Rabu, 27 Juli 2016

[ TRANSLATE ] Oregairu Vol 4 Chapter 3 : Hayama Hayato yang peduli kepada semua orang -1


x x x






  Kami disapa oleh pemandangan dari deretan pegunungan.

  "Oh, wow," Aku bernapas sejenak. "Gunung-gunungnya."

  "Memang. Ini adalah pegunungan," Yukinoshita dan Hiratsuka-sensei menjawabnya dengan serempak.

  Bagi warga Kota Chiba, mengunjungi pegunungan di dataran Kanto adalah sebuah pengalaman yang langka. Di sebuah hari yang cerah, kau bisa melihat Gunung Fuji dari daerah pinggir pantai Chiba, tapi kau akan sangat jarang melihat pegunungan yang seperti ini di daerah kota, pemandangan hijau yang berjejer seperti ini.

  Hasilnya, melihat sejenak pemandangan ini saja sudah membuat diriku menjadi antusias. Bahkan Yukinoshita, yang biasanya memiliki ekspresi yang datar, terlihat kagum melihat pemandangan ini.

  Dengan begitu, kesunyian melanda mobil kami. Yukinoshita dan diriku terlihat sibuk memandangi jendela untuk melihat pemandangan ini.

  Yuigahama sendiri tampak tertidur, dengan kepala bersandar ke bahu Yukinoshita. Ketika kulihat lebih jauh, Komachi dan Totsuka sedang tidur di kursi paling belakang. Mereka sejak berangkat dari Kota Chiba membuat suara yang gaduh karena bermain kartu dan UNO, tampaknya mereka sudah bosan dengan itu. Sedang bagiku, aku terjebak dalam sebuah obrolan bersama Hiratsuka-sensei sejak tadi...Kenapa kita tadi malah mengobrolkan 10 anime favorit kita?

  Meski begitu, pemandangan ini memang terasa nostalgia. Aku seperti pulang ke rumah dari sebuah darmawisata atau sebuah perkemahan. Teman sekelasku hanya diam karena kelelahan dari semua kegaduhan yang mereka buat sejak berangkat, tapi karena sejak tadi aku tidak menghambur-hamburkan energiku, mataku terus waspada akan situasi sekitarku.

  Pemandangan pegunungan ini sangat luar biasa, seperti membentuk sebuah dinding tinggi di sepanjang jalan raya. Memasuki terowongan yang gelap lalu disambut cahaya cerah yang berwarna orange dengan pemandangan seperti ini.

  Ketika aku terus memandangi pemandangan ini, aku merasakan sebuah dejavu.

  ...Aku baru saja ingat.

  "Oh, benar juga...Aku pernah datang ke Desa Chiba dalam acara perkemahan waktu SMP dulu..."

  "Kalau tidak salah, Desa Rekreasi Chiba ini berada di Propinsi Gunma." Yukinoshita tiba-tiba memotongku.

  "Oh, jadi kau pernah ke Desa Chiba juga?"

  "Aku kembali ke Jepang waktu kelas tiga SMP, jadi aku tidak pernah berpartisipasi dalam kegiatan perkemahan di Desa Chiba. Aku tahu mengenai event perkemahan itu dari membaca album kelulusan SMP-ku."

  "Kau kembali ke Jepang? Memangnya kau pergi kemana? Atau lebih tepatnya kenapa kau kembali ke Jepang?"

  "Aku merasa ada sarkasme dalam caramu memotong pertanyaanmu tadi...Bukannya aku terganggu atau semacamnya."

  Yukinoshita memalingkan pandangannya dan menatap ke arah luar jendela. Aku tidak tahu ekspresinya seperti apa karena wajahnya tertutup oleh kibasan rambut hitam panjangnya yang tertiup oleh angin dari celah jendela.

  "Aku dulu ikut program pertukaran siswa ke luar negeri. Mungkin aku belum pernah menceritakannya kepadamu. Ingatanku sendiri soal hal tersebut mungkin seperti sebuah floppy disk."

  "Benda itu tidak memiliki kapasitas yang besar...Coba jangan pergi ke dekat magnet atau sejenisnya. Kau akan lupa semuanya."

  "Anak-anak seumuran kalian harusnya tidak tahu apapun soal floppy disk..." Hiratsuka-sensei mengatakan itu dengan ekspresi keheranan.

  Pastinya, PC jaman dahulu menggunakan Floppy Disk sebelum digantikan yang lebih modern.

  "Nah, saya pikir benda itu masih dipakai waktu jaman-jaman saya dilahirkan dulu."

  "Ingatanmu bagus juga. Kekuatan ingatanmu memang setara MO," Hiratsuka-sensei langsung merespon, sambil tertawa kecil.

  Tapi membawa-bawa MO adalah sebuah contoh kalau ingatannya yang tinggi itu benar-benar menunjukkan umurnya.

  "Nah, anak-anak generasi saya harusnya tidak tahu tentang MO..."

  "Tapi kalau MD, saya rasa saya tahu..." Yukinoshita mencoba menimpali, seperti merasa agak terganggu seperti diriku.

  Hiratsuka-sensei merespon.

  "Memikirkan kalian yang tidak tahu apa itu MO...Ya begitulah anak muda jaman sekarang..." dia mengatakan itu dengan ekspresi yang menyedihkan.

  Karena aku merasa tidak enak dengannya, kuputuskan untuk membantunya. Aku ini benar-benar orang baik.

  "Begini. MO itu kebanyakan digunakan untuk bisnis dan sejenisnya, jadi orang-orang dengan penggunaan rumahan tidak begitu paham. Bukan karena Sensei hidup di jaman barang-barang kuno atau sejenisnya."
[note: MO singkatan Magneto-Optical. Sederhananya, ini sejenis floppy disc dengan kapasitas yang jauh lebih tinggi dengan fungsi write dan re-write. Biasanya kapasitasnya sekitar 128MB - 2Giga. Rilis pertamakali tahun 1985.]

  "Jadi kau tahu ya!"

  Hiratsuka-sensei lalu mencoba memukul-mukul tubuhku dengan lembut.

  "Oi hati-hati! Perhatikan kemudinya!"

  "Kuharap aku akan mengingat ini ketika kita sudah turun nanti..."

  "Tolong anda jangan mengingat-ingat ini di dalam ingatan anda yang sudah berumur seperti MO." Maksudku, MO pada akhirnya menghancurkan kiprah Floppy Disc kalau membahas kapasitas memori.

  Mobil van kami melaju terus seperti anak panah menuju Desa Chiba. Meski ini hanyalah hari-hari biasa, tapi jalan raya tampak sedikit padat. Mungkin lebih tepat disebut kemacetan kecil, kulihat jalan raya ini dalam satu kilometer ke depan seperti padat dengan mobil.

  "Aneh juga jalannya macet begini," kataku.

  "Itu karena banyak sekali tempat-tempat perkemahan di sekitar sini. Mereka bahkan menawarkan pemandian air panas. Kalau tidak salah, Sarugakyo Onsen di dekat sini merupakan spot populer bagi siswa SMP dan SMA untuk mampir ataupun sekedar jalan-jalan."

  "Wow, aku tidak tahu kalau disini ada semacam spot populer seperti itu..."

  "Begitu ya...Itu pasti dikarenakan tempat ini memberikan memori kelam untukmu, Hikigaya...Bisa dipahami mengapa kau melupakan itu."

  "Tolong anda jangan langsung definisikan seperti apa kenangan seseorang. Saya sendiri merasa kalau perjalanan wisata semacam darmawisata itu adalah sebuah momen yang bagus."

  "Kupikir kau adalah orang yang membenci festival atau semacamnya. Yah mungkin banyak siswa-siswa yang suram tiba-tiba berubah menjadi antusias ketika event-event semacam itu terjadi."

  "Err, bukan begitu...Maksud saya, itu adalah momen yang bagus untuk memberikan mereka semua kenangan yang buruk..."

  Kalau kau perhatikan dengan baik album kelulusanku, kau akan terkejut melihat bagaimana wajahku yang terlihat seperti orang mati. Mungkin teman-teman sekelasku akan lebih terkejut lagi dengan fakta kalau orang seperti itu ternyata benar-benar ada diantara mereka.

  "Ini akan menjadi sebuah perkemahan di luar ruangan. Jadi rencananya, kita akan tinggal selama tiga hari dua malam. Kau tidak masalah dengan itu?"

  "Tiga hari dan dua malam? Apa?! Kita akan bermalam disana? Saya bahkan tidak membawa apa-apa!"

  "Kau akan baik-baik saja. Sepertinya Komachi-san membawakanmu baju ganti dan perlengkapanmu," Yukinoshita mengatakan itu kepadaku.

  Aku baru menyadari sesuatu. Oh, jadi itu ya tas-tas yang dia bawa. Alasan mengapa dia membawa dua tas karena satu adalah barang-barangku, dan satunya adalah barang-barang Komachi.

  "Adikmu ternyata sangat pintar dalam menangani sesuatunya," Hiratsuka-sensei tampak memujinya.

  "Benar, kan? Adik saya itu adalah kebanggaan dan jiwa saya. Dia memiliki tiga hal besar: Manis, Cantik, dan Tampilan yang menarik."

  "Itu sebenarnya hanyalah satu hal..." Yukinoshita memotongku. Kata-katanya menghancurkan imajinasiku saja.

  Sekarang kita mulai mengurangi kecepatan kami dan meninggalkan kota terdekat, kami lalu masuk ke jalan pegunungan. Minivan ini terus menyusuri jalan ini tanpa ada tanda-tanda akan berhenti dalam waktu dekat.






x x x







  Ketika kami keluar dari mobil, aku melihat hamparan rumput yang luas. Aku merasa seperti berada di ruangan yang sangat leluasa untuk sekedar bernapas. Mungkin hutan yang hijau inilah, yang membuatku merasakan hal-hal seperti itu.

  Sementara di tempat lain, beberapa bus sedang terparkir disini. Hiratsuka-sensei menghentikan mobilnya tepat di tempat parkir Desa Chiba.

  Yuigahama keluar dari mobil dan membentangkan tangannya sekuat tenaga.

  "Mm! Ini nyaman sekali!"

  "Jika yang kau lakukan sedari tadi adalah tidur dan menggunakan orang lain sebagai bantal, kurasa itu memang nyaman sekali," Yukinoshita menyindirnya.

  Yuigahama langsung membalasnya.

  "Ma-Maaf! Benar-benar maaf!" dia meminta maaf sambil menepuk kedua tangannya bersamaan.

  "Whoa...Kita benar-benar berada di pegunungan." Totsuka mengagumi pemandangan di sekelilingnya.

  Mengagumi suasana pegunungan merupakan reaksi alami bagi orang-orang yang hidup di perkotaan     begitulah warga Kota Chiba. Meski Komachi pernah mengatakan "Aku datang kesini tahun lalu!", dia sepertinya sangat menikmati momen ini, melihat bagaimana dia menarik napas yang dalam di tempat ini.

  Mungkin aku bukanlah Yuigahama, tapi aku akui kalau angin dingin dari dataran dan cahaya matahari yang menembus pepohonan memang terasa nyaman. Seperti yang lainnya, aku sangat antusias untuk merasakan bagaimana rasanya tidak berhubungan lagi dengan hiruk-pikuk komunitas sosial demi masa depan yang lebih baik. Mungkin aku bisa memesan apa yang ingin kubeli lewat email dan jasa kurir, lalu meminta mereka mengirimkannya kesini.

  "Hmm, udaranya terasa aneh," Hiratsuka-sensei mengatakan itu sambil menghisap rokoknya. Kira-kira dia bisa merasakan kualitas udaranya dari aksinya yang seperti itu?

  "Kita akan jalan kaki dari sini. Jadi bawa tas kalian," katanya, sambil mengembuskan napasnya yang terlihat puas akan sesuatu.

  Ketika kami mengeluarkan tas bawaan kami dari mobil, sebuah minivan lain datang. Cukup di luar dugaan, tampaknya ada pengunjung biasa yang datang kesini juga, dimana cukup masuk akal karena spot perkemahannya cukup banyak dan beberapa fasilitas alami lainnya. Karena kebanyakan semua fasilitas disini alami, tidak memakan banyak biaya, jadi bagi kebanyakan warga kota ini merupakan sebuah liburan yang bagus.

  Empat orang keluar dari mobil: dua pria dan dua gadis.

  Memang, mereka kesini seperti hendak bermesra-mesraan dan sedang dimabuk asmara. Orang-orang sejenis ini mungkin hendak berpesta barbeque di pinggir sungai atau sejenisnya.

  Tepat ketika aku mulai berpikir kalau tipe-tipe orang semacam mereka adalah orang yang mungkin pergi mendaki gunung dengan pakaian biasa seperti hendak piknik, dimana hanya akan berakhir dengan berita kehilangan atau orang tersesat, salah satu orang dari grup tersebut melambaikan tangannya kepadaku.

  "Halo disana, Hikitani-kun."

  "...Hayama?"

  Aku terkejut     Hayama ternyata bagian grup tersebut. Sebenarnya, Hayama bukanlah satu-satunya orang yang kukenali disana. Ketika kuperhatikan dengan baik, ternyata mereka semua adalah grup Hayama: Miura, Tobe si rambut pirang berisik, dan Ebina-san yang seorang hardcore-fujoshi.

  ...Huh? Dimana Ooka si Perjaka Oportunis?

  "Kenapa kau ada disini...? Mau pesta barbeque?" tanyaku. "Kalau memang benar, maka kurekomendasikan di pinggiran sungai, disana tempat yang bagus."

  "Nah, kita kesini bukan untuk pesta barbeque. Kalau kesini cuma untuk barbeque, aku tidak akan diijinkan oleh orangtuaku." Hayama tersenyum kecut.

  Jadi tebakanku salah, huh. Kalau begitu kurekomendasikan kau untuk mendaki gunung dengan pakaian biasa, begitulah pikirku.

  Tiba-tiba Hiratsuka-sensei menginjak sisa rokoknya yang di rumput dan berkata.

  "Hmph. Sepertinya semua orang sudah datang."

  Semua orang?

  Apa yang dia maksud adalah Hayama dan yang lainnya termasuk di dalamnya?

  "Sekarang, apa kalian semua tahu mengapa aku mengundang kalian kesini?" tanya Sensei.

  Kami hanya bisa menatap satu sama lain.

  "Anda meminta kami menginap disini dan menjadi sukarelawan kegiatan," kata Yukinoshita.

  Totsuka mengangguk mendengar kata-katanya. "Ya, kalau tidak salah kita disini membantu sebuah kegiatan."

  Selain mereka, Yuigahama malah terlihat memiringkan kepalanya.

  "Huh? Ini bukan training camp?"

  "Malahan yang kutahu ini adalah sebuah perkemahan," Komachi mengatakan itu dengan ragu.

  "Apalagi aku, malahan aku tidak tahu apa-apa tiba-tiba diajak kesini..." kataku.

  Oi, jadi yang benar kita kesini ngapain? Orang-orang ini pasti akan menjadi bencana jika kita memainkan permainan "bisik-bisik kata".

  Hayama tersenyum. "Setahuku, kita akan mendapatkan nilai ekstra kalau ikut ini..." dia mengatakan itu dengan senyum yang kaku.

  "Huh. Aku datang karena kudengar disini ada perkemahan, tahu tidak?" Miura bermain-main dengan ujung rambutnya.

  "Benar kan? Ya ampun, kurasa menyedihkan jika itu alasannya." Tobe menggaruk-garuk belakang lehernya.

  "Ketika kudengar Hayama-kun dan Tobe-kun akan berkemah bersama-sama, aku langsung hrnnngged."

  Hanya Ebina-san yang punya alasan aneh. Juga, apa sih yang dia katakan di akhir kalimatnya?

  Hiratsuka-sensei terlihat sedang mengepalkan tangannya.

  "Ya ampun. Well, setidaknya kalian ada gambaran tentang apa yang akan kita lakukan. Aku meminta bantuan kalian untuk menjadi sukarelawan disini."

  "Um, memangnya sukarelawan kegiatan apa...?" tanyaku.

  "Entah apa alasannya, kepala sekolah memberikan instruksi kepadaku, Pembina Klub Relawan, untuk terlibat dan mengadakan aktivitas terjun ke daerah...Dan begitulah ceritanya kalian ada disini. Kalian akan menjadi staff pembantu dalam kegiatan perkemahan para siswa SD disini. Kalian disini bisa dikatakan menjadi bagian staff Desa Chiba, Guru Bantu, atau juga pendukung kegiatan para siswa SD tersebut. Sederhananya, kalian akan melakukan pekerjaan yang tidak biasa," dia lalu berhenti sejenak. "Juga bisa dikatakan, kalian ini sekarang menjadi budak."

  Aku ingin pulang saja...Dia juga bisa menyebut tempat ini sebagai Toko Keringat. Maksudku, kau masuk ke toko keringat dan keluar dari tokonya dengan membawa banyak sekali keringat.

  "Ini termasuk training camp bagi Klub Relawan, dan aku juga akan memberikan kalian nilai ekstra karena pekerjaan kalian, seperti yang dikatakan Hayama tadi. Juga, kalian bisa menghabiskan waktu bersama dan berlibur disini."

  Aha, begitu ya. Semua orang bisa paham kenapa ada disini jika dijelaskan seperti itu. Kita hanya mendengarkan alasan mereka kesini dari hal-hal yang mereka anggap menarik saja dari tadi.

  "Sekarang, ayo kita pergi. Kalian secara otomatis bekerja sebagai sukarelawan setelah kalian menaruh tas kalian di bangunan utama." Hiratsuka-sensei mengatakan itu sambil berjalan di depan. Kami kemudian mengikutinya dari belakang.

  Mungkin terlihat seperti itu, tapi kami sebenarnya bukanlah grup pertemanan. Yukinoshita dan diriku berjalan tepat di belakang Hiratsuka-sensei, sementara Komachi dan Totsuka berada di belakang kami. Lalu di belakangnya ada Yuigahama, sedang grup Hayama ada di belakangnya. Karena Yuigahama berada di tengah-tengah, ini membuat kita terlihat seperti sebuah grup pertemanan yang besar.

  Sebuah jalan beraspal memandul kami menuju bangunan utama. Sepanjang perjalanan, Yukinoshita berbicara, dan tampak sebuah ekspresi yang suram di wajahnya.

  "Maaf bertanya...Kenapa ada Hayama-kun dan yang lainnya disini?"

  "Hm?" Hiratsuka-sensei menoleh di balik bahunya. "Oh, kau bertanya kepadaku?"

  "Memangnya dia akan bertanya ke siapa lagi dengan nada sopan yang seperti itu?" kataku.

  Dalam situasi seperti ini, kupikir satu-satunya orang yang berhak menerima pertanyaan seperti itu adalah orang yang memiliki level seperti Hiratsuka-sensei. Tapi ketika aku menjelaskan itu, Yukinoshita tiba-tiba tersenyum ceria kepadaku.

  "Ayolah, itu tidaklah benar. Meski kau tidak sedang berbicara dengan orang yang memiliki status sosial di atasmu, kau bisa menggunakan bahasa yang sopan untuk memberikan jarak. Benar tidak, Hikigaya-san?" dia tertawa kecil ketika mengatakannya.

  "Betul sekali, Yukinoshita-san," akupun tertawa.

  Hiratsuka-sensei memotong tawa kami.

  "Kalian berdua tidak berubah ya? Memang benar, soal alasanku mengundang grup Hayama. Sepertinya jumlah kita sendiri masih jauh dari cukup untuk mensukseskan kegiatan ini, jadi aku menaruh sebuah pengumuman kalau aku merekrut orang di papan pengumuman sekolah. Kalian mungkin tidak melihatnya. Meski aku sendiri berpikir tidak akan ada yang mau mengajukan diri untuk menjadi sukarelawan kegiatan seperti itu..."

  "Kalau tahu begitu, kenapa anda tetap menaruh pengumumannya di papan pengumuman?"

  "Sebenarnya hanya masalah formalitas saja. Kalau pada akhirnya cuma kalian saja yang disini, tidak akan terlihat menarik. Jadi aku tetap berharap akan ada tambahan sukarelawan yang muncul. Maksudku, menangani para siswa SD yang menggunakan kegiatan perkemahan ini untuk bermesra-mesraan bukanlah kebiasaanku. Melihat mereka saja sudah membuatku sakit kepala."

  Mungkin lebih tepat jika dikatakan kata-katanya barusan sudah membuat hatiku kesakitan.

  Tolong, siapa saja! Tolong nikahi dia!

  "Meski begitu, aku ini tetaplah seorang guru. Aku harus memperlakukan semua orang secara setara."

  Akupun mendesah. "Pasti berat sekali menjadi guru."

  Jika aku mendapatkan perlakuan istimewa tapi berarti aku akan dipukuli oleh guru, aku tidak mau perlakuan spesial itu.

  "Anda kan seorang Guru     tidak, mungkin itu berlaku bagi semua orang dewasa. Situasi semacam itu pasti sering terjadi di tempat kerja." kataku.

  Aku bisa melihat sebuah bayangan gelap mulai menyelimuti wajah Hiratsuka-sensei.

  Bekerja ke sebuah organisasi berarti harus menerima sisi buruknya juga. Tidak lupa juga kau harus memikirkan tentang masa depan ketika berkomitmen dengan sebuah kontrak kerja jangka panjang. Kau harus bekerja dengan orang-orang brengsek yang kau temui setiap harinya. Jika kau ingin menghindarinya, satu-satunya pilihanmu adalah menjadi suami rumahan atau NEET.

  Sisi lain dari dipaksa untuk bekerja, kau juga harus membebani dirimu dengan menjaga hubungan dengan rekan kerjamu. Memangnya aku mendapatkan bayaran dari melakukan itu? Aneh sekali kalau tidak ada bayaran untuk itu, serius ini. Ini hanya membuatku bertambah yakin untuk tidak bekerja.

  Ketika dia melihat ke arah Yukinoshita dan diriku, Hiratsuka-sensei tersenyum hangat.

  "Ini juga merupakan peluang bagus bagi kalian. Kalian bisa belajar bagaimana berinteraksi dengan orang-orang dari komunitas lain."

  "Tidak, itu tidak akan terjadi. Aku tidak bisa akrab dengan mereka."

  "Kau salah, Hikigaya. Kau tidak perlu harus akrab dengan mereka. Sudah kukatakan, yaitu belajar berinteraksi. Belajar untuk tidak melawan atau terlihat seperti peduli. Juga belajar bagaimana terlihat seperti menjadi bagian komunitas, namun dalam artian profesional sebatas pekerjaan yang kau jalani. Itu sebutan lain dari beradaptasi dengan sosial sekitar."

  "Mudah dikatakan daripada dikerjakan."

  Kalau tidak mempedulikan mereka dikatakan sudah diluar batas, maka aku sudah mati sejak lama.

  Kesunyian melanda kami.

  Yukinoshita tidak mengatakan apapun selama mendengarkan percakapan kami. Dia tidak merespon ataupun menyanggah     bahkan tidak mengatakan kesetujuan.

  Hiratsuka-sensei terlihat memasang senyum yang kecut melihat sikap kami.

  "Mungkin kau tidak bisa melakukannya secara instan, tapi tolong ingat itu baik-baik di masa depan," dia mengatakannya ke kami berdua.

  Sekali lagi, kami berjalan tanpa mengatakan apapun.

  Berinteraksi dengan orang-orang, huh...

  Mungkin tidak sesulit yang dibayangkan. Akrab dengan orang lain adalah masalah kesamaan emosi, tapi berinteraksi itu merupakan sebuah skill yang berbeda.

  Kau membicarakan sebuah topik, mengobrol dengan orang lain dan merespon kata-kata mereka seperti memperhatikan betul apa yang terjadi. Dalam proses tersebut, kau mulai memperkirakan dimana batas zona nyaman seseorang, sementara di saat yang bersamaan, kau secara tidak langsung memberitahu mereka dimana zona kenyamananmu. Dengan melakukan itu, kau bisa berinteraksi dengan baik.

  Karena aku sendiri ragu dengan kemampuanku untuk membuat sebuah obrolan, aku mungkin akan terlihat kaku dalam hal itu. Aku bahkan mungkin bisa membuat respon yang diluar dugaan.

  Meski begitu, kau harusnya bisa mengatasinya jika kau berlatih dengan baik, seperti bagaimana kau mempelajari skill yang lain.

  Lagipula, berinteraksi dengan orang lain hanya bisa digambarkan sebagai sebuah mata rantai yang tidak akan pernah berakhir: Kau menipu dirimu sendiri, lalu kau menipu orang lain, orang itu membiarkan dirimu untuk menipunya, dan kau membiarkan orang itu untuk menipumu. Tidak akan ada habisnya. Pada akhirnya, itu adalah latihan umum yang sering dilakukan oleh para siswa dan siswi di sekolahan.

  Itu adalah skill yang penting bagi mereka yang menjadi bagian organisaasi ataupun grup, dan satu-satunya hal yang membedakan orang dewasa dari siswa adalah kualitas skillnya.

  Pada akhirnya, itu hanya berujung dengan kepalsuan dan saling menusuk dari belakang.








x Chapter III Part 1 | END x







  Well, kita sekarang tahu mengapa Yukino tidak satu SMP dengan Hayama. Setelah kejadian dibully pada waktu kelas 6 SD, Yukino menghabiskan kelas 1 dan 2 SMP di luar negeri sebagai siswi program pertukaran pelajar. Kemungkinan besar karena Yukino takut berakhir dibully lagi ketika SMP di Jepang.

  Mengapa begitu? Ini dijelaskan sendiri oleh Hachiman di chapter 4, kalau kemungkinan besar akan bertemu lagi dengan teman-teman SD ketika SMP. Jadi ada peluang besar kalau alasan Yukino memilih untuk menjadi siswi program pertukaran pelajar karena ingin menghindari bully tersebut.

  Ini juga menjelaskan mengapa di vol 2 chapter 2 Yukino tidak tahu seperti apa sistem prasmanan minuman di restoran Jepang. Menjelaskan mengapa Yukino tidak tahu soal ramen di vol 7 chapter 6. Yukino banyak menghabiskan waktu berada di luar negeri daripada di Jepang.

  ...

  Jawaban Komachi mengenai tahun lalu datang ke perkemahan Desa Chiba menjelaskan mengapa Yukino tidak ikut perkemahan ketika SMP meski dia sudah kembali ke Jepang ketika kelas 3 SMP. Itu karena event perkemahan hanya dilakukan oleh siswa kelas 2 SMP.

  ...

  Tobe tidak mengatakan jelas mengapa dia ada di Desa Chiba. Tapi melihat keterangan Ebina yang mengatakan dia datang karena tahu Tobe dan Hayama hadir, maka Ebina datang setelah Tobe memastikan datang.

  Dalam chapter 5, Tobe mengatakan kepada Hayama, Totsuka, dan Hachiman kalau dia sudah curhat terlebih dahulu kepada Miura sebelum memberitahu mereka kalau dia menyukai Ebina. Kemungkinan besar, Tobe meminta bantuan Miura untuk mengajak Ebina ikut serta perkemahan ini.

  Ada kemungkinan kalau Ebina mau datang ke perkemahan ini karena Miura menjelaskan kalau perkemahan ini merupakan kegiatan bersama Klub Relawan, atau juga Ebina membaca papan pengumuman tersebut. Itu artinya, Hachiman akan ada di perkemahan ini. Mungkin...Sekali lagi mungkin...Ebina mau hadir disini karena dia bisa melihat Hachiman dalam liburan musim panas.

  ...

  Pemikiran Hachiman tentang interaksi antar member organisasi tempat dia bekerja...

  Sebenarnya kata-kata ini memang benar adanya di volume-volume mendatang. Di volume 9, Hachiman menjelma menjadi pria yang cakap dalam berorganisasi. Juga Hachiman memiliki skill komunikasi yang bagus dengan para pengurus OSIS era Isshiki.

  ...

  Hayama mau menjadi sukarelawan hanya karena mendapatkan nilai ekstra? Ayolah, kita tidak perlu percaya dengan omong kosong ini. Hayama adalah siswa yang sangat pintar. Tidak perlu nilai ekstra di pelajaran Hiratsuka-sensei karena dia sendiri peringkat dua dalam nilai Sastra Jepang di SMA Sobu. Mungkin kalau Tobe atau Miura yang mengatakan itu, masih masuk akal.

  Motif Hayama hadir disini terlihat jelas di chapter 4, Hayama hendak bertanya sesuatu. Sepertinya, Hayama datang kesini hendak mengkonfirmasi sesuatu.

  Ini terlihat dari kejanggalan jumlah member grup Hayama yang hadir. Harusnya Ooka dan Yamato ikut juga.

  Tebakan saya, Hayama membaca pengumuman di papan, melihat kalau Klub Relawan terlibat, itu artinya Hachiman dan Yukino ada disana. Bukankah konyol jika Hayama datang sendirian? Hayama mengajak Tobe ikut serta dengan alasan ada nilai ekstra, tentunya Tobe tertarik dengan hal itu. Lalu, Tobe bercerita kepada Miura kalau dia menyukai Ebina dan Hayama hadir di perkemahan ini.

  Miura yang ingin mesra dengan Hayama, sepakat dengan Tobe. Hayama jelas mustahil mengajak Miura karena disini Hayama akan berinteraksi dengan Yukino, jelas seperti menjatuhkan bom nuklir di Desa Chiba jika Hayama mengajak Miura. Oleh karena itu, paling logis jika Tobe yang mengajak Miura. Miura meminta Tobe menjelaskan ke Hayama kalau dia yang mengajaknya ikut, dengan imbalan akan mengajak Ebina ikut serta di perkemahan.

  Ebina melihat pengumuman itu, membaca kalau Klub Relawan terlibat di perkemahan. Artinya, Hachiman ada disini. Ebina akhirnya memutuskan ikut.

  Sebenarnya apa yang hendak Hayama konfirmasi disini? Jika anda membaca analisis saya di vol 4 chapter 4 dan vol 4 chapter 7, ini tentang kedekatan Yukino dan Hachiman. Juga, tentang info dari Haruno soal Yukino yang berkencan dengan Hachiman di Lalaport tempo hari.

  

1 komentar: