Jumat, 04 Desember 2015

[ TRANSLATE ] Oregairu Vol 7 Chapter 5 : Seperti yang kau lihat, Yuigahama Yui sedang memberikan yang terbaik



x Chapter V x








  Yo! Gue Hachiman! Dan Gue akan pergi ke Tokyo!

  Dan begitulah, tujuan utamaku kali ini adalah pergi ke Tokyo untuk naik Kereta Cepat Shinkansen yang menuju Kyoto.

  Aku bangun lebih awal daripada biasanya sehingga bisa berangkat lebih pagi. Ketika berpamitan dengan kedua orang tuaku, mereka memintaku untuk membeli oleh-oleh ketika pulang, termasuk daftar oleh-oleh Komachi. Maaf ya ayah, kita berdua ini kaum minoritas di keluarga sehingga aku tidak bisa membelikanmu oleh-oleh sake secara diam-diam. Tapi jangan khawatir, aku sangat senang ketika menerima uang sake darimu dan ketika pulang nanti aku akan mengatakan kalau Komachi dan Ibu tidak mengizinkanku membelikanmu sake dan uangnya kubelikan hal lain!
[note: Kyoto juga terkenal dengan toko sake yang berproduksi ratusan tahun, terutama Fushimi-Momoyama. Juga ada museum sake terkenal, Gekkeikan Okura. Sake di Kyoto terkenal akan pengolahannya yang unik secara turun-temurun.]

  Jarak antara Chiba ke Tokyo terbilang dekat. Bahkan, kau bisa katakan kalau Chiba adalah kota satelit terdekat dengan Tokyo. Dengan kata lain, lokasi yang sangat dekat dengan Ibukota Negara, mungkin lumrah saja jika kau sebut Chiba juga Ibukota Negara. Chiba memang luar biasa!

  Kau bisa langsung ke Tokyo dengan sekali jalan jika naik Sobu Line. Alternatif lainnya yaitu Kereta Keiyou Line. Kereta di Chiba memang cepat-cepat.

  Tapi, dua jalur kereta yaitu Sobu dan Keiyou ke arah stasiun Tokyo punya jalur yang buruk. Misalnya Sobu Line, ketika kau melewati terowongan, kamu akan berpikir “Apa-apaan ini, apa kita akan menggali minyak apa semacam itu?”. Kalau Keiyou Line, kau berpikir “Kita ini sudah di stasiun Tokyo atau belum?”.
[note: Oke, mungkin banyak yang kurang ‘ngeh’ dengan guyonan ini. Saya mencoba menelusuri website Stasiun Tokyo dan menemukan maksud guyonannya. Sobu Line mayoritas jalurnya adalah terowongan bawah tanah, bahkan Sobu Line berhenti di Stasiun Tokyo di lantai 5 bawah tanah! Keiyou Line ini seperti jalur ‘memutar Tokyo’. Mungkin ini jalur yang dipakai warga Chiba jika ingin jalan-jalan di Tokyo dengan Stasiun Tokyo menjadi stasiun terakhirnya.]

  Kalau begitu, Shinagawa mungkin alternatif yang lebih nyaman meskipun merupakan jalur terjauh untuk menuju Stasiun Tokyo.

  Aku akhirnya naik kereta lokal di stasiun terdekat dan pindah ke Sobu Line dari stasiun Tsudanuma.

  Aku berhasil masuk ke gerbong tepat sebelum pintu keberangkatan tertutup. Aku sangat lega bisa naik tepat waktu, dan tepat ketika wajahku mengekspresikan itu, pandangan mataku bertemu dengan sepasang mata berwarna biru yang familiar.

  “...”

  “...”

  Kami berdua terdiam.

  Gadis itu kemudian melihat ke arah pemandangan dari jendela gerbong sambil mengibaskan rambut ponytailnya.

  Kawasaki Saki.

  Benar juga, kalau tidak salah rumahnya tidak jauh dari rumahku. SMP kami berbeda kemungkinan karena tempat tinggalnya berada di kompleks perumahan sebelah yang dibatasi jalan raya di dekat komplek rumahku. Meski begitu, bagi kedua kompleks perumahan, stasiun ini memang yang terdekat bagi keduanya. Karena tujuan kita sama, tampaknya kita akan turun di stasiun yang sama dan naik kereta yang sama.

  “...”

  Kawasaki lalu mencoba melirik ke arahku lagi. Ketika kedua mata kami bertemu, dia lalu langsung memalingkan pandangannya ke arah jendela gerbong.

  Sial.

  Aku melewatkan peluang untuk menyapanya yang bisa kumanfaatkan untuk keluar dari situasi aneh ini, mungkin dia menyadari diriku tidak berguna karena melewatkan peluang tadi untuk membuka pembicaraan. Sekarang, posisiku tidak menguntungkan dan terjepit dalam keramaian kereta.

  Pada akhirnya, Kawasaki dan diriku hanya bersandar di pintu keluar selama 45 menit sampai Stasiun Tokyo.



  Ketika aku keluar dari kereta, banyak sekali siswa SMA Sobu yang memakai seragam mereka bertebaran di Stasiun Tokyo.

  Aku langsung bercampur dengan lautan manusia di Stasiun ini, tujuanku adalah Kereta Shinkansen. Ketika berjalan memasuki bagian keberangkatan Kereta Shinkansen, terlihat kerumunan massa dari siswa SMA Sobu. Tidak lupa juga, kita berada di Stasiun Tokyo, sebuah tempat lalu lalang ratusan ribu manusia perhari, jadi wajar saja kalau disini sangat berisik.

  “Hachiman!”

  Dari para grup yang sedang berkumpul itu, terdengar seseorang memanggil namaku. Aku tidak punya banyak teman sekelas yang memanggilku dengan nama Hachiman, aku memang sengaja membiarkan mereka memanggilku Hikigaya.

  Dan orang yang rela membuang semua masa pertemanan mereka demi memanggil namaku adalah...

  “Hachiman...Ibukota dari timur memang sangat nostalgia sekali. Tempat dimana jiwaku dilahirkan.”

  ...Ah benar juga, pria ini memanggilku dengan Hachiman.

  Zaimokuza sengaja batuk dengan suara yang aneh dan berjalan mendekatiku.

  “Kamu perlu sesuatu?”

  “Humu, tidak ada. Aku pura-pura menginvestigasi sesuatu hanya untuk menghabiskan waktu saja.”

  “Yeah, oke. Tapi, apa-apaan dengan tasmu itu? Kamu berencana hendak bertapa di gunung?”

  Coba lihat lagi, Zaimokuza ini sedang membawa tas duffel yang terlihat sangat berat. Apa yang dia taruh di dalamnya?
[note: Tas Duffel ini seperti tas gym, tas peralatan, dll.]

  Zaimokuza memindahkan tasnya di punggung dan menekan tengah lensa kacamatanya dengan jari tengahnya.

  “Memang. Aku berencana untuk melatih skill berpedangku di Kuramayama.”

  “Kuramayama ya? Kau memilih tempat yang cukup jauh.”

  Tentu saja, Kuramayama adalah salah satu dari banyak tempat populer, dan karena berada di perbatasan Kyoto, bisa dikatakan itu adalah tempat yang cukup jauh untuk dikunjungi.

  “Memang, memang betul. Itu bukanlah sebuah keputusan yang kuambil sendiri, tapi melewatkan peluang untuk berlatih dengan Tuan Tengu cukup disayangkan.”

  “Jadi kau berencana ke Kibune juga? Lagipula, memang terasa lebih nyaman jika lokasi kunjungannya itu disepakati oleh grup dan merupakan lokasi yang kita inginkan, benar?”

  “Bukan, bukan begitu. Aku memang bersikeras kepada grupku untuk pergi kesana. Di dunia ini, ada sesuatu yang kau sebut dengan ‘tempat yang ingin kau singgahi’. Lupakan saja soal itu, kurasa kau lebih baik menjawabku dengan becanda hal-hal yang kukatakan tadi. Disini aku agak kesepian.”

  Sayangnya, aku tidak bisa menemanimu terlalu sering di darmawisata ini.

  “Kalau kau ingin pergi ke suatu tempat, pergi saja. Sudah sampai sejauh ini, rugi kalau kau tidak senang-senang.”

  “Humu. Kalau kau sendiri, mau ikut enggak, Hachiman?”

  “Entah ya, aku ada pekerjaan klub di darmawisata ini. Lagian, kami belum tahu apakah pekerjaan itu akan menyita waktu sampai hari ketiga nanti atau tidak.”

  “Kedengarannya kau punya kesibukan yang menarik, tapi...”

  Jalan-jalan bersama Zaimokuza, tahulah seperti apa. Tapi bukannya aku enggak suka jalan bareng dengannya. Masalahnya, selain pekerjaan request Tobe ini, masih ada satu request yang sedang antri dan mungkin saja diputuskan akan dikerjakan di hari ketiga. Jadi kupikir tidak membuat rencana di hari ketiga merupakan keputusan terbaik.

  “Kupikir ini saatnya untuk berkumpul dengan grup masing-masing.”

  “Kalau begitu Hachiman, ayo kita ketemu lagi di Kyoto nanti.”

  “Tidak, kupikir kita tidak akan bertemu...”

  Setelah berpisah, aku mencari tempat dimana siswa-siswa kelas 2F berkumpul.

  Aku mencoba melihat ke sekitarku, harusnya ada tanda yang menunjukkan ini grup apa dan seterusnya. Ketika kutelusuri baik-baik, aku melihat sebuah suara berisik yang cukup familiar.

  Itu adalah Hayama dan gerombolannya.

  Oh sial! Ternyata sumber berisik terbesar di tempat ini berasal dari kelasku.

  Beberapa grup kecil berkumpul di sekitar grup Hayama. Aku lalu mengaktifkan skill ‘menjadi tidak terlihat’. Ketika kupakai, sekitarku tampak tidak menyadari kehadiranku yang mulai membaur dan berjalan menuju grup Hayama. Kurasa, jika kehadiranku sering disadari, ini berarti auraku meningkat.

  Tidak lama kemudian, waktunya tiba.

  Para grup yang bertebaran di berbagai tempat mulai berkumpul dan berbaris.

  Setelah diabsen satu-persatu, ditutup dengan yel-yel masing-masing kelas. Apa ini semacam festival olahraga atau bagaimana?

  Setelah itu kami mulai berkumpul dengan grup masing-masing. Disana, aku bertemu dengan Totsuka.

  “Hachiman!”

  Panggilan kali ini, ini baru memanggil namaku...sangat menyegarkan...

  “Pagi, Totsuka.”

  “Yeah, selamat pagi juga, Hachiman.”

  Aku menyapa Totsuka, dan ternyata di sampingnya ada grupku yang sudah menunggu di belakang garis tunggu Shinkansen. Akhirnya, kereta yang kami tunggu-tunggu sudah tiba.

  Setiap kelas masuk ke gerbong yang sudah ditentukan.

  Tempat duduk di Shinkansen terasa agak aneh bagi kami.

  Setiap baris tempat duduk, ternyata berisi 5 kursi. Baris tersebut dipotong menjadi 3 kursi dan 2 kursi untuk jalur jalan. Ini menyulitkan grup yang berisi empat orang untuk duduk bersama. Sebenarnya kau bisa memecah grupnya menjadi dua orang, tapi jika situasi di grupmu ada seorang penyendiri, maka sudah bisa dipastikan kalau kursi berisi 3 orang akan diisi oleh siapa. Kalau tidak ada penyendiri, maka satu orang akan dikorbankan. Dalam kasus pertama, seorang penyendiri yang dipisah akan terasa normal dan nyaman bagi semuanya. Tapi jika kasus kedua yang terjadi, maka situasinya akan tidak nyaman bagi semuanya.

  Shinkansen ini seperti sebuah kendaraan yang memunculkan tragedi. Jadi memang ada benarnya kita harus menyikapi ini dengan bijak.

  Totsuka bersamaku sementara Hayama akan bersama Tobe.

  Kalau kucamkan itu baik-baik, kurasa itu bisa menjadi solusi yang paling nyaman bagi semuanya.

  Tapi jangan lupa, satu gerbong ini diisi seluruh siswa 2F, ini berarti akan ada variasi dan kompleksitas faktor luar yang akan bergabung dengan skenario ini. Pertama, kita harus survei dahulu pengaturan kursinya sebelum mengatur orangnya. Kami semua sudah masuk ke gerbong tetapi orang-orang masih menatap serius kepada posisi kursi di gerbong. Ini seperti “Aku akan kalah dalam pertempuran ini jika aku tidak selangkah lebih dulu daripada yang lainnya...”.

  “Oooh sial. Baik Shinkansen ataupun pesawat terbang, keduanya bikin kamu antusias!”

  Suara berisik ini mengisi keberangkatan kita, suara Tobe mencairkan suasana di gerbong ini.

  “Gue juga belum pernah naik pesawat terbang.”

  “Gue malahan pertama kali naik Shinkansen.”

  Mengikuti omong kosong Tobe barusan adalah Ooka dan Yamato. Tampaknya mereka ingin berkumpul di dekatnya selama perjalanan. Di belakang Ooka dan Yamato tampak 2 pria sedang berkumpul, mungkin itu kelompok mereka dan mereka sendiri setuju untuk memecah grupnya menjadi dua untuk masalah tempat duduk.

  Di sekitarnya, ada grup yang sedang mencari kursi juga. Itu adalah grup yang terdiri dari tiga gadis yang tampak sehidup semati dan seorang penyendiri: Miura, Yuigahama, Ebina, dan Kawasaki.

  “Aku terbiasa duduk dekat jendela.”

  Kata-kata pertama tersebut keluar dari mulut gadis yang berambut pirang dan mengatakan perintahnya secara terselubung. Mengetahui maksudnya itu, si gadis yang berambut coklat-sebahu mulai mengkoordinasi grupnya.

  “Oke, kalau begitu aku duduk di dekat lorong. Kalau Hina dan yang lain gimana?”

  Ketika dia menanyakan itu, si gadis yang berambut hitam-sebahu, menoleh ke gadis yang memiliki rambut ponytail tersebut.

  “Hmm...Saki, kamu mau duduk di dekat jendela atau lorong...kamu mau pilih yang mana?”

  “Kurasa aku tidak masalah mau duduk dimana.”

  Tampaknya aku juga cukup senang melihat Kawasaki terlihat berteman baik dengan Ebina-san. Adik laki-lakimu bisa menangis jika melihat adegan ini.

  Entah apa dia sadar kalau pengaturan tempat duduknya masih belum selesai juga atau tidak, Hayama lewat di grup itu dan mengatakan sesuatu.

  “Kenapa kita tidak duduk di tempat yang kita sukai? Lagipula kita bisa berpindah tempat duduk sesuka kita ketika keretanya sudah berjalan.”

  Setelah mengatakan itu, dia lalu membalikkan deretan kursi di depan grup Miura sehingga menjadi berseberangan dan duduk di dekat jendela.

  “Oh, kau benar sekali!”

  Yang menjawab kata-kata tersebut adalah Tobe. Dia lalu duduk di sebelah Hayama.

  “Oke, aku di dekat jendela juga.”

  Ketika mengatakannya, Miura langsung duduk di dekat jendela, seberang Hayama. Mungkin adegan ini lumrah saja: karena pada dasarnya dia mau duduk dimanapun, dia bisa pindah ke tempat manapun dia suka tanpa adanya protes dari penonton.

  “Ayo. Yui, Ebina.”

  Kemudian, dia menyilangkan kakinya yang panjang, memberikan kesan cantik. Lalu dia menepuk-nepuk kursi di sebelahnya seperti memberi tanda untuk segera bergabung. Apa-apaan caranya mengundang itu? Itu keren sekali!

  “Yumiko disana, Tobecchi disana, dan...”

  Yuigahama menggumamkan itu seperti memikirkan banyak hal. Tapi, Ebina-san tampak mendorong Yuigahama dari belakang.

  “Oke, oke, Yui disana ya. Aku bagian sini.”

  “Wa....Hina!”

  Tanpa mempedulikan komplain Yuigahama, Ebina menarik tangan Kawasaki dan memintanya duduk di seberangnya.

  “Kawasaki disana ya.”

  “Tunggu dulu, aku bisa duduk dimanapun...”

  Meski Kawasaki mengatakan sebaliknya, Ebina tetap memegangi tangannya. Akhirnya, Kawasaki duduk dan tidak bisa menolaknya. Ooh, ternyata dia cukup lemah kalau ditekan.

  “Santai saja, santai!

  Ebina-san yang tampak senyum-senyum, memaksa pengaturan tempat duduk yang tersisa. Hasilnya, Miura, Yuigahama, dan Ebina-san duduk satu baris sedangkan baris depan yang arah kursinya dibalik berisi Hayama, Tobe, dan Kawasaki.



  Tidak bisa menolak untuk duduk disamping Tobe, Kawasaki terlihat kurang senang dan menaruh tangannya di dagu, seperti siap menerkam siapapun yang mengganggu. Eeeh, hmm, Tobe tampak ketakutan duduk di dekatnya, tolong kau bersikaplah lebih bersahabat! Kalau tidak, genre cerita ini sudah bukan lagi rom-com!

  Setelah memastikan lokasi Hayama dan grupnya, Ooka dan Yamato bersama dua orang di grupnya, duduk di baris kursi yang berisi dua kursi.

  Setelah itu, tampaknya para siswa sudah menemukan lokasi tempat duduknya masing-masing.

  Setelah melihat situasinya, sesuatu menarik lenganku. Totsuka menatap ke sekitarku dahulu, setelah itu dia menatapku.

  “Hachiman, bagaimana dengan kita?”

  “Well...”

  Karena Hayama memutuskan untuk duduk di kursi yang berada di tengah-tengah gerbong, area di depan dan belakang gerbong terasa sepi.

  “...Di depan kelihatannya ada yang kosong, ayo duduk disana saja.”

  “Yeah, ayo.”

  Setelah memutuskan, aku berjalan ke depan, Totsuka mengikutiku dari belakang. Mungkin tidak begitu aneh jika sebuah tindakan kriminal terjadi kepadanya di kereta karena wajahnya yang manis ini. Aku harus melindunginya!

  Karena aku tidak bawa banyak barang bawaan, tempat tas di atas kursi terasa banyak ruang kosongnya. Well, banyaknya barang bawaan tidak berpengaruh dalam kualitas darmawisata itu sendiri.

  “Sini.”

  Aku menjulurkan tanganku ke Totsuka untuk menawarkan bantuan, menaruhkan tasnya di tempat tas. Tapi Totsuka memiringkan kepalanya penuh dengan tanda tanya, lalu dia memegangi tanganku juga.

  Ya ampun, tangannya sangat kecil dan mulussssss...

  “Err, maksudku bukan begini, maksudku ini tasmu...”

  Jangan dibuat lecet ya, ini bukan jabat tangan! Ya ampun, tangannya mulus dan terasa menyegarkan.

  “...Ah. Ma-maaf!”

  Totsuka menyadari kesalahpahaman itu dan melepaskan tangannya dariku. Dengan wajah yang memerah, dia lalu menyerahkan tasnya kepadaku.

  Aku ambil tasnya dan kumasukkan ke rak tas yang ada di atas tempat duduk. Saat ini, aku serasa ingin menyentuhnya lagi. Aku ingin membawa ini sebagai oleh-oleh!

  Setelah itu, suara pengumuman kalau kereta akan berangkat mulai terdengar.

  Tampaknya, aku melewati proses keberangkatan ini dengan pertanda baik!

 








x   x   x








 



  Aku terbangun dari tidur abadiku.

  Mungkin karena aku berangkat lebih awal dari rumah sehingga agak capek, tapi aku merasa diserang kantuk yang luar biasa.

  Ketika aku berusaha merenggangkan badanku, sebuah suara datang dari arah lorong dekat kursiku.

  “Kau terlalu banyak tidur.”

  “Blueeaah! Kau mengejutkanku...”

  Aku tidak tahu lagi harus bagaimana karena suara tadi memang mengejutkanku.

  “Apa-apaan reaksimu itu...kasar sekali...”

  Yuigahama menatapku dengan kesal.

  “Maksudku begini, semua orang pasti akan kaget kalau ketika baru saja bangun dan namanya dipanggil...”

  Memperlihatkan wajahmu yang tertidur ke orang lain memang memalukan, jadi tolong hentikan itu! Aku lalu berusaha menyeka mulutku untuk memastikan tidak ada air liur yang keluar selama tidur tadi.

  Ketika melakukannya, Yuigahama tertawa.

  “Jangan khawatir. Kau tidur dengan damai dengan mulut tertutup.”

  Untung saja. Yeah benar. Itu sangat memalukan!

  Lagian, ngapain dia disini...? Takdir sudah memutuskan kalau satu-satunya orang yang boleh duduk di sampingku adalah Totsuka...Ketika aku melihat sebelahku, Totsuka terlihat tertidur dengan menghadap arah jendela.

  Tapi, Totsuka terlihat terbangun karena mendengar suaraku, lalu dia menggosok-gosok matanya.

  Menggunakan tangannya untuk menutup mulutnya sehingga menutupi dirinya yang ingin menguap sehabis bangun tidur, Totsuka mengintip ke arah sekitarnya untuk mengetahui situasinya.

  “...Maaf, aku tertidur.”

  “Nah, tidak masalah. Kau bisa tidur sesukamu. Ketika kita sampai disana, aku bisa membangunkanmu, mau gunakan bahuku sebagai bantal?”

  Paha dan lenganku juga siap sedia jika kau mau...

  “Eh, tidak lah! Kenapa kamu tidak tidur saja Hachiman, aku akan membangunkanmu!”

  Ha ha ha, manis sekali, aku malah merasa kalau akan ada hal-hal lainnya yang terbangun nantinya...

  Daripada bingung siapa yang mau tidur atau bagaimana, kenapa kita tidak perang bantal saja? Dan suasana semacam itulah yang membuat Yuigahama terlihat kesal ke arahku.

  “Tidak, tidak, kalian berdua, kalian tidur terlalu banyak. Darmawisatanya baru dimulai dan kalian sudah terlihat seperti ini, memangnya kalian mau ngapain nantinya?”

  “Benar juga, kita harusnya bersenang-senang.”

  Totsuka menjawab Yuigahama dengan nada yang penuh motivasi. Benar sekali, ini masih hari pertama.  Terlalu dini untuk membuang-buang energi.

  Meski begitu, orang yang bertanya itu, Yuigahama, tampak lelah.

  “Sebenarnya, ada apa denganmu? Apa terjadi sesuatu disana?”

  Ditanya seperti itu, Yuigahama terlihat mengeluh.

  “Tahu tidak...Yumiko dan Hayato bersikap seperti biasanya...Tapi karena Kawasaki terlihat tidak senang, Tobe ketakutan dan tidak bisa seaktif biasanya dalam percakapan.”

  “Begitu ya...Kalau Ebina-san sendiri?”

  “Ya dia seperti biasanya...Bahkan, dia terlihat lebih enerjik dari biasanya. Mungkin karena darmawisata, jadi dia menjadi lebih buruk dari biasanya...”

  Oke, dari nadamu, aku sebagian besar paham ceritanya.

  Tobe sendiri merupakan bencana bagi kemanusiaan. Mungkin lebih tepatnya Kawasaki sendiri tidak begitu suka dengan Tobe yang ‘banyak bacot’, sedang bagi Tobe dia tidak tahu harus bersikap bagaimana dengan orang semacam Kawasaki. Dan juga, Ebina-san seperti berada di sebuah benteng, selevel dengan Death Star. Mustahil Tobe bisa menembus benteng itu, apalagi dia tidak bisa menggunakan force.
[note: Death Star adalah sebuah benteng angkasa di Star Wars. Force adalah sebuah kekuatan unik yang dimiliki oleh para Jedi, dari Star Wars juga.]

    Kalau begini terus, maka bisa dipastikan tidak akan ada perkembangan sama sekali ketika di Shinkansen. Tampaknya kau sudah dikutuk semenjak memilih tempat di gerbong ini.

  Bagi seseorang untuk menjadi dirinya, kalau kita kesampingkan situasinya, sebenarnya sifat orang itu tidak akan berubah. Yang perlu diperbaiki bukanlah lingkungannya, tapi hubungannya dengan sesama manusia.

  “Seandainya keduanya bisa berduaan tanpa ada yang mengganggu...”

  “Aku ragu itu akan terjadi.”

  “Benar...”

  Totsuka, yang mendengarkan pembicaraan kita, menepuk kedua tangannya.

  “Ah, Tobe ya...”

  “Huh? Kau tahu sesuatu Sai-chan?”

  “Uh huh. Aku pernah mendengar soal itu di perkemahan Chiba waktu musim panas lalu.”
[note: Vol 4 chapter 5.]

  “Oh, begitu ya. Maksudku, aku sendiri baru mendengarnya belakangan ini. Kuharap keduanya bisa bersama. Kalau Sai-chan tahu juga, kenapa tidak ikut membantu juga?”

  “Selama aku bisa membantu, kuharap aku bisa membantu mereka agar cepat ‘jadian’.”

  Meskipun Totsuka mengatakan akan membantu, masalah ini masih terlihat sulit.

  Mungkin kau melihatku tidak pernah mengharapkan orang lain bisa berbahagia, tapi bukan berarti aku ini suka mendoakan mereka kena musibah. Ini seperti begini, aku tidak menemukan adanya motivasi di diriku yang membuatku merasa kasihan melihat si pria ditolak. Meski begitu, aku tidak ingin terlalu jauh soal ini.

  Ketika menyilangkan lengannya dan menganggukkan kepalanya, Totsuka mengatakan “ah”.

  “Menemukan sesuatu?”

  Ketika kutanya, Totsuka menunjuk ke arah jendela.

  “Hachiman, lihat. Itu Gunung Fuji!”

  “Oh, kurasa kita hampir sampai.”

  “Di Kyoto bisa melihat Gunung Fuji, benar tidak?”

  Totsuka mendekati jendela tersebut dan menarik-narik lenganku. Tampaknya dia ingin aku juga melihat ke jendela tersebut. Aku mengiyakannya dan berusaha melihat pemandangan tersebut lebih dekat.

  Wajah Totsuka super dekat. Ketika aku semakin  dekat ke jendela, wajah Totsuka yang baru bangun tidur itu berjarak sangat dekat denganku. Matanya terus memandang ke arah Gunung Fuji, seperti berusaha membimbingku.

  Hooh, jadi ini Gunung Fuji...

  Ketika aku sedang memikirkan apakah Gunung Fuji akan meletus atau tidak, sesuatu ‘memeluk’ bahuku.

  “A-Aku ingin lihat juga!”

  Yuigahama menekan punggungku menggunakan lengannya yang bersandar di bahuku.

  Aku bisa merasakan kalau bulu kudukku serasa berdiri. Ada sentuhan semacam ini benar-benar mengejutkanku. Aroma parfum mulai menyebar di udara seperti menemani gerakannya.



  Sentuhan semacam ini memang tidak adil.

  Tapi, posisiku saat ini sangat menyulitkanku untuk menggoyang-goyangkan tubuhku dan menjauh darinya, jadi aku tidak punya pilihan lain selain diam saja disini.

  “...”

  Yuigahama terdiam ketika melihat pemandangan tersebut. Napasnya yang pendek mulai terdengar di telingaku.

  “Oooh~. Gunung Fuji sangat cantik~. Yah, sudah habis.”

  Setelah puas, Yuigahama memindahkan dirinya dari punggungku dan duduk di kursi kosong samping lorong kereta.

  “Terima kasih, Hikki.”

  “...Yeah.”

  Meski aku berusaha meresponnya dengan normal, sebenarnya jantungku ini sudah ‘dag dig dug’. Kenapa dia tega melakukan ini kepadaku, sial! Dengar tidak? Sikap yang seperti itulah yang membuat para pria menjadi salah paham, dan itu membuat mereka menggali kuburnya sendiri, tahu tidak? Kalau kau paham, lain kali, tolong pertimbangkan dengan baik ketika hendak melakukan ‘sentuhan’, ‘duduk di kursi milik laki-laki ketika jam istirahat atau pulang sekolah’, ‘meminjam sesuatu dari para pria ketika lupa membawa’, dan hal-hal lainnya.
[note: Jika anda bandingkan dengan respon Hachiman terhadap Yukino, monolog di atas bisa dikatakan ironis!]

  Ketika aku mencoba menyembunyikan rasa maluku dan berusaha menceramahinya, dia malah kabur begitu saja.

  “Kamu ini...”

  “A-Aku akan pergi kesana, oke!”

  Setelah mengatakan itu, dia berdiri dengan panik dan berlari kecil ke tempat duduk grupnya.

  Dia kabur...sial, ini malah membuatku tambah frustasi, kesal, merasa terganggu, tapi juga sangat menyayangkan. Mungkin lebih tepatnya merasa lega.

  Tapi, ada sebuah suara kecil terdengar diantara lenganku.

  “U-um...Hachiman, apa kamu sudah selesai?”



  Ketika kulihat, ternyata aku seperti sedang menekan Totsuka. Totsuka mengatakan itu dengan ekspresi malu-malu sehingga suasana ini agak aneh.

  “Ma-maaf.”

  Ketika aku terburu-buru membetulkan posisi dudukku, punggungku tidak sengaja menabrak sandaran tangan kursi kereta.

  “Ughh...”

  “Ha-Hachiman, kau tidak apa-apa?”

  “Yeah, jangan khawatir, jangan khawatir.”

  Ketika aku melambaikan tanganku dan memberitahu Totsuka kalau aku baik-baik saja, aku menyentuh punggungku. Punggungku tidak terluka, tapi sebuah kehangatan yang tadi kurasakan ternyata tidak hilang begitu saja.









x   x   x










  Perjalanan menggunakan Shinkansen memakan waktu 2 jam.

  Kami turun di Stasiun Kyoto dan menuju Bus yang menjemput kami sambil ditemani udara musim gugur yang dingin.

  Mendekati akhir musim gugur, Kyoto terasa sangat dingin.

  Tampaknya musim ini adalah musim paling dingin disini.

  Karena letak Kyoto yang dikelilingi pegunungan, ketika musim panas terasa sangat panas, sedang musim dingin sangat dingin. Uniknya, perbedaan suhu yang drastis ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi kota Kyoto.

  Di musim semi, bunga Sakura mulai mekar di sepanjang area lembah. Dan di musim panas, pemandangan menyegarkan tersebut menjadikan tepi sungai Kamogawa terlihat indah. Di musim gugur, pegunungan terlihat berwarna merah karena daun yang gugur. Akhirnya, di musim dingin saljunya seperti berdansa dan menciptakan selimut bagi pegunungan disini.

  Tampaknya, jadwal pertama kita hari ini adalah mengunjungi Kuil Kiyomizu.

  Setiap kelas masuk ke busnya masing-masing.

  Interior bus memiliki pengaturan kursi yang sama seperti Shinkansen. Hayama dan Tobe terlihat duduk berdua dan Miura duduk dengan Yuigahama. Di depannya lagi ada Ooka dan Yamato, dan didepannya lagi ada Kawasaki dan Ebina-san. Tentunya, yang terpenting dan mahapenting, aku dan Totsuka duduk bersama.

  Tapi, tampaknya tidak akan ada sebuah kemajuan dalam hubungan Tobe dan Ebina di bus ini. Tidak seperti Shinkansen, di dalam bus kau tidak bisa duduk dan seenaknya berpindah ke tempat lain. Lagipula, Kuil Kiyomizu sangat dekat. Mungkin dengan berjalan kaki akan jauh lebih cepat daripada naik bus.

  Bus berjalan melewati jalan raya yang berada di pinggiran Kyoto, belok kesana-kemari, dan mendekati sebuah tanjakan di bukit.

  Bus kami berhenti di sebuah tempat parkir besar, tampak banyak sekali bus pariwisata terparkir disana. Dari sini, kami akan berjalan menaiki bukit dan menuju Kuil Kiyomizu.

  Meskipun sudah lewat tengah musim gugur, masih banyak sekali turis yang datang. Mau bagaimana lagi, Kuil Kiyomizu memang ramai terus karena sudah menjadi tujuan wisata utama di berbagai agen wisata.

  Banyak yang berfoto bersama ketika berada di Gerbang Deva Kuil Kiyomizu. Sayangnya, ini adalah adegan yang tidak bisa aku ‘skip’. Orang yang punya teman akan terlihat solid sedangkan serigala kesepian seperti diriku akan mempertanyakan arti keberadaanku disini.

  Ada 3 jurus dalam situasi ini.

  Jurus pertama : menjaga jarak.
  Kau bisa katakan kalau ini adalah jurus untuk pemula. Meski sederhana, efeknya sangat luar biasa. Ambillah jarak seperlunya ketika hendak difoto dengan teman sekelasmu. Masalah yang perlu kau hadapi hanyalah tanda tanya dari orang tuamu ketika melihat album kelulusanmu kelak. Juga, ini bagus bagi dirimu jika hendak mengingat seperti apa dirimu di masa lalu. Sangat direkomendasikan untuk segera membuang album sekolahmu dan foto-foto yang terkait.

  Jurus kedua: gerilya
  Ketika hendak difoto, kau pura-pura membaur seolah-olah mereka ini teman baikmu semua. Jangan lupa pasang senyum palsu, dan sedikit terlihat tertawa ketika difoto. Metode ini sangat sukses untuk menghilangkan tanda tanya di album kelulusan, tapi memberikan tanda tanya besar ketika foto diambil. Orang-orang akan berkata “Orang ini tiba-tiba ‘gaul’ ketika mau difoto, benar tidak?(ahaha)” dan hatimu mulai terbakar secara perlahan.

  Jurus ketiga: bertarung.
  Kau berusaha membuat tubuhmu sangat dekat, bahkan ‘mepet’ dengan orang-orang di sekitarmu. Dan akhirnya, kau hanya akan berada di bawah bayang-bayang seseorang, terutama ditutup oleh orang yang ada di depanmu. Tentunya, tubuhmu tidak akan terlihat sepenuhnya, setidaknya fotomu ada disana. Itu akan menjadi sebuah kenang-kenangan dimana Ibumu sendiri tidak akan bertanya lebih jauh tentang gambar itu. Gambarnya mungkin tidak sempurna dalam menampilkan dirimu, tapi ada sebuah keindahan dalam gambar tersebut. Tapi kendala jurus ini, adalah si kameraman. Jika dia mengatakan “aah, kau yang di depannya, tolong geser sedikit karena orang di belakangnya tidak kelihatan”, maka ini bisa mengacaukan rencanamu.

  Aku putuskan untuk memakai jurus ketiga dan mencari posisi yang bagus. Hmm, pria dengan tubuh besar akan berguna, seperti Yamato.

  Aku lalu menerobos barisan, dan berdiri di belakang Yamato.

  Suara kamera berbunyi beberapa kali. Dengan begitu sesi pengambilan gambar siswa sekelas selesai, dan menuju kegiatan pertama kita.

  Kami menaiki tangga batu ini. Ketika melewati gerbang, kami terpesona dengan lima pagoda besar yang terlihat selama perjalanan. Karena kita juga sedang mendaki bukit, kami bisa melihat pemandangan Kyoto yang membuat kami kagum.

  Banyak sekali turis dan siswa sekolahan semenjak melewati gerbang masuk. Kami akhirnya tiba di pintu masuk kuil. Tapi, tampaknya akan memakan sedikit waktu...Saat ini, ada beberapa kelas di depan kita tampak mengantri di pintu masuk.

  Aku menunggu di tempat kosong, dan ada sebuah suara memanggilku.

  “Hikki!”

  Yuigahama keluar dari barisan dan mendekatiku.

  “Ada apa? Pergilah mengantri atau kau akan ditendang dari antrian. Begitulah cara kita hidup selama ini.”

  “Kau terlalu membesar-besarkan...Ngomong-ngomong, kita tampaknya tidak akan mendapatkan sebuah kemajuan dalam waktu dekat. Aku sepertinya menemukan sesuatu yang menarik, ayo kesana!”

  “Nanti ya.”

  Aku tidak bisa multitasking. Aku hanyalah manusia yang ingin melakukan apa yang ada di depanku sebelum melakukan hal yang lain.

  Yuigahama tampak tidak menyukai kata-kataku

  “...Apa kamu lupa pekerjaan kita?”

  “Aku ingin melupakan pekerjaan ketika darmawisata, itulah keinginanku...”

  Meski begitu, sikapku yang jujur itu tidak mampu mempengaruhinya. Yuigahama lalu menarik blazerku.

  “Aku sudah memanggil Tobecchi dan Hina, jadi ayo buruan!”

  Aku ditarik begitu saja dan kami tiba di sebuah kuil kecil yang berada di samping pintu masuk bagi turis.

  Ketika kau jalan ke samping, kuil ini mulai terlihat. Tapi kalau dibandingkan dengan kuil utama, memang terlihat agak jauh sehingga banyak turis tidak mempedulikan kuil ini. Kurasa, ini bukanlah hal yang langka disini.

  Biksu tua di depan kuil itu berkata: ‘Kau akan diberkati oleh Tuhan ketika menyusuri lorong gelap kuil dan kembali lagi’.

  Ketika Yuigahama mengatakan itu, Ebina-san dan Tobe sudah bertanya dahulu tentang manfaat yang diperoleh dari masuk ke kuil itu ke Biksu tua tadi. Ngomong-ngomong, ternyata Miura dan Hayama ada disini juga.

  “Ngapain mereka disini?”

  Aku mencoba bertanya kepada Yuigahama dengan nada yang rendah. Lalu, dia berbisik kepadaku.

  “Kalau aku cuma mengundang mereka berdua, mereka akan curiga.”

  “Hmm, masuk akal...”

  Memang, kalau cuma mereka berdua, mereka akan bersikap abnormal tanpa ‘penjaganya’. Tobe akan menjadi gugup dan Ebina-san akan menjadi lebih waspada.

  “Ayo, ayo kita pergi.”

  Yuigahama terus memaksa dan setelah kami melepas sepatu kami, kami membayar 100 yen per orang. Eh, lu serius kita harus bayar buat ginian?

  Aku mencoba mengintip ke ujung tangga yang mengarah ke bawah tanah ini, gelap banget! Kalau di game RPG ada semacam dungeon bawah tanah, mungkin rasanya ya seperti ini.

  “Hmm Oke, Yumiko dan Hayato pergi duluan. Kami akan mengikuti di belakangmu.”

  “Kita tidak punya banyak waktu, jadi ada baiknya kita buat jeda antar grupnya pendek-pendek saja.”

  Merespon saran Yuigahama, Hayama menjawabnya dengan logis. Karena kita kabur dari antrian dan kesini, mungkin itu terdengar masuk akal. Yeah, tapi bukankah harusnya dia bilang “kalian ikuti kami secara perlahan dari belakang”. Entah mengapa...jawaban Hayama tadi terkesan setengah hati, tapi tidak ada satupun yang keberatan.

  “Yeah, kau benar.”

  Ebina-san tampak setuju dengan pendapat Hayama. Kampreeet, sekarang gue terlihat seperti pria yang dari tadi memikirkan Hayama, malu-maluin banget!

  “Yeaa, kupikir ini enggak akan makan banyak waktu, jadi kita enggak usah buru-buru. Benar tidak, Ebina. Hayato juga.”

  Ebina-san menyilangkan lengannya dan memirinkan kepalanya, tapi Tobe terlihat tertawa dan memegangi rambut panjangnya.

  “Benar. Tapi, mungkin ada bagusnya kita cepat-cepat selesaikan ini. Hanya untuk jaga-jaga.”

  Setelah Hayama menjawabnya dengan senyum, Miura memeluk lengannya.

  “Kalau begitu, ayo kita pergi Hayato. Tampaknya sangat menarik. Kami akan pergi duluan.”

  Begitulah kata Miura dan dia bersama Hayama berjalan menuruni tangga.

  “Oh sial, kalau gelap kek gitu, aku harus tetap semangat!”

  “Uhmm...Hah, sebuah lorong gelap...Hayato dan Hikitani harusnya masuk berdua tadi...”

  Meninggalkan kata-kata tersebut, Tobe dan Ebina-san mulai masuk ke bawah tanah. Amin, untungnya Hayama sudah masuk duluan dan ada jarak yang jauh antara Hayama dan diriku...

  “Oke Hikki, ayo kita masuk.”

  “Yeah.”

  Kami mulai berjalan menuruni tangga dan ketika berbelok di tikungan, kegelapan mulai menyelimuti kami. Selangkah dari itu, cahaya sudah terasa tidak ada lagi di depan kami.

  Entah kita membuka mata kita atau menutup mata kita, kegelapan yang pekat ini tidak akan berubah. Ini seperti sebuah perpanjangan tangan dari neraka. Kita berjalan seperti meraba-raba depan kita menggunakan kaki kita. Kalau kau melihat kita dari samping, mungkin kau akan serasa melihat pinguin.

  Kehilangan indra penglihatan, membuat indra yang lain menjadi lebih tajam.

  Suara Miura dan yang lainnya terdengar beberapa langkah di depan kita.

  Celotehan Miura terdengar seperti biksu yang berdoa dengan nada yang tidak teratur, ini malah membuat suasana disini tambah menakutkan.

  “...Ya ampun. Gelapnya, sangat gelap, gelaaaap.”

  “Ini luar biasa.”

  Hayama berusaha meresponnya.

  “Whoaaa, ini super gelap, ini buruk sekali, ini benar-benar terjadi, kegelapan ini menjadi maksimal...”

  Tobe membuat suara berisik seperti berusaha membuatnya berani. Di dekatnya terdengar suara yang meresponnya “benar kan...”.

  Mungkin tidak hanya pendengaranku saja yang terkesan lebih tajam dari biasanya.

  Indra perabaku juga menjadi lebih sensitif.

  Udaranya...Karena kita telanjang kaki, lantainya terasa sangat dingin. Rasa dingin ini seperti menjalar ke kulit kami dan ini tampaknya bukanlah sebuah kedinginan. Ini adalah sebuah ketakutan. Hal-hal yang tidak bisa kita lihat, hal-hal yang tidak bisa kita pahami, hal-hal yang tidak bisa kita gambarkan, dan hal-hal yang tidak bisa kita kenali akan membuat kita merasa ketakutan dan tidak nyaman.

  Tiba-tiba, tanganku yang meraba-raba pinggir lorong terkesan menyentuh dinding yang hangat. Karena terkejut, aku berhenti mendadak. Dan setelahnya, sesuatu menabrakku dari belakang.

  “Waah! Ah, maaf. Aku tidak bisa melihat depanku.”

  Pemilik suara itu adalah Yuigahama. Dia tidak bisa melihat apapun, jadi dia meraba-raba belakang punggungku hanya untuk memastikan aku ada disana.

  “Nah, ini salahku juga. Aku tidak benar-benar bisa melihat dalam kegelapan ini...”

  Mau bagaimana lagi, ini sangat gelap sekali.

  “Hikki, kau sangat pendiam sekali...Kupikir kau hilang atau bagaimana.”

  “Aku memang harusnya terlihat menghilang sepanjang waktu.”

  Setelah berjalan beberapa langkah, ada sesuatu seperti batu hitam terlihat di depan kami.

  Batu itu, mendapatkan sedikit cahaya dari langit-langit. Tampaknya batu ini seperti habis berubah posisi.

  Setelah mendekati batu tersebut, akhirnya aku bisa melihat wajah Yuigahama secara jelas.

  “Kalau tidak salah, kita harusnya membuat sebuah permohonan sambil memutar batu ini.”

  “Hmm.”

  Sebenarnya tidak ada yang kuinginkan. Penghasilan stabil, rumah tangga yang harmonis dan kesehatan yang baik tampaknya sudah semuanya bagiku. Oh, itu banyak sekali!
[note:Ini pernah diucapkan Hachiman di vol 5 chapter 6 tentang rumah tangganya kelak: Punya istri yang bisa bayar tagihan, istri pintar memasak, dan istri pintar mengurus anak.]

  Tapi, memohon sesuatu ke Tuhan untuk hal-hal yang bisa diperoleh dengan usaha sendiri, terdengar seperti sesuatu yang tidak benar untuk dilakukan. Biasanya, hal-hal semacam itu sudah bisa kaudapatkan dengan bekerja keras. Kalau berdoa seperti saat ini, kurasa lebih baik memohon kepada Tuhan sesuatu hal yang tidak bisa kau dapatkan dengan bekerja keras.
[note: Monolog Hachiman ini menyindir kebiasaan manusia yang selalu meminta ke Tuhan apa yang bisa didapatkan mereka dengan bekerja keras.]

  “Sudah putuskan mau berdoa apa?”

  “Yeah.”

  Aku menjawabnya begitu, tetapi aku tidak benar-benar memutuskan sesuatu...Apa ya, kurasa mendoakan kesuksesan Komachi di ujian masuk SMA.

  “Oke, ayo kita putar batunya.”

  Aku memutar batu yang mirip meja rumah makan masakan China. Yuigahama terlihat menutup kedua matanya, oi...serius amat.



  Setelah memutar batu tersebut, dia menepuk kedua tangannya dua kali. Bodoh, kau kira kita sedang berdoa di kuil?

  “Oke, ayo pergi!”

  Yuigahama tiba-tiba termotivasi, dia lalu mendorongku dari belakang dan kita kembali masuk menyusuri kegelapan lorong.

  Tapi, tidak lama kemudian kita bisa melihat sebuah tanda ‘Keluar’. Tampaknya batu tadi adalah ujung dari perjalanan.

  Ketika menaiki tangga, cahaya yang menyinari kita mulai terasa sangat nostalgia.

  Bersama dengan mereka yang berjalan lebih dulu, melihat cahaya matahari merupakan sebuah kelegaan.

  “Bagaimana? Rasanya seperti terlahir kembali, ya?”

  Pak tua yang berada di resepsionis itu bertanya dengan logat Kansai.

  “Maaan, aku serasa berjalan melewati cakrawala, tahu tidak...Jadi ini ya rasanya terlahir kembali?”

  Luar biasa, dia tampak tidak ada bedanya seperti sebelum masuk ke kuil.

  Aku lalu menatap ke arah arlojiku. Kurasa kita sudah masuk selama 5 menit.

  Aku tidak cukup bodoh untuk yakin 5 menit adalah waktu yang cukup bagiku untuk terlahir kembali. Aku tidak akan begitu saja terlahir kembali jika aku berjalan ke India atau mendaki Gunung Fuji. Meski aku terlahir kembali, bukan berarti aku bisa merubah hal-hal yang sudah kulakukan hingga saat ini. Tidak peduli bagaimana hatiku selama ini berubah, pandangan orang-orang sekitarku kepadaku, kegagalanku di masa lalu, dan hal-hal yang tidak bisa kuperbaiki tidak akan berubah.

  Ada sebuah hal yang disebut sejarah manusia. Manusia bertambah kuat dengan belajar dari kesalahan masa lalu. Oleh karenanya, yang bisa kau lakukan adalah terus berusaha untuk hidup, membawa luka itu dalam tubuhmu dan membebani punggungmu dengan dosa-dosa yang sudah kau lakukan, tanpa berharap akan reinkarnasi kembali.

  Keinginanmu untuk merestart kembali kehidupanmu tidak akan terdengar oleh siapapun.

  Namun, Tobe sendiri sudah berapa kali gagal dalam kehidupannya? Jika dia sudah banyak mengalami kegagalan seperti diriku dan masih punya sifat optimis serta mau melangkah maju, maka aku harusnya menaruh respek yang tinggi terhadapnya.

  Mungkin, itu bukanlah masalah yang sebenarnya.

  Sebenarnya, aku menginginkan itu terjadi...Aku tidak ingin tugas ‘mensupportnya’, membantu pria yang punya trauma masa lalu ini sukses menghilangkan kutukannya. Aku tidak mau dia menjadi pria yang menghancurkan masa lalu kelamnya dan dia bisa tertawa, dan nantinya terlihat keren...

  “Ah, tunggu, ini buruk sekali! Yang lain mungkin sudah masuk duluan!”

  Yuigahama mengatakan itu sambil menatap ke arah pintu masuk.

  “Whaa, kita punya banyak waktu.”

  Mungkin ada benarnya. Dari kejauhan, kau masih bisa melihat antrian siswa kelas 2F mulai berjalan mendekati pintu masuk.

  “Ayo, cepat!”

  Dengan Yuigahama berusaha membujuk kita untuk bergabung dengan kelas, kami mulai berjalan dengan terburu-buru untuk bergabung dengan barisan antrian.

 







x   x   x









  Kami berhasil bergabung dengan kelas kami sebelum mereka masuk ke kuil utama. Kami lalu masuk lewat pintu utama.  Benda-benda sejarah seperti patung Dewa Kesehatan, dan Sandal Besi dengan Tongkat Sihir, dipajang disana. Tempat ini sangat ramai sekali, jadi sangat sulit sekali untuk mendekati objek yang dipamerkan itu.

  Banyak sekali turis yang diam dan mengambil foto.

  “Waah, luar biasa...”

  Yuigahama menaruh kedua tangannya di pagar dan melihat pemandangan di samping kuil utama. Pemandangan musim gugur di pegunungan sekitar Kyoto. Sebenarnya, bagaimana pemandangan ini terlihat beberapa ratus tahun lalu? Meski bentuk kota Kyoto sendiri berubah, sensasi yang kau dapatkan dari menatap pemandangan dari tempat setinggi ini tampaknya tidak akan berubah.

  Kyoto adalah kota dimana hal-hal yang berubah dan tidak berubah bisa terlihat dengan harmonis.

  Aku bisa melihat alasan utama turis disini menjadikan kota ini tempat wisata utama, meskipun sedikit.

  Aku menatap pemandangan ini dengan kagum hingga Yuigahama memanggilku.

  “Hikki, ayo ambil foto!”

  Dia mengambil kamera digital dari kantongnya. Kamera kecil dan berwarna pink, ini memang Yuigahama-banget.

  “Gambar? Oke, kasih kepadaku.”

  “Huh?”

  Dengan penuh tanda tanya, Yuigahama memberikanku kameranya. Aku lalu mengambil jarak beberapa langkah dan mengarahkan kameranya.

  “Oke, kacaaaang!”

  Ketika aku menekan tombolnya, Yuigahama membentuk tanpa ‘peace’ dengan tangannya.

  “Lihat ini, untung saja aku punya ‘tangan kamera’ yang handal, aku bisa dapat gambar yang bagus.”

  Ketika aku mengatakan itu, aku memberikan kameranya ke Yuigahama dan dia langsung melihat gambarnya. Kamera digital memang nyaman karena kamu langsung bisa lihat hasilnya setelah mengambil gambar. Tapi tidak enaknya: kalau terlihat jelek, maka akan diulang lagi.

  “Benarkah? Ah, gambarnya memang bagus, tunggu dulu! Maksudku, apa-apaan yang kau katakan tadi!?”

  “Eh, masa enggak tahu? Warga asli kota Chiba biasanya mengatakan itu ketika mengambil gambar.”
[note: Chiba terkenal akan produksi kacang-kacangannya. Jadi Hachiman berpikir lumrah kacang>cheese bagi warga Chiba.]

  “Maksudku bukan itu...Maksudku, ini kan kesempatan langka, jadi ayo kita ambil gambar berdua.”

  Alasan semacam itu memang sangat sulit ditolak. Lagipula, kalau aku katakan alasanku menolak karena takut jiwaku disedot masuk ke gambar di kamera akan terasa aneh. Ya sudahlah, ini juga kegiatan yang jarang-jarang. Karena aku sendiri tidak bawa kamera, kurasa yang paling logis adalah memakai kamera orang lain.

  “Ya sudah, aku sendiri tidak masalah. Aku akan cari orang untuk memintanya mengambil gambar kita.”

  “Tidak perlulah, karena kita bisa mensiasatinya.”

  Ketika dia mengatakan itu, Yuigahama berdiri disampingku. Lalu dia menaikkan kameranya menggunakan tangannya.

  “Kupikir kita harus lebih dekat lagi atau gambar kita tidak akan masuk sepenuhnya...”

  Secara perlahan, jarak antara Yuigahama dan diriku menjadi tidak ada. Kedua lengan kami bersentuhan agar menghemat layarnya.

  “Oke. Cheese!”

  Lalu disertai suara yang berisik dan lensa kamera yang aktif.

  Mataku terasa pusing terkena flashlightnya. Tampaknya mataku akan terlihat lebih busuk daripada biasanya.

  Lalu, Yuigahama menjauh dariku.

  Setelah beberapa langkah, dia lalu membalikkan badannya.

  “Terima kasih ya.”

  “Kau tidak perlu berterima kasih atau semacam itu.”

  Mengambil gambar bukanlah hal yang luar biasa.

  Bahkan, aku bisa melihat banyak sekali siswa disini yang berpose dan mengambil gambar. Berfoto ria merupakan hal yang wajar bagi bocah-bocah SMA saat ini. Ini untuk foto kenang-kenangan, jadi bukan masalah besar. Siswa dan siswi tampak mengambil gambar bersama-sama, kurasa cukup lumrah.

  Mungkin aku terlalu memikirkan yang macam-macam.
[note: pikiran serupa ada di vol 10.5 dimana Iroha memaksa Hachiman berfoto dengannya di kafe. Sebenarnya kalau jeli, darmawisata ini dimanfaatkan Yukino, Yui, dan Ebina untuk ‘aji mumpung’ berdekatan dengan Hachiman.]

  “Hei, Yumiko, Hina, ayo kita ambil gambar!”

  Yuigahama menarik Miura dan Ebina-san sehingga mereka bisa mengambil gambar. Gambar ketiganya yang sedang bergembira.

  “Hayato dan yang lainnya, ayo kita berfoto!”

  Ketika dia memanggil Hayama dan disekitarnya untuk mendekat, semuanya ikut bergabung. Tobe, Ooka, dan Yamato bergabung juga.

  “Oooh, yea, ayo kita berfoto!”

  “Aah, benar juga...tapi, ini agak ramai.”

  Hayama melihat ke sekitarnya dan tertawa.

  “Ah, kalau begitu kita foto-foto antar grup dulu...”

  Yuigahama memberikan saran itu, tapi tampaknya tidak terdengar oleh Hayama. Lalu Hayama berjalan menuju ke arahku, dan memberikanku kameranya.

  “Bisakah aku minta tolong untuk mengambilkan gambar kami?”

  “...Ah, tentu.”

  Setelah aku mengambil kameranya, tiba-tiba di samping Hayama sudah berkumpul beberapa siswa.

  “Eh, bisakah kau lakukan juga untukku?”

  “Hikitani, ambilkan fotoku juga doong~”

  “Aku juga lah!”

  “Aaah, aku juga ya!”

  Woi woi, tunggu sebentar. Aku tadi bilang untuk mengambilkan foto Hayama saja! Miura, Tobe, Ebina, ooka, hei, hei...kenapa malah tambah banyak?

  Dipercaya untuk memegang banyak sekali kamera, aku tidak punya banyak pilihan kecuali menerimanya.

  “Maaf. Hachiman, bisakah kau ambil fotoku?”

  “Oh yeah, serahkan padaku!”

  Kalau Totsuka sih, tidak masalah. Sebuah foto yang membangkitkan semangatku!

  “...Ah, Hikki, maaf. Bisa ambilkan juga lewat kameraku?”

  Yuigahama datang kepadaku dan memberikan kameranya.

  Hmm, mungkin ini adalah strateginya agar Tobe dan Ebina punya gambar berdua. Maka dari itu dia membuat foto-foto ini agak lama...Masuk akal juga jika ini disebut sebagai keuntungan datang ke lokasi yang sama untuk siswa sekelas. Tidak lupa jika seseorang meminta untuk mengambil gambar grup bersama dengan semua orang, maka itu sebuah permintaan yang sulit untuk ditolak.

  Ketika aku mengambil kameranya, aku mengatakan dengan pelan kepadanya.

  “Baiklah. Besok, rencanakan yang lebih baik dari ini.”

  “Yeah...”

  Setelah menjawabku dengan singkat, Yuigahama kembali ke barisan grupnya yang sudah menunggu di dekat pagar. Aku sendiri menyiapkan diriku untuk mengambil foto mereka.

  Meski begitu, kamera yang ada di tanganku ini sangat banyak. Jumlah kamera ini kalau dihitung-hitung, hampir dua digit!

  Yaay, aku seperti menjadi super populer disini.

  Lagian, setelah satu foto diambil, kenapa kalian tidak share saja di facebook atau semacamnya, sial! Hal-hal semacam inilah harusnya kalian manfaatkan untuk mempelajari guna sosial media di internet.

  “Baiklah, siap-siap ya, aku akan mengambil gambarnya...Oke, kacaaang!”

  Oke, oke, kacang, kacang...Aku mulai mengambil gambarnya satu persatu.

  Ketika aku mulai mengambil foto dengan kamera yang berbeda-beda, aku melihat ekspresi Yuigahama tampak berubah-ubah di tiap gambarnya. Tampaknya dia berusaha menikmati setiap momen ini dengan berganti ekspresi ataupun bahasa tubuh. Untungnya kamera modern jaman sekarang ada fungsi auto fokus sehingga aku tidak repot-repot mencari fokusnya.

  Miura berpose seperti dia sangat familiar dengan sesi pengambilan foto, ekspresi di wajahnya tidak pernah berubah meskipun pose tiap gambarnya berbeda.

  Hayama bersikap seperti biasanya, tidak membuat pose yang aneh-aneh. Dia tampak cukup bagus.

  Tobe tampak natural, sedangkan Ebina-san hanya tersenyum saja. Senyuman yang belakangan ini sering kulihat.  Dia seperti bintang utama di gambar ini, tapi entah mengapa aku melihat sebuah ketakutan terpancar di wajahnya.

  Setelahnya, kami lanjut ke kegiatan selanjutnya yaitu mengobservasi kompleks kuil.

  Para siswa terus berjalan menuju Kuil Jishu.

  Kuil Jishu berlokasi di belakang Kuil Utama Kiyomizu. Terkenal karena mitos ‘bisa melancarkan jodoh’, menjadikannya tempat populer bagi para turis. Kalau kau lihat ada turis muda datang ke Kuil Kiyomizu, 99.99% mereka pasti akan mengunjungi tempat ini.

  Dalam kasus kita, karena kita adalah anak muda yang sedang darmawisata, maka sudah bisa dipastikan kalau tempat itulah yang akan kita tuju dan akan menjadi tempat yang sangat berisik.

  Setelah selesai melakukan kegiatan di kuil, biasanya mereka akan membeli jimat keberuntungan ataupun ramalan.

  Karena aku tidak menginginkan apapun, jadi aku mengaktifkan skill spesialku “Skill Spesial – Mengikuti tanpa diketahui”. Maksudku, aku sebenarnya tidak masalah beli beberapa kertas ramalan, tapi biasanya hal-hal semacam itu akan seru jika kau punya teman untuk ditunjukkan. Jadi, hal-hal semacam itu tidak berlaku untuk penyendiri sepertiku.

  Aku lalu keluar dari barisan siswa secara diam-diam dan mengamati siswa di kelasku. Atraksi yang paling menarik perhatian jelas “batu peramal percintaan”.

  Ketika kulihat baik-baik, banyak sekali gadis yang mencoba atraksi itu. Teman-teman si gadis seperti menjadi bodyguard agar tidak ada yang mengganggu prosesnya.

  Sebenarnya itu semacam mitos dimana jika kau bisa berjalan ke batu yang lain dengan mata tertutup, maka kisah asmaramu akan menjadi kenyataan.
[note: Di kuil Jishu ada 2 buah batu besar yang berbeda bentuk dan berjarak agak jauh. Mitosnya, jika kamu bisa berjalan dari batu yang satu ke batu yang lainnya dengan mata tertutup, maka urusan jodohmu akan dilancarkan.]

  Logikanya begini, ini seperti permainan menghancurkan semangka di pantai. Untuk bisa berjalan dengan lancar, kau butuh arahan dari pacarmu sehingga itu bisa membuat hubunganmu menjadi lebih dekat.

  Tapi setelah kulihat lebih dekat, ada seorang wanita dengan jubah lab berwarna putih berhasil berjalan dengan menutup matanya, dan penonton di sekitarnya tanpa henti bertepuk tangan kepadanya. Guru BK kami tampaknya sangat menarik...

  Setelahnya, para gadis satu-persatu mencoba atraksi itu dan para pria mengintip mereka. Jika ada gadis yang mencoba atraksi itu, para pria pasti akan berpikir “Sial, ternyata cewek ini sudah punya orang yang dia suka! Eh, mungkinkah itu aku?” dengan disertai galau yang luar biasa. Tunggu dulu, bukankah aku juga pernah merasa seperti itu? Punya ekspektasi bukankah hal yang buruk. Selama kau tidak mengatakannya ke orang itu, maka tidak ada yang akan merasa terbebani.

  Dan begitulah yang kupikirkan hingga aku melihat Tobe, dia mengantri untuk mencobanya juga.

  “Wah bro, serius ini, gue akan kelarin sekali jalan!”

  Dengan sebuah pernyataan seperti itu, Oooka dan Yamato yang berada di dekatnya berusaha menyemangatinya, keduanya bertepuk tangan membuat suasananya menjadi gaduh. Merespon sikap mereka, Tobe yang sudah tiba gilirannya untuk berjalan mulai menutup matanya menuju batu selanjutnya.

  “Sial nih, gue kemana? Eh? Lurus terus apa belok dikit?”

  Dia meminta saran ke Ooka dan Yamato, tapi mereka malah mempermainkannya.

  “Lurus aja terus.”

  “Tobe, belakangmu!”

  “Serius? Belakang gue!?”

  Dia lalu membalikkan badannya.

  “Tidak perlu membalikkan badanmu, matamu yang tertutup itu membuat posisimu semakin amburadul...”

  Hayama sudah pesimis ketika mengatakannya. Suasana kuil ini menjadi dipenuhi gelak tawa, suasana yang menyenangkan.

  Memang menyenangkan jika bisa bersenang-senang. Kurasa Ebina-san tidak perlu mengkhawatirkan soal requestnya.

  Ketika memandangi ketiga idiot itu, Yuigahama tampaknya memiliki pemikiran yang sama denganku ketika menepuk pundak Ebina-san.

  “Hina, mereka tampaknya bersahabat dengan baik, bukankah itu lebih dari cukup?”

  “Yeah, kupikir begitu...Tapi aku tidak akan percaya begitu saja.”

  Ebina-san meresponnya sambil menatap ke arah bawah. Pada akhirnya, aku tidak bisa melihat seperti apa hal yang dia sembunyikan dibalik lensa kacamatanya. Yang bisa kuyakini hanyalah nada suaranya yang berbeda dari biasanya.

  Yuigahama melihat ke Ebina-san, yang sangat jarang terlihat tidak bersemangat.

  “Eh? Apa maksudmu?”

  Seperti hendak memotong kata-katanya, Ebina-san menegakkan pandangannya , dan menaikkan kepalan tangannya.

  “Ayolah! Kita harusnya bisa melihat yang lebih dari ini di darmawisata!”

  Memangnya apa yang ‘lebih dari ini’?

  Pada akhirnya, tampaknya Tobe menerima bantuan Hayama ketika dia hendak terjatuh.

  Ketika semua antusiasme ‘batu cinta’ selesai, siswa-siswa 2F tampak membeli kertas ramalan.

  “Yes, aku dapat!”

  Miura berpose ‘sukses’ dengan seluruh keceriaan ada di wajahnya. Ketika Yuigahama mencoba mengintip apa yang didapat Miura, dia juga terkejut.

  “Whoa! Itu luar biasa, Yumiko!”

  “Kau dapat ‘keberuntungan besar’ ya~”

  Ebina-san tampak berada di sampingnya dan menepuk pundaknya.

  “Ya Tuhan, entah aku harus mengatakan ini apa? Tapi, ini cuma kertas ramalan. Harusnya tidak perlu ditanggapi serius.”

   Miura mencoba merendahkan diri, tapi ekspresinya terus diliputi rasa senang. Dia lalu melipat kertas ramalan itu dan menaruhnya di dompetnya seperti sebuah hal yang penting. Hal-hal semacam inilah yang membuat seorang gadis terlihat manis.

  “Tapi tahulah, ini kan begini. Kalau ada diantara kita yang mendapatkan keberuntungan besar, bukankah itu artinya akan ada yang dapat ‘apes’ diantara kita?”

  “Ah?”

  Tobe mencoba mengatakan itu tapi yang dia dapatkan hanyalah ‘tatapan kematian’ dari Miura. Oi oi, dia sangat menakutkan, serius ini!

  Lalu Tobe mencoba untuk mencairkan suasananya dengan berkata “Oh iya, keberuntungan besar itu juga sangat langka”.

  Tobe berusaha membuat dirinya ‘aman’.

  Kadang banyak sekali orang seperti itu. Orang-orang yang merusak kegembiraan orang lain.

  Tapi yang dia katakan tadi yaitu ketika ada orang yang sudah mengambil jatah ‘keberuntungan besar’ maka itu berarti akan ada orang yang kebetulan mendapatkan kebalikan dari itu. Dan yang dia katakan mulai terlihat ada benarnya.

  “Aww, aku dapat kesialan yang besar!”

  Ebina-san mengatakannya dengan suara yang sedih.

  “Oh mungkin begini. ‘Sial’ itu ya pas dapat ramalan ini. Selanjutnya, yang kau dapat ya hal-hal yang bagus, begitu kan?”

  Setelah mencandai Miura soal ramalan keberuntungannya, tanpa memakai logika, Tobe berusaha menghibur ramalan sial yang diterima Ebina-san.

  Hmm, meskipun aku tidak membantu, tampaknya dia memang berusaha keras.

  ...Kupikir ada baiknya aku memberinya bantuan.

  “Kenapa kalian tidak ikat saja kertas ramalan sial itu dengan yang dapat ramalan beruntung, lalu taruh ramalannya di tempat tinggi.”

  Aku lalu menatap ke arah Tobe dan dia tampaknya mengerti maksudku. Dia lalu menjulurkan tangannya ke Ebina-san.

  “Oh, be-benar juga. Sini kasih aku kertasnya.”

  “Te-Terima kasih. Wah untungnya ada anak cowok yang mau.”

  Ebina-san memberikan kertas sialnya itu ke Tobe. Tapi jika arti ‘untung ada anak cowok’ adalah ‘dia pria baik’, maka ini akan berujung buruk bagi Tobe.

  Setelah ini, kegiatan kita hanyalah mengikuti jalur wisata di kompleks kuil ini hingga selesai.

  Ketika aku berjalan, aku melihat ada sebuah jalan kecil yang menuju areal suci di kuil utama dan punya pemandangan air terjun Otowa yang indah.

  Air terjun ini merupakan inspirasi nama dari kuil Kiyomizu, atau bisa dikatakan namanya adalah ‘air ajaib’.
[note: Kiyo = murni, mizu = air.]

  Ada antrian panjang turis yang hendak menuju air terjun, antrian terbagi menjadi 3 baris.

  Ini mirip seperti Disney Land saja.

  Tiba-tiba ada yang memukul kepalaku.

  “Jangan keluyuran saja!”

  “Apaan sih? Kita kan enggak diwajibkan bergerak dalam grup di hari pertama, jadi tidak masalah...”

  Ketika aku mengelus-elus kepalaku yang habis dipukulnya, aku melihat ke arahnya dan di belakangnya ada Miura dan teman-temannya.

  “Oh, ini aliran dari sungainya ya? Tampaknya sungainya bercabang tiga.”

  Ya begitulah, komentar dari Tobe.

  “Sungai itu asalnya dari Air Terjun Otowa.”

  Ketika Hayama menjawabnya, Yuigahama membuka buku panduan wisatanya dan mulai membaca.

  “Umm, mitosnya nilai akademismu, percintaanmu, dan panjang umur akan diberikan keberkahan oleh air itu.”

  ...Begitu ya, ini menjelaskan dengan jelas mengapa aku bisa melihat Hiratsuka-sensei ikut berbaris di depan dengan membawa galon air yang kosong. Kau ingin membawanya pulang ke rumah?

  Tapi apakah memang benar-benar begitu khasiatnya? Aku tidak melihat tulisan semacam itu di sekitar sini. Yang kulihat hanyalah ada tulisan ‘Ketiga aliran sungai ini sumbernya sama’.

  Setelah 15 menit mengantri, tibalah giliran kami. Guru pembimbing kelas kami mengatakan jangan terlalu banyak mengambil airnya.

  Semuanya terlihat mengobrol gembira ketika mencicipi airnya dari sendok besar.

  Yuigahama yang berada di depanku, tampaknya mencoba mengambil air yang mengalir di tengah air terjun. Dia menjulurkan sendok airnya dan mengambil beberapa air dari air terjun. Dia lalu mencicipi airnya secara perlahan dan memindahkan rambut di telinganya ke belakang agar tidak kena ke air.

  “Ah, ini luar biasa. Sangat menyenangkan...”

  Setelah dia selesai meminum, dia merasa sangat lega. Ini memang air yang mitosnya sudah dipercaya dari generasi ke generasi. Rasa airnya memang biasa, tapi dibumbui mitos itu yang membuatnya berbeda. Tapi kalau dipikir logis, ini cuma air pegunungan biasa yang sedang berada dalam musim gugur. Jadi rasa dingin airnya membuat tenggorokan serasa lebih segar.

  Aku lalu mengambil sendok air dari rak yang tertulis ‘sudah disterilkan’.

  “Ini, Hikki.”

  Yuigahama mencoba menghentikan usahaku untuk mengambil sendok air yang steril dari raknya dan berusaha memberikan sendok yang baru saja dia gunakan.

  “Tidak, itu agak...uh, sesuatu semacam itu...”



  Dari dulu dan sampai saat ini, dia selalu menunjukkan wajah yang girly dan pura-pura dungu. Dan akhirnya, yang keluar dari mulutku adalah kata-kata semacam itu.

  Tapi, tampaknya dia memang hanya ingin memberikanku sendoknya tanpa berpikiran aneh-aneh.

  Ketika Yuigahama paham maksudku, pipinya memerah.

  “Aaah...”

  “Yeah, begitulah...”

  Untunglah kau paham.
[note: Hachiman standar ganda. Vol 11 chapter 5 Hachiman tidak merasa marah atau emosi sedikitpun ketika Iroha menyuapinya coklat dari sendok yang sama dengan Iroha.]

  Setelah aku mengambil sendok yang steril, aku mengambil air yang turun dari air terjun ini dan meminumnya dalam sekali teguk. Sangat dingin dan menyegarkan.

  “Ka-kau harusnya tidak perlu mempermasalahkan itu sampai segitunya...”

  ...Itu memang masalah bagiku. Lagipula, jika aku meminumnya dari sendok bekasmu, tampaknya yang kurasakan nantinya akan berbeda.








x Chapter V | END x

Menuju Chapter VI








  Mari kita telaah timing Watari menempatkan adegan Yui yang menempelkan dadanya ke bahu Hachiman. Waktu itu, mereka melewati Gunung Fuji.

  Ini adalah lelucon gunung. 'Gunung' yang sebenarnya adalah 'gunung' milik Yui. Tapi Watari menjadikannya lebih lucu dengan menambahkan Totsuka. Maksudnya, 'gunung' yang sebenarnya kalah oleh orang yang benar-benar tidak punya 'gunung'.

  ...

  Jika anda melihat posisi kursi ketika mereka duduk di kereta Shinkansen. Hayama harusnya bisa melakukan sesuatu, tentunya jika dia benar-benar berniat membantu Tobe, tidak mensabotase. Yaitu dengan meminta Miura yang duduk di dekat jendela untuk duduk di sampingnya.

  Hayama bergeser ke tengah, meminta Miura duduk di dekat jendela tepat disampingnya. Miura yang menyukai Hayama, pasti tidak akan menolak peluang itu. Lalu, Tobe disuruh pindah ke tempat Miura sebelumnya. Karena Yui adalah member Klub Relawan, dimana mereka support Tobe, Yui pasti bergeser ke arah jendela. Dan akhirnya Tobe bisa bersebelahan dengan Ebina.

  Sayangnya, Miura juga hendak sabotase ini. Posisi akan menjadi benar-benar sulit karena ada musuh dalam selimut.

  ...

  Yui benar-benar memaksimalkan fakta kalau dia dan Hachiman akan terus berduaan selama darmawisata, karena request Tobe.

  Ini jelas mencurigakan, karena di vol 7 chapter 3, Yui sendiri mengatakan kalau yang Ebina lihat dari Tobe adalah pria baik. Dimana, Yui sendiri sudah ditegaskan oleh Hachiman di vol 3 chapter 6, kalau Hachiman tidak mau menerima perasaan semacam itu. Yui sendiri tahu peluang Tobe kecil, tapi ini jelas menguntungkan dirinya, untuk mendekati Hachiman secara wajar.

  ...

  Ironisnya, saran Hachiman-lah yang benar-benar efektif dalam mendekatkan Ebina dan Tobe, soal kertas ramalan.

  Ini berkebalikan dengan Yui yang terlihat sangat bersemangat, tapi tidak efektif. Patut dicurigai juga, saran Yui yang masuk ke lorong bawah tanah kuil, ada motif untuk bisa berduaan dengan Hachiman.

  ...

  Adegan menolak sendok minuman Yui (ciuman tidak langsung) dari Yui merupakan standar ganda. Di vol 11 chapter 5, Hachiman tidak sedikitpun komplain ketika Iroha menyuapinya adonan coklat di mejanya.

  Bedanya, Hachiman tahu Yui ini menyukainya, tapi Hachiman merasa kalau Iroha ini memang menyukai Hayama, sehingga tidak ada salah paham mengenai adegan menyuap adonan coklat tersebut.

  ...

  Mungkin dua galon air berkhasiat untuk asmara yang Sensei bawa itu, akan dipakai untuk mandi agar dia memiliki pesona yang luar biasa terhadap lawan jenis...

  Siapa saja, tolong nikahi Sensei...





1 komentar: