Sabtu, 28 November 2015

[ TRANSLATE ] Oregairu Vol 7 Chapter 2 : Tidak ada yang tahu alasan sebenarnya dari mereka yang datang ke Klub Relawan

x Chapter II x







  Bunyi berisik terdengar dari pemanas air di ruangan ini. Yukinoshita, yang mendengar bunyi air telah mendidih, mulai menutup majalah yang dibacanya. Mungkin ini yang kau sebut dengan telinga anjing. Tapi Yukinoshita yang pecinta kucing mungkin akan mengatakan “itu bukanlah telinga anjing, tetapi telinga kucing Scottish Fold”. Sekedar info saja, Scottish Fold adalah sejenis kucing peranakan langka yang memiliki ciri khusus dimana mereka bisa melipat telinga mereka seperti anjing.

  Yukinoshita menaruh majalahnya di atas meja, berdiri, dan berjalan menuju pemanas air tersebut.

  Yuigahama, yang sedang bermain dengan HP-nya, mengatakan sesuatu ke Yukinoshita dengan tatapan mata yang penuh dengan ekspektasi.

  “Yay! Waktunya snacks!”

  Setelah itu, Yuigahama mencari-cari sesuatu di tasnya dan mengeluarkan beberapa kue pendamping teh. Sedang Yukinoshita sendiri mulai menyiapkan tehnya.

  Sebuah cangkir yang elegan terlihat disiapkan di atas meja. Juga ada sebuah mug dengan gambar wajah anjing.

  Mendekati akhir musim gugur, kau mulai melihat tanda-tanda musim dingin mulai mendekat dengan sangat jelas. Ketika aku sedang membaca buku, aku melirik ke arah Yukinoshita yang sedang menuangkan teh hitam.

  Ketika teh yang panas itu tertuang, aku melihat daun tehnya serasa menari kesana kemari. Gerakan menari itu seperti menggambarkan salju yang meleleh secara perlahan-lahan, dan akhirnya daun teh tersebut tenggelam ke dasar.

  Setelah Yukinoshita menuangkan teh ke mug, dia tiba-tiba terdiam. Dia menaruh tangan yang tidak memegang teko teh itu di dagunya seperti sedang memikirkan sesuatu, setelah itu dia mengambil sebuah gelas kertas yang ada di dekatnya dan menuangkan teh ke gelas tersebut.



  Seperti sedang meragukan sesuatu, dia menatap ke arah gelas kertas tersebut dengan pandangan matanya yang dingin. Setelah itu dia menaruh teko tehnya.

  Yukinoshita mengambil cangkir dan piring cawannya, lalu membawanya ke tempat duduknya. Yuigahama yang berada di sebelahnya, mengambil mug tehnya sambil tetap memegang HP di tangan satunya.

  Gelas kertas yang terisi teh tersebut tidak ada seorangpun yang mengambilnya. Uap tehnya seperti seorang anak kecil yang mencari orang tuanya.

  “Tehnya...kalau tidak segera diminum, nanti akan cepat dingin.”

  “...Aku punya ‘lidah kucing’.”
[note: Lidah kucing atau nekojita adalah sebutan orang yang punya lidah tidak tahan makanan ataupun minuman yang sangat panas.]

  Lagipula, dia memang tidak menanyakan dulu apakah aku mau teh atau tidak. Tapi, aku bukanlah pria yang akan menolak seseorang yang sudah membuatkanku sesuatu.

  Aku akhirnya mengambil gelas tersebut dan berpikir mungkin saat ini sudah tidak terlalu panas.

  Sambil meniup-niup gelasnya dan meminumnya sedikit, Yuigahama yang memegang mugnya mulai membuka pembicaraan.

  “Oh ya, sebentar lagi kita akan darmawisata.”

  Alis Yukinoshita tampak merespon kata-kata tersebut. Suasana di kelasku sendiri juga seperti itu. Tampaknya suasana darmawisata di kelasku ini telah mencapai Klub Relawan melalui perantara diriku.

  “Apa kalian sudah memutuskan akan kemana?”

  “Kami akan memutuskannya nanti.”

  “Kalau aku sih, ya tergantung para pria di grupku saja.”

  Darmawisata bagiku, hanyalah sebuah kegiatan ‘memindahkan keseharianku’.

  Para pria di grupku pasti tidak akan mempedulikan pendapatku dan mereka akan membuat rencana dimana aku hanya diperlakukan sebagai udara saja; sederhananya, aku hanya mengikuti kemana para pria ini pergi nantinya.

  Aku juga tidak keberatan dengan itu karena itu akan memudahkanku, tapi aku tidak setuju kalau ini dikatakan ‘fun’.

  Orang aneh tetaplah orang aneh dan bagi sebuah grup yang punya siswa aneh di dalamnya, mereka tidak berniat untuk mendengar pendapatmu. Tapi, mereka sebenarnya ingin menyingkirkanmu.

  “Ngomong-ngomong, Yukinoshita. Apa yang akan kau lakukan soal darmawisata nanti?”

  Ketika aku berusaha menghilangkan tanda tanya di kepalaku itu, Yukinoshita memiringkan kepalanya sambil memegangi cangkir tehnya.

  “Apa maksudmu?”

  “Bukankah kau sendiri tidak punya teman di kelas, benar tidak?”

  Dari sudut pandang orang ketiga, ini mungkin terdengar sebagai pertanyaan yang kasar, tapi Yukinoshita sendiri tidak merasa terganggu mendengarnya.

  “Memang benar. Tapi ada apa dengan itu?”

  “Nah, aku hanya ingin tahu bagaimana kamu mengatasi masalah grupnya.”

  Setelah mengatakan itu, Yukinoshita tampaknya paham maksudku dan dia menaruh cangkir tehnya dan berkata dengan nada yang meyakinkan.

  “...Aah, kalau soal itu, aku memang diajak untuk bergabung dengan suatu grup dan aku belum memberikan jawabanku.”

  “Huh, ka-kau diajak bergabung?”

  Ketika aku berusaha memastikannya lagi, Yukinoshita memandangiku seperti tersinggung.

  “Aku tidak tahu image diriku ini seperti apa dari sudut pandangmu. Tapi, ketika diharuskan membentuk grup, aku biasanya tidak punya masalah dengan itu. Biasanya, akan ada gadis dari suatu grup yang datang dan mengajakku.”

  Yukinoshita lalu menyisir rambutnya yang berada di bahunya dan menatap ke arah Yuigahama, yang mendengarkannya dari tadi di dekatnya.

  “Aah, tampaknya aku paham itu. Setidaknya bagi kelas J, karena mayoritas isinya gadis, mereka pastinya suka gadis seperti Yukinon yang memberikan kesan ‘keren’.

  “Haa, begitu ya...Setidaknya itu untuk kelas J, kah.”

  Yukinoshita ini seperti artis di kelas J, kelas Budaya Internasional. Kelas J berisi 90% gadis, tidak seperti kelas-kelas reguler. Pelajaran yang mereka terima agak sedikit berbeda dari kami sehingga memberikan kesan berada di sebuah SMA Elit yang khusus bagi para gadis. Bahkan, ketika melewati kelas tersebut, tercium wangi yang menyegarkan, well, sebenarnya banyak sekali aroma yang tercampur disana, membuatku merasa linglung. Juga, ketika musim dingin tiba, biasanya mereka memakai pakaian tambahan dibalik roknya dan mereka sering menjahili sesamanya dengan mengangkat rok teman-temannya. Melihat mereka dari kejauhan memberikan perasaan yang menyenangkan.

  Karena siswa di kelas Yukinoshita mayoritas berisi gender yang sama, mungkin akan terasa lebih nyaman, santai, dan mudah melakukan sesuatunya. Mungkin juga itu adalah salah satu faktor yang memudahkan mereka untuk membaur meskipun tidak kenal baik.

  Ini mungkin salah satu keuntungan dari minoritasnya lawan jenis di suatu kelas.

  Sebaliknya bagi para pria, mereka berusaha membuat para gadis terkesan. Persis seperti bagaimana Tobe dan gerombolannya melawak di kelas beberapa waktu lalu, atau mereka yang pura-pura dekat, bahkan bagi para pria yang menderita sindrom kelas 8. Tentunya, aku juga bukanlah sebuah pengecualian disana.

  Dan bisa jadi, para gadis mungkin punya sifat yang hampir sama.

  Bahkan, aku sangat yakin kalau Yukinoshita punya pengalaman yang sama. Kalau kita campurkan para pria dan gadis di satu kelas, pasti banyak hal yang terjadi. Jika ada jarak diantara para pria dan gadis, maka grup para pria dan gadis juga akan membuat jarak.

  “Haa~. Beneran deh, aku inginnya kita bisa pergi ke Okinawa.”
[note: Okinawa terkenal karena keindahan pantainya dan serba-serbi wisata yang agak ‘amerika’. Ini tidak lepas dari adanya pangkalan militer USA disana.]

  Yuigahama duduk dengan lemas sambil melihat ke arah langit-langit.

  “Agak tanda tanya kalau musim-musim seperti ini pergi kesana...Aku tidak menyarankan itu.”

  Setelah mengatakannya, Yukinoshita menatap ke arah jendela. Angin yang dingin tampak berembus diluar sana. Okinawa mungkin berada di selatan negara ini, tapi di musim seperti ini, mustahil kamu kesana dan akan berteriak gembira dan berkata “Lauut!”.

  “Eeh? Tapi, kalau kita pergi ke Kyoto, tidak ada tempat yang bisa kita tuju. Disana cuma ada kuil dan tempat berdoa, tahu tidak? Kalau cuma ke tempat seperti itu, kurasa di sekitar rumahku banyak...Aku bisa pergi ke kuil Asama di Inage kapan saja...”

  Kata-kata dari Nona Yuigahama ini sangat luar biasa. Mendengarnya saja membuat kepalaku pening. Yukinoshita mungkin merasakan hal yang sama karena aku melihat dirinya sedang menyentuh keningnya dengan tangan.

  “Kau tidak pernah menganggap penting sejarah dan budaya, ya...?”

  Menjawab kata-kata tersebut, Yuigahama menegakkan posisi duduknya.

  “Maksudku, memangnya kita bisa apa saja di kuil...”

  Bukannya aku tidak paham maksudnya. Bagi seseorang yang tidak tertarik dengan Budha dan kuil, aku yakin orang itu tidak akan peduli sedikitpun. Bahkan bisa kukatakan kalau mayoritas anak SMA jaman sekarang juga tidak peduli dengan budaya mengunjungi kuil di tahun baru dan upacara kuno di keluarga.

  “Banyak hal yang bisa dilakukan. Lagipula tujuan utamanya bukan untuk bersenang-senang, tapi untuk mempelajari sesuatu. Tentunya, ini bukan hanya masalah sejarah, tapi untuk melihat dan mengalami sendiri bagaimana budaya dari negara ini...”

  “Kupikir masalah utamanya bukan disitu.”

  Aku memotong opini Yukinoshita yang mulai terdengar seperti seorang pengamat profesional.

  “Oh baiklah. Mari kita dengar pendapat Tuan Hikigaya mengenai darmawisata ini.”

  Dia seperti merasa terganggu ketika kupotong tadi, Yukinoshita seperti menantangku. Ini agak menakutkan, Nona Yukinoshita. Tapi sayangnya, Tuan Hikigaya ini tidak akan mundur.

  “Ini yang kupikirkan...Darmawisata ini adalah sebuah replika kehidupan di komunitas sosial kita.”

  “...Begitu kah? Memang ada benarnya, kita naik kereta cepat, transportasi publik, turun di stasiun...”

  Yukinoshita menjawabnya sambil menyilangkan lengannya. Tapi, aku belum selesai tadi.

  “Kau mengikuti sebuah perjalanan dimana kamu sendiri tidak ingin pergi, bertemu dengan orang-orang di atasmu yang tidak ingin kau temui, dan kau diwajibkan hadir di tempat yang diminta mereka. Kau bahkan tidak bisa memutuskan akan tidur dimana atau mau makan apa. Yang terpenting, di darmawisata itu pendapatmu tidak didengar meskipun kau mengatakan ini, itu, dst. Dan dengan uang di tanganmu, kamu harus memikirkan banyak hal seperti ‘oleh-oleh ini bagus untuknya, cocok untuknya, kurasa tidak masalah kalau dia tidak dapat ini’. Kemungkinan besar tujuan darmawisata adalah agar kita belajar hal-hal tersebut. Lebih tepatnya ini adalah sebuah latihan dimana kamu harus mulai membiasakan dirimu tidak memperoleh apa yang kamu inginkan, tapi kamu harus belajar berkompromi, dan kau harus terbiasa menikmati sebuah kegiatan sambil menipu dirimu sendiri.”

  Setelah selesai mengatakannya, Yuigahama melihatku dengan tatapan mata yang jijik.

  “Woow. Darmawisata versi Hikki tidak terlihat ada kata ‘fun’ di dalamnya...”

  “Kalau kau sepesimis itu, aku pikir kau tidak akan bisa mewujudkan satupun rencanamu disana...”

  Yukinoshita seperti mengomentari pendapatku dengan datar danYuigahama mengatakan “ah” seperti teringat akan sesuatu.

  “Ta-tapi, meskipun pendapat Hikki begitu, bagaimana kita menikmatinya bukankah terserah kita sendiri, benar tidak?”

  “Hmm, kupikir begitu...”

  Memang, entah bagaimana kegiatannya dan apa yang diperintahkan mereka kepadamu, apa yang kau rasakan itu tergantung dari dirimu sendiri.

  Yukinoshita lalu tersenyum, seperti menyetujui kata-kata itu.

  “Kurasa begitu...Bahkan Hikigaya sendiri punya satu atau dua hal yang dia pikir menyenangkan, benar tidak?”

  “Yeah...”

  Sekamar dengan Totsuka, mandi bersama Totsuka, makan bersama Totsuka; kurasa aku memang antusias untuk mengikuti darmawisata nanti.

  “Hikki, jadi kau punya hal-hal yang kau anggap menyenangkan?”

  “Nah, setidaknya, aku cukup nyaman dengan Kyoto.”

  Ketika aku menjawabnya, Yukinoshita menatapku.

  “Itu mengejutkan...Kupikir kau adalah tipe orang yang menganggap tradisi dan formalitas adalah hal-hal sampah.”

  Oh, kau kejam sekali Nona Yukinoshita. Tapi, aku sudah terbiasa dengan itu.

  “Bagi Universitas dengan jurusan Liberal Art terkenal dan berada di tengah-tengah sejarah Jepang, kampusnya di Kyoto merupakan tempat yang sakral bagiku.”
[note: Doshisa Women’s College of Liberal Art, adalah sekolah tinggi Liberal Art khusus siswi yang berdiri 1876 di Kyoto. Lalu tahun 1949 berubah menjadi Universitas Swasta untuk mahasiswa segala gender, terkenal dengan jurusan Liberal Artnya. Kemungkinan besar, Hachiman mengincar untuk kuliah di kampus ini.]

  Ngomong-ngomong soal sejarah, aku menyukai novel sejarah yang dikarang Shiba Ryotaro seperti “The Tatami Galaxy”, lagipula kota Kyoto sendiri merupakan kota yang sangat menarik bagiku.

  “Well, sebenarnya itulah darmawisata, kamu tidak bisa seenaknya pergi kesana-kemari. Aku akan pergi kesana sendiri suatu saat nanti.”

  “Bukankah akan terasa kesepian jika pergi sendirian kesana...”

  Yuigahama menggumamkan itu. Nah, kupikir itu akan jadi perjalanan yang menyenangkan. Kesana sendirian. Lagipula tidak harus bertemu seseorang akan membuatnya terdengar keren. Ada satu orang yang tampaknya sepemikiran denganku, Yukinoshita menganggukkan kepalanya.

  “Kurasa tidak juga. Pergi sendirian itu cukup menyenangkan dan kau bisa pergi kemanapun kau suka.”

  “Benar, benar, jangan lupa kalau sendirian kau tidak perlu basa-basi dengan suasana sekitarmu. Kalau aku melihat anak-anak SMA yang nakal di kuil Ryoanji Zen, aku akan mengambil kerikil dan melempari kepala mereka.”

  “Kurasa aku tidak akan melakukannya...Itu adalah tempat yang dilindungi UNESCO.”

  Yukinoshita tampak tidak senang dengan apa yang kukatakan. Tapi, alasannya memang masuk akal.

  “Kalau kalian sendiri, punya rencana mau kemana nantinya?”

  “Aku belum memutuskan mau kemana...Ah, tapi kupikir aku ingin mendatangi Kiyomizu-dera. Itu tempat yang terkenal.”
[note:Kiyomizu-dera adalah sebuah kuil Budha kuno berdiri di daerah Kyoto, dekat air terjun Otowa. Kuil berdiri tahun 798 dan sudah direnovasi 10 kali. ]

  “Keinginanmu untuk ‘senang-senang’ masih terlihat...”
[note: Hachiman berpikir Yui hanya mengincar wisata air terjunnya.]

  Aku menjawabnya tanpa berpikir terhadap respon Yuigahama tadi. Lalu dia menggerutu.

  “Ayolah, katanya apa saja tidak masalah. Juga, Menara Kyoto terlihat bagus.”

  “Chiba juga punya yang seperti itu.”

  “Itukan menara pelabuhan!”

  Bukankah namanya mirip? Sekali lagi, yang kubahas ini namanya yang mirip!

  Kupikir itu normal jika kita membandingkan sebuah tempat di kota lain dengan apa yang ada di kota kita. Aku menyukai menara pelabuhan itu. Aku tidak pernah kesana lagi semenjak Festival Kembang Api kemarin.

  Yukinoshita seperti mengirimkan pukulan telak mengenai kecintaanku dengan kota ini.

  “Kalau kau membicarakan tentang menara pelabuhan, maka Menara Kobe lebih terkenal dari itu.

  “Okelah, Chiba tower cuma menang tinggi saja.”

  “Aku tidak tahu apa yang kau banggakan dari itu...”

  Yukinoshita tampaknya hendak menghindari sakit kepala lanjutan karena dia sudah mulai memegangi keningnya.

  “Kalau Yukinoshita sendiri, bagaimana?”

  Ditanya seperti itu olehku, dia berpikir sejenak.

  “Aku...Ada sebuah taman batu di Ryoanji dan Kiyomizu yang Yuigahama sebutkan tadi, tapi aku ingin melihat ke Rokuonji dan Jishouji dulu yang sama terkenalnya.”

  Lalu Yuigahama terlihat mengedip-ngedipkan namanya mendengar nama-nama yang baru kali ini dia dengar.

  “Rokuonjishouji...”

  “Jangan gabungkan nama mereka seenaknya...Nanti terdengar seperti sebuah nama yang keren, benar tidak?”

  Rokuonjishouji. Terdengar seperti nama seorang pria, job monk yang kuat. Setidaknya dari namanya.

  “Mungkinkah aku lebih baik mengatakan nama-nama yang umum, seperti Kinkaku dan Ginkaku?”

  “Ka-kau harusnya mengatakan itu dari awal! Ah, tapi kalau pergi ke Kinkakuji, Yumiko tampaknya juga ingin kesana.”

  “Itu memang cocok dengan dirinya...”

  Itu memang cocok dengan imagenya yang cantik. Ketika aku membayangkan ornamen-ornamen emas bertebaran di sekitar Miura, Yukinoshita meneruskan kata-katanya.

  “Juga ada ‘jalan-jalan filosofi’. Biasanya populer ketika Pohon Sakura mulai menunjukkan daunnya, meskipun sekarang mulai musim gugur sih. Dari situ kita bisa melihat beberapa pemandangan spesial dari beberapa kuil ketika berjalan menyusuri taman, tapi ya kalau memang sempat...Karena pemandangannya indah menjelang malam, dan itu akan sulit terjadi di darmawisata.”

  Yuigahama tampak kagum melihat Yukinoshita, yang terdengar seperti sedang berpidato.

  “Sangat detail...”

  “Apa kamu tahu itu dari membaca Jalan?”
[note:Jalan adalah semacam majalah informasi wisata, biasanya laris di kalangan traveller atau turis di Jepang.]

  “Tidak juga...itu merupakan pengetahuan umum mengenai Kyoto yang kupikir setiap orang akan tahu itu.”

  Tiba-tiba mengatakan itu, Yukinoshita lalu memalingkan wajahnya dan mengambil majalahnya kembali. Tunggu dulu, setelah kulihat baik-baik, majalah yang dia pegang itu memang Jalan.

  Meski begitu, sangat langka melihat Yukinoshita antusias dengan darmawisata.

  Aku lalu memalingkan tubuhku untuk menahan tawaku. Lalu Yuigahama melihatku yang mungkin dia sendiri tidak bisa menahan tawanya, akhirnya kami berdua hanya senyum-senyum melihat Yukinoshita yang seperti itu.

  “...Ada apa?”

  “Tidak ada apa-apa! Tidak ada apapun!”

  Yukinoshita melihat ke arah kami dengan tatapan dinginnya, tapi Yuigahama yang panik berusaha membuat suasananya cair.

  “A,hahaha...Ah, benar. Yukinon, ayo kita pergi bersama di hari ketiga!”

  Yuigahama tertawa sambil mengatakan ajakannya itu. Yukinoshita lalu memiringkan kepalanya.

  “Bersama?”

  “Yeah, bersama!”

  Yukinoshita bertanya balik dan Yuigahama tersenyum. Tapi, Yukinoshita tampaknya sedang memikirkan sesuatu. Secara perlahan, dia membuka mulutnya. Aku sudah menduga dia akan mengatakan apa.

  “Tapi...”

  “Yukinoshita ada di kelas yang berbeda.”

  Ketika aku berusaha menjawab itu untuknya, Yuigahama mengangguk.

  “Yeah. Tapi, kita diperbolehkan pergi kemana saja di hari ketiga, jadi aku akan menghubungimu dan kita akan bersenang-senang di Kyoto!”

  “Kupikir kita tidak diperbolehkan sampai sejauh itu...”

  “Eh? Harusnya kan boleh, benar tidak? Aku juga tidak begitu tahu soal itu.”

  Gadis ini, sangat memaksa sekali...

  Tapi, kalau memang boleh melakukan apapun, kupikir aku akan jalan-jalan saja sesukaku. Aku selalu ingin kesana, perempatan Shinsengumi dan Ikedaya. Tampaknya, Ikedaya sudah berubah menjadi sebuah bar. Aku akan menikmati daerah terkenal itu sendirian.

  Ketika pikiranku berjalan kesana-kemari, Yuigahama melanjutkan obrolannya.

  “Maksudku, selama jadwalnya cocok saja. Bagaimana?”

  “...Tidak masalah.”

  “Yeah! Kita sepakat kalau begitu!”

  Yukinoshita memalingkan wajahnya sambil tersenyum, dan Yuigahama mulai memindahkan kursinya ke dekat Yukinoshita.

  Apakah sebuah kemesraan antar dua gadis semacam ini bagus? Entahlah. Meski terpisah oleh kelas, jika mereka akan bersenang-senang bersama di darmawisata, mungkin itu adalah sebuah hal yang bagus.

  “Kau juga Hikki, ayo kita pergi bersama!”

  “Hmm, ah.”

  Yuigahama menatapku dengan mata yang berbinar-binar seolah-olah mengharapkan jawaban dariku. Jawaban soal itu tampaknya masih menyangkut entah dimana di dalam bagian tenggorokanku.

  Ketika hendak kujawab, terdengar suara pintu ruangan Klub yang diketuk.

  “Silakan masuk.”

  Ketika Yukinoshita menjawabnya, pintu terbuka.

  Muncullah orang yang tidak diduga-duga. Sebenarnya, orang yang tidak diduga-duga ini adalah orang yang seharusnya tidak datang kesini...Entah apa alasanku ini benar atau tidak, orang-orang dari grup-grup yang begitu memang diharapkan untuk tidak datang ke tempat ini.

  Tapi, saat ini, ‘pentolan’ grup tersebut ada di depan kami.

  Hayama, dan di belakangnya ada Tobe, Yamato, dan Ooka.

  Memang, itu adalah mereka berempat. Aku tidak tahu apa hubungan pertemanan mereka sebenarnya baik atau bagaimana, tapi bagi orang luar, mereka terlihat seperti empat sekawan.

  Mungkin karena sudah pernah kesini beberapa kali, Hayama terlihat santai-santai saja masuk ke ruangan ini, tapi sisanya tampak menoleh kesana-kemari seperti orang yang sedang gugup.

  Lalu, tatapan mereka terhenti pada diriku.

  Aku tidak perlu berpikir lama untuk mengetahui apa yang mereka pikirkan. Ketiganya tampak menatapku dengan curiga. Lalu mereka menatap ke teman mereka satu sama lain sambil melirik ke arahku.

  Meski begitu, mereka tidak salah apa-apa. Itu karena akupun juga melakukan hal yang sama kepada mereka.

  Lagipula, kenapa mereka kesini?

  Tampaknya aku bukanlah satu-satunya orang disini yang berpendapat begitu, Yukinoshita dan Yuigahama tampaknya memikirkan hal yang sama.

  “Ada keperluan apa kesini?”

  Yukinoshita mengatakannya dengan nada yang dingin, sedang Yuigahama hanya mengangguk saja.

  Ketika ditanya, Hayama menatap ke arah Tobe seperti mengkonfirmasi sesuatu. Orang yang sedang ditanya, Tobe, dari tadi hanya memegang-megang rambutnya seperti sedang galau.

  “Aah, dia ada sebuah permintaan, jadi aku membawanya kesini, tapi...”

  Hayama mengatakannya dengan ragu-ragu, tampaknya yang punya keperluan kali ini bukanlah Hayama, tapi orang-orang di sekelilingnya itu.



  “Ayolah, Tobe.”

  “Ayo katakan.”

  Keduanya memaksa Tobe, lalu ketika Tobe hendak membuka mulutnya, dia menutup lagi dan berpikir sambil menggumam. Apa-apaan ini? Apa ini semacam adegan di majalah mistis?

  Setelah berpikir lama, dia mencondongkan kepalanya.

  “Nah, jangan begitulah...Mustahil aku mengatakannya di depan Hikitani.”

  ...Emangnya mau ngomong apaan?

  Emosi yang terbangkitkan di dalam hatiku ini mulai menggelora, tapi setelah mengambil napas panjang, aku mencoba meredakan emosiku tadi. Yamato dan Ooka berbisik “mau bagaimana lagi” sementara Hayama terlihat kecewa kepadanya. Yuigahama terlihat membuka mulutnya karena terkejut sedangkan Yukinoshita hanya melihat mereka dengan terdiam.

  Kesunyian tercipta di ruangan ini...

  Pantatku ini mulai terasa gatal dan ternyata kesunyian ini dihentikan oleh Hayama.

  “Tobe. Kita kesini sebagai pihak yang membutuhkan pertolongan.”

  “Yea, tapi kan begini, mustahil aku mengatakannya di depan Hikitani looh~ Seperti, dia kan tidak bisa diandalkan.”

  Mereka memang mengakui eksistensi diriku, tapi mereka membenci eksistensiku. Memang, aku sendiri tidak mengharapkan untuk menemui kenyataan itu di tempat ini.

  Orang yang datang ke tempat ini untuk mengatakan requestnya sedang terdiam, membuat suasananya mendadak sunyi. Karena itu, aku mendengar suara yang cukup jelas.

  “Sangat mengganggu...”

  Terima kasih karena sudah mewakili apa yang ingin kukatakan. Tapi Yuigahama, kenapa kamu merasa gelisah setelah mengatakan itu? 

  “Tobecchi, kau tidak perlu mengatakan itu, bukan? Ada cara yang lebih baik untuk itu.”

  “Yeah, tapi ini masalah serius loh.”

  Aku sangat terbantu kalau dia diberitahu untuk hati-hati dalam berbicara, tapi mereka memang tidak bisa membuat satupun masalah ketika ada Yuigahama disini.

  Tepat ketika aku hendak berpikir apa yang akan kulakukan selanjutnya, Yukinoshita sudah menyiapkan jawabannya.

  “Begitu ya. Mau bagaimana lagi, kita tidak bisa melakukan apapun kalau itu memang salah Hikigaya. Seperti yang diduga...kalau begitu, maaf ya, bisakah kau keluar dari sini?”

  Nah, itu memang betul. Kalau mereka tidak bisa bicara karena ada aku disini, maka aku lebih baik keluar dulu dari sini.

  “Baiklah, nanti beritahu aku kalau mereka sudah selesai.”

  Ketika aku hendak berdiri, Yukinoshita menghentikanku.

  “Tunggu, kamu mau kemana?”

  “Huh? Keluar dari ruangan ini...”

  Ketika aku melihat ke arah Yukinoshita, dia yang sedari tadi menatapku kini melihat ke arah Tobe dan teman-temannya.

  “Yang keluar dari sini itu mereka.”

  “Huh?”

  Bukan aku saja yang kebingungan, tapi Tobe dan teman-temannya juga begitu. Lalu, Yukinoshita terus menambahkan.

  “Tidak ada tata krama dan juga kata-kata yang kasar, kita tidak punya alasan untuk mendengarkan request yang berasal dari orang semacam itu. Akan lebih efektif jika mereka segera keluar dari ruangan ini.”

  Nadanya tidak jauh berbeda dari biasanya dan ini memang Yukinoshita yang kutahu. Hanya saja, ekspresinya seperti lebih dingin. Mendapat tatapan yang dingin semacam itu, Tobe mulai lemas.

  “Sikapmu itu membuat suasananya menjadi jelek...”

  Kata-kata Yuigahama menemani kalimat Yukinoshita.

  Aku tidak tahu apakah waktu terhenti atau bagaimana, tapi punggungku mulai terasa sakit karena posisiku sejak tadi adalah setengah berdiri.

  Mungkin akan sangat bagus jika kita segera putuskan siapa yang harus keluar.

  Atau bagaimana jika kita ‘cukupkan kegiatan kita hari ini’ dan pulang? Boleh tidak ya?

  “...Ya, kitalah yang salah disini. Tobe, ayo kita bicarakan lagi dahulu. Mungkin kita memang harus mencari jalan keluarnya sendiri.”

  Mendengar Hayama mengatakan itu membuatku merasa lega, tampaknya dia sudah menyerah. Ya, bagus itu, tolong cepat pergi dari sini!

  Tapi, tampaknya kata-kata Hayama malah membuat Tobe menjadi percaya diri.

  “Nah, aku tidak bisa mundur sekarang...Lagipula, aku pernah mendiskusikan itu bersama Hikitani waktu musim panas lalu, jadi kupikir ini bukan masalah.”

  “...Begitu ya.”

  Setelah melihat tekad Tobe yang seperti itu, Hayama tampak tidak ingin membujuknya kembali.

  Memang terasa agak aneh jika dia tidak mendengarkan bujukan Hayama, pria yang baik dan penuh rasa keadilan. Mungkin Hayama merasa hanya menjadi batu penghalang Tobe untuk saat ini. Biasanya, Hayama adalah tipe orang yang akan mendorong dan mensupport temannya, jadi adegan yang terlihat di depanku ini kurasa wajar-wajar saja. Bah, aku tadi sedang memikirkan apa sih?

  Aku tidak yakin apa Tobe memang benar-benar sudah membulatkan tekadnya atau tidak, tapi tampaknya adegan tadi masih belum cukup untuk meyakinkannya. Tobe masih berusaha mengatakan sesuatu, tapi ekspresinya terlihat sangat kesulitan. Uugh, kalau kamu tidak mau mengatakannya, bolehkah aku pulang duluan?

  “Umm...”

  Akhirnya, terdengar suara dari Tobe! Meski kita sebenarnya tidak tertarik tentang apa yang akan dia katakan, kami masih menunggu apa request darinya.

  “Ummm...”

  Woi, masih tidak mau ngomong? Apa kita sekarang berada di sebuah program Reality Show di TV?

  “Umm, sebenarnya, aku...”

  Setelah delay yang cukup lama, akhirnya dia mulai berbicara.

  “Tentang Ebina, kupikir dia sangat manis, tahu tidak? Jadi, waktu darmawisata nanti, ada sesuatu yang kuinginkan.”

  Dia mengatakannya sambil menyelipkan kode-kode yang harus kupecahkan.

  “Serius nih!?

  Mata dari Yuigahama tiba-tiba berkaca-kaca. Apa yang ada di pikiranku saat ini tampaknya sama persis dengannya.

  Begitu ya, waktu perkemahan musim panas dulu, ternyata dia tidak becanda.
[note: Vol 4 chapter 5, Tobe mengatakan kalau dia menyukai Ebina.]

  Karena aku sudah punya informasi ini lebih awal, jadi aku langsung paham kemana pembicaraan ini berujung, tapi kepala Yukinoshita terlihat miring dengan ekspresi penuh tanda tanya.

  Karena dia tidak tahu apa yang dimaksud Tobe, Yuigahama terlihat sedang membisikkan sesuatu kepadanya.

  Yukinoshita lalu mengangguk dan memahami situasinya, lalu dia terdiam. Untuk saat ini, kupikir merangkum apa maksud Tobe kepada seluruh orang di ruangan ini sehingga memiliki satu kesepahaman merupakan ide yang bagus.

  “Sebenarnya begini...Kau ingin menembak Ebina-san dan memintanya untuk menjadi pacarmu, apa kesimpulanku barusan salah?”

  Ketika aku mengatakan kata-kata yang dapat membuat pria yang baru beranjak dewasa menjadi malu-malu, Tobe lalu memegangi rambutnya dengan malu-malu dan menunjuk ke arahku.

  “Yeah, yeah, tepat seperti itu. Kalau ditolak, mungkin akan menjadi sangat buruk. Kau ternyata sangat membantuku untuk mengatakan requestku, Hikitani!”

  Apa-apaan dengan sikapnya yang berubah tersebut? Tapi, kurasa cukup masuk akal kalau ini menyangkut Tobe. Dia juga sering mengobrol denganku dan membahas topik-topik aneh ketika musim panas kemarin.

  Meski begitu...

  “Haa, jadi kau berharap supaya nanti tidak ditolak olehnya...”

  Jangan katakan hal-hal yang naif! Ketika aku mengerjakan request sia-sia ini dan berakhir dengan ditolaknya dirimu, dan nantinya kau akan mengatakan kalau ini semua salah kami?

  Ketika pikiranku dipenuhi hal-hal bodoh, aku lalu menggunakan lengan kananku sebagai sandaran kepala sambil tiduran di atas meja.

  Yukinoshita melihat ke arahku, lalu dia menaruh tangannya di dagu sambil berpikir.

  Satu-satunya orang di ruangan ini yang tertarik dengan cerita Tobe tadi hanyalah Yuigahama.

  Dia seperti bunga yang barusan mekar dari kursinya dan menunjukkan ekspresi wajah yang sangat tertarik. Kedua matanya tampak berbinar-binar mendengar kisah cinta semacam itu.

  “Kurasa itu tidak apa-apa, seperti, itu bukan masalah! Aku mendukungmu~!”

  Di lain pihak, Yukinoshita seperti diliputi banyak tanda tanya.

  “Kalau begitu, apa kau sudah berusaha dengan keras selama ini untuk mendapatkannya?”

  Keduanya tampak sudah separuh jalan untuk menerima requestnya, tapi aku tidak mau ikut ‘jalan-jalan’ mereka.

  Dia memang sudah dikutuk sejak awal dalam hal meminta tolong orang.

  Semasa SD, topik semacam ini merupakan subjek utama gosip. Tapi sejak saat itu, aku memang pernah melihat kalau beberapa siswa bekerjasama dan bisa membuat gosip itu menjadi kenyataan. Ada yang menjadi pemberi saran, ada yang cuma ‘mengompori’ tanpa membantu, ada yang sengaja mensupportnya agar mendapatkan material untuk mengejekmu, ada yang sengaja menjadikan itu momen untuk mencari tahu siapa lagi yang suka dengan si A. Ya Tuhan, tidak ada seorangpun yang boleh meremehkan arus informasi semacam ini ketika SD!

  Oleh karenanya, aku tidak berminat untuk mensupportnya. Ini hanya akan membawa kenangan-kenangan buruk muncul lagi di kepalaku.

  Melihat ekspresiku yang kurang senang ini, Hayama tersenyum dan berbicara kepadaku.

  “Kurasa ini memang berat, ya.”

  “Ya, kurasa begitu...”

  Aku tidak menduga dia akan mengatakan itu sehingga aku memalingkan pandanganku. Setelah itu, kedua mataku bertemu dengan kedua mata Yukinoshita.

  (Enaknya bagaimana ini?)...Yukinoshita memberikan kode itu lewat ekspresi wajahnya.

  (Jangan, jangan kau terima requestnya!)...Aku berusaha memberinya kode dengan mataku yang kutingkatkan level busuknya menjadi satu tingkat lebih tinggi.

  (Oke.)...Ekspresinya mengatakan itu dan dia mengangguk kecil sembari berkata.

  “Maaf, kurasa kami tidak bisa membantu banyak disini.”

  “Yep, kurasa begitu.”

  Oke, kurasa kita selesai untuk hari ini.

  “...Begitu ya. Well, kurasa begitu.”

  Hayama mengangguk seperti percaya dengan kata-kata kami, dia terlihat berdiri saja disana sambil menatap kedua kakinya. Tampaknya orang-orang yang datang ke Klub ini belakangan sudah berubah motifnya, bahkan Hayama juga seperti itu, mereka berpikir kalau kita pasti bisa memecahkan semua masalah.

  Di dunia ini, hal-hal yang bisa kau lakukan jumlahnya lebih sedikit daripada hal-hal yang mustahil kau lakukan, dan ini hal yang tidak bisa dibantah. Sayangnya dan dengan sangat menyesal, aku sendiri tidak cukup berguna dalam kasus ini. Umm, maksudku, sangat disayangkan, oke! Aku tidak punya pacar, itu fakta, jadi ini mungkin, umm...adalah hal yang sulit bagiku, kurasa begitu.

  Masalahnya, ada seorang member klub yang tidak sepaham dengan kami berdua.

  “Eeeh, ayolah, ayo kita membantunya.”

  Yuigahama lalu memeluk blazer Yukinoshita dan menggoyang-goyangkannya. Yukinoshita, yang sedang terperangkap, merubah pandangannya dariku dan dia mulai menatap Yuigahama, lalu dia kembali lagi menatap ke arahku.

  Oi, oi, tunggu dulu! Jangan membuatku menjadi orang yang mengambil keputusan disini...

  Seperti tahu maksud Yukinoshita, dia lalu selangkah ke depan. Dengan senyum di wajahnya, dia lalu menatapku.

  “Hikitani, tidak... Tuan Hikitani, aku tidak sabar untuk bekerjasama denganmu!”

  Tidak, tidak, tidak, kau mungkin terdengar sopan kali ini, tapi ini sebenarnya cukup kasar. Bahkan, kau salah menyebut namaku!

  “Yeaaah, Tobe sepanjang perjalanan kesini memang berharap kalian membantunya.”

  “Kami memohon kepada kalian.”

  Ooka dan Yamato tampak mensupportnya sambil tertawa. Sekali lagi, posisiku menjadi minoritas disini.

  “Yukinon, Tobecchi benar-benar butuh bantuan kita.”

  “...Entahlah, kalau kau benar-benar memaksa soal itu, biarkan aku berpikir sejenak.”

  Dengan diplomasi yang disertai air mata ala Yuigahama, Yukinoshita mulai luluh. Hei hei, Nona Yukinoshita, kamu belakangan ini terlalu melunak ke Yuigahama!

  Kalau begini, mengeluh dan menangis “aku tidak ingin melakukannya” tidak akan membuatku keluar dari situasi ini. Tidak peduli kapan dan dimana, aku akan selalu menjadi minoritas yang kalah. Meskipun pemenangnya mengatakan menghormati pendapat minoritas, tapi itu cuma kata-kata saja.

  “Ya sudahlah, ayo kita lakukan ini...”

  “Eh beneran, makasih bro! Nona Yukinoshita dan Yui, terima kasih banyak!”

  Hei, gue mana? Masa cuma disebut ‘bro’...?

  Ya sudahlah, aku melakukan ini bukan karena mencari ucapan terima kasih darimu. Aku melakukan ini karena inilah yang kulakukan disini.

  Karena sudah disepakati aku akan melakukan ini, aku akan melakukannya seperti biasa, tidak lebih; itulah motoku. Aku tidak akan memberikan seluruh usahaku, melainkan memberikan kesan kalau aku sudah berusaha. Inilah yang kupelajari dari Panitia Festival Budaya.

  “Terserah kamulah...Jadi, kau ingin kami mengerjakan apa?”

  “Ya tahulah, seperti kataku tadi. Karena aku akan menembaknya...Mungkin kalian bisa memberikanku semacam support?”

  Ketika Yuigahama mendengar kata ‘nembak’, dia menggumam ‘eeek’. Memang, hanya kau sendiri yang tertarik dengan topik ini, aku tidak. Ngomong-ngomong, aku butuh detail pekerjaannya, jadi aku mencoba bertanya lebih jauh.
[note: Mengingatkan Yui akan vol 5 chapter 6 dimana Yui hendak menembak Hachiman namun mengurungkan niatnya setelah HP-nya berbunyi karena ada panggilan.]

  “Saat ini, aku paham apa yang kau rasakan. Di lain pihak, aku perlu mengingatkanmu sesuatu. Tahu tidak, Tobe, kalau kau memang benar-benar serius melakukannya, berarti kau sendiri sudah tahu resikonya, benar?”

  Setelah mengatakan itu, Tobe berhenti menggaruk-garuk belakang kepalanya.

  “Resiko? Aah, yeah yeah, resiko, benar. Resiko?”

  Kupikir dia tidak paham maksudku...Aku tidak sedang membahas kucing yang melompat ke makanannya, dengar tidak?

  Level Tobe dalam memahami sesuatu memang patut dipertanyakan, tapi mari kita singkirkan itu dahulu. Yuigahama yang juga ‘dipertanyakan’ menatapku dan bertanya.

  “Memangnya ada resiko apa?”

  “Resiko. Hal-hal yang kemungkinan akan terjadi kalau kau ditolak.”

  Yukinoshita tiba-tiba menjelaskannya untukku.

  “Aku tahu kalau itu! Maksudku tadi, resikonya itu apa?”

  Kurasa, aku harus menjelaskannya dari atas ke bawah.

  “Pertama, setelah kau menembak, lalu kau ditolak?”

  “Eh, kenapa sudah diputuskan dari awal kalau dia akan ditolak!?”

  “Bodoh, tentu saja itu hanya simulasi saja. Tapi kita harus memperhitungkan dengan baik efek sampingannya jika tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan.”

  Yuigahama terlalu buru-buru dalam menyatakan keterkejutannya. Ini hanyalah permulaan saja. Bagi orang yang ditolak, ada sesuatu yang gelap menunggu mereka di ujung jalan itu. Tidak peduli seberapa jauh kau pikir, ada sebuah dasar dari dasar. Dan sayangnya, inilah yang terjadi di kehidupan. Memang, kau tidak bisa tenggelam lebih jauh jika sudah tenggelam di dasar.

  “Pada hari setelah kau menembaknya, semua orang di kelas pasti akan tahu soal itu. Sebenarnya, tidak ada masalah jika mereka hanya sekedar tahu soal informasi itu... Tapi, masalah sebenarnya akan timbul ketika kau mulai mendengar gosip-gosip tentang itu untuk seterusnya.”

  [Kemarin, sepertinya si Hikigaya nembak Kaori.]

  [Uugh, kasihan banget Kaori...] Eh tunggu, kenapa aku baru ingat ini, kenapa dia mengatakan  ‘kasihan’?

  [Aku dengar, dia nembaknya lewat SMS.]

  [Benarkah? Duh, itu menakutkan sekali. Tapi, bukankah itu cukup sulit untuk dipercaya, nembak lewat SMS?]

  [Benar kan?]

  [Untung saja aku tidak memberinya nomor HPku.]

  [Dia tidak akan menembakmu, jangan khawatir(ahaha)]

  “[Hei, itu kejam sekali (ahaha)] atau semacam itu dan menjadikan kejadian itu semacam guyonan. Kau akan mulai mendengarkan itu secara perlahan dan mulai menyakiti hatimu sedikit demi sedikit.”

  Ini memang sebuah skill yang bisa membunuh orang dalam sekali gerakan. Ketika hatimu sudah hancur karena patah hati, sosial sekitarmu mencoba membunuhmu secara perlahan sebagai bonusnya.

  “Lagi-lagi cerita dari pengalaman Hikki...”

  Yuigahama mengatakannya dengan senyum. Apa kau ada maksud lain dengan mengatakan itu? Memang mustahil aku kenal orang lain, dan karena itu kebanyakan cerita yang kukatakan memang seputar diriku sendiri.

  Aah, tidak baik, tidak baik. Ketika aku mulai keasyikan bercerita, aku tidak sadar sudah memakan banyak waktu. Pheew~, lelahnya (ahaha).

  Semua orang di rungan ini hanya terdiam setelah mendengarkan pidatoku tadi.

  “...Apa kalian paham maksudku?”

  Ketika aku mencoba mengingatkan itu kepada semuanya, Yukinoshita menepuk keningnya dan berkata.

  “...Bukankah itu terjadi karena itu ‘kamu’?”

  “Nah, sederhananya begini. Itu adalah pengalaman dari seseorang yang mengalaminya ketika SMP, begitulah...”

  Masalahnya, Tobe tidak punya pengalaman itu. Penjelasanku tampaknya sia-sia ketika dia mengatakannya dengan santai.

  “Baiklah, baiklah, kurasa akan baik-baik saja selama aku tidak menembaknya lewat SMS. Lagipula, aku adalah tipe orang yang membicarakannya langsung.”

  Tobe menunjuk ke dirinya sendiri dan mengubah jari telunjuknya menjadi jempol, sedang Ooka dan Yamato yang berada di dekatnya berusaha memberinya semangat.

  “Nembak langsung, Tuan Tobe, kau sangat keren!”

  “Pria sejati...”

  “Nah, seorang pria sejati memang harus melakukan itu.”

  Mereka terus menyemangatinya, tapi kalau bisa tolong wajahmu jangan memerah! Tapi sayangnya, resiko tadi bukanlah satu-satunya resiko yang akan kau terima.

  “...Tapi, itu bukanlah satu-satunya resiko yang terjadi.”

  “Ada lagi?”

  Yuigahama tiba-tiba menanyakan itu.

  “Tentu saja, ada. Seperti, hubungan baik yang pernah terjalin diantara kalian berdua setelah kau menembaknya.”

  “Oke, oke, kami cukup paham.”

  Seperti berusaha meyakinkanku, Hayama menepuk pundakku dan menambahkan.

  “...Kami paham soal itu, jadi kami akan mencoba mengatasi masalah itu.”

  Kalau mereka sudah siap, yang bisa kulakukan selanjutnya hanyalah mengangguk dan terdiam. Tidak seperti aku, Hayama pasti bisa mengatur situasinya. Kupikir aku tidak perlu khawatir soal yang terakhir tadi.

  Tapi, ketika dia menepuk pundakku, ekspresinya berbeda dengan Hayama yang biasanya. Dia lalu melihat ke arah ketiga temannya itu dengan senyum yang dibuat-buat.

  “Well, aku harus menuju ke klub, jadi aku serahkan dia kepada kalian...Jangan lama-lama, Tobe.”

  Hayama lalu meninggalkan ruangan klub setelah mengatakan itu.

  “Ah, kupikir aku akan pergi dulu.”

  “Aku harus ke klub juga.”

  Ooka dan Yamato mengikuti Hayama. Tampaknya mereka hanya ingin menemaninya ke Klub Relawan, dan tidak berminat untuk mendiskusikannya bersama-sama. Ini mungkin yang disebut ‘membuang sampah di halaman rumah seseorang’.

  “Oke, roger! Aku akan menyusul kalian segera.”

  Setelah memberitahu mereka berdua, Tobe menatap ke arah kami.

  “Jadi, yeah. Mari kita lakukan yang terbaik.”

  “Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan...”

  Yukinoshita tampak kebingungan harus memulai dari mana.

  Memang, untuk urusan percintaan semacam ini, kami tidak tahu harus mulai dari mana. Mungkin bisa kau katakan kalau kau meminta tolong ke orang yang salah. Banyak orang yang lebih mampu untuk menolongmu dalam situasi ini.

  “Tobe, kenapa kamu memilih untuk datang ke tempat ini untuk requestmu?”

  “Hmm? Tahulah, ini begini. Hayato yang menyarankan itu dan memaksaku kesini, begitu loh.”

  “Maksudku bukan begitu...Bukankah urusan semacam ini akan lebih baik jika Hayama yang membantumu langsung?”

  Setelah aku mengatakannya, Tobe tiba-tiba terlihat murung.

  “Nah, tahu tidak, bagaimana aku bilangnya ya. Hayato itu adalah pria yang keren. Dia sudah terlalu baik kepadaku, tahu tidak? Jadi aku tidak ingin terus merepotkan dirinya...”

  Tobe tidak perlu menjelaskan itu kepadaku. Meskipun kita membahas seorang pria tampan yang lugu, bahkan orang-orang awam akan melihat Hayama sebagai pria yang tidak punya beban hidup.

  Hayama tidak membeda-bedakan orang lain, dia adalah orang baik yang selalu menerima siapa saja.

  Dia punya wajah yang terlihat sederhana dan enak untuk dilihat, tapi tidak hanya itu saja, kepribadiannya juga bagus. Aku tidak habis pikir kalau ada orang di dunia ini yang membenci dirinya.

  Tapi karena tidak punya satupun hal yang dibenci, itu membuat orang-orang di sekitarnya menjadi sungkan kepadanya. Tanpa adanya hal yang dibenci, kesempurnaannya itu menjadi sebuah senjata makan tuan.

  Dibandingkan dengan Yukinoshita, dia sebenarnya setara dengan Hayama. Tapi, sayang beribu sayang, Yukinoshita punya sifat yang seperti ‘itu’. Dia adalah pemilik dari spesifikasi sempurna yang tersia-siakan oleh caranya berbicara dan bersikap.

  Meski begitu, jika Hayama punya sifat seperti dirinya, Hayama tetap disebut sebagai orang yang sempurna.

  Tidak hanya tampilannya, tapi caranya peduli ke orang-orang di sekitarnya, dan cara dia mengolah emosinya. Kalau kau bertanya kepadaku apa saja dari dirinya yang memiliki kualitas top, maka aku bisa menyebutkan banyak hal tentang dirinya.

  Dan karena ekspektasi orang-orang semacam itulah, membuat dirinya sendiri merasa tersiksa.

  Kalau dibandingkan antara bagian dirimu dengan dirinya, dan kualitas dirinya tiba-tiba jauh melebihimu, entah kau setuju atau tidak, kau sendiri merasa terluka.

  Oleh karena itu, kalau kau benar-benar mencari tahu apa kesalahan Hayama Hayato, maka kujawab ‘Hayama Hayato itu sendiri’.

  Aku saja sebagai orang luar saja bisa paham itu. Apalagi orang yang kenal dekat dengannya?

  Sekali lagi, Yuigahama tersenyum kecut.

  “Yeah...Hayato memang tidak seharusnya diberikan masalah seperti ini.”

  “Benar kan?”

  Ketika Tobe setuju, Yukinoshita terlihat mengangguk. Dan kemudian, dengan senyum manisnya, dia menatapku.

  “Begitu ya, jadi karena itulah kau datang kesini mencari pertolongan Hikigaya.”

  “Hei, kata-katamu tadi membuatku terlihat sebagai orang yang sangat berpengalaman dalam ditolak cintanya.”

  Akupun tidak bisa menyangkalnya.

  Tapi, Yukinoshita dan Yuigahama memalingkan pandangannya dariku.

  “...Hmm.”

  “Aah...”

  “Bisakah kalian berdua berhenti pura-pura memalingkan pandangan kalian...Ini bisa berakibat serius.”

  Di tengah-tengah suasana yang cair ini, Tobe menepuk pundakku.

  “Kalau begitu. Aku mengandalkanmu, Hikitani.”

  ...Seperti kataku, kau menyebut namaku dengan salah!







x Chapter II | END x

Menuju Chapter III







  Dengan menyebut universitas tersebut sebagai tempat suci, ini sama saja dengan mengatakan kalau Universitas yang hendak Hachiman tuju adalah Universitas Swasta Doshisa Kyoto.

  ...

  Jelas ada yang janggal dari informasi Tobe tadi, soal tidak ingin merepotkan Hayama. Lalu, Hayama yang memaksanya untuk memakai jasa Klub Relawan.

  Dalam vol 4 chapter 5, Tobe sendiri yang mengatakan kalau dia mendiskusikan itu dengan Miura sebelum berbicara mengenai Ebina di depan Hayama.

  Harusnya, Tobe meminta bantuan kepada Hayama dan Miura. Jelas sikap Hayama yang mengarahkan Tobe ke Klub Relawan sendiri, patut dicurigai.

  Seperti yang kita tahu di vol 10 chapter 7, Miura ini mencintai Hayama. Tapi, Hayama ini hanya memanfaatkan Miura saja. Tobe dan Miura jauh lebih dekat daripada Tobe dan Hayama. Kemungkinan besar, Miura kenal Hayama dari Tobe. Hayama juga, mengenal Miura dari Tobe. Jelas, jika Tobe meninggalkan grup mereka karena patah hati, hubungan Miura-Hayama terlihat aneh.

  ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar