Minggu, 28 Februari 2016

[ TRANSLATE ] Oregairu Volume H Chapter 3 : Satu-satunya orang yang menghilang dalam kegelapan malam adalah Hayama Hayato


x x x








  Suhu turun secara drastis setelah pulang sekolah.

  Bahkan di sekolah, kecuali ruangan kelas yang ada pemanasnya, tidak ditemukan adanya tanda kehidupan karena udara yang sangat dingin di lorong-lorong sekolah. Dekat pintu masuk sekolah, ada ruang sekretariat OSIS, juga karena adanya angin yang bertiup dari arah pintu masuk sekolah, ruangannya juga terasa lebih dingin daripada yang lain.

  Sekolah ini dibangun dekat dengan pantai, dan tanpa adanya gedung-gedung besar di sekitar, angin laut langsung menerpa sekolah ini tanpa adanya penghalang. Ditambah lagi, daerah Chiba memiliki kontur dataran yang datar. Sebuah daerah dimana angin bisa bertiup dengan bebas. Sementara itu, ini adalah daerah dimana warganya merasa seperti di rumah sendiri dan punya aktivitas yang cukup padat. Tunggu, kenapa ini seperti iklan ajakan untuk bergabung dengan perusahaan hitam? Kurasa kita tidak akan terkejut jika kota satelit Tokyo, yaitu Chiba, menjadi sarang favorit para budak perusahaan!

  Meski begitu, bagiku yang sudah 17 tahun tinggal disini, warga Chiba sejati pasti terbiasa dengan angin dingin ini. Karena itu juga, aku sudah terbiasa dengan kerasnya dunia ini.

  Begitulah, sehabis merasakan ruangan klub yang hangat beberapa waktu lalu, perubahan suhu yang dialami tubuhku kali ini sedikit ekstrem. Aku ingin kembali ke ruangan klub yang hangat...Ketika aku hendak mengetuk pintu sekretariat OSIS, tiba-tiba tanganku dipegang oleh sesuatu.

  Ada tangan kucing yang memegang tanganku yang satunya. Tangan kucing itu mirip tangan kostum kucing dari karakter anime, berbulu dengan sol berwarna pink.

  “Ini untukmu, kalau kamu tidak keberatan. Ada juga bagian untuk teman-teman Isshiki-san juga di dalam.”

  Setelah mengatakan itu, tangan kucing satunya memberiku tas plastik yang berisi beberapa kaleng kopi. Ada apa dengan tangan kucing ini...Apa kamu ini seperti ibu-ibu yang memberikan oleh-oleh setiap kali anak temannya berkunjung?

  Ketika kulihat, dia melambai-lambaikan sarung tangan kucing tersebut, Yukinoshita. Begitu ya, tampaknya kau sudah terbiasa untuk memakai sarung tangan itu...Aku juga ikut senang melihatnya...

  Kemudian, muncul di belakang Yukinoshita, Yuigahama. Entah ketika dia menerima ataupun memberikan sesuatu, dia selalu memasang ekspresi senang.

  Atau mungkin, karena Max Coffee yang diberikan oleh tangan kucing itu.

  “Apa kamu yakin untuk membawa ini ke dalam? Kita ini hanya menumpang ruangan ini sebentar saja...”

  “Harusnya bukan masalah. Meski sebentar, kenyataannya kita tetap menggunakan ruangan mereka. Kupikir akan lebih mudah untuk menunjukkan niat baik kita dengan membawa ini, bukan begitu?”

  “Hmm, baiklah kalau begitu.”

  Sebenarnya, aku juga tidak tahu berapa lama kita akan berada di dalam sekretariat OSIS.

  Agar bisa berbicara empat mata dengan Hayama, aku ingin bertemu dengannya dengan mencegatnya di depan ruang sekretariat OSIS ketika pulang dari kegiatan klub.

  Meski begitu, bagian terburuknya adalah dia ketua Klub Sepakbola. Meski ini tidak begitu efisien, aku tidak punya pilihan lagi kecuali menunggu saat-saat terakhir sebelum gerbang sekolah ditutup.

  Ditambah lagi, aku juga tidak tahu kapan kegiatan klubnya selesai.

  Meski lapangan sekolah kita tidak begitu besar, dengan adanya klub sepakbola, baseball, rugby, dan atletik memakai lapangan yang sama, mereka harus membuat kesepakatan. Artinya, tiap klub memiliki jam latihan dan aktivitas berbeda-beda tiap harinya.

  Kalau begitu, untuk menjamin aku bisa bertemu Hayama, paling bagus adalah menunggunya lewat di depan ruang sekretariat OSIS di dekat pintu masuk sekolah. Tidak peduli selarut apa, mungkin tidak ada yang komplain jika ruangan yang masih beraktivitas adalah ruangan pengurus OSIS. Woo! Memiliki kekuasaan adalah yang terbaik! Ngomong-ngomong, kupikir aku akan mengganggu kegiatan ‘klub OSIS’ hari ini. Tapi Isshiki sering tiba-tiba datang dan mengganggu klubku, jadi ini bisa dikatakan impas. Keluar dari kebiasaan rutin merupakan aktivitas yang baik bagi kita.

  “...Kalau begitu, aku akan menunggu disini untuk berbicara dengan Hayama. Kalian berdua pulang duluan saja.”

  “Tapi, menyerahkan ini ke dirimu sendirian agak...”

  Yuigahama tampaknya kesulitan untuk mencari-cari kata yang tepat dan menatap ke arah Yukinoshita untuk meminta pendapatnya.

  Meski begitu, Yukinoshita hanya terdiam. Aku juga setuju dengan Yukinoshita. Daripada mereka datang membantu, aku sebenarnya ingin mereka tidak ada di lokasi ketika aku berbicara empat mata dengan Hayama.

  “Akan menjadi masalah besar kalau kalian berdua terlihat bersama dengan Hayama, itu akan menciptakan gosip yang baru. Jangan khawatir. Kalian bisa ke Marinpia, atau Chiba, atau pergi bersama teman-temanmu untuk mengisi waktunya.”

  Yukinoshita menaruh tangannya di depan mulutnya dan berpikir sebentar.

  “Itu ada benarnya. Kalau begitu maafkan kami karena akan pulang lebih dulu.”

  “Umm. Aku merasa tidak enak membiarkan Hikki melakukan semua pekerjaannya...”

  “Jangan khawatir. Ini sudah menjadi pekerjaanku.”

  Aku membalasnya dengan lembut kepada keduanya yang melihatku dengan khawatir. Lalu, Yukinoshita tersenyum.

  “Aku serasa tidak percaya kalau aku mendengar kata-kata itu darimu.”

  Benar kan? Secara spontan, aku menganggukkan kepalaku sambil memasang senyum di wajahku. Yuigahama tampaknya bisa menerima itu dan membetulkan posisi tas sekolah yang dibawanya.

  “Kalau begitu, sampai jumpa besok.”

  “Ah, sampai jumpa.”

  Akupun melambaikan tanganku kepada keduanya dan mereka mulai berjalan menuju pintu keluar.  Sekarang, aku menghadap ke arah pintu ruang OSIS.

  Kuketuk pintu tersebut beberapa kali, lalu menunggu responnya.

  “Sebentar.”

  Suara tersebut terdengar sedikit terkejut dan diikuti oleh suara langkah kaki yang terburu-buru. Lalu, knop pintu bergerak perlahan, dengan suara ‘creak’, pintu terbuka beberapa cm. Lalu, aku bisa melihat seorang gadis manis dengan kacamata dan rambut bermodel pigtail mengintip dari balik pintu.

  “Ah, umm, ada yang bisa dibantu?”

  Gadis ini adalah Sekretaris-chan. Diantara rasa ragunya, dia menanyakan keperluanku datang kesana. Kedua matanya seperti mengatakan “Fuee, aku tidak kenal orang ini...menakutkan sekali...” perasaan semacam itulah, tapi itu mungkin hanya imajinasiku saja.

  Meski begitu, orang yang memiliki mental baja disini adalah diriku. Aku disini, mengumpulkan seluruh keberanianku dan pura-pura kenal dirinya. Dia membuka pintunya dan akupun memberinya plastik belanjaannya.

  “Halo. Ini, untukmu dan Ibu Ketua.”

  “Ah, erm, terima kasih banyak atas kebaikanmu.”

  Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan lagi, akupun memberikan plastik belanjaan itu kepadanya. Oleh karena itu, si Sekretaris-chan yang ragu itu tidak menerima plastik belanjaannya, malahan dia hanya membungkuk dan mengatakan terima kasih.

  Tidak, tidak, tidak, kau memang tidak boleh menerima apapun dengan mudah dari orang tidak dikenal!

  “Umm, umm Bu Ketua, ada yang mengirimkanmu minuman.”

  Begitulah, si Sekretaris-chan tampak bingung karena ditawari sekantong minuman dan memanggil Isshiki yang ada di ruangan lain. Mendengar kata minuman, Isshiki keluar dari ruangan Ketua OSIS. Dia lalu melihat isi plastik belanjaannya, kedua matanya tampak berkilauan.

  “Waa, kau ini ternyata sangat perhatian, Senpai? Terima kasih banyak~”

  “Huh? Apa-apaan dengan kata ‘ternyata’? Juga, kau hendak kembali lagi ke ruanganmu setelah mengambil ini?”

  Mendengarku mengatakan itu, Isshiki seperti dipenuhi tanda tanya.

  “Huh? Apa kau ada keperluan disini? Kupikir aku tidak bisa membantu banyak.”

  Aku ini sebenarnya dianggap apa, Irohasu~. Kalau aku tidak ada perlu, aku tidak akan mampir kesini, tahu tidak? Well, memang ada benarnya, kalau tidak ada keperluan maka tidak akan datang. Kalau begitu, aku akan katakan keperluanku.

  “Isshiki, aku pinjam dulu ruangan ini.”

  “Hah?”

  Kali ini, Isshiki memiringkan kepalanya ke arah lain.









x  x  x









  Pemandangan halaman sekolah yang kulihat dari jendela ruang OSIS, tampak disinari oleh cahaya senja  dan lampu penerangan jalan.

  Para siswa yang pulang dari aktivitas klubnya pasti akan lewat halaman ini. Karena itulah, dari jendela ruang OSIS ini aku bisa melihat para member Klub Sepakbola yang pulang ke rumah.

  Terlebih lagi, karena investasi hebat diriku yang menjadi kenalan ketua OSIS, Isshiki, tempat ini menjadi tempat yang sempurna untuk tinggal dalam waktu yang lama demi menunggu Hayama lewat.

  Sekarang ini, pemanas halogen ruangan ini menimbulkan suara ‘Myon Myon’ dan radiasi inframerahnya membuat kakiku bergetar, membuatnya terasa hangat. Ini adalah tempat yang sempurna untuk menunggu orang.

  Sambil meminum Max Coffee-ku, aku berjalan ke arah jendela dan melihat keluar.

  Isshiki berdiri di sampingku, melakukan hal yang sama. Hanya ujung jarinya saja yang terlihat dari lengan cardigan panjangnya yang memegang kaleng minuman cocoa dan mulai meminumnya.

  “Tampaknya Hayama-senpai masih belum lewat.”

  “Ya.”

  Aku sudah memberitahu Isshiki tentang tujuanku kesini. Ketika dia mendengarkan requestku, dia mengatakan, “Apa ini artinya aku akan pulang terlambat ke rumah?” dan menatapku dengan kesal. Hanya ketika kukatakan kalau aku hendak menunggu Hayama saja dia memperbolehkanku tetap di ruangannya.

  Para pengurus OSIS lainnya sudah pulang ke rumah masing-masing.

  Tapi aku sangat terkesan melihat si Wakil Ketua OSIS dan Sekretaris-chan pulang bersama-sama. Bajingan kau, Wakil Ketua! Kerjakan tugas dan pekerjaanmu, sialan! Well, sebenarnya aku juga sedang mengganggu pekerjaan mereka...

  Ngomong-ngomong soal kerjaan, aku teringat sesuatu.

  “Eh, kalau tidak salah kamu kan masih manajer Klub Sepakbola? Apa kegiatan klubmu akan berakhir sebentar lagi?”

  “Entahlah?”

  Isshiki menjawabnya dengan santai.

  “Entah...?”

  Ini bukanlah ‘Guardian Angel Getten’, tahu tidak... Tolong lakukan pekerjaanmu sebagai manajer dengan baik...

  “Bukannya saat ini dingin sekali?”

  Dia mengatakannya sambil tertawa malu-malu. Tidak hanya super licik, dia juga punya tawa yang manis! Ada apa dengan gadis ini, dia benar-benar super manis...

  Meski begitu, apakah ini benar...? Tapi kalau dipikir-pikir, akulah orang yang memintanya menjadi Ketua OSIS, orang yang meyakinkannya kalau dia punya kemampuan untuk berada di posisi ini.

  Bisa berenang mengikuti ombak adalah salah satu pesona dari Isshiki Iroha, atau kau bisa bilang kalau itu memang salah satu kemampuannya.

  Sebaliknya, aku ini buruk sekali dalam mengikuti aliran arus. Aku merasa yang kulakukan selama ini hanya menyakitkan diriku saja. Seperti sekarang, misalnya, aku ada disini di ruang OSIS. Andai saja waktu Hayama meminta nomorku tempo hari, aku juga punya nomornya, harusnya ini tidak perlu terjadi. Tapi kalau dipikir-pikir, meminta nomornya juga terkesan aneh.

  Yang kupikirkan barusan seperti debat kusir saja...

  Jika Hayama dan diriku adalah teman baik...Dia akan mengundangku ke suatu tempat seperti “Yo bro! Sup! Mampir ke rumah gue bro!” semacam itu. Mustahil aku mau diajaknya. Aku tidak suka Hayama yang seperti itu.

  Dan begitulah, yang bisa kulakukan hari ini adalah menunggu Hayama lewat.

  Kuputuskan untuk menatap ke arah halaman sekolah, dan akupun melihat kedua mata Isshiki lewat pantulan imagenya di kaca jendela. Isshiki menyadari ini juga dan dia tertawa kecil.

  “Tapi ini memang tidak diduga-duga. Biasanya Senpai tidak akan mau sampai sejauh ini.”

  “Memang begitu kah?

  Ketika aku menatap ke arah Isshiki, dia terlihat mengangguk.

  “Ya, kupikir kau akan mengatakan sesuatu seperti ini: Jangan libatkan aku dengan urusan yang melibatkan kumpulan idiot ini atau semacamnya.”

  Uwaaaa~, itu memang terdengar seperti diriku! Maksudku, Irohasu memang memahami diriku. Tampaknya kau sudah mencapai level 3 dalam memahami Hikigaya! Yosh, aku akan memberimu 80000 Pa Pa poin!

  Meski begitu, yang dia katakan memang benar. Biasanya, aku akan mencari-cari alasan dan mengatakan kata-kata Isshiki barusan tidak masuk akal. Tapi Isshiki memang cukup tajam dalam menilai perubahan diriku.

  “Maksudku, kau sampai segitunya datang kesini dan menunggunya...”

  Ketika Isshiki melihatku, dia menggumamkan sesuatu, seperti sedang berpikir. Meski kedua matanya terlihat manis, dia bisa melihat maksud dan motifku, dan ini terasa menakutkan. Oleh karena itu, aku memalingkan pandanganku darinya.

  Isshiki sepertinya menyadari sesuatu, dan dia melompat ke belakang, membuat jarak denganku.

  “...Ha, apa kau ini sebenarnya hendak membuat gosip kita berpacaran karena di ruangan ini hanya ada kita berdua? Lalu ketika gosip itu terjadi, apa kamu berharap itu bisa menjadi kenyataan dan mulai mendekatiku? Memang kuakui aku bisa belajar banyak dari rencana ini. Aku juga sempat berpikir kalau ide ini bisa kugunakan dengan Hayama-senpai. Tapi jika hasil gosip ini kurang bagus, aku akan menolakmu juga, maafkan aku.”

  Dia mengatakan itu tanpa mengambil jeda untuk bernapas dan tanpa ragu. Lalu, dia melihatku rendah.

  “Ah, umm, masuk akal juga. Maksudku, aku cukup suka teorimu tadi.”

  Aku menjawabnya juga, seperti tidak peduli tentang kata-kata awalnya. Isshiki seperti tidak menyukai jawabanku dan mengatakan “Responmu kurang sesuatu, Senpai...sambil mengembungkan pipinya.

  Meski begitu, waktu yang bisa dibilang cukup lama ini ketika menunggu Hayama, Isshiki memang sangat membantuku untuk menghilangkan kebosanan karena menunggu. Ketika kulihat lagi ke halaman sekolah, aku bisa melihat beberapa member Klub Sepakbola berjalan keluar dari halaman sekolah. Diantara mereka, aku bisa melihat Hayama.

  “Isshiki, terima kasih ya.”

  “Jangan khawatirkan itu, setidaknya aku bisa menolongmu.”

  Mendengarkan kata-kata terimakasihku, Isshiki tersenyum. Sebagai terima kasih atas senyumnya, aku membalas “Sampai nanti”. Ketika dia mengantarkanku keluar dari ruang OSIS, sebuah suara yang lembut terdengar olehku.

  “Senpai, lakukan yang terbaik~”

  Ketika kulihat, Isshiki sedang menaruh kepalan tangannya di depan dadanya untuk menyemangatiku. Ekspresinya terlihat ramah dan tatapannya terlihat lembut.

  Apa maksudmu berikan yang terbaik? Aku ini cuma ingin mengobrol dengan seseorang, tidak kurang tidak lebih. Meski jika kubalas kata-katanya tadi akan terdengar bagus, aku memilih untuk tidak melakukannya.

  Daripada mengatakan sesuatu, aku memilih untuk melambaikan tanganku dan meninggalkan ruang OSIS dengan segera.









x  x  x









  Suara langkah kakiku ini bisa terdengar dari pintu masuk hingga halaman sekolah. Mungkin karena kehangatan ruangan OSIS yang baru saja kutinggalkan dan kali ini aku diterpa oleh angin dingin.

  Sambil membetulkan mantel dan menutup mulutku dengan syal, akupun bergegas.

  Karena Hayama Hayato ada di depanku.

  Tobe, Hayama, dan yang lain terlihat berjalan dengan pelan sambil sesekali bergurau. Meski jika melihat ada beberapa siswa melewati mereka terlihat normal saja, tapi melihat orang yang datang bergegas dari arah sebaliknya pasti dengan mudah akan menarik perhatian. Misalnya, Tobe yang pertama menyadariku.

  “Oh, Hikitani-kun!”

  Tobe melambaikan tangannya, dan Hayama yang melihatku juga mengatakan “Ya” dan menaikkan tangannya.

  “Kalian hendak pulang ke rumah?”

  Akupun berhenti di depan mereka, sehingga mereka tidak punya pilihan kecuali ikut berhenti juga.

  Dengan alasan tertentu aku hanya berdiri saja disana dan mengatakan satu kalimat tadi, tapi mau bagaimana lagi. Tobe, berusaha membaca suasananya, membetulkan syal Burberry-nya dan melanjutkan pembicaraan.

  “Yea. Hikitani-kun juga?”

  “Begitulah....Ah, aku ingat sekarang. Hayama, apa kau ada waktu?”

  Sambil mengatakan itu, aku menatap ke Hayama.

  Aku ingin mengesankan kalau aku tiba-tiba ingat sesuatu dan butuh bantuan Hayama. Bahkan menurutku sendiri, kupikir aktingku barusan itu bisa dibilang gagal. Meski begitu, mengingat fakta kalau aku normalnya tidak berbicara ke orang, mereka tampaknya tidak begitu sadar kalau sikapku ini diluar kewajaran.

  Tentunya, Hayama adalah pengecualian.

  Seperti menyadari kalau ada sesuatu, dia menatapku dengan tatapan penasaran, meski hanya sebentar.

  Well, aku memang sudah menduganya.

  Hayama adalah idola banyak orang, seorang pria populer yang sudah berbicara ke banyak orang. Dari sudut pandang orang luar, tampaknya tidak ada keanehan dari situasi ini.

  Meski begitu, Hayama tahu apa tujuanku.

  Berbicara dengan Hayama karena kepentinganku sendiri; Aku bukanlah orang yang punya hubungan dekat dengannya hingga terlihat wajar pulang bersama ataupun mengajaknya jalan-jalan ke suatu tempat. Satu-satunya waktu ketika dia punya urusan denganku adalah waktu itu, membicarakan sesuatu yang buruk. Dia pasti tahu itu.
[note: Volume 7 chapter 8, pembicaraan Hayama dan Hachiman di samping jembatan Kyoto tentang Hayama yang tidak kooperatif di penembakan Ebina.]

  Tatapan ragu Hayama itu menghilang ketika dia mencondongkan kepalanya, dan memasang senyum yang selalu dia tampilkan ke semua orang.

  “Oh baiklah. Kalau begitu, aku duluan dulu, Tobe.”

  “O, Oh. Kalau begitu, sampai jumpa lagi!”

  Hayama menatap sejenak ke Tobe dan Tobe-pun mengangguk. Lalu, Tobe dan member klub lainnya juga mulai berjalan meninggalkan kami.

  Setelah melihat Tobe dan yang lain pergi, Hayama menatapku. Lalu, dengan aba-aba gerakan dagunya, dia seperti memintaku untuk ikut dengannya ke parkir sepeda. Akupun mengikuti sarannya dan mulai berjalan.

  Mayoritas siswa sudah pulang ke rumah, sehingga area parkir sepeda terlihat sepi. Masih ada beberapa siswa di klubnya, atau beberapa lagi bisa terlihat disini sedang berjalan pulang, menyisakan kesunyian. Ketika angin bertiup, suara atap yang terbuat dari seng mulai menimbulkan bunyi dan disertai bunyi besi-besi sepeda yang diparkir.

  Suara ban sepeda yang digeser mulai terdengar ketika aku melepas kuncian sepedaku. Sementara itu, Hayama hanya berdiri di sampingku. Dia tidak melakukan apapun, hanya melihatku begitu saja dan menunggu.

  “Sepedamu mana?”

  “Aku akan pulang naik kereta.”

  “Ah, begitu ya.”

  Jadi, kau sengaja menemaniku kesini? Apa-apaan dengan kebaikanmu itu...Tunggu dulu, itu artinya pria ini tahu kalau aku datang ke sekolah hari ini dengan naik sepeda. Ini sangat menakutkan...

  “Jadi, apa yang akan kau lakukan?”

  Hayama menanyakan itu kepadaku.

  Well, akulah yang mengatakan kalau aku ada perlu. “Kita akan kemana?”, mungkin itulah yang dia tanyakan.

  “Kupikir aku ingin membicarakan sesuatu.”

  Begitulah, ini adalah pembicaraan dimana orang lain tidak boleh tahu. Aku tidak ingin kita terlihat mencolok. Lagipula, tempat ini anginnya dingin sekali. Dimana kita tahu tempat yang bagus untuk bicara. Rumahku? Atau mungkin rumah Hayama...Nah, mustahil.

  “Ada ide mau kemana?”

  “Memang, kemana ya...”

  Jawaban Hayama ini seperti...Dan dia mengarahkan pandangannya ke gerbang sekolah. Akupun menyetujuinya dan menuntun sepedaku.

  Suara langkah kaki dan suara sepeda yang dituntun menggema di lingkungan sekolah. Sekolah ini sangat berisik seperti kebun binatang ketika siang hari, tapi ketika petang seperti kuburan.

  Ini adalah suasana yang awkward...

  Kesunyian melanda kami, tapi, lagipula, dan yang terpenting, komposisi orang ini. Ini memang adegan yang aneh bagi kami berdua. Meski akulah yang memintanya untuk berbicara di suatu tempat, kurasa agak aneh berjalan dengannya karena aku membawa sepeda...

  Eh, apa yang harus kulakukan? Apa terasa aneh jika aku menuntun sepeda dan berjalan dengannya?

  Atau begini, kita sepakat untuk bertemu di suatu tempat dan bertemu di jam yang ditentukan?

  Seseorang tolong beri tahu aku! Melody atau Goo tidak apa-apa! Atau mungkin Yahoo Answer! Tolong aku Yahoo Answer!

  Setelah berteriak-teriak karena putus asa ke Yahoo Answer!, kupikir aku menemukan solusinya. Oke! GOOGLE!

  Akupun pura-pura batuk untuk memperoleh perhatian Hayama yang beberapa langkah di depanku.

  “Ah, kau mau naik?”

  “Eh?”

  Hayama melihatku dengan tatapan kosongnya. Dia seperti kesulitan hendak menjawab apa. Mungkin dia tidak mendengar jawabanku karena angin yang kencang...

  Kamu ini apa sih, protanogis yang keras kepala? Jangan membuatku mengulangi kata-kataku, karena itu terdengar memalukan. Aku melihatnya berdiri saja disana, seperti orang bodoh. Itu adalah jawaban untuk menolak ajakan naik sepeda bersama-sama dengan level paling tinggi. Dengan penolakan semacam itu, orang mungkin tidak akan punya keberanian untuk menanyakan pertanyaannya lagi. Jangan bermain-main dengan hati wanita, mereka sangat rapuh...

  Setelah mendebatkan itu dalam pikiranku, akupun menarik napas dalam-dalam. Akupun membetulkan tasku dan menanyakannya lagi...Hachiman! Kamu bisa! Kumpulkan seluruh keberanianmu!

  “...Bukan, maksudku, ayo kita naik sepeda ini saja bersama-sama.”

  “Ah, itu ya. Kupikir aku salah dengar tadi.”

  Dia mengatakan itu dengan memasang senyum yang lembut.

  “Kalau begitu, kuterima tawaranmu.”

  “Oke.”

  Akupun naik ke sepeda dan Hayama duduk di belakang. Ketika dia duduk di belakang, aku bisa merasakan kalau sepedaku terasa lebih berat. Well, saatnya pergi. Dan akupun bersiap-siap untuk mengayuh sepedaku.

  Tiba-tiba, aku merasakan kalau sesuatu memegang bahuku dan akupun terkaget-kaget.

  “Eh, ada apa?”

  Aku menoleh kebelakang karena takut, aku melihat Hayama memiringkan kepalanya ke samping. Dia melihat ke depan lewat samping bahuku.

  “Ah, maaf...Aku coba menyeimbangkan tubuhku tadi.”

  Setelah mengatakan itu, dia memindahkan tangannya dari bahuku, lalu dia berpegangan ke pegangan besi di belakang sambil berusaha menyeimbangkan tubuhnya.

  Fumu. Well, kurasa itulah yang terjadi jika ada dua orang berboncengan. Jika kau menaruh beratmu di depan, maka kau harus berpegangan ke bahu atau pinggang si pengayuh,  atau juga sadelnya. Sebaliknya, jika kau menaruh beratmu di belakang, kau akan memilih sikap seperti yang Hayama lakukan saat ini. Ngomong-ngomong, Komachi melakukan yang pertama! Dia menaruh kedua tangannya di pinggangku! Manisnya!

  Dengan begini, persiapannya selesai. Akupun menaruh kakiku di pedal satunya dan bertanya ke Hayama.

  “Kau siap?”

  “Kapan saja.”

  Mendengarnya menjawab dengan lembut, akupun mulai mengayuh sepedaku.

  Tetapi, mungkin karena berat kita berdua, setir sepeda ini bergerak diluar kontrolku, dan sepedanya bergerak tidak karuan seperti membentuk motif zig-zag.

  Oh, oh...Memang berat bagi dua pria untuk naik sepeda bersama...Tidak ada yang berboncengan denganku selama ini kecuali Komachi. Karena Komachi sangat ringan...Kau manis sekali, Komachi...

  Di lain pihak, pria yang ada di belakangku ini tidak ada manis-manisnya.

  “Umm, mau gantian?”

  Akupun melihat ke belakang untuk mengetahui asal suara tersebut dan Hayama memasang wajah khawatir bercampur senyum.

  “Nah, aku baik-baik saja. Tenang saja.”

  Setelah menjawabnya dengan singkat, akupun fokus untuk mengayuh sepeda ini. Aku tidak bisa membiarkannya menyetir, akan sangat memalukan karena aku akan terlihat tidak bisa mengayuh sepeda untuk dua orang! Seorang pria juga punya sesuatu untuk dibanggakan!

  Karena sifat keras kepalaku, atau juga karena aku mulai terbiasa, sepeda ini mulai terlihat berjalan sebagaimana mestinya. Secara perlahan pula, sepeda ini mulai meningkatkan lajunya.

  Tidak lupa fakta kalau Chiba adalah dataran yang cukup datar, jalanan ini cukup lurus dan tidak ada tanjakan, membuatnya nyaman untuk bersepeda.

  Anginnya memang dingin seperti biasanya, tapi karena tubuhku mulai terasa panas, aku tidak merasakan itu sama sekali. Melihat sepeda ini mulai stabil, aku merasa Hayama menepuk-nepuk punggungku.

  Bisa kau hentikan itu? Karena yang kau lakukan itu membuatku ketakutan...

  “Jadi ada perlu apa denganku?”

  Akupun tidak mempedulikannya dan terus mengayuh tanpa melihat ke belakang.

  “Jadi kita akan kemana?”

  Setelah dia mengatakan itu, aku baru sadar kalau sejak awal, kita tidak memutuskan akan hendak kemana. Well, terserah saja, bahkan di waktu seperti ini, tempat-tempat yang bisa kita datangi sudah terbatas.

  “...Bagaimana kalau Saize?”

  “Kau benar-benar menyukai Saize, ya?”

  Hayama bertanya kepadaku dengan nada yang terkejut. Apaan, memangnya salah kalau milih Saize!? Karena itulah, aku mengatakannya secara tidak sengaja.

  “Ada apa, apa kau tidak suka kesana? Aku akan mentraktirmu kopi disana.”

  “Di Saize ada bar minumannya kan?”

  Aku mendengar kata-katanya itu disertai suara tawa darinya. Itu memang sesuatu yang mengejutkan. Apa dia tahu kalau Saize punya bar minuman?

  ...Jangan bilang kalau dia ini juga menyukai Saize?







x  x  x







  Aku membeli dua kaleng kopi dari mesin penjual minuman yang ada di pinggir jalan.

  Sambil menatap ke arah jalanan, aku bisa melihat lampu dari mobil-mobil yang lewat. Cahaya berwarna orange dicampur dengan cahaya dari lampu penerangan jalan menerangi daerah ini meskipun sudah malam.

  Mesin penjual minumannya mengeluarkan dua kaleng yang kubeli, dan masih terasa hangat di tanganku, lalu aku berjalan menuju taman yang tidak jauh dari jalan raya. Mungkin karena apartemen sebelah terlihat terang benderang, taman ini terlihat sangat gelap.

  Kegelapan taman ini hanya diterangi oleh lampu-lampu penerangan yang cahayanya terlihat sudah mulai pudar. Biasanya, lampu-lampu itu mengeluarkan suara. Cahaya itu menerangi dua bangku taman yang berdampingan.

  Hayama duduk di bangku tersebut seperti hendak melihat sesuatu.

  Matanya seperti melihat sesuatu, tapi satu-satunya gedung yang terlihat jelas dari posisinya adalah gedung Saize, jalan raya, dan jembatan layang. Kalau dibandingkan dengan perumahan, gedung-gedung di sekitar taman ini, kesunyian ini seperti pertanda akan adanya gempa bumi.

  Karena banyaknya gedung-gedung tinggi di sekitar sini, aku tidak merasakan adanya angin dingin yang bertiup.

  Aku sebenarnya ingin pergi ke Saize, tapi aku melihat ada beberapa siswa sekolah kami memarkirkan sepedanya di parkiran Saize. Juga ada beberapa sticker yang dibagikan ke setiap siswa untuk ditempelkan ke sepeda yang biasa dipakai ke sekolah. Penempatan sticker itu diwajibkan ditaruh di tempat yang mudah dilihat di sepeda. Masalahnya, sticker tersebut secara jelas bertuliskan ‘milik siswa kelas 2 SMA Sobu’.

  Saat ini, aku tidak ingin siapapun mendengar pembicaraan kami. Normalnya, jika kita menghapuskan Saize dari opsi, maka satu-satunya tempat tersisa adalah taman di dekat Saize. Jika kita berbicara di tempat terbuka seperti ini, kita akan langsung tahu siapa yang datang kesini. Jika kita hendak membicarakan sesuatu yang rahasia, tempat dimana kita bisa melihat siapa saja yang mendekat akan menjadi pilihan yang bagus.

  Ketika aku mendekati bangku taman tersebut, Hayama menyadari kehadiranku.

  Dia menaikkan tangannya untuk memberitahu kehadirannya. Akupun melemparkan kaleng kopi tersebut ke tangannya dan dia menangkap itu dengan mudah.

  Setelah memastikan dia menerimanya, akupun duduk di bangku satunya. Setelah membuka penutup kaleng hangat tersebut, akupun mulai meminumnya sedikit.

  Hayama juga melakukan hal yang sama denganku.

  Kemudian, dia mulai berbicara.

  “...Katamu kau hendak membicarakan sesuatu. Apa ini soal gosip itu?”

  “Ya.”

  Aku menjawabnya singkat, dia hanya tersenyum dan mengatakan “begitu ya” dengan suara pelan.

  “Gosip itu mungkin sudah mengganggu Yui dan Yukinoshita-san. Maaf ya, nanti tolong sampaikan maafku kepada mereka.”

  “Katakan saja sendiri...’

  “Meski ingin, tapi melakukannya secara langsung saat ini agak...Itu bisa menimbulkan gosip yang lain lagi. Tampaknya kita tidak bisa melakukan sesuatu dengan bebas, huh.”

  Dari caranya mengatakan itu, membuktikan kalau ini bukanlah pengalaman pertamanya. Ada semacam kebenaran yang berasal dari kejadian di masa lalu.

  Ini mirip sekali dengan sikap bertahan yang Yukinoshita lakukan selama ini.

  “Well, kupikir begitu...”

  Kalau aku berada dalam posisi Hayama atau Yukinoshita, mungkin aku juga akan memilih sikap yang sama.

  Gosip ini sebenarnya tidak perlu klarifikasi atau semacamnya, jika kau berusaha menyangkalnya, mungkin mereka akan bilang “reaksimu itu adalah bukti kalau gosip ini ada benarnya!”.

  Kalau begitu, cara termudah untuk meminimalisir efeknya adalah tidak melakukan apapun hingga mereka bosan.

  Meski begitu, meski kau mendiamkannya, kau juga memikul penderitaan itu sendirian.

  Entah apapun isi gosipnya, si korban akan sangat stress jika banyak sekali orang yang membicarakan itu di sekitarnya.

  ‘Diamkan saja mereka’, itu sangat mudah sekali untuk dikatakan. Tapi, sudah kodratnya manusia untuk melihat sendiri asal bunyi tersebut jika mendengar suara dari tempat yang tidak diduga-duga. Di dunia ini, akan selalu ada manusia yang membicarakan sesuatu yang tidak perlu didengar oleh orang lain.

  Setahuku, cara untuk melindungi dirimu sendiri adalah tidak berhubungan dengan orang yang digosipkan. Meski begitu, orang yang bisa melakukan itu sangat sedikit sekali. Apa kamu ini Budha? Serius ini, apa kamu ini Budha?!

  Yukinoshita Yukino sudah melakukan ini sejak lama sementara Yuigahama Yui terjebak dalam komunitas sosialnya.

  Akupun mencoba meremas kaleng kopiku. Tampaknya tanganku ini terlihat sedikit memerah.

  “Maaf ya.”

  Sebuah kata maaf yang tidak terduga berasal dari Hayama. Dia tidak punya alasan untuk meminta maaf, akupun melirik ke arahnya karena penasaran.

  “Aku tidak bisa melakukan sesuatu soal itu.”

  Hayama mengatakan itu dengan senyum yang pucat. Lampu taman ini menerangi wajahnya, memberitahu kalau alisnya telah sedikit turun seperti menunjukkan rasa penyesalannya.

  Meski begitu, berbeda dengan ekspresinya, kaleng kopi yang ada di tangan Hayama sedikit bergetar. Meski kadang ada angin dingin yang bertiup, aku tidak yakin kalau angin tersebut penyebab kaleng itu bergetar.

  Aku memang setengah berharap Hayama akan mengatakan kata-kata itu. Selain itu, aku tidak punya alasan untuk menyalahkan Hayama.

  Tapi, meski begitu.

  “Baiklah, aku paham. Meski begitu, aku tidak bisa diam saja. Lagipula, aku sudah berjanji untuk menyelesaikannya.”

  Akupun menoleh kepadanya untuk memberitahu itu, aku bisa melihat dirinya sedang menatapku.

  “Janji?”

  “Ya...Well, itu, erm, pekerjaanku di klub.”

  Kata-kata tersebut keluar begitu saja dari mulutku dan akupun memalingkan wajahku secara spontan.

  Seperti yang kuduga, aku tidak bisa mengatakan alasan yang sebenarnya. Aku tidak bisa memberitahu orang lain apa yang kurasakan sementara aku sendiri tidak bisa menjelaskan itu ke diriku sendiri.

  Oleh karena itu, aku mengatakan kata-kata yang biasa keluar dari mulutku. Frase klise yang sama.

  Karena itu, Hayama terlihat sedang mendesah dan menaruh kaleng kopinya di bangku.

  “...Jadi sekali lagi, kau berbicara denganku karena kau sedang mengerjakan pekerjaanmu, huh?”

  Responnya sangat dingin, dan entah mengapa, aku merasakan rasa kecewa datang darinya. Aku tidak tahu ekspresi Hayama seperti apa, tapi yang terlihat jelas adalah dia sedang mengepalkan tangannya.

  “Kau tidak berubah sedikitpun.”

  Kata-kata yang dia ucapkan mencapai telingaku.

  Suara-suara dedaunan yang jatuh seperti suara monster yang tidak terlihat sedang mengawasiku, memberiku rasa yang tidak nyaman.

  Karena itu, aku menjawabnya dengan tajam pula.

  “Kan sudah kukatakan sebelumnya, ini hanya pekerjaanku di klub. Pekerjaan klub relawan.”

  “...Begitu ya.”

  Responnya terkesan spontan, atau mungkin hanya aku saja yang berpikir kalau jawabannya tadi sangat dingin.

  Aku ingat kalau aku memang pernah mengobrol dengannya dengan situasi seperti ini. Kalau tidak salah ketika mendekati Natal.
[note: Percakapan Hayama dan Hachiman setelah Hayama menolak Isshiki di Disney Land.]

  Tapi, angin waktu itu jauh lebih dingin, dan langitnya jauh lebih gelap dari sekarang.

  Lalu terdengar suara batuk dari Hayama.

  “Kabur dari masalahnya, huh?...Tapi manusia tidak bisa selamanya melarikan diri.”

  Suara yang terdengar di telingaku ini sangat tipis dan pelan. Suara itu seperti tidak memiliki energi ataupun intonasi. Tanpa sadar, tanganku yang mengepal tiba-tiba merasa lebih tenang.

  Meski begitu, suara Hayama masih terus menggema di taman ini.

  Aku tidak bisa menjawabnya dan dia tidak melanjutkannya lagi. Suasana taman ini menjadi sunyi lagi.

  Apa maksud Hayama tadi, dan siapa yang dia bicarakan?

  Yang bisa kulakukan adalah menanyakan maksudnya, kepada siapa kata-katanya ditujukan itu, tapi aku tidak bisa mengatakan itu.

  Tapi aku harus meminta kejelasannya, atau aku tidak akan pernah punya kesempatan itu!

  Akupun membuka mulutku untuk mengatakan sesuatu, tapi yang keluar hanyalah napas yang kering.

  “Apa urusan kita sudah selesai?”

  Suara Hayama mencapai telingaku, akupun menoleh ke arahnya.

  “Ah...belum, oleh karena itu, kau harusnya berpikir tentang apa yang harus kau lakukan untuk mengatasi gosip itu.”

  Entah mengapa, aku bisa mengatakan kata-kata itu sedikit demi sedikit. Setelah mendengarkanku, dia menganggukkan kepalanya dan memotong kata-kataku selanjutnya dengan senyum.

  “Kupikir pekerjaanmu hari ini sudah selesai.”

  Hayama berdiri, seperti memberitahu kalau percakapan ini telah selesai. Wajahnya yang sedari tadi menunduk dan bersembunyi dibalik bayangan cahaya lampu, terlihat sedih.

  “...Aku akan melakukan sesuatu soal gosip itu.”

  “...Sesuatu katamu?”

  Aku hendak menanyakannya lebih jauh soal rencananya, tapi dia memotongku sebelum aku sempat bertanya.

  “Pada akhirnya, yang terpengaruh cuma aku saja....Oleh karena itu, kamu tidak perlu mengkhawatirkannya.”

  Nada yang lembut, tegas, dan menenangkan.

  Meski begitu, kenapa aku masih merasakan kebekuan di nada suaranya?

  “Terima kasih atas kopinya ya.”

  Hayama melambaikan tangannya yang memegang kaleng ketika mengatakan terima kasih. Tampaknya itu pengganti kata-kata perpisahan darinya. Hanya itu saja, dia lalu mulai berjalan meninggalkan bangku taman.

  Dalam kegelapan taman, dimana cahaya lampu tidak mencapai tempat tersebut.

  Meski aku tahu dia akan menuju arah keluar dari taman, tapi aku tidak tahu dia akan kemana setelah ini.

  Aku melihat Hayama menghilang dalam kegelapan malam.

  Kabur dari masalah sebenarnya...

  Kepada siapa dia mengatakan kata-kata itu?

  Aku tidak perlu memikirkan lama-lama kepada siapa dia mengatakan itu.

  Karena aku sendiri tahu.

  Itu ditujukan kepada diriku, dan juga dirimu.

 

 




x Volume H | END x

Tidak ada komentar:

Posting Komentar