Selasa, 22 September 2015

[ TRANSLATE ] Oregairu Vol 6.5 Chapter 4 : Meski begitu, tidak ada kemajuan dalam festival mereka

 

*   *   *








  Sepulang sekolah, tepatnya beberapa hari setelah Zaimokuza menyatakan perang terhadap Ebina.

  Ada suasana aneh yang menyelimuti ruang rapat Panitia Festival Olahraga.

 Akhirnya, momen dimana mereka menunjukkan kemampuannya telah tiba.

  Di timur, Zaimokuza Yoshiteru.

  Di barat, Ebina Hina.

  Seorang otaku sampah vs Fujoshi dengan mimpi homo high spec. Ini seperti berada di sebuah pertandingan impian dalam sebuah mimpi buruk.

  Karena pertandingan yang tidak diduga ini, kita membuat beberapa persiapan di ruang konferensi.  Seperti menaruh layar di depan, menyalakan proyektor, memeriksa koneksi masing-masing laptop, dan memeriksa kelengkapan proyektor.

  Di tengah-tengah persiapan, Hiratsuka-sensei melihat kami dari belakang dan berbicara dengan penuh emosi.

  "Oh? Powerpoint? Anak SMA jaman sekarang memang sudah pintar menggunakan teknologi."

  "Bukannya PPT sudah sering digunakan?  Kita tidak bisa melihat jelas apa yang tertulis dalam sebuah kertas."

  Mendengar jawaban Yuigahama, Hiratsuka-sensei tersenyum kecut.

  "Bukan begitu, dulu saya ketika masih menjadi siswa SMA masih memakai OHP."

  "...OHP? Singkatan apa itu?"

  Yukinoshita memiringkan kepalanya mendengar singkatan yang kurang familiar.

  Oleh karena itu, senyum Hiratsuka-sensei bertambah kecut.

  "Tidak ada apa-apa. Tidak perlu khawatir. Cepat, lanjutkan pekerjaannya."

  Ketika dia mengatakannya, dia kembali duduk ke kursinya.

  "Begitu ya...Jadi tidak ada orang yang tahu, anak muda jaman sekarang ... "

  Hiratsuka-sensei mengatakannya dengan suara yang pelan seperti tidak ingin didengar orang lain. Tidak apa-apa! Aku tahu apa OHP itu!

  Biar kujelaskan, OHP bukanlah OPP dalam kata OPPAI, tetapi kependekan dari Overhead Projector. Kau harus menggunakan spidol dan mencoret sesuatu di sebuah kertas plastik transparan, dan OHP memproyeksikan gambar di kertas tersebut. Bisa jadi masih ada beberapa SD yang menggunakannya saat ini. Aku sendiri, sudah samar-samar jika ditanya tentang OHP itu sendiri.

  Akhirnya, persiapan presentasi ini telah selesai.

  Setelah memeriksa pointer lasernya berfungsi apa tidak, Yukinoshita memanggil Meguri-senpai untuk menyatakan kesiapan alat tersebut.

  "Meguri-senpai, pekerjaan kami sudah selesai."

  "Terima kasih."

  Setelah menjawabnya dengan senyuman, dia memalingkan pandangannya ke Sagami.

  "Kalau begitu, mari kita mulai....Sagami-san?"

  "Ya, itu, benar sekali..."

  Suara Sagami terdengar bergetar. Mungkin dia seperti sedang mempersiapkan mentalnya untuk memimpin rapat ini. Jika kausuruh aku untuk menggambarkan ekspresinya, mungkin bisa kukatakan ekspresinya lebih kepada sebuah ketakutan daripada gugup.

  Meski begitu, kurasa kurang tepat kalau mengatakan Sagami takut karena posisinya sebagai Ketua Panitia, lebih tepatnya dia ketakutan karena ada Ebina yang super enerjik di sampingnya.

  "Kalau begitu...Hina-chan dan...kamu, aku mengandalkan kalian berdua..."

  "Serahkan padaku!"

  "Yahooo!"

  Keduanya berdiri dan memiliki ekspresi gugup bercampur antusiasme yang tinggi, lalu menuju layar. Mereka melihat satu sama lain, terlihat senyum provokatif di wajahnya.

  Akhirnya, tirai pertarungan ini diangkat lebar-lebar.








*   *   *







  Yang membuatku terkejut, Zaimokuza memulai lebih dulu presentasinya.

 Biasanya, orang yang beraksi lebih dulu dalam sebuah duel, akan kalah...Biasanya sering terjadi dalam manga memasak.

  "RUFUN!"

  Zaimokuza berdiri di depan layar dan sesekali terbatuk.

   Merendahkan kepalanya untuk membungkuk, dia mulai mengoperasikan laptopnya dan menunjukkan hasil pekerjaannya dalam powerpoint. Judulnya adalah "Proposal Game Festival Olahraga" yang terlihat normal-normal saja. Selain font tulisannya yang terlihat seperti kaligrafi, tidak ada yang special dari judulnya.

  Simple is Best! Dan frase tersebut sering dibuat alasan untuk mangkir dari kerja. Aku juga salah satu orang yang suka menggunakan frase tersebut.

  Sekarang, apa yang bisa ditampilkan oleh title sederhana ini? Para peserta rapat seperti sedang menantikannya sambil menahan napasnya.

  Bahkan aku sendiri bisa mendengar suara nyamuk sedang terbang di dekatku. Ini terlalu sunyi, semua orang sedang menatap ke depan.

  Meski begitu, Zaimokuza tidak tampak hendak memulainya dalam waktu dekat.

  "...  ...   ...   ... adalah."

  Zaimokuza menarik napasnya dalam-dalam, membungkuk sekali lagi dan mundur.

 Eh?! Apa dia sudah selesai?!

  Jangan bilang kalau suara nyamuk yang kudengar tadi sebenarnya adalah suara Zaimokuza?!

  "Dia tidak bisa mengatakan apapun karena terlalu gugup."

  Yukinoshita tampaknya menganalisa situasinya dengan baik.

  Well, mungkin sebenarnya dia memang tidak terbiasa untuk presentasi seperti ini. Faktanya, bahkan sangat jarang siswa seperti kami mendapat kesempatan untuk presentasi sendirian di depan orang banyak.

  "Hikki."

  Aku tahu maksud Yuigahama itu. Karena yang mengundangnya adalah kami, bahkan orang itu adalah Zaimokuza, kita memang seharusnya memberi bantuan kepadanya hingga berakhir. 'Untuk bisa melihat apa yang benar dan salah, diperlukan sebuah keberanian'. Sebuah kalimat tua yang sangat bagus untuk situasi ini.

  "Aku?....Sebenarnya aku sudah mengira kalau akhirnya aku yang disuruh membantunya. Kupikir memang tidak ada cara lain..."

  Bagaimana tidak depresi? Satu-satunya orang yang bisa berkomunikasi dengan Zaimokuza adalah diriku.

  Aku mengembuskan napas pendekku dan berdiri, lalu aku mencoba berbicara ke Zaimokuza yang berdiri di sana seperti batu.

  "Zaimokuza, kubantu kau kali ini, ayo lakukan sekali lagi."

  "...Fu, FUMU. Ba-baiklah."

  Mungkin dia sudah tenang sekarang, dan dia terlihat kembali ke dirinya yang dulu.

  "Ayo, segera mulai..."

  Aku mengangguk ke arahnya dan memulai powerpointnya.

  "Tolong lihat detail proposal di tangan anda. Disitu tertulis 'Pertempuran Kavaleri Warga Chiba'. Eh tunggu dulu, apa-apaan ini?"

  Aku secara spontan melihat ke arah Zaimokuza. Zaimokuza nampaknya sudah siap untuk menjawabnya, mengibaskan tangannya ke arahku dan memanggilku dengan suara keras.

  "Pertempuran Kavaleri Warga Chiba atau kita singkaaaaat, CHIBASEN!!!!"

  Mungkin aku tidak akan panik kalau dia katakan singkatannya saja sejak awal.

  "Tapi tidak menarik ucapanku tadi, jadi...Apa-apaan ini?"

  "Ahem. Dahulu kala, ada sebuah pertempuran antara Klan Hojo dan Klan Satomi di Chiba. Ini adalah sebuah permainan yang didasari oleh sejarah kota kita."

  "Kupikir tempat ini masih berupa bibir pantai dan semak belukar ketika waktu itu. Jadi, seperti apa permainannya?"

  Mengikuti instruksi Zaimokuza, aku berusaha menekan tombol enter untuk menuju slide selanjutnya tetapi tanganku dihentikan oleh Zaimokuza.

  "Ah, tidak, tunggu Hachiman! Kamu tahu, ini agak memalukan! Slidenya belum sepenuhnya siap! Hanya separuh siap, hanya beberapa gambar yang kupotong kasar! Seperti gambar-gambar yang jelek untuk dilihat! Itu mungkin belum layak ditampilkan!"

  Ketika berusaha menghentikanku dengan penjelasan tersebut, dia tidak sengaja mendorong tanganku dan menekan tombol enter.

  "HOGEEEEEEEE."

  Mengikuti keterkejutannya, sebuah gambar yang seperti habis di photoshop terlihat di layar. Seperti foto pertempuran kavaleri biasa, dengan memakai armor dan menaiki semacam barang-barang. Ini seperti hasil cut foto lain dan paste lewat paint, kualitasnya sangat rendah dan terlihat seperti dilakukan oleh seorang idiot.

  Dengan semua mata menatap, Zaimokuza sekarang menjadi beku kembali seperti awal presentasi. Sementara itu, aku lanjutkan saja slideshownya.

  "Eh. Meskipun aturannya mirip pertempuran kavaleri, kemenangannya ditentukan oleh beberapa Jendral yang sedang bercosplay, dan point didapatkan jika ada setiap Jendral dari masing-masing kubu dikalahkan. Meski begitu, tidak seperti pertempuran kavaleri biasanya, kita harus bermain strategi, dan secara visual akan lebih menarik...Wow, aturannya ternyata sederhana sekali."

  Aku membaca begitu saja peraturannya tanpa membaca kata-kata penutup yang tertulis 'Badai romansa di Taisho Sakura (LOl)'. Jujur saja, aku juga terkejut kalau dia sebegitu seriusnya sampai menulis seperti ini.

  "Jadi, jadi bagaimana?"

  Zaimokuza nampaknya sedang menunggu komentar positif tentang idenya.

  "Sederhana, mudah dimengerti, terutama gambarnya."

  Meguri-senpai mengangguk sambil mengatakan "un." Sepertinya gambar idiot tadi cukup meyakinkan proposal yang dibuatnya. Mengikuti tepuk tangan dari Meguri-senpai, suara tepuk tangan mulai menyebar dan diikuti oleh peserta rapat lainnya.

  Zaimokuza tampak terkejut dengan tepuk tangan tersebut, matanya melihat ke seluruh sudut, dan seperti dipenuhi keterkejutan.

  "Ha, Hachiman, itu artinya apa...?"

  "Artinya idemu tidak buruk. Kerja bagus."

  Aku menepuk bahu Zaimokuza dan mulai kembali ke kursiku.

 "DIU, DIUFU."

  Karena dihargai sedemikian tingginya, Zaimokuza tertawa dengan puas. Lalu peserta rapat berhenti tepuk tangan dan mulai berbisik satu sama lain dengan kata-kata 'apa-apaan itu, menjijikkan!'.

  Sebenarnya lebih bagus kalau kamu tidak tertawa setelah presentasi tadi.









*   *   *







  Setelah presentasi Zaimokuza, sekarang tiba giliran Ebina-san.

  Seperti yang kuduga dari Ebina-san yang berpengalaman mempresentasikan Sang Pangeran Kecil, dan juga member dari grup kasta teratas di sekolah ini, dia mulai presentasinya dengan santai.

  "Eh, aku punya ide seperti ini."

  Ebina-san menekan tombol enter dan slide power point mulai muncul.

  Di awal powerpoint, ada tulisan 'Botaoshi'.

  Ternyata ini terlihat normal-normal saja...Kalau melihat ini adalah ide dari Ebina-san...

  "Inti dari permainan ini, adalah eksistensi dari Jendralnya. Meski itu terlihat sekilas sama dengan presentasi sebelumnya, ini lebih terfokus pada karisma seseorang daripada pertempuran strategi."

  Tanpa melihat ke arahku yang sedang menatapnya curiga, Ebina-san melanjutkan penjelasannya. Gadis ini memang memiliki spec yang tinggi. Dari kreativitas dan kepemimpinan, dia punya semuanya. Dia memang batu permata yang langka.

  "Terpopuler dari semua siswa sekolah ini, kita punya Ketua Klub Sepakbola Hayama Hayato-kun. Dengan memposisikan dirinya sebagai Jendral di lomba Botaoshi ini, kita bisa menarik perhatian semua orang."

  Lalu dengan menekan tombol enter, slide berganti. Yang muncul selanjutnya adalah sebuah foto wajah Hayama yang menebarkan senyumnya yang hangat. Apa-apaan ini!

  Meskipun aku terlihat mulai khawatir, para gadis yang merupakan panitia di ruangan ini berteriak histeris. Ternyata ini super efektif!

  "Tampaknya akan menjadi lomba yang menarik!"

  Ternyata itu super efektif ke Sagami, yang terlihat sangat menyukai idenya.

  Kalau begini, aku bisa katakan kalau gadis lainnya pasti memiliki reaksi yang sama. Sebenarnya tidak ada masalah dengan ide Ebina-san kali ini. Jika memang berniat menyukseskan festivalnya, maka kita memang harus memilih seseorang yang punya kemampuan menarik massa untuk berduyun-duyun melihat lombanya, jadi ini memang bisa membayar ekspektasi orang-orang atas festival itu. Ide Ebina-san memang brillian.

  Meski begitu, tampaknya ide ini punya sebuah kekurangan, karena wajah Ebina-san terlihat penuh rasa cemas.

  "Tetapi, Hayato-kun pasti berada di tim putih. Maka harus ada orang-orang di tim merah yang menjadi Jendralnya pula. Eh, apakah ada orang yang cocok untuk memerankannya?"

  Ebina-san melihat ke arah Ketua Sagami.

  "Aku tidak tahu, apa yang harus kita lakukan..."

  Sagami menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu Meguri-senpai berbicara dengan lantang ke peserta rapat.

  "Apakah ada yang bersedia di tim merah? Atau bisa juga ada rekomendasi orang yang cocok untuk itu?"

  Orang-orang mulai saling menyebutkan tim mereka di Festival Olahraga. Meskipun begitu, tidak ada satupun dari mereka yang memberikan nama untuk posisi itu. Meguri-senpai berpikir sejenak dan mengatakan "Ah!".

  "Yukinoshita-san dan anggota Klubnya semuanya di tim merah, apa kamu punya ide siapa yang cocok menjadi kandidatnya?"

  "Eh!! Hikitani-kun tim merah?!"

  Ebina-san langsung melakukan upper cut terhadap info yang barusan dia dengar. Sederhananya, dia memang menginginkanku di posisi itu.

  "Kalau begitu, posisi itu harus diisi Hikitani-kun! Jendral musuh baik merah dan putih sudah terpilih hari ini!"

  Tidak, aku tidak akan melakukannya, aku pasti tidak akan melakukannya.

  "FUMU. Hachiman, jadi kamu ada di tim merah?"

  Ini artinya dia juga berada di tim merah...Maka sebaiknya kita jadikan saja dia Jendralnya. Meskipun aku sebenarnya berpikir begini, tampaknya mereka akan menolaknya jika Jendralnya adalah orang yang tidak bisa menyamai popularitas Hayama. Tetapi kalau dipikir dari popularitas negatif, berarti diriku ini termasuk dalam konsep tersebut???

  Tentunya, dengan alasan yang sama, aku tidak mau dipilih menjadi Jendral. Orang itu harus punya popularitas setara dengan Hayama, yang artinya mampu menarik antusiasme penonton, dan juga mampu menerima support dari penonton.

  Tampaknya, semua yang kupikirkan ini hanya akan sia-sia karena Ebina-san sudah masuk Fujoshi-mode dan seperti hendak mengamuk.

  "Ngomong-ngomong. Ebina Ebina akan menjelaskan secara blak-blakan keterkejutan dan kesenangan yang diperolehnya. Yaitu tim putih memiliki tiang Hayato-kun, dan tim merah memiliki tiang Hikitani-kun, BUHA!"

  Ebina-san seperti hendak menjatuhkan kepalanya dan berhenti bergerak. Melihat situasi berbahaya tersebut, Meguri-senpai menganggukkan kepalanya ke Pengurus OSIS. Seketika, para pengurus OSIS langsung membawa Ebina-san dengan memegangi tangannya dan mengantarnya keluar. Cara dia dibawa keluar mirip insiden Roswel yang menghebohkan itu.

  Aku harus memanfaatkan momen ini untuk mengubah ide kalau aku adalah Jendral tim merah. Sebenarnya, meskipun aku tidak mengatakannya, aku sangat yakin kalau yang lain juga akan keberatan kalau aku jadi Jendralnya.

  "Aku masih punya pekerjaan di Panitia Festival, jadi aku tidak bisa melakukannya. Tolong carikan orang lain yang cocok untuk ini." 

  "Un..........Itu benar, dan kita juga belum memilih apakah menyetujui proposalnya atau tidak."

  Meguri-senpai menganggukkan kepalanya.

  "Sagami-san, bagaimana kalau kita lakukan voting saja?"

  "Oke. Kalau begitu, siapa yang setuju dengan Kibasen?"

  Beberapa tangan disana dan disini terlihat naik ke atas.

  "Lalu, selanjutnya, siapa yang setuju dengan Botaoshi?"

  Ketika Sagami mengatakannya, dia juga menaikkan tangannya. Pada saat ini juga, jumlah tangan yang naik ke atas tidak jauh berbeda dengan sebelumnya.

  Meski terlihat ketat, Butaoshi tampaknya mendapatkan suara yang sedikit lebih banyak. Kupikir tidak terlalu mengejutkan karena lomba tersebut akan membuat Hayama berpartisipasi menyukseskan festivalnya.

  Yukinoshita, Yuigahama, dan diriku tidak menaikkan tangan kami kepada kedua opsi tersebut. Bagi kami, yang terpenting adalah memberikan idenya, tidak memilih yang mana yang terbaik.

  "Kurang lebih sama..."

  Meguri-senpai mengatakannya setelah menghitung tangan-tangan yang diangkat.

  Sebenarnya tidak masalah jika Botaoshi terpilih. Lomba tersebut lebih mudah diterima karena mayoritas siswa ingin melihatnya. Sedangkan suara minoritas tidak perlu dihitung, bahkan mungkin tidak tega untuk ditolak.
  
  "Kalau begitu, siswa laki-laki yang akan melaksanakan Botaoshi..."

  Sagami tampaknya memutuskannya begitu saja tanpa memikirkannya lebih dalam.

  "Bisakah kita membuat Kibasen menjadi lomba bagi siswa perempuan?"

  "Oh! Aku paham sekarang."

  Meguri-senpai menerima idenya sambil menepuk tangannya. Lalu, dia melihat ke arah Hiratsuka-sensei. Hiratsuka-sensei menganggukkan kepalanya.

  Mungkin saja dia sedang tidak ingin mencari masalah hari ini, dia memberikan respon seperlunya, tetapi bisa jadi juga karena dia tidak melihat adanya masalah di lomba-lomba yang diusulkan hari ini.

  Menerima respon darinya, Meguri-senpai mengembalikannya ke peserta rapat.

  "Bagaimana dengan kalian semua?"

  Hmm, keputusan yang cukup logis, karena tiap lomba mendapatkan suara yang mencapai jumlah separuh peserta rapat hari ini. Sedang pertanyaan Meguri-senpai barusan tidak mendapatkan penolakan dari peserta rapat.

  Aku tidak berpikir kalau ada sesuatu yang salah dalam keputusan ini.  Melihat konsep dan kreativitasnya, sebenarnya Botaoshi juga tidak begitu buruk. Kulihat beberapa pimpinan rapat yang berasal dari Pengurus OSIS juga menyetujuinya.

  Tetapi, respon peserta rapat lainnya memang terlalu lambat.

  Tampaknya, suasana ruangan ini menjadi semacam ujian selanjutnya bagi Panitia Festival.

  Bisik-bisik seperti suara cacing mulai terdengar. "Pssst, pssst."

  Suasana ini juga dirasakan oleh Yukinoshita dan Yuigahama, yang nampaknya juga sensitif terhadap hal ini.

  "..."

  Yukinoshita  menajamkan tatapannya dan mencari tahu sumber gangguan ini. Meskipun Sagami belum menyadarinya, tetapi suasana ini memang memburuk dari sebelumnya.

  "Kalau begitu, karena tidak ada yang keberatan, maka diputuskan kalau para gadis akan mengikuti lomba Kibasen. Sekarang mari kita putuskan pembagian pekerjaan kita."

  Karena sarannya disetujui, dia merasa senang sekali.

  "Detail pelaksanaan programnya sekarang akan didistribusikan. Tolong tuliskan posisi pekerjaan yang ingin kalian pilih di sampul depannya."

  Sagami memberikan instruksinya. Dan kemudian para Pengurus OSIS mulai membagikan kertasnya. Sekarang yang harus dilakukan peserta rapat ini adalah berpikir, dan mengisi formulirnya.

  "Kamu akan bekerja di bagian administrasi di hari H,  pekerjaannya tidak begitu sulit, jadi tidak perlu khawatir."

  "Ya. Sekarang, mari kita bagi dulu pekerjaannya menurut departemennya."

  Yukinoshita menganggukkan kepalanya dan seperti setuju dengan Pimpinan Panitia lainnya.

  "Un, ya kita harus."

  "Ah, kalau begitu Sagamin juga..."

  Yuigahama mencari keberadaan Sagami.

  Karena kita semua berada dalam satu ruangan, harusnya tidak begitu sulit untuk mencarinya.

  Dan kemudian, aku melihat itu.

  "Apa yang harus kita lakukan tentang orang yang menjadi penanggung jawabnya? Aku berharap kalau aku diserahi tanggung jawab di Botaoshi. Hey Yukko, kalian berdua kesini!"

  Sagami berada di samping Haruka dan Yukko saat ini. Mereka orang yang selalu bersama-sama ketika berada di Kepanitiaan Festival Budaya. Tidak heran mereka bersedia datang ke sini untuknya.

  Tetapi, jarak diantara mereka tampaknya sedikit berbeda kali ini.

  Haruka dan Yukko saling menatap satu sama lain, seperti memberikan sinyal, mereka mengatakan kata-kata yang mirip.

  "Soal itu, kami..."

  "Kami harus menghadiri kegiatan klub dan juga pekerjaan ini sepertinya berat sekali, jadi..."

  Tampaknya aku melihat sebuah jarak yang memisahkan mereka, Sagami tampak terkejut mendengarnya. Lalu dia tersenyum.

  "Eh...Eh? Apakah kegiatan ini terlihat tidak menyenangkan?"

  Ketika Sagami selesai mengatakannya, keduanya menolak secara halus seperti sudah mempersiapkan kata-katanya sejak tadi.

  "Un, memang benar, tetapi kita kan masih harus hadir rapat dan kegiatan lainnya."

  "Waktu luang kami sepertinya hampir tidak ada untuk pekerjaan ini. Jadi, kegiatan besar ini seperti agak..."

  "Ah, meski begitu, Sagami-chan harusnya tidak masalah dengan itu, kamu kan tinggal lakukan apa yang kamu ingin lakukan disini."

  Sagami sepertinya kehilangan sesuatu. Mereka sepertinya menggunakan alasan klub untuk menghindarinya, dan dengan ekspresi final yang seakan mempedulikan Sagami, mereka segera mengakhiri topiknya dengan paksa.

  Cara mereka menyelesaikannya mirip dengan cara bermain catur Shogi.

  "Be-Begitu ya. Sayang sekali!"

  Sagami tersenyum ceria seperti merasa tidak apa-apa ditinggal oleh mereka.

  "Maaf ya!"

  Sebaliknya, keduanya terlihat meminta maaf dan seperti peduli dengan perasaannya.

  Dan akhirnya, pembicaraan ketiganya berakhir.

  Setelah itu, Yuigahama berjalan ke arah Sagami untuk membicarakan sesuatu.

  "Oh, Sagamin. Saatnya bekerja."

  "Ah, umm. Baiklah, aku akan segera kesana."

  Sagami melambaikan tangannya dan kembali ke kursi Pimpinan Panitia, dan dimulailah diskusi kami.

  "Ho, Hachiman. Apa yang harus kulakukan?"

  "Eh, ah, kamu masih disini ternyata? Kamu bisa pulang sekarang."

  Aku terperanjat mendengar Zaimokuza berbicara denganku. Atau tepatnya, Ngapain kamu masih disini?

  "Tidak, kupikir akan lebih aman kalau dia tetap disini."

  "Benarkah? Aku tidak berpikir kalau kita membutuhkannya. Ah, begitu ya? Kita bisa memanfaatkannya sebagai penghangat ruangan?"

  Aku tidak merasa kalau dia berguna untuk saat ini. Ketika aku selesai berbicara, Yuigahama tampaknya berusaha menahan napasnya.

  "Tampaknya ruangan ini mulai sulit untukku bernapas dengan lega."

  "Hah..."

  Yukinoshita mengembuskan napasnya seperti kehilangan kata-kata.

  "Kalian, apakah kalian lupa? Kita masih perlu beberapa detail penting tentang Kibasen, jadi akan lebih baik kalau orang yang mengusulkan kegiatan itu masih ada di ruangan ini."

  "Ah, ternyata begitu maksudnya."

  Kalau begitu, apakah Ebina-san berada di ruangan ini tidak apa-apa? Tempat ini bisa berubah menjadi Area51 jika dia ada disini.

  Ketika Sagami kembali ke kursinya, Pimpinan Panitia memulai lagi rapatnya.

  Mereka menekankan kalau pekerjaannya harus tuntas, dan juga memberikannya ke orang yang yang dirasa tepat.  Selain itu, hal-hal semacam penanggung jawab di lomba-lomba yang lain bisa dipilih berdasarkan voting.

  Namun  masalahnya ada di tempat lain, seperti tempat perawatan medis dan siaran lomba. Juga ada masalah sebelum lomba, yaitu mendekorasi lapangan. Ini bukanlah hal dimana Pimpinan Panitia bisa lakukan sendirian, dan satu-satunya solusi adalah menggerakkan massa untuk mendekorasinya.

  Meguri-senpai yang berpengalaman dalam hal itu menjelaskannya ke ke pimpinan. Sagami terlihat mengangguk mendengarnya.

  "Lalu, yang kita butuhkan adalah..."

  "Untuk lomba utama yang melibatkan seluruh siswa, memerlukan pergerakan massa secara besar-besaran. Dalam hal ini, bisakah kita menggerakkan seluruh siswa dan siswi untuk berpartisipasi?"

  "Ah, itu harusnya memungkinkan."

  Karena kata-kata Yukinoshita tadi, aku melihat Sagami tiba-tiba berdiri. Orang-orang yang ditunjuk untuk mempersiapkan arenanya juga memiliki kegiatan Klub, sehingga mereka mungkin perlu dijelaskan volume pekerjaan yang harus mereka kerjakan.

  "Maaf ya....Kita perlu setiap orang untuk berpartisipasi di persiapan lomba utamanya. Jadi tolong bantuannya juga selain pekerjaan yang sudah kalian terima hari ini."

  Tiba-tiba suasana menjadi tegang ketika Sagami mengatakan kata-katanya tadi. Tidak ada suara keberatan, bisa jadi itu karena kurangnya motivasi.

  Diantara mereka, ada beberapa orang yang juga menghentikan pekerjaannya dan terdiam.

  Mereka adalah dua orang yang ditemui oleh Sagami sebelumnya, Haruka dan Yukko. Mereka tampak sedang berbisik satu sama lain, dan menganggukkan kepalanya seperti mengkonfirmasi sesuatu.

  Mereka berdua akhirnya maju satu langkah ke depan.

  "Soal itu, Sagami-chan. Kami keberatan."

  Meskipun aku tidak paham apa yang mereka inginkan, tetapi kalimat mereka mulai mempengaruhi peserta rapat lainnya.

  "Eh..."

  Sagami sepertinya tidak mampu mengatakan apapun setelah ditolak oleh mereka. Tampaknya dia sendiri tidak paham apa yang hendak mereka katakan. Meski begitu, sebenarnya, mungkin tidak ada satupun yang paham apa yang mereka inginkan.

  "Kalau memang pada akhirnya semua orang dipaksa untuk berpartisipasi, sebenarnya kehadiran perwakilan Klub disini tidak terlalu berguna..."

  Mendengarkan orang yang berbeda mengatakannya, wajah Sagami berubah.

  "Eh, tetapi, bukankah ini yang sudah kita putuskan bersama...Benar tidak?"

  "Meski begitu, setiap orang punya kegiatan Klub masing-masing...Dan kami masih diberikan tanggung jawab pekerjaan panitia dan semacam itu..."

  "Persiapannya sendiri akan menghabiskan banyak waktu. Bebannya sangat berat dan mengganggu."

  Dengan keduanya mengatakan hal seperti itu, Sagami hanya terdiam mendengarkannya.

  Sebagian Panitia merupakan perwakilan dari Klub Olahraga. Mereka pastinya tidak bisa sehati dan satu pikiran dengan Pimpinan Panitia, yang mayoritas Pengurus OSIS.

  Meguri-senpai juga terlihat kesulitan mengatasi ini.

  "Meskipun ini memang adalah masalah yang besar, bisakah aku meminta bantuan kalian secara pribadi?"

  Mendengarkan kata-katanya yang memohon, juga fakta kalau itu adalah permintaan langsung dari Ketua OSIS, Haruka dan Yukko memalingkan pandangannya dan terdiam. Meski begitu, tidak ada tanda-tanda dari mereka kalau mereka menyerah begitu saja.

  Meguri-senpai hanya bisa tersenyum kecut saja melihat sikap mereka yang keras kepala.

  Perbedaan level kepentingan mereka sangat jelas.

  Karena permintaan berasal dari Pimpinan Panitia, bagi mereka terdengar seperti sebuah perintah yang memaksa. Dan ini menjadi masalah ketika sistem yang menjelaskan rantai komando di kepanitiaan ini belum disepakati bersama.

  Ini adalah kesalahan yang terjadi karena kita kurang terstruktur.

  Jika ini bukanlah masalah sebuah sistem, tetapi tepatnya ini adalah masalah sebuah rasa saling percaya, maka peluang untuk menerima permintaannya bisa dikatakan tinggi. Dan kupikir inilah cara yang dipakai Meguri-senpai dan Ketua OSIS sebelumnya untuk meyakinkan orang.

  Meski begitu, tidak ada rasa saling percaya antara Sagami dan keduanya. Tidak, tepatnya, rasa saling percaya itu sudah hilang.

  Ketiganya berada di pihak yang sama ketika Festival Budaya, dan mereka bisa dikatakan dekat satu sama lain. Tetapi, di Festival Olahraga, mereka berada di posisi yang berbeda, mereka bisa melihat perbedaan antara beban di Klub masing-masing dan pekerjaan ini.

  Karma memang ada.

  Bisik-bisik tentang Sagami mulai menyebar di ruangan ini. Dan keduanya merupakan penanggung jawab bisik-bisik tersebut. Tentang bagaimana Sagami tidak peka melihat situasi yang sedang terjadi mulai ramai dan terasa mengganggu.

  Sekarang, apa yang ditahan sejak lama...kini dilepaskan.

  "Mari kita sudahi dulu kegiatannya!"

  Suara yang keras dan menusuk.

  Ketika aku melihat arah suara itu, aku melihat Hiratsuka-sensei berdiri dan membuka pintu ruangan dengan emosi.

  "Ini sudah mulai malam, kita bubar dahulu dan lanjutkan lain hari."

  Para Pimpinan Panitia dan yang lainnya, meskipun memiliki posisi yang berbeda, tetapi mereka tetaplah seorang siswa, tidak kurang tidak lebih. Jika seseorang yang memiliki kekuasaan lebih tinggi telah bersuara, maka tidak ada yang bisa dilakukan lagi.

  Satu-satunya orang yang bisa menghentikan semua kekacauan ini adalah Hiratsuka-sensei.

  Haruka dan Yukko saling melihat satu sama lain, mengambil tas mereka dan berlari meninggalkan ruangan rapat. Mengikuti langkah mereka, para Panitia yang lain juga ikut meninggalkan ruangan.

  Hanya Pimpinan Panitia yang tetap berada di ruangan, dimana terdiri dari Pengurus OSIS, kami, dan Sagami.

  "Shiromeguri, bisakah kamu kesini?"

  "Ya..."

  Mendengar request Hiratsuka-sensei, Meguri-senpai berjalan menuju pintu ruangan menemui Sensei.

  Ruangan ini sekarang terlihat sunyi.

  Sagami yang dari tadi hanya berdiam diri, langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi terdekatnya.

  Sinar matahari yang mulai memudar itu, kini menyinari ruang rapat ini.

  Menatap ke arah sinar matahari yang mulai tenggelam itu, Sagami hanya duduk terdiam dan menutup kedua matanya.







x Chapter IV | END x


  
  
  
  
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar