Sabtu, 05 Desember 2015

[ TRANSLATE ] Oregairu Vol 7 Chapter 6 : Secara diam-diam, Yukinoshita Yukino pergi keluar melihat suasana malam Kyoto




x Chapter VI x









  Ketika terbangun, tahu-tahu tubuhku sedang terbaring di kasur lipat sebuah ruangan.

  “Dimana ini, kok langit-langit ruangannya serasa asing...”

  Aku mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Hari ini adalah hari pertama darmawisata.

  Hari pertama, kami pergi ke Kuil Kiyomizu. Setelah itu ke Kuil Nanzen. Entah mengapa, setelahnya kami jalan kaki ke Kuil Ginkaku. Suasana musim gugur tampaknya tidak mengendurkan niat kami untuk melakukan ‘jalan-jalan filosofi’ yang pernah dikatakan Yukinoshita. Dan disana suasana yang terjadi antara Tobe dan Ebina juga bagus.

  Setelah selesai, kami pulang ke penginapan, makan malam, dan itulah yang bisa kuingat.

  Kalau begitu, ngapain gue tidur disini?

  “Ah, Hachiman, kamu bangun ya?”

  Totsuka, yang duduk di sampingku sambil memegangi lututnya, berdiri lalu melihat wajahku dari atas.

  “Ah, ya. Tunggu, bukan itu. Maksudku apa yang terjadi disini...?”

  Tapi, masalah utamanya bukan itu saja. Aku juga mendengar suara berisik berasal dari suatu tempat di ruangan ini.

  “Arrrgh. Dia ngasih gue yang bagus!”

  “Hayato jago banget!”

  Ketika aku melihat ke asal suara itu, ternyata berasal dari siswa di kelasku yang sedang memainkan sesuatu, tertawa dan mengobrol kesana-kemari.

  Oke, tampaknya aku tahu apa yang terjadi disini.

  Tampaknya kebiasaanku ketika pertama kali masuk kamar di rumah, mengganggu jadwal darmawisata ini. Berjalan seharian, masuk penginapan dan makan malam, tiba dikamar dan langsung tertidur.

  “Jam penggunaan pemandian umum sudah lewat, tapi pak guru bilang kamar mandi di dalam ruangan boleh dipakai.”

  “A-apa!?”

  Sialan, ini artinya gue udah lewatin peluang besar untuk mandi bersama Totsuka!?

  Karena terkejut, aku seperti hendak melompat saja dari kasurku. Tampaknya Dewa Rom-com minta dihajar...

  Totsuka lalu menunjuk ke arah sebuah ruangan.

  Apa maksudnya?

  “Kamar mandi di sebelah sana.”

  “Oh begitu ya, terima kasih.”

  Aku sangat mengharapkan bisa mandi bersama Totsuka, tapi tenang saja karena peluang itu akan datang lagi besok. Maksudku darmawisatanya kan empat hari tiga malam. Jadi satu malam terlewatkan dan masih ada peluang dua malam lagi untuk mandi bersama. Lagipula, malam selanjutnya kita akan menginap di penginapan Arashiyama yang berarti pemandian air panas. Pemandian terbuka, ini pasti menarik.

  Aku lalu mandi dengan dipenuhi imajinasi yang membuatku bersemangat.

  Setelah keluar dari kamar mandi, aku bertemu Tobe yang sedang rebahan di lantai. Kupikir dia sudah mulai berpikir untuk menyerah setelah apa yang terjadi hari ini. Tapi, dia lalu berdiri dengan gerakan salto dan memanggilku.

  “Oh, Hikitani. Masih bangun ya? Mau main mahjong gak? Ayo kita kalahkan pria-pria congkak itu!”

  Apa-apaan? Kau mengajakku main karena kau pikir bisa mengalahkanku dengan mudah?

  “Maaf ya. Aku tidak begitu paham permainan seperti itu.”

  Tobe tidak memaksa lebih jauh setelah aku menolak tawarannya. Dia lalu berkata “serius nih?” dan kembali berjalan ke meja mahjong dan teman-temannya.

  Aku tidak tahu bagaimana mengkalkulasi poin di mahjong. Aku biasanya main di komputer sehingga tidak repot-repot menghitungnya.

  Totsuka terlihat sedang bergabung dengan grup mahjong tersebut seperti sedang diajari cara bermainnya, tapi setelah dia melihatku, dia melambaikan tangannya.

  Sekarang, aku harus bagaimana? Mungkin ada baiknya tidur saja, tapi rencanaku ini dipotong oleh suara pintu yang terbuka.

  “Hachimaaan, ayo kita main UNO!”

  Zaimokuza tiba-tiba muncul dan mengajakku.

  “...Ngapain kesini? Kenapa kau tidak bermain saja dengan teman sekelasmu?”

  “Dengar dulu Hachiemon. Pria-pria di kelasku pecundang semua. Mereka bilang ini permainan untuk empat orang sehingga aku harus tunggu giliran.”

  Bukannya main UNO memang tunggu giliran? Lagipula itu artinya mereka menerimamu. Coba kau mencoba lebih bersahabat dengan mereka.

  “Oh, kau mau main apa?”

  Totsuka datang kesini dan bertanya ke Zaimokuza.

  “Ayo main UNO saja.”

  “Ah, kedengarannya seru. Mereka mengajariku aturan mahjong tapi aku tidak paham maksudnya.”

  Zaimokuza lalu mengeluarkan kartu UNO dari sakunya dan membagikan kartunya seperti tukang sulap.

  “Aku duluan yang mulai!”

  Setelah itu, dia mengeluarkan kartu R.

  “Riba, riba, riba, riba!”

  Oi diam lu! Mengganggu banget.

  Lalu giliran berpindah ke arah yang berbeda karena Zaimokuza mengeluarkan kartu reverse, membuatnya menjadi giliranku dari seharusnya Totsuka. Setelahnya, permainan berlanjut seperti sebuah game UNO.

  Ketika permainan sudah hampir klimaks, kartuku hanya tersisa dua. Zaimokuza dan Totsuka masih memiliki lima kartu, jadi aku punya posisi superior saat ini.

  “Ngomong-ngomong, Hachiman, kau mau kemana besok?”

  “Huh? Jangan coba-coba untuk mengalihkan perhatianku ketika pertandingan sudah mencapai babak penting.”

  Sial, orang ini memang mengganggu.

  “Okelah. Kalau Tuan Totsuka sendiri bagaimana?”

  “Hmm, kupikir kita akan pergi ke Eigamura dan Kuil Ryouanji. Setelah itu...”

  Totsuka lalu menaruh kartunya di pahanya dan mencoba mengingat-ingat jadwal grup kami. Karena dia tampak sangat manis, aku lalu mencoba menimpali.

  “Setelah itu kita ke Kuil Ninnaji dan Kinkakuji.”

  “Ah, benar.”

  Setelah itu, Totsuka mengambil kembali kartunya.

  Tiba-tiba, Zaimokuza melompat dan mengejutkanku.

 “Oke Hachiman. Kau tidak bilang UNOOOOOOOOOOOOO!”

  Ketika aku menyadarinya, ini sudah terlambat. Totsuka langsung melempar beberapa kartu sekaligus dan menghabiskan sisa kartunya.

  “Yayyyy!”

  “Yeaaaaay!”

  Zaimokuza berteriak gembira dan ketika dia menaikkan tangannya, Totsuka melakukannya juga sehingga mereka melakukan high five.

  Sial, apa-apaan ini, mereka bersekongkol? Tidak, tunggu dulu, aku juga ingin high-five dengan Totsuka...

  Kau jahat sekali, Zaimokuza, benar-benar kotor.

  Dia mengalihkan perhatianku ketika aku melemparkan kartu sebelum kartu terakhir. Ini tidak adil...

  Tapi, aku tidak menyesal kalah begini karena Totsuka terlihat manis...

  “Hachiman, hukuman, hukumannya!”

  “Memang, Hachiman! Ini adalah game dengan hukuman! Berlututlah sementara sambil menunggu vonis hukumanmu!”

  Keduanya tampak bersemangat, mungkin ini adalah efek dari suasana malam dari darmawisata.

  Keduanya tampak kompak dan grup mahjong sebelah juga tampak terinspirasi dan menerapkan hukuman bagi yang kalah.

  “Oke, yang kalah harus...”

  Yamato mengatakan dengan keras, lalu melirik sejenak ke Ooka.

  “Pergi ke ruangan para gadis dan ambil permen dari mereka!”

  “Oh, serius nih? Jangan laaaah!”

  Datang juga...Tobe dihukum pergi ke ruangan para gadis kurasa adalah hal yang wajar bagi grup mereka. Tapi, tampaknya Hayama berusaha menegaskan sesuatu yang berkaitan dengan hukuman tersebut.

  “Ah, ngomong-ngomong, Pak Atsugi sedang patroli di tangga lantai atas tuh.”
[note: Pak Atsugi adalah guru olahraga SMA Sobu, guru pembina Festival Budaya, terkenal berbadan besar dan tegas. Tampaknya dia sengaja berjaga di tangga agar tidak ada pria yang coba-coba ke ruangan para gadis di lantai atas.]

  “Wah, dia serius amat jaganya...”

  Yamato lalu berusaha menutup mulutnya.

  Guru olahraga, Pak Atsugi, punya aura penuh intimidasi dan karena logat Hiroshimanya, kau akan ketakutan ketika mendengarnya bicara. Selain dia guru olahraga, dia sering dilibatkan dalam berbagai event yang diadakan klub olahraga. Jadi, berurusan dengannya bukanlah ide yang baik. Meski klubku bukan klub olahraga, itu juga masih termasuk dalam ide yang buruk.

  “Ayolah, bapak gondrong yang lusa mau nembak, ayo segera laksanakan!”

  “Oi, daripada kau nganggur disini, pergi sana panjat tembok. Tembak dia sekarang!”

  “Kubunuh kau! Cepat pergi sana dan tembak dia, dasar pecundang!”

  “Oi, oi, ayolah jangan perlakukan gue kayak gini!”

  Tobe berusaha membalas sementara Hayama tertawa lepas sambil menepuk-nepuk lantai ruangan ini.

  “Mau bagaimana lagi, Tobe, kau kan yang kalah. Kalau begitu, kenapa kau tidak membelikan kami jus sebagai ganti hukumannya?”

  “Lagipula, meski aku tidak kalah, kupikir aku akan pergi membeli sesuatu karena aku juga merasa haus!”

  Oh, jadi kau memang berniat pergi...jujur sekali dirimu ini...tapi hukuman tadi memang bisa terbilang ringan dari Hayama.

  Ketika Totsuka melihat Tobe keluar ruangan, dia berkata.

  “Ah, kami tampaknya sedikit haus?”

  “Memang, kalau begitu, Hachiman, hukuman dariku persis seperti dia. Belikan kami minum!”

  “Baiklah. Kamu mau apa? Zaimokuza ramen, lalu?”

  “Hmmh, itu tawaran yang cukup menggoda...”

  “Ngimpi lu!

  Tampaknya Zaimokuza akan memakan waktu yang cukup lama untuk menjawabnya, jadi aku bertanya ke Totsuka saja.

  “Aku terserah kau saja, Hachiman.”

  “Baiklah.”

  Aku lalu berdiri dan meninggalkan ruangan.










x   x   x










  Suara langkah kaki mulai menggema ketika aku menuruni tangga menuju lantai dasar.

  Lantai di atas kamar kami, merupakan tempat para gadis menginap. Menurut yang kudengar, Pak Atsugi menjaga di ujung tangga tersebut sehingga para pria tidak bisa ke tempat para gadis. Gila aja gue mau habisin waktu cuma pergi ke tangga itu dan memastikan Pak Atsugi ada disana...

  Mesin penjual minuman ada di lobi penginapan di lantai dasar.

  Kalau cuma ke lantai dasar, kita tidak memerlukan ijin dari siapapun. Tidak ada seorangpun di lantai dasar ini, mungkin karena mereka semua sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing di kamar mereka. Sederhananya, hanya orang-orang terhukum seperti aku dan Tobe yang terpaksa turun ke lantai satu untuk beli minuman karena hukuman game.

  Di salah satu sudut lobi dimana ada mesin penjual minuman, ada Tobe disana.

  Dia mengambil satu kaleng, dan membeli lagi beberapa kaleng. Tobe melihat kedatanganku.

  “Oh, Hikitani, kerja bagus hari ini~.”

  “Yeah.”

  Salamnya selalu “kerja bagus~”, entah malam atau siang. Ini sejenis dengan “Yahallo” dari Yuigahama. Setelah menyapanya balik, aku berdiri di depan mesin penjual minuman dan melihat daftar minuman disana. Sementara itu, Tobe sudah terlihat meninggalkan tempat ini.

  Entah mengapa, aku merasa ada yang sedang mengawasiku, jadi aku membalikkan badanku.

  Ternyata, Tobe masih ada di belakangku.

  “Ada apa?”

  Ketika aku bertanya, Tobe yang masih berdiri disana tertawa kecil.

  “Naaah, Hikitani, kau sudah bekerja sangat keras hari ini, dan itu semua hanya demi diriku. Aku sebenarnya ingin mengatakan terima kasih atau semacam itu? Seperti, terima kasih atas supportnya.”

  Sekedar info saja, kalau di sepakbola, support atau assist tidak akan dihitung kalau tidak tercipta gol.

  “Aku tidak benar-benar banyak membantu. Kebanyakan itu si Yuigahama yang bantu kamu. Berterimakasihlah kepadanya.”

  “Aah, tenang saja, aku memang berencana mau melakukan itu. Tapi kupikir aku harus berterimakasih kepadamu dahulu. Berkat kalian berdua, aku mulai memantapkan diriku untuk menembaknya. Kuharap, besok kita bisa membuat sebuah progress yang bagus!”

  Setelah mengatakannya, dia meninggalkan tempat ini.

  Hmm, ternyata dia pria yang baik juga. Entah hal itu baik atau buruk, dia adalah tipe orang yang mengikuti arus. Dengan kata lain, dia adalah budak dari suasana sekitarnya...

  Kerjasama kami ini tampaknya akan menjadi jalan yang sangat terjal...

  Menembaknya, kah? Kurasa ini tidak akan mudah, tapi kuharap dia mendapatkan yang terbaik.

  Karena aku mulai dihinggapi rasa haus, aku putuskan untuk membeli MAX COFFEE untuk mengusir rasa hausku.

  Aku mulai mengamati daftar minuman yang ada di mesin penjual minuman, satu persatu.

  ...?

  Sekali lagi, aku coba menelitinya dengan baik.

  Semakin kuteliti, aku tidak menemukan satupun kaleng bertuliskan MAX COFFEE.

  Eh...apa-apaan ini?

  Aku terus mencari, yang namanya mendekati hanyalah kopi bernama PACHIMON MAX.

  Ini Kyoto...Tampaknya memang begitulah situasinya, ini kan daerah dengan tradisi kuno ratusan tahun.

  Aku akhirnya mengalah dan memilih cafe au lait.

  Aku lalu membuka kalengnya dan duduk santai di sofa yang berada di ujung lobi.

  Meskipun aku dipercaya untuk membelikan mereka minuman karena kalah, tapi aku tidak mengatakan akan segera kembali secepatnya.

  Jadi aku mulai meminum kopiku ini pelan-pelan, dan mulai melihat sosok yang familiar muncul di ujung lobi.

  Gadis yang muncul dengan gaya berjalan yang penuh tata krama ini adalah Yukinoshita Yukino.

  Dia tampak berpenampilan sedikit berbeda karena rambutnya yang diikat seperti sehabis mandi saja, ini pemandangan yang langka.

  Yukinoshita berjalan menuju tempat cinderamata yang berada di salah satu sudut lobi hotel ini.

  Ketika berada disana, dia menatap dengan serius salah satu deretan rak...Well, kalau Yukinoshita sudah mulai mengamati dengan serius sebuah benda, itu artinya dia akan membelinya.



  Yukinoshita menaruh tangannya di bibir, berpikir sebentar, dan memutuskan sesuatu. Ketika dia menjulurkan tangannya ke cinderamata tersebut, dia seperti menyadari sesuatu.

  Tentunya, kedua matanya bertemu pandang denganku karena aku sejak tadi mengamatinya dari jauh.

  Yukinoshita mengurungkan tangannya kembali dan berbalik ke arah dimana dia muncul.

  ...Ini lagu lama. Aku menggumamkan “selamat malam” kepada Yukinoshita dan meminum kembali cafe au laitku.

  Tapi, tiba-tiba dia berbalik arah dan berjalan ke arahku.

  Dia lalu berdiri di depanku dengan melipat kedua lengannya, dia melihat ke arah bawah dimana aku duduk di depannya.

  “Kebetulan sekali bisa melihatmu selarut ini.”

  “Kau harusnya mengatakan itu sejak tadi...”

  Lebih tepatnya, aku sendiri terkejut dia sampai berbalik arah dan sekedar mengatakan itu kepadaku. Lagian, apa-apaan gadis ini dan sifatnya yang tiba-tiba berbalik tadi?

  “Memangnya ada apa kau disini? Apa kamu kabur dari kamarmu karena tidak bisa membaur dengan teman grupmu?”

  “Justru aku kesini karena mereka mempercayakanku sebuah misi. Itu saja. Kalau kamu?”

  Yukinoshita terlihat sedikit kesal ketika menjawabnya.

  “...Teman-teman sekelasku berusaha menarikku untuk terlibat dalam obrolan mereka. Kenapa sih mereka suka membicarakan hal-hal semacam itu?”

  Me-memangnya pembicaraan yang seperti apa...Ini bukannya aku ingin tahu atau semacamnya, tapi kurasa dia akan marah jika aku bertanya lebih lanjut. Jadi, aku berpikir untuk tidak menanyakannya lebih jauh. Mungkin, saat ini adalah saat paling baik untuk menegaskan keberadaanku sebagai manusia.

  “Well, itu kan artinya mereka menganggapmu kalau mereka sering tanya-tanya soal dirimu. Itu bukanlah hal yang buruk, benar tidak?”

  “Kamu bicara begitu seperti kamu tidak terlibat apapun. Ini gara-gara Festival Budaya kemarin, kamu...”
[note: Ini masalah gosip kedekatan mereka. Jadi teman-teman sekelas Yukino diliputi gosip Yukino dan Hachiman ada sesuatu yang spesial setelah kejadian di festival budaya.]

  Tatapannya yang menatapku dari atas seperti menusukku.

  “Eh, a-aku...? Tidak, tunggu dulu. Aku tidak salah apapun.”

  Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi setidaknya, aku yakin seyakin-yakinnya kalau aku tidak berbuat sesuatu yang aneh di festival budaya. Ketika aku merasa begitu, Yukinoshita menyentuh keningnya dan menutup kedua matanya. Dia lalu berkata.

  “...Tidak ada apa-apa. Jadi, apa yang sebenarnya kau lakukan disini?”

  “Bisa kaukatakan sedang istirahat dari sebuah permainan. Kalau kau sendiri? Bukannya kamu harusnya beli sovenir tadi?”

  “Tidak apa-apa. Itu hanya sesuatu yang menarik perhatianku saja.”

  Yukinoshita lalu memalingkan matanya.

  Begitu ya? Kupikir dia pasti akan membeli itu karena melihatnya dengan serius, kupikir dia melihat ke arah Pan-san edisi spesial Kyoto.

  “Kau sendiri, tidak beli oleh-oleh?”

  “Hanya akan merepotkanku saja kalau kubeli sekarang. Aku akan membelinya ketika pulang nanti.”

  “Begitu ya. Jadi kau sudah punya daftar oleh-olehnya?”

  “Ya seperti itulah. Itu sebenarnya hanya beberapa barang yang Komachi inginkan. Ngomong-ngomong soal Komachi, apakah ada tempat yang bagus untuk berdoa kepada Dewa Ilmu di sekitar sini?”

  “Mendoakan kesuksesan ujian Komachi?”

  “Yep.”

  Ketika kujawab, Yukinoshita tersenyum. Sebagai kakak tertua, aku sangat bahagia jika mendengar adik perempuanku ini sangat dicintai oleh banyak orang.

  “...Hmm, biar kupikir sebentar.”

  Yukinoshita lalu duduk di sebelahku sambil berpikir. Memang sih, mengobrol sambil berdiri memang terasa melelahkan. Aku menggeser posisi dudukku untuk memberikannya ruang.

  “Kuil Kitano Tenman-gu cukup terkenal.”

  “Tenman-gu ya, aku akan mengingatnya.”

  Aku akan pergi kesana nantinya di hari ketiga. Juga aku ingin membeli jimat keberuntungan, tapi berdoa disana pasti akan mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Membawa Hamaya juga akan terasa repot...Lagipula, apakah orang itu masih diberkati jika dia tidak menuliskannya di sebuah papan kayu?
[note: Hayama eh Hamaya itu semacam jimat keberuntungan yang biasa dijual di kuil tertentu. Berupa anak panah yang diberkati dan ada kertas-kertas doa terikat di anak panah tersebut. Anak panah tersebut dipercaya bisa mengusir iblis pembawa musibah dan menarik keberuntungan untuk datang.]

  “...Selain memikirkan Komachi, bagaimana dengan perkembangan requestnya?”

  Ah, sial, aku malah lupa dengan masalah terbesarnya.

  “Masih sesuai skenario, tapi situasinya tidak buruk, tapi juga tidak bagus.”

  Ketika kujawab, Yukinoshita memalingkan pandangannya dan terlihat seperti ingin meminta maaf.

  “Maaf ya, aku tidak bisa membantu banyak karena berada di kelas lain.”

  “Jangan khawatir soal itu. Aku sendiri yang sekelas dengan mereka tidak bisa bantu banyak.”

  “Kupikir justru kaulah yang harusnya khawatir karena tidak bisa bantu banyak meski sekelas...”

  Ketika obrolan kami berlanjut, Hiratsuka-sensei lewat di depan kami. Dia memakai mantel, dan entah mengapa, dia memakai kacamata hitam meskipun ini sudah larut malam.

  Ketika dia menyadari kami berdua, dia menatap kami dengan curiga.

  “Kalian ada apa disini?”

  “Well, saya kesini membeli minuman. Sedang Sensei sendiri ada apa keluar selarut ini?”

  “M-mmm...Ja-jangan beri tahu siapa-siapa ya, oke? Rahasiakan ini, oke?”

  Sensei tampaknya hendak mengatakan sesuatu yang penting, sehingga jantungku berdetak kencang. Aku merasa agak malu-malu ketika huruf “Shizuka-cute” mulai berterbangan di kepalaku, tapi kata-katanya selanjutnya membuyarkan impianku itu.

  “U-umm...A-aku hendak pergi...Untuk beli ramen...”

  Dia tampak tidak manis sama sekali. Tolong kembalikan kekagumanku tadi.

  Baik Yukinoshita dan diriku tampak menyerah dengan sikapnya, tapi Sensei tampak sedang memikirkan sesuatu.

  “Hmm. Tapi, kalau cuma kalian berdua, kurasa ini bukan masalah.”

  “Maaf, bisa anda ulangi?”

  Setelah beberapa saat berusaha mendeskripsikan kata-katanya, Yukinoshita bertanya langsung ke Sensei.

  Sensei tersenyum ketika menatap Yukinoshita dan ketika dia menatapku, dia malah menggerutu.

  “Aku sangat yakin Yukinoshita bisa menyimpan ini dengan rahasia, tapi aku tidak begitu yakin dengan Hikigaya...”

  “Itu terdengar kejam sekali...”

  Kuberitahu ya, aku tidak punya seorangpun yang bisa kuberitahu!

  “Begini saja, kutraktir ramen sebagai gantinya. Jadi bagaimana, ramen?”

  ...Ramen katamu? Jadi cuma menemanimu dan aku ditraktir ramen?

  Ramen Kyoto, ini adalah peluangku untuk mencicipinya pertama kali. Perutku tampak siap tempur kalau soal ramen, mungkin ini efek samping dari masa muda. Mendengar kata ramen saja membuatku merasa lapar secara otomatis.

  “Ya mau bagaimana lagi, kalau Sensei memaksa begitu.”

  Ketika kujawab, Sensei mengangguk.

  Aaah, aku tidak sabar untuk mencicipi ramen Kyoto. Ketika pikiran itu mulai berkeliaran di kepalaku, Yukinoshita yang duduk di sebelahku, tiba-tiba berdiri.

  “Kalau begitu, saya kembali saja ke kamar.”

  Dia membungkuk dengan cantiknya ke Sensei dan berbalik ke arah lain. Lalu Hiratsuka-sensei memanggil Yukinoshita dari belakang.

  “Yukinoshita, kau juga ikut.”

  “Tidak, itu...”

  Yukinoshita membalikkan badannya dan menjawabnya. Sensei terlihat tersenyum ketika melihatnya.

  “Oh, kau bisa menganggapnya sebuah kegiatan klub. Lagipula malam masih belum begitu larut.”

  “Tapi, pakaianku tidak memungkinkan untuk keluar.”

  Dia meremas lengan pakaiannya ketika mengatakannya. Sensei lalu melepas mantelnya dan memberikannya ke Yukinoshita.

  “Kau bisa pakai ini.”

  Ya ampun, ada apa dengannya? Ini adegan yang keren! Aku mulai mengaguminya kali ini. Memang, ini adalah momen yang tepat untuk “Shizuka-cool”, dan bukan “Shizuka-cute”.

  “Tampaknya Sensei tidak berniat untuk mendengar sebuah penolakan, ya?”

  “Tampaknya begitu.”

  Yukinoshita akhirnya menyerah dan memakai mantel tersebut.

  “Kalau begitu, ayo kita pergi!”

  Membawa kami berdua dalam sebuah perjalanan, Hiratsuka-sensei berjalan dengan highheelsnya dan membuat suara gaduh di lobi. Tibalah saatnya kami melihat wajah malam dari Kyoto.











x    x   x











  Suasana malam yang dingin mulai menyelimuti ketika kami meninggalkan hotel tempat kami menginap. Harusnya aku sadar kalau daritadi kalau aku ini keluar dengan memakai pakaian rumahan saja.

  “Kyoto memang sangat dingin.”

  Hiratsuka-sensei melihat pakaianku dan mencoba membuatnya menjadi bahan candaan.

  Ketika kami tiba di pinggir jalan, Sensei menaikkan tangannya. Tiba-tiba, sebuah taksi kecil muncul dan berhenti di depan kami.

  “Masuklah dulu, Yukinoshita.”

  Setelah dia membetulkan mantelnya, dia mengangguk mendengar kata-kata Sensei dan mulai masuk ke mobil.

  Setelah itu, Sensei menggunakan isyarat tangannya untuk mengatakan kalau itu giliranku.

  “Selanjutnya, Hikigaya.”

  “Oh saya belakangan saja Sensei, anda silakan duduk terlebih dahulu.”

  Ketika mendengar sikapku yang menolak tersebut, Sensei terkejut dan meresponku balik.

  “Oh, jadi kau adalah tipe pria yang ‘ladies first’? Ternyata kau sudah dewasa ya. Tapi, kau salah jika mengkhawatirkanku.”

  “Eh..Ti-tidak masalah berapapun umur anda, anda tetaplah seorang wanita! Jadi tolong agar anda lebih percaya diri!”

  Dengan ekspresi yang hendak menerkamku, Sensei menunjuk kepalaku dengan jari telunjuknya.

  “Itu karena menurut statistik, penumpang sedan yang duduk di tengah punya peluang tewas lebih tinggi, tahu tidak...”

  “Ouch...”

  Dengan cakar besinya yang menuntun kepalaku, aku akhirnya dilempar begitu saja masuk ke dalam taksi. Tampaknya dia sudah mulai mengembangkan variasi dari serangannya. Serangan langsung ke tubuh tampaknya merupakan cara kuno. Ini mungkin salah satu bukti kalau hubungan kami mulai berkembang.

  “...Ini konyol sekali.”

  “Diamlah. Aku ini sedang berbaik hati loh.”

  “Tampaknya definisi baik anda berbeda dengan definisi saya...”

  Kami berada di kursi penumpang taksi dimana diisi tiga orang. Harusnya ini terasa sesak, tapi karena Yukinoshita dan Sensei memiliki tubuh yang kurus, ternyata ruangan yang tersisa cukup banyak. Phew...Lagian aku sendiri tidak tahu apa yang harus kulakukan jika benar-benar terjebak diantara mereka berdua di ruangan kecil ini.



  “Tolong ke Ichijouji.”

  Sensei memberitahu supir taksinya dan taksi mulai berjalan menuju tempat yang diinstruksikan.

  Ichijouji adalah tempat yang terkenal karena memiliki hubungan dengan Miyamoto Musashi. Di Ichouji ada area bernama sagarimatsu, terkenal karena ada duel maut antara Musashi melawan Perguruan Yoshioka. Sebenarnya, tidak ada bukti sejarah yang menguatkan hal itu. Itu adalah cerita yang dikatakan oleh tetua warga sekitar secara turun-temurun.
[note: Miyamoto Mushashi adalah seorang ahli pedang yang tercatat memenangkan lebih dari 60 duel pedang. Ada rumor yang mengatakan kalau jumlah sebenarnya lebih dari seratus duel. Itu termasuk melawan Yoshioka Ryu, pimpinan sekolah Yoshioka.]

  Selain terkenal dengan tempat duel berdarah, tempat itu juga terkenal karena restoran ramennya, bahkan banyak restoran ramen yang enak berdiri dalam satu kompleks.

  Entah mengapa, taksi sampai lebih cepat dari dugaanku.

  Ketika kami keluar dari taksi, pemandangan di depanku ini benar-benar mengejutkanku.

  “I-ini adalah Tenka Ippin...”

  Memang, Tenka Ippin, merupakan restoran yang dibuat oleh surga itu sendiri. Bukannya mau melebih-lebihkan sih. Aku sebenarnya hanya mendengar rumor-rumor mengenai tempat ini. Sup ramennya menyelimuti mi dengan sempurna, bahkan terasa gurihnya sampai ke sumpitnya.

  Ketika diriku diliputi rasa senang, Yukinoshita berbisik kepadaku dari belakang.

  “Apa restoran ini sebegitu terkenalnya?”

  “Yeah, malahan terkenal sampai seluruh Jepang.”

  “Kalau terkenal sampai seluruh Jepang, bukanlah kita tidak harus sampai segitunya makan disini, di Chiba bisa juga kan...?”

  Ah, karena dia baru mengatakan itu, mungkin ada benarnya.

  “Begini...dengan alasan tertentu, tidak ada satupun restoran Tenka Ippin yang buka cabang di Chiba. Di seluruh propinsi Kanto, Chiba cuma satu-satunya kota dimana tidak ada cabang restoran ini...”

  Menurut pengalamanku yang sudah ahli dalam sejarah Chiba (tujuh belas tahun), Chiba memang merupakan tempat yang menjanjikan (menurutku), tapi karena satu hal, aku tidak bisa menyematkan Chiba sebuah gelar ‘kota sempurna’. Satu-satunya hal tersebut adalah tidak adanya restoran Tenka Ippin.

  “Well, entah apa kau belum tahu atau bagaimana, sebenarnya di Chiba ada cabangnya satu.”



  Dia mengatakan itu sambil mematikan rokoknya, dia melempar rokoknya di trotoar dan menginjaknya.

  “Eh, benar ada ya! Anda memang satu-satunya ramenpedia di Chiba! Tidak, maksudku satu-satunya dan masih single!”

  “Kau mengganti kalimatmu dengan kata-kata yang salah, Hikigaya.”

  “Ouch, ouch, ouch...”

  Suaranya sangat manis, tapi kepalaku terasa sakit dibuatnya.

  “Restoran ini buka cabang di seluruh kota di Jepang. Tapi memang rasanya akan berbeda jika kita makan di restoran pusatnya. Bukannya aku mau mengatakan rasa ramennya di restoran cabang ada kurangnya, tapi aku memang ingin mencoba memakan ramennya disini sesekali.”

  Setelah melepaskan kepalaku, Sensei menatap papan nama restoran tersebut dengan penuh emosi.

  “Sekarang, ayo kita masuk.”

  Untungnya, banyak sekali kursi kosong di restoran ini.

  Kami duduk di pojokan dengan urutan Sensei, Yukinoshita, dan kemudian diriku.

  “Kotteri.”

  Sensei memesannya begitu saja tanpa melirik sedikitpun ke menunya. Sebenarnya, aku juga ingin mencoba kotterinya, apa benar sesuai rumor yang kudengar atau tidak.

  “Saya juga sama.”

  “...”

  Aku tidak mendengar satupun pesanan Yukinoshita, jadi aku melihat ke arahnya. Dia tampak kebingungan dengan melihat kesana-kemari.

  Lalu dia menarik lenganku.

  “...Hei, apakah itu sup?”

  Ekspresinya seperti sedang ketakutan. Tapi tahu tidak, bagaimana kau bisa memakan itu jika kau takut? Dan yang kau tunjuk itu adalah naritake, itu sebenarnya bukanlah sup, itu cuma tumpukan lemak. Dan itu sangat lezat.

  Sensei tidak bisa menahan tawanya melihat sikap Yukinoshita dan membuka menu untuknya.

  “Disini juga ada sup assari. Kupikir kau akan menyukainya.”

  “Ah, tidak usah. Melihatnya saja sudah membuatku kenyang...”

  Yukinoshita terkejut seperti seekor kucing yang ketakutan.

  “Oh? Begini saja, kenapa kita tidak minta mangkuk kecil dan kau coba saja dahulu.”

  Meski Sensei menyarankan itu, Yukinoshita masih terlihat ketakutan, tapi tidak lama kemudian dia mengangguk.

  Setelah mengatakan pesanan kami, tidak lama kemudian pesanan kami datang.

  Aku lalu mengambil sumpit dan menaruhnya di kedua tanganku.

  “Terima kasih atas makanannya.”

  Hoo boy! Rasa lengket yang terasa di sumpit ini! Aku sudah merasa tidak sabar!

  Warna supnya seperti memenuhi permukaan mie. Ketebalan dan rasa yang tajam dari supnya seperti sesuatu yang bisa kau rasakan di tempat Tora no Ana di Chiba.

  Apa-apaan ini, ini enak sekaliiiii!

  “Yukinoshita, ini.”

  Sensei menaruh porsi kecil di depan Yukinoshita. Yukinoshita tampak ragu, tapi karena sudah disiapkan sebuah porsi di depannya, dia mulai mengambil sumpit dan sendok. Dia lalu merapikan rambutnya di belakang telinganya dan meniup sebentar kuah di sendoknya. Cara dia meminum dan menelan kuah tersebut sangat menarik perhatian mataku sehingga aku harus memalingkan pandanganku, tapi ini sia-sia.

  Setelah membersihkan sup di sekitar bibirnya, dia lalu memasang ekspresi yang serius.

  “...Rasanya sungguh radikal.”



  Horee, dia sangat akurat menggambarkannya!

  Selamat datang di dunia ramen, meskipun agak telat, akupun mulai berpikir kalau ini adalah hal yang benar atau tidak. Lalu aku mengatakan apa yang ada di pikiranku.

  “Tapi, apakah ini kegiatan yang benar, guru mengajak muridnya keluar dari hotel?”

  Begitulah yang ingin kukatakan, tapi Sensei terlihat tenang-tenang saja.

  “Tentu saja tidak boleh. Oleh karena itu, aku menyuapmu agar diam.”

  “Bukankah kegiatan ini membuat anda serasa menjadi guru yang buruk...?”

  Yukinoshita meresponnya dengan nada yang terkejut, tapi Sensei terus melanjutkan makannya tanpa terganggu.

  “Guru juga manusia, juga orang dewasa. Kami juga melakukan kesalahan seperti orang lain, secara sadar atau tidak.”

  “Bukankah anda akan dapat hukuman jika ketahuan?”

  Dan kabar buruknya, aku mungkin akan terseret juga.

  “Itu tidak akan terjadi. Paling aku hanya dipanggil dan dinasehati, ya semacam itulah.”

  “Saya rasa anda tidak akan dinasehati, lebih tepatnya dimarahi. Benar tidak...?"

  Aku setuju dengan Yukinoshita. Sensei lalu meminum habis kuah yang tersisa dan membersihkan mulutnya dengan tisu. Dia lalu melihat ke arah kami.

  “Itu berbeda. Diberitahu untuk tidak menyebabkan masalah dan diminta untuk membersihkan masalah adalah hal yang berbeda.”

  “Saya tidak paham.”

  “...Apa itu? Mungkinkah karena kami sendiri tidak punya pengalaman dimarahi?”

  Yukinoshita menaruh tangannya di dagu seperti berusaha mengingat-ingat masa lalunya. Sensei lalu menganggukkan kepalanya dan melihat ke arah Yukinoshita.

  “Kalau begitu, biar kumarahi dirimu. Sebenarnya aku tidak berencana untuk memarahi orang tapi kupikir aku sendiri ini juga naif.”

  “Tidak, lebih baik tidak usah.”

  Aku melambai-lambaikan tanganku menolak tawarannya. Kalau dia melakukan lebih dari ini, maka penderitaanku lengkap. Luka fisik dan psikis. Aku nantinya hanya akan menjadi alat bagimu dan akhirnya kau harus bertanggung jawab dengan menikahiku. Eh tunggu dulu, bukankah itu akan menjadi impianku...

  Ketika aku memikirkan banyak hal, Yukinoshita tampak tenang.

  “Aku sendiri tidak keberatan karena tidak tahu rasanya dimarahi.”

  “Yukinoshita, dimarahi itu bukanlah hal yang buruk. Itu artinya orang itu benar-benar memperhatikanmu.”
[note: Vol 6.25 Chapter 2 Hachiman memarahi Yukino ketika Yukino mengatakan akan menjadi wakil ketua panitia festival olahraga. Hachiman memarahi Yukino karena ini berpotensi membuatnya over-work dan jatuh sakit lagi seperti festival budaya.]

  Bahu Yukinoshita tiba-tiba terlihat turun ketika mendengar kata-kata Sensei. Dia lalu menundukkan kepalanya. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya.

  Hiratsuka-sensei lalu menepuk pundak Yukinoshita.

  “Aku memperhatikanmu, jadi kau jangan khawatir dan lakukanlah segala yang kau inginkan tanpa peduli apakah itu salah atau benar.”


  ................................


  Kami lalu keluar dari taksi yang mengantarkan kami kembali dan Sensei berjalan ke arah yang berlawanan dari arah ke hotel.

  “Aku akan pergi ke restoran sake untuk minum-minum. Sampai jumpa dan hati-hati di jalan.”

  Eh, apa yang akan kau lakukan itu benar-benar oke?

  Sensei melambaikan tangannya dan kamipun membalasnya. Yukinoshita dan diriku mulai berjalan menuju hotel. Meski kami berdua hanya berjalan sambil terdiam, tapi kami merasa nyaman dengan ini.

  “.....”

  “.....”

  Yukinoshita berjalan beberapa langkah di depanku.

  Tapi, tiba-tiba dia terhenti. Dia lalu menoleh ke kanan dan ke kiri.

  ...Kurasa inilah saatnya dimana pengalaman membuatmu bisa memahami sesuatu. Jadi aku bisa paham kesulitan apa yang dialami oleh Yukinoshita saat ini.
[note: Vol 3 chapter 4, Yukino tersesat di LalaPort Mall ketika kencan dengan Hachiman. Tampaknya Yukino sangat buruk dalam mengingat arah.]

  “Belok kanan.”

  “...Be-begitu ya.”

  Dia lalu membetulkan posisi kerah mantel yang belum dia kembalikan itu ke Sensei.

  Aku tersenyum kecil melihatnya, lalu aku berjalan mendahului Yukinoshita. Aku setidaknya akan menunjukkan jalan ke hotel kepadanya.

  Suara langkahnya yang melambat seperti memberitahuku kalau dia sudah paham maksudku.

  Tapi suara langkah kakinya terdengar semakin menjauh.

  Merasakan keanehan tersebut, aku membalikkan badanku dan melihat jarak antara diriku dan Yukinoshita semakin menjauh.

  “Kalau kau jauh dariku, nanti kau tersesat...”

  “Bukan begitu...umm...”

  Aku bertanya tapi jawaban yang kuperoleh adalah jawaban yang tidak jelas. Dia lalu membetulkan posisi kerah mantelnya yang mengubur sebagian wajahnya dan suaranya terdengar samar-samar.

  Aku tidak tahu apa yang dia katakan, tapi akan bermasalah jika kita terpisah disini dan dia akhirnya tersesat. Dengan itu di pikiranku, aku menunggunya untuk berjalan kembali.

  Kami berdiri di posisi yang berbeda, Yukinoshita dan diriku hanya terdiam menatap satu sama lain. Tapi, apa yang sebenarnya akan kita lakukan disini...?

  Tidak lama kemudian, Yukinoshita berkata.

  “Aku sebenarnya tidak keberatan kalau kau berjalan lebih dulu...”

  Dia menggumamkannya sambil berjalan dan berhenti tepat disampingku. Ini seperti pertarungan antara kucing liar.

  “Nah, kupikir tidak masalah apakah aku pergi duluan atau tidak. Lagipula, hotelnya ada di depan kita.”

  “...Mungkin bagimu tidak, tapi bagiku itu bisa menimbulkan masalah.”
[note:Kelas 2J lagi ramai gosip Hachiman dan Yukino, jelas terlihat berjalan berdua di malam hari akan membuat suasananya heboh.]

  Aku tidak tahu harus menjawab apa.

  “Memangnya akan menimbulkan masalah apa?”



  “Umm...Ini kan sudah larut malam...Jadi kalau ada yang melihat kita jalan berduaan, nanti bisa...”

  Kurasa cuacanya tidak sedingin itu, tapi Yukinoshita sejak tadi berusaha menyembunyikan wajahnya dengan kerah mantel tersebut.

  “...Be-begitu ya.”

  Sekarang dia mengatakan itu, aku lalu berpikir tentang situasi kita. Pada dasarnya, yang terjadi adalah kita tidak sengaja bertemu di malam hari.

  Ini adalah sesuatu yang tidak perlu dikhawatirkan, bahkan tidak terasa aneh sedikitpun.

  Tapi, ini pertamakalinya bagiku melihat Yukinoshita seperti ini.

  Dia menghindari tatapanku dan melihat ke arah kakiku saja sehingga dia tidak takut akan tersesat.

  Caranya menyembunyikan wajahnya yang malu-malu, menyembunyikan tatapan matanya, dan tangannya yang memegangi pakaianku hanya sekedar agar aku tidak begitu jauh darinya...Adalah sesuatu yang belum pernah kulihat darinya selama ini.

  Karena posisi kami berdua dalam situasi yang cukup aneh, jadi aku mulai berjalan dengan tangan kanan dan kaki kanan maju bersamaan, begitu pula bagian kiriku. Karena itu, hotel yang harusnya sudah dekat malah terasa sangat jauh.

  Baik Yukinoshita dan diriku memang tidak ada niatan untuk berjalan bersama, tapi entah mengapa kita bergerak bersama-sama ketika aku mulai berjalan. Bisa dikatakan situasi kami ini tidak dekat dan juga tidak jauh.

  Ketika sampai di lobi hotel, rasa lelah yang luar biasa melanda diriku.

  Kurasa jika berjalan lebih dari ini, akan ada siswa yang akan melihat kita berdua seperti ini. Kalau yang Yukinoshita takutkan itu benar, maka yang terbaik adalah berpisah disini.

  Aku menghentikan langkahku dan Yukinoshita melepaskanku sambil berjalan terus. Lalu, aku melambaikan tanganku.

  “Sampai jumpa.”

  “...Kau juga, selamat malam...Umm, terima kasih sudah mengantarkanku pulang.”



  Setelah menjawabnya, dia mulai pergi dari lobi. Meskipun kami sudah berada dalam ruangan, dia masih memakai mantel itu. Karena dia berjalan dengan terburu-buru, mantelnya tampak berkibar-kibar.

  Aku mulai memikirkan banyak hal-hal tidak penting tentang dirinya seperti bagaimana dia mengembalikan mantel tersebut atau tidak ketika berjalan menuju kamarku.

  Ketika aku kembali ke kamarku, ruangannya masih dipakai untuk pertandingan mahjong.

  “Ah, Hachiman, selamat datang.”

  Totsuka dan Zaimokuza terlihat sedang memainkan “Old Maid”.

  “Darimana saja kau? Lama sekali.”

  “Eh, masa selama itu?”

  Well, ternyata aku sudah pergi selama 2 jam lebih.

  “Jadi, dimana minuman dan ramenku?”

  “Ah.”

  Benar juga, aku kan masih dihukum mentraktir mereka minum.

  “Jangan bilang kau lupa?”

  Aku tidak mempedulikan Zaimokuza yang melihatku seperti idiot.

  “...Hmph, seperti pesananmu. Semua yang kaupesan ada disini...Disini.”

  Aku lalu menunjuk ke arah perutku dan Zaimokuza melihatku dengan terkejut.

  “A-apa!? Kau pergi makan diluar...Kau sangat menakutkan...”

  Zaimokuza terlihat menyeka keringatnya dan melihatku dengan penuh rasa hormat. Hmph, ini terlalu mudah bagiku.

  Tapi, ada satu orang yang tidak seperti Zaimokuza.

  “Kalau begitu, itu artinya kau tetap harus turun ke bawah dan beli minuman, ya?”

  Totsuka tersenyum dan tetap memintaku melaksanakan hukumannya. Phew, Totsuka memang sangat menyeramkan..











x Chapter VI | END x








  Jadi sebenarnya ada gosip apa di kelas 2J antara Yukino dan Hachiman?

  Pertama, kepanitiaan festival, vol 6 chapter 7. Setiap kelas mengirimkan 2 perwakilan, pria dan wanita. Kelas 2J diwakili Yukino untuk gadis, jelas ada perwakilan untuk pria disana untuk 2J. Dalam interkom kepanitiaan, Yukino mengobrol dengan santainya ke Hachiman. Ini berlawanan dengan image Yukino di kelas 2J sebagai siswi pendiam dan tertutup. Jika anda menjadi orang luar dan mendengar percakapan itu, anda pasti akan menganggap kalau Hachiman dan Yukino dekat.

  Kedua, kepanitiaan festival di hari kedua. Yukino sejak pagi jalan berdua dengan Hachiman. Memeriksa tiap kelas, yep...Tiap kelas dan itu berarti mereka berdua juga mampir ke kelas 2J. Lalu di 3B, Yukino keluar dari kelas dengan memegangi lengan Hachiman. Juga di gimnasium ketika menonton konser penutupan festival, Yukino menempel berduaan dengan Hachiman disana.

  Mudah saja, ada gosip kalau Yukino dan Hachiman berpacaran di 2J.

  ...

  Kalau anda jeli, adegan lobi hotel...

  Jika Yukino mengatakan terganggu dengan gosip HachimanxYukino di kelasnya, mengapa dia masih mau duduk di sofa bersama Hachiman. Maksud saya, jika nanti ada siswa, entah siapa, turun ke bawah dan membeli minuman, lalu melihat Yukino duduk berdua di sofa dengan Hachiman, bukankah itu akan membuat gosipnya bertambah ramai?

  Tentunya, karena itu adalah gosip yang Hachiman dan Yukino inginkan.

  Kebalikan dengan pengakuan Hayama di vol 4 chapter 7, Hayama mengatakan hanya diam saja dan tidak melakukan apapun dengan Yukino yang dibully gara-gara gosip itu. Hayama jelas menginginkan gosip itu ada, tapi Yukino tidak.

  Ironisnya, Hachiman merasa gosip pacaran itu mengganggu, di vol 10 chapter 3 dan seterusnya ketika ada gosip YukinoxHayama. Hachiman disini benar-benar tidak merasa terganggu, tentunya karena itulah gosip yang dia inginkan.

  Manusia hanya ingin mendengar apa yang ingin mereka dengar - Hikigaya Hachiman, vol 5 chapter 7.

  ...

  Buat yang belum tahu, ramen adalah makanan favorit Hachiman, vol 5 chapter 4.

  ...

  Yukino adalah gadis kedua yang mencicipi ramen bersama Hachiman. Pertama adalahh Hiratsuka-sensei di vol 5 chapter 4, ketiga adalah Isshiki Iroha di vol 10.5 chapter 2. Tapi kalau anda tidak memasukkan Sensei dalam klarifikasi gadis, maka Yukino adalah gadis pertama.

  ...

  Yukino jelas tidak tahu apapun soal ramen karena dia dibesarkan di luar negeri. Keluarganya pindah ke Jepang waktu kecil, lalu terjadi bully di kelas 6 SD. Lalu Yukino pergi lagi keluar negeri menghabiskan waktunya 2 tahun sebagai siswi pertukaran pelajar, kembali lagi ke Jepang waktu kelas 3 SMP.

  ...

  Sayangnya, versi anime tidak menayangkan utuh adegan di restoran ramen, padahal ada beberapa monolog penting dari Hachiman.

  Anime juga melakukan kesalahan dalam adegan sepulang dari restoran ramen. Yukino harusnya memegang lengan Hachiman dan jalan bersama-sama ke hotel. Versi anime menampilkan Yukino dan Hachiman jalan berjauhan.

  Kesalahan anime ini sebenarnya sudah disindir oleh Watari dalam afterword seri [A].

  ...

  Hachiman dalam adegan rom-com dengan Yukino sepulang dari restoran ramen, mengatakan dia melihat sisi lain dari Yukino dan menyukai itu.

  Dalam vol 7 chapter 2, Tobe mengatakan hal serupa, kalau dia melihat sisi lain dari Ebina dan menyukai itu. Terlebih lagi, Hachiman mengakui pendapat Tobe tersebut.

  Saya tidak tahu apakah ini disengaja atau tidak oleh Watari, disini terjadi adegan serupa dengan apa yang dirasakan Tobe, bedanya...Kali ini Hachiman terhadap Yukino. Jika ini terencana dengan baik, maka Watari memang memiliki skill menulis yang baik.

  Lebih dari itu, ini seperti menunjukkan kalau Hachiman mau tidak mau harus menerima fakta kalau dia tertarik dengan Yukino, tentunya jika ini mengacu ke pembenaran Hachiman terhadap alasan Tobe tempo hari.

  ...

  Yukino jelas terkejut dengan kata-kata Sensei yang mengatakan kalau orang itu marah karena memperhatikannya selama ini. Itu mengingatkan Yukino dengan kejadian vol 6.25 dimana Hachiman sendiri marah ke Yukino yang menjadi Wakil Sagami di kepanitaan Festival Olahraga.

  ...

  Kemungkinan besar, Yukino menurut dengan saran Hachiman soal jalan di dekatnya karena teringat kata-kata Sensei, yaitu Hachiman peduli dengannya. Juga, fakta kalau Yukino sendiri kesulitan dalam mencari arah.

  Ini jelas lucu, karena Yukino sendiri takut momen mereka berduaan itu bisa menimbulkan gosip.

  Tapi melihat perkembangan ke depannya, di vol 10 chapter 1 Yukino dengan santainya memegangi lengan Hachiman ketika masuk ke kereta tanpa memikirkan pandangan orang-orang disana, sepertinya situasi ini akan berkembang jauh ke depannya.

  ...





2 komentar:

  1. Maaf min, bagian mana ya yang menunjukan bahwa yukino megang lengan hachiman ? :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pas mau ke hotel, abis dari restoran ramen

      Hapus