Rabu, 18 November 2015

[ TRANSLATE ] Oregairu Vol 9 Chapter 3 : Berulang kali, Hikigaya Hachiman mempertanyakan dirinya sendiri



x Chapter III x









  Aku lalu mengembuskan napas beratku setelah bel pulang sekolah berbunyi.

  Hari ini, aku harus hadir di Community Center untuk membantu Isshiki.

  Sebenarnya, aku sendiri tidak keberatan melakukan hal tersebut.

  Meskipun aku diminta tolong untuk menghadiri rapat tersebut, tapi semuanya sudah diatur oleh pihak SMA Kaihin. Karena itu, pekerjaanku hanyalah melakukan apa yang mereka perintahkan. Melihat jalannya diskusi yang menggebu-gebu ketika brainstorming kemarin, bisa terlihat kalau motivasi mereka sangat tinggi. Aku harusnya menambahkan kalau kesadaran pihak kami juga cukup tinggi.

  Yang menarik perhatianku adalah situasi dari pengurus OSIS SMA Sobu. Kalau melihat situasi kemarin, sangat sulit untuk mengatakan kalau pengurus OSIS sudah berfungsi sebagaimana mestinya.

  Dan masalah terbesar mereka adalah jarak antara Isshiki dan member yang lain.

  Ketua OSIS yang masih kelas 1 merupakan masalah bagi mereka. Meski cuma berjarak 1 tahun, tapi bagi siswa SMA, itu adalah masalah besar. Mereka tidak bisa leluasa bersikap kepada sesamanya, dan itu mempengaruhi kualitas interaksi mereka.

  Akan sangat bagus jika aku bisa melakukan sesuatu mengenai masalah itu, tapi ini masalah Isshiki dan yang lainnya. Bukannya aku tidak mau membantu atau semacamnya. Bahkan jika aku berada di suatu klub dimana hanya ada 3 orang member yaitu Isshiki, aku, dan pengurus OSIS, maka tidak ada yang bisa kulakukan juga.

  Lagipula, kalau dilihat-lihat lagi, ini bukanlah hal serius. Mereka hanya perlu bertahan hingga Natal.

  Mereka baru menjabat sebagai pengurus OSIS. Nantinya situasi itu akan teratasi sendirinya dan waktu yang berlalu akan membuat hubungan mereka akan baik-baik saja.

  Dengan kesimpulan itu, aku akhirnya melepaskan napas beratku lagi.

  Masih banyak waktu sebelum rapat dimulai. Selama itu, maka aku akan ada di ruangan klub.

  Aku memang merahasiakan sikapku yang membantu Isshiki dari Yukinoshita dan Yuigahama, jadi aku setidaknya harus menunjukkan wajahku di klub agar mereka tidak curiga. Kalau aku tiba-tiba tidak datang, ini tidak akan bagus karena mereka akan mencurigaiku.

  Itu hanyalah sebuah rungan klub tanpa ada sesuatu di dalamnya. Jadi tidak memaksakan sesuatu untuk mengisi ruangan klub itu adalah tindakan yang benar.

  Aku lalu berdiri dari kursiku.

  Yuigahama sudah keluar lebih dulu dari kelas ini. Kita memang tidak bisa selalu pergi ke klub bersama-sama. Kami mungkin sama-sama percaya kalau kami pada akhirnya akan muncul di ruangan klub. Ini sudah berlangsung sejak lama sejak dulu.

  Aku keluar dari kelasku dan berjalan menyusuri lorong yang menuju Gedung Khusus.

  Aku cukup yakin kalau lorong ini setiap harinya bertambah dingin dari biasanya, meski begitu akupun tidak tahu apa perbedaan yang mencolok dari kemarin ataupun dua hari yang lalu.

  Aku lalu menaruh tanganku di pegangan pintu ruangan klub dan masuk ke ruangan itu.

  “Ah, Hikki.”

  “Yo.”

  Setelah menyapa sebentar ke Yuigahama dan Yukinoshita, aku duduk di kursiku.

  Aku lalu melihat ke sekitar ruangan ini.

  Yukinoshita kembali membaca bukunya dan Yuigahama menatap HP-nya. Seperti yang kuduga, tidak ada yang berbeda dari kemarin.

  Kursi yang berada di dekat jendela. Kursi itu berada di posisi yang netral. Lalu, berposisi diagonal dari kursi di dekat jendela tersebut adalah kursi yang tidak menatap ke kursi yang lainnya.
[note: Kursi di dekat jendela adalah kursi Yukinoshita. Kursi yang tidak menatap ke kursi yang lain adalah kursi Yuigahama.]

  Kursi-kursi yang lainnya, ditumpuk dengan rapi bersama-sama dengan meja-meja yang tidak terpakai.

  Di meja, terdapat selimut kecil yang dibungkus dengan rapi dan ada tumpukan kecil buku yang tampak sudah terbaca, seakan-akan memberitahu kalau si pembaca tersebut sudah melewati waktu yang lama di ruangan ini.
[note: Ini monolog tentang Yukinoshita. Selimut dan tumpukan buku itu adalah milik Yukinoshita. Selimut itu juga dibahas di vol 10.5 chapter 3.]

  Yuigahama berbicara kepada Yukinoshita seperti memulai obrolan mereka yang biasanya. Sambil memasang telinga terhadap percakapan mereka, aku mengambil bukuku.

  Ini adalah adegan yang sudah berulang kali terjadi belakangan ini.

  Tidak ditemukan lagi perasaan tidak nyaman. Dan tidak ada satupun yang menyebut kami berubah.

  Tapi, sampai kapan aku harus mengulang-ulang adegan seperti ini? Jarum jam seperti tidak mau bergerak ke posisi yang kuinginkan.

  Keduanya terlihat menikmati obrolan mereka dengan topik yang berbeda-beda. Terdengar suara yang enerjik dan terlihat pula senyuman yang lembut. Melihat hal tersebut, aku berusaha menarik napasku.

  “Aah, benar...Apakah kau keberatan kalau aku pulang lebih dulu hari ini?”

  Aku mengatakan itu sambil menutup bukuku. Ketika mendengar itu, Yukinoshita dan Yuigahama menghentikan obrolan mereka dan melihat ke arahku.

  “Huh?”

  Yuigahama melihat ke jendela dan melihat jamnya. Dia seperti menduga kalau sore datang lebih cepat hari ini. Kalau seperti biasanya, kami memang harusnya masih berada di ruangan klub ini.

  Seperti merasa tidak nyaman akan hal itu, Yuigahama bertanya dengan ekspresi yang misterius.

  “Kamu pulang lebih dulu hari ini, huh! Memangnya ada keperluan, kah?”

  “...Aah. Aku disuruh untuk memesan paket pesta untuk Natal.”

  Itulah yang bisa kukatakan sebagai alasan. Faktanya, aku memang disuruh untuk itu, jadi aku akan berhenti di KFC ketika dalam perjalanan pulang.

  Ketika aku menjawab, Yuigahama mengangguk.

  “Haa, memesan yah?”

  “Yeah. Itu untuk acara Natal di rumah. Sebenarnya paket itu sangat populer, jadi aku perlu memesannya lebih awal. Biasanya Komachi yang melakukan itu di tahun-tahun sebelumnya.”

  “Begitu ya. Komachi-san memang akan menghadapi ujian masuk dalam waktu dekat.”

  “Betul sekali. Ngomong-ngomong, sampai jumpa besok.”

  “Uh huh. Sampai jumpa besok.”

  Yuigahama  menyapaku balik ketika aku berdiri. Lalu Yukinoshita menambahkan.

  “Sampaikan salamku kepada Komachi-san.”

  Aku lambaikan tanganku kepada mereka dan meninggalkan ruangan klub. Aku masih bisa mendengarkan Yuigahama membicarakan berbagai hal mengenai ujian Komachi.

  Di sebuah lorong yang dibatasi oleh sebuah pintu, suara pembicaraan mereka masih bisa didengar meski pelan. Aku lalu mulai berjalan meninggalkan suara-suara itu.

 







x  x  x










  Setelah keluar dari sekolah, aku langsung menuju ke Community Center.

  Aku parkir sepedaku di tempat parkir. Setelah beberapa langkah, aku membetulkan tasku yang tidak begitu berat itu di bahuku.

  Ketika aku berjalan menuju pintu masuk, ada suara langkah kaki yang mendekatiku dari belakang.

  “Seeeenpai~!”

  Bersamaan dengan suara itu, aku merasa ada seseorang yang menepuk punggungku. Tanpa membalikkan badanku, aku tahu itu siapa. Hanya ada satu orang yang memanggilku Senpai selain Komachi yang sering menjahiliku dengan mengatakan itu. Dia adalah Isshiki Iroha.

  “Yeah.”

  Aku menjawabnya sambil membalikkan badanku, seperti yang kuduga, dia adalah Isshiki Iroha. Isshiki mengembungkan pipinya seperti kurang senang dan menatapku.

  “Kenapa reaksimu datar-datar saja...?”

  “Maksudku, caramu menyapaku barusan itu terlalu genit...”

  Lagipula, aku memang terbiasa bersikap seperti ini karena Komachi...

  “Oh ayolaaaah, padahal aku tadi tulus loh, duuuh.”



  Isshiki lalu menyentuh pipinya dengan tangannya dan berakting malu-malu. Serius nih, kamu tidak perlu capek-capek bersikap seperti itu, dasar gadis licik...Ketika aku melihat tangan satunya, tangannya sedang memegang kantong belanjaan penuh snack dan minuman dalam botol untuk kegiatan hari ini.

  Aku lalu menjulurkan tanganku tanpa mengatakan apapun, seakan-akan memberitahunya agar membiarkanku membawakannya.

  Isshiki sedikit terkejut melihat itu, tapi setelah tertawa kecil, dia memberikan tas belanjaannya itu. Dia lalu berbicara.

  “Lagipula, kupikir Senpai-lah yang genit disini loooh...”

  “Oh ayolaaaah, padahal aku tadi tulus loh, duuuh.”

  Apa tadi sudah cukup bagus? Skill Onii-chanku aktif secara otomatis. Kalau aku melakukannya dengan sadar, akan sangat memalukan karena tanganku akan mulai berkeringat. Ah, karena sekarang aku sudah sadar, maka tanganku mulai berkeringat.

  Setelah obrolan singkat tadi, kami mulai masuk ke Training Room. Disana terlihat baik dari SMA Kaihin maupun Sobu sudah berkumpul dalam ruangan.

  “Ah, Iroha-chan.”

  “Terima kasih atas kerja kerasnyaaa.”

  Tamanawa menaikkan tangannya dan menyapa Isshiki. Isshiki meresponnya balik dan mulai berjalan menuju kursi yang sama seperti rapat yang kemarin. Aku lalu berjalan mengikutinya.

  Tampaknya kami berdua adalah orang terakhir yang datang. Semua orang sudah duduk di kursinya dan memfokuskan perhatiannya kepada Tamanawa.

  “Oke, bisakah kita mulai? Aku mengharapkan bantuan kalian semua.”

  Setelah itu, rapat dimulai.

  Pertama-tama, Tamanawa memeriksa salinan rapat yang kami salin kemarin. Dia lalu menekan-nekan tombol di Macbook Airnya. Dia tampak memiliki mata yang lelah, sambil sesekali menggosok-gosok alisnya. Lalu, dia berbicara.

  “Hmm, tampaknya ada beberapa hal yang perlu kita pastikan dulu, jadi kita lanjutkan brainstorm yang kemarin.”

  Tidak, ini bukan ‘beberapa hal’. Aku bahkan tidak paham satupun hal yang mereka rapatkan kemarin. Oleh karena itu, salinan rapatnya seperti melihat benda abstrak saja.

  “Akan sangat bagus jika kita bisa mendapatkan sebuah kesimpulan hari ini,” aku mengatakannya sambil mendengarkan dengan cermat jalannya diskusi.

  Lalu rapat dimulai dengan mendengarkan pihak SMA Kaihin.

  “Karena kita akan melakukan ini, akan sangat bagus jika kita bisa membuat event yang menarik.”

  “Itu dia! Itu maksudku. Maksudku, kita akan membuat sesuatu yang besar atau semacam itu.”

  Aku lalu mengarahkan pandanganku ke suara yang familiar itu dan Orimoto seperti sedang mencondongkan badannya ke depan, menyetujui ide tersebut. Namun, Tamanawa tampak memiliki ekspresi yang kompleks ketika melihat ke arah Macbook Airnya.

  “...Memang benar. Kupikir kita selama ini terlalu fokus dengan mengadakan event kecil-kecilan saja.”

  Eh? Benar? Apa memang begitu? Aku lalu melihat ke notulen rapat dan membaca keputusan rapat kemarin hanyalah kumpulan LOGICAL THINKING.

  Apakah mungkin mereka sudah memutuskan apa eventnya tanpa kuketahui? Aku sangat penasaran dan bertanya ke Isshiki yang berada di sebelahku.

  “Hei...Aku tidak yakin apa yang kalian hendak kerjakan disini...”

  “...Well, itu karena kita belum memutuskan secara spesifik apa yang akan kita kerjakan.”

  Isshiki mengatakannya dengan suara pelan.

  Menurut notulen rapat yang kubaca ini, yang sudah pasti hanyalah tanggal, lokasi, dan apa tujuan kegiatan ini.

  Tanggal kegiatan adalah sore sebelum hari Natal. Lokasinya adalah aula utama di Community Center. Tujuannya adalah mengadakan event Natal yang melibatkan anak-anak TK dan pengasuh mereka di tempat penitipan anak dekat Community Center sebagai partisipasi sukarela, demi mewujudkan kontribusi daerah dan pertukaran budaya.

  Tapi detail kegiatannya belum diputuskan sama sekali.

  Arah rapat ini harusnya membahas tentang detail kegiatannya. Tapi, entah mengapa aku merasa kita sedang tidak berada ke arah tersebut.

  Tamanawa menyelesaikan kata-katanya tersebut dan bertanya ke Isshiki.

  “Kalau begitu, aku ingin melebarkan skala eventnya. Bagaimana pendapatmu?”

  “Mmm. Bagaimana ya.”

  Ditanya pendapatnya bagaimana, Isshiki hanya tersenyum kecut.

  Aku mendengar ada seseorang mengembuskan napas panjangnya seperti sedang mengeluh. Ketika kulihat asal suaranya, tampaknya berasal dari Wakil Ketua OSIS SMA Sobu.

  Aku setuju.

  Tidak peduli seberapa menariknya pekerjaan ini, akan menjadi sebuah masalah jika pekerjaan kita bertambah banyak. Ini adalah sesuatu yang jelas harus kita tolak.

  “Isshiki, kita tidak punya waktu dan orang yang cukup untuk meningkatkan skala eventnya.”

  Tamanawa tampaknya mendengar kata-kataku tadi.

  “NO, NO, bukan itu.”

  Tamanawa mengatakan itu sambil menggerak-gerakkan tubuhnya disertai gerakan tangan yang aneh, nada suaranya sangat jelas sehingga bisa didengar oleh seluruh peserta rapat.

  “BRAINSTORMING adalah, tahu tidak, adalah momen dimana kamu tidak bisa menolak opini orang lain. Karena limit waktu dan jumlah personil, lalu kita tidak bisa meningkatkan skala eventnya. Disinilah, kita mencari jalan keluar agar itu bisa terlaksana. Dengan begitu, diskusinya akan mengalir dan akhirnya kita memutuskan sesuatu. Oleh karena itu, opinimu tadi tidak bagus.”

  Be-benar...Begitulah, pada akhirnya kau menolak usulanku...

  Tamanawa menatapku dengan ekspresi yang segar disertai senyuman ala Nice Guy.

  “Mari kita diskusikan caranya agar event itu bisa terlaksana!”

  Jadi meningkatkan skala eventnya memang sudah kau rencanakan sejak awal?

  Tidak ada yang menolak atau keberatan dengan saran Tamanawa.

  Setelah itu, rapat menjadi sebuah diskusi bagaimana bisa melaksanakan eventnya.



  “Mungkin kita bisa melibatkan COMMUNITY lokal?”

  “Kalau begitu, jika bisa melakukannya maka kita bisa menghilangkan GAP antar generasi.”

  Untuk saat ini, aku berusaha mengingat apa yang mereka katakan. Tapi timbul keraguan dalam diriku apakah diskusi ini memang layak untuk kuperhatikan atau tidak.

  “Bagaimana jika kita mengikutsertakan sekolah yang ada di sekitar sini?”

  Opini lain datang dari pihak SMA Kaihin.

  Meski begitu, tidak ada gunanya melibatkan sekolah lain. Kita sendiri sedang bermasalah menangani diri kita sendiri. Meningkatkan jumlah peserta rapat dari sekolah lain berarti meningkatkan opini yang muncul di rapat ini dan membuat rapatnya bertambah sulit. Pada akhirnya, pekerjaan kita akan meningkat. Aku harus menghindari hal itu.

  Tapi, penolakanku tadi langsung dia balikkan dengan mudah. Kalau begitu, apakah ada cara lain agar itu tidak terjadi?

  ...Tidak ada pilihan lain. Satu-satunya cara untuk menyatakan keberatan adalah berusaha mengarahkan diskusi ini sesuai dengan yang kuinginkan memakai gaya mereka. Kalau begitu, akan sangat sulit jika Isshiki yang melakukannya karena kata-kata yang kukatakan ini akan sangat panjang.
   
  “Ini hanya FLASH IDEA, tapi juga sebagai COUNTER saran yang barusan. Aku pikir akan lebih bagus jika kita fokus untuk membentuk efek SYNERGY dari kedua sekolah sehingga hubungan dan koordinasi mereka menjadi lebih dekat, bagaimana?”

  Dengan ini, aku bisa bertanya kepadanya tentang event apa yang ingin dilakukan sambil mencampur beberapa kosakata asing disana. Tampaknya peserta rapat bingung karena orang yang tidak diduga-duga muncul dan memberikan pendapatnya. Di seberangku, Orimoto tampak menatapku dengan terkejut.

  Tapi orang yang ingin kupengaruhi adalah satu orang.

  Seperti yang kuduga, ‘Tamanawa Sang Pecinta Kosakata Asing’ menggigit umpanku.

  “...Begitu ya. Kalau begitu, akan lebih baik jika kita mengajak pihak selain SMA. Seperti Universitas atau semacam itu.”

  Gagal, kah? Kampret betul. Kalau begini, aku harusnya mengubah tujuanku untuk berusaha mengambil alih kendali diskusi. Yang perlu kulakukan adalah terus mengejar dari titik ini.



  “Tidak, tunggu. Kalau begitu, kita tidak akan bisa mengambil INITIATIVE. Meskipun kita memegang penuh para STAKEHOLDERS dan CONSENSUS, kita masih memerlukan PARTNERSHIP dimana kita bisa punya UNBLURRY MANIFESTO yang akan memberikan kita kuasa untuk memberi SUGGESTIONS yang transparan..”
[note: Jujur saja saya tidak paham maksudnya. Tapi sebagian besar begini, kalau mengajak universitas, maka pihak mahasiswa yang akan dominan di rapat. Karena SMA Kaihin dan Sobu memegang sebagian besar pendanaan, maka harusnya mereka punya hak dominasi atas penyusunan kegiatan dan rapat.]

  “Senpai, maksudmu apa sih?”

  Isshiki terlihat pucat mendengar kata-kataku tadi. Well, jujur saja aku tidak paham apa yang barusan kuucapkan itu. MANIFESTO sendiri hanyalah kata-kata random yang kupakai. Tapi untuk saat ini, kurasa hanya itulah yang cocok untuk dipakai dalam kalimat tadi.

  Meski aku mengatakannya tanpa ekspektasi tinggi, namun dengan kosakata asing tingkat tinggi yang kuucapkan dalam pidatoku barusan, Tamanawa menganggukkan kepalanya.

  “Memang benar. Kalau begitu...”

  Bagus, bagus, tampaknya Tamanawa sudah diyakinkan. Tahu tidak? Dia adalah tipe pria yang akan mendengarkanmu ketika kamu bisa ‘berbicara’ dengannya. Dia sebenarnya adalah pria yang baik. Eh, apakah barusan aku baru saja menghancurkan opininya?

  Ketika aku memikirkan itu, Tamanawa menaikkan jari telunjuknya.

  “Kalau begitu, bagaimana jika kita melibatkan SD terdekat? Kita mungkin bisa melibatkan peserta yang berbeda dari siswa SMA.”

  “...Huh?”

  Apa yang diocehkan orang ini...?

  “Hmm, sesuatu seperti GAMEDUCATION? Dengan begitu, kita bisa membuat pekerjaan kita ini terasa menyenangkan dan memperoleh bantuan dari para siswa SD di daerah sini.”

  “Itu WIN-WIN ya?”

  Seseorang dari SMA Kaihin setuju dengan ide itu. Setelah itu, Orimoto menepuk kedua tangannya dan berkata.

  “WIN WIN! Itu dia!”

  Apaan “itu dia”...?

  Tidak hanya Orimoto, tapi yang lainnya juga tampak setuju. Tamanawa mengangguk dan mulai menyimpulkan seperti suatu masalah telah diselesaikan.

  “Pihak kami akan melakukan APPOINTMENT dan NEGOTIATION dengan pihak SD. Untuk yang lain, aku ingin menyerahkannya ke pihak SMA Sobu.”

  Dia tersenyum sambil mengatakan itu ke Isshiki.

  Tapi sikap Isshiki agak ambigu dan menjawabnya dengan “Hmm”. Tidak ada jawaban jelas ya atau tidak. Lagipula, Isshiki berada dalam pihak yang ‘tidak ada motivasi untuk bekerja’. Dia mungkin punya kesimpulan negatif mendengar pekerjaan kita akan bertambah.

  “Bagaimana?’

  Tapi Tamanawa terus menekannya.

  “...Oke. Aku mengerti.”

  Isshiki menjawabnya dengan senyum kecil.

  Well, mau bagaimana lagi. Bagi Isshiki, orang yang dia hadapi adalah pria yang lebih tua darinya dan tidak lupa dia adalah Ketua OSIS SMA lain. Ini adalah sesuatu yang dia tidak bisa tolak dengan mudah. Ini lebih mirip jika dikatakan dia dipaksa untuk menerima pendapat itu.

  Dengan begini, bertambahnya beban kerja kita sudah diputuskan.

  Wakil Ketua OSIS SMA Sobu terlihat mengeluh. Akupun ingin mengeluh juga. Bahkan kalau perlu aku ingin mengeluh setiap saat!

  Tapi memang diberikan pekerjaan tambahan akan sangat mengganggu.

  Bahkan jika itu hanyalah pekerjaan tidak berguna, itu artinya sama saja dengan menambah pekerjaan yang sudah ada. Jika ada suatu cara dimana aku bisa diperbolehkan tidak bekerja untuk seterusnya, aku rela melakukan apapun untuk mencapai hal itu...

  “Hei, apa ini benar-benar tidak masalah memberikan kami keleluasaan untuk memutuskan pekerjaan sisanya?”

  “Jika ada masalah, kita tinggal mendiskusikannya lagi dan melakukan INITIATIVE untuk menyelesaikannya.”



  Tamanawa menjawab pertanyaanku sambil merapikan poninya. Berbicara dengan pria ini memang membuat sakit kepalaku kumat...

  “Bukan itu maksudku...Jika kita berhasil melibatkan para siswa SD tersebut, itu berarti pengasuh mereka akan ikut serta juga. Kalau begitu, kita punya masalah dengan CAPACITY aulanya.”

  Aula Community Center adalah sebuah tempat yang sudah diputuskan untuk rencana ini. Tapi kapasitas orang yang bisa ditampung oleh Aulanya adalah hal yang tidak bisa kita ubah begitu saja. Kalau begitu, maka ada batas jumlah orang yang bisa berpartisipasi di event ini. Kamu tidak bisa pergi begitu saja mengundang orang yang kau mau.

  Ketika aku menjelaskan itu, Isshiki mengangguk.

  “Aah, itu benar. Kita tidak tahu berapa banyak jumlah orang dari TK dan orang-orang tua yang diundang juga...”

  Itu juga belum dikonfirmasi...? Aku merasa masih banyak hal lagi yang belum dipikirkan oleh mereka, dan mereka masih saja ngotot untuk meningkatkan skalanya, bahkan Tamanawa saja hanya diam saja! Dia hanya memasukkan opini kami di kotak yang terkunci rapat dan menjejali kami dengan pendapatnya sendiri.

  “Hmm, itu artinya kita harus konfirmasi itu dahulu. Juga, akan sangat bagus jika kita memastikan jumlah undangannya dahulu. Setelah itu, kita bisa menghitung jumlah siswa SD yang bisa kita mintai partisipasinya.”

  Untuk saat ini, yang akan kita lakukan sudah diputuskan.

  SMA Kaihin dan Sobu akan memeriksa langsung ke tempat penitipan anak terdekat dan dinas sosial. Setelah memastikan kuota yang tersisa, lalu kita pastikan dengan SD terdekat.
[note: Di Jepang, TK biasanya menjadi satu dengan tempat penitipan anak dan buka sampai malam. Lalu para lansia terdaftar di dinas sosial tedekat. Day service biasanya adalah sebuah gerakan sosial dimana para pemuda 15-45 tahun mengadakan gerakan sosial dikoordinir dinas sosial Jepang. Day service biasanya bergerak di kegiatan hiburan untuk lansia di Jepang. ]

  Mau bagaimana lagi...Kita harus memastikan jumlah partisipan tersebut. Setidaknya aku bisa merasa lega karena tidak harus berurusan dengan grup yang tidak jelas.

  Benar Hachiman! Kau harus bisa menemukan hal yang baik untuk dikerjakan!

  Rapat yang dimulai dari brainstorm, berakhir dengan cepat dan kita mulai membagi tugas.

  “Um, jadi kita akan melakukan apa?”

  Isshiki mengumpulkan para pengurus OSIS dan diriku dan mulai berbicara.

  “Kita harus bekerja juga jadi aku akan memutuskan siapa yang pergi ke tempat penitipan anak dan siapa yang tetap tinggal disini untuk menyalin notulen rapatnya dan semacam itu...”

  Fumu. Ini hanya sekedar mengkonfirmasi saja, karena tidak semua orang yang akan pergi melakukannya. Orang-orang yang pergi pastinya dibuat seefisien mungkin. Masalahnya, siapa yang akan pergi...Sejujurnya, kita tidak perlu mendiskusikan ini.

  Sebelum aku mengatakannya, Wakil Ketua mengatakan sesuatu.

  “Kupikir akan lebih baik jika Ibu Ketua yang langsung bernegosiasi dengan mereka.”

  “Ah, aaah, benar, begitu ya. Kurasa begitu...”

  Isshiki mengatakan itu sambil menurunkan posisi bahunya. Memang, yang pergi menemui mereka adalah orang yang memiliki jabatan tinggi adalah keputusan yang tepat. Jadi yang dilakukan Isshiki saat ini adalah tidak memutuskan siapa yang akan pergi, tapi membagikan tugas miliknya di ruangan ini ke pengurus yang lain.

  Si Wakil Ketua tampaknya memikirkan hal yang sama.

  “Yeah...Tidak, tidak hanya masalah ini saja. Banyak hal yang harusnya seperti itu juga, kurasa.”

  “Haa...Kupikir begitu.”

  Si Wakil Ketua tampaknya hanya bisa mengembuskan napas beratnya melihat sikap Isshiki.

  ...Jadi, kekecewaannya di rapat ini adalah soal itu, kah?

  Tidak sepertiku, si Wakil Ketua tidak mempermasalahkan tentang bertambahnya pekerjaan.

  Alasan utamanya adalah Isshiki.

  Begitu ya...Dia merasa menjadi subkontraktor yang mendapatkan pekerjaan terburuk di dunia.
   
  Para pengurus OSIS SMA Sobu yang lain termasuk si Wakil Ketua berharap Isshiki dapat bersikap seperti layaknya Ketua OSIS.

  Tapi si tersangka, Isshiki, hanya mengerjakan apa yang dikatakan oleh Ketua OSIS SMA lain, dan itupun opini yang dipaksakan. Juga, dirinya yang masih siswa kelas 1 juga berkontribusi dalam sikapnya tersebut.

  Tapi, karena akulah yang membuat Isshiki menjadi Ketua OSIS, maka aku juga harus bertanggung jawab. Aku harus memastikan kalau aku mendukungnya di kegiatan ini.

  “Isshiki, aku akan menemanimu ke tempat penitipan anak. Sementara, pekerjaan lainnya bisa diserahkan ke yang lain.”

  Aku melihat ke arah Wakil Ketua apakah yang barusan kukatakan sudah cukup, dan dia mengangguk. Isshiki yang melihat ekspresi kami berdua lalu berkata.

  “Baiklah. Kalau begitu ayo kita pergi. Oke, aku akan menelpon mereka dulu untuk membuat janji.”

  Ketika dia mengatakan itu, Isshiki lalu menekan-nekan layar HP-nya dan melakukan panggilan. Bahkan untuk pekerjaan mudah seperti mengkonfirmasi, tiba-tiba datang ke sana adalah hal yang tidak sepatutnya terjadi. Sangat penting untuk membuat janji terlebih dahulu.

  Sementara menunggu Isshiki selesai, aku berdiri saja disana berpikir tentang berapa banyak waktu luang yang kupunya. Lalu seseorang yang familiar di mataku datang mendekatiku.

  Orimoto melambaikan tangannya dan berbicara denganku.

  “Hikigaya, apa kamu waktu SMP pernah menjadi pengurus OSIS?”

  “Tidak, tidak sama sekali.”

  Kami berdua dari SMP yang sama dan dia tidak tahu itu? Tapi kalau dipikir-pikir, aku sendiri juga tidak ingat satupun orang yang menjadi pengurus OSIS waktu itu. Tapi di lain pihak, kalau aku tidak bisa mengingat mereka, itu artinya mereka bukanlah bagian dari trauma masa laluku. Jadi bisa saja mereka adalah orang-orang yang baik. Melupakan orang-orang baik itu membuatku merasa perlu untuk meminta maaf.

  Orimoto seperti berusaha mengingat-ingat sesuatu. Lalu dia mengangguk.

  “Kayaknya pernah deh. Lagian kamu tadi terlihat seperti sudah terbiasa dengan situasi yang seperti itu.”

  “Itu tidak benar.”

  Meski aku mengatakan begitu, aku mendapat banyak pengalaman mengenai organisasi dari Festival Budaya dan Olahraga. Dibandingkan pengalaman dari dua festival itu, rapat ini masih belum ada apa-apanya.

  “Ngomong-ngomong, kenapa kau datang membantu kesini?”

  “Well, aku kesini karena dimintai tolong.”

  “Uh huuuh...”

  Orimoto tiba-tiba terdiam. Dia menatapku dengan pandangan yang kurang nyaman. Aku berusaha melepaskan tubuhku dari pandangannya dan dia mengatakan kata-kata yang diluar dugaan.

  “Apa kau putus dengan pacarmu yang itu?”

  “Haa?”

  Apa-apaan yang dia katakan...? Ketika aku berusaha bertanya apa maksudnya, Orimoto melihat ke arah Isshiki yang sedang menelpon dari kejauhan.

  “Oh, aku hanya merasa kalau kau mendekati Isshiki karena itu.”

  Sekali lagi, apa maksudnya...? Memang benar, wajah Isshiki memang manis, tapi aku bukanlah seseorang pria yang bisa menangani dirinya. Juga, aku tidak pernah berpikir kalau dia adalah tipe gadis yang mau dengan pria sepertiku.

  “Tidak...Lagipula, aku belum pernah punya pacar jadi aku tidak pernah putus dengan seseorang.”

  Kenapa aku menceritakan hal-hal semacam ini kepada gadis yang pernah kutembak di masa lalu? Ada apa ini? Apakah ini semacam metode bully yang terbaru...? Lagipula, aku menyukai diriku yang menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan jujur. Kalau ini adalah sebuah kontes menulis cerita drama, maka aku bisa saja menjadi pemenangnya.

  Orimoto terlihat mengedip-ngedipkan matanya seperti terkejut.

  “Oh begitu ya...Sebelumnya aku sempat berpikir kalau kau berpacaran dengan salah satu gadis yang waktu itu.”

  Gadis yang mana...? Aku mencoba bertanya kepadanya dengan ekspresi wajahku, Orimoto lalu menaikkan jarinya dan menambahkan.

  “Ingat tidak? Gadis yang menemui kita waktu kita keluar bersama tempo hari.”
[note: Volume 8 chapter 5, adegan kafe.]

  Hanya ada satu waktu dimana aku dan Orimoto pergi bersama. Ketika itu, Hayama dan teman Orimoto juga ada disana, dan itu berarti tidak hanya ada kami berdua. Lebih tepatnya, aku hanyalah penggenap jumlah saja waktu itu.

  Waktu itu, mereka datang sesuai rencana Hayama, dan kami bertemu dua gadis. Mereka adalah Yukinoshita dan Yuigahama.

  Gadis yang Orimoto maksud pastilah kedua gadis tersebut.

  “Mereka...hanyalah member di klub yang sama denganku.”

  Kata-kata yang tepat untuk menggambarkan hubungan kami tidak bisa keluar begitu saja. Aku ingin mengatakan kebenarannya di hadapan dirinya, tetapi aku sendiri tidak begitu yakin. Sebenarnya, seberapa dalam kata ‘di klub yang sama’ yang bisa kupahami? Tepat ketika aku mulai memikirkannya, Orimoto memotongku dengan kata “Heeeh” dengan nada yang konyol.

  “Jadi kamu ikut klub ya. Klub apa?”

  “...Klub Relawan.”

  Aku tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana, tapi akan menjadi masalah jika aku mengatakan hal yang bohong. Ketika aku mengatakan yang sejujurnya, Orimoto tertawa.

  “Apa-apaan Klub itu? Aku tidak paham! Itu sangat lucu!”

  “Tidak, tidak begitu...”

  Orimoto tertawa sambil memegangi perutnya. Well, memang itu nama yang aneh untuk sebuah klub. Tapi itu bukanlah hal yang lucu.

  Aku sendiri...tidak bisa tertawa sepertinya.










x  x  x









  Aku mengikuti Isshiki setelah dia selesai menelpon tempat penitipan anak. Karena tempat tersebut bersebelahan dengan Community Center, membuat janji pertemuan tampaknya jauh lebih mudah dari yang dipikirkan. Lagipula, itu adalah tempat penitipan anak yang digabung dengan sebuah TK, jadi menerima ajakan kerjasama dari sebuah sekolah memang merupakan hal yang lumrah.

  Setelah janji pertemuan disepakati, kami langsung memproses negosiasinya setelah sampai di lokasi.

  Tempat penitipan anak ini mengingatkanku ketika masih kecil dulu, aroma keringat dan susu balita memberikan kesan nostalgia.

  Ruangan kelas, meskipun aku sendiri tidak yakin mereka memanggilnya begitu, tapi semua ruangan yang kuintip dari jendela kaca tersebut bisa dibilang kecil. Dan di dalamnya bisa terlihat ada anak-anak sedang bermain menyusun balok ataupun berlarian kesana-kemari.

  Di dindingnya ada gambar-gambar crayon  yang digantung. Dan dekorasi ruangannya adalah bunga tulip dan bintang-bintang yang dibuat dari kertas berwarna.

  Aku adalah lulusan dari tempat semacam ini, tapi ingatanku waktu itu agak samar. Bisa jadi waktu itu ada seseorang yang mengatakan “Zawsze in Love” dan memberikan mereka kunci dari sebuah loker. Sayangnya, aku tidak mengingatnya sama sekali.
[note: Ini sarkasme manga Nisekoi dari mangaka Komi Naoshi.]

  Aku lalu berkata “ooh” karena rasa penasaranku dan ketika aku melihat ke sekitarku, kedua mataku menatap ke arah guru yang sedang mengawasi anak-anak itu dibalik jendela kaca.

  Guru tersebut lalu mengobrol dengan guru yang di dekatnya. Lalu mereka menatap curiga kepadaku. Mmmm, Nyonya, ini adalah tempat penitipan anak kecil, cepatlah bertindak jika anda melihat orang mencurigakan di sekitar sekolah!

  Lalu, aku secepatnya meninggalkan area itu dan memanggil Isshiki yang berjalan di depanku.

  “Tampaknya tempat ini tidak bersahabat untukku.”

  “Tampaknya begitu...Lagipula, mata Senpai terlihat buruk sekali.”

  Isshiki menatapku sejenak dan berkata seperti itu. Kejamnya! Kupikir selama ini kau dan aku berada di pihak yang sama!

  Meski sudah memberitahu kalau kami akan datang, mereka masih tampak was-was ketika melihat pria berseragam sekolah muncul disini. Datang bersama Isshiki ke tempat ini dan berakhir dengan menakut-nakuti anak-anak dan guru-guru disini bukanlah tujuanku kesini.

  “...Kupikir aku akan menunggumu disana.”

  Aku menunjuk ke arah dinding di lorong yang tidak terlihat oleh anak-anak di dalam ruangan, tapi Isshiki malah menaruh kedua tangannya di pinggang.

  “Jadi Senpai tidak ingin membantuku, huh? Ya sudah, kalau begitu aku akan menanganinya sendiri.”

  “Aku mengandalkanmu.”

  Setelah aku mengatakannya, dia pergi begitu saja. Tampaknya Isshiki yang akan melakukan tugas berbicara dengan mereka di ruang guru.

  Meskipun aku awalnya datang bersama dia, tampaknya urusan kita disini sudah bisa selesai dengan hanya menunggunya di tempat ini.

  Aku lalu melihat ke sekitarku sambil memikirkan bagaimana aku harus menghabiskan waktuku ketika menunggunya. Aku bisa saja duduk di lorong, tapi itu hanya akan membuatku terlihat lebih mencurigakan. Tampaknya aku harus menarik kembali kesimpulanku kalau sendirian di tempat yang tidak terlihat bisa mengurangi kecurigaan para anak-anak dan guru-guru disini.

  Kupikir tidak ada yang bisa kulakukan, tapi berdiri dan diam saja disini...

  Ketika aku hanya berdiam diri disini, pintu ruangan kelas di sebelahku terbuka.

  Ada apa ini? Ketika memikirkan itu, ada gadis kecil yang keluar dari ruangan itu. Gadis kecil ini berjalan menuju pintu keluar tempat penitipan ini seperti hendak keluar diam-diam. Setelah sampai di pintu keluar, dia melompat-lompat untuk melihat pemandangan dibalik pintu tersebut. Pintu tersebut memiliki kaca yang agak tinggi sehingga gadis kecil itu perlu melompat untuk mengintip pemandangan di baliknya

  Gadis kecil ini terlihat sangat manis. Ketika dia sadar kalau dia tidak bisa melihat apapun, dia lalu berjalan kembali dengan penuh rasa kecewa.

  Gadis kecil ini memiliki rambut berwarna biru kegelapan yang diikat menjadi dua bagian. Tampilannya yang seperti ini membuatnya tampak sangat manis.

  Ketika dia melihatku, dia lalu mengatakan “ah” dan mendekatiku.

  Setelah itu, dia menarik lengan seragamku dan membuka mulutnya seperti hendak mengatakan sesuatu. Ini buruk sekali, mau apa dia? Situasi semacam inilah yang bisa membuatku terlibat sebuah masalah yang lebih besar jika ada gurunya di sekitar sini. Tapi, karena posisi kami berdua ada di dalam gedung dan tidak ada seorangpun disini, ini harusnya tidak masalah, benar tidak...?

  “...Ada apa?”

  Kalau begini, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Setelah bertanya, gadis kecil ini malah menarik-narik lenganku lebih kencang, jadi akupun mulai berjongkok di lantai. Setelah posisi kepalaku setara dengannya, si gadis kecil ini berbicara kepadaku.

  “Umm, begini, Saa-chan belum datang kesini.”

  “Ooh, begitu ya.”

  Siapa Saa-chan...? Apakah itu Ibunya, kupikir begitu...? Anak kecil biasanya sering salah menyebutkan kata-kata.

  Meski begitu, aku sudah lumayan kebal terhadap anak kecil karena Komachi, bagi anak sekecil ini, aku benar-benar lupa bagaimana cara berkomunikasi kepada mereka. Aku memang pernah sebagai anak kecil. Kalau begitu, bagaimana aku harus meresponnya...? Tapi akan menjadi masalah jika membiarkannya pergi keluar sendirian. Kupikir yang bisa kulakukan adalah mengantarnya ke kelasnya lagi.

  “Saa-chan akan datang sebentar lagi. Sambil menunggunya, ayo kita bermain disana.”

  Aku lalu berusaha mengarahkan bahunya yang kecil itu dan menuntunnya berjalan menuju depan kelasnya. Gadis kecil ini ternyata sangat patuh terhadap yang kukatakan barusan dan mengikutiku ke kelas. Tepat ketika aku hendak membuka pintu kelasnya, si gadis kecil menarik lenganku lagi.

  “Ah! Um, kau lihat tidak? Itu Saa-chan!”

  Ketika dia mengatakannya, dia menunjuk ke arah gambar crayon di ruangan kelas. Aku tidak tahu apa yang dimaksud olehnya...Mungkin itu adalah gambar yang digambar ibunya? Meski begitu, gambarnya sangat banyak jadi aku tidak tahu mana gambar yang dia maksud.

  “Yang mana Saa-chan?”

  “Yang itu!”

  Gadis kecil itu menunjuk ke arah dinding dengan agak ambigu. Di dinding banyak sekali gambar, jadi aku tidak tahu yang mana. Hmm...jadi yang mana?

  Aku lalu jongkok di depannya dan menatapnya.

  “...Oke, begini saja. Ini kanan, dan ini kiri.”

  Aku menaikkan tanganku sambil mengatakan itu, si gadis tampak mengangguk dan mengulangi kata-kataku.

  “Kanan, kiri.”

  “Yep, yep. Oke, naikkan tangan kananmu!”

  Ketika aku mengatakannya, gadis kecil tersebut menaikkan tangan kanannya.

  “Naikkan tangan kirimu!”

  Kali ini dia melompat sambil menaikkan tangan kirinya. Fumu, tampaknya dia tahu mana kanan dan kiri. Kalau begitu, aku tinggal menunjuk ke dinding yang ada gambar crayon tadi.

  “Sekarang, kakak punya tebak-tebakan. Dari gambar yang kakak tunjuk ini, gambar Saa-chan harus ke kanan berapa kali?”

  Gadis kecil tersebut melihatku dengan mata berbinar-binar dan mengatakan “oooh!” untuk game baru tersebut. Setelah itu, dia menghitung menggunakan jari-jarinya.

  “Ummm...empat!”

  “Benar. Bagus sekali!”

  Aku mengatakannya sambil menyentuh kepalanya dengan lembut. Begitu ya, jadi itu Saa-chan...Yeah, aku tidak paham. Pada akhirnya, aku sendiri tidak tahu mana yang Saa-chan. Tapi karena aku sudah menemaninya, itu harusnya sudah menghiburnya.

  Ketika aku hendak memintanya untuk masuk ke kelasnya, suara yang lembut terdengar dari belakangku.

  “Kei-chan.”

  Ketika aku membalikkan badanku, seseorang yang familiar sedang berdiri di sana. Dia adalah gadis yang sekelas denganku, Kawasaki Saki.

  Gadis kecil ini tampak senang sekali ketika nama Kei-chan dipanggil dan dia berlari menuju arahnya.

  “Saa-chan!”

  Setelah melompat ke lengannya, Kawasaki lalu mengelus-elus rambut Kei-chan. Setelah itu, dia menatapku dengan penuh kecurigaan.

  “...Kenapa kau ada disini?”

  “Err, well, aku kesini karena ada pekerjaan...”

  Malahan, aku yang harusnya bertanya kepadanya kenapa dia disini, tapi dia mengatakan itu lebih dulu. Dia lalu menatapku dengan curiga.

  “Oh ya? ...Lalu dimana Yukinoshita dan Yuigahama?”

  Aku tahu kalau dia akan menanyakan itu. Kalau aku bilang pekerjaan, maka dia akan berpikir ke aktivitas Klub Relawan. Bagi Kawasaki yang pernah terlibat dalam kegiatan kita sebelumnya, itu adalah pertanyaan yang wajar. Meski begitu, bukan berarti aku harus menjelaskan detail kepadanya. Dia juga tidak terlihat tertarik mendengarkan penjelasan detail. Oleh karena itu, jawabanku kali ini cukup sederhana.

  “...Mereka ada pekerjaan lain. Jadi aku sendiri yang kesini.”

  “...Begitu ya.”

  Setelah menjawabku, dia lalu melihat ke arah lain seperti tidak tertarik untuk melanjutkan topiknya.

  “Kalau kau sendiri?”

  Kali ini aku yang bertanya kepadanya, Kawasaki lalu memegangi bahu gadis kecil yang dipanggil Kei-chan itu. Lalu dia mengatakannya dengan malu-malu.

  “Aku...Disini untuk menjemput adik perempuanku.”

  “Hoh.”

  Jadi Kei-chan ini adalah adiknya, ya? Untung saja...kupikir gadis kecil ini tadi adalah putrinya...

  Kalau dipikir-pikir, tampilan mereka memang mirip. Gadis kecil ini pasti punya masa depan yang lebih baik darinya. Kalau ada hal yang kuinginkan, maka itu adalah melihatnya kelak lebih ceria. Itu karena onee-channya terlihat sangat menakutkan!

  Sambil mendoakan hal itu di kepalaku, aku melihat kedua Kawasaki ini. Aku tidak yakin apakah dia tahu maksudku ini, tapi Kawasaki berbicara kepadaku dengan nada malu-malu.

  “Ah, umm, dia adalah adikku, Keika...Kei-chan, ayo beritahu namamu.”

  “Kawasaki Keika!”

  Keika mengatakannya dengan menggerak-gerakkan lengannya dengan penuh enerjik.

  “Aku Hachiman.”

  Ketika aku mulai membayangkan betapa menyenangkannya menyebut nama Keika, maka aku memberitahukannya nama depanku juga. Ketika aku mengatakannya, Keika mengedip-ngedipkan matanya berkali-kali karena terkejut.

  “...Hachi, man...? Nama yang aneh!”

  “He-Hei! Kei-chan!”

  Kawasaki berusaha memperingatkannya sambil panik. Meski begitu, nada suaranya sangat lembut. Tidak seperti dirinya sehari-hari, dia terlihat sangat lembut. Dia menyandang status kakak tertua dengan tanggung jawab. Ini juga berbeda dari sikapnya yang brocon tempo hari.
[note: Vol 5 chapter 2 Hachiman mengatakan Saki ‘dasar brocon!’ lewat SMS.]

  “Tidak apa-apa, aku sendiri kadang juga merasa namaku ini agak aneh, jadi kurasa itu wajar-wajar saja. Meski begitu, menjemput adikmu, ya? Pasti berat sekali.”

  Ketika aku mengatakannya, Kawasaki langsung menjawabnya.

  “Tidak juga...Biasanya orangtuaku yang melakukannya. Aku hanya menjemputnya jika tidak ada jadwal bimbingan belajar.”

  “Tapi kalau tidak salah rumahmu agak jauh dari sini, benar tidak?”

    SMP kami mungkin berbeda, tapi jarak antara rumah kita harusnya tidak begitu jauh. Dari rumahnya kukira akan memakan sekitar satu atau dua kali melewati stasiun. Aku sendiri tidak begitu yakin berapa jauh jarak rumahnya karena mereka menaruh anaknya di tempat ini, tapi pastinya rumah mereka bukan di sekitar sini. Itu saja sudah membuatku berpikir kalau yang dilakukannya sudah berat. Meski begitu, Kawasaki mengatakan dengan pelan sambil memegangi rambut panjangnya.

  “Benar, kami biasanya mengantarkannya kesini dengan mobil...Kami memilih tempat ini karena tempat penitipan anak di dekat kami sudah penuh, juga harga di tempat ini lebih murah daripada tempat yang lain.”

  “Haaa, begitu ya.”

  Dia tampak seperti ibu rumah tangga saja. Ketika melihatnya dengan kagum, aku melihat dia membawa sebuah tas belanjaan. Tampaknya dia kesini setelah belanja untuk makan malam, itu bisa terlihat dari beberapa daun bawang yang menonjol keluar dari tas belanjaannya. Ini bahkan membuatnya terlihat seperti ibu rumah tangga!

  “Dulu aku disibukkan oleh kerja sampinganku, jadi aku tidak sempat untuk menjemputnya...”

  “Aah, ternyata kejadian itu membuatmu merasa begitu ya?”
[note: Vol 2 chapter 4, Saki bekerja paruh waktu untuk membayar biaya kuliah dan bimbingannya.]

  “Yeah...”

  Kawasaki menjawabnya dengan nada yang hangat dan yang mengisi tatapan matanya adalah Keika. Tapi, tiba-tiba dia menatap ke arahku.

  Dia menatapku dengan intens dan tampak hendak mengatakan sesuatu, tapi mulutnya seperti kesulitan untuk mengucapkannya. Tampaknya dia tidak akan bisa mengatakan apapun meskipun aku menunggunya, tapi dengan dia yang menatapku seperti itu, itu membuatku berpikir kalau dia hendak membicarakan sesuatu yang penting. Ini momen yang memalukan, jadi tolong hentikan ini...

  “...Ada apa?”

  “Ti-tidak ada apa-apa.”

  Ketika kutanya, Kawasaki hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ketika dia melakukannya, ponitailnya bergerak kesana-kemari dan mata Keika berusaha mengikuti itu.

  Lalu, Isshiki terlihat berjalan dari ujung lorong ke arahku.

  “Ah, disana ternyata. Senpaaai!”

  Diskusinya di ruang guru tampaknya sudah selesai. Kalau begitu, ini artinya pekerjaan kita disini selesai. Meski, aku sendiri tidak melakukan apapun.

  “...Eh, umm, apa tidak apa-apa aku mengganggu kalian, atau aku lebih baik kembali saja lagi ke dalam?”

  Isshiki melihat Kawasaki dan bertanya kepadaku seperti khawatir akan sesuatu. Ketika dia melakukannya, Kawasaki menatap sejenak ke Isshiki. Karenanya, tubuh Isshiki seperti melemas karena ketakutan. Aah, Kawasaki memang seperti itu, jadi kamu tidak perlu takut, oke?

  Meski begitu, kalau kujelaskan apa yang ada di pikiranku tadi, Kawasaki akan marah kepadaku. Ketika aku sedang bingung memikirkan apa yang harus kukatakan, Kawasaki menggerakkan rambutnya dan membalikkan badannya. Dia lalu menaruh tangannya di pintu ruang kelas tersebut. Setelah dia memberi salam ke guru di dalamnya, tampaknya dia berencana untuk langsung pulang ke rumah setelah ini.

  “...Sampai nanti.”

  Dia hanya menoleh sebentar kepadaku, mengatakan itu dan menarik tangan Keika. Keika meremas tangannya dan melambai-lambaikan tangan satunya kepadaku.

  “Selamat tinggal, Haa-chan!”

  “Ooh, sampai jumpa lagi.”

  Akupun melambaikan tanganku ke arahnya. Lagian, apa-apaan Haa-chan? Mungkinkah dia tidak ingat namaku? Kau harus bisa mengingat nama orang dengan baik, oke? Bahkan jika kau mengingatnya samar-samar, jangan pernah menaruh sembarang nama untuk menggantikan kata-kata yang samar itu seperti Hachi-sesuatu, oke?

  Melihat keduanya pergi, Isshiki yang berada di sampingku sejak tadi menoleh ke arahku dan arah Kawasaki. Dan seperti kebingungan, dia kemudian membuka mulutnya.

  “S-Senpai, kenalan-kenalanmu tampaknya orang yang agak antik  semua ya?”

  Aku tidak mau menyangkalnya, tapi kamu juga salah satu dari mereka...









x  x  x









  Esok harinya, setelah Wali Kelas selesai memberikan pengarahan di jam terakhir, aku merenggangkan otot-ototku.

  Masih saja ada rasa lelah karena kegiatan mengunjungi TK kemarin sore.

  Itu sebenarnya bukan kegiatan yang menguras fisikku, tapi lebih tepatnya menguras psikisku.

  Tapi setidaknya, akhirnya kami bisa memperoleh jumlah pasti berapa orang yang akan berpartisipasi dari mereka dan mendengarkan syarat-syarat yang mereka ajukan. Meskipun kita memperoleh hasilnya, tapi rapat kemarin diputuskan dilanjutkan di pertemuan selanjutnya.

  Ketika aku berpikir bagaimana aku akan menghabiskan waktuku hari ini, aku menguap begitu saja. Aku lalu mengembuskan napasku untuk melepaskan perasaan melankolis tersebut.

  Ketika aku berusaha menghapus air mataku, aku melihat Totsuka seperti hendak menaruh tangannya di pegangan pintu. Tampaknya dia melihatku sedang menguap tadi.

  Totsuka lalu berjalan ke kursiku dan tersenyum sambil menutup mulutnya dengan tangannya.

  “Kamu kelihatan lelah sekali.”

  Dia mengatakan itu pasti gara-gara melihatku menguap tadi.

  Meski aku kelelahan, aku tidak mungkin menunjukkan diriku yang seperti ini ke Totsuka.  Level kelelahan ini tampaknya sama seperti level ‘aku minum terlalu banyak’.

  “Bukankah ini sama seperti diriku yang biasanya?”

  “Kata-katamu memang ada benarnya.”

  Ketika aku mencoba becanda dengannya, Totsuka malah tersenyum balik.

  “Apa kau akan pergi ke klub?”

  “Yeah! Hachiman juga begitu kan, benar tidak?”

  “...Tampaknya begitu.”

  “...?”

  Karena aku berhenti sejenak untuk menjawabnya, Totsuka memiringkan kepalanya. Aku berusaha untuk membuat nada suara yang penuh enerjik untuk menyembunyikannya.

  “Well, lakukan yang terbaik di klub!”

  “Hachiman juga. Lakukan yang terbaik, oke?”

  “Yeah.”

  Totsuka melambaikan tangannya di depan dadanya lalu meninggalkan kelas. Aku membalasnya dengan senyuman. Meski Totsuka sudah tidak terlihat lagi di lorong, aku masih merasa malas untuk berdiri.

  Aku lalu menyandarkan lagi punggungku di kursi dan melihat ke atap ruang kelas.

  Tiba-tiba Yuigahama menutupi pandanganku.

  Tampaknya dia mengintip ke arahku. Dia sepertinya menunggu momen diriku dan Totsuka selesai berbicara.

  “...Apa kamu akan pergi ke klub hari ini?”

  Ketika pertanyaan itu terucap, kata-kata yang hendak kuucapkan seperti tersangkut di tenggorokanku.

  Apa Yuigahama khawatir karena aku pulang lebih dulu kemarin? Ketika aku melihat ekspresinya, seperti tertulis “aku tidak ingin pergi”. Jangan memandangiku dengan eksprsi wajah anak anjing! Oke, oke, aku akan pergi!

  “Yeah. Well, kupikir kita harus pergi...”

  “Oke! Aku akan ambil tasku dulu.”

  Ketika dia mengatakan itu, Yuigahama terburu-buru kembali ke kursinya. Aku lalu meninggalkan ruangan kelas lebih dulu dan menunggunya di ujung lorong yang mengarah ke Gedung Khusus.

  Sementara, dalam lorong yang sunyi ini, aku memikirkan tentang klub dan pekerjaan untuk event mendatang.

  Untuk saat ini, pekerjaannya tidak begitu banyak.

  Tapi kalau mempertimbangkan yang lain, maka kita sebenarnya kehabisan waktu. Untuk mempersiapkan waktu yang lain untuk pekerjaan ini, mungkin aku memang benar-benar butuh untuk memeriksa jadwalku ke depannya.

  Kalau begitu, bukankah itu artinya aku harus menemukan timing yang tepat untuk mengatakan kepadanya ‘aku ingin cuti sebentar dari kegiatan klub’?

  Tapi, aku ingin menghindari mengatakan hal itu. Mungkin yang terbaik adalah menghindari situasi dimana aku tidak hadir di klub. Kalau begitu, artinya aku harus melakukan hal yang sama seperti kemarin.

  Ketika memikirkan itu, ada yang memukul bahuku. Ketika melihat ke sekitarku, Yuigahama sedang berdiri di sana dengan wajah yang kesal. Tampaknya dia memukulku dengan tasnya.

  “Kenapa kau meninggalkanku?”

  “Bukankah aku sudah menunggumu disini...”

  Sambil berjalan menyusuri lorong, tampaknya kita hanya mengulangi percakapan-percakapan yang sudah-sudah. Ini hanyalah mengulang-ulang sebuah harmoni agar menjadi sebuah kebiasaan. Ini hanya membuatku berpikir kalau besok dan seterusnya hal semacam ini hanya akan berulang dan berulang lagi.

  Kalau ada yang berbeda dari pengulangan tersebut, maka itu adalah membantu request Isshiki. Aku akhirnya memutuskan untuk memberitahu Yuigahama kalau aku akan pulang lebih dulu hari ini.

  “...Ah, soal hari ini, aku mungkin akan pulang lebih dulu. Bisa jadi, akan seperti itu untuk beberapa hari ke depan.”

  Ketika aku mengatakannya, Yuigahama mengangguk dan berkata.

  “Membantu Iroha-chan?”

  Kata-katanya seperti membongkar semuanya.

  “...Kau tahu?”

  “Melihat sikapmu saja aku sudah tahu.”

  Yuigahama mengatakannya dengan tertawa.

  Memang, meninggalkan klub lebih dulu dan di kelas tampak kelelahan memang membuatmu berpikir telah terjadi sesuatu, ya? Eh, tapi kalau Yuigahama saja tahu, bukankah berarti cukup janggal jika dia tidak tahu?

  “Apa Yukinoshita juga tahu?”

  Ketika aku bertanya kepadanya, Yuigahama sedang menatap ke arah jendela yang mengarah ke luar ruangan.

  “Hmm...Entahlah? Kami berdua tidak membicarakanmu.”

  Aku tidak tahu ekspresinya saat ini. Meski begitu, suaranya seperti mengatakan kepadaku kalau dia tidak ingin membahasnya lebih lanjut. Jawabannya masih abu-abu. Tampaknya dia ingin menghindari percakapan ini mengarah kepada jawaban pasti akan pertanyaanku tadi.

  Setelah itu, kami berhenti berbicara dan berjalan di lorong ini dengan terdiam.

  Hanya suara sepatu yang terdengar menggema di lorong ini.

  Yuigahama masih melihat ke arah jendela-jendela yang berada di sampingnya.

  Aku lalu memalingkan pandanganku juga ke jendela yang berlawanan arah darinya.

  Ketika musim dingin semakin dekat, matahari sudah terlihat mulai tenggelam meskipun sore baru saja mulai. Gedung Khusus yang memang menerima pencahayaan matahari relatif kurang dari gedung yang lain, terlihat lebih gelap dari biasanya.

  Ketika aku memasuki area bayangan gelap dimana tidak disinari matahari, Yuigahama kemudian berbicara.

  “...Apa kau akan melakukan itu sendirian lagi?”

  Bahkan dalam kegelapan ini, aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Matanya tampak sedih dan dia seperti menggigit bibirnya. Aku bahkan sempat berpikir kalau tindakan yang kulakukan ini harusnya tidak membuat dirinya terlihat seperti itu.

  Ketika aku berusaha mengusir rasa tidak nyaman ini, aku mulai mempercepat langkahku.



  “Aku melakukannya karena itu adalah sesuatu yang harus kulakukan. Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu.”

  “Tentu saja aku akan mengkhawatirkan itu...”

  Yuigahama pura-pura tersenyum ketika mengatakan itu.

  Ketika melihat senyumannya, pertanyaan tempo hari tiba-tiba terlintas.

  ...Apa aku sudah melakukan kesalahan?

  Semenjak itu, aku kemudian menjawab itu dengan jawaban yang sudah lama kuputuskan.

  Aku jelas tidak melakukan kesalahan.

  Hari-hari setelah pemilihan Ketua OSIS memang seperti ini. Yuigahama menunjukkan senyumannya yang kesepian. Dan tatapan mata Yukinoshita yang menusukku sangat dalam.

  Bertanggung jawab terhadap apa yang telah kulakukan, adalah hal yang wajar.

  Kamu tidak boleh meminta orang lain untuk memperbaiki kesalahanmu sendiri. Jadi buat apa aku mengganggu mereka? Bergantung kepada seseorang, membuat kesalahan, dan akhirnya menyia-nyiakan kepercayaan seseorang membuat dirimu disebut pengkhianat.

  Untuk sekarang, yang perlu kulakukan hanyalah melakukan sesuatu agar Yuigahama tidak perlu mengkhawatirkanku.

  “Bukankah kau punya hal lain yang perlu kau khawatirkan selain diriku, benar tidak?”

  Setelah itu, aku tersenyum kecil. Aku berusaha mengubah topiknya dengan cara yang pengecut, dan aku sendiri sadar akan hal itu.

  “Yeah...”

  Yuigahama menjawabnya dan melihat ke arah bawah.

  Semakin dekat dengan Gedung Khusus, kaki kami terasa lebih berat dari biasanya.

  Meski berjalan lebih lambat dari biasanya, kami bisa melihat pintu ruangan klub.

  Apa pintunya tidak terkunci? Yang punya kuncinya hanyalah dia seorang dan kami berdua tidak pernah memegangnya sekalipun.

  Tiba-tiba, Yuigahama menghentikan langkahnya. Akupun juga berhenti. Yuigahama terus menatap ke pintu ruangan klub.

  “Apa Yukinon sebenarnya ingin menjadi Ketua OSIS...?”

  “...Entahlah.”

  Tidak ada gunanya membahas itu. Melihat sifat Yukinoshita, meski kutanya langsung kepadanya, dia mungkin tidak akan menjawabnya dengan jujur. Kalau waktu itu dia tidak mengatakannya, maka selanjutnya dia tidak akan mengatakannya. Aku tidak mau bertanya sesuatu kepadanya dimana dia sendiri tidak mau menjawabnya.





  Tidak, lebih tepatnya aku memang tidak menginginkan dirinya untuk menjawab itu.




  Setidaknya, baik aku dan dirinya tidak akan mau membahas luka masa lalu begitu saja. Tapi, aku memang membayangkan seberapa mudahnya hubungan kami berdua jika dia mau terbuka tentang apa yang membuat dirinya terluka selama ini kepadaku?



  Selama ini, malah Yuigahama yang mau menjelaskan tentang apa yang terjadi di masa lalu sementara dirinya dan diriku tidak sanggup untuk mengatakannya.


  Lalu dia berkata dengan suara yang penuh dengan semangat dan kekuatan, tidak seperti kata-katanya yang sebelumnya.

  “...Kupikir kita seharusnya menerima request itu sebagai request klub.”

  Memang, ketika Isshiki memberikan request itu, Yuigahama mengatakan sesuatu tentang bagaimana dia menginginkan klub untuk menerima request itu. Lalu, dia menambahkan.

  “Kalau Yukinon yang biasanya, kupikir dia pasti akan menerima request itu.”

  “...Kenapa kau berpikir begitu.”

  “Karena Yukinon adalah seseorang yang mau mencoba hal-hal yang diluar kemampuannya. Itu seperti...bagaimana ya bilangnya? Itu karena dia tidak bisa berada di posisi itu sehingga dia mau mencoba sesuatu yang lebih besar lagi...”

  Yuigahama mengatakannya dengan penuh perasaan dan mengatakan kata-katanya dengan putus-putus.

  Mungkin karena itulah, aku secara otomatis melihat ke arahnya. Kata-kata yang kasar dan hangat adalah tipikal Yuigahama.

  Yuigahama kemudian terlihat berusaha membenahi kata-katanya ketika melihatku sedang menatapnya. Lalu dia mengatakan lagi.

  “Oleh karena itu aku berpikir mungkin itu bisa memicu sesuatu yang bagus atau semacamnya...”

  “Begitu ya...”



  Hal-hal yang sudah hilang darimu tidak akan kembali lagi.

  Kalau kau memang ingin memperolehnya kembali, maka kau harus melakukan sesuatu yang di luar nalar untuk memperolehnya.

  Hal-hal yang selama ini menjadi bagian dari dirimu, dengan kehilangannya, maka lahirlah perasaan kehilangan itu. Kau harus bisa menerima hal tersebut. Semacam sebuah penebusan atas apa yang telah kau lakukan.

  Yukinoshita yang kuanggap tahu itu sepertinya sedang memikirkan tindakannya yang kemarin. Oleh karena itu, pikiran Yuigahama tadi tidaklah sepenuhnya salah.

  Meskipun Yuigahama memikirkan sampai sejauh itu. Meski dia tahu kalau request dari pengurus OSIS terasa berat ke Yukinoshita, dia tetap memikirkan kemungkinan itu.



  Sementara itu, bagaimana dengan diriku?



  Yang kulakukan selama ini hanya berusaha membuatnya tidak terluka lebih jauh. Bukankah yang kulakukan itu demi membuat ruangan itu tidak terasa lebih hampa dari saat ini? Ketika aku sadar kalau yang kulakukan itu semua demi egoku, aku lalu melihat ke arah Yuigahama.

  “...Memang, itu mungkin benar jika itu dia yang sebelumnya...Tapi dia yang saat ini, akupun sendiri tidak yakin akan hal itu.”

  “Yeah...”

  Suara Yuigahama terdengar sangat pelan.

  Sikap Yukinoshita ketika Isshiki datang ke ruangan itu sangat berbeda dengan dirinya yang dulu.

  Dia tampaknya kehilangan semangatnya untuk menghadapi request.

  Bahkan saat ini, dibalik pintu ini, dia mungkin hanya duduk terdiam seperti biasanya, seperti dirinya yang sudah menyerah karena kehilangan sesuatu.

  Aku akhirnya menaruh kedua tanganku di pegangan pintu tersebut dan entah mengapa untuk membukanya butuh waktu cukup lama.

  Ketika pintu terbuka, aku masuk lebih dulu dan diikuti Yuigahama.

  “Yahallo!”

  Yuigahama menyapanya dengan ceria dan Yukinoshita yang duduk di dekat jendela melihat ke arah kami.

  “Halo.”

  “...Sup.”

  Setelah saling menyapa, aku duduk di kursi yang tidak pernah berubah posisinya sejak saat itu.

  Aku melihat ke arah Yukinoshita, dia tampak tidak berbeda dengan kemarin. Kalau kau tanya apa yang berubah, maka buku yang dia baca tampaknya berbeda dan di tumpukan buku yang sudah dia baca terlihat lebih tinggi dari biasanya.

  Yuigahama mulai memainkan jempol jarinya seperti memeriksa SMS di HPnya. Akupun melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, mengambil buku di tasku dan membacanya. Tapi, aku teringat akan sesuatu dan menghentikan kegiatanku.

  Ada sesuatu yang ingin kuberitahu ke Yukinoshita sebelum ‘mode waktu membeku’ akan berjalan. Aku sudah memberitahu ini ke Yuigahama, tapi aku tetap harus memberitahunya kalau aku akan pulang lebih awal untuk sementara.

  “Hei, ada waktu?”

  Ketika aku memanggilnya, bahu Yukinoshita seperti terkejut. Aku tidak bermaksud untuk mengatakannya sekeras itu, mungkin karena suasana sunyi di ruangan ini. Yuigahama lalu menegakkan postur tubuhnya dan melihat ke arahku.

  Yukinoshita melihat ke arahku untuk sejenak. Lalu dia menutup buku yang dibacanya dan berbicara.

  “...Ada apa?”

  Suaranya yang kompleks dan matanya yang terkesan intelektual melihat ke arahku. Aku mungkin terlihat memiliki ekspresi seperti dirinya untuk saat ini.

  “Apa kamu keberatan jika aku pulang lebih dulu untuk beberapa hari ke depan?”

  Ketika aku mengatakannya, Yukinoshita mengedip-ngedipkan matanya dua hingga tiga kali. Lalu dia menaruh tangannya di dagunya seperti hendak berpikir.

  “Bagaimana ya, kita sendiri memang tidak sedang sibuk atau semacamnya...”

  Aku menunggu kata-katanya selanjutnya, tapi tampaknya tidak akan keluar dalam waktu dekat.

  “Well, itu, tahulah...Aku disuruh-suruh mengerjakan pekerjaan di rumahku...Juga Komachi sedang sibuk mempersiapkan ujiannya.”

  Alasan terakhirku tadi bukanlah alasan yang dibuat-buat. Tapi, akupun tidak bisa memberitahunya alasan yang sebenarnya. Harusnya tidak masalah jika aku tidak mengatakannya dan dia tidak tahu soal itu.

  “...Begitu ya.”

  Yukinoshita lalu menggosok-gosok sampul buku yang ada di tangannya. Dia tampak sedang berpikir. Bahkan jika aku menunggunya mengambil keputusan, tampaknya dia akan memutuskannya setelah berpikir lama sekali. Tapi Yuigahama yang melihat percakapan kami mencoba menengahi suasananya.

  “...Tapi kurasa itu bagus? Kita memang tidak bisa membantu apapun soal Komachi-chan. Oleh karena itu Hikki harus melakukan yang terbaik untuk kita, benar tidak, Yukinon?”

  “...Ya, kupikir begitu.”

  “...Maaf.”

  Entah mengapa, aku menggaruk-garuk kepalaku sambil mengatakan itu dan Yukinoshita seperti mengatakan ‘tidak perlu khawatir soal itu’. Setelah itu, kemudian ruangan itu menjadi sunyi kembali.

  Yuigahama kemudian menaikkan tangannya seperti berusaha menghilangkan kesunyian ini.

  “Ah, benar. Ayo kita kirim Komachi-chan SMS!”

  Yuigahama mengatakan itu dan secepatnya menulis SMS di HP-nya.

  Ini seperti menyindirku. Yuigahama selalu berusaha membuat suasananya cair. Ini berarti hubungan orang-orang di ruangan ini akan segera hancur dalam waktu dekat karena hanya berusaha disatukan oleh satu orang saja.



  Sebuah kekosongan dan suasana yang monoton. Mau dilihat seperti apapun, aku merasa ini seperti sebuah masa yang damai dan tanpa adanya konflik.

  Sebuah dunia yang didasari oleh manajemen kompromi. Saling bertukar kata dan semua pihak saling mengakui satu sama lain, setelah itu semuanya memberikan jawabannya dan pada akhirnya kita menyepakati sesuatu.

  Apakah ini sudah benar? Aku sendiripun ragu.

  Sebuah tempat dimana aku mengembuskan napasku yang panas dan meninggalkan tenggorokanku dengan tempo yang buruk.




  Entah mengapa, peralatan teh ini tidak pernah digunakan lagi.











x Chapter III | END x

Menuju Chapter IV









  Gadis yang Kaori curigai sebagai pacar Hachiman adalah Yukinoshita Yukino, ada juga di analisis vol 8 chapter 5. Juga, di vol 9 chapter 7 dan vol 11 chapter 4 terjadi perang dingin antara Kaori dengan Yukino. Sepertinya, Haruno memberitahu Yukino kalau gadis berambut keriting tempo hari di Kafe adalah gadis yang dulunya pernah ditembak Hachiman.

  ...

  Tentu saja ini membuka saga baru dalam pertempuran para gadis. Hachiman mengatakan dirinya single kepada Kaori, yang Kaori pikirkan:

  Ada pria yang dulu pernah menembaknya, dan terus single setelah itu. Pria tersebut ternyata adalah pria populer di SMA Sobu, pria pintar dalam akademis, dan juga pria yang pintar berorganisasi.

  ...

  Tentu saja Hachiman dicurigai oleh Kaori sedang menaruh hati ke Iroha.

  Membawakan plastik belanjaan Iroha, datang ke Community Center bersama Iroha, lalu duduk di sebelah Iroha.

  ...

  Tentu saja situasi Saki dan Hachiman terlihat awkward jika hanya berdua, karena situasi terakhir mereka berdua seperti itu adalah di vol 6 chapter 9, alias ketika Hachiman menembak Saki.

  Meski, Hachiman sebenarnya mengatakan itu secara spontan...Tapi Saki tampaknya menganggap serius hal itu...

  ...

  Dua syarat calon istri Hachiman yang pernah dijelaskan di vol 5 chapter 6 sudah dipenuhi oleh Saki di chapter ini, yaitu bisa mengurus anak dan bisa memasak. Untuk syarat pertama, bisa membayar tagihan rumah tangga, sudah terpenuhi dengan sendirinya di vol 2 chapter 4.

  ...

  Cukup diluar dugaan, Hachiman berharap Yukino terbuka kepadanya.

  Mengapa saya mengatakan diluar dugaan? Karena dalam monolog Hachiman di vol 5 chapter 3, Hachiman berpendapat kalau dia tidak perlu tahu apapun tentang Yukino agar kehidupannya damai.

  Yeah, Hachiman telah berubah.

  ...

  Saya ingin anda mengingat betul kalau Hachiman bertanya kepada Yui apakah Yukino tahu kalau dia sedang membantu Iroha.

  Karena pada dasarnya, di vol 9 chapter 2, Hiratsuka-sensei sendiri sudah memberikan lampu hijau kepada Hachiman untuk membantu Iroha secara pribadi dan tanpa membawa Klub Relawan. Sedang kita semua tahu, yang mengarahkan Iroha ke Klub dan juga menjabat Guru Pembina Klub Relawan adalah Hiratsuka-sensei.

  Jadi sebenarnya, Yukino tahu atau tidak, sebenarnya sudah tidak penting lagi. Tapi ini akan kembali dipermasalahkan di vol 9 chapter 5.

  ...

  Keinginan untuk mendapatkan kembali sesuatu yang pernah hilang itu merupakan keinginan Hayama yang pernah dikatakan kepada Hachiman di vol 8 chapter 5.

  Lalu terulang lagi di vol 9 chapter 1, bedanya, Hachiman yang mengatakan itu.

  Lucunya, baik Hayama dan Hachiman ini mengatakan itu karena gadis yang sama, Yukinoshita Yukino.

  Lebih lucu lagi, di vol 10 chapter 7 Hayama mengatakan kepada Hachiman kalau mereka berdua adalah rival. Kita semua bisa menebak dengan mudah, apa yang sedang mereka perlombakan...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar