Minggu, 27 September 2015

[ TRANSLATE ] Oregairu Vol 5 Chapter 4 : Dengan sangat menyesal, tidak ada yang tahu ujung dari benang merah milik Hiratsuka Shizuka



Kembali ke Chapter III

x Chapter IV x









  Apa makanan terbaik dari semua ini?

  Kare, shabu-shabu, sushi, soba, sukiyaki, tempura, yakiniku, atau manisan?

  Jawabannya: tidak ada dari semua itu.

  Kenapa? Karena ramen adalah yang terbaik dari semua itu.

  Ramen.

  Salah satu dari banyak makanan lezat yang menjadi pilihan utama para siswa SMA untuk menemani mereka.

  Apa yang kamu pikirkan ketika lapar? Ramen.

  Mampir sebentar ke restoran ramen sepulang sekolah? Masuk akal.

  Mampir sebentar setelah berbelanja? Masuk akal.

  Membuat sendiri ramen dan mencicipi kuahnya di tengah malam karena lapar? Masuk akal.

  Tetapi pergi ke restoran ramen sebagai pasangan kencan? Tidak masuk akal!

  Jangan banyak omong untuk mencari alasan! Apa kalian tidak sadar kalau kalian hanya memaksa orang untuk menemani kalian? Lakukan kegiatan seperti itu ketika berada di Starbuck. Jangan mengoceh tentang kegagalan cintamu di restoran ramen! Tolong, tolong pikirkanlah juga orang-orang yang harus berdiri di sampingmu dan mendengarkan cerita tersebut.

  Kau tahu ramen itu sebenarnya bagaimana? Itu adalah makanan yang harus dimakan sendirian.

  Kuahnya akan dingin dan mienya akan lembek jika kamu hanya mengobrol dari tadi.

  Ini menjelaskan kenapa "Sistem Rasa" di Ichiran    sistem dimana setiap tempat duduknya diberi sekat tebal dan kamu bisa melihat langsung dapur ramennya    sebuah penemuan besar dalam dunia ramen. Dulu, mereka sudah mengirimkan permohonan untuk mempatenkan ide itu, aku juga ingin tahu apakah mereka sudah mendapatkan paten untuk hal itu.

  Aku punya pemikiran lain.

  Dasarnya, ramen adalah makanan yang cocok dengan seseorang yang memiliki kasta sepertiku.

  Satu mangkuk besar yang menyembuhkan jiwa terhormat milikku yang menikmati isolasi dunia.

  Mereka menyebutnya, ramen.





*   *   *





  Aku melewatkan makan siangku karena aku bangun kesiangan, situasi yang sering terjadi di liburan musim panas ini.

  Karena aku bercita-cita sebagai suami rumahan, ini adalah momen bagus untuk membiasakanku membuat makanan sendiri di rumah.

  Orang-orang ini sungguh naif.

  Ibu rumah tangga sejati akan memberikan suami mereka 500 Yen untuk makan siangnya dan sisa uang suaminya mereka habiskan untuk makan makanan mewah untuk dirinya sendiri. Ini mungkin hanya penilaian sepihak dariku. Tetapi aku ingin menjadi suami rumahan yang seperti itu. Aku juga ingin memperoleh uang tunjangan setelah bercerai.

  Dengan cita-citaku yang ingin menjadi suami rumahan, maka aku mengikuti perilaku ibu rumah tangga itu dengan pergi keluar untuk makan siang yang mewah. Belakangan ini, aku punya banyak uang karena berhasil memanfaatkan selisih biaya bimbingan belajar yang kuikuti di musim panas ini. Bisa dibilang, aku seorang Alchemist dalam urusan perputaran uang kecil ini.

  Ayo kita cari ramen untuk makan siang hari ini! Setelah aku memutuskan apa yang akan kumakan, perutku sudah tidak mau menerima makanan lain selain yang kukatakan tadi.

  Chiba adalah rumah bagi masakan ramen yang kompetitif.

  Sebuah kompleks restoran ramen yang saling berkompetisi dapat kita jumpai di Stasiun Matsudo, Chiba, Tsudanuma, dan Motoyawata. Belakangan ini, ramen kelas B seperti Takeoka Ramen dan Katsuura Tantan Men berani membuka cabang di kompleks itu, membuat kompleks itu terkenal sebagai hot spot wajib.

  Kata-kata seperti "restoran yang semua orang tahu" adalah pengecualian bagiku. Jika ingin yang terbaik, kamu harus pergi keluar dan mencoba restoran satu dan lainnya secara langsung.

  Ketika kamu pergi dengan seseorang, kamu harus mencocokkan referensi tempat makanmu dengan mereka, membuatmu mengatakan "Hei, aku tahu tempat bagus, enak enggak? Fuhihi." Hal-hal seperti ini membuatmu tidak bisa pergi berkelana sebagai petualang ramen sejati.

  Dengan sendirian, kamu bisa masuk ke sebuah restoran ramen tanpa adanya pemikiran seperti itu. Sebuah semangat petualangan yang menuntunmu untuk menemkan dan mengembangkan jiwa kulinermu.

  Pada hari ini, aku sudah memutuskan untuk pergi ke restoran ramen di dekat rumah yang aku sendiri jarang pergi kesana. Seperti kata orang-orang "hal tersulit untuk dilihat adalah apa yang ada di bawah hidungmu sendiri". Maka dari itu, menutupi titik terlemahmu adalah strategi yang luar biasa. Ini kebalikan strategi psikologis dari logika orang Tokyo yang tidak pergi ke Tokyo Tower.

  Beberapa saat, aku menaiki bus untuk ke tempat yang kutuju.

  Setelah tiba di tujuanku, Stasiun Kaihin Makuhari, aku berjalan. Tidak ada yang kulakukan selain berjalan.

  Karena area ini adalah area dimana aku biasanya berjalan-jalan menghabiskan waktuku pulang dari sekolah, ada sebuah restoran yang memang ingin kucoba, restoran baru yang ingin kujelajahi.

  Angin kering yang menerpaku memang sangat mengganggu, tetapi ketika sudah melewatiku, suasana menyegarkan terasa di sekitarku.

  Area ini berdiri banyak sekali hotel-hotel mahal yang memiliki aula untuk pernikahan. Di salah satu aula itu, aku bisa melihat sebuah upacara pernikahan sedang digelar.

  Sebuah suasana yang gembira mendominasi sekitarku dan aku bisa mendengar suara-suara yang meneriakkan pemberkatan dari balik pagar ini.

  Ini sebenarnya pertama kalinya aku melihat sebuah pernikahan, jadi kuputuskan untuk melihatnya sebentar.

  Ketika aku lakukan, aku melihat kegembiraan yang bisa kukenali dalam sekali lihat. Tapi, hmm, entah mengapa aku melihat sebuah awan mendung di ujung penglihatanku.

  Aku mencoba mengocok mataku untuk melihat pemandangan itu lebih jelas.

  Sebuah sosok hitam dan satu-satunya orang yang mengeluarkan aura pecundang. Dan sekarang, sosok hitam itu sudah menyerap cahaya dari sekitarnya, bahkan mungkin menyerap cahaya matahari ini. Dengan aura kegembiraan yang seharusnya memenuhi tempat ini, ada satu area yang diselimuti aura dendam dan benci. Tidak lupa, sepertinya dia menggumamkan "Mati saja kau, aaamin..."

  Yeah, ini orang yang kukenal...

  "Kalau kamu berniat, kamu bisa cepat-cepat menikah."

  "Aku yakin kalau giliran selanjutnya adalah Shizuka-chan!"

  "Hei Shizuka-chan, aku punya kenalan pria yang baik. Aku yakin kalau kalian bisa cocok, mau coba ketemu dia?"

  "Shizuka. Ayah sudah menabungkan uangnya untuk diberikan ke cucu-cucunya kelak..."

  Setiap momen yang diterimanya, aura kegelapannya semakin bergetar.

  Ini seharusnya bukan sesuatu yang boleh kulihat. Aku memalingkan pandanganku dan mulai berjalan meninggalkan tempat itu seperti tidak pernah melihat apapun.

  Tetapi jangan lupa satu hal.

      Ketika kau menatap ke Neraka cukup lama, maka Neraka juga akan menatapmu...

  "Hi-Hikigaya!"

  Tiba-tiba, sosok hitam tersebut meneriakkan namaku.

  Kedua pengantin yang mendengarnya melihatku dengan tatapan curiga. Aku secara spontan membalikkan badanku. Dan kemudian mereka juga memalingkan pandangannya dariku. Apa-apaan ini? Apakah ini berarti orang tuanya juga hadir di tempat ini? Jadi satu-satunya pilihanku disini adalah bertanggung jawab dan menikahinya...?

  Sosok hitam itu berputar dari arah pasangan yang menikah dan mengatakan, "O-Oh, itu ada siswa nakal disana! Ada sesuatu dengan pekerjaanku, jadi aku akan pergi sekarang!"

  "Hikigaya! Kamu datang disaat yang tepat! Benar-benar penyelamat!" kata sosok hitam itu. Setelah kulihat lebih jelas, sosok hitam itu adalah seorang wanita cantik yang memakai gaun hitam. Dia lalu memegang tanganku dan kami meninggalkan area tersebut.

  "Huh? Tunggu dulu, maafkan saya..."

  Ketika ada seorang wanita cantik yang lebih tua darimu memegangi tanganmu, apa kamu ada pilihan lain selain pergi dengannya?

  Untuk sementara, kami berjalan meninggalkan area itu. Setelah belok di tikungan taman, kami akhirnya berhenti.

  "Phew...Tampaknya kita berhasil lolos..."

  "Um..."

  "Hm? Ahh, maafkan aku. Tiba-tiba menarikmu, ya?"

  Wanita yang cantik ini tersenyum dan menuntunku ke bangku taman. Dia lalu mengambil rokok dari tasnya.

  Ini sebuah sikap dari orang tua yang kontras dengan penampilannya.

  Dia menyalakan korek seharga 100Yen dan rokoknya menyala.

  Aku sepertinya kebingungan dengan sikapnya yang berbeda dengan penampilannya, tetapi aku tidak mungkin salah tentang dirinya.

  Hiratsuka Shizuka, Guru Pembina Klub Relawan.

  Ohh, jadi dia sebenarnya sangat cantik jika dia berniat berdandan...

  "Um, apakah tidak masalah kalau anda pergi begitu saja? Bukankah itu pesta pernikahan?"

  "Aku yakin mereka tidak keberatan. Aku sudah memberinya hadiah pernikahan dariku."

  "Bukankah biasanya ada pesta setelah itu atau semacamnya?"

  "Ada apa denganmu? Seperti peduli sekali, bukan begitu?"

  "Bukan, bukankah itu semacam acara penting, benar tidak?"

  "...Phew. Itu adalah pernikahan sepupuku, jadi mereka tidak membutuhkanku." Hiratsuka-sensei memalingkan pandangannya dengan rokok di mulutnya, dia juga menggumam. "Bukannya aku memang ingin hadir. Aku harus menghadapi sepupuku yang lebih muda dan pura-pura peduli dengan keadaanku, bibiku selalu menceritakan tentang pernikahan, dan orang tuaku yang berisik...Itu tidak sepadan dengan usahaku yang sudah berusaha memberikan ucapan dan hadiah selamat sementara orang-orang yang kukenal terus komplain akan diriku..."

  Dia lalu mengembuskan asap rokoknya dengan sangat lama, lalu tangan satunya menghancurkan kepulan asap itu.

  Tidak ada yang bisa kukatakan saat ini...

  Karena tiba-tiba suasana menjadi diam, Hiratsuka-sensei berusaha mengubah suasananya dan bertanya, "Jadi, apa yang kau lakukan disini?"

  "Saya sedang dalam perjalanan untuk makan ramen."

  "Ramen, huh? Kenapa aku tidak berpikir soal itu ya?" Hiratsuka-sensei mengatakannya dengan penuh energi. Matanya yang sebelumnya terlihat mati sekarang kembali hidup.

  "Persetan lah! Dengan semua masalah yang barusan kuhadapi, aku ternyata melewatkan makan siangku...Timing yang bagus, aku akan ikut denganmu."

  "Begitu ya, kupikir tidak masalah bagi saya."

  Baiklah, aku akan memimpin jalannya. Hiratsuka-sensei mengikuti dari belakangku, suara hak sepatunya membuat lantainya berbunyi. Sekali lagi, penampilan orang ini benar-benar modis! Lihat saja seberapa banyak orang-orang disini memperhatikannya!

  Ketika kami berjalan di jalan yang cukup lebar, tatapan dari semua orang menuju ke arah kami. Dengan tampilannya yang menarik, well, juga cantik dan sejenisnya, kamu tidak bisa melakukan yang lain kecuali melihatnya.

  Orang yang sedang kita bahas, meski begitu, tidak tampak kalau dia mempedulikan itu dan mulai mengatakan kepadaku secara normal. "Aku dengar kamu menolong seorang gadis muda kapan hari. Aku tidak berpikir kalau kamu melanjutkan pekerjaan rutinmu di Klub Relawan ketika liburan, aku cukup terkesan."

  "Sensei salah paham. Lagipula, Sensei tahu dari mana?"

  Ini cukup menakutkan bagiku, darimana dia tahu...

  "Aku diberitahu adikmu."

  "Sejak kapan kalian terlihat dekat...?"

  Pengaruh Komachi yang melibatkan semua kenalanku ternyata bukanlah sesuatu yang bisa kuanggap remeh.

  Bukankah ini semacam lingkaran ABCD sekarang? Apa aku harus khawatir? A untuk "a dumb girl" Yuigahama, B untuk "berserker" Hiratsuka-sensei, C untuk "cute Komachi!", dan D untuk "don't know" Kawa-sesuatu-san...

  "Dia adalah adik yang manis. Kadang-kadang, aku sempat berpikir akan bagus sekali kalau punya adik seperti dirinya. Oh, aku tidak bermaksud membahas hal yang lebih dalam atau semacamnya."

  "Tolong pertimbangkan selisih umur kalian, jika ada sesuatu yang buruk terjadi, kalian akan berakhir seperti Ibu dan anak, blah, blah..."

  "Hikigaya..."

  Sial, dia akan memukulku...Aku spontan saja menutup mataku dan mempersiapkan tubuhku.

  Tetapi sebuah pukulan tidak dilepaskan olehnya. Aku membuka kedua mataku karena penasaran, dan Hiratsuka-sensei terlihat depresi.

  "Becandaanmu mulai melukai seseorang..."

  "Ma-maafkan saya!"

  Siapa saja, cepatlah! Seseorang tolong secepatnya lamar dia! Jika tidak ada yang melakukannya, maka aku akan berakhir menjadi orang itu! Siapa saja tolong lakukan sesuatu untuknya.



*   *   *


  Meski mendekati akhir bulan Agustus, di luar masih terasa panas, dan kulitku mulai terasa digoreng oleh sinar matahari ini.

  Tetapi dengan adanya angin yang bertiup dari laut, aku masih merasakan dingin di tubuhku.

  Hal ini membuat orang-orang berdiri di luar pertokoan terlihat lebih nyaman daripada di dalam.

  Ini tampaknya akan memakan waktu sedikit lama sampai kita tiba di restoran tersebut, tetapi karena aku sangat pintar dalam membuang waktu, ini bukanlah masalah serius. Aku juga cukup ahli dalam mempermalukan orang lain seperti menekan gelembung plastik. Dengan segala keahlianku tadi, aku sebenarnya sudah mempersiapkan diriku dengan baik ketika aku masuk dalam sebuah komunitas sosial, dan aku akan menjadi pendatang baru terbaik. Tetapi karena mereka semua terlihat seperti pecundang, maka aku putuskan untuk tidak bekerja saja.

  Kadang aku sempat berpikir seperti ini: "Jika aku buka restoran ramen dan ada stasiun TV yang mendatangiku untuk wawancara, bagaimana aku harus menjawabnya?"

  ...Untuk saat ini, aku berencana untuk memperkenalkan teknik rahasiaku yang diturunkan turun-temurun, mencontoh "Tsubame Gaeshi" dimana aku secara cepat membuat mienya kering, secara horisontal dan vertikal. Setelah restoranku mulai populer, aku akan membuka sekolah restoran ramen, dan mengumpulkan uang dari orang-orang yang hendak lepas dari kehidupan karyawan dan mencoba bisnis secara mandiri.

 Ketika aku sedang memikirkan hal-hal tidak berguna itu, aku mendengar seseorang tertawa di sebelahku.

  "...Ada apa?"

  Aku menatap ke arah pemilik suara itu, Hiratsuka-sensei, sebuah tatapan penuh tanda tanya dan dia membuka mulutnya dengan senyum kecil. "Tidak ada, aku hanya sedikit terkejut. Aku sedang berpikir kalau kau ini sebenarnya tidak menyukai keramaian dan antrian."

  "Memang benar. Keramaian yang tidak terkendali, itu saja. Kalau soal antrian, saya suka antri dengan benar. Saya bukanlah seorang idiot yang suka memotong antrian."

  Sebenarnya, tidak ada yang buruk dengan antrian. Kupikir kebanyakan orang tidak suka antrian karena kalau tidak buang-buang waktu, bisa juga karena malas berdiri dan diam saja, atau bisa juga karena tidak bisa mengobrol dengan orang-orang sekitarnya. Kalau kita melihat cerita mistis tentang pasangan yang akan putus ketika pergi ke Destinyland, bukankah antrian-antrian atraksi disana bisa menyebabkan orang-orang itu merasa tertekan dan terganggu?

  Oleh karena itu, aku yang diberkati oleh banyaknya waktu luang tidak akan kebosanan karena aku punya kemampuan berpikir; sehingga secara otomatis akan aktif tanpa kusuruh. Hatiku yang sekeras baja tidak akan terganggu oleh sesuatu yang tidak penting seperti antrian.

  Untuk keramaian yang tidak terkendali, mereka seperti kumpulan pelanggar hukum dan orang-orang tidak berbudaya. Aku sendiri tidak mau melihat mereka berada di dekatku.

  "Kamu ternyata orangnya cukup bersih juga, ya?" Hiratsuka-sensei sepertinya terkejut mendengarkan balasanku.

  "Itu tidak benar. Saya sendiri tidak begitu bagus kalau soal bersih-bersih."

  Kamarku saja berantakan. 

  "Aku bukan membahas tentang kebersihan atau higinisnya dirimu, tetapi kebersihan secara etika. Tentunya, etika seperti itu sudah kamu miliki di dalam dirimu."

  "Apakah itu secara tidak langsung memanggil saya seorang yang mementingkan diri sendiri dan seorang bodoh yang egois?"

  "Sebenarnya aku sedang memujimu. Bagus kalau kau mengembangkan kemampuan dirimu untuk mengevaluasi sesuatu."

  Dia sepertinya sengaja menaruhku di posisi dimana aku dipuji. Maksudku, aku awalnya tidak bermaksud seperti itu. Aku memalingkan wajahku dan menggumam, "Saya benar-benar tidak suka orang-orang yang terlalu ramai..."

  Orang-orang yang seperti itu bukanlah orang-orang dimana aku ingin terlibat. Aku tidak ingin berubah menjadi orang yang munafik.

  "Tampaknya kamu tidak berniat menghadiri Festival Kembang Api ya?"

  Hiratsuka-sensei memotong begitu saja.

  "Festival Kembang Api?"

  "Yeah. Tahu tidak? Yang diselenggarakan secara besar-besaran dekat menara pelabuhan. Kamu tidak mau lihat?"

  Ketika dia membicarakan itu, aku baru saja sadar. Itu adalah Festival Kembang Api yang diadakan di menara dekat pelabuhan. Itu adalah tradisi di Chiba. Aku pernah kesana ketika kecil. Tetapi waktu itu, perhatianku lebih banyak ke stand-stand penjualan daripada kembang apinya sendiri.

  Tetapi tinggal di daerah sini berarti kamu setidaknya pernah melihat kembang api yang ditembakkan dari stadion itu, sial, Destinyland saja menembakkan kembang api sepanjang tahun, jadi kupikir itu tidak terlalu istimewa.

  "Saya tidak ada rencana untuk pergi kesana, bagaimana dengan Sensei?" tanyaku.

  Dia lalu mengembuskan napasnya dengan panjang. "Kau bisa katakan kalau itu adalah pekerjaanku selama liburan musim panas. Lebih tepatnya, aku akan melihat orang-orang daripada kembang apinya..."

  Aku menatapnya dengan harapan dia menjelaskan apa maksud kata-katanya tadi.

  "Aku diberikan tanggung jawab untuk mengawasi sejumlah siswa. Termasuk ketika acara kembang api dan sejenisnya. Tetapi mereka bilang kalau pekerjaan ini memang harus dilakukan oleh anak muda. Ya ampun, mau bagaimana lagi, hahaha. Lagipula, aku masih muda."

  "Kenapa Sensei terlihat gembira sekali?"

  Hiratsuka-sensei terlihat gembira dan melanjutkan begitu saja kata-katanya seperti tidak mendengarkan kata-kataku barusan. "Kalau ada siswa-siswa sekolah kita berulah, maka itu akan menjadi masalah. Karena itu adalah event tahunan milik kota, dan juga akan dihadiri banyak undangan VIP."

  "VIP?"

  "Ya, keluarga dari Yukinoshita harusnya hadir disana nantinya."

  Memang benar, keluarga dari Yukinoshita bisa dibilang selebritis lokal dan keluarga yang terpandang. Keluarga mereka adalah anggota DPRD dan memiliki banyak bisnis di daerah sini. Bisa jadi mereka juga terlibat dalam penyelenggaraan eventnya. Kalau begitu, sudah hal lumrah kalau mereka diundang.

  "Ngomong-ngomong soal keluarga Yukinoshita, apa Haruno-san alumni SMA kita?"

  "Hm? Ahh. Benar sekali. Kalau tidak salah dia lulus ketika kamu diterima disini. Dia adalah alumni SMA Sobu. Aku cukup mengingatnya dengan baik."

  Kalau dia lulus ketika aku diterima disini, artinya usia kami berjarak 3 tahun. Berarti Haruno-san kalau tidak 19 tahun ya 20 tahun. Dia lulus 2 tahun lalu, ya...

  "Ngomong-ngomong soal dia, nilai-nilainya merupakan yang terbaik dan dia selalu menjalankan semua tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Dan kalau dilihat dari penampilannya, dia kurang lebih dianggap sebagai Dewi oleh siswa-siswa SMA Sobu waktu itu."

  Tampaknya, cerita dari Sensei terlihat berbeda dari apa yang kurasakan secara langsung. Dia lebih mirip penyihir daripada Dewi.

  "Tetapi," kata Hiratsuka-sensei, berhenti sejenak. Dengan ekspresi yang kurang senang, dia melanjutkan. "Dia bukanlah siswa yang patut diteladani."

  "Apa terjadi sesuatu?"

  "Dia memang siswa top. Tetapi top hanya karena nilai-nilainya saja di pelajaran. Dia nakal di kelas, pakaiannya sering melanggar peraturan, dan dia selalu saja muncul di festival SMA. Bisa kaukatakan kalau dia adalah gadis yang suka jalan-jalan. Tetapi karena itu juga, dia punya banyak sekali teman."

      Ahh, bisa kubayangkan itu. Seseorang yang banyak warna dan seegois dirinya, sifatnya yang seperti itulah yang membuat orang tertarik kepadanya.

  "Tentunya, itu hanyalah..." dia lalu menghentikan kata-katanya.

  Aku melanjutkan kalimatnya. "Itu hanya tampilan luarnya saja, benar?"

  "Hoh, jadi kamu tahu juga ya?" Hiratsuka-sensei terlihat terkesan.

  "Saya bisa tahu hanya dengan melihatnya sekilas."

  "Skill pengamatanmu sangat mengagumkan."

  Ya seperti itulah.

  "Tetapi, pintar menampilkan tampilan luarnya adalah salah satu daya pikat dari Haruno. Orang-orang yang sadar dengan tampilannya sejak awal pasti akan penasaran tentang dirinya yang sebenarnya."

  "Apakah Sensei sebut hal semacam itu sejenis karisma?" kataku.

  Hiratsuka-sensei mengangguk. "Ketika dia menjadi Ketua Panitia Festival Budaya, kita memiliki partisipasi yang sangat besar dari para siswa. Tidak hanya para siswa, bahkan para staff dan guru juga dilibatkan...Dia juga memaksaku untuk bermain bass untuk bandnya."

  Sensei terlihat menggerutu, mengingat sesuatu yang kurang menyenangkan. Ngomong-ngomong, gaya rambutnya memang mirip seorang pemain bass. Kupikir salah satu karakter dari anime K-ON atau semacamnya...

  "Tetapi adiknya terlihat jauh berbeda."

  Hiratsuka-sensei mengangguk, menyilangkan lengannya dan berpikir. "Benar sekali...Tetapi aku tidak ingin melihatnya menjadi seperti Haruno. Dia hanya perlu menjadi dirinya sendiri dan fokus pada kelebihan yang dimilikinya."

  "Kelebihan?"

  "Dulu pernah kukatakan, kalau dia orangnya baik dan menyukai kebenaran?"

  Dulu, Sensei memang pernah mengatakan kalau Yukinoshita Yukino orangnya seperti itu. Yang terpenting, dia juga mengatakan kalau sulit baginya hidup seperti itu karena sosial sekitar tidak sebaik itu dan tidak menyukai kebenaran.

  Yukinoshita memang sebuah kata kebenaran yang besar. Untuk pertanyaan apakah dia baik atau tidak, aku sendiri agak ragu, tetapi kau bisa katakan kalau dia tidak bisa kita katakan baik hanya karena kita tidak pernah melihatnya bersikap lembut.

  Aku tidak masalah dia bersikap tidak lembut kepadaku karena dia memang sudah mengacaukan diriku sejak awal. Apakah itu bisa dikatakan salah satu kebaikan dirinya? Tidak, terima kasih...

  Oh benar, orang ini pastinya berpikir hal yang sama denganku...Ketika aku menatap ke arah Sensei, dia menatapku dengan tatapan yang hangat. "Kamu juga sama sepertinya."

  Dia tersenyum kepadaku, tetapi aku bertanya kepadanya tentang maksud kata-katanya.

  "Apanya yang sama?"

  "Kamu juga baik dan menyukai kebenaran, kecuali kebaikan dan kebenaranmu tidak cocok dengan milik Yukinoshita."

  Ini pertama kalinya aku diberitahu sesuatu semacam itu. Tetapi aku tidak merasa senang atau semacamnya. Lagipula, aku selalu percaya dengan kebaikan dan kebenaran yang aku percayai. O-oleh karena itu, i-ini bukannya aku senang atau semacamnya yah, dikatakan memiliki hal yang sama dengannya!

  "Bukankah kebenaran yang berbeda adalah sebuah kontradiksi? Sensei pernah menonton apa yang pernah Conan katakan, 'kebenarannya hanya ada satu!'"

  "Sayangnya, aku lebih suka Future Boy Conan, bukan yang Detektif Conan," Hiratsuka-sensei menjawabnya dengan tersenyum sementara aku memalingkan wajahku karena malu-malu.

  Sebenarnya, orang ini usianya berapa..sih?





*   *   *



  Ketika kami sudah tiba di restorannya, kami membeli tiket makan dari mesin tiket.

  Aku menunjukkan mentalku tentang "wanita lebih dulu" dan mempersilakan Sensei memilih lebih dulu. Ketika kamu pergi ke sebuah tempat yang berbahaya atau tempat yang terlihat asing bagimu, kamu bisa pastikan keselamatannya dengan membiarkan wanitanya yang maju dulu!

  Hiratsuka-sensei menekan tombol menunya seperti tanpa berpikir. Dia cukup macho dan bisa-bisa membuatku jatuh cinta padanya. Setelah membeli tiketnya, dia membalikkan badannya dengan memegang dompet di tangannya. Um, bisakah anda minggir sebentar?

  "Kamu mau pesan apa?"

  Jangan bilang kalau dia mau mentraktirku? Sekarang aku ingin memanggilnya Saudara besar. Meskipun aku sendiri berterima kasih atas tawarannya, tampaknya aku tidak pantas menerima hal semacam ini.

  "Ti-tidak, saya bisa membayar sendiri."

  "Tidak usah pura-pura merendah."

  "Bukan, maksud saya, Sensei tidak punya alasan untuk mentraktir saya." kataku.

  Sensei memiringkan kepalanya karena penasaran. "Hm? Aku selama ini beranggapan kalau kamu adalah sejenis sampah busuk yang akan berpikir kalau normal bila wanita yang membayar untukmu..."

  Buruk sekali anggapannya tentang diriku...

  "Itu hanyalah parasit yang memanfaatkan orang lain...Apa yang saya inginkan adalah menjadi suami rumahan!"

  "Kupikir keduanya adalah hal yang sama..."

  Hiratsuka-sensei tampak kebingungan, tetapi aku juga tidak tahu perbedaannya dengan jelas. Tapi begini, menjadi suami rumahan tampaknya terdengar lebih baik daripada dikatakan parasit, bukan? Ngomong-ngomong, seorang guru membayar makanan siswa-siswa tertentu terdengar bukan hal yang bagus bagiku. Aku menolak tawarannya mungkin adalah hal yang bagus.

  Sama dengan pilihannya, aku memilih Tonkatsu. Sensei menyerahkan tiketnya kepadaku seperti menyetujui pendapatku, lalu kuserahkan ke konter dan segera mencari tempat duduk.

  "Tolong yang Kona-otoshi."
  [Note: Kona otoshi adalah keadaan mie ramen yang kekerasannya mienya hanya diencerkan dengan air mendidih saja. Umumnya, cukup untuk membuang tepung yang menempel di mienya. Biasanya juga disajikan dalam keadaan kuah mendidih.]

  "Ah, aku akan pilih hari-gane kalau begitu," kataku. Apa para wanita biasanya memesan seperti ini jika di restoran ramen?
[Note: hari-gane adalah keadaan mie ramen yang agak keras. Seperti jika kita memasak mie instan, ada keadaan mienya terlalu lunak, sedang, ataupun masih sedikit keras.]

  Tetapi jelas ada sebuah pesona tertentu ketika melihat sebuah kecantikan yang berada di restoran ramen.

  Kita seperti sedang menjadi pusat perhatian, tetapi Hiratsuka-sensei tampaknya tidak begitu mempedulikan hal itu dan mempersiapkan celemek kertasnya dengan wajah antusias. Setelah itu, dia terlihat membetulkan posisi merica, wijen, daun mustard, dan jahe merah. Hey, serius ini? Wanita ini tampaknya terlalu antusias untuk makan ramen!

  Mereka dengan cepat mengantarkan pesanan ramen kita, tampaknya tidak membutuhkan waktu lama untuk mematangkan pesanan mie kita.

  Hiratsuka-sensei mengambil sumpit kayu dan menaruhnya di kedua tangannya bersamaan. "Terima kasih atas makanannya."

  "Terima kasih atas makanannya."

  Pertama, kuahnya. Sebuah minyak menyelimuti permukaan ramen dan terlihat mulus seperti porselen putih, terlihat sangat creamy. Sayurannya mencegah aromanya pergi dengan mudah dan sup tonkatsunya terlihat tebal dan padat.
[Note: Tonkatsu adalah daging babi potong. Biasanya juga dijadikan teman untuk memakan ramen. Entah dipisah sendiri, ataupun sudah dicampurkan menjadi satu.]

  Selanjutnya, mienya. Kuahnya terlihat padat, lalu mienya terlihat tipis dan lurus. Keseimbangan antara tekstur mienya ketika dikunyah terasa enak.

  "Yep, lezat sekali."

  Kami berdua menunjukkan ekspresi sederhana kami lalu memakan mienya. Tekstur jamur kuping yang gurih dan daun bawang membuat rasanya terasa indah. Suasana ini kami lalui dengan sunyi.

  Ketika Hiratsuka-sensei memesan lagi satu porsi mie ramen, dia lalu berkata kepadaku. "Soal pembicaraan kita sebelumnya..."

  "Ya?"

  "Mengenai isi pembicaraan ketika kita membicarakan tentang bersihnya dirimu."

  Ketika mienya tiba, dia menambahkan daun mustard. Dia merasa antusias ketika mencampurkan bumbu-bumbu itu, lalu tersenyum. "Aku percaya kalau suatu hari nanti akan tiba saatnya dimana itu akan menjadi hal yang bisa diterima."

  "Begitu ya..." aku meresponnya sambil memberikan bawang yang dimintanya.

  "Seperti ramen ini." Hiratsuka-sensei secara bangga menunjukkan Shizuka Ramen Special dan melanjutkannya. "Ketika masih muda, kamu berpikir kalau Tonkatsu ramen adalah yang terbaik dan lemaknya yang paling lezat. Kamu tidak bisa menerima apapun, kecuali sup kotteri, tetapi ketika kamu sudah dewasa, kamu mulai menerima ramen dengan garam dan ramen dengan saus kedelai."
[Note: Kotteri itu semacam lemak padat yang terasa gurih.]

  "Bukankah itu kata lainnya 'menjadi tua'...?"

  "Tolong ulangi lagi?"

  "Tidak, tidak ada..."

  Dia menatapku dengan jijik.

  Hiratsuka-sensei tampak sedih untuk sejenak, tetapi tiba-tiba dia merasa santai. "Ya, itu memang terdengar tidak masalah...Itu tidak masalah jika kamu tidak mau mengakui itu. Jika suatu hari kamu mengakuinya, maka kurasa itu sudah cukup."

  Mungkin, dia sudah mengerti tentang masalahku selama ini dan semua kesalahpahaman yang kualami. Meski begitu, dia tidak mau mengatakan jawabannya kepadaku tentang maksud sebenarnya dari kata-katanya. Meski bagi diriku saat ini, aku tidak bisa menjawab apapun.

  "Tentunya, tidak semuanya akan diterima. Aku membenci tomat, jadi aku masih tidak suka mie dengan tomat hingga saat ini."

  "Jadi anda tidak suka tomat..."

  "Memang, aku tidak terbiasa dengan sensasinya yang lembek dan baunya yang khas."

  Apa dia anak kecil? Tetapi aku bisa memahami rasanya. Rasa lengket dari tomat mungkin setara dengan sebuah penyiksaan bagi yang membencinya.

  "Aku juga membenci timun dengan alasan yang sama."

  "Saya tidak suka timun juga..."

  "Masalahnya dengan timun adalah ketika kamu menyebarnya ke seluruh salad kentang ataupun sandwich, rasanya berubah total menjadi rasa timun..."

  Sebenarnya tidak masalah menambahkan timun ke sup miso. Tetapi sebaiknya menghindari timun yang segar. Momen ketika mereka dipotong-potong itu seperti menunjukkan cakarnya...Mereka akan membunuh semua rasa di makanan dan membuatnya berasa seperti timun. Lagipula, kandungan nutrisinya tidak sebanyak yang kau kira, mereka lebih mirip predator dari dunia sayuran.

  "Tapi, aku menyukai sayuran yang diasamkan..." Hiratsuka-sensei mengatakan hal yang sama dengan apa yang kusukai.

  "Saya juga menyukainya seperti anda juga."

  Yep, itu benar sekali. Sayuran yang diasamkan terasa enak. Mereka sangat menyegarkan.

  "....."

  Pembicaraan tiba-tiba mendadak sunyi. Aku melihat ke arah Hiratsuka-sensei karena penasaran dan dia memalingkan wajahnya. Ketika kedua mata kami bertemu, dia tiba-tiba meminum air di gelasnya dengan tiba-tiba.

  "Ah, m-maksudmu tentang sayuran yang diasamkan. Benar, aku juga menyukainya."

  "...Um, cukup memalukan jika anda mengatakannya dengan aneh seperti itu. Tolong hentikan..."

  "A-aku tidak tahu apa yang kau maksud!? Lagipula...Memangnya aku memikirkan hal apa tadi, menurutmu?"

  Apa orang ini baik-baik saja? Mungkin kamu harus melatih otakmu dengan belajar menghitung 10x10. Ayo kita cegah penuaan otak! Aku sendiri tidak bisa mengingat apa yang sedang kita obrolkan kecuali tentang timun tadi.

  Suasana hati Sensei tampaknya berubah menjadi baik kembali dan dia mengambil sumpitnya. "Ini, ambil potongan daging milikku."

  "Terima kasih. Aku akan memberikan rebung milikku, kalau begitu."

  "Fufu, terima kasih."

  "Saya hanya mempertimbangkan umur dan kondisi anda, jadi anda harus banyak-banyak mengkonsumsi serat."

  "Jangan mengatakan hal yang tidak perlu."

  "Ouch." Aku menggosok kepalaku setelah dia memukulku ketika aku memakan ramenku.

  Tampak puas dengan rasa dari restoran ini, Hiratsuka-sensei tersenyum. "Karena kamu sudah memberitahuku restoran ramen yang enak ini, kurasa aku perlu menunjukkan beberapa restoran favoritku kepadamu."

  "Memangnya anda punya restoran yang bisa direkomendasikan?"

  "Jelas ada. Dulu ketika aku masih SMA, aku sengaja berpetualang untuk mencoba seluruh restoran ramen di Chiba. Tetapi mungkin akan terdengar aneh bagi seorang siswa dan guru untuk pergi bersama terlalu sering. Jadi ketika sudah lulus, akan kuajak kamu kesana."

  "Oh tidak, tidak perlu, saya tidak memerlukan anda untuk kesana, anda tinggal beritahu saja arahnya kepada    "

  Crack.

  Meskipun suara restorannya cukup bising, aku bisa mendengar suaranya secara jelas.

  "Oops, sumpitnya patah."

  "Maksud saya tadi, tolong beritahu lokasinya nanti kita bisa pergi bersama..."

  Aku sangat yakin kalau sumpitnya tadi tidak patah begitu saja...

  "Begitu ya. Kalau begitu sampai jumpa nanti setelah lulus."

  Hiratsuka-sensei tampaknya sedang menikmati suasana ini.

  Sebenarnya tidak terlalu buruk kalau memakan ramen dengan seseorang. Apakah kamu sendirian atau dengan seseorang, ramen tetaplah lezat.

  Tanpa ada sedikitpun keraguan, makanan paling enak dari semua makanan adalah ramen. Tidak ada yang boleh menolak hal itu.







x Chapter IV | END x
Menuju Chapter V




  Sepertinya, Hachiman sendiri merupakan versi masa muda dari Hiratsuka Shizuka. Tidak heran jika di vol 9 chapter 5, Sensei mengatakan kalau apa yang sedang terjadi dengan Hachiman waktu itu, merupakan pengalamannya semasa muda dulu.

  ...

  Haruno adalah siswa dengan nilai akademis terbaik di SMA Sobu pada jamannya. Tapi, Haruno sendiri nakal dan suka melanggar aturan. Ini seperti menjelaskan bagaimana situasi keluarga Haruno sendiri, sikap nakalnya bisa jadi sebuah pelarian.

  ...

  Di Jepang sana, ada semacam anggapan kalau Guru berpacaran atau berkencan dengan siswanya bisa menjadi skandal memalukan yang merusak pendidikan. Oleh karena itu, Hiratsuka-sensei tidak bisa sering-sering mengajak Hachiman bersama-sama, dan memilihnya setelah lulus SMA.

  ...

  Hachiman dan Yukino, orang yang sama tapi berbeda. Dasar inilah yang dipakai Hachiman dalam monolognya di volume 6 chapter 10 sebelum mengajak Yukino berteman kembali.

  Juga, kata-kata Sensei ini dipakai oleh Watari sendiri dalam salah satu afterwordsnya di volume-volume mendatang untuk menggambarkan situasi Hachiman dan Yukino.

  ...

  Sensei adalah gadis wanita pertama yang pergi makan ramen bersama Hachiman. Kedua adalah Yukino di vol 7 chapter 6. Ketiga, adalah Isshiki Iroha di vol 10.5 chapter 2.

1 komentar:

  1. Abis baca chaper ini gue jadi pengen makan ramen njer.

    BalasHapus