Kamis, 08 Desember 2016

[ TRANSLATE ] Biblia Vol 2 Chapter 3 : Ashizuka Fujio. UTOPIA - Perang Dunia Terakhir. Tsuruya Printing -6






  Setelah melewati Stasiun Enoden Kamakura Koukoumae, kuparkir mobilku di dekat rel kereta.

  Kami menyeberangi jalanan tanpa membicarakan apapun dan turun ke area Pantai Shichirigama, tepatnya di dekat area pemecah ombak. Karena kita saat ini sangat dekat dengan ombak lautan, lautan yang terbentang di depanku ini serasa seperti sebuah samudera yang luas. Aku bahkan bisa melihat cahaya dari Enoshima yang bersinar dari Tanjung Koyurugi. Tidak ada tanda-tanda kapal berlabuh di bibir pantai ini, kesunyian malam di pinggir pantai disini tampak tidak bisa dipecahkan oleh apapun.

  Shioriko lalu berhenti berjalan tepat di dekat batas air laut dan pemecah ombak. Karena tidak ada orang lain di dekat kami, maka kami tidak perlu khawatir tentang adanya orang yang mendengar apapun yang kita katakan.

  "...Daisuke."

  Rambut hitamnya yang panjang tampak berkibar ditiup dinginnya air laut. Ketika dia berusaha mengibaskan rambutnya dengan tangan kirinya, aku melihat dirinya masih memegangi label harga yang sebelumnya.

  "Apa kau percaya kalau Ibuku tidak tahu apapun tentang Perang Dunia Terakhir?"

  "Eh...?"

  Aku tidak paham apa maksudnya.

  "Aku mempelajari semua hal tentang buku tua...Termasuk manga tua, dari Ibuku. Dia bahkan memberitahuku kalau dia tahu banyak hal tentang buku tua sebelum bekerja di Toko. Fakta kalau Toko kita punya beberapa rak tentang manga tua di toko, sebenarnya pembeliannya dilakukan oleh dia. Karenanya, dia yang menjual Perang Dunia Terakhir seharga 2000Yen benar-benar hal yang tidak masuk akal."

  "Tapi bukankah itu yang tertulis di label harga manganya?"

  "Apa kau tidak berpikir kalau labelnya sendiri itu mencurigakan? Karena buku tersebut tidak punya sampul bukunya lagi, tidak ada tanda-tanda kalau ada label harga di bagian buku tersebut."

  "Ah..."

  Kalau dipikir-pikir, Biblia memiliki aturan untuk menempel label harga di semua buku-buku yang tidak memiliki sampul aslinya lagi.

  "Bisa saja dia mencabut label harganya setelah membeli buku itu."

  "Mencabut label harga tanpa meninggalkan bekas di buku ataupun labelnya tercabut dengan sempurna, adalah hal yang sangat sulit. Terlebih lagi, buku itu ketika dibeli tidak dibungkus dalam wax paper...Padahal, kita melakukan itu terhadap seluruh buku-buku tua yang ada di Toko, benar tidak?"

  Akupun mengangguk. Itulah yang kulakukan sepanjang pagi ini.

  "Suzaki bilang kalau buku itu masih dalam kondisi yang sama seperti 30 tahun lalu. Meski Ayahnya pergi begitu saja dari toko, manga tersebut baru disampul setelah tiba di apartemen, artinya dibeli dalam keadaan tidak bersampul apapun...Sulit rasanya untuk percaya kalau ada buku semacam itu yang dipajang di rak-rak Toko kita."

  "Kalau begitu, manga tersebut berasal dari mana?"

  Aku benar-benar bingung sekarang. Jika buku tersebut tidak berasal dari Toko kita, lalu bagaimana Ayah Suzaki membelinya?

  "Jika manga tersebut tidak dijual di Toko kita, maka hanya ada satu kemungkinan tentang asal-usul manga tersebut. Perang Dunia Terakhir sejak awal bercampur dengan buku-buku yang Ayah Suzaki bawa ke Toko untuk dijual."

  "Serius?"

  Mataku terbuka lebar. Cerita ini mulai menjadi semakin tidak masuk akal.

  "Jadi dengan kata lain, dia sebenarnya tidak pernah membeli manga itu dari Toko kita?"

  "Itulah yang kuyakini. Mungkin manga itu sejak awal berada di dalam kardus buku-buku yang tidak penting dan berharga di toilet apartemen, lalu kardus tersebut terbawa ke Toko kita. Coba ingat-ingat kata-kata Suzaki tadi. Dia sebenarnya tidak pernah melihat kejadian dimana Ayahnya membeli Perang Dunia Terakhir...Yang dia lihat hanyalah Ayahnya kembali ke mobil dan sudah membawa manga tersebut di tangannya."

  "Tapi bukannya manga tersebut adalah sesuatu yang dicari-cari oleh Ayahnya? Apakah itu juga bohong?"

  "Itu benar adanya...Dia sepertinya sudah memiliki manga itu beberapa minggu sebelum datang ke Toko, tapi karena ada situasi tertentu, membuatnya harus menyembunyikan manga itu."

  Shioriko mengatakan itu sambil menatap ke arah laut.

  Akupun teringat cerita dari Suzaki. Beberapa minggu sebelumnya...Kalau dipikir-pikir, dia mengatakan kalau Ayahnya pergi ke Tokyo setelah ada kabar kalau Perang Dunia Terakhir dijual di Toko Khusus Komik disana. Mungkin saja dia membeli buku itu disana. Tidak, ceritanya justru bermula disana...






  Dia berhasil pergi ke Toko itu dan ternyata buku tersebut sudah dicuri orang.





  Bulu kudukku mulai berdiri.

  "Serius, jangan bilang kalau..."

  Tidak ada bukti kalau yang kukatakan itu adalah kebenarannya. Tapi petunjuk dari Shioriko memberikanku kesimpulan kalau Ayah Suzaki sebenarnya adalah pencuri dari Perang Dunia Terakhir  dari Toko itu.

  "Aku tidak memiliki bukti konkrit soal itu...Jadi ini semua hanyalah spekulasi."

  Dia lalu melanjutkan ceritanya dengan nada yang pelan.

  "Ayah Suzaki datang ke Tokyo untuk melihat Perang Dunia Terakhir. Aku mengerti mengapa dia memilih untuk mencurinya setelah melihat buku gambar yang dia cintai sejak kecil tepat berada di etalase Toko."

  "Tentu, dia merasa tersiksa karena tahu dirinya telah melakukan sebuah kejahatan besar. Dia lalu kembali ke rumah dengan wajah penuh tekanan, dan beberapa minggu kemudian menjadi depresi. Suasana hatinya tidak pernah pulih meskipun dia sudah mabuk-mabukan."

  "Lalu, dia mengubah pikiran dan berencana pergi jalan-jalan dengan putranya. Dia berpikir mungkin saja dia bisa menjual beberapa buku yang tidak dia butuhkan lagi untuk sekedar menambah uang makan...Disinilah sesuatunya menjadi kacau."

  "Manga curian itu pasti disimpan di tumpukan terbawah dari kardus yang ada di toilet; karena dia tidak bisa menaruh manga itu diantara koleksinya. Putranya, yang membantunya menyusun buku-buku yang hendak mereka jual, menaruh buku-buku yang hendak mereka jual ke kotak kardus. Lalu Ayah Suzaki membawa kardus itu ke Biblia dan meminta Ibuku untuk menilai buku-buku itu."

  "Ketika dia melihat Ibuku menarik keluar Perang Dunia Terakhir dari kardus, Ayahnya pasti sangat shock sekali. Aku sangat yakin sekali kalau Ibuku tahu harga manga tersebut; mungkin Ibuku langsung tahu kalau itu adalah buku yang ada dalam berita pencurian baru-baru ini."

  "Ayah Suzaki yang tertekan itu lalu mengambil manga tersebut dan keluar dari toko, membiarkan buku-buku yang tersisa itu tertinggal di Toko dan pulang ke apartemennya. Karena satu-satunya hal yang dia tulis di formulir penjualan itu hanyalah sebagian dari alamatnya, Ibuku tidak tahu siapa namanya ataupun nomor teleponnya. Apalagi mobil yang dia pakai di hari tersebut bukanlah mobilnya...Dia pasti merasa lega karena jika tidak terjadi kejadian yang luar biasa, maka mustahil ada orang yang bisa mengidentifikasinya."

  Yang tidak dia duga adalah wanita yang ada di Biblia adalah orang yang luar biasa. Dan akhirnya, kejadian luar biasa itu benar-benar terjadi.

  "Dengan petunjuk yang tersisa seperti itu, Ibuku tidak memiliki masalah berarti dalam menemukan lokasi rumahnya. Dia mungkin bahkan sudah punya dugaan tentang seperti apa pekerjaan, hobi, pendidikan, dan bahkan komposisi keluarga dari Ayah Suzaki."

  "Dari mana dia bisa tahu itu?"

  "Ibuku selalu mengatakan kepadaku kalau aku bisa memahami sifat seseorang hanya dengan melihat koleksi buku mereka. Mirip dengan ilmu profiling...Kemampuannya itu memang benar-benar diterapkannya dengan baik. Kurasa, tidak ada orang lain yang bisa melakukan itu sebaik dirinya."

  "Jadi kau sendiri tidak bisa melakukannya?"

  "Tentu saja, bahkan aku sendiri tidak bisa seperti itu."

  Responnya itu membuatku terkejut.

  Aku tidak bisa membayangkan kalau ada seseorang yang lebih tahu soal buku dari dirinya     ini membuatku merasa ganjil.

  "Menurutku, Ibuku belum benar-benar yakin kalau Perang Dunia Terakhir yang dilihatnya itu adalah buku curian ketika pertamakali tiba di rumah mereka. Mungkin, cerita dari Suzaki itulah yang membuatnya yakin."

  "Dia salah paham tentang asal-usul buku itu, dan dia memberitahu Ibuku beberapa informasi penting. Ayahnya, yang maniak buku Fujiko Fujio dan mencari buku itu sejak lama, menyimpannya disini dan merahasiakannya ke anaknya sendiri. Ketika Ibuku berkata terimakasih sudah mengajarinya, kupikir itu merujuk tentang itu."

  Aku merasa kalau cerita yang kudengar sebelumnya benar-benar memiliki makna yang berbeda. Jika kata-kata Shioriko benar, momen dimana hati Suzaki merasa dicuri oleh ucapan terimakasih Ibunya, kebenarannya ternyata sangat ironis. Cerita yang benar-benar membuat orang patah hati.

  "Lalu mengapa dia merendahkan kepalanya ke Ayah Suzaki?"

  "Ketika Ibuku mengatakan kalau dia tidak tahu apapun soal buku itu dan meminta Ayah Suzaki untuk mengajarinya, sebenarnya berusaha mengancamnya untuk mengakui pencurian itu. Alasan mengapa Suzaki disuruh meninggalkan ruangan itu karena percakapan itu bukanlah percakapan yang pantas untuk didengar anak-anak."

  "Melaporkan kejahatan ke polisi, meminta pelaku untuk menyerah baik-baik, dan mengembalikan buku itu akan menjadi cara yang sangat normal untuk menyelesaikan kasus ini. Tapi, Ibuku bukanlah orang yang seperti itu."

  "Memangnya, Ibumu seperti apa?"

  Secara spontan, aku mengatakan itu. Shioriko tampak menggigit bibirnya yang pucat itu.

  "Aku sebenarnya tidak ingin membicarakan itu, tapi..."

  Dia menggelengkan kepalanya dan menambahkan.

  "Tidak, kurasa tidak apa-apa...Ibuku adalah orang yang sangat pintar...Saking pintarnya sehingga dia tidak menyadari kalau yang dia lakukan itu sebenarnya cukup kejam. Dia memperlakukan semua transaksi bisnis seperti sebuah permainan. Kupikir, Ibuku memberikan permintaan-permintaan kepada Ayah Suzaki waktu itu."

  "Misalnya memintanya untuk menyerahkan Perang Dunia Terakhir?"

  "Mungkin itu termasuk dalam permintaan yang dia pertimbangkan. Tapi jika itu terjadi, maka dia akan kesulitan untuk menjual buku itu. Dia pasti dituduh terlibat dalam kejahatan jika dia tahu buku yang dia jual itu adalah hasil curian...Jadi sebagai uang tutup mulut, dia meminta buku-buku berharga koleksi Ayah Suzaki."

  "Eh?"

  "Kebanyakan buku-buku yang kita bawa untuk dinilai hari ini bukanlah buku-buku yang sangat tua, dan buku-buku yang tersisa di rak apartemennya juga semuanya begitu. Tidak ada satupun buku yang terbit di bawah tahun 1980, dan buku-bukunya banyak yang tidak begitu mahal. Sepertinya, Ayah Suzaki punya beberapa koleksi yang waktu itu sebenarnya sangat mahal...Majalah khusus, dan material suplemen lainnya. Sampai 1960, banyak sekali majalah manga yang punya bonus suplemen. Sangat wajar bagi seseorang menjadi fans debut seorang mangaka dan mengoleksinya...Kemungkinan besar, Ibuku mengambil seluruh koleksi itu darinya."

  "Apa Ibumu membayar buku-buku itu ke Ayah Suzaki?"

  "Itulah yang tidak kuketahui. Aku yakin, Ayah Suzaki harusnya berusaha menolak itu. Bukankah kata Suzaki Ayahnya itu orang yang sangat jarang membiarkan koleksinya berpindah tangan? Kupikir Ibuku menjadikan kasus ini sebagai kartu As untuk mempengaruhinya."

  Dia lalu menunjukkan label harga 2000Yen disana. Kertas tersebut berkibar tertiup angin laut. Akupun berpikir sejenak setelah melihat hal tersebut.

  "Kalau benar 2000Yen itu tulisan tangan Ibumu...Bukankah itu artinya label harga itu disematkan setelah pertemuan mereka?"

  "Ya, Suzaki salah paham tentang itu dan berpikir kalau Ayahnya membeli buku itu dari Biblia. Ibuku mengambil salah paham tersebut dan menjadikannya nyata dengan sebuah kebohongan. Ibuku menawarkan solusi tentang buku curiannya itu. Label ini ada untuk tujuan tersebut."

  "Label harga sebagai solusi...Memangnya bagaimana cara dia melakukannya?"

  "Daisuke, pernah mendengar tentang Bona-fide third party?"

  "...Tidak."

  Kata-kata tersebut seperti memberikan gambaran image tentang seseorang jika mendengar bagaimana kata-kata tersebut diucapkan.

  "Itu semacam hukum tertulis."

  "Hukum tertulis?"

  "Ya. Misalnya, katakanlah Toko Buku kita memiliki buku curian. Kita membeli buku itu tanpa mengetahui kalau buku itu sebenarnya curian. Akhirnya, buku tersebut berhasil kita jual ke pelanggan. Lalu, kita tidak akan bisa dituduh melakukan sebuah kejahatan. Pihak ketiga yang yang tidak tahu apapun dan hanya bersifat sebagai mediator transaksi...Itulah yang disebut Bona-fide Third Party dalam hukum. Label harga ini sangat penting untuk membuktikan kalau Ibuku dan Ayah Suzaki bertindak sebagai Bona-fide Third Party."

  Kumiringkan kepalaku ke samping. Berusaha untuk mengorganisir semua keterangan itu, tapi tampaknya ini menjadi hal yang sia-sia.

  "Maaf, bisakah kau menjelaskannya dengan lebih sederhana lagi?"

  "Katakanlah label ini benar adanya, itu artinya ada seseorang yang menjual Perang Dunia Terakhir ke Toko kami. Di saat yang bersamaan, itu juga berarti Ibuku hanya menjual manga tersebut seharga 2000Yen karena dia tidak sadar akan harganya yang sebenarnya. Dengan kata lain, itu membuat buku itu seolah-olah dibeli dan dijual tanpa mengetahui kalau buku itu adalah barang curian bernilai tinggi."

  "Sederhananya, Ibuku menciptakan kasus kriminal fiktif dimana kasusnya tidak akan bisa menyeret mereka kesana. Kalau mereka sepakat untuk membuat cerita kalau buku ini dibeli dari seorang kriminal dan menjualnya tanpa mengetahui detail asal barang tersebut. Dengan begitu, tidak akan ada yang dituduh terlibat dalam kejahatan pencurian."

  Semuanya terasa mulai masuk akal. Aku sepertinya mulai paham apa yang sebenarnya terjadi. Jadi Ibunya menjadikan Ayah Suzaki yang awalnya menjadi pelaku pencurian, berubah menjadi korban dari kasus pencurian itu.

  "Tapi apakah rencana mereka berjalan semudah itu?"

  "Itu tidak menjamin semuanya berjalan lancar. Meski mereka sekarang berposisi sebagai Bona-fide Third Party, masih ada kemungkinan kalau mereka harus mengembalikan buku itu...Tapi aku tidak berpikir kalau Ibuku akan menjelaskan itu satu-persatu. Yang penting baginya, itu bisa mempengaruhi Ayah Suzaki...Meski itu sudah tidak penting lagi karena Ayahnya sudah meninggal dunia."

  Dia menggunakan tangan kiri dan giginya untuk menyobek label harganya. Setelah itu, dia lalu membiarkan angin laut menerbangkan serpihan kertas tersebut. Dalam sekejap, kertas tersebut menghilang diterpa angin laut.

  "Sekarang kau sudah tahu seperti apa Ibuku, bukan? Dia adalah orang yang sangat tahu banyak tentang buku, punya pikiran yang tajam, dan sifat yang sulit untuk ditebak...Dia menghilang sepuluh tahun lalu dan tidak pernah memberi kabar setelahnya."

  Pembicaraan akhirnya menyentuh topik itu. Akupun mencoba menarik napas dalam-dalam untuk meredakan tekanan ini.

  "Apa Ibumu meninggalkan sebuah pesan?"

  "Kurasa tidak...Tapi dia meninggalkan sebuah buku untukku."

  "Sebuah buku?"

  "Daisuke, kalau tidak salah kau pernah mendengar buku itu...Cra Cra Diary karya Sakaguchi Michiyo."

  Aku memang pernah melihat buku itu di kamarnya. Kalau tidak salah, itu adalah koleksi essay yang ditulis janda dari Sakaguchi Ango. Yang kuingat, aku diminta menaruh buku tersebut di trolly diskonan.

  "Maksudmu buku yang ditaruh di trolly diskon?"

  "Bukan, itu bukanlah copy buku yang ditinggalkan Ibuku...Dia sering memberiku hadiah berupa buku. Itu karena dia suka mengungkapkan perasaannya lewat buku. Ketika aku tahu dia meninggalkan buku Cra Cra Diary untukku, aku lalu paham apa yang telah dia lakukan."

  "...Memangnya apa?"

  Aku merasa kalau dia ingin aku menanyakan hal itu.

  "Kupikir dia sudah menemukan cinta yang lain. Dalam Cra Cra Diary, si penulis menceritakan bagaimana dia meninggalkan seorang anak yang masih kecil demi kabur dan hidup bersama Ango."

  Situasi tiba-tiba mendadak sunyi. Aku merasa mulai paham mengapa dia berkata tidak bisa menyukai Cra Cra Diary.

  "Menurutmu, kenapa aku tidak mengatakan kebenarannya ke Suzaki tadi?"

  Shioriko mengatakan itu sambil menatap ke laut yang gelap. Kami tidak bisa melihat bintang-bintang di langit lautnya, kurasa ini adalah malam yang berawan.

  "Bukankah itu karena kau tidak punya bukti konkritnya...Dan yang terpenting bukankah kau tidak ingin merusak kenangan indah Suzaki bersama Ayahnya?"

  Aku menjawabnya tanpa berpikir. Mengetahui Ayahnya adalah seorang kriminal, mencuri buku yang dianggapnya berharga, dan cinta pertamanya sengaja memanfaatkan itu untuk mengambil koleksi-koleksi berharga Ayahnya...Kau mungkin tidak ingin orang lain mengetahui kebenaran yang semacam itu.

  "Itu salah satunya saja, ada alasan yang lebih besar untuk masalah itu..."

  Dia lalu terdiam untuk sejenak. Aku bisa merasakan kalau dia berusaha menahan sesuatu. Dia tampak seperti hendak menangis.

  "Kupikir dia tidak akan mau menjual koleksi manganya jika aku menceritakan itu kepadanya...Pada akhirnya, yang kulakukan itu tidak berbeda dengan apa yang Ibuku lakukan 30 tahun lalu. Aku mengunjungi apartemennya karena terpancing Perang Dunia Terakhir, dan keluar dari apartemennya dengan membawa koleksi-koleksinya dengan harga murah. Aku benar-benar tidak punya hak untuk menghakimi apa yang sudah Ibuku lakukan. Ibuku dan diriku benar-benar mirip satu sama lain, seperti kata Suzaki..."

  Tiba-tiba ada angin dingin bertiup dari laut. Shinokawa lalu membalikkan badannya, seperti sengaja membuat tubuhnya diterpa angin. Secara spontan, akupun melingkarkan lenganku di bahunya yang mulai bergetar.

  "Aku tidak pernah punya rencana untuk menikah dalam hidupku."

  Tiba-tiba aku terdiam, mendengarkan kata-katanya yang tidak terduga itu. Apaan sih yang dia katakan?

  "Tidak peduli siapa yang kunikahi, tidak peduli keluarga bahagia semacam apa yang kumiliki, suatu hari nanti, seperti yang dilakukan Ibuku, aku mungkin akan meninggalkan mereka. Aku tidak berani mengatakan dengan lantang kalau aku tidak akan seperti itu."

  Dia mungkin tidak melihatku sebagai seorang lawan jenis, tapi mengapa ini terasa seperti sebuah penolakan? Aku tidak bisa membayangkan sifatnya yang eksentrik ini, dan juga orang yang terlihat serius ini pergi berkencan dengan seseorang dengan pikiran yang tidak berujung ke pernikahan.

  "Ayo kita pergi, Daisuke."

  Suaranya tampak kembali ke dirinya yang biasanya. Dia lalu menggunakan tongkatnya untuk berjalan menuju tangga.

  "Terimakasih sudah mendengarkan apa yang ingin kukatakan...Kurasa aku bisa merasa sedikit lega."

  Aku sendiri, di lain pihak, merasa sangat jauh dari merasa lega, mungkin tepatnya hatiku bertambah suram. Meski begitu, aku tetap mengikutinya.

  "Jadi tentang Perang Dunia Terakhir...Endingnya seperti apa?"

  Kuarahkan pertanyaan itu ke gadis berambut hitam panjang yang berada di depanku. Aku tidak punya topik bahasan lain yang bisa kukatakan dalam situasi seperti itu.

  "...Si protagonis berhasil mencapai tempat perlindungan setelah berjuang dengan keras. Dia mengatakan hal-hal seperti bersumpah tidak akan berpisah lagi kepada tubuh Ayahnya yang tidak bisa bergerak...Tapi, salah satu robot berhasil masuk ke tempat itu dan hendak membunuh si protagonis."

  Sambil melihat ke arah langkah kakinya, juga untuk menyamakan langkah kami, dia melanjutkan penjelasannya.

  "Tiba-tiba Ayahnya terbangun dan menembak jatuh robot itu. Di lain pihak, para robot yang berada di permukaan, yang hampir saja menguasai dunia, AI mereka terpengaruh oleh radioaktif dan akhirnya mulai menghancurkan satu sama lain. Cerita berakhir dengan si anak dan Ayahnya bersatu kembali, melihat permukaan bumi paska perang tersebut."

  "...Ending yang bagus."

  Kukatakan saja pendapatku tentang cerita manga tersebut.

  "Ya, kurasa begitu."

  Aku mendengarkan hembusan napas beratnya setelah dia mengatakan hal itu.









x Chapter III | END x



Tidak ada komentar:

Posting Komentar