Selasa, 06 Desember 2016

[ TRANSLATE ] Biblia Vol 2 Chapter 3 : Ashizuka Fujio. UTOPIA - Perang Dunia Terakhir. Tsuruya Printing -4






  "Jaman sekarang, melihat ada yang mengoleksi manga ini dan itu bukanlah hal yang langka, tapi waktu jaman ayahku masih muda, tidak banyak orang yang mengkoleksi manga. Lagipula, tujuan utama manga itu agar bisa dinikmati oleh anak-anak.  Sesuatu yang kau baca hingga kertasnya kusut lalu sesudah itu kau buang begitu saja."

  Suzaki lalu melanjutkan.

  "Kupikir, Ayahku mengoleksi manga karena dia punya cita-cita untuk menjadi seorang mangaka. Dia pernah bercerita kalau waktu SMP dan SMA-nya dulu, dia selalu antusias untuk mengirimkan karya-karya ke penerbit. Meski dia akhirnya menyerah, tapi dia tidak berhenti untuk mengoleksi manga."

  "Dulunya, dia mengoleksi manga-manga bekas dari karya-karya Tezuka Osamu sewaktu muda, tapi akhirnya terasa berat karena harga manga bekasnya yang semakin mahal. Akhirnya, ia mulai fokus dengan mengoleksi karya mangaka favoritnya, Fujiko Fujio."

  "Ayahku itu orang yang serius dan jarang berbicara, dia juga tidak punya hobi lain selain mengoleksi manga tua. Setelah istrinya...Maksudku Ibuku meninggal, waktu itu aku masih berusia enam tahun, dia mulai jarang bersosialisasi dengan orang dan hanya mau bersosialisasi dengan para penggemar manga saja."

  "Kalau ada yang bertanya apa kesamaan ketertarikan diriku dengan Ayahku? Maka jawabannya adalah manga Fujiko Fujio. Dia tidak seperti para orangtua kebanyakan yang akan mengambil manga anak-anaknya. Malahan, dengan gembira dia akan memberiku rekomendasi tentang apa yang ingin kubaca. Meski begitu, dia itu orang yang menjaga dengan baik koleksinya. Karena itu, aku bisa belajar dengan cepat tentang bagaimana merawat buku-buku tua."

  "Buku yang sangat ingin didapatkan oleh Ayahku dengan segala macam cara adalah UTOPIA: Perang Dunia Terakhir. Ternyata, dia pernah membeli buku itu sewaktu SD, tepat setelah manganya rilis. Ayahku sangat menyukainya, tapi suatu hari orangtuanya menemukannya dan membuang manga itu. Setelah itu, dia mencoba membelinya lagi di toko, sayangnya sudah tidak ada lagi."

  "Ketika aku masih SD...Kalau tidak salah waktu itu Musim Panas tahun 1980, buku ini muncul di pasar buku bekas. Tepatnya, dipajang di etalase Toko Khusus Komik di Tokyo. Bahkan, berita tersebut sudah tersebar secara masif di koran, dan menjadi topik pembicaraan para penggemar manga. Bagi masyarakat dengan daya beli terbatas seperti kami ini, harga yang dipajang di toko tersebut bukanlah harga yang bersahabat bagi kami."

  "Meski begitu, Ayahku bersikeras untuk melihatnya secara langsung. Mungkin dia ingin mengkonfirmasi eksistensi buku itu dengan kedua matanya sendiri. Meski sudah berusaha dengan sekuat tenaga, ternyata ketika dia sampai di toko tersebut, barangnya sudah hilang dicuri orang."

  "Karena tidak bisa melihat lagi buku yang dia sukai tersebut, dia seperti mendapatkan tekanan hebat. Ayahku terlihat depresi setelahnya. Dia mulai minum-minum setiap malam. Semua ini gara-gara kecintaannya terhadap buku itu."

  "Dua minggu terlewati, dan suatu hari dia tiba-tiba bilang 'Yuk jalan-jalan', dan kitapun pergi. Kupikir, suasana hatinya sedang baik. Rencananya, kita akan berkunjung di Kuil Hachiman yang terletak di Kamakura, lalu pergi ke Yokohama untuk makan malam."

  "Pada waktu itulah, dia berhenti di Toko Biblia. Kita sendiri tidak punya banyak uang, jadi mungkin dia ingin menjual beberapa koleksi bukunya yang tidak dia butuhkan lagi untuk mendapatkan uang ekstra. Jadi, sebelum berangkat aku membantunya untuk mengemas buku-buku yang hendak dijual. Aku sendiri sangat yakin kalau tidak ada buku-buku mahal dalam buku-buku yang hendak dijual itu."

  "Dia menghentikan mobilnya tepat di depan toko dan wanita yang berada di meja kasir menegakkan kepalanya seraya melihat ke arah kami. Wanita tersebut berambut hitam panjang dan berkulit pucat...Ini mungkin agak memalukan untuk mengatakan hal ini di depan putrinya, tapi beliau benar-benar sangat cantik di mata anak kecil sepertiku waktu itu. Dia tersenyum ke arah kami dan bergegas ke arah kami untuk bertanya apakah kami hendak menjual buku kami."

  "Ayahku menjawab 'Ya' dan dia mengarahkannya untuk memarkir mobilnya di samping toko...Aku tidak bisa memalingkan pandanganku dari wanita itu ketika mereka berbicara."

  "Setelah memarkir mobilnya di tempat parkir, Ayahku pergi ke toko sendirian dan membawa kardus buku-bukunya. Aku sendiri, disuruh Ayahku untuk menunggu di dalam mobil, tapi karena aku sendiri masih penasaran dengan wanita itu, aku memutuskan untuk membuka pintu mobil dan menuju ke toko. Tapi tepat setelah aku membuka pintu mobil, Ayahku tiba-tiba kembali dengan ekspresi wajah biru pucat, dia langsung melompat ke kursi pengemudi mobil."

  "Ketika aku melihat Perang Dunia Terakhir ada di samping kursi, aku seakan-akan tidak mempercayai apa yang kulihat. Aku tahu kalau itu adalah manga yang dia cari-cari selama ini. Aku bertanya kepadanya tentang darimana dia mendapatkan buku itu, tapi Ayahku yang merasa shock itu tidak mengatakan apapun."

  "Mungkin, dia melihat buku ini ada di rak toko ketika sedang meminta Ibumu untuk menilai buku-bukunya. ketika dia melihat buku itu dijual seharga 2000Yen, dia langsung lupa dengan buku-bukunya sendiri dan langsung membeli UTOPIA sebelum dibeli oleh seseorang...Kupikir itulah yang terjadi."

  "Kalau dipikir-pikir lagi, itu benar-benar cerita yang sulit untuk dipercaya, meski aku sendiri tidak berpikir seperti itu waktu itu. Manga-manga tua hanya akan berharga mahal saat ini hanyalah karya-karya awal Tezuka Osamu.  Sepertinya, hanya beberapa Toko Buku saja yang menaruh perhatian dengan karya awal Fujiko Fujio. Tidak lupa juga kalau Perang Dunia Terakhir digambar oleh mangaka dengan nama yang berbeda. Alasannya karena itu hanyalah buku bergambar dimana hanya beberapa orang saja yang paham betapa berharganya itu."

  "Lalu jalan-jalan kita waktu itu langsung dibatalkan. Ayahku sendiri sedang tidak dalam kondisi yang memungkinkan untuk mengemudi, dan yang terpenting, aku sendiri tidak yakin kalau dia masih punya uang tersisa setelah membeli buku itu. Dia berusaha menghiburku dengan mengatakan akan membawaku jalan-jalan lagi minggu depan. Meski aku sendiri agak kecewa, aku putuskan untuk tidak komplain kepadanya."

  "Kupikir Ayahku sendiri merasa tidak enak kepadaku. Setelah kita kembali ke apartemen kami, dia memberiku Perang Dunia Terakhir. Kalau tidak salah, dia memintaku untuk membacanya terlebih dahulu. Tidak lama kemudian, dia pergi keluar, dan aku sendirian di apartemen ditemani seluruh kekecewaanku. Dia pergi keluar untuk mengembalikan mobil yang dipinjamnya dari temannya."

  "Karena aku sendiri sendirian dan tidak punya seorangpun untuk komplainku, maka aku mulai membaca Perang Dunia Terakhir. Tahulah, aku sendiri juga fans Fujiko Fujio. Jadi, aku sendiri juga penasaran dengan ceritanya."

  "Apa kalian tahu manga ini bercerita tentang apa?"

  Dia tiba-tiba bertanya seperti itu.

  "...Tidak."

  Shioriko mengangguk ketika aku menjawab itu. Sepertinya, dia sudah tahu apa itu. Suzaki yang awalnya ragu-ragu, kini melihat ke arahku.

  "Ceritanya, ada tahanan politik dan putranya yang ditahan di penjara bawah tanah, mereka dijadikan semacam bahan eksperimen. Musuh negara tersebut lalu menjatuhkan senjata baru mereka...Sebuah Bom Es yang membekukan seluruh kota. Ketika bom meledak, sang putra tersebut membeku."

  "Ratusan tahun kemudian, si anak tersebut terbangun karena diselamatkan. Ingatannya sendiri tampak samar-samar tentang Ayahnya yang hilang. Dia lalu dibawa ke sebuah Kota Utopia yang besar, dan dia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi disana. Lalu dia terjebak dalam konflik antara pemerintah yang  menggunakan robot-robot untuk mengontrol masyarakat, dan para masyarakat yang bersatu untuk memberontak."

  "Meski kualitas gambarnya tidak ada yang spesial, aku mulai tenggelam dalam ceritanya ketika terus membacanya. Mungkin perasaan spesial dan terhubung dengan ceritanya itu bisa terjadi karena Ayahku belum kembali-kembali dari mengembalikan mobil temannya. Itu membuatku berpikir bagaimana jika seandainya aku terpisah dari Ayahku, persis seperti protagonis dalam manga itu. Ternyata aku tahu mengapa dia lama sekali mengembalikan mobil temannya, karena dia sedang asyik mengobrol dengan temannya...Tapi tahulah, itu momen-momen yang sensitif untukku."

  "Aku sendiri ragu apakah aku harus terus membaca atau pergi ke arah pintu depan ketika bel pintu berbunyi."

  "Aku buka pintunya dan akupun tercengang. Orang yang berdiri di depanku waktu itu adalah wanita yang berasal dari Toko Biblia...Yaitu Ibumu. Dia lalu menunjukkan sebuah kertas formulir dimana alamat kami hanya tertulis sebagian, dia lalu bertanya kepadaku, 'Apa ini tulisan Ayahmu?'".

  "Ketika aku mengangguk, dia lalu menunjuk ke arah kotak kardus yang yang ada di dekat kakinya. Sepertinya, dia datang kesini untuk mengirimkan kotak kardus yang berisi buku-buku Ayahku yang tertinggal."

  "Karena aku tidak bisa memutuskan apa yang harus kulakukan dengan buku-buku itu tanpa bertanya ke Ayahku, aku memintanya untuk menunggu di ruangan ini. Ibumu duduk tepat dimana posisimu duduk saat ini dan melihat ke seluruh penjuru ruangan dengan penasaran. Apa yang ada di ruangan ini waktu itu, sama persis dengan apa yang kaulihat saat ini, dia lalu merasa penasaran dan bertanya kepadaku tentang apa saja koleksi buku di rak buku kami, jadi aku setuju saja untuk menunjukkan beberapa koleksi kami kepadanya. Aku harusnya tidak boleh menunjukkan itu dengan mudah ke orang-orang, tapi di saat yang bersamaan aku ingin show off tentang koleksi buku Ayahku yang luar biasa itu."

  "Seperti dugaanku, dia lalu terkejut ketika melihat koleksi itu. Meski begitu, dia tidak hanya fans dari Fujiko Fujio, dia lalu bercerita banyak tentang buku-buku yang ada di rak kami. Dia tidak hanya bercerita tentang manga-manga populer saja, dia juga tahu banyak tentang manga untuk orang dewasa seperti Ilustrasi Biografi Mao Zedong dan Minotaurus Plate.

  "Malahan aku yang berpikir kalau aku tahu banyak soal Fujiko Fujio, merasa sedih melihatnya.  Aku terlihat seperti orang bodoh saja dibanding dirinya, lalu aku berpikir keras untuk bisa mengembalikan harga diriku. Jadi kutunjukkan kepadanya Perang Dunia Terakhir yang baru saja kubaca dan akupun membanggakannya."

  "Aku lalu berkata 'Apa kau tahu kalau Ashizuka Fujio adalah nama pena dari Fujiko Fujio? Aku yakin kau tidak tahu itu! Ini adalah manga yang super langka yang Ayahku cari-cari sejak dulu'".

  "Aku bahkan mengatakan dengan santainya kalau Ayahku membeli buku UTOPIA dengan murah dari Biblia. Aku hanya ingin membuat Ibumu terkejut...Untuk meyakinkannya kalau aku benar-benar tahu apa yang kukatakan. Dia benar-benar tampak terkejut."

  "Dia lalu berkata kepadaku 'Eh begitu ya...Aku sendiri tidak tahu...'"

  "Dia tiba-tiba mendekat ke arahku. Aku sendiri kaget karena jarak antara kami berdua sangat dekat sekali."

  "Dia lalu berkata 'Kau mengajariku banyak hal. Terima kasih ya'."

  "Dia mengatakan apa yang benar-benar ingin kudengar. Aku bisa membayangkan kalau wajahku tampak memerah waktu itu."

  "Mungkin agak memalukan untuk mengatakannya saat ini, tapi bagiku, Ibumu adalah cinta pertamaku..."






x Chapter III Part 4 | END x


* Buat yang tertantang dan benar-benar ingin menganalisis, anda harusnya sudah mendapatkan informasi yang cukup tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan Ayah Suzaki ini. Kalau sudah baca endingnya, mending jangan donk!

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar