Senin, 22 Februari 2016

[ TRANSLATE ] Oregairu Volume T Chapter 2 : Pada akhirnya, tidak ada kejelasan tentang hubungan diantara Yukinoshita bersaudara



x x x










  Ketika kami sampai di eskalator, aku mencoba melepaskan tanganku dari Haruno-san yangg memegangi tanganku sejak tadi.

  “Jadi kita akan kemana?” tanyaku.

  Meski pertanyaannya sangat sederhana, tetap membuatku merasakan perasaan yang aneh. Mungkin karena dia menarikku sejak tadi sehingga kata-kata yang dia bisikkan tadi masih terdengar di telingaku. Oleh karena itu, aku tidak bisa melihat ke arah wajahnya sambil menanyakan pertanyaan itu. Aku hanya mengikuti kemana suara dari hentakan sepatunya. Haruno-san kemudian berhenti berjalan dan menoleh ke arahku. Melihatku dengan serius lalu tersenyum.

  “Hmm? Bukankah sudah kukatakan tadi kalau kita akan pergi berbelanja.”

  “Tidak, kau belum memberitahuku sama sekali.”

  Kau hanya bilang kita akan berkencan! Kencan! Para gadis, tolong jangan mempermainkan hati pria sederhana sepertiku. Meski, apapun yang Haruno-san katakan sebelumnya, tidak akan mengubah apapun. Bahkan sekarang dia tidak mendengarkanku sama sekali, berjalan terus ke depan sambil menggumamkan nada-nada lagu dan akhirnya ke eskalator. Lalu dia membalikkan badannya; lipatan roknya terlihat sedikit berkibar. Akupun bisa menahan diriku dan Haruno-san mengatakan sesuatu kepadaku.

  “Tokonya ada di bawah lantai ini. Aku sudah memutuskan akan membeli apa, jadi tidak akan memakan banyak waktu,” Haruno-san memberitahuku dengan senyum yang misterius. Kalau melihat tampilan dan sifatnya, aku tidak pernah berpikir kalau gadis ini berumur lebih tua dariku. Yang kutahu dia adalah tipe gadis dimana kau harusnya tidak boleh lengah sedikitpun, tapi kalau terus melihat senyumnya itu, aku merasa kalau kewaspadaanku terus berkurang sedikit demi sedikit.

  “Well, sebenarnya aku tidak ada masalah dengan itu...” jawabku, sambil berdiri di belakang Haruno-san. Kami kemudian turun ke lantai bawah. Haruno-san keluar dari eskalator dan langsung berjalan lurus ke depan. Tempat ini sangat ramai karena ada Sale Tahun Baru, tapi Haruno-san bisa berjalan dengan lega melewati keramaian ini. Dia ini sebenarnya siapa, Nabi Musa? Meski sebenarnya aku paham mengapa mereka memberinya jalan. Jika aku bertemu gadis seperti itu, aku akan membukakan jalan untuknya. Atau mungkin mereka terpesona oleh auranya. Tapi tidak dengan diriku: Aku pernah melihat kegelapan dalam dirinya. Kecantikan adalah salah satu metode untuk mempengaruhi orang, atau lebih tepatnya mengintimidasi. Tambahkan sedikit rasa percaya diri, dan kau akan punya cambuk iblis yang berasal dari sayap harimau. Semua orang akan langsung menyingkir dari jalannya.

  Mungkin ini alasan mengapa Yukinoshita Haruno terlihat selalu sendirian. Meski dia memang punya teman. Yeah, aku baru ingat kalau ketika pertemuan pertama kami, dia sedang berjalan-jalan dengan temannya, dan ketika kami bertemu di kafe donat, dia sedang menunggu temannya. Hiratsuka-sensei, mantan gurunya di SMA, juga pernah memberitahuku kalau dia punya banyak teman di sekolah. Meski begitu...

  Aku ingin menyimpulkan dirinya lebih dalam lagi. Dia punya wajah yang cantik, otak yang pintar, tidak lupa juga tentang status keluarganya...Dia bisa memperoleh apapun yang diinginkan oleh manusia meskipun sendirian...Itu seperti impianku selama ini. Hal yang sama terlihat dari gaya hidup Yukinoshita Yukino yang pernah kulihat beberapa waktu lalu. Karena itulah, mungkin, Haruno-san yang kulihat selama ini hanyalah ilusi belaka. Karena ketika dia merasa sendirian, dia tidak bisa dengan bebas lari dari kesendiriannya. Sikapnya terhadap Yukinoshita Yukino adalah bukti dari hal itu. Aku bisa ingat dirinya yang dengan keras kepala menekan redial nomor Yukinoshita, atau bagaimana dirinya hanya mempermainkan Yukinoshita selama ini. Tidak ada keraguan soal itu: Haruno-san tidak bisa melewatkan begitu saja eksistensi dari Yukinoshita. Buktinya, dia selalu ingin dekat dengan Yukinoshita, meski, dia tidak bisa kabur dari kesendiriannya. Tentunya, aku tidak tahu apa alasan dia yang sebenarnya.  Sikapnya ini terlalu kuat untuk bisa dikatakan hanya sekedar cinta kepada saudara sendiri ataupun kerabat dekat.

  Aku punya adik perempuan juga, tapi aku tidak akan sebegitu jauhnya untuk menjahilinya atau menunjukkan betapa aku mencintainya...Hmm...Sebenarnya aku bersedia sih. Aku sering melakukannya. Aku sering mengganggunya ketika berada di rumah, mengawasi betul proses belajarnya hingga ujian dan menyingkirkan serangga-serangga yang berusaha mendekatinya. Itu adalah sikap yang normal bagi seorang kakak laki-laki kepada adiknya. Tapi, apakah itu juga berlaku ke kakak perempuan juga? Apakah itu artinya sikap Haruno-san itu normal-normal saja? Itulah yang terpikirkan olehku sambil mengikuti Haruno-san. Tiba-tiba dia berhenti.

  “Yang ini,”

  Haruno-san menunjuk ke salah satu toko. Barang-barang di toko itu terlihat imut dan berwarna ceria...Toko ini terlihat mencolok meskipun di lantai ini memang dikhususkan untuk barang-barang wanita. Aku mencoba melihat dari luar, disana ada pakaian rumahan dan aksesoris untuk berenang. Kulihat lebih jauh ada kaos kaki, selimut, peralatan mandi dan gaun, bandana...Desain mereka seperti es krim dan manisan-manisan. Hanya pelanggan wanita yang terlihat di dalamnya. Melihat hal itu, tampaknya pria sepertiku harusnya tidak masuk ke dalam.

  “Umm, aku akan menunggu disini saja,” kataku sambil menyeka keringat di keningku. Haruno-san tersenyum.

  “Hei!” dia mendorongku masuk.

  Dua langkah berlalu dan aku sudah masuk di dalam. Aaagh! Sebentar lagi akan ada karyawan yang datang kepadaku dan bertanya dengan wajah serius, “apa anda mencari sesuatu?”, dan menakut-nakutiku dengan senyumnya yang dipaksakan. Aku akan membalasnya dengan “tidak, tidak ada” dengan meniru gaya dari beberapa aktor film, aku mulai berkeringat dan membenci diriku sendiri. Lalu si karyawan akan menyadari keningku yang berkeringat dan berkata “Ya Tuhan, kau sangat basah sekali! Apakah ruangannya terlalu panas?”; kata-kata tersebut dibuat dari 80% jijik dan 20%peduli, dia akan memberiku tissu. Aku bahkan mulai berkeringat memikirkan hal tersebut. Kuharap si karyawan langsung saja memberiku Bufferin (semacam obat penahan sakit) daripada rasa pedulinya.

  Tapi itu hanya berlaku kepada pria, lebih spesifik lagi adalah pria yang hidup dalam bayang-bayang. Kalau wanita, masalahnya berbeda. Ini adalah lantai mereka, jadi tidak perlu malu berada disini. Pria yang punya pacar dan terbiasa dengan benda-benda disini tidak akan merasa asing juga.

  Haruno-san dengan percaya diri mulai berjalan lebih jauh ke dalam toko tersebut, seperti tahu harus kemana. Aku hanya mengikutinya dengan mataku sambil mengeluarkan suara seperti singa laut. Atau mungkin suara-suara manusia jaman dahulu kala, dimana aku harus belajar lagi tentang tata bahasa dan penulisan kata yang lebih baik.

  Haruno-san mungkin menyadari keanehan diriku yang masih ragu untuk mengikutinya. Dia lalu membalikkan badannya kepadaku seperti paham apa yang terjadi.

  “Jangan khawatir, mereka disini juga menjual pakaian pria,” katanya, setelah itu dia berdiri di sampingku dan menyeretku lebih jauh. Well, kalau dia sampai segitunya, aku tidak bisa terlihat menjadi penakut seperti ini. Tidak lupa kalau bersentuhan tangan dengan Haruno-san terlihat sangat memalukan bagiku. Kuusir semua keraguan itu dan mengikuti arah langkahnya.

  Pengunjung disini hanya wanita...Ya Tuhan. Aku lalu menyalakan mode tidak terlihat. Haruno-san tampaknya mencari sesuatu yang spesifik sambil menggumamkan nada lagu. Mengambil beberapa baju dan menaruhnya di depan dadanya, lalu dia menoleh ke arahku.

  “Hei, lihat ini, kainnya sangat tebal,” dia mengatakan itu sambil tersenyum. Itu membuatku terkejut: Haruno-san terlihat sangat childish dan lugu.

  “Well, bahannya memang begitu.”

  Kami berkeliling di toko tersebut dan bertukar kata-kata seperti tadi. Aku masih belum terbiasa di toko ini, jadi aku bergerak secara pelan dan perlahan. Tapi Haruno-san yang berjarak setengah langkah ada di belakangku terdengar terus berbicara. Jadi aku tidak merasakan ketidaknyamanan. Asal tahu saja ya, aku masih merasa tidak nyaman bersama Haruno-san! Meskipun aku sangat senang karena para karyawan toko dan pelanggan disini tidak memperhatikanku dengan tatapan mereka.

  Kami akhirnya tiba di sudut toko yang menjual aneka barang. Haruno-san tiba-tiba mengambil salah satu dari barang tersebut.

  “Hei, lihat, ini untuk pria.”

  Di tangannya terdapat seperti piyama abu-abu bergaris dengan tudung. Ujung dari tudung piyama tersebut ada semacam pompons, jadi piyama ini terlihat seperti sangat imut. Akupun mencoba melihatnya lebih dekat. Aku tidak sengaja melihat tulisan harganya, dan mengejutkanku.

  “Whoah, mahalnya!”

  Akupun memeriksa harganya sekali lagi. Lalu, kuperiksa sekali lagi. Ini hanya piyama, mengapa harganya bisa lima digit begini? Di musim panas, kau bisa tidur hanya memakai celana pendek dan kaos oblong, dan di musim dingin kau bisa memakai sweater dan dotera (kimono lipat untuk pria)...Aku hanya terdiam disana, terkejut oleh yang namanya ‘Dunia Fashion’; Haruno-san lalu tertawa melihatku.

  “Yeah, kau kan pria, para pria memang tidak tertarik kepada hal-hal semacam ini. Tapi review tentang toko ini memang bagus. Bagaimana kalau kau mencobanya sebentar?”

  “Well...”

  Aku mengatakannya dengan nada kurang senang setelah membayangkan diriku berada dalam piyama imut ini. Mustahil aku akan cocok memakainya. Meski itu hanya piyama, itu adalah pakaian yang harusnya tidak ditunjukkan ke orang lain, jadi cocok atau tidak kepada diriku bukanlah masalahnya. Ada satu masalah lagi, yang ini benar-benar serius.

  Aku bisa merasakan kalau kesadaran dari seseorang yang berasal dari kelas 2 SMA sedang berteriak di dalam diriku. Jika begini terus, para gadis akan mulai melirikku, dan aku akan terlihat sebagai pria populer! Buruk sekali! Ini sangat buruk! Para gadis pasti punya pengetahuan mumpuni tentang merk baju-baju ini. Kurasa ekspresi tidak menyenangkan dariku ini tertangkap oleh Haruno-san, karena dia terlihat sedang tersenyum ke arahku.

  “Hikigaya-kun, kau tidak berusaha menyembunyikan rasa jijikmu di momen seperti ini. Aku sangat terkesan.”

  “Aku ini orangnya jujur.”

  “Kalau begitu, sama denganku.”

  Haruno-san menyerang balik kata-kataku tanpa memberiku waktu untuk bernapas. Akupun melihat ke arahnya: Senyum yang mempesona terlihat di wajahnya.

  “Pakaian yang berpasangan terlihat menarik, bagaimana pendapatmu?” dia membisikkan itu dengan gaya yang menggoda ke telingaku.

  Napasnya yang hangat mulai merayap di telingaku. Aku paham kalau dia hanya sekedar menggodaku, tapi pipiku ini masih terasa panas. Aku bahkan tidak berani untuk melihat ke wajahnya. Merasa puas dengan reaksiku, dia lalu berjalan di belakangku.

  “Aku akan ambil pakaian yang berpasangan untuk Yukino-chan dan diriku,” dia menambahkan itu sambil menyanyikan lagu. Akupun bernapas lega.

  “Kupikir kau sebagai kakaknya akan terlihat cocok memakai pakaian yang berpasangan itu daripada diriku.”

  “Kalau terlalu menarik itu juga tidak bagus, efeknya bisa menjadi terbalik. Aku ini sudah menarik dari sananya,”

  Haruno-san menjawabnya dengan ironis, seperti sudah menduga seperti apa reaksiku. Ini hanyalah percakapan basa-basi, tapi Haruno-san tampak menikmati itu. Melihat kedua matanya, aku merasakan tatapan mata yang sadis. Tidak-tidak, aku tidak menyukainya sedikitpun. Tapi tatapannya memang terlihat lebih gelap daripada biasanya.

  “Dulu kita terbiasa untuk memakai pakaian yang berpasangan,” dia mengatakan itu dengan pelan, seperti mengingat sebuah kenangan di masa lalu.

  “Aku tidak menduganya sama sekali,” aku mengatakannya dengan jujur.

  “Kenapa? Kurasa itu sangat sederhana. Tidak ada yang mengejutkan karena orang tua kami membelikan kami baju yang berpasangan,” Haruno-san mengatakan itu tanpa tersenyum, hanya melihat-lihat ke baju tersebut di rak. Bukannya aku terkejut karena mengetahui fakta kalau Yukinoshita bersaudara dulunya sering memakai baju yang berpasangan. Bahkan diriku kadang sering memakai pakaian yang mirip dengan Komachi untuk memuaskan kedua orang tuaku. Keluarganya juga punya kebiasaan yang sama. Terlebih lagi, keinginan untuk melihat adiknya yang cantik memakai pakaian yang sama adalah normal.

  Yang mengejutkanku bukanlah itu. Tapi bagaimana Haruno-san mengatakannya. Bukanlah perasaan semacam mengagumi atau nostalgia ketika dia mengingat memori itu. Aku merasakan perasaan yang berbeda. Semacam kesendirian, seperti merasakan sesuatu yang sangat jauh, kehilangan untuk selamanya. Entah mengapa aku bisa merasakan semacam keputusasaan dari nada suaranya. Aku hanya merasakannya begitu. Untuk saat ini, Haruno-san berada di luar pemahamanku. Aku bahkan tidak akan pernah bisa memahaminya sama sekali.

  Aku sendiri bahkan tidak bisa memahami orang-orang yang berada di sekitarku. Haruno-san bisa mendekatiku kapanpun dia mau, tapi dia tidak membiarkan diriku untuk memahami dirinya. Untuk saat ini, dia terlihat sedang mencari-cari pakaian, seperti pura-pura tidak memahami semua maksudku.

  “Yup, tampaknya yang ini,”

  Haruno-san mengatakan  itu dan menempelkannya di depan blus putihnya. Sebuah kostum berwarna abu-abu dengan motif polkadot berwarna pink. Haruno-san lalu menaikkan pakaian itu setinggi hidungnya dan melihatku.

  “Bagaimana pendapatmu?”

  “Kurasa itu bukan selera adikmu, meski begitu kurasa dia akan baik-baik saja.”

  Haruno-san tampak menggerutu dan menatapku dengan tajam. Eh? Apa ada yang salah? Apa dia punya metode tertentu dalam persenjataannya? Pos keamanan yang dibangunnya sudah terlalu sempurna. Seandainya aku tahu seperti apa dirinya yang sebenarnya, aku mungkin akan kalah seketika. Dan akupun tidak akan menyesalinya sedikitpun. Begitulah Yukinoshita Haruno.

  “Maksudnya itu cocok denganku. Bahkan ukuran baju ini tidak akan cocok dengan Yukino-chan,” Haruno-san mengatakannya dan menyentuh dadanya.

  Yukinoshita bersaudara punya satu persamaan kuat: mereka bisa berbicara tanpa mengatakan satupun kata. Mengatakan sesuatu yang kejam sekali...begitulah Harunon. Hei, adikmu juga mengkhawatirkan itu! Jangan pernah mengatakan itu kepadanya! Berjanjilah! Oke, baik, karena dia meminta komentarku, maka aku akan memberinya. Mungkin itulah alasannya mengapa dia mengajakku kemari.

  “Well...Soal itu kurasa kau yang lebih tahu,” itulah yang bisa kukatakan.

  Haruno-san punya tampilan yang mempesona. Mungkin karena itulah apapun yang dia pakai akan terlihat cantik. Masalahnya...Tampaknya kata-kataku tidak cukup, tatapan matanya itu menunjukkan determinasi tinggi dan memintaku untuk terus melanjutkannya.

  “Tampak sangat cantik denganmu,” akupun mengatakan itu sambil memalingkan pandanganku yang sedang berada dalam pengawasan Haruno-san. Dia lalu mengangguk puas.

  “Oh bagus. Kalau begitu kubeli yang ini,” kata Haruno-san.

  Dia lalu melipat baju yang dicobanya itu, dan menambahkan baju serupa dengan warna putih salju.

  “Aku akan ke kasir dulu,” dia mengatakan itu dan pergi.

  Aku ditinggalkan sendirian tanpa adanya Harunon-barrier yang melindungiku dari para pelanggan dan karyawan toko, jadi akupun dengan cepat pindah ke bagian pakaian pria di toko ini. Mungkin kalau disini aku tidak akan terlihat mengganggu.

  Kemudian aku melihat kostum yang memiliki desain sama dengan yang Haruno-san rekomendasikan. Warna hitam, huh. Baiklah, oke, hmm...Hanya berbeda warna dan kesannya langsung berubah. Mungkin yang ini akan terlihat bagus untukku. Hmm, hmm...ketika aku hendak menggapai kostum itu...

  “Maaf sudah membuatmu menunggu,”

  Aku mendengar suara yang ceria dari belakangku.

  “Cepat sekali,” kataku; Haruno-san melihatku dengan tatapannya yang terlihat sedang meminta maaf.

  “Membungkus pakaian tadi katanya akan memakan sedikit waktu, maaf ya kita harus menunggu dulu,” dia mengatakan itu sambil menunjuk ke kursi-kursi yang ada di tengah ruangan ini. Tampaknya itu area istirahat. Dia menyarankanku untuk menunggu disana sambil menunggu proses membungkusnya selesai. Haruno-san lalu berjalan menuju kursi tersebut. Tanpa Haruno-san disini, aku merasa tidak nyaman, jadi kuputuskan untuk mengikutinya. Aku lalu duduk di sebelah Haruno-san. Sementara itu dia membuka tas belanjaannya dan memeriksa sesuatu.

  “Bagaimana denganmu? Apa kamu sudah memilih?” dia mengatakan itu tanpa menoleh dari tas belanjaannya.

  “Ah? Oh, kalau itu aku sudah membelinya tadi.”

  Pertanyaannya tadi tampaknya tidak sesuai dengan situasinya. Kalau dilihat dari maknanya, yang ditanya pasti hadiah untuk Yukinoshita. Tapi Haruno-san mencondongkan kepalanya tanpa tersenyum, lalu secara perlahan dia menoleh ke arahku. Beginilah cara ular menoleh ketika mengejar mangsanya.

  “Aku tidak membahas soal itu. Yang kumaksud adalah kalian bertiga,” dia menjelaskan itu dan akupun terdiam.

  Matanya yang hitam terlihat terang dan jelas, tapi aku tidak bisa melihat dasarnya; seperti menjebak jiwaku. Jika aku mencoba memahami motifnya, menjelaskan apa pertanyaannya, maka aku akan berakhir dalam kondisi harus menjawabnya. Ini berarti aku hanya bisa melakukan satu hal. Akupun membuka mulutku dan mengatakannya tanpa jeda.

  “Kami bertiga? Aku biasanya tidak mau mengkomentari soal grup kami. Begitulah yang terjadi di musim panas dan darmawisata. Kurasa lebih sopan begitu.”

  “Aku suka sifatmu itu,” Haruno-san menjawabnya dengan senyum yang mempesona. Tekanannya sekarang sudah menghilang, tapi kedua matanya masih terlihat gelap, dan aku tahu yang  tadi itu hanya pemanasan saja.

  “Aku tidak peduli siapa yang kau pilih. Tapi kau tidak berpikir kalau itu akan berakhir seperti yang kau inginkan, benar? Yang kau lakukan ini tidaklah wajar.”

  Dia tidak mengatakan sesuatu yang konkrit tapi aku paham apa maksudnya. Yukinoshita Haruno telah mengatakan sebuah kebenaran yang tidak bisa kusangkal lagi ke wajahku. Aku sendiri mengetahui tentang kebenarannya. Sebuah kebenaran yang tidak begitu luar biasa, tapi kebenaran yang pernah kualami. Tapi jika kau melihatnya sebatas pengamat, kau tidak akan bisa melihatnya sama sekali. Jadi aku akan pura-pura tidak tahu apapun.

  “Tidak wajar memiliki padanan kata dengan dibuat-buat. Semua yang kita hadapi ini adalah buatan manusia dan semuanya dibuat-buat. Jadi kita harus menerima semua ini adalah sesuatu yang dibuat-buat, seperti itu...”

  Pengamat itu sedang tersenyum.

  “Katamu tempo hari, kau tidak mau menyebut itu genuine, benar tidak? Jadi, apa genuine?”
[note: Vol 8 chapter 5, panggilan telepon Haruno.]

  Suara yang lembut. Tatapan yang dingin. Mata yang basah. Tarikan napas yang terasa kasar. Dia mengatakan itu seperti bukan pertanyaan yang penting. Tapi tidak ada satupun orang yang bisa menjawab itu. Beberapa detik kemudian, atau mungkin menit;  akhirnya situasi mulai kembali normal dan aku bisa mendengar musik dimainkan di lantai ini. Kami terus terdiam dari tadi. Tiba-tiba aku mendengar seseorang mendekati kami dari pinggir. Itu adalah karyawan toko yang membawakan bingkisan. Melihat hal itu, Haruno-san berdiri dan tersenyum.

  “Waktu telah habis. Kencan ini berakhir. Ayo kita kembali,” Haruno-san mengatakan itu dan berjalan menuju karyawan tersebut. Dan aku sendiri masih duduk terdiam disini.








x  x  x








  Kami kembali ke kafe tanpa satupun dari kami mengatakan kata-kata. Dia mungkin sudah mengatakan apa yang ingin dia katakan. Tidak ada jawaban untuk pertanyaan itu, jadi pertanyaan itu dibiarkan tergantung. Malahan...tidak, tidak ‘malahan’. Kita kembali ke tempat duduk semula di kafe dan Haruno-san kembali ke dirinya yang enerjik.

  “Ini, Yukino-chan, selamat ulang tahun. Kakakmu ini sudah memilihkan itu dengan sangat hati-hati loh,” Haruno-san mendekati Yukinoshita dan memberinya hadiah.

  “Nee-san...Ada apa ini tiba-tiba?”

  Yukinoshita tidak punya alasan untuk menolak hadiah ulang tahun, tapi dia masih terlihat bingung. Yuigahama yang melihat bungkusan tersebut, matanya berbinar-binar.

  “Aah, itu pasti dari toko itu! Barang-barang disana memang terlihat manis!”

  “Yep! Gahama-chan memang gadis pintar, seperti dugaanku. Barang yang manis untuk adikku yang manis! Biarkan dia merasakan cintaku,” Haruno-san mengatakan itu dengan bangga sambil menunjuk ke Yuigahama. Yukinoshita yang mengikuti pembicaraan mereka, melihat sebentar ke hadiah tersebut.

  “Cinta?...Tapi kalau melihat hadiah ini, memang terlihat manis...” Yukinoshita mengatakan itu dan mengangguk. Tampaknya dia menyukai itu. Dia lalu membuka bungkusan itu.

  “Terima kasih.”

  “Sama-sama.”

  Haruno-san melihat ke wajah Yukinoshita yang memerah dan tersenyum puas. Aku mencoba untuk menduga ini, tapi dunia ini berubah menjadi pink dengan dipenuhi segala kebaikan dan rasa saling peduli. Yurinoshita bersaudara, aku sangat suka jika kalian tetap seperti ini. Aku bukanlah satu-satunya orang yang menikmati momen ini. Hayama juga melihat mereka dengan tatapan mata yang lembut. Lalu dia seperti mencari-cari sesuatu di bawah meja, mengambil HP-nya dan memeriksanya. Tampaknya dia mendapat SMS.

  “Haruno-san, ini sudah waktunya,” dia mengatakan itu dengan pelan.

  “Oh, sudah waktunya ya?”

  Haruno-san menarik lengan blusnya dan melihat arloji kecil yang berada di pergelangan tangannya yang terlihat pucat tersebut. Tampaknya sudah waktunya bagi mereka untuk menemui orang tua mereka. Ini berarti saatnya bagi kami untuk pamit. Aku tidak akan selamat jika ditanya “ayo ikut dengan kami”. Aku belum siap untuk bertemu orang tua Hayama. Peluang untuk kabur!

  “Well, saatnya kami untuk pulang.”

  “Yep,” Yuigahama setuju.

  Haruno-san dan Hayama juga memutuskan kalau itu adalah waktu yang tepat untuk berpisah dan mengangguk.

  “Oh...” Yukinoshita menggumamkan itu.

  Diriku dan Yuigahama ada di satu sisi dan Haruno-san beserta Hayama di sisi yang lain melihatnya seperti membayangkan sesuatu. Haruno-san lalu menatapnya.

  “Yukino-chan, apa yang akan kau lakukan setelah ini?”

  “Apa maksudmu?”

  “Pertemuan itu. Kau ikut atau tidak? Kita juga akan merayakan ulang tahunmu. Meski aku sudah melakukannya barusan, jadi aku tidak begitu peduli soal itu,” kata Haruno-san, suaranya terkesan sangat dingin. Meski begitu, dia sangat ingin Yukinoshita hadir kesini satu jam yang lalu. Kupikir memberikan hadiah bukanlah satu-satunya hal yang Haruno-san ingin lakukan, tapi Yukinoshita memang punya pilihan dalam hal ini.

  “Well...”

  Yukinoshita mengatakan itu, tidak bisa memilih, dan dengan ragu melihat Yuigahama dan diriku. Yuigahama lalu tersenyum.

  “Ah, jangan khawatirkan kami.”

  “Yeah. Kami ini sudah mau pulang.”

  “Baiklah,” Yukinoshita menjawabnya dengan ragu dan merendahkan tatapan matanya.

  Yuigahama lalu teringat sesuatu dan mengambil sesuatu dari tas yang ada di lengannya.

  “Oh, benar! Ini, tolong terima. Meskipun agak awal karena ulang tahunmu besok,” Yuigahama mengatakan itu dan memberikan Yukinoshita tas yang berisi hadiahnya. Well, kalau Yuigahama melakukannya, maka aku harusnya juga begitu.

  “Selamat ulang tahun.” kataku.

  “Te-Terima kasih,”

  Yukinoshita terdiam sejenak, lalu berterima kasih kepada kami sambil memegangi hadiahnya dan tersenyum. Melihat dirinya yang seperti ini, Yuigahama tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum juga.

  “Aku akan membeli sesuatu yang manis besok, jadi kita akan merayakannya di sekolah, oke?”

  Yuigahama menambahkan itu, mungkin tidak sekedar basa-basi; dia mungkin berpikir mengatakan selamat tinggal ke temannya di situasi semacam ini terasa seperti mengusirnya saja. Kupikir aku harus melakukan sesuatu juga.

  “Sampai jumpa,” kataku sambil menaikkan tanganku; Yukinoshita tersenyum lagi.

  Tampaknya sikap Yuigahama tadi sudah cukup karena Yukinoshita terlihat menaikkan tangannya untuk meresponnya.

  “Ya, sampai jumpa besok.”

  “Besok ya!” Yuigahama melambaikan tangannya juga.

  “Selamat jalan,” Haruno-san mengatakan itu ke Yuigahama sambil berdiri dari kursinya.

  “Sampai jumpa lagi!”

  “Sampai jumpa di sekolah lagi.”

  Haruno-san melambaikan tangannya kepada kami, Hayama-pun terlihat tersenyum; aku dan Yuigahama lalu keluar dari kafe tersebut.

  Liftnya tidak begitu jauh dari sini. Setelah masuk ke lift, tidak ada seorangpun di lift tersebut, jadi kesunyian itu hanya terisi oleh suara langkah kaki kami.

  “Hei, apa yang harus kubeli untuk besok? Cake coklat? Atau mungkin cupcakes?” Yuigahama mengatakan itu sambil menekan tombol ‘buka pintu’ di lift tersebut.

  “Terserah kamulah,” kataku; Yuigahama terlihat tidak menyukainya.

  “Hikki, kau harusnya memikirkan itu dengan baik. Aku menyukai keduanya, jadi aku tidak bisa memutuskan. Hmm, bagaimana kalau separuh dari tiap kue?”

  “Memangnya cake itu pizza? Kau tidak bisa membagi-bagi hal semacam itu.”

  Ngomong-ngomong, apa dia pikir kami bisa memakan satu cake utuh? Serius? Well, kalau enak ya sudahlah. Meskipun kami harus memilih sebelum pulang ke rumah.

  Akupun hendak menekan tombol lift. Tombol segitiga ke atas dan segitiga ke bawah. Tanganku berhenti, ragu untuk menekan tombol manapun.

  Memilih tombol yang akan mengantarkanku ke jalan yang seharusnya...Oleh karena itu aku akan menekan salah satu tombol tersebut.

 





x Chapter II | END x



Tidak ada komentar:

Posting Komentar