Senin, 09 November 2015

[ TRANSLATE ] Qualidea of The Scum Chapter 4 : Kusaoka Haruma


x   x   x








  Aku bukanlah seorang gentleman ataupun seseorang yang menjunjung tinggi hak perempuan...

  Hanya saja begini ceritanya: Ketika dia menangis di depan rumahku, dia berhasil mengambil fotoku dengan kamera.  Jadi ini wajar jika aku membantunya. Dia bahkan tidak menghapus air matanya itu; dia langsung menyeretku untuk langsung ke pekerjaan kita hari itu. Apa dia ini sebenarnya seorang pengacara atau bagaimana?

  Karena aku tidak begitu tahu tempat yang dituju, aku berjalan sambil memegangi lengan Chigusa di keramaian ini.

  ...Lengan Chigusa sangat kecil dan kurus.

 
  Sebenarnya, tidak bisa dikatakan kurus hanya tulang saja sih, aku masih bisa merasakan kelembutan kulitnya dari balik bajunya. Jika begini terus, tanganku yang berkeringat bisa-bisa menggambar peta Jepang secara otomatis di seragamnya. Jadi, tidak lama kemudian aku melepas peganganku. Sekarang, tercipta jarak diantara kita. Karena aku sendiri tidak paham untuk apa kita kesini, jadi aku memilih untuk bertanya saja kepadanya.

  “Ngomong-ngomong, kita kemana?”

  “Kita akan ke Burger MOL, Haruma-san.”

  Kenapa gadis ini memanggilku dengan nama depanku? Apa karena poin diriku sudah naik? Kalau begitu, apakah aku seharusnya memanggil dia dengan nicknamenya: Johannes? Meski begitu, tidak ada satupun bagian diriku yang berkeinginan untuk memberikan Johannes poin...Kalau begitu, memanggilnya Chigusa mungkin adalah pilihan terbaik, meskipun memanggil Chigusa dengan ‘Chibusa’ tampaknya lebih cocok, mungkin akan terdengar memalukan! Bukankah itu wajar jika aku seorang pria yang beranjak dewasa?
[note: Chibusa bisa berarti payudara.]

  Jadi, begitulah...Itulah mengapa aku berbicara kepadanya tanpa memanggil Chigusa.

  “Kalau kau sedang membicarakan makanan, maka aku barusan saja makan di rumah.”

  “Oh bukan. Aku ingin mendengar cerita dari Anna-san.”

  Memang, yang dikatakan Chigusa terdengar normal-normal saja, tapi aku benar-benar tidak tahu siapa Anna-san itu. Apa itu semacam lagu yang lagi trend dari Band Kai?

  Ngomong-ngomong, bukankah ini tidak baik jika membuat janji dengan Anna-san tanpa memeriksa apakah aku sibuk atau tidak? Tidak lupa Chigusa juga bersikap seperti aku sejak tadi memang mau untuk membantunya.

  Apa ada seorang gadis yang bisa menyaingi kecantikan dan aura dari Chigusa? Gadis seperti Chigusa pasti akan dibenci oleh komunitas sosial para gadis, jika bersekolah pastinya di mejanya pasti banyak coretan kebencian. Mau bagaimana lagi, resiko gadis berwajah cantik. Jadi sekarang, apakah Anna-chan yang akan kita temui ini adalah salah seorang pembencinya?

  Berjalan dengan beberapa langkah di belakang Chigusa, aku berjalan menyusuri suasana malam kota yang sangat ramai. Mungkin karena ini adalah jam pulang kantor. Meski memiliki tampilan seragam dari sekolah yang sama, kami berdua tidak melakukan percakapan apapun, plus pikiranku dipenuhi bermacam-macam perasaan yang aneh.

  Karena tidak ada kegiatan apapun selain berjalan, aku melihat ke HP-ku. Ketika aku menyentuh layar HP-ku, aku mencoba melihat lagi SMS dari Chigusa untuk kedua kalinya.

  Apa-apaan ini...Semakin kulihat, SMS ini semakin menyeramkan. Wow, hanya membacanya sekilas, aku sudah merasa ketakutan dan bulu kudukku berdiri, seperti membaca SMS yang memiliki genre horor. Berdebar-debar, terkejut, dan ketakutan. Setiap aku membacanya, umurku seperti berkurang beberapa bulan.

  Dari SMS menyeramkan itu, ada satu frase yang menarik perhatianku: “Persimpangan Misterius”. Apakah ini semacam hal-hal dari film Twilight?

  “Jadi dia terperangkap di persimpangan misterius dan menghilang, begitu?” aku menggumamkan itu.

  Aku tidak begitu tahu tentang ‘persimpangan misterius’ ini.  Sepertinya, ini semacam mitos tentang suatu tempat. Bukannya tidak ada yang menceritakan mitos itu, tapi tampaknya semua orang di dekatku belakangan ini bercerita tentang mitos ini.

  Jadi sederhananya begini: Jika aku tidak menyelesaikan masalahnya, maka aku tidak bisa pulang ke rumah. Jadi aku akan menyelesaikan masalah Chigusa jika bisa, dan jika itu ternyata sulit, maka aku tinggal mencari alasan sehingga dia bisa merasa maklum.

  Aku pura-pura batuk terlebih dahulu.

  “Hei, Chigusa!”

  Aku mencoba memanggilnya.

  “Bisakah aku bertanya tentang masalah yang kauhadapi secara spesifik?”

  Mendengar itu, Chigusa menyilangkan lengannya ke belakang dan membalikkan badannya. Roknya melambai-lambai, membuatku mengintip sebentar ke stocking putih di pahanya.

  “Spesifik, ya?”

  Chigusa lalu memiringkan kepalanya dan berkata.

  “Hmm...Shia-san adalah orang yang kukenal sejak lama. Dia punya anjing Schnauzer kecil dan tinggal bersama kakak laki-lakinya, dan kedua orang tuanya. Mereka tinggal di sebuah apartemen yang berjarak dua stasiun dari sekolah. Di sekolah, dia belajar senam ritmik karena pengaruh Ibunya. Meski begitu, dia tidak bisa memainkan kategori tongkat baton, bahkan tongkat baton Ibunya saja sulit dia tangkap ketika belajar senam itu. Juga, nilai-nilai akademisnya tidak bisa dikatakan bagus...mungkin lebih tepatnya sedikit di atas rata-rata. Lalu dia mulai bermasalah, dia mulai bergaul dengan teman-teman sekelasnya yang buruk, jadi nilai-nilainya akan mulai turun. Belakangan ini, dia sering ‘kelayapan’, sehingga orang tuanya dan kakaknya khawatir apakah dia memang sudah mempersiapkan dirinya untuk ujian atau semacamnya.”
[note: Ini cewek apa agen CIA?]

  “O-Oke...”

  Aku semacam terpuaskan dengan penjelasan panjang lebar tersebut. Lagipula, siapa Shia-chan? Semacam mentega? Apa...? (Hei kalau dia terbuat dari mentega, pasti kulitnya lembut).

  Ngomong-ngomong, aku tidak ingin tahu siapa Shia-chan. Yang ingin kutahu adalah tentang persimpangan misterius itu...Serius nih, yang tadi itu informasinya terlalu banyak!

  Aku terus menatap ke Chigusa, tapi dia terus melanjutkan kata-katanya.

  “...Shia-san adalah temanku yang paling kupercayai dan aku mempercayakan hal-hal berhargaku kepadanya. Oleh karena itu, aku harus membawanya kembali.”

  Chigusa mengatakannya dengan wajah serius. Matanya memang menggambarkan sebuah kesedihan yang mendalam.

  “Well, memang sih, akan terdengar mengkhawatirkan sekali jika dia tidak kembali lagi...”

  “Memang. Dia sudah membuatku khawatir seperti ini...Dia tidak ada ketika aku menekan tombol rumahnya, dan dia tidak pernah menjawab telponku kemarin, meski aku sudah mencoba menelponnya semalaman...”

  Chigusa menceritakannya dengan sesenggukan dan hendak menangis lagi. Ketika melihat hal semacam ini, bahasa tubuhnya itu sungguh cantik dan membangkitkan perasaanku seolah-olah ingin melindunginya. Tapi jika mengingat kembali SMS darinya dan melihat dirinya yang sekarang, malah terlihat lebih menakutkan lagi...

  Bahkan Chigusa menunjukkan kepeduliannya.

  “Kalau dia benar-benar tidak kembali, maka aku benar-benar kehilangan sesuatu yang sangat berharga.”

  Lalu dia mengatakan hal yang lebih jauh lagi.

  “Membayangkan dirinya menjadi korban insiden yang direncanakan oleh sebuah organisasi tertentu membuat hatiku terasa sakit...”

  Ketika melihat Chigusa yang memegangi pita di dadanya itu, terlihat seperti kiamat sudah dekat saja. Yang bisa kupikirkan adalah, dengan mengesampingkan motifnya melakukan bahasa tubuh itu, kupikir aku sendiri tidak keberatan untuk membantu menyelesaikan masalahnya.

  “Hmm, bagaimana ya...”

  Aku seperti kesulitan hendak mengucapkan apa.

  “Ngomong-ngomong, sebenarnya aku ingin bertanya apa sebenarnya ‘persimpangan misterius’ itu?”

  Chigusa memiringkan kepalanya seperti kebingungan, ekspresinya seperti sedang berkencan dengan Armadillo saja.

  “Persimpangan misterius?”

  “Umm, itu loh, yang kamu tulis di SMS.”

  Hah? Jadi itu bukan persimpangan misterius? Atau mungkin yang kau bahas adalah Gundam X-road?

  “Ah, itu ya?”

  Chigusa mengatakannya dengan agak ragu, dia menyelipkan kata-kata “umm...” dan “uhs...”. Err, bukankah dia yang mengajakku dengan alasan itu?

  Persimpangan misterius.

  Kalau menurut yang kudengar, jika kamu datang ke sebuah persimpangan jalan tengah malam sambil berpegangan tangan dengan pacarmu, maka jalan yang keempat akan terbuka secara misterius. Kalau kamu memilih menuju ke jalan yang misterius itu, kamu tidak akan bisa kembali lagi selamanya...atau semacam itu.

  ...Apa dia semacam idiot atau bagaimana? Ini semacam permainan yang dilakukan oleh anak SMP saja. Jika memilih jalan yang salah, kamu tidak akan bisa kembali...Apa-apaan itu?

  Ataukah mitos itu sebenarnya hanyalah sebuah metafora kehidupan? Ketika kamu memutuskan untuk melepas masa lajangmu, lalu kamu dihadapkan dengan berbagai jalan hidup yang harus kau pilih?

  Kalau begitu, pastinya banyak sekali orang yang memilih jalan yang salah dan tidak bisa kembali lagi setelah menyesalinya.

  Ya seperti itulah. Tapi sekarang, aku benar-benar ingin pulang saja.

  Menurut pendapatku, orang-orang yang punya skill sosialisasi yang bagus tidak pernah merasa punya alasan kuat untuk pulang ke rumah. Kemampuan untuk membaur dengan orang-orang mungkin adalah dasar dari komunikasi, jantung dari hubungan antar manusia.

  Bisa dikatakan juga, ini adalah sisi gelap dari hubungan antara manusia, sosialitas, komunikasi, dan lain-lain. Dengan mengikat hubungan antar manusia, maka akan ada manusia lain yang disisihkan.

  Seperti apa yang dilakukan Chigusa Yuu.

  “Haruma-san, kesini...”

  Bahkan sekarang, Chigusa berjalan di depanku terlihat memiliki kuasa akan itu, dan ini memperkuat pendapatku tadi. Orang-orang di sekitarnya melirik ke arahnya terus. Meski begitu, suasana itu tidak mempengaruhinya. Dia berjalan begitu saja menembus keramaian orang-orang dan tiba di salah satu gedung. Ketika berdiri di depan lift, Chigusa terlihat bernapas dengan lega. Setelah menekan tombol untuk ke lantai dua, Chigusa mundur selangkah dan merapikan posisi berdirinya seperti seorang wanita yang anggun, dan lurus menatap pintu lift yang akan terbuka sebentar lagi.

  Hanya Chigusa dan diriku di dalam kotak kecil itu nantinya. Seharusnya, kami berdua akan terlihat lebih dekat dari biasanya.

  ...Ini sudah membuatku gugup.

  Kalau dipikir-pikir, ini sudah lama sekali semenjak aku terakhir kalinya berbicara kepada seorang gadis di sekolahku. Juga, jika kita bertemu dengan sengaja di luar jam sekolah, apakah ini berarti kita sedang kencan? Jika aku berada di tempat tertutup yang sama dengan seorang gadis, tanpa ragu lagi, sesuai logika, berarti kita tinggal bersama...?






x   x   x







  Whoa, betapa hitamnya, itulah yang kupikirkan ketika menggosok-gosok lantainya.

  Tentunya, kita tidak sedang membicarakan kopinya.

  Johannes tiba-tiba mengejutkanku. Dia menggebrak mejanya dan gelasnya terbalik, kopinya jatuh membasahi lantainya.

  Tisu yang kupakai untuk membersihkan lantainya kini berwarna kecoklatan, bahkan aku masih bisa merasakan panas dari kopinya ini. Mungkin tanganku akan langsung terbakar jika menyentuh kopinya langsung. Bukan hanya itu saja, kopinya tadi juga membuat noda di blus putih yang dipakai Anna-chan.

  Kamu mungkin akan berpikir normal-normal saja untuk marah jika hal semacam itu terjadi padamu, tapi anehnya si Anna-chan ini seperti memelas dan terus meminta maaf kepadanya. Ketika selesai mengelap lantainya, aku melihat ke atas lagi, Anna-chan masih menunduk meminta maaf kepadanya.

  “Aku sekarang malah berpikir kalau Shia kabur karena dikejar hutang oleh tukang kredit yang lain.”

  “...Tukang kredit yang lain, katamu?”

  Tidak ada ekspresi terkejut satupun dari wajah Chigusa ketika mengulang kata-kata tersebut. Sikapnya sangat tenang, tapi dari bawah meja, aku bisa melihat jari-jarinya mengepal. Mungkin dia memang tidak punya otot yang kuat, tapi aku bisa melihat jelas kalau lengannya bergetar hebat sambil berusaha mempertahankan kepalan tangannya itu.

  Dari pengalamanku selama ini, ini pertamakalinya aku mendengar kalau siswi sekolahku terlibat transaksi pinjam meminjam dengan lintah darat. Tapi dari mendengar kata ‘tukang kredit lainnya’, berarti lintah daratnya bisa lebih dari satu. Itu yang bisa kusimpulkan untuk saat ini.

  Meski aku jarang berbicara secara langsung dengan orang, aku ini punya daya nalar yang cukup bagus dalam mengamati percakapan antara dua orang asing. Jika kamu ingin tahu seberapa bagus diriku, aku sangat bagus hingga aku bisa menyimpulkan kalau salah satu lintah darat tersebut: tidak lain adalah Chigusa Yuu.

  ...Maksudku, coba lihat adegan saat ini, sikap dan minatnya terhadap masalah ini mengatakan semuanya!

  Itulah yang terjadi, Chigusa sendiri tampaknya tidak peduli hal itu, jadi kupikir yang terbaik adalah aku pura-pura tidak dengar apapun...Jika aku tidak begitu, maka aku bisa saja jadi korban kopi yang kedua untuk hari ini.

  Kau harusnya diam saja jika orang lain tidak ingin mendengar jawabanmu.

  Ada dua hal penting agar pembicaraan berjalan lancar. Pertama, jangan berbicara hal yang tidak ditanyakan kepadamu. Kedua, jangan tanyakan hal yang tidak ingin orang lain katakan. Jika kamu ikuti dua aturan itu, debat dan konflik akan bisa dihindari. Bahkan, mungkin saja pembicaraan tersebut urung dilakukan.

  Perasaan, sudut pandang, dan imajinasi terikat dalam ranah individu. Menyentuh topik-topik tersebut berarti menginjak area orang lain. Dan ini bisa berarti perang, serius ini!

  Ini adalah era dimana orang harusnya menerapkan kebijakan untuk mengisolasi dirinya sendiri demi menghindari adanya konflik dengan orang lain. Ya, ini adalah prinsip sebuah kedamaian? Tidak, kurasa ini adalah cara yang sudah kuno.

  Meski begitu, gadis yang bernama Chigusa Yuu tampak tidak tertarik akan hal itu. Dia lalu mencondongkan posisi badannya, seperti mengisolasi Anna-chan demi sebuah jawaban. Tangannya memegang HP di meja.

  “Anna-san! Beritahu aku lebih jauh!”

  “Be-beneran! Aku tidak tahu lagi! Hentikan itu, aku serius ini...”

  Anna-chan tampak lemas, tapi jari-jari Chigusa tetap memegang HP-nya. Bahasa tubuhnya seperti mengatakan : Kamu tahu apa yang akan terjadi kalau kamu tidak segera mengaku?

  “Tidak apa-apa. Tidak ada orang yang menakutkan disini.”

  Chigusa berusaha membuatnya bicara, tapi bahu Anna-chan tampak ketakutan. Yep, senyum si Johannes ini tampak menakutkan sekali...

  Lebih dari itu, ini sangat menakutkan melihat orang bisa mengintimidasi orang lain dengan hanya sebuah senyuman kecil dan kata-kata yang hangat. Aku pernah melihat senyuman yang berarti amarah di TV, tapi senyuman yang berarti ancaman merupakan sebuah karya seni yang baru pertama kali ini kulihat...

  Sayangnya, karya seni Chigusa ini membuat Anna-chan ketakutan sehingga pembicaraannya hanya berputar-putar saja.

  “Memangnya siapa tukang kredit lainnya yang kau katakan tadi? Apa kau kenal dia?”

  Aku mencoba membuat suasananya mengalir.

  Anna-chan lalu melihat ke arahku, dia merasa lega dengan sikapku. Ini pasti yang orang-orang sebut ‘Efek Suspensi Jembatan’. Eh, bukankah ini berarti dia akan jatuh cinta kepadaku?

  “Tolong beritahu kami detailnya.”

  Seketika, Chigusa mengatakan itu dan Anna-chan kembali lemas.

  Kalau nadanya seperti itu, maka percakapan ini hanya akan berputar-putar...Aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah...

  “Kau tidak perlu memberitahu dengan detail.”

  Aku mencoba menengahi percakapan antara Chigusa dan Anna-chan. Lalu aku melanjutkan.

  “Apakah ada sesuatu yang membuatmu ragu untuk menceritakannya?”

  Anna-chan tampak mengumpulkan segenap ingatannya, lalu mulai berbicara dengan gugup.

  “Sekitar dua minggu lalu, kamu tahu, Shia dan diriku membicarakan tentang bagaimana kita bisa membeli baju renang musim panas kita. Meski dia mengatakan kalau dia tidak punya uang dan tidak bisa membeli itu, dia tiba-tiba berubah pikiran sepulang sekolah. Saat itu, dia sangat senang dan menunjukkan kepadaku uangnya, ketika kutanya darimana, dia mengatakan kalau dia mendapatkannya dari sumber yang spesial...”

  Ya ampun, jadi begitu ya. Masuk akal sih kalau dia menunjukkan uang itu dengan senang. Pertanyaannya, dia dapat uang itu darimana? Disitu adalah hal yang terpenting dan itu tidak ada dalam ceritanya.

  “Cukup aneh...”

  Chigusa lalu mengatakan itu secara tiba-tiba setelah mendengarkannya dari tadi. Atau dia masih diganjal sebuah pertanyaan seperti diriku barusan? Dia masih tersenyum seperti biasanya, tapi matanya berkedip-kedip secara aneh. Aku bisa tahu kalau dia marah, melihat suasana mejanya saja sudah mencerminkan hal itu.

  Seperti tahu apa yang dimaksud, Anna-chan tiba-tiba mengangguk setuju.

  “Y-Yeah...Tidak ada yang bisa meminjamkan uang ke Shia, tapi...”

  Chigusa lalu memotongnya.

  “Kupikir, sebelum mentraktir orang lain, dia harus mengembalikan dulu uang yang dia pinjam. Itu akan menunjukkan kalau dia adalah warga kota yang baik. Tapi, Shia-san cukup aneh...Maksudku, dia mungkin sudah salah paham tentang banyak hal. Sebagai seorang teman, aku ingin mengobrol dengannya langsung, obrolan yang sangat panjang.”

  Oh, jadi itu maksudnya...

  Tapi kau tahu, Johannes. Aku cukup yakin kalau kau tidak akan sekedar mengobrol dengannya, melihat seberapa anehnya dirimu! Bukankah Chigusa bisa memutarbalikkan cerita seperti para Yakuza atau Pebisnis dunia hitam?

  “Jika itu terjadi seusai jam sekolah, artinya dia dapat uang itu dari seseorang yang berada di dalam sekolah,” kataku. “Itulah bagian anehnya.”

  “...Lalu bagian anehnya dimana?”

  “Loh ya...Apa kamu tidak tahu sekolah itu buat apa?”

  “Itu adalah tempat dimana kamu berhubungan dengan orang lain yang tidak akan bisa terjadi tanpa persetujuan kedua belah pihak. Bila itu terjadi tanpa persetujuan, maka itu sebuah kemunduran. Tapi, jika hubungan itu melibatkan uang, maka kamu bisa menciptakan sistem keuangan tanpa melanggar aturan yang disepakati.”

  Chigusa menjelaskan itu dengan menyertakan kebenaran-kebenarannya, wajahnya cukup to the point ketika mengatakannya.

  “Umm, oke. Benar...lanjutkan!”

  Ini sebaiknya dilanjutkan saja tanpa perlu diinterupsi. Tapi, sekolah harusnya tidak difungsikan seperti bank. Itu adalah sebuah tempat yang seharusnya dihormati, jadi aku tidak bisa membayangkan kalau seseorang bisa memanfaatkannya untuk transaksi keuangan. Plus, kamu tidak akan berpikir kalau akan ada orang-orang yang mengacaukan keuangan anak-anak sekolah ini dan membuatnya menjadi ladang bisnis. Masalahnya, Chigusa bukanlah satu-satunya orang yang melakukannya...Serius nih, aku tidak tahu apa yang ada di pikiran para lintah darat ini.

  Well, untuk tahu seseorang, maka kau butuh seseorang yang mirip untuk mengatakannya. Debu untuk debu, abu untuk abu. Jika ingin menjadi Caesar maka kau harus melakukan hal seperti Caesar. Mari kita dengarkan khotbah yang akan dikatakan sang lintah darat, Johannes-kun.

  Maksudku, tidak ada gunanya memikirkan tentang moral yang ada pada gadis ini. Kalau aku saat ini tidak bisa memahami pemikiran orang yang normal, apa aku bisa memahami pemikiran orang yang kurang normal?

  Mungkin, aku bisa menikmati percakapan dengan Anna-chan, yang masih terlihat memiliki beberapa tanda orang normal dari dirinya.

  “Jadi, apa kamu tahu Shia-chan ini sebelum bertemu denganmu sepulang sekolah, dia habis darimana?”

  “Seperti yang Haruma-san katakan tadi. Apa kamu tahu Shia-san kemana saja hari itu? Kalau bisa sekalian dengan berapa uang yang dia pinjam dan bunganya berapa persen, aku ingin tahu soal itu juga.”
[note: Ampun gaaan...]

  Chigusa berusaha berbicara seperti orang normal, tapi dia berbicara dengan nada yang memaksa dan menekan.

  Anna-chan ketakutan, seperti terpengaruh dengan tekanan dari Chigusa.

  “Aku tidak tahu dia pinjam berapa dan berapa bunganya. Tapi, kupikir dia berada di ruang konseling, mungkin saja...Ketika kita bertemu sebelum berbelanja, dia berjalan menemuiku dari arah ruangan itu...”

  Ruang Konseling berada di lantai pertama gedung sekolah. Ruangan yang kecil dan terletak tidak jauh dari pintu masuk sekolah. Itu adalah tempat yang biasa digunakan untuk membimbing siswa yang memiliki masalah. Tapi, mayoritas siswa disini punya nilai-nilai yang bagus, jadi cukup jarang melihat para siswa keluar masuk ruangan itu.

  Di sebelah ruang konseling adalah ruang guru. Kedua ruangan ini punya pintu yang saling menghubungkan. Jadi, ini memang sengaja dibuat begitu untuk memudahkan guru untuk berpindah ruangan ketika memanggil siswa.

  Ketika aku masih kelas satu, seorang guru berbadan besar memanggilku ke ruang konseling dan berkata “Apa ada sesuatu yang menghambatmu? Kamu tidak kena bully atau semacamnya?”. Kata-katanya yang menyejukkan, dan kehangatan ruang konseling yang kurasakan dengannya meninggalkan kesan berarti bagiku. Tunggu, bukankah guru itu sedang membujukku untuk diam agar kasus bully tidak menyebar? Sial, ingatan yang buruk...

  “Pintunya memang tidak terkunci ketika jam sekolah?”

  Kalau dipikir-pikir, guru itu seperti ada kegiatan lain ketika memanggilku, jadi aku masih ingat kalau aku harus menunggu sekitar 20 menit di lorong atau semacam itu.

  “Kupikir itu adalah ruangan yang terkunci...Tapi kupikir yang kulihat itu adalah Shia terlihat keluar dari arah itu atau semacamnya...”

  Anna-chan membalasnya dengan nada yang kurang meyakinkan. Ketika dia terus berpikir, keterangannya mulai berubah-ubah. Memang, aku sering mendengar kalau keterangan saksi mata tidak bisa 100% benar.

  “Siswa tidak bisa begitu saja kesana. Bisa jadi dia keluar menemuimu dari tempat lain.”

  Aku mengatakannya ke Anna-chan, kuharap dia bisa berpikir dari sudut pandang yang lain.

  Ketika itu, sebuah suara muncul dari sebelah kiriku.

  “Tidak, jika dia punya kunci ruangan itu, maka kondisi ruang tertutup menjadi tidak valid.”

  “Huh?”

  Ketika aku melihat asal suara itu, Chigusa sedang menaruh jarinya di bibirnya, terlihat seperti kebanyakan orang ketika berhasil memecahkan misteri.

  “Coba pikir. Selama punya kuncinya, siapapun bisa masuk kesana. Jika ada pintu, kupikir kau tidak bisa mengatakan itu adalah ruang tertutup.”

  Aku lalu membenarkannya. “Kau benar.”

  Cukup masuk akal.

  Cara Chigusa menganalisis sesuatu membuatku berpikir kalau dia merupakan spesies yang berbeda. Apa yang kau harapkan lagi dari seseorang yang tidak normal?

  Tapi, aku masih terganjal dengan apa yang Chigusa katakan: Selama kamu punya kunci ruangan itu.

  Para guru punya akses ke kunci ruangan itu, juga penjaga sekolah beserta Wakil Kepala Sekolah. Mereka adalah orang-orang yang terlihat normal masuk ke dalam ruangan itu. Well, bukannya ingin menyalahkan orang-orang yang punya kemampuan menggunakan kunci palsu, ahli bongkar kunci, tapi jika ada maka itu memang sebuah kejahatan jenis baru. Langkah pertama adalah memasukkan siapa saja yang punya akses ke kunci tersebut dan memikirkannya. Kurasa, itu yang bisa kita pikirkan saat ini.

  Aku sudah mengatakan apa yang ingin kukatakan, jadi aku melihat ke arah Chigusa, mentransfer pikiranku yang mengatakan ingin segera pulang (“Apakah aku bisa pulang sekarang”, “Bisakah kita pulang?”, “Aku lelah sekali, ingin menguap rasanya”).

  “Anna-san, terima kasih sudah menceritakan itu kepada kami.”

  Tiba-tiba, Chigusa membungkukkan badannya. Ini membuat Anna-chan tidak tahu harus bersikap apa.

  “Err, umm, uh, tentu...”

  Dari caranya berbicara, dia tampaknya sudah meyimpulkan sesuatu. Awwwyesss! Aku bisa pulang! Ketika aku mulai kegirangan, Chigusa lalu menarik lengan jasku.

  “Kita ini baru saja mulai. Aku ingin tahu sejauh mana gosip ‘Black Market’ yang biasa menggunakan ruang konseling sebagai tempat pertemuannya menyebar di kalangan siswa. Kalau menurut informanku, info itu menyebar dari mulut ke mulut, kalau begitu aku ingin tahu bagaimana bisnis itu berjalan. Apa mereka terus mencari pelanggan baru atau hanya mengandalkan pelanggan lama mereka saja? Cara bisnis mereka seperti apa?”

  “A-aku tidak tahu...”

  “Aku tidak suka info yang setengah-setengah! Anna-san, maukah kamu menjadi mata-mata kami dengan meminjam uang ke mereka? Ingat, kamu juga punya tanggung jawab soal masalah ini!”

  Chigusa lalu berusaha menekan Anna-chan, membuat gadis itu menjadi ketakutan lagi.

  Caranya meminta tolong dengan meledak-ledak itu tidak akan menghasilkan apapun. Ya ampun, kita akan mulai lagi dengan ini...Bahkan membaca brosur-brosur yang menempel di nampan ini masih jauh lebih berguna daripada itu.

  “...Aku akan memesan kopi lagi.” Aku mengatakannya sebelum pergi ke kasir, berusaha membuat kakiku pergi menjauh dari tempat itu.







x   x   x







  Dalam perjalanan pulang ke Stasiun, Chigusa berjalan di depanku  menembus malam yang semakin gelap.

  Dia yang mengajakku keluar, setelah ini kita berpisah, dan kami sudah sepakat untuk bertemu lagi besok. Semangatnya itu bisa terlihat dari rambut panjangnya yang bergerak kesana-kemari seperti kelinci yang melompat.

  Aku melihat ke arah punggungnya, sambil menggumam. Aku melakukan pekerjaan buruk ini dengan sukarela, huh?

  Aku merasa ada sesuatu yang cukup ambigu, tapi itu bisa memicu konflik antara diriku dan Chigusa. Kami berdua berasal dari dunia yang berbeda, seperti siang dan malam.

  “Hei, Chigusa.”

  Aku memanggilnya.

  “Ya?”

  Chigusa lalu membalikkan badannya tiba-tiba, membuat roknya berkibar-kibar.

  “Kupikir ada semacam perbedaan yang cukup jelas tentang apa yang sudah kita katakan satu sama lain.”

  “Aku setuju itu. Karena kita awalnya tidak begitu mengenal baik, kupikir hal-hal semacam itu adalah hal yang lumrah. Tapi, jika pada akhirnya kita tidak benar-benar sepakat akan suatu hal, kupikir tidak masalah jika hanya aku sendiri yang memahamimu, Haruma-san!”
[note: Chigusa maunya apa yang dia katakan soal Haruma harus Haruma akui benar, alias Chigusa maunya menang sendiri.]

  Chigusa mengatakannya dengan mata yang berbinar-binar seperti hendak menangis saja, tapi yang dia katakan tadi itu seperti kata-kata seorang psikopat. Matanya seperti seorang anak kecil yang sudah terpatri dengan sebuah agama baru yang radikal.

  Oh, dan tidak lupa seperti katanya tadi. Aku memang sudah menyerah untuk berusaha memahaminya. Bahkan, aku secara sadar bahwa tidak ada satupun dari bagian dirinya yang ingin kupahami...

  Selain fakta bahwa aku memang tidak berminat untuk memahaminya dalam waktu dekat, aku memang telah menyadari kalau ada sesuatu yang kita pahami bersama...Untuk kali ini, aku setuju dengannya! Bahkan, ini tidak sekalipun menyelesaikan masalah diantara kita.

  Chigusa kemudian melanjutkan jalannya seperti seekor anak rusa, berjalan ceria sambil menyanyikan sesuatu. Ketika dia diam, dia memang terlihat seperti seorang model majalah yang wajahnya ada di sampul depan. Mustahil aku bisa mengerti apa yang ada di kepala ataupun hatinya, tapi seberapa bagusnya penampilannya, akan ada beberapa hal yang tidak bisa mengelabuhiku.

  Ketika aku berjalan di belakangnya, gedung-gedung yang berdiri di samping kami seperti memberikan cahaya lampunya kepadanya, dan orang-orang yang lewat di sekitar kami terlihat membicarakannya seperti menjadi pusat perhatian mereka. Pemandangan malam kota ini cukup familiar dan terasa lembut di mataku, setidaknya mereka tidak pernah membuatku terganggu.









- Chapter IV | Haruma's Part | END -






1 komentar: