Kamis, 25 Februari 2016

[ TRANSLATE ] Oregairu Volume H Chapter 1 : Pikiran dari Miura Yumiko dipenuhi banyak sekali hal yang melebihi para gadis seumurannya


x x x








  Suasana ruangan klub menjadi sangat tegang.

  Angin musim dingin terus bertiup menghantam jendela, membuat suara berderit.

  Jika hari ini seperti hari-hari yang biasanya, suara tadi mungkin hilang tertelan suara obrolan para gadis di ruangan ini.

  Meski begitu, karena kesunyian yang terjadi, suara embusan angin dari luar memberikan perasaan yang buruk bagi kami disini.

  Asal muasal suasana tegang di ruangan ini berasal dari Miura Yumiko.

  Miura duduk berseberangan dengan kita, lengannya bersilang, dan memiringkan kepalanya seperti merasa kurang senang. Setiap kali dia begitu, rambut pirangnya yang bergelombang itu kadang bergoyang dan berpindah ke bahunya.

  Barusan, ketika sedang melakukan hal itu, dia mengatakan kata-kata tajam tersebut.

  “Hei, apa ada sesuatu antara dirimu dan Hayato?”

  Dia mengatakannya secara langsung, tapi tidak menyebutkan secara spesifik apa maksud hubungan yang ditanyakan itu. Meski begitu, sangat jelas apa yang membuat Miura menjadi penasaran.

  Gosip yang melibatkan Hayama Hayato.

  Gosip yang mengatakan kalau Yukinoshita pergi bersamanya, atau bagaimana Yuigahama adalah orang yang berpacaran dengannya.

  Gosip tersebut jelas tidak berdasar, dan murni hanya dibuat-buat.

  Meski begitu, ada sebuah daya tarik dalam gosip tersebut.

  Ada semacam artis kecil-kecilan dalam sekolah ini, mereka terlihat menonjol daripada siswa yang lain, Hayama Hayato adalah tipe orang yang menarik gosip tersebut. Ini mengingatkanku ketika SMP, anak laki-laki sepertiku tidak tertarik dengan kehidupan percintaan. Seingatku, anak laki-laki yang lain juga membuat banyak sekali gosip-gosip sampah dari berbagai hal. Memang, biasanya tentang ‘berpacaran dengan siapa gadis termanis di sekolah ini’, ‘siapa diantara yang termanis itu punya dada yang besar’, ‘siapa yang kira-kira akan membiarkanku menyentuh dada mereka jika aku berlutut dan memohon'...Ya Tuhan! Anak laki-laki memang goblok sekali!

  Meski begitu, memikirkan masa lalu tidak serta-merta membuatmu lari dari kenyataan saat ini.

  Saat ini, tatapan Miura lebih tajam dari biasanya, dan terus mengarah ke Yukinoshita. Meski begitu, Yukinoshita tidak bergerak sedikitpun, malahan dia menerima tatapannya dengan dingin.

  “...Apa maksudmu?”

  Di bawah tatapan tajam Miura, Yukinoshita berbicara secara perlahan. Suaranya yang pelan dan lembut terasa lebih dingin daripada angin yang bertiup di luar, kedua matanya seperti telah melihat semuanya dan memancarkan tatapan yang tajam, setajam pilar es.

  “Itu...Yang kumaksud...”

  Seperti terkena tekanan dari Yukinoshita, dia menjadi terbata-bata dan memalingkan wajahnya secara perlahan.

  Kedua tatapan matanya kini menatap Yuigahama.

  Mengetahui Miura sedang menatapnya, Yuigahama yang sebelumnya memasang ekspresi kecut tiba-tiba tersenyum.

  “Ah, ini, apa ini soal gosip itu? Dan, kau kesini ingin mengklarifikasi detail gosip itu sendiri, benar?”

  Mendengar kata-kata tersebut, Miura menganggukkan kepalanya dan meresponnya secara perlahan.

  Ini memang Miura banget! Tidak sedikitpun ekspresi ramah dia tunjukkan ke Yuigahama! Sebaliknya, dia hanya melihat ke bawah, seperti menganggap hal tersebut memalukan.

  ...Well, dia datang sejauh ini hanya untuk memastikan kebenaran gosip tersebut. Ini seperti memberitahu semua orang kalau dia sangat peduli kepada Hayama! Itu mungkin menjelaskan mengapa dia terlihat malu-malu.

  Meski dalam suasana baru kembali masuk ke sekolah, gosip-gosip mulai berterbangan kemana-mana. Suasana sehabis liburan juga membuat gosip itu otomatis semakin besar. Tampaknya, ada gosip yang mengatakan kalau Miura dan Yuigahama sempat bersitegang. Gosip ini semakin bertambah konyol.

  Kalau begitu, bahkan Umihara Kawase-pun tidak akan bisa menandinginya. Tepatnya karena itulah, Miura hanya bisa duduk disini dan tidak mengatakan apapun, dan mungkin karena alasan itulah dia datang kesini.

  Entah itu Miura atau Yuigahama, tidak akan bagus bagi keduanya untuk menanggapi gosip tersebut.

  Sebenarnya ini tidak hanya melibatkan Hayama, tapi hubungan keduanya juga merasakan dampaknya, dan ini jelas-jelas bukan sesuatu yang bagus.

  Disamping Miura dan Yuigahama, mungkin juga berlaku sama dengan Yukinoshita. Meski begitu, ekspresi Yukinoshita saat ini tenang dan terkendali.

  “Soal itu ya, hmm...”

  Dia mengatakan itu dengan nada yang mengesankan sedikit keterkejutan dicampur dengan senyum yang kecut. Lalu, dia memindahkan rambutnya yang berada di bahunya, dan menatap ke arah Miura untuk melanjutkan pembicaraannya.

  “Sebenarnya tidak ada hubungan apapun.”

  Tapi tatapan Miura tidak terlihat mengendur.

  “Benarkah?”

  Karena itulah, Yukinoshita mendesah kesal seperti termakan juga dengan gosip ini.

  “Apa yang kudapat dengan berbohong soal itu?...Hal-hal semacam ini selalu menggangguku dari dulu.”

  “Huh? Ada apa dengan nada suaramu itu? Kau benar-benar menjengkelkanku. Aku, tidak suka suaramu itu.”

  “Yumiko!”

  Orang yang menaikkan suaranya tersebut adalah Yuigahama. Bahu Miura terlihat terkejut di depannya, bibir Yuigahama seperti tergetar karena marah akan sesuatu. Suasana pembicaraan di ruangan ini berubah menjadi debat kusir.

  “Sudah kubilang, gosip ini hanya salah paham. Maksudku, lihat, aku, serius nih? Mustahil ada sesuatu antara diriku dan Hayato-kun!”

  “Hmm...”

  Miura menganggukkan kepalanya, seperti setuju dengan kata-katanya.

  “Kupikir aku paham apa yang ingin kau katakan.”

  “Unn...”

  Dengan bibir yang bergetar, Miura kesulitan untuk mengatakan kata-kata itu. Yuigahama mendengarkannya secara seksama, dan menambahkan beberapa kata lagi.

  “Hmm, kupikir, itulah kebenaran dari gosip itu...”

  “Umm...”

  Tidak ada yang memotong pembicaraan dua gadis ini.

  Aku ragu untuk melihat ke arah Miura, jadi aku menopang daguku dengan tanganku dan hanya memfokuskan pendengaranku untuk mendengarkan percakapan tersebut. Biasanya, aku ingin melihat ekspresinya seperti apa, juga ekspresi Yukinoshita yang menatapnya. Tapi, kali ini aku tidak merasakan suasana yang ramah di ruangan ini, jadi kuputuskan untuk mendengarkan percakapannya saja.

  Kemudian, Miura terdiam dan mendesah kecil.

  “...Meski begitu, aku masih khawatir soal Hayato.”

  Suaranya sangat lembut. Kata-katanya sedikit sekali.

  Meski begitu, suaranya yang terkesan pelan dan disertai embusan napas yang berat seperti menunjukkan seberapa besar emosi yang dia sertakan dalam kata-kata itu. Akupun menoleh ke arahnya, tampaknya sebentar lagi dia akan menangis.

  Meski, aku tidak bisa mengatakan kalau aku sebenarnya paham apa yang dia rasakan saat ini.

  Tanpa mengurangi rasa hormatku ke Hayama Hayato, aku tidak pernah memikirkan sesuatu yang spesial tentang dirinya; Aku hanya kenal dengannya belakangan ini. Tidak seperti Miura, aku jelas-jelas tidak punya satupun keberuntungan dengan hal-hal berbau asmara.

  Meski begitu, dari sudut pandang seorang pengamat, aku bisa dengan mudah memahami suasana abnormal di sekitar Hayama Hayato. Terutama, belakangan ini, orang bisa dengan mudahnya melihat kalau Hayama bersikap aneh setelah gosip tersebut menyebar.

  Biasanya, tidak peduli Miura atau Isshiki yang mencoba mendekatinya, Hayama akan menghindari mereka dengan senyum khasnya. Hayama yang sekarang, memberikan respon yang sangat jelas ketika merespon kata-kata Ooka. Meski, tidak ada semacam kata-kata manis dalam nada suaranya, tapi nada suaranya seperti merasa terganggu dan menyebabkan orang lain merasa takut mendengarnya.

  Bahkan bagi orang sepertiku, aku paham kalau itu agak aneh bagi seorang Hayama. Apalagi Miura, yang menjadi orang terdekat dengannya.

  Miura menggumamkan sesuatu, menggosok-gosok matanya, dan melihat ke arah atap ruangan. Lalu, dia melepaskan napas yang berat, diantara jeda tersebut, dia melanjutkan kata-katanya.

  “Aku benci gosip itu terus menyebar...Ketika aku mendengar nama Yui juga diseret-seret ke gosip itu, aku sangat membenci itu.”

  “Begitu ya...”

  Jawaban Yuigahama terdengar lembut. Seperti ditarik oleh suara itu, akupun melihat secara seksama ke Miura. Suara Miura yang lembut itu berkebalikan dengan sikapnya yang seperti Ratu dengan temperamen yang meledak-ledak. Kata-katanya yang barusan keluar seperti keluar dari anak kecil yang malu-malu.

  Melihat hal tersebut, Yukinoshita seperti terkejut. Itu terlihat jelas dari bagaimana mulutnya sedikit terbuka dan kedua matanya semakin bulat dan melebar.

  Meski begitu, Yuigahama mungkin tahu soal sifat Miura yang seperti ini.

  Dia menyentuh bahu Miura dengan lembut, seperti mengelus-elus anak kecil.

  Tiba-tiba, Miura terlihat salah tingkah, dan kemudian khawatir akan make-up matanya, menekan-nekan area di sekitar matanya dengan ujung jarinya dan mengembuskan napas yang dalam.

  “Maaf, barusan itu hanya sikapku yang konyol...”

  “Tidak apa-apa...Aku juga ingin meminta maaf, sudah membuat gosip aneh semacam itu.”

  Ketika Yuigahama mengatakan itu, ekspresinya seperti sedang malu-malu, dan Miura meresponnya dengan mencondongkan kepalanya. Setiap kali dia seperti itu, rambut pirangnya yang bergelombang juga terlihat bergoyang-goyang.

  “Tidak apa-apa. Kau tidak salah apapun, Yui.”

  “Umm...Mungkin.”

  Miura mengatakannya sambil melihat ke arah lain, dia seperti menjawab itu kepada udara di depannya. Melihat hal ini, Yuigahama mencoba tertawa untuk mencairkan suasananya dan mengelus-elus sanggul rambutnya.

  “...Meski begitu, Yumiko.”

  Setelah itu, tangannya berhenti bergerak, dan dia memanggil Miura. Nada suaranya terlihat dipenuhi emosi yang dewasa.

  “...Aku sangat senang kalau Yumiko berpikir sampai segitunya.”

  “Ada apa dengan itu...”

  Miura menatap Yuigahama dengan matanya yang sembab, lalu melihat ke arah lain dengan wajah yang memerah. Merasa malu dengan kata-kata Yuigahama, Miura mulai bermain-main dengan ujung rambutnya.

  Melihat percakapan keduanya, Yukinoshita membiarkan emosinya terbuka dengan menunjukkan senyum di wajahnya.

  Melihat senyumnya itu, Miura menatap ke arah Yukinoshita. Meski begitu, tatapannya tidak setajam sebelumnya. Lalu, dia seperti kesulitan untuk mengatakan sesuatu dan diam sejenak sebelum merendahkan tatapan matanya.

  “Hei, Yukinoshita-san, aku juga meminta maaf...”

  “Jangan khawatir soal itu...”

  Mendengar permintaan maaf yang tidak diduga-duga dari Miura, Yukinoshita juga memberikan jawaban yang tidak terduga. Setelah itu, Miura menatapku sejenak.

  “.....”

  Oke, benar, aku tidak akan mengatakan apapun. Kujamin itu. Aku akan tutup mulut. Oke.

  Maksudku, aku tidak punya alasan khusus untuk ikut campur dan mengatakan sesuatu. Atau, jika ada seseorang yang akan meminta maaf kepadaku, aku menganggapnya karena pesona diriku.

  Kembali ke topik, Miura tidak akan jauh-jauh kesini hanya untuk memastikan hubungan persahabatannya dengan Yuigahama.

  Miura tidak mengatakan sebuah request ataupun hendak mendiskusikan sesuatu, tapi, aku bisa menebak alasannya kesini. Masalah yang dia alami adalah masalah yang semua orang tahu. Kalau begitu, bukankah memecahkan masalah adalah pekerjaan kita? Akupun pura-pura batuk senatural mungkin, aku lalu melihat ke arah Miura secara langsung.

  “Miura, apa urusanmu sudah selesai?”

  “Kupikir begitu...Tapi...”

  Miura tidak memberikan jawaban yang jelas, dan kata-katanya sangat ambigu.

  Biasanya, dia bisa mengatur emosinya setelah mengatakan itu ke Yuigahama dan Yukinoshita. Meski begitu, tidak ada yang diselesaikan. Aku takut kalau gosip itu akan terus menyebar dan membesar. Lagipula, seperti itulah gosip. Hayama akan terus mengkhawatirkan gosip itu, Miura juga, akan mengkhawatirkan Hayama, seperti berlari dalam sebuah jalur yang berbentuk lingkaran.

  Agar bisa menghancurkan loop semacam itu, butuh waktu yang tidak sedikit, atau tepatnya, membutuhkan beberapa metode.

  Meski begitu, penyebaran gosip itu terlihat sangat wajar. Mustahil untuk menghilangkan rasa penasaran orang-orang. Mereka tidak akan bisa menutup mulut mereka dengan mudahnya.

  Miura mungkin sudah tahu soal ini.

  Oleh karena itu, kata-katanya terdengar ambigu.

  Mengesampingkan kalau aku ingin melakukan sesuatu, aku juga tahu kalau aku tidak bisa melakukan sesuatu soal gosip ini.

  “Kalau ada yang bisa kubantu...Aku ingin membantu.”

  “Kupikir tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menunggu gosip itu menghilang.”

  Baik Yukinoshita dan Yuigahama terlihat memiliki ekspresi yang kompleks. Terutama, yang terakhir Yukinoshita katakan itu terdengar seperti pernah mengalaminya.

  “...Well, kurasa itu ada benarnya.”

  Meski Yuigahama tidak mengatakan semacam “gosip cuma bertahan 49 hari”, tidak akan ada perasaan damai hingga gosipnya menghilang. Kalau menurut teori pembakaran, untuk menghindari apinya membesar, jangan menyiramkan bensin ke apinya.

  Kalau ini adalah skandal, maka meminta maaf dengan tulus mungkin adalah metode yang terbaik. Tapi, jika ini adalah gosip salah paham, maka gosip ini menjadi bensin yang bagus bagi api.

  Dalam komunitas yang menyebarkan informasi, taktik terbaik dalam masalah ini adalah bertahan. Ngomong-ngomong, itu artinya mendiamkan masalah ini. Meski begitu, dengan menjadi penyendiri, selama kau tidak berkomunikasi dengan siapapun, tidak akan ada satupun info pribadi dirimu menyebar keluar! Sekali lagi, dalam komunitas yang menyebarkan informasi, tidak seperti itu, apa cara terbaik untuk melindungi dirimu? Cara terbaik melindungi dirimu; memenangkan pertarungan ini!

  Sambil memikirkan keuntungan yang kudapatkan sebagai penyendiri di era IT, Yuigahama terlihat seperi menggumamkan beberapa nada lagu. Semua hal dipertimbangkan, mungkin ini yang dikatakan pendeta tempo hari, fakta kalau tidak ada satupun yang membicarakan komunitas IT, itu artinya kita sudah menjadi komunitas IT itu sendiri...Secara tidak sengaja, dengan menyanyikan lagu-lagu agama, apa aku sekarang menjadi seperti Yamashita Tatsurou? Well, tentu saja tidak!

  Sementara itu, Yuigahama sepertinya memperoleh sesuatu dan mulai berbicara.

  “Seandainya saja kita tahu siapa orang yang awalnya menyebarkan ini, mungkin situasi ini akan berbeda...”

  “Kurasa tidak semudah itu...”

  Ada nada yang skeptis dalam jawaban Yukinoshita. Akupun juga, setuju dengan Yukinoshita. Seperti yang kuharapkan dari Yukinoshita! Sebagai orang yang sudah terbiasa digosipkan, dia sangat berpengalaman sehingga tahu kalau ini tidak semudah seperti apa yang Yuigahama kira. Akupun melihat Yukinoshita dengan kagum.

  Yukinoshita menaruh tangannya di dagu, dan melihat ke kejauhan.

  “Biasanya, mengejar dan memojokkan orang pertama yang menyebarkan gosip itu akan menyebabkan masalah lain jika orang itu pura-pura tidak bersalah...”

  Uh?

  Umm...

  Jadi itukah pengalamanmu...

  Mengejar dan memojokkan mereka, huh...

  Kurasa, bukan aku saja orang di ruangan ini yang menatap Yukinoshita dengan serius.

  “.....”

  “.....”

  Yuigahama memasang senyum yang dipaksakan, sedang Miura menyandarkan dirinya ke kursi seperti ketakutan.

  Hmm, kenapa dia bersikap seperti itu?

  Apakah mengingatkannya dengan trauma ketika Perkemahan Desa Chiba di musim panas dimana dia kalah debat dan hendak menangis?

  Seperti yang kau duga, tanpa adanya satupun orang yang bersuara, membuat Yukinoshita menyadari suasana itu dan wajahnya memerah, dia lalu pura-pura batuk.

  “Ngomong-ngomong...Tidak ada yang bisa kita lakukan soal itu.”

  “Well, kurasa itu wajar. Sebenarnya, mengklarifikasi ke penyebar awal gosip itu bukanlah hal mudah. Atau tepatnya, tidak ada gunanya.”

  “Begitu ya?”

  Yuigahama mengatakan itu sambil mengangguk, seperti kurang yakin.

  Masalahnya adalah, mencoba mencari tahu siapa penyebar awal gosip itu di sekolah adalah misi yang sulit. Melihat banyaknya penyebar gosip itu, jika kita tidak menemukan bukti yang kuat, maka pelakunya bisa lolos dengan berbohong ketika kita menginterograsinya. Lebih jauh dari itu, katakan saja kita membuat si pelakunya mengaku, gosip yang sudah menyebar tidak akan bisa ditarik kembali.

  Terutama, jika gosip itu menyangkut orang terkenal ataupun skandal. Gosip seperti itu akan menyebar dengan cepat. Misalnya, meski salah paham gosip itu sudah diluruskan, tidak akan ada orang yang tertarik dengan informasi yang benar.

  Karena komunitas kita ini menginginkan cerita yang menarik, atau mungkin mereka sangat tertarik untuk mengetahui aib orang lain. Meski, orang-orang yang punya rasa keadilan tinggi pada akhirnya “memaklumi” gosip yang tidak bertanggungjawab itu beredar. Oleh karena itu, entah itu gosip, salah paham atau skandal, rasa ingin tahu dan permintaan dari komunitas itu sendiri yang membuat “rasa keadilan” itu tidak akan pernah sampai ke mereka.

  Kau bisa melukai seseorang dengan senjata jarak jauh mirip anak panah atau peluru yang kau tembakkan dari area yang kau anggap aman.

  Misalnya, meski gosip itu tidak benar, orang-orang yang menyebarkannya karena dianggap menarik tidak akan mau bertanggung jawab atas tindakan mereka.

  Oleh karena itu, gosip adalah sebuah kejahatan.

  Karena dengan menyebarkan gosip, kau secara otomatis terpengaruh oleh gosip, bukankah kau harusnya marah karena menjadi korban dalam hal ini?

  Jika kau berpikir sebaliknya, maka orang yang menyebarkan gosip ini sama jahatnya dengan pelaku kriminal. Kupikir orang yang suka menyebarkan gosip tidak benar adalah orang-orang yang buruk.

  Komunitas kita selalu mendengung-dengungkan tentang kebenaran hingga ke pelosok jalan. Dunia ini juga mencari sansak tinju untuk melampiaskannya. Akan selalu ada keinginan untuk bisa menertawakan orang lain dengan nyaman sambil melepaskan rasa kebenciannya ke mereka.

  Sungguh menyedihkan, bahkan jika kau mencoba untuk mengubah gosip yang sudah menyebar itu, tidak ada cara untuk menarik kembali gosip yang menyebar seperti api yang tidak terkendali.

  Tidak ada gunanya melakukan hal seperti klarifikasi, menjelaskan argumenmu, membetulkan gosip itu atau berusaha menarik penyebaran gosip.

  “Aku pernah mengatakan sebelumnya kalau cara terbaik untuk meredam ini adalah mendiamkannya saja, tapi...”

  Aku menghentikan kata-kataku dan melirik ke arah Miura, aku melihatnya sedang menunduk. Meski aku tidak bisa melihat ekspresinya, bisa kutebak kalau dia tidak setuju dengan yang barusan kukatakan.

  Tentunya aku bisa menduga itu. Kenapa Hayama, Yukinoshita, Yuigahama, dan bahkan Miura harus berakhir dengan gosip tidak menyenangkan ini sedangkan mereka tidak melakukan sesuatu yang salah?

  Ini memang sesuatu yang salah.

  “...Apa ada orang disini yang punya ide?”

  Oleh karena itu, aku mengatakan hal itu.

  Bisa dipastikan bahwa tidak ada cara untuk meredam gosip ini. Bahkan sampai saat ini, ketika aku mencari-cari kemungkinan itu, semuanya kutolak.

  Aku percaya kalau apa yang kulakukan tidak akan mengubah apapun. Ini hanyalah perjuangan yang sia-sia.

  Meski begitu, dadaku merasakan sesuatu yang mengganggu seperti gangguan pernapasan ketika mendengarkan gosip itu. Seperti, maksudku, serius itu?!

  Miura lalu menegakkan kepalanya, setelah mendengarkan “aku tidak punya ide”.

  Itu adalah momen dimana aku bisa melihat sedikit harapan di wajahnya. Ah, maaf, sudah membuat ekspektasimu terbuang percuma. Meski itu sangat buruk untukku, tapi, kali ini, jujur saja aku tidak punya rencana...

  Juga, Yukinoshita dan Yuigahama sudah berteman sejak lama.

  Seperti merasakan ada sesuatu, mereka berdua melihatku dengan tatapan mata yang penasaran.

  “Apa kau punya ide?”

  “Sebenarnya, tidak sih.”

  Akupun menjawab pertanyaan Yukinoshita dengan datar.

  Lalu, Yukinoshita mendesah seperti terkejut dan Yuigahama hanya bisa tersenyum kecut.

  “Ahaha...Lalu, apa yang harus kita lakukan?”

  “Well, apapun yang akan kita lakukan, kita harus berbicara terlebih dahulu dengan Hayama soal ini.”

  Gosip kali ini, tanpa ragu kukatakan berpusat ke satu orang, Hayama. Tidak peduli arah mana yang kita ambil, agar bisa mengontrol gosip ini, kita harus memastikan situasi Hayama dan apakah dia berkeinginan juga untuk menyelesaikan ini. Jika kita bisa melakukannya, maka kita butuh kerjasama dari dia untuk membantu kita.

  Setahuku, negosiasi ini adalah suatu hal yang wajib...Akupun menatap ke arah ketiga gadis ini.

  Lalu, Miura memalingkan wajahnya.

  “Ah, itu, aku, kalau hanya membicarakan ini dengannya, itu agak..., hal seperti itu, apa yang bisa kubantu...”

  Wajahnya memerah, dan memainkan rambutnya, dia jelas-jelas keberatan.

  Seperti yang kuduga. Juga, cara bicaranya, membuatku berpikir kalau dia mirip gadis yang sangat tertarik dengan pasta, atau pelabuhan dari Yumiko Yokohama Yokosukadou-san.

  Ya sudah, berarti antara Yukinoshita atau Yuigahama. Akupun melihat keduanya. Yuigahama menunduk saja dari tadi, dan Yukinoshita menggerutu. Meski begitu, aku tidak melihat adanya suara keberatan dari mereka. Lalu, apakah itu Yukinoshita atau Yuigahama, yang kulakukan hanyalah meminta mereka melakukannya.

  Tapi, mereka berdua terlibat dalam gosip itu, mustahil aku membiarkan mereka terlihat mengobrol dengan Hayama.

  “...Ya sudah, aku akan melakukannya.”

  Dengan proses eliminasi, siapa lagi kalau bukan diriku.

  Setelah aku mengatakan itu, Yukinoshita tertawa kecil sambil menutup mulutnya.

  “Ya ampun, sangat jarang melihatmu memutuskan sendiri akan melakukan sesuatu.”

  “Tidak juga sih, ini adalah masalah yang berbeda. Seperti, sejak dulu, aku ini sangat lemah akan air mata wanita. Maksudku, ketika Komachi menangis. Ketika dia melakukan itu, aku merasa seperti harus melakukan sesuatu untuknya.”

  Dalam tatapan Yukinoshita, entah mengapa, aku tidak bisa memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab itu. Aku merasa apa yang ada dalam pikiranku ini bisa dia baca, jadi aku sengaja menjawabnya dengan alasan yang tidak jelas.

  Aku meresponnya dengan terburu-buru untuk merubah arah pembicaraannya meski aku melakukan itu karena kata-katanya itu membuatku menjadi gugup.

  Ya mau bagaimana lagi, membahas rasa cinta terhadap adik perempuan adalah skill pasif dari Onii-chan.

  Setelah mengatakan itu, Yuigahama menepuk tangannya.

  “Oh! Benar-benar Onii-chan!”

  “Memang. Seperti yang kau harapkan dari Onii-chan.”

  “Huh? Bisakah kalian berhenti mengatakan Onii-chan?”

  Bulu kudukku serasa berdiri mendengar kata-kata Yukinoshita: “Seperti yang kau harapkan dari Onii-chan.”

  Well, rasa cinta kepada adikmu bukanlah subjek yang bisa dinilai. Itu adalah skill pasif yang tidak semua orang punya, tahu tidak!

  Meski begitu, perasaan tidak nyaman dan yang membuat bulu kudukku berdiri tidak serta merta karena Yukinoshita atau Yuigahama. Salah satunya karena orang yang duduk di seberangku ini, dengan bahu yang bergetar sambil memainkan rambut pirangnya.

  “...Maksudku, aku. Aku tidak benar-benar menangis, tahu tidak.”

  Dia mengatakan itu seperti merasa terganggu.

  Tidak, dia jelas-jelas menangis...Seperti katanya, dia melihat ke arahku seperti menolak itu. Lalu, dia seperti menggigit lidahnya dan mengembuskan napasnya dengan sangat dalam.

  Lalu, dia mengambil tasnya dengan satu gerakan dan berdiri.

  “Kalau begitu, aku pulang dulu...”

  “Umm, tunggu, Yumiko.”

  Suara lembut itu mengatakan ketidaksenangannya. Sambil mengatakan itu, dia mengikuti Miura ke arah pintu. Miura tampak kaget melihat sikapnya itu.

  Arara, kupikir kau baru saja menyinggung seseorang...Aku bisa merasakan hal itu. Sebelum dia menutup pintu klub, dia berhenti sejenak.

  “...Hikio, terima kasih ya.”

  Responku sangat lambat mendengar hal itu, tidak lupa kalau dia mengatakan itu dengan kecil dan tanpa melihat ke arahku.

  “O, Oh...”

  Setelah dia mengatakan itu, dia menutup pintunya. Aku hanya melihat Miura membungkuk sekilas dengan wajahnya yang memerah.

  Yuigahama melihat ke arah pintu dan Yukinoshita berulangkali, lalu duduk kembali ke kursinya. Seperti bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Yuigahama, Yukinoshita mulai merapikan perlengkapan teh di meja.

  “Kalau begitu, kita sudahi dulu kegiatan klub hari ini?”

  “Eh, su-sudah selesai? Kalau begitu, aku pulang duluan ke rumah ya!”

  Setelah mengatakan itu, Yuigahama menarik kursinya dan berdiri. Dia mungkin akan mengejar Miura. Lagipula, Miura mengatakan perasaannya kepada kami. Dia mungkin ingin mengobrol dengannya. Seperti bersimpati akan perasaan yang lain.

  Seperti memahami hal itu, ekspresi Yukinoshita terlihat lembut.

  “Ya, kegiatan klub selesai untuk hari ini. Sampai jumpa besok.”

  “Umm! Sampai jumpa besok kalau begitu! Hikki juga, sampai jumpa besok!”

  “Ah.”

  Setelah mengucapkan selamat tinggal, Yuigahama berlari keluar meninggalkan ruangan klub.

  Orang yang tersisa di ruangan ini hanya Yukinoshita dan diriku.

  Yukinoshita merapikan peralatan minum teh tersebut dengan hati-hati dan menatap ke arah pintu.

  “Aku agak khawatir dengan Yuigahama-san.”

  “Dia akan baik-baik saja. Miura juga sudah mengatakan apa yang ingin dia katakan. Itu saja sudah cukup untuk menyimpulkan kalau mereka sangat dekat.”

  Miura mungkin adalah tipe gadis yang meledak-ledak dan terang-terangan dalam bersikap. Sikap terang- terangannya itu menandakan kalau dia peduli dengan teman-temannya, meski berkebalikan dengan model rambutnya yang melingkar dan bergelombang.

  Jika begitu, Yuigahama memang berhati besar, atau mungkin seorang idiot, atau juga punya sifat gila untuk membantu sesamanya. Well, ngomong-ngomong, meski terkesan idiot, seperti itulah dirinya.

  Hubungan diantara keduanya tidak akan merenggang hanya karena insiden ini. Aku bisa katakan kalau kekhawatiran Yukinoshita ini tidak beralasan.

  Meski begitu, kekhawatiran dari wajah Yukinoshita tidak menghilang. Melihat responku, dia mencondongkan kepalanya, dengan ekspresi yang gelap, dia mulai mengatakannya secara perlahan.

  “Yang kubicarakan bukan hubungannya dengan Miura-san, tapi dengan yang lain...”

  “Huh?”

    Dengan yang lain? Aku tidak bisa memikirkan hal yang berhubungan dengan itu jadi aku hanya bisa membalasnya seperti itu, karena itu dia menatapku.

  “Kau sepertinya paham soal itu tapi ternyata kau tidak.”

  “Aku tidak tahu, memangnya kenapa...”

  Ketika kutanyakan itu, Yukinoshita secara perlahan menutup kedua matanya.

  “Banyak sekali gosip yang tidak berakhir dengan sebagaimana mestinya. Orang-orang di sekitarmu akan memainkan gosip itu, dan akhirnya kau akan merasa orang-orang itu mencampuri urusanmu. Ketika itu terjadi, keinginan untuk menyerang orang tersebut mulai timbul. Entah itu kebencian atau terbawa emosi, karena begitulah manusia itu. Aku sendiri tidak berinteraksi terlalu banyak dengan orang-orang, jadi aku tidak begitu terpengaruh...”

  Aku merasakan sebuah hal yang penting dalam kata-katanya tadi. Aku merasakan sebuah kebenaran dari kata-katanya.

  Dalam kasus Yuigahama, dimana dirinya adalah orang yang sering bersosialisasi dengan orang lain, sangat jelas kalau hal seperti itu memang bisa menyakitinya.

  Aku sangat yakin kalau Yukinoshita pernah mengalami hal yang sama dengan Yuigahama. Lebih tepatnya, dia mungkin memilih untuk menghindari sebisa mungkin berhubungan dengan orang lain sebagai bentuk pertahanan dirinya.

  Jika orang lain melihatnya sekilas, mereka hanya akan melihat dirinya yang memancarkan aura negatif.

  Tapi, bagiku, dia adalah orang yang pintar, keren, dan cantik.

  Kalau dia memang punya pengalaman tersebut, maka kekhawatirannya kepada Yuigahama memang beralasan.

  “Aku paham maksudmu, aku akan mengingat itu baik-baik...”

  Aku tidak punya kata-kata yang tepat untuk mengatakan itu, tapi setidaknya itulah yang bisa kukatakan. Aku akan selalu mengingat itu baik-baik, bagaimana sikapnya yang peduli dengan sesama, dan juga sarannya yang berharga itu.

  Setelah mendengarkan jawabanku, akhirnya aku melihat senyuman di wajahnya.

  “Memang, tolong selalu ingat itu. Aku juga ingin melakukan sebisaku seperti Yuigahama-san. Kupikir situasinya bisa lebih baik jika aku juga terlibat untuk menyelesaikan gosip ini...Meski itu bukanlah akar dari permasalahannya.”

  Kata-kata terakhirnya tadi seperti sebuah penyesalan. Masalahnya adalah, meski kita melakukan suatu cara, orang-orang yang menggosipkan itu mungkin tidak akan mempeduliikannya. Serius ini, mereka seperti militan.

  “Karena posisi kelas yang berbeda-beda, maka kita tidak akan bisa selalu bersama-sama. Aku sangat mengandalkanmu.”

  “Jangan mengharapkanku terlalu banyak...Meski, aku sendiri akan melakukan sebisaku.”

  Mendengarkan responku, Yukinoshita tersenyum, dia seperti merasa lega. Tidak, kuharap kau tidak mengharapkan apapun dariku...

  Melakukan apa yang kubisa. Juga, aku sendiri tidak tahu ini akan berakhir seperti apa.

  Meski begitu, kupikir aku ingin melakukan apa yang kubisa.

  Karena aku sendiri merasa, kalau aku juga menginginkan gosip tidak berguna ini menghilang.






x Chapter I | END x

Tidak ada komentar:

Posting Komentar