Rabu, 29 Juni 2016

[ TRANSLATE ] Oregairu Vol 7.5 Special | Vol 3 chapter 7 : Taktik Dari Hikigaya Komachi -4


x x x








  Di sebuah perlombaan yang memiliki suasana unik seperti ini, Hiratsuka-sensei berdiri diantara dua meja tim. Kedua tim mempertaruhkan kebanggaan mereka dan juga siap menerima hukuman dalam QUIZ MAGIC CHIBADEMY.

  Dengan segala kecintaanku terhadap Chiba, aku tidak boleh kalah disini.

  Hiratsuka-sensei melihat ke arah kami dan mengembuskan napas yang cukup panjang. Lalu dia mengumumkan sesuatu.

  "Apa kalian ingin pergi ke Kingdom of Ostriches!?"

  "Yeeaaah!"

  "Yeaaaah!"

  "Yeaah!"

  Komachi, Totsuka, dan juga Zaimokuza menaikkan tangannya karena antusias. Di lain pihak, merasa seperti ketinggalan akan sesuatu, Yukinoshita dan Yuigahama memiringkan kepala mereka.

  "Apa itu Kingdom of Ostriches...?"

  "Kedengarannya seperti sebuah tempat yang tidak ingin kusinggahi..."

  Apa mereka tidak tahu tentang Kingdom of Ostriches...
[note: Sebenarnya namanya The Ostrich Kingdom, mungkin dibalik karena masalah hak cipta nama, seperti Destiny Land untuk Disney Land. Itu adalah restoran terkenal di Ishioka, Ibaraki, daerah yang berada tepat di utara Chiba.]

  "Itu tempat yang menyenangkan. Menu Sashimi Burung Unta disana enak sekali."

  "Jadi itu adalah restoran dimana kau bisa makan burung unta..."

  Yuigahama yang terkejut itu menampakkan ekspresi jijik, tapi asal kau tahu saja, daging burung unta itu terkenal karena kaya protein dan rendah kalori. Dagingnya sangat berkualitas dan tentu saja, sangat enak. Meski rasa telurnya terasa kasar di lidah.

  Ketika aku sedang memikirkan burung unta, game ternyata sudah dimulai. Aku bisa mendengar Hiratsuka-sensei membacakan pertanyaannya dengan keras.

  "Pertanyaan. Mengenai maskot dari Chiba,"

  Sebelum Sensei menyelesaikan pertanyaannya, Zaimokuza dari timku tiba-tiba menekan tombol di meja kami.

  "Fumu, serahkan padaku."

  Ketika Zaimokuza berbicara dengan penuh percaya diri, dia mengibaskan mantelnya, membetulkan posisi berdirinya, dan menunjuk ke arah Hiratsuka-sensei.

  "Si anjing gila yang berwarna merah, CHI-BA+KUN!"

  Ada apa dengan nama aneh tersebut...?

  Setelah jawaban itu terdengar, Hiratsuka-sensei menggeleng-gelengkan kepalanya dan terdengar suara bunyi bel yang menandakan jawaban salah. Sepertinya, pertanyaan tadi berhenti di tengah jalan, dan sekarang Sensei melanjutkannya lagi.

  "CHI-BA+KUN, itu..."

  "Nng, ternyata pertanyaan jebakan!"

  Zaimokuza kembali menekan-nekan belnya karena frustasi. Yeah, itu sebenarnya hal yang lumrah, bukan sebuah jebakan. Dalam quiz, ada beberapa hal-hal penting dalam pertanyaan. Begitulah yang mereka katakan di Nanamaru Sanbatsu.

  "Zaimokuza, kau ini..."

  Ketika kutatap dirinya, lidah Zaimokuza seperti membeku dan dia mulai memukul kepalanya sendiri.

  "Tehee pero ✩"

  "Tch, kau benar-benar membuatku jengkel..."

  Ketika aku mulai menatap Zaimokuza dengan tatapan yang hendak membunuh sesuatu, Hiratsuka-sensei, tidak mempedulikan sikap kami berdua dan terus melanjutkan pertanyaannya.

  "Kulanjutkan lagi pertanyaannya. Tentang maskot dari Chiba, yaitu CHI-BA+KUN, apa warna dari CHI-BA+KUN?"

  Kali ini, seluruh pertanyaannya sudah dibaca. Dan ini adalah momen dimana aku harus menekan tombolnya. Tapi aku kalah cepat dengan Komachi.

  "Aku! Jawabannya adalah merah~!"

  Ketika dia menjawab dengan benar, lampu di atas mejanya menyala. Komachi lalu menari dan memutar tubuhnya ketika tahu jawabannya benar. Well, itu adalah pertanyaannya yang sederhana dan sangat mudah...Anggap saja itu sebagai pemanasan.

  Ketika Komachi dan Yuigahama mengucapkan "Yaaay!" sambil high-five, Yukinoshita menggumamkan sesuatu seperti keheranan.

  "...Kenapa CHI-BA+KUN warnanya merah ya?"

  "E-Entahlah...Bahkan aku sendiri tidak tahu kenapa alasannya..."

  Kira-kira kenapa, ya? Aku sendiri yakin kalau warna merah sendiri tidak ada hubungannya dengan Chiba...Pastinya bukan karena tubuh manusia memancarkan radiasi berwarna merah ketika dihinggapi oleh motivasi yang meledak-ledak...

  Seperti membaca situasinya, Hiratsuka-sensei lalu berbicara.

  "Apa kalian keberatan jika kulanjutkan ke pertanyaan selanjutnya? Pertanyaan. Berlokasi di Chiba, pantai buatan pertama di Jepang adalah!?"

  Oh, kalau yang ini memang terdengar sulit. Tidak ada seorangpun yang menekan tombolnya. Tapi entah mengapa, Totsuka menekan tombolnya dengan ekspresi yang kurang meyakinkan.

  "U-Um...Pa-Pantai Kujuukuri?"

  Lalu terdengar suara bel yang menandakan jawaban salah.

  Totsuka terlihat kecewa dan meminta maaf kepadaku.

  "Hachiman, maaf ya."

  "Kurasa kau cukup berani, sang pemadam api cilik. Kurasa kita tidak akan memperoleh apapun jika kita tidak ada yang mau berbicara. Kurasa tidak masalah, tidak perlu memikirkannya dalam-dalam, tidak usah dipikirkan terus!"

  Kupikir aku bisa menyemangatinya sambil menepuk bahunya, tapi tiba-tiba muncul sebuah bayangan diantara kami berdua.

  "Ha-Hachiman!? A-Aku juga! Aku akan memberikan yang terbaik!"

  Kenapa sih orang ini tiba-tiba muncul dengan genit? Apa kau ini anjing Saint Bernard atau sejenisnya? Kau ini terdengar seperti anjing Tosa.

  "Yeah, yeah, aku dengar itu. Serahkan ini padaku."

  Aku merespon dengan cepat Zaimokuza dan fokus kembali ke meja quiz. Untuk menghilangkan rasa bersalah Totsuka barusan, aku sudah menyiapkan jawaban yang benar.

  Aku lalu menekan tombol tersebut dengan kepercayaan diri yang tinggi.

  Ketika bunyi "ding-dong" terdengar, Hiratsuka-sensei tersenyum sinis kepadaku.

  "Fumu, Hikigaya. Jawabanmu?"

  "Jawabannya adalah...Pantai Inage."

  Aku seperti menelan ludahku sendiri. Ataukah ada jawaban lain yang benar? Aku hanya bisa terdiam.

  Dan kemudian terdengar suara "ding dong, ding dong, ding dong" seperti memberi selamat atas jawaban yang benar.

  "Hmph, kalau berbicara pantai buatan di Chiba, itu memang benar."

  Meski berhasil menjawabnya, kenapa bisa muncul pertanyaan yang sangat antusias soal Chiba seperti barusan? Coba jika tidak ada seseorang sepertiku yang sangat mencintai Chiba ada disini, kurasa tidak akan ada yang bisa menjawab pertanyaan itu.

  Hiratsuka-sensei menganggukkan kepalanya dan menaikkan tangannya.

  "Untuk sementara, kedua tim imbang. Baiklah, kita lanjutkan lagi!"

  Setelah Hiratsuka-sensei mengepalkan tangannya, aku merasa kalau diriku ini mulai diliputi antusiasme yang sangat tinggi. Aku kemudian menaruh tanganku di dekat tombol dan bersiap-siap untuk pergi berperang.

  "Pertanyaan. Makanan khas Chiba?"

  "Ramen Tantan Katsuura!"

  "Pertanyaan. Kue lokal dari Bousou?"

  "Orandaya!"

  "Pertanyaan. Meskipun berada di Chiba?"

  "Tokyo German Village!"

  "Pertanyaan. Orang terkenal dari Chiba?"

  "Inou Tadataka!"

  Dengan cepat, aku meneriakkan semua jawaban tersebut. Setelah kekalahan barusan, rentetan jawaban yang benar dariku membuat semua orang merasa antusias.

  "Hachiman, kau luar biasa!"

  "Memang. Hachiman, kau ini memang nomor satu."

  Totsuka menepuk kedua tangannya dan tersenyum kepadaku, sementara itu Zaimokuza tertawa dengan sombongnya sambil menepuk bahuku. Tapi, sebenarnya bukan diriku-lah yang luar biasa disini.

  "Nah. Aku ini bukan yang nomor satu. Chiba-lah yang nomor satu. Meski, Chiba sendiri adalah yang ke-3 di daratan Kanto."

  Mengikuti setelah Tokyo dan Kanagawa, adalah Chiba yang tidak tergoyahkan di posisi ketiga. Kau mungkin bisa mengatakan kalau Chiba adalah tempat ketiga di Jepang. Bahkan Makuhari City saja disebut-sebut seperti itu, jadi kau bisa mempertimbangkan kalau Chiba juga termasuk daerah Ibu Kota di Jepang.
[note: Makuhari City adalah kota buatan di atas laut yang berada di Chiba. Disebut sebagai kota tempat orang elit di Jepang, sering disebut juga sebagai Ibukota baru Jepang.]

  "Kuh, itulah Onii-chanku, kecintaannya terhadap Chiba sangat dalam..."

  "Kalau begini terus, kita akan kalah dengan tim Hikki..."

  Kata-kata yang baru saja diucapkan Yuigahama membuat Yukinoshita yang awalnya tidak tertarik dengan perlombaan ini bereaksi berbeda.

  "Kalah...Kalah dari Hikigaya-kun..."

  Setelah mengatakan itu, dia membuka kedua matanya lebar-lebar dan menaruh tangannya di dekat tombol, tubuhnya seperti diliputi oleh semangat yang membara.

  "Yu-Yukinon sedang bersemangat..."

  Yuigahama terlihat ketakutan melihat Yukinoshita yang seperti kerasukan sesuatu. Hiratsuka-sensei yang terlihat puas dengan situasi itu, mulai melanjutkan ke pertanyaan selanjutnya sambil tersenyum.

  "Pertanyaan. Oleh-oleh khas Chiba yang bisa diperoleh di toko oleh-oleh, yang paling terkenal..."

  Ini milikku! Bahkan jika Yukinoshita memutuskan untuk serius dengan game ini, kalau kita membahas soal Chiba, ini berarti menyinggung keahlianku, ini seperti kebun pribadiku; bahkan, bisa dikatakan ini seperti rumahku sendiri. Aku mungkin kalah dalam nilai ujian semester, tapi tidak disini. Dengan penuh percaya diri, aku menekan tombol di mejaku.

  "Kue beras!"

  Setelah aku menjawab itu, Hiratsuka-sensei tersenyum kecut.

  "Kue beras...Sayang sekali,"

  "Aduh sial..."

  Aku seperti terpeleset gara-gara melihat emosi Yukinoshita barusan...Zaimokuza melihatku dengan tatapan mata yang kesal sambil mengatakan "hmph hmm".

  Sambil memalingkan pandanganku dari Zaimokuza, pertanyaan berlanjut.

  "Bagaimana cara yang dianjurkan untuk memakan kue beras tersebut!?"

  "Konyol sekali, siapa sih yang tahu jawaban pertanyaan seperti itu!?"

  Yuigahama terlihat frustasi sambil mengatakan "grrr", tapi tiba-tiba ada seseorang yang menekan tombol.

  "Serahkan ini ke Komachi!"

  Ini buruk sekali...Aku selalu memakan kue beras bersama Komachi, dia pasti bisa menjawabnya dengan benar...

  "Jawabannya adalah...Kau panggang itu di oven dan memakannya bersama sichimi dan mayones!"

  Ketika Komachi menjawab itu, ekspresi wajah Yuigahama terlihat jijik dan Yukinoshita menggerutu.

  "Kedengarannya seperti makanan yang panen kalori..."

  "Apa benar-benar tidak apa-apa memanggang kue beras...?"

  Kurasa itu bisa, karena rasanya sangat lezat ketika dipanggang. Well, soal kalorinya...Kurasa memang tidak bisa kusangkal lagi.

  Dan kemudian terdengar suara bel yang menandakan kalau jawaban tersebut benar.

  "Jadi yang barusan itu jawaban yang benar..."

  Begitulah Yuigahama yang terlihat terkejut, tapi jujur saja ya, kau harusnya mencoba itu, rasanya sangat enak.

  Merasa senang karena menjawab dengan benar, Komachi terlihat bangga.

  "Ketika kita membahas hal-hal tidak berguna soal Chiba, serahkan saja padaku! Lagipula, aku ingat semua yang pernah kakakku katakan soal Chiba karena hanya akulah satu-satunya orang yang dia ajak bicara!"

  "Woow, kalian berdua adalah saudara yang aneh..."

  Hei? Nona Yuigahama? Apa kau baru saja mengatakan sesuatu yang berlebihan? Itu bukan masalah besar, benar tidak? Kita ini memang akrab sekali. Tepat ketika aku berpikir untuk berdebat dengannya, Hiratsuka-sensei mulai membaca pertanyaan selanjutnya.

  "Pertanyaan. Ikan dari Chiba yang paling laris dijual di seluruh Jepang adalah?"

  Tepat setelah pertanyaan tersebut selesai, tiba-tiba ada yang menekan tombolnya secepat kilat.

  "Lobster karang."

  Yukinoshita menjawabnya dengan pose yang keren. Apa-apaan barusan? Jelas-jelas tidak ada delay antara pertanyaan dengan jawabannya...

  "Darimana Yukinon tahu hal semacam itu!? Yukinon ini ternyata sedikit aneh juga!"

  Begitulah kata Yuigahama, tapi kurasa aku sendiri tidak perlu terkejut soal itu. Pertanyaan tersebut tentang geografi dan jika kau tahu pekerjaan ayah dari Yukinoshita, kemungkinan besar dia memang tahu beberapa hal soal Chiba.

  Begitulah, meski begitu, itu adalah sesuatu yang tidak bisa kau ketahui dalam keadaan normal. Bahkan Totsuka terlihat terkesan dengan itu.

  "Kita yang di Chiba masih sering menangkap Lobster tersebut di pantai. Ternyata itu adalah ikan yang paling laris di negara ini..."

  "Benar kan?  Kita mungkin saja mengganti nama Chiba menjadi Chiba Lobster."

  Itu juga disebut Udang Karang, tapi kenapa Udang Ise tidak menjadi nomor satu? Apa ini mirip dengan itu? Mirip dengan bagaimana Tokyo German Village bisa berada di Chiba atau sejenis itu? Begitu, sepertinya ini masuk akal.

  Ngomong-ngomong, mengenai topik barusan, kurasa ini menjelaskan seberapa tinggi level misterius dari spesifikasi milik Yukinoshita ini.

  "Meski begitu, aku sendiri tidak terkejut. Yukipedia-san."

  "Bisakah kau berhenti memanggilku seperti itu?"

  Yukinoshita mengibaskan rambutnya yang berada di bahunya dan menatapku dengan tajam dan dingin. Komachi berusaha memanfaatkan kemarahannya.

  "Itu benar, Onii-chan. Kau harusnya memanggilnya Yukino."

  "A-Apa, Itu...Aku tidak akan melakukan itu...Hidupku akan berada dalam bahaya jika aku melakukannya."

  Saking takutnya, aku mengatakan kata-kata terakhir tadi dengan suara yang pelan. Karena itu, aku memalingkan pandanganku dan seperti merespon sikapku, Yukinoshita juga memalingkan pandangannya dariku.

  "I-Itu benar...Meski kau memanggilku seperti itu, aku sendiri masih belum yakin akan melakukan apa."

  "Aaah, apa kalian selesai?"

  Kata-kata Yukinoshita seperti ditenggelamkan oleh desahan Hiratsuka-sensei, sepertinya aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dia katakan di akhir kalimatnya tadi.

  Hiratsuka-sensei lalu pura-pura batuk, dan seperti menggenggam sebuah balok kayu.

  "...Pertanyaan terakhir, peluang untuk mendapatkan Palu Emas!"

  "Peluang!"

  Entah kenapa, Zaimokuza merespon kata-kata itu.

  Seperti tidak peduli dengan responnya, Hiratsuka-sensei mulai menjelaskan itu.

  "Untuk pertanyaan terakhir ini, kalau kau menjawab dengan benar, maka kau memperoleh Palu Emas ini, yang bernilai 10,000 poin!"

  "Kalau bernilai seperti itu, apa gunanya kita menjawab berbagai pertanyaan sedari tadi...? Sekarang aku tampak seperti seorang idiot karena menjawab berbagai pertanyaan tadi. Ada apa ini, fakta pahit tentang kehidupan?"

  Kau mengumpulkan secara perlahan-lahan dengan berusaha keras, tapi ternyata itu tidak membuatmu sukses. Hal-hal seperti koneksi, relasi, kata-kata dari orang berpengaruh langsung mengubah semuanya, mengubah semua usahaku menjadi sia-sia.

  Sekali lagi, aku mendapatkan pencerahan tentang sebuah kebenaran di dunia ini...

  Tapi karena itulah, aku tidak boleh kalah saat ini. Ketika membahas tentang peluangku untuk memenangkan sesuatu, tidak peduli betapa kotor dan busuknya aturan permainannya, skenario yang membuatku kalah dalam permainan ini adalah sesuatu yang harus kulawan sampai mati.

  Seperti bisa merasakan semangatku juga, Zaimokuza menatapku dan mengepalkan tangannya.

  "Hachiman, kuserahkan ini padamu. Rebutlah, Pala Emas itu!"

  "O-Oke...Sebenarnya itu Palu Emas."

  Apa ini benar-benar tidak masalah? Apakah ini ide yang bagus? Well, "selama masalahnya tidak menjadi satu, maka itu tidak akan menjadi satu" juga. Saat ini, itu bukanlah masalahnya.

  Ini adalah pertanyaan terakhir. Pertempuran panjang ini akan berakhir dengan satu pertanyaan. Sekali lagi, apa pertempuran ini akan berakhir hanya dengan satu pertanyaan ini? Apa ini benar-benar tidak masalah?

  "Pertanyaan. Menurut survey kepada 100 siswi SMA di Chiba, apa tempat standar untuk berkencan?"

  Aku sengaja menunggu pertanyaan selesai hingga nada tanya keluar, lalu menekan tombolnya dengan perlahan.

  Tidak ada masalah dengan timingku menekan tombol ini. Aku memastikan diriku untuk menjadi yang pertama sebelum yang lain menekannya. Quote "Kemenangan akan menjadi milik orang yang pertama melakukannya" membuat keyakinanku tumbuh.

  Sekarang tinggal memakai waktu yang sedikit ini untuk memikirkan jawabannya.

  Karena dikatakan "Chiba", ini artinya sebuah pendapat yang sama diantara makhluk yang bernama 'siswi SMA'  dari seluruh kota di Chiba. Ini bukanlah Pokemon, jadi lokasi yang berbeda tidak akan membuat pendapat mereka berbeda.

  Lebih jauh lagi, siswi SMA adalah makhluk yang sangat sensitif dengan tren terkini, jadi secara umum, jawaban mereka pasti sesuatu yang mainstream. Karena itulah, kata Chiba di pertanyaan ini bukanlah sesuatu yang penting.

  Satu hal lagi, kata-kata "tempat kencan" menekankan kalau ini adalah survey tentang pendapat pribadi dari para siswi SMA. Sederhananya, ini adalah survey tentang cerita asmara gadis SMA.

  Kalau boleh kutambahkan, syarat seperti 'menurut siswi SMA' berarti ini menyinggung tentang betapa naifnya masa muda, dan kalau kita balik, bisa menjadi keluguan dan kekaguman mereka terhadap kedewasaan.

  Dari kondisi-kondisi di atas, jawabannya adalah...

  Aku bisa melihatnya! Akhir dari game ini! Tapi mengatakan jawabannya terdengar agak memalukan...

  "...Rumah cowoknya atau sejenis itu?'

  Buzz buzz. Bel tanda jawaban yang salah berbunyi tanpa ampun.

  Tiba-tiba suasana menjadi sunyi.

  Semua orang tampak saling melihat satu sama lain dan di tim Komachi, mereka tampak membicarakan sesuatu.

  "Jawabannya polos sekali..."

  Yuigahama menggumamkan itu seperti ingin kabur saja.

  Hiratsuka-sensei bertanya kepadaku dengan nada prihatin.

  "...Hikigaya, apakah itu harapanmu?"

  "Cukup aneh, kalau memikirkan halusinasi tersebut bisa menjadi nyata. Juga, itu juga terdengar menyedihkan."

  Yukinoshita seperti memberiku pukulan terakhir sebelum aku tewas mengenaskan. Tapi tergantung bagaimana kita menyikapinya, bisa juga kita anggap itu sebagai bentuk simpati darinya!

  "Kuh, sangat memalukan...Bunuh saja aku! Bunuh saja!"

  Melihatku yang sudah putus asa, Totsuka dan Zaimokuza mengatakan sesuatu.

  "Ku-Kurasa itu tidak apa-apa Hachiman. Kau memberikan jawabanmu dan jika aku seorang gadis, kurasa aku akan sangat senang mendengar itu!"

  "Itu benar, Hachiman. Aku juga sering memikirkan itu. Kurasa tidak ada yang memalukan soal itu."

  "Be-Benar, kan? Kita ini kan cowok. Kurasa tidak ada yang aneh soal itu!"

  Totsuka memang benar-benar malaikat, sehingga aku ingin dia mampir ke rumahku di lain waktu. Tapi halusinasi Zaimokuza barusan terdengar menakutkan!

  Meski begitu, memiliki pikiran yang sejenis dengan Zaimokuza membuatku berpikir "yeah, itulah diriku" sambil membayangkan diriku hanyut entah kemana. Tiba-tiba, Komachi tersenyum dan menepuk bahuku.

  "Begini, memangnya apa yang salah dengan itu? Komachi juga ada di rumah, jadi jawaban tadi mendapatkan banyak sekali Poin Komachi!"

  "Jangan berusaha menyemangatiku. Jangan memberiku tatapan yang menyedihkan itu. Jangan menyebut-nyebut poin itu. Kau hanya membuatku merasa lebih buruk saja."

  Lagipula, jika Komachi ada di rumah, maka aku sudah berada di "true route". Dia akan menjadi pacarku dan kita akan berkencan setiap hari di rumah. Apa-apaan itu, anime Chiba macam apa barusan?

  Dipermalukan seperti ini, hidupku seperti melampaui nol saja, mungkin lebih tepat jika dikatakan ini seperti acara pemakaman si nol. Tapi, ada satu hal yang pasti hilang dariku dari kesalahanku menjawab pertanyaan barusan.

  "Karena jawabannya salah, Palu Emas ini sekarang kuberikan kesempatannya ke tim sebelah."

  Palu Emas diambil paksa oleh tim lain dan Hunter Chance diberikan kepada mereka. Well, kurasa masuk akal kalau hidup di dunia ini dan kau kehilangan kesempatan emas berarti hidupmu sudah berakhir.

  Dengan begitu, tim gadis memiliki peluang untuk menyerang.

  "Yuigahama-san, kuserahkan kepadamu."

  "Yui-san, ayo hajar!"

  Yukinoshita yang merasa tidak cocok dengan pertanyaan tersebut menyerahkan itu ke Yuigahama yang memiliki peluang terbaik untuk menjawab itu, sementara Komachi terlihat sedang mengepalkan tangannya dan menyemangati Yuigahama.

  "O-Oke..."

  Dengan didukung mereka, Yuigahama menekan tombol di mejanya dengan gugup.

  "Umm...Jawabannya adalah...Disney Land Tokyo!"

  Kemudian, suara bel yang menunjukkan kalau jawaban barusan benar, tiba-tiba terdengar seperti memuji sang pemenang.

 






x Vol 7.5 Special Part 4 | END x






  Kemungkinan besar Yukino tahu jawaban tentang lobster itu karena perusahaan keluarganya menangani jual beli lobster.

  ...

  Menarik mendengar Hachiman mengatakan kalau dia tidak ingin menyebut nama Yukino karena takut Yukino marah. Meski, kenyataannya Yukino sendiri tidak tahu harus bersikap apa jika Hachiman benar-benar mengatakannya.

  Mengapa menarik? Karena di vol 10 chapter 2, Yukino terlihat kesal ketika Hayama memanggilnya "Yukino-chan". Lalu di vol 10 chapter 1 Yukino tanpa ragu menyebut Hachiman.

  Dalam berbagai kesempatan (entah vol brp dan chapter brp), Hachiman pernah mengatakan alasan mengapa dia memilih tidak untuk memanggil nama depan gadis. Karena memanggil nama depan seorang gadis berarti menunjukkan kepada semua orang betapa dekatnya hubungan mereka.

  ...

  Tentu saja Hachiman memilih untuk kencan di rumah saja karena Hachiman tipe suami rumahan.

  ...

  Ironis tentang date-spot Disney Land yang diutarakan Yuigahama, Hachiman berusaha menolak ajakan Yui di vol 9 chapter 7 untuk membayar hutang kencan mereka di Disney Land. Malahan, di vol 9 chapter 8 terjadi sesuatu antara Yukino dan Hachiman.

  ...





1 komentar: