Minggu, 29 November 2015

[ TRANSLATE ] Oregairu Vol 7 Chapter 3 : Semua spesifikasi diri milik Tobe Kakeru terlihat dangkal jika dilihat dari berbagai aspek



x Chapter III x







  Esok harinya setelah menerima request Tobe, kami berencana untuk menganalisis detail dari requestnya untuk menyusun rencana-rencana yang mungkin akan kami lakukan.

  Sejujurnya, requestnya itu sendiri sudah memberikanku banyak alasan untuk tidak terlibat di dalamnya.

  Lagipula, kekhawatiran dan cerita cinta dari orang yang tidak dikenal hanyalah lelucon bagiku, apalagi jika orang tersebut adalah sebuah lelucon seperti Tobe. Melakukan ini secara serius mungkin hanya akan membuatku menyia-nyiakan waktu berharga milikku.

  Mari kita simpulkan dahulu isi dari requestnya.

  Tobe akan menembak Ebina dan kita akan bertindak sebagai supportnya.

  Apa-apaan ide ini! Isi requestnya saja sudah mirip dengan slogan sebuah coklat yang dijual di swalayan.

  Setelah kemarin menerima request tersebut, apa yang akan kita lakukan dengan request tersebut akan diputuskan pada hari ini.

  Yukinoshita terlihat sedang menyusun kertas-kertas di tangannya dan melihat ke arah kami.

  “Sekarang, mari kita perjelas situasinya dahulu. Setelah kita mengumpulkan semua informasi yang kita butuhkan, maka kita bisa menemukan solusinya.”

  Hoho, sebuah hal yang Yukinoshita-banget. Tapi kalau kita berbicara tentang manga olahraga, tokoh yang suka mengumpulkan data-data secara sistematis biasanya sudah ditakdirkan menjadi orang yang kalah, jadi ini memang agak mengkhawatirkan.

  “Pertama, kita mulai dengan mencari informasi mengenai Tobe dahulu.”

  “Hmm, betul juga. Ini mirip dengan kata-kata nenek moyang kita, ‘kenali musuhmu, kenali dirimu, dan kau akan kalah dalam ratusan pertempuran'.”

  “Sudah diputuskan kalah dari sekarang?!”

  Nah, bukan kita menyerah dari sekarang, tapi benar-benar menyerah dari sekarang!...Maksudku, lihat pria ini, tidak ada yang bagus darinya.

  “Kalau begitu, sebuah perkenalan singkat darimu kurasa sudah cukup membuka topik kita.”

  Yukinoshita berusaha membimbing pria yang sedang ‘senyum-senyum’ di depannya.

  “Baiklah. Saya Tobe Kakeru dari 2F. Member dari Klub Sepakbola.”

  “Apa Klub Sepakbolamu tidak masalah kau pergi kesini sepulang sekolah?”

  “Tenang saja, semua beres. Para senior kami sudah keluar dari klub karena ujian kelulusan. Jadi sekarang, Hayato memegang jabatan ketua dan semuanya ‘bisa diatur’.

  Kau tampaknya memiliki sifat untuk menganggap enteng semuanya, fufufu...

  “Mari kita sekarang mencari sisi dari Tobe yang menarik. Kalau kita bisa mencocokkannya dengan Ebina dengan cara yang efektif, aku yakin dia akan mempertimbangkan Tobe dengan baik.”

  Beep beep beep booop.

  Waktu berpikir bagi Tobe terus berlanjut sehingga ruangan ini terasa sunyi, lalu dia mengatakan “ah” dan menaikkan tangannya. Yak, Pak Tobe, dipersilakan!

  “Kelebihanku...Aku ini temannya Hayato?”

  “Cepat sekali memakai nama orang lain untuk citra dirinya...”

   Yuigahama menggumamkannya seperti sudah dekat dengan kata menyerah.

  Jika kau disuruh untuk menuliskan sisi menarik dirinya, aku cukup yakin kau akan kesulitan untuk menulisnya kecuali itu adalah aku; aku punya banyak sisi menarik dan aku juga orang yang luar biasa.

  Apapun itu, mungkin ada baiknya mendengar pendapat orang yang sedang mengamatinya dari dekat.

  “Yuigahama, dapat sesuatu?”

  Ketika ditanya, Yuigahama menyilangkan lengannya seperti sedang memikirkan sesuatu.

  “Umm, dia terlihat cerah, kupikir?”

  “Kalau untuk menjadi populer adalah cerah, maka membuat kepala botak akan membantumu menjadi populer.”

  Kalau aku bilang kepala lampu, mungkin akan terasa aneh. Tapi mungkin ada benarnya, Pikachu kan populer.

  Kalau begitu, jika kita tidak bisa menemukan sisi menariknya, maka kesimpulannya hanya satu, sisi dirinya yang menarik itu ada di bagian terdalam dari dirinya. Kalau begitu, kita harusnya bertanya kepada orang yang bisa melihat lebih jauh tentang diri seseorang.

  “Yukinoshita?”

  “Mari kita lihat...”

  Yukinoshita mengangguk sambil berpikir dan menaruh tangannya di dagunya.

  “Berisik...tidak, nakal? Mungkin hiperaktif.”

  Dia hanya menggerutu saja, tapi setidaknya dia sedang sungguh-sungguh mencari sesuatu.

  “...Baiklah, tampaknya aku mengerti.”

  Aku tampaknya paham kalau pria ini tidak punya satupun hal yang bisa dibanggakan. Yukinoshita tampaknya tidak puas dengan reaksiku barusan.

  “Kenapa kau mengatakan begitu sementara kau sendiri tidak mengatakan sesuatu tentangnya?”

  “Bukan begitu, memikirkan sesuatu yang keberadaannya tidak ada di dunia ini, kau pikir seperti apa, coba?”

  “Yang ‘keberadaannya tidak ada’ sebenarnya adalah motivasimu, benar tidak?”

  Aku sangat yakin kalau apa yang tidak ada saat ini adalah ketertarikanku tentang Tobe.

  Kalau begitu, kuputuskan untuk diam saja karena berbicara tentangnya hanya akan membuat image dirinya di kepalaku bertambah buruk.

  Tapi, kita tidak akan memperoleh kemajuan jika kita terus mengatakan tidak ada. Jadi, sekarang aku akan mencoba memikirkannya lagi dengan serius.

  Pertama, pengetahuanku tentang pria ini adalah nol besar. Maksudku, aku saja baru tahu nama pertamanya adalah Kakeru beberapa saat lalu.

  Ngomong-ngomong, spesifikasi diri Tobe itu, bagaimana ya, ya dia itu mirip ‘pria-pria semacam itu’.

  Kalau dia terlihat berdua dengan Hayama, Tobe hanya membuat pemandangan indah Hayama menjadi rusak saja. Meski begitu, dia tampaknya ahli dalam membawa suasana dan juga seorang pria yang baik.

  Tapi menurut Yukinoshita, dia adalah orang yang tidak berkompeten, berisik, dan individu yang hiperaktif.

  Sebenarnya, anggapanku tentang dirinya juga kurang lebih begitu. Jujur saja, kalau dia orangnya tidak berisik, mungkin dia tidak akan dianggap ada, tidak, 100% yakin dianggap tidak ada. Kalau di sebuah film Hollywood, dia mungkin dipilih untuk peran figuran.

  Mungkin sisi menarik dari pria bernama Tobe ini ada di tampilan luarnya.

  Tapi, sejujurnya aku tahu Tobe ketika awal masuk kelas 2 SMA dan yang kurasakan waktu itu adalah dia merupakan ‘anak buah Hayama’.

  Setelah itu, kami pernah menginap di sebuah perkemahan musim panas, di bawah atap yang sama. Kalau orang tahu soal itu, mungkin orang akan salah paham denganku. Tapi intinya, kami pernah pergi ke perkemahan bersama-sama. Jadi tolong jangan berpikir tentang diriku yang aneh-aneh dengannya dan tetap dengan kesimpulan inti yang kukatakan tadi.

  Dia ingin menjadi populer sehingga dia mencoba menunjukkan ‘dirinya’ dan kini dia ingin punya pacar, dia kurasa sudah berada di jalur yang benar. Akhirnya, jika di sebuah grup yang isinya ‘single' dan teman satu grupmu itu menyukai seorang gadis, maka kau membuat pria-pria di grupmu itu cemburu.

  Dia adalah tipe pria yang seperti itu.

  Mungkin itu bukan sebuah referensi yang bagus. Dia adalah seseorang yang kau panggil sebagai ‘seorang anak’ yang bisa kau temukan dimana saja.

  Kesimpulan akhir: Tobe adalah pria normal, umum, dan seperti yang lainnya.

  Aku sebenarnya ingin lebih jauh menilainya, sebagai penghormatanku kepada budaya Chiba yang terkenal karena orang-orangnya yang ramah. Aku ingin berpikir kalau aku ini siswa SMA di Chiba yang normal, tapi ketika mendapat tugas untuk mencari sisi menarik dari Tobe, entah mengapa aku serasa ingin menolak tugas itu.

  Dengan kata lain, eksistensi Tobe sendiri sudah mendekati ‘tidak ada’.

  Meskipun aku sudah menganalisis dirinya sedetail ini, aku tidak bisa menemukan satupun hal bagus tentangnya. Tapi Yukinoshita dan Yuigahama menatapku seakan memberitahuku untuk secepatnya mengeluarkan pendapatku sementara Tobe melihatku dengan penuh ekspektasi sambil mengatakan “Kau akan memberitahuku sebuah hal yang bagus sebentar lagi, ya?”.

  “Hal bagus mengenai Tobe...Atau sebenarnya, kenapa kita tidak cocokkan saja dengan apa yang membuat Ebina-san tertarik karena kupikir akan lebih cepat begitu. Tahu tidak, semacam Ebina-san itu suka pria yang bagaimana; aku cukup yakin dia punya hal-hal semacam itu, mungkin.”
[note: Ironisnya, orang yang mengatakan itu adalah tipe pria yang disukai Ebina. Vol 7 chapter 9.]

  “Ooh, begitu ya.”

  Yuigahama tampaknya menyetujui usulanku. Baguslah, aku sebenarnya tidak benar-benar benci kepada gadis yang mudah ditebak.

  Yukinoshita tampaknya mengangguk setuju.

  “Jadi kita mulai mencari titik lemah darinya mengenai pria. Seperti biasanya, tampaknya tidak ada yang lebih baik darimu ketika membahas metode yang ‘diluar akal sehat’.”

  “Terima kasih atas pujiannya, tapi entah mengapa aku tidak senang mendengar pujianmu tadi...”

  Itu jelas tidak membuatku senang. Memujiku saja itu sudah mencurigakan.

  “Jadi, bagaimana dirinya? Maksudku Ebina-san.”

  Ebina-san adalah seorang gadis yang cantik. Kalau kita bicara gadis, maka dia memang berada di usia dimana dia mudah diterpa masalah percintaan. Sangat normal bila para gadis sudah melibatkan dirinya dalam masalah cinta.

  Aku melihat ke arah Yuigahama untuk mengharapkan jawaban pertanyaanku tadi.

  “Umm...Bagaimana ya, kalau soa Hina...Dia itu suka kepada pria yang suka dengan pria...ya pria semacam itu.”

  ...Hmm, bunga Raflesia juga begitu. Meski busuk, itu adalah bunga yang berkualitas. Dan yang busuk disini adalah Ebina-san.



  “Nah, begini, seperti apa yang dia suka, seperti itu? Seperti pria dengan spesifikasi apa yang disukainya, benar tidak?”

  Oh Tobe, itu sangat mengagumkan, ternyata kau memperhatikan betul diskusi ini.

  Tapi ini yang mengkhawatirkan, ini juga bisa berarti dia sejak awal memang tidak punya satupun hal yang menarik perhatian Ebina-san.

  Tampaknya Yukinoshita juga berpikir tentang hal yang sama, dia terlihat mengangguk dan mengatakan sesuatu.

  “Coba kita taruh topik ini di samping dahulu...Bagaimana dengan kesan Ebina-san kepada Tobe sendiri?”

  “E-Entahlah?”

  Yuigahama langsung menjawab pertanyaan Yukinoshita sendiri. Whoa, itulah jawabannya!

  “Oh, ini cukup buruk, aku sebaiknya mempersiapkan diriku untuk ini.”

  Tobe tiba-tiba menjadi bersemangat.

  “...Kau yakin? Ini sebenarnya ‘itu’, semacam, ‘jawaban final’.”

  “Nah, kalau kita tidak mendengar jawabannya, kita tidak akan kemana-mana.”

  “Be-begitu ya.”

  Kalau begitu, silakan jawaban anda, nona Yuigahama.

  “...’Kau adalah pria yang baik’, itu mungkin yang ada di pikiran Hina.”

  Setelah dia mengatakannya, Yuigahama langsung memalingkan pandangannya.

  Guh...dia seperti mau menangis saja mengatakan itu...

  Seorang pria yang baik.

  Pertama-tama, bagi semua gadis, ‘seorang pria yang baik’ berarti 100% ‘aku sebenarnya tidak peduli dengan pria itu’, atau sederhananya ‘pria yang itu’.

  Dengan kata lain, pria yang sudah tidak punya harapan.

  Tapi, hanya Tobe di ruangan ini yang tertawa dan memiliki ekspresi wajah penuh keyakinan.

  “...Ini dia, ini pasti nilai plus bagiku, benar tidak?”

  Satu-satunya poin plus disini adalah caramu berpikir hingga selalu menyimpulkan positif hal yang buruk...Atau mungkin kepalamu menabrak sesuatu sehingga berubah menjadi poin plus.

  Pria bernama Tobe ini sudah melebihi semua ekspektasiku dan dia terlihat sangat dangkal.

  “Ta-Tapi setidaknya ada satu hal bagus, yaitu dia tidak dibenci olehnya. Kurasa begitu.”

  Yuigahama hanya mencoba untuk menghibur Tobe, tapi Yukinoshita dan diriku sudah memberikan sinyal ‘lempar handuk’.

  “Kupikir kita hanya bisa melakukan hal-hal yang terbatas dalam kasus ini...”

  “Yeah, terlalu banyak jarak yang terlihat antara Tobe dan Ebina-san.”

  Coba kau lihat sendiri, Tobe adalah pria hiperaktif, dia adalah tipe orang yang tidak berpikir apapun dan berbicara semaunya. Sebaliknya, Ebina-san adalah gadis dengan sifat ‘busuk’, meskipun dia sangat manis dan bertubuh oke.

  Tapi dalam kasus ini, Ebina-san mungkin yang menjadi faktor abnormal daripada Tobe sendiri.

  Melihat “Gadis Fujoshi” berdiri di sebuah kasta tertinggi sosial sekitar, sangat langka sekali. Tapi ini bisa saja terjadi kalau ternyata dia sebenarnya hanya bersembunyi di balik topeng Fujoshi, sangat normal mereka berada di kasta elit. Bahkan Fujoshi tipe seperti itu merupakan gadis yang sangat cantik dan ceria. Sumberku mengatakan itu adalah manga. Aku pernah baca 801-chan dan Genshiken, jadi kurasa aku tidak bisa meragukan opiniku barusan.

  Aslinya, Tobe dan Ebina-san harusnya berada di sebuah kasta yang berbeda. Tobe setiap harinya menjadi orang yang menonjol di grupnya. Sedang Ebina-san yang cantik, karena ada Miura, cantiknya seperti ditutupi bayang-bayang Miura.

  Dari pandangan umum, Ebina-san adalah tipe gadis yang “terlihat sangat cantik hanya jika aku mengenalnya dengan baik” dan karena dia berada di ranking terbawah di member klub teratas sekolah ini, membuat para pria di kalangan menengah dan kebawah berpikir “mungkin aku bisa berkencan dengannya?”. Uh, jika aku adalah diriku yang SMP, kuakui aku mungkin sudah jatuh cinta kepadanya.
[note: Nah looo!]

  Tapi, satu-satunya orang yang menghancurkan semua opini tadi adalah ‘kakak perempuannya’, Miura Yumiko.

  Tidak peduli dimana, Miura dengan sifat elegan dan kerennya, dia dengan mudahnya bisa membentuk grup yang berisi para gadis yang cantik. Miura bisa dengan mudahnya membelokkan definisi gadis cantik di kalangan pria dan mendefinisikan kata cantik itu menurut pendapatnya sendiri. Kalau begitu, kupikir agak aneh kalau Kawasaki tidak berada di grupnya Miura. Dia sendiri punya wajah yang cantik.  Dia juga sebaiknya menghilangkan sifat brocon dan penyendirinya juga.

  Jadi dengan Miura sebagai tokoh kunci yang mendefinisikan para gadis di lingkungannya, kupikir dia adalah kunci dari request ini.

  Dengan memikirkan segala kemungkinan, Yuigahama menyebutkan nama Miura.

  “Kupikir akan sangat bagus jika kita mendapatkan bantuan dari orang lain, seperti Yumiko atau semacam itu.”

  “Benar sekali, orang-orang pernah mengatakan ‘kalau ingin menembak jendralnya, menyerahlah dahulu’ semacam itu.”

  “Kau mengatakan ingin menyerah lagi?!”

  Sekali lagi, Yuigahama terkejut mendengarnya. Tapi, aku memang punya alasan kuat untuk menyerah.

  “Kita sebaiknya menyerah saja...Lagipula, aku sangat ragu Miura mau membantu kita.”

  “U, uhmm...Tapi, Yumiko suka cerita-cerita cinta semacam ini juga.”

  “...Sudahlah, menyerah saja.”

  Setelah mengatakan itu, Yuigahama melihatku dengan terkejut.

  Ini terasa lebih dingin dari yang seharusnya.

  Kupikir peluang request ini akan sukses sudah sangat kecil.

  Dan jika Miura benar mau membantu dan akhirnya Tobe ditolak, aku bisa dengan mudah membayangkan bagaimana Ebina-san sudah tidak percaya lagi dengan hubungan grup mereka ketika tahu Miura dan Yuigahama bersekongkol.

  Meskipun kebenarannya menyakitkan, tapi itulah yang akan terjadi.

  Kalau cuma Yuigahama sendiri yang membantu Tobe, dia bisa dimaklumi karena member Klub Relawan, dan request Tobe adalah request yang sedang dijalankan klub. Sebagai orang di luar grupnya, Yukinoshita dan diriku bisa menjadi mediator dan mensupport Yuigahama.

  Tapi, kalau Miura sudah bergabung, maka ini bisa dengan mudah ditebak kalau semuanya bermula dari ide Yuigahama. Kalau sudah begitu, sangat mudah menebak kalau Ebina-san tidak akan pernah lagi punya perasaan respek kepada Yuigahama.

  Aku tidak menyukai kemana skenario ini akan berakhir.

  Karena resiko berbanding keuntungan yang didapat jika Tobe diterima, tidak sebanding.

  “Begini saja, untuk saat ini, kita pikirkan dulu dengan santai.”

  “Yeah...Oke, aku paham itu.”

  Yuigahama tidak bertanya lebih jauh. Untung saja. Aku sendiri tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa. Itu hanya argumen yang berdasarkan emosi dan teori tidak jelas.

  “Kalau begitu, kurasa kita cukupkan wawancara kita untuk hari ini.”

  Terlihat agak lelah, Yukinoshita lalu melepaskan napasnya yang berat.

  Benar sekali, data-data yang kita dapatkan ini seperti membentuk suatu kata-kata ‘kita sudah pasti kalah’. Kita bahkan tidak menemukan satupun hal positif darinya.

  “Tobe, aku jujur saja kepadamu, kenapa kau tidak menyerah saja?”

  Setelah mengatakannya terang-terangan, Tobe menepuk keningnya dan menurunkan posisi bahunya.

  “Gaah. Hikitani, kau seram sekali! Hayato mungkin ada benarnya kalau kata-katamu sangat kasar...Tapi tahu tidak, apakah memang benar begitu? Kamu adalah tipe orang yang suka mengatakan hal-hal seperti itu?”
[note: Vol 6 chapter 10, Hayama mengatakan Hikigaya adalah orang yang suka mengatakan hal-hal jelek, tapi kalau sudah sering mengobrol dengannya, maka kau akan tahu kalau sebenarnya dia tidak sejelek yang kau pikirkan.]

  “Tidak, aku benar-benar serius ketika mengatakan itu.”

  Tampaknya, dia tidak mau mendengarkanku.

  “Tapi, ini seperti kata mereka? Maksud sebenarnya berlawanan dengan kata-katanya. Pada dasarnya, kau benar-benar berusaha serius menolongku, benar?”

  Orang ini...

  Kalau membahas tentang orang yang mengganggu, level mengganggu orang ini setara dengan Zaimokuza.

  Lagipula, kebalikan dari suka adalah benci.

  Kalau kau mengenal sesuatu, secara otomatis kau akan mengkategorikan itu menjadi suka atau benci. Kalau kau sudah memasukkan itu dalam hal benci, maka kau akan terjebak dalam lingkaran kebencian.

  Tobe tidak bisa membaca maksudku, dan dia hanya melihat ke arah jendela sambil mengatakan ini dan itu.

  “Hikitani, aku juga serius soal ini...Yamato dan Ooka benar-benar mendukungku, aku melihat mereka tidak becanda ketika mengatakan itu, tahu tidak...”

  Tobe berhenti sejenak ketika itu dan terlihat malu-malu.

  “Oleh karena itu, ketika kau mengatakan itu dengan serius, aku merasa senang karena kau berusaha menghentikanku, Hikitani.”

  “...”

  Bukan itu maksudku. Jangan membuat penjelasan abu-abu mengenai diriku, bro! Sebenarnya, aku serius ini. Bisakah kau berhenti dan menyerah saja?

  “Ebina juga, dia punya sesuatu seperti itu. Kadang, aku, aku menatapnya sebentar dan dia terlihat tidak seperti dirinya yang biasanya? Kurasa itu sedikit keren. Aah, aku terdengar menjijikkan mengatakan hal-hal memalukan semacam itu!”

  Seperti berusaha menyembunyikan rasa malunya, Tobe mengelus-elus rambutnya yang berada di belakang kepalanya.

  Terima kasih sudah menjelaskan hal yang tidak membuatku tertarik. Berhentilah tertawa sambil memainkan rambut panjangmu. Potonglah rambutmu!

  Tapi, bagaimana ya, ternyata pria ini memperhatikan Ebina-san secara detail.

  Aku adalah pria yang menjalani kehidupan dengan mengamati bagaimana manusia lain hidup. Oleh karena itu, kurang lebih, aku melihat Ebina-san tidak sekedar gadis cantik hanya karena penampilannya berkata begitu.

  Bahkan, dirinya punya sesuatu yang dia sembunyikan dalam dasar hatinya.

  Tobe mungkin tidak melihat hal-hal semacam itu, tapi punya sebuah simpati dan observasi terhadap Ebina-san, bisa saja dia sedikit banyak tahu soal itu.

  Ya seperti itulah, itu mulai membayangi pikirannya. Sebelum dia menyadarinya, kedua matanya terus membayangi gadis tersebut dan akhirnya ketika dia mengetahui sisi lain dari gadis tersebut, hatinya seperti bertambah galau. Ini berlaku ke siapapun...Baik diriku, juga Tobe.

  Kenapa para pria begitu bodoh, mengapa? Meskipun si pria tahu kalau gadis itu bukanlah gadis yang berada dalam levelnya, si pria tidak mau menyerah begitu saja. Pria memang bodoh.

  Dulu aku juga pernah seperti itu, seperti Tobe yang sedang jatuh cinta. Entah Tobe berasal dari kasta menengah kebawah atau teratas, dia hanya melakukan apa yang dikatakan hatinya.

  “Maksudku begini, hanya saja kau punya start yang buruk untuk memulai misi ini...”

  Kalau kau memang benar-benar mau berusaha, maka aku akan membantumu. Lagipula, itulah yang kita lakukan di klub ini.

  “Naah, cukup membantuku saja agar kata ‘menyerah’ tadi tidak terjadi!”

  Tobe  sepertinya memahami percakapan ini. Lalu, suara panggilan HP menyala.

  “Ah, ada yang menelponku. Ada apa?...Eh, nah, mereka bilang salahku? Oke, aku akan kesana!”

  Tobe menutup telponnya dan mengambil barang-barangnya yang ada di meja.

  “Terjadi sesuatu?”

  Yuigahama bertanya-tanya tentang apa yang terjadi dan Tobe tergesa-gesa berjalan menuju pintu keluar.

  “Ada kegiatan klub! Para senior memberitahuku untuk segera berkumpul atau aku akan mengalami hal yang buruk! Kalau begitu, sampai jumpa lagi!”

  Tobe mengatakan itu lalu berlari di lorong dan membiarkan pintunya terbuka. Yukinoshita diam saja disana dan melihat kepergiannya, lalu dia menggumam.

  “Dia benar-benar berisik...”

  Dengan kepergian Tobe, ruangan ini kembali sunyi.

  Kondisi yang tenang ini, membuat kebosanan kembali melanda kami. Akhirnya kami mulai mencari kesibukan masing-masing.

  Yukinoshita mulai mengisi ulang tehnya dan aku mengambil kembali bukuku. Yuigahama membuka kembali majalah yang ada di tangannya.

  Lalu Yuigahama tiba-tiba menatap serius ke suatu halaman di majalah tersebut. Itu membuatku penasaran sehingga aku melihat apa yang sedang dia baca.

  “Tumben sekali kamu membuka sebuah bacaan dan melihatnya dengan serius...Ooh, halaman ramalan jodoh dari zodiak dan golongan darah?”

  “Aku ingin mencari sesuatu yang bisa dijadikan penyemangat untuk Tobecchi.”

  Yuigahama menjawabnya tanpa menoleh sedikitpun dari majalah tersebut. Lalu kemudian Yukinoshita berjalan ke meja dan menyiapkan tehnya.

  “Di Kyoto, ada banyak kuil yang bisa digunakan untuk jimat mencari jodoh dan biasanya jadwal darmawisata kita akan melewati kuil-kuil semacam itu. Tapi jauh-jauh datang ke Kyoto hanya untuk berniat berdoa kepada Tuhan untuk jodoh orang lain, sangat ironis...”

  “Benar juga, seperti kata orang-orang. ‘menyerahkan dirimu kepada Tuhan ketika datang masalah’ atau semacam itu.”

  Menyerah lagi?! Aku merasakan agak aneh ketika tidak ada yang meresponku dengan kata-kata itu kali ini.

  Begitulah yang terpikirkan olehku, Yuigahama entah mengapa, terlihat menemukan sesuatu.

  “...Itu dia!”

  “Itu?”

  Berserah diri kepada Tuhan, maksudmu biarkan Tuhan menentukan nasib Tobe? Sejujurnya, kalimat itu terdengar buruk sekali sehingga aku tidak tahu apa maksud sebenarnya.

  “Bukan, bukan itu. Akan ada suasana yang nyaman ketika kita berjalan-jalan di Kyoto! Maksudku, kita bisa membuat mereka lebih dekat di Kyoto. Hina kapan hari mengatakan kepadaku kalau dia juga menyukai Kyoto!”

  Dengan kata lain, karena situasi mereka di sekolah sudah tidak ada harapan untuk menjadi lebih dekat, maka kita bisa membuat darmawisata yang berada di lingkungan luar sekolah menjadi sebuah peluang.

  Rencana darmawisata tersebut adalah empat hari tiga malam. Jadi misi kita kali ini adalah “Bagaimana membuat mereka menjadi sepasang kekasih dalam empat hari tiga malam” atau sesuatu yang sejenis itu. Ini terdengar seperti sebuah film Hollywood, masalahnya yaitu si pria dan wanita yang bermain di film buatan kita ini bukanlah Cameron Diaz dan Hugh Grant.

  Sederhananya, dalam waktu sesingkat itu, kita perlu menciptakan suasana dimana Ebina-san melihat Tobe sebagai pribadi yang menarik. Mungkin, ada baiknya film yang kita buat tadi kita namai ulang dengan nama“Impossible Game”.

  “Jadi, pertama, kita perlu membuat situasi dimana Tobe dan Ebina bisa sering berduaan.”

  Seperti kata Yukinoshita yang sedang menuangkan tehnya. Yuigahama lalu mengambil mugnya dan meminum tehnya, sesudah itu dia seperti menemukan sesuatu.

  “Kurasa tidak akan masalah karena sejak hari pertama kita akan pergi bersama sekelas. Kupikir grup kami akan terdiri dari aku, Hina, dan Yumiko.”

  Kedengarannya akan seperti itu. Karena mereka sudah seperti sebuah ‘gerombolan paten’, tapi mereka butuh satu orang lagi agar genap menjadi empat orang dalam satu kelompok.

  Selanjutnya, kalau kita mempertimbangkan Tobe, tapi Yuigahama langsung memotong pikiranku ini dengan kata-katanya.

  “Oke, jadi untuk para pria, akan sangat bagus jika Hikki bisa satu grup dengan Tobecchi. Dan jika kita bisa ‘mengatur’ agar jadwal di hari kedua antara grup kita sama, maka kita bisa membuat mereka berduaan dengan mudah di hari kedua.”

  “...Eh? Tidak, aku sudah janji akan satu grup dengan Totsuka.”

  Aku sudah melambaikan tanganku untuk menolak itu dan Yukinoshita kali ini mendukungku.

  “Bukankah kelompok pertemanan Tobe sendiri berjumlah empat orang? Lagipula tidak ada untungnya Hikigaya ada di grup itu dan tidak ada seorangpun yang akan senang melihat hal itu terjadi.”

  Aku harusnya berterima kasih dengan bantuan Yukinoshita ini. Tapi entah mengapa, aku tidak merasa perlu berterima kasih soal itu.

  “Yeah, kalau menuruti rencana Hikki tadi, di hari kedua hanya akan membuat mereka berdua pergi ke tempat yang berbeda. Kurasa akan lebih baik jika kita bisa mensupport mereka agar bisa berduaan di hari kedua.”

  Ketika aku sedang mencari timing untuk menolak idenya, Yukinoshita mengangguk.

  “Begitu ya. Mungkin karena Ooka dan Yamato kemarin datang kesini bersamanya dan mendukungnya, kalau kita bisa menjelaskan rencana ini kepada mereka, kurasa mereka akan setuju untuk memberikan slot grupnya.”

  “Oke, ketika tiba saatnya membicarakan grup nanti, aku akan membicarakan ini kepada mereka berdua secara pribadi.”

  Ah, ini buruk sekali. Kalau melihat ujung dari pembicaraan ini, bisa-bisa aku akan satu grup dengan Hayama dan gerombolannya. Aku harus menghindari itu!

  “Tunggu dulu, dengarkan dulu pendapatku...”

  Ketika aku mengatakan itu, Yuigahama langsung menepuk kedua tangannya dan memutuskan sepihak.

  “Oke, untuk masalah grupnya, kita bisa pisahkan mereka berempat menjadi dua. Lalu aku akan menempatkan Hikki dan Sai-chan di grup yang sama.”

  ...Oh, ngomong dong dari tadi! Kalau begini, aku sangat setuju. Ayo secepatnya lakukan itu!









x  x  x








  Kelas 2F mulai terdengar lebih berisik daripada biasanya. Mungkin alasan utamanya adalah kalau ‘siswa-siswi pentolan kelas 2’ berada di kelas yang sama, Hayama Hayato dan Miura Yumiko. Ketika keduanya sedang mengobrol bersama, akan sangat normal jika siswa-siswa di kelas ini mulai tertawa dan tersenyum lebih dari biasanya.

  Tapi hari ini memang kuakui kita satu level lebih ramai daripada biasanya.

  Alasan terkuatnya adalah karena pembagian grup di darmawisata. Satu jam kita habiskan untuk mendiskusikan tempat tujuan yang akan dikunjungi bersama di hari pertama, meski sebenarnya, pembagian grup ini tidak diperlukan karena kenyataannya tidak menghabiskan banyak waktu.

  Mereka yang sudah punya teman secara otomatis berada dalam satu grup. Dan sekarang, situasi mencari grup ini seperti sebuah siksaan bagi seorang penyendiri. Sebuah waktu yang memang disiapkan untuk mereka yang tidak punya grup.

  Dengan Yuigahama berbicara kepada Ooka dan Yamato, grup pertemanan mereka dipecah menjadi dua. Lalu terbentuklah sebuah grup darmawisata yang terdiri dari aku, Totsuka, Hayama, dan Tobe. Lucunya, ini adalah grup yang sama ketika menjalani perkemahan musim panas lalu.

  Karena grup sudah diputuskan, saatnya untuk mengobrol tiba.

  Di dekat mereka terdapat grup Yuigahama yang sedang mencari anggota terakhir mereka untuk darmawisata.

  “Kita cuma butuh satu orang lagi.”

  Ketika Yuigahama mengatakan itu, Miura memainkan rambutnya dan menjawab.

  “Bisakah grup kita hanya terdiri dari tiga orang saja?”

  Dia mungkin sangat lelah mendiskusikan siapa orang keempatnya. Ebina-san lalu menepuk pundak Miura dari belakang.

  “Heyloooo~!”

  “Ah, Hina. Soal grup yang harus empat orang...”

  Yuigahama dan diriku menoleh ke arah Ebina-san.

  Ebina-san lalu menyebut sebuah nama yang diluar ekspektasi semua orang.

  “Bagaimana kalau orang keempat itu si Sakisaki?”

  Ketika mendengar nama Sakisaki disebut, Kawasaki menoleh kepadanya dengan wajah yang memerah.

  “A-aku tidak benar-benar butuh grup...dan jangan panggil aku Sakisaki!”

  “Ayolah, kami sendiri tidak masalah denganmu, jadi kenapa kau tidak gabung disini saja?...Ah, grup kami ini nantinya akan jalan bareng dengan grup pria yang disana loh, kalau kamu tidak keberatan.”

  Yuigahama mencoba menjelaskannya kepadanya, lalu dia melihat ke arah kami.

  “Ah, begitu ya.”

  Yang menjawab itu bukanlah Kawasaki, tapi Ebina-san. Dia lalu melihat ke arah kami. Pandangan matanya sangat tajam. Dia tampaknya mengamati grup kami dengan teliti.

  “Apa kamu serius akan jalan bareng dengan grup cowok?”

  Ketika Kawasaki bertanya, Ebina-san merespon. Tatapan tajam yang dia arahkan kepada kami sudah hilang dan Ebina-san tiba-tiba sangat senang, lalu dia berkata.

  “Tentu saja, aku super setuju, kita akan melihat Hayama x Hikitani yang intim sepuas kita! Kita akan bisa melihat HayaHachi di Kyoto!”

  Jadi dia dari tadi melihat ke arah grupku ini karena alasan itu, gadis ini...

  “Apa maksudmu tadi? Lagipula, Hikitani itu...”

  Kawasaki mengatakannya sambil melirik ke arahku. Lalu dengan kecepatan yang super cepat, dia langsung memalingkan pandangannya kembali ke Ebina-san.

  “Eh, Hi-Hikitani yang kau maksud itu adalah dia? Mu-mustahil, mustahil lah, mustahil dia begitu!”

  “Ohoo. Tidak apa-apa, pertama-tama, memang awalnya orang awam tidak akan membayangkan kalau pasangan semacam itu memang nyata. Tapi kalau kau amati baik-baik, nantinya akan terlihat masuk akal! Atau, begitulah akhir kisah mereka. Sebenarnya, ketika Hayato menatapnya dengan tatapan yang hangat, wajahnya tampak penuh dengan cinta.”

  “Peduli amat dengan Hayama!”

  Ketika Kawasaki mengatakan itu, seketika terdengar suara kursi dihentakkan.

  “Ha? Coba kau ulangi lagi yang barusan?”

  Tiba-tiba, udara di sekitar sini berubah menjadi sesak. Tampaknya Kawasaki memancing amarah dari Ratu Miura.

  Lalu dia menggebrak mejanya seolah-olah menantangnya.

  Tapi, Kawasaki hanya membetulkan posisi rambut ponytailnya dan menatap Miura dengan cuek.

  Orang yang menodongkan pistolnya dahulu, sama seperti kasus tempo hari dengan Yukinoshita, orang itu adalah Kawasaki.
[note: Vol 2 chapter 4, Kawasaki duluan yang memancing emosi Yukinoshita dengan menyebut Yukinoshita hanyalah gadis bergelimang uang yang tidak tahu sulitnya menjadi orang bawah.]

  “Kubilang peduli amat dengan dia. Mungkin kau harus membersihkan telingamu sesekali?”

  “Ha?”

  “Ah?”

  Pertempuran final, pertempuran terakhir, super ultimate battle! Benar-benar menakutkan, serius ini...

  “Se-Sekarang. Ngomong-ngomong, mari kita berdamai karena kita akan satu grup nantinya...”

  Yuigahama mencoba menengahi dan berusaha untuk membatalkan pertempurannya.

  Aah, begitu ya. Meski Kawasaki memang cantik dan manis, aku paham mengapa dia tidak cocok berada di grup Miura. Baik Kawasaki dan Miura punya kepribadian yang sensitif sehingga keduanya akan bentrok.

  Aku sekarang benar-benar tidak ingin pergi bersama grup mereka di darmawisata nanti...








x Chapter III | END x

Menuju Chapter IV






  Alasan Tobe menyukai Ebina, karena melihat sisi lain Ebina yang tidak seperti biasanya.

  Hachiman-pun menyetujui hal tersebut.

  Dan Hachiman mengalaminya sendiri di chapter 6 sepulang dari Restoran Ramen Tenka Ipin, bersama Yukino.

  ...

  Kesan Ebina kepada Tobe, menurut Yui, sebagai pria baik...

  Ini mengingatkan kembali kepada vol 5 chapter 6, ending chapter dimana Yui bercerita tentang bagaimana Hachiman yang baik dan suka menolong, meski kejadian kecelakaan itu tidak pernah terjadi.

  Sebenarnya, ini sederhana. Jika jeli, posisi Yui  ke Hachiman saat ini sama seperti Tobe ke Ebina.

  ...

  Sungguh ironis.

  Ketika Yukino, Yui, Tobe, dan Hachiman kebingungan tentang tipe pria seperti apa yang disukai oleh Ebina. Padahal, tipe pria yang disukai Ebina itu ada di depan mereka semua...

  ...

  Jelas Saki langsung menyangkal gosip Hachiman yang gay dengan Hayama. Karena, di Festival Budaya lalu, Hachiman menembaknya. Itu artinya, Hachiman jelas-jelas memiliki selera yang normal, yaitu menyukai lawan jenis.

  ...

  Ebina jelas membawa Saki karena hendak memanfaatkannya.

  Saki memiliki hubungan buruk dengan Miura. Dan seluruh grup pertemanan mereka tahu kalau Miura itu dekat dengan Tobe. Bahkan, di vol 4 chapter 5 Totsuka mengira Tobe menyukai Miura karena kedekatan mereka. Dengan adanya Saki di grupnya, Ebina punya pion untuk digerakkan jika Miura tiba-tiba aneh dan membantu Tobe.

  ...

  Perlu digarisbawahi disini, kalau Ebina sudah bertemu empat mata dengan Hayama di chapter 1.

  Artinya, rencana Hayama yang membawa Tobe ke Klub Relawan jelas-jelas sudah diketahui oleh Ebina.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar