, Ketua Panitia Festival Budaya, Sagami Minami-san."

  "Eh-eh?!"

  Yuigahama tampaknya hendak menangis mendengarnya. Mungkin dia juga tidak menyangka akan mendengar itu. Meski Meguri-senpai tampaknya juga terkejut, tetapi ekspresinya dengan cepat berubah menjadi dingin.

  "Ah-. Eh, jadi, jadi begitu ya...Tetapi, apa yang harus kulakukan?"

  Seolah-olah menggantikan peran Meguri-senpai yang ragu untuk berbicara, aku bertanya ke Yukinoshita mengenai tujuannya mengatakan itu.

  "Yukinoshita, apa yang sedang kamu rencanakan?"

  "Aku sedang berusaha menyembuhkan trauma psikologis miliknya. Jika kamu pernah gagal sekali, maka kamu hanya mau melakukan hal yang nilainya setara atau lebih tinggi untuk mengobati trauma itu. Benar tidak?"

  Kalau dia mengatakannya begitu, maka aku bisa memahaminya sepenuhnya. Ya, dia adalah tipe orang yang akan mendorong seseorang yang tidak bisa berenang ke kolam renang hanya sekedar untuk latihan.

  Sederhananya, dengan memberinya posisi Ketua Panitia Festival Olahraga, dia akan memperoleh rasa percaya dirinya, atau memberinya harga diri yang lebih tinggi.

  Jika ini berjalan lancar, maka request Sagami kepadanya juga akan terpenuhi, rasa frustasinya juga akan menghilang.

  Dan hasil akhirnya, suasana suram di kelas 2F akan berubah menjadi lebih baik. Karena sumber kesuraman itu adalah Sagami. Meski aku juga tidak bisa mengatakan kalau eksistensiku di kelas itu juga berpengaruh mempercepat suasana suram itu menyebar selama ini.

  "Meski begitu, apakah ini juga menurutmu menyelesaikan masalahnya? Di kelas F maksudku."

  "Ya, itu sekaligus menyelesaikan masalah di 2F."

  Yukinoshita memotongku dengan suara yang meyakinkan.

  Aku bisa merasakan determinasi tinggi dari kata-katanya barusan.

  Tampaknya akan sangat sulit untuk membuatnya mengurungkan niatnya jika dia sudah seserius ini. Jangan lupa kalau mempengaruhi orang juga adalah tugas yang sulit.

  Jika dipikir baik-baik, bisa kukatakan kalau ide Yukinoshita ini sangat brillian, dan memang sangat logis.

  Meski begitu, aku hanya bisa memahami alasannya merekomendasikan Sagami. Dengan kata lain, aku hanya paham alasannya menjadikan Sagami sebagai objek masalah ini.

  Masalahnya, kita disini seharusnya menjadikan kesuksesan Festival Olahraga dan pekerjaan Ketua Panitia sebagai fokus utamanya, bukan Sagami.

  Juga, tampaknya Meguri-senpai agak sulit untuk dipengaruhi.

  "Ah, Sagami-san?"

  Dia menggumam dengan ekspresi kurang bersemangat.

  Melihatnya, Yukinoshita tampaknya memberikan sedikit suplemen dalam kata-katanya tadi.

  "Kupikir memberikan satu kesempatan lagi kepadanya adalah hal yang bagus untuk membuatnya belajar menjadi lebih baik."

  "Ya, kupikir juga begitu."

  Mendengar pendapat Yukinoshita tadi, Meguri-senpai menutup matanya dan menganggukkan kepalanya.

  Lalu, dia menaikkan posisi kepalanya dan melihat ke arah Yukinoshita.

  "Meski begitu, ini adalah pekerjaan yang serius. Jika dia hanya setengah-setengah, kita akan mendapatkan masalah besar."

  Kedua matanya seperti memberitahu kita kalau dia tidak menginginkan masalah di Festival Budaya terulang lagi. Tatapan yang hangat dan serius itu sangat berbeda dari ekspresi hangat dan lembut Meguri-senpai yang selalu kuingat. Sikapnya yang seperti ini memang sesuai dengan posisinya sebagai Ketua OSIS.

  "....."

  Meskipun intensitas tatapannya tidak begitu menusuk, Yukinoshita terdiam melihat kedua mata Meguri-senpai yang serius.

  Memang, seperti kata Meguri-senpai, Sagami memang punya catatan buruk. Sagami meninggalkan tanggung jawabnya sekaligus membuat jadwal Festival menjadi terlambat, dan itu memang sesuatu yang tidak bisa dimaafkan.

  "Aku juga tidak menginginkan itu terjadi."

  Orang tidak akan berubah dengan mudah. Jika untuk sekedar berubah hanya memerlukan beberapa kata manis, perasaan menyedihkan dari sesamanya, atau pernyataan tekad sederhana, maka jalanan di dunia ini akan penuh dengan para pahlawan yang sudah berubah.

  Setelah melakukan kesalahan di Festival Budaya, aku tidak merasa kalau Sagami sudah berkembang. Jika kita membicarakan kata berkembang, maka dia harusnya tidak menabuh dendam kepadaku, dan juga dia tidak berusaha mencari simpati dan perhatian dari orang lain.

  Orang tidak akan berubah. Jika mereka bisa berubah, maka satu-satunya cara untuk berubah   

  Hanya dengan mengalami rasa sakit dari sesamanya, penderitaan yang tidak bisa hilang dan menorehkan luka yang dalam di hati, dan juga meninggalkan semuanya karena menanggung penderitaan ini sendirian, maka itu bisa merubah cara hidup seseorang.

  Sagami belum mencapai tahap itu.

  Meski begitu, aku tidak pernah membayangkan kalau Sagami akan menjadi Ketua Panitia Festival Olahraga.

  "Sagamin, bagaimana aku bilang ya...Jika dia tetap melakukan kesalahan seperti yang terakhir kali..."

  Kekhawatiran Yuigahama memang wajar. Bahkan aku juga, takut kalau dia melakukan kesalahan yang sama di Festival Olahraga.

  "Dia tidak akan menjadi seperti itu. Aku akan bertanggung jawab jika dia melakukan itu lagi."

  Yukinoshita mengatakannya dengan yakin.

  Meski begitu, aku merasa kalau keyakinan Yukinoshita kali ini sangat berbahaya.

  "Apa kamu bodoh? Kamu...! Ini tidak akan ada artinya jika berakhir seperti Festival Budaya yang lalu. Apa kamu berniat bekerja sampai sakit seperti kemarin?"

  Mendengarku mengatakannya, Yukinoshita seperti membeku dengan membiarkan mulutnya terbuka.

  "....Apa ada yang aneh?"

  "Ah, eh, tidak. Aku hanya sedikit terkejut."

  Yukinoshita mengatakannya dengan pelan. Dia seperti mengatakannya dengan malu-malu. Wajahnya memerah ketika aku melihatnya pura-pura membersihkan tenggorokannya.

  "Kekhawatiranmu terlalu berlebihan. Festival Olahraga adalah event tertutup, dan jangan lupa kalau itu hanya 1 hari. Jika dibandingkan dengan Festival Budaya, pekerjaannya tidak akan terlalu banyak dan itu berarti pekerjaanku juga tidak banyak. Dan yang terpenting, Sagami-san punya ruang untuk membenahi dirinya tanpa membuat sebuah kekacauan."

  Penjelasan Yukinoshita muncul seperti aliran sungai yang saling memperkuat. Melihatnya begitu, aku dan Yuigahama hanya bisa mendengarnya sambil mengatakan "Un-Un". Lalu, Yuigahama terdiam dan mengatakan sesuatu.

  "Tapi, bukankah itu artinya Yukinon akan ikut bekerja di kepanitiaan itu?"

  Mengetahui Yuigahama sedang menatapnya, Yukinoshita menjawab.

  "Yuigahama-san. Aku bekerja disana untuk menyelesaikan request, dari Miura-san mengenai Sagami-san..."

  Yukinoshita tampaknya membuat sebuah alasan untuknya. Yuigahama hanya bisa menggumam "Mu    " dan menatapnya.

  "Ha....."

  Lalu Yuigahama tersenyum ke Yukinoshita.

  "Kalau begitu, aku akan membantu juga. Kamu harus membiarkanku membantumu menangani pekerjaanmu juga."

  "Yuigahama-san..."

  Dia terlihat lega dan mengatakannya dengan lembut.

  "Terima kasih..."

  "Itu bukan masalah besar."

  Yuigahama mendekati Yukinoshita dan berada di sampingnya, lalu memegang tangannya dengan lembut. Seperti berbagi kehangatan satu sama lain.

  Ah, dua orang yang sedang akrab memang pemandangan yang indah.

  Aku seakan tidak dipedulikan oleh mereka, jadi aku hanya bisa melihat perasaan "Yuri" ini dari jauh.

  Namun ada satu orang lagi, yang berada di sampingku sedang menonton kejadian itu.

  "Kalau Yukinoshita-san mau membantu, maka harusnya tidak akan ada masalah berarti."



  Kata-katanya memang sangat melegakan. Tetapi, perasaan percaya semacam inilah yang menyebabkan kekacauan di Festival Budaya.

  "Siapa yang tahu? Dia bukanlah manusia yang sempurna. Kita harusnya tidak terlalu mempercayai hal itu begitu saja."

  "Tidak apa-apa. Ada Yuigahama juga."

  Memang, melihat mereka berdua di depanku, bagaimana aku mengatakannya. Jika Yuigahama ada di samping Yukinoshita, maka seharusnya Yukinoshita tidak akan bekerja berlebihan. Akhirnya, jika Yukinoshita aman, harusnya Festival Olahraga akan berjalan dengan baik.

  "...Kalau begitu, baiklah."

  Mendengar balasan pendekku barusan, Meguri-senpai mendekatkan mulutnya ke telingaku. Dia berbicara dengan suara yang kecil seperti hendak memberitahuku sebuah rahasia.

  "Juga, kau pasti akan berada di sampingnya, bukan?"

  Suara Meguri-senpai menggelitik telingaku. Tubuhku seperti melemah ketika mencium bau wangi dari tubuhnya, lalu Meguri-senpai berjalan beberapa langkah dariku.

  Lalu, dia seperti menunggu jawabanku dengan senyumnya.

  "...Yeah, bukankah itu memang pekerjaanku?"

  Aku tidak mampu untuk menatap matanya, aku lalu mengalihkan pandanganku ke jendela. Meski begitu, aku mendengar suara tawa kecilnya di telingaku.

  "Oke! Kalau begitu sudah diputuskan!"

  Dengan sekali tepukan tangan, dia menarik perhatian seluruh orang di ruangan ini dan mengumumkan sesuatu.

  "Maka, selanjutnya adalah mengunjungi Sagami-san. Kupikir aku dan Yukinoshita saja cukup untuk berbicara dengannya?"

  "Cukup. Kita akan menemuinya besok."

  Yukinoshita menganggukkan kepalanya seperti setuju dengan ide Meguri-senpai.

  "Ah, aku juga ikut!"

  Yuigahama mengatakannya seperti bagian dari pekerjaannya. Kurasa, ini bukanlah masalah besar.

  "Kalau begitu, kita bertemu lagi besok. Aku mengandalkan kalian!"

  Dengan mengatakannya, Meguri-senpai membalikkan badannya dan bersiap untuk keluar dari ruangan klub, tetapi tampaknya dia hendak mengatakan sesuatu ke kami. Roknya seperti melambai-lambai ketika membalikkan badannya lagi.

  "Ngomong-ngomong, kalian semua berada di team yang mana nanti? Kalau tidak salah tiap kelas dibagi menjadi dua tim? Aku ingin mengetahui soal itu. Kalau aku, aku ada di tim merah."

  Dia mungkin peduli tentang ini karena dia menulis "Karena ini festival terakhirku, maka aku ingin menang." di e-mail tadi.

  Karena itu bukanlah semacam informasi pribadi, aku menjawabnya terlebih dahulu.

  "Merah."

  Setelah mengatakannya, aku menatap ke arah Yuigahama.

  "Merah."

  Yuigahama melihat ke arah Yukinoshita.

  "Merah."

  Yukinoshita melihat ke arah Meguri-senpai.

  Mendengar kata merah diucapkan berulang kali seperti memberinya kekuatan. Meguri-senpai terlihat puas dan mengepalkan tangannya untuk menyemangati dirinya.

  "Karena kita semua sama. Bagus! Mari kita berjuang untuk memperoleh kemenangan!!"

  Kita tidak membalasnya dengan semangat membara, malahan kita saling melihat satu sama lain. Kenapa orang ini seperti dirasuki semangat membara?

  Melihat tidak ada respon dari kita, Meguri-senpai menaikkan kepalan tangannya sekali lagi.

  "Mari kita lakukan yang terbaik!"

  Ah, ini dia. Ini sama persis seperti Raja di Dragon Quest 5 di kota Lenoire. Jika tidak ada orang yang menjawabnya maka akan terjebak di loop yang tiada akhir.

  Tampaknya Yuigahama menyadarinya, dan melihat ke arahku.

  "O, Ooooooo...."

  Entah mengapa, kami seperti sangat malu-malu melakukannya, baik Yuigahama dan diriku menaikkan kepalan tangan kita dengan rendah.

  Merasa puas dengan respon kita, Meguri-senpai meninggalkan ruangan klub.

  ....Entah aku harus mengatakan apa, ini adalah situasi yang aneh.







x Chapter II | END x



 

  











1 komentar:

  1. Pasti yukino berdebar debar waktu hachiman menghawatirkannya

    BalasHapus