Selasa, 03 November 2015

[ TRANSLATE ] Oregairu Vol 8 Chapter 6 : Dan kemudian, sebuah keputusan diambil oleh Yuigahama Yui




Kembali ke Chapter V
x Chapter VI x








  Menghabiskan akhir pekan dengan bermalas-malasan bukanlah hal yang aneh bagiku, tapi entah mengapa aku merasa akhir pekan ini adalah akhir pekan terburuk dalam hidupku.

  Aku akan tidur sampai siang, makan siang, lalu bermalas-malasan di sofa. Setelah itu tidur lagi jika mengantuk. Ketika terbangun, malam sudah menjelang. Setelah itu aku akan makan malam dan menghabiskan waktu bermalas-malasan lagi sampai tertidur.

  Rutinitas ini berulang dalam dua hari, dan sekarang akhir pekanku sudah berakhir.

  Obat yang kuminum sejak kemarin masih terasa pahitnya di mulutku ini.

  Itu tidak berubah hingga Senin tiba. Kalau begini, aku akan terlihat lebih suram dari biasanya.

  Ketika sampai di sekolah, kaki sudah terasa berat dan angin dingin yang tidak enak ini juga mulai menggangguku.

  Tapi setidaknya, orang-orang yang ada di kelas ini membuat suasananya menjadi hangat.

  Meski begitu, apakah cuaca hari ini yang menyebabkan suasana ruangan kelasku ini terlihat lebih suram dari biasanya? Meski terlihat tidak ada yang berubah, hanya saja...aku tidak merasa kalau suasana kelas ini lebih hidup dari sebelumnya.

  Mungkin, jawabannya terdapat di kelompok terpopuler di kelas ini.

  Di barisan belakang terdengar percakapan yang suasananya berbeda dari biasanya.

  Meski suara Tobe terdengar keras seperti biasanya, kurasa kita bisa buat pengecualian buat manusia yang satu ini.

  “Hayato, bagaimana dengan klub hari ini?”

  “Hmm. Kurasa kita siap-siap untuk hadir lebih awal ke lapangan.”

  Nada Hayama tidak berbeda dari biasanya. Nada suaranya itu bisa menentukan suasana orang-orang sekitarnya.

  “Oh iya sih, kemarin kan Klub Sepakbola diliburkan ya?”

  Ketika Ooka berbicara, Yamato meresponnya. Lapangannya memang harus berbagi dengan klub olahraga lainnya. Keduanya tampak paham hal itu.
[note: Ooka adalah member Klub Baseball SMA Sobu. Vol 2 chapter 3.]

  Entah diantara percakapan mereka itu, Miura lalu mengulang-ulang sebuah kata.

  “...Jumat.”
[note: Jumat kemarin Klub Sepakbola diliburkan karena lapangannya dipakai klub lain. Itu hari yang sama dimana Miura melihat Hayama berkencan dengan Nakamachi di PARCO.]

  Kata yang diucapkannya memang tidak berhubungan dengan topiknya. Karena menyadari maksudnya, Ebina lalu berdiri dengan tiba-tiba dari kursinya.

  “Yu-Yumiko! Oh bukan! Jumat dan Senin terdengar mirip ya?  Mana ya yang atas dan yang bawah?”
[note: Kalau tidak salah itu semacam kode-kode para gadis Fujoshi mengenai nama jumat dan senin.]

  “Jumat kah?”

  Yuigahama menjawabnya.

  “O-Oke! Yui pikir hari Jumat! Bagaimana denganmu, Tobecchi!?”

  Ketika Tobe ditanya, dia seperti orang bodoh saja.

  “Eh, uh, Jumat...?”

  Mereka membuat sebuah pembicaraan pura-pura yang tiada akhir. Tapi, Hayama hanya terus tersenyum sementara Miura dan Yuigahama seperti menahan sesuatu.

  ...Sampai segitunya agar tidak membahas kejadian hari Jumat.

  Tapi jika mereka tidak seperti itu, akan ada masalah besar.

  Mau bagaimana lagi, bukankah hubungan pertemanan grup yang stagnan dan tidak berubah adalah keinginan mereka?









x   x   x









  Waktu berjalan begitu cepat, dan tanpa terasa sekarang masuk ke jam pelajaran keempat.

  Setelah pertempuran ini usai, maka akan masuk ke jam makan siang. Suasana kelas akan kembali lagi seperti pagi harinya. Tapi itu tidak berpengaruh bagiku karena aku tidak makan siang di dalam kelas. Tapi, diantara semua kelas di sekolah ini, suasana kelas ini memang yang paling hidup. Tapi jika yang paling hidup itu menjadi suram, aku tidak bisa membayangkan bagaimana pemandangan ini jadinya jika dilihat siswa kelas lain.

  Tapi, kupikir siswa kelas lain tidak akan merasakannya. Bahkan guru yang mengajar saat inipun tidak akan sadar hal itu.

  Jam pelajaran keempat adalah Sastra Jepang.

  Ketika bel pelajaran keempat berbunyi, Hiratsuka-sensei memasuki kelas. Setelah itu, dia melihat sejenak ke para siswa.

  “...Hmm. Tumben kalian tidak seramai biasanya. Ya tidak masalah sih, kalau begitu ayo kita mulai pelajarannya.”

  Sesuai dugaanku, dia memiliki skill pengamatan yang bagus.

  Sensei menyebutkan nomor halaman yang harus kami buka dan dia mulai membacanya sambil menulis beberapa kalimat di papan tulis.

  Aku menopang daguku dengan tanganku dan membuka bukunya.

  Aku lalu melirik ke arah buku, papan tulis, dan buku tulis. Entah mengapa, aku tidak bisa berkonsentrasi terhadap pelajaran ini.

  Pelajaran terus berjalan dengan 0 ilmu yang kuserap.

  Jujur saja, aku merasakan hal yang sama selama jam pelajaran pertama hingga saat ini, dan bisa jadi akan terus begini hingga sekolah usai.

  Lalu kepalaku dihantam pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab, terus berulang-ulang.

  Koleksi-koleksi pertanyaan itu menghantuiku.

  Ketika Orimoto menatap ke arah keduanya, apa yang ada di pikirannya?

  Dia nyaris saja ribut dengan Nakamachi.
[note: Miura yang hendak berdiri dan menuju ke arah Hayama di PARCO. Vol 8 chapter 5.]

  Apa yang ingin Isshiki tanyakan? Juga, aku harus melakukan sesuatu soal request pemilihan Ketua OSISnya.
[note: Terjawab di vol 8 chapter 8, Isshiki bertanya siapa gadis yang bersama Hayama.]

  Mengenai masalah Miura tadi, aku bisa menyerahkannya ke Ebina untuk mengcovernya. Tobe juga bisa membantunya. Untungnya, itu sekaligus bisa membuat Tobe dan Ebina semakin dekat.

  Apakah aku harus memberi Komachi coklat croissant? Meski begitu, aku juga tidak yakin dia memang menginginkannya.

  Terakhir, apa yang Haruno rencanakan? Aku tidak mengerti status hubungan diantara Yukinoshita bersaudara. Bahkan hingga sekarang, aku masih belum memahaminya lebih dekat.

  Hayama terlihat tidak seperti biasanya, tapi dia masih bisa tersenyum. Pria yang luar biasa. Mungkin dia sebenarnya belum pernah tahu rasanya terluka? Jika begitu, maka pria ini adalah pria terbaik yang pernah ada. Jika aku satu-satunya orang disini yang mengkhawatirkan semua hal-hal kecil ini, maka sikapku ini memang sangat janggal, bahkan bisa-bisa aku muntah melihatnya.

  ...Di atas itu, apa yang mereka berdua pikirkan sekarang?

  Entah mengapa, tiba-tiba Sensei berhenti menulis di papan.

  Melihat hal tersebut, kedua mataku bertemu dengan kedua mata Sensei.

  “Hikigaya.”

  “Ya?”

Spontan aku menjawabnya karena mendengar namaku dipanggil.

  “Istirahat nanti temui saya di ruang guru.”

  Dia mengatakan kata-kata itu, merapikan barang bawaannya, dan meninggalkan kelas.

  Eh, pelajaran anda bagaimana...? Begitulah pikirku, tapi ketika kulihat sekitarku, semua orang sudah membereskan buku-bukunya. Mereka lalu terlihat merapatkan mejanya dengan orang disampingnya dan membuka kotak makan siangnya.

  Ketika aku menatap mereka, bell ternyata sudah berbunyi.

  Aku taruh barang-barangku di kolong meja dan berdiri dari kursiku.

  ‘Temui saya di ruang guru’, artinya sekarang aku harus menemuinya. Jadi aku lebih baik menemuinya dahulu, baru makan siang.

  Aku lalu keluar kelas dan terburu-buru berjalan ke ruang guru, namun tidak lama kemudian aku melihat Hiratsuka-sensei masih berjalan di lorong. Aku mengikutinya dari belakang menuju ruang guru.

  Meski kami tidak begitu jauh, Sensei tidak mengatakan apapun. Dia seperti mengatakan ‘jangan bicara dan ikuti saja aku ke ruang guru’.

  Ketika kami berdua sudah masuk ke ruang guru, Sensei berbalik dan berkata kepadaku.

  “Ayo kita masuk ke ruang tamu.”

  Kami akhirnya masuk lebih dalam di ruang guru dan sampai di ruangan yang khusus digunakan untuk menerima tamu para guru.

  Ruangan ini terasa agak privat dan di dalamnya ada meja kaca dan dua sofa kulit. Aku pernah kesini sebelumnya.

  “Duduklah disana!”

  Dia menunjuk ke arah sofa dan akupun duduk disana.

  Sensei duduk di sofa seberangku.

  Dia lalu mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.

  Sensei mengambil asbak kaca yang berada disamping meja dan menaruhnya tepat di depannya.

  Dia lalu menghisap rokoknya 3 kali secara perlahan, dan menaruh abunya di asbak.

  “Tampaknya kamu tidak memperhatikan betul pelajaranku hari ini.”

  “Haaa. Well, hari ini materinya tidak begitu banyak, jadi saya rasa lebih mudah dipahami.”

  Ketika aku mengatakannya, Sensei terlihat kurang senang.

  “Kamu berani mengatakannya karena punya nilai bagus, itu masalahnya.”

  Setelah meniup asap rokoknya kembali, Hiratsuka berhenti sejenak dan mulai berbicara.

  “...Aku dengar dari Yukinoshita sendiri pagi tadi.”

  Dia memanggilku kesini, maka ini pasti sesuatu yang penting. Aku lalu menegapkan posisi dudukku dan memasang telingaku baik-baik.

  Sensei lalu menaruh abu rokoknya di asbak.

  “Tampaknya dia akan maju menjadi kandidat Ketua OSIS.”

  “Siapa yang Sensei maksud dengan ‘dia’?”

  “Ya Yukinoshita sendiri.”

  Jawaban itu keluar dengan cepat ketika aku menanyakannya.

  Mendengar hal itu, hatiku mulai tidak karuan.

  Yukinoshita akan maju menjadi calon Ketua OSIS.



  ‘Mengapa?’ adalah pertanyaan yang terus muncul di kepalaku saat ini. Yukinoshita tidak suka ada di depan publik. Dia bahkan mengatakannya sendiri. Tidak lupa ketika rapat perdana Panitia Festival Budaya dia diusulkan menjadi Ketua, dan dia menolaknya dengan tegas. Dan yang terpenting, dia sudah menjadi Ketua Klub.

  Apa provokasi Haruno-san tempo hari yang membuat Yukinoshita begitu? Apakah perang diantara kedua saudari ini bisa diredakan secepatnya?

  Ketika pikiranku penuh dengan tanda tanya, Hiratsuka-sensei menambahkan.

  “Ketika kutanya persiapannya, dia mengatakan kalau Hayama akan berpidato untuknya dalam kampanye nanti.”

  “Begitu ya...”

  Hayama, huh...

  Memang benar, kalau kita berbicara tentang juru kampanye, Hayama adalah orang paling tepat dari semuanya. Tapi itu terkesan wajar jika mereka berdua punya hubungan dekat. Aku tidak tahu secara detail tentang hubungan keduanya di masa lalu. Aku mengenalnya sampai saat ini tanpa tahu sedikitpun tentang hubungan keduanya. Tapi, kalau melihat bagaimana Yukinoshita, tampaknya tindakannya kali ini tidak sesuai dengan prinsipnya.

  Jadi selama akhir pekan, Yukinoshita memutuskan untuk maju ke pemilihan, menghubungi Hayama, dan memintanya menjadi juru kampanyenya? Aku tidak paham maksud dan tujuannya, tapi kalau dari segi strategi, ini memang bagus. Kalau dari faktor itu, strategi Yukinoshita cukup masuk akal.

  Ketika Sensei mematikan rokoknya, dia berbicara.

  “Hikigaya, apa yang akan kau lakukan?”

  “Saya biarkan saja. Saya tidak mungkin intervensi apa yang mereka rencanakan.”

  Kalau dipikir-pikir, jika Yukinoshita menjadi Ketua OSIS, maka itu akan menyelesaikan banyak hal. Tidak perlu cari kandidat lain. Dan tidak ada masalah lain yang muncul.

  Aku baru saja menyadari hal itu.

  “...Kalau kita cuma ingin melihat kualifikasi kandidat, maka dia memang yang paling cocok.”

  Lagipula, mengapa kemungkinan itu tidak sekalipun terlintas dalam pikiranku?

  Sensei mengangguk saja mendengarkan kata-kataku.

  “Memang begitu...Tidak ada orang yang lebih mampu darinya. Akupun yakin kalau para guru tahu itu, mereka mungkin akan senang mendengarnya.”

  Jangankan guru, bahkan Meguri-senpai pasti akan senang mendengarnya.

  “Apakah anda belum memberitahu orang lain soal ini?”

  “Ya.”

  Sensei tersenyum dan menyalakan lagi rokok barunya. Setelah meniup asapnya ke atas, dia lalu menatapku.

  “Oke, kita langsung ke intinya. Aku tanya lagi kepadamu. Hikigaya, apa yang akan kau lakukan?”

  Ketika dia bertanya kepadaku lagi, entah mengapa aku tidak bisa menolak seperti sebelumnya.



  Aku...tidak mau Yukinoshita mengajukan dirinya sebagai Calon Ketua OSIS.



   Karena...apapun alasan yang dia miliki, ini bukanlah dirinya. Meskipun, dia hanya mencoba membuatnya terasa logis. Yang Yukinoshita lakukan saat ini adalah salah.



  Pada akhirnya, dia mencoba membawa semua beban yang dipikulnya itu sendirian, seperti kejadian pada Festival Budaya lalu.
[note: Vol 6 chapter 6, Yukinoshita jatuh sakit karena kelelahan menghadapi banyak pekerjaan panitia. Hachiman ‘mengamuk’ di rapat Slogan esok harinya dan membalikkan keadaan.]



  Dia harusnya tahu kalau aku tidak menyukai dirinya melakukan hal-hal semacam itu lagi.



  Kalau begini, maka aku akan mengambil tindakan yang sama seperti kemarin.
[note: Disini sangat jelas, Hachiman bertindak dengan membujuk Iroha maju pemilihan adalah demi Yukinoshita Yukino. Bahkan Hachiman memutuskan itu sebelum mendengar Yui akan maju juga menjadi calon ketua.]



  “...Sensei, apakah anda punya kunci ruangan Klub?”

  Ketika aku mengatakannya, Sensei menunjukkan salah satu telapak tangannya kepadaku.

  “Seperti biasanya, Yukinoshita selama ini memakai ruangan itu untuk menghabiskan jam makan siangnya.”

  Kalau begitu, Yukinoshita memakai ruangan itu untuk makan siang saat ini.

  Kalau dia memutuskannya hari ini, maka masih ada waktu untuk membatalkan niatnya karena pendaftarannya dibuka senin depan. Apakah aku berhasil meyakinkannya atau tidak, aku pikirkan nanti saja. Sekarang, aku harus berbicara kepadanya.

  Ketika aku berdiri, Sensei melihat ke arah jendela dan meniupkan asap rokoknya.

  “Meskipun tidak ada aturan tentang jadwal aktivitas Klub, dia selalu datang kesini untuk mengambil kunci ruangan itu setiap harinya.”

  “...Begitu ya. Kalau begitu saya permisi dulu.”

  Aku membungkuk kepadanya dan Sensei menaikkan tangannya tanpa melihat ke arahku. Seperti biasa, dia mengepulkan asap rokoknya lagi.

  Aku meninggalkan ruang guru terburu-buru dan menuju ke ruangan Klub.

  Aku akhirnya menaruh tanganku di pintu ruangan Klub dan membukanya.

  Di ruangan tersebut, ada Yukinoshita dan  Yuigahama. Di depan keduanya ada kotak-kotak makan siang yang sudah dibuka.

  Yuigahama menatapku dengan tanda tanya karena aku terlihat buru-buru kesini. Tapi Yukinoshita menatapku dengan tatapannya yang dingin, sama seperti sebelumnya dan tidak mengatakan apapun.

  “Yukinoshita, kamu akan mencalonkan dirimu di pemilihan?”

  “...Ya.”

  Dia menjawabnya dengan datar. Dia lalu hanya menundukkan kepalanya dan menatap ke arah bawah.

  “Eh?”

  Hanya Yuigahama yang terlihat terkejut di ruangan ini.

  “Apa dia tidak memberitahumu?”

  “Ti- Tidak...”

  Melihat Yuigahama yang kecewa, Yukinoshita lalu berkata.

  “...Aku berencana untuk mendiskusikannya denganmu nanti.”

  Meski Yukinoshita mengatakannya, dia memalingkan pandangannya dari Yuigahama.

  “Kamu tidak bisa mengatakan itu diskusi jika kau sudah memutuskannya sebelum berdiskusi.”

  Mungkin ada benarnya dia hendak mendiskusikannya. Tidak, dia mungkin memang sudah berencana untuk mendiskusikannya sedari tadi. Tapi, yang ingin kutanyakan selanjutnya tidak terkait itu.

  “Apa ini...Apa ini karena kata-kata kakakmu kemarin?”

  Tapi Yukinoshita menjawabnya tanpa menatap ke arahku.

  “Nee-san tidak ada hubungannya dengan ini. Aku tidak menganggap kata-katanya secara serius. Ini murni keinginanku sendiri.”

  Aku benar-benar tidak paham. Semakin aku membahas hubungannya dengan kakaknya, semakin sedikit yang bisa kumengerti. Tapi kuakui, membahas itu memang kecil kemungkinannya Yukinoshita mengubah keputusannya.

  Maka, aku harus mencari alasan lain.

  “Bukannya kamu pada awalnya hendak mendukung Hayama yang maju jadi calon?”

  “Dia punya klub untuk dipimpin, dan diluar sana tidak ada orang lain yang cocok untuk jadi calon, benar tidak?”

  Yukinoshita menjawabnya sambil melirik ke kedua tangannya yang berada di atas meja. Mendengarkannya, Yuigahama lalu berbicara.

  “Tapi, Yukinon, kau juga punya klub...”

  Kata-katanya itu membuat Yukinoshita menegakkan kepalanya dan melihat ke arah Yuigahama.

  “Aku akan baik-baik saja. Klub ini tidak sesibuk Klub Sepakbola dan akupun sudah mengerti tentang cara kerja Pengurus OSIS, jadi kupikir aku tidak akan kesulitan sama sekali.”



  Begitulah katanya, tapi...apakah itu yang sebenarnya?

  Lihat apa yang terjadi dengan Klub dan dirinya ketika Festival Budaya kemarin.

  Aku bisa paham mengapa Hayama tidak jadi mereka calonkan. Mungkin dari semua klub, Klub Sepakbola adalah yang paling bagus di SMA ini. Sebagai ketua dan kapten tim, dia tidak boleh melewatkan latihan rutinnya. Oleh karena itu, dia tidak bisa berpartisipasi di OSIS. Oleh karena itu sejak awal, aku sudah mencoret Hayama dari daftar calon potensial.

  “Bagaimana kalau mencari kandidat lain selain Hayama?”

  “Bukannya kamu sendiri yang menolak ide itu?”

  Yukinoshita menjawabnya dengan dingin.

  Sial, memang sih, kalau melihat waktu tersisa seminggu dan harus membujuk orang, maka itu akan sulit. Dan orang yang mengatakan hal itu tidak lain adalah aku sendiri.

  Aku tidak pernah berpikir kalau kata-kataku tempo hari akan dia ingat dan digunakan untuk membalikkan kata-kataku. Aku lalu menggaruk-garuk kepalaku.

  “Jadi karena itu, kamu lalu berpikir untuk mencalonkan dirimu sendiri?”

  Lalu, Yukinoshita dengan tenang, tidak...dengan sadis menjawabnya menggunakan nada suaranya yang terkesan dingin.

  “Kalau kita berpikir secara logis, maka mencalonkan diriku adalah keputusan yang terbaik. Aku percaya kalau diriku bisa memenangkan pemilihan melawan Isshiki. Lagipula jika aku melakukannya sendirian, aku bisa dengan mudah memutuskannya tanpa perlu meminta pendapat orang lain. Ini juga menjadi contoh motivasi yang baik bagi Pengurus OSIS yang lain. Tidak seperti pemilihan sebelumnya, kini kita bisa melangsungkan pemilihan dengan baik tanpa khawatir tentang calonnya...Lagipula, aku sendiri tidak keberatan jika aku yang mencalonkan diriku sendiri.”

  Setelah itu, dia seperti bernapas lega.



  Dia menatap ke arah bawah setelah mengatakan itu. Ekspresinya seperti mengatakan dirinya sedang menanggung kesedihan yang luar biasa dan bercampur dengan sebuah determinasi yang tragis.



  ‘Cara yang paling efektif’...kah?




  Entah mengapa, kata-kata itu menusuk diriku. Dia bukanlah satu-satunya orang yang bertindak demi efisiensi. Pria itu, juga bertindak karena alasan yang sama, pria yang mirip dengannya.
[note: Pria itu bernama Hikitani ketika insiden penembakan Ebina.]


  Oleh karena itu, mungkin dikatakan paling efektif, karena terbaik daripada beberapa pilihan yang ada.



  “Itu bisa jadi akan sukses, aku bahkan tahu itu. Tapi, bukankah masih ada cara lain selain maju menjadi calon?”

  Ketika aku mengatakan itu, dia menatapku.

  “Apakah kamu sedang membicarakan rencanamu yang kemarin?”

  Dia bertanya dengan tatapan matanya yang tajam. Mata itu lagi...

  Tapi aku tidak berniat untuk kalah kali ini. Jadi aku juga ngotot menatapnya dan menjawab.

  “Ya.”

  Jujur saja, rencanaku tidak 100% jaminan sukses. Tapi aku tidak akan mundur dan meyakinkan diriku kalau itu yang terbaik untuk saat ini.

  Aku bahkan sudah mengepalkan tanganku ketika mengatakannya.

  Yukinoshita lalu memalingkan pandangannya dariku, menutup matanya sejenak dan mengambil napas yang panjang.

  Setelah itu, dia menatapku kembali. Kali ini, aku merasakan tekanan yang luar biasa.

  “Kamu percaya diri sekali kalau kata-kata dan sikapmu itu sendiri akan bisa meyakinkan seluruh siswa di sekolah ini untuk menuruti skenariomu. Kupikir itu tidak akan menyelesaikan apapun.”

  Dia seperti menusukku di tempat dimana aku sedang terluka.

  Seperti kata-katanya. Aku bukanlah orang yang memiliki pengaruh di sekolah ini.

  Meski aku dibenci di sekolah ini, aku juga ragu mereka masih mengingatku sampai saat ini. Juga, aku tidak yakin kalau aku bisa membuat mereka membenciku. Lagipula, Isshiki juga bisa dibenci oleh mereka karena diriku.

  “Kalau hanya itu masalahnya, aku tinggal memikirkan sesuatu untuk meyakinkan mereka saja.”

  Aku tinggal berpidato dengan sikap lebih pengecut dan gombal, sehingga mereka merasa tidak senang melihatku. Jika cuma untuk menimbulkan rasa jijik dan benci, maka aku punya daftar tindakan yang mungkin untuk menimbulkan perasaan itu.

  Aku berusaha mengatakannya dengan sedikit tersenyum. Melihatku seperti itu, Yukinoshita lalu memalingkan pandangannya dariku.

  “...Kamu terlalu percaya diri jika kamu pikir kamu bisa membuat orang-orang mengingatmu dan membencimu.”

  Kata-katanya itu sangat melukaiku daripada alasan-alasan logis yang lain.

  Sebuah monster yang berasal dari kesadaran diriku sedang terjebak di sebuah labirin yang dalam.

  Tidak ada satupun yang bisa kukatakan untuk membalas Yukinoshita.

  Ketika pembicaraan selesai, suara jendela yang diterpa angin mulai mengisi suara ruangan ini. Angin dari utara mulai terasa bertiup ke ruangan ini.

  “...Caramu melakukan sesuatu berbeda dengan bagaimana caraku melakukannya.”

  Dia mengatakannya sambil menatap ke arah bawah, dia terlihat sedang mengepalkan tangannya. Kata-kata itu adalah kata-kata yang aku sendiri setuju akan kebenarannya.

  “Kurasa begitu...”

  Kurasa memang berbeda. Bukan masalah siapa benar dan salah, tapi yang berbeda adalah motivasi kita melakukannya. Dan sayangnya, itulah yang membuat jarak kita semakin menjauh.

  Yuigahama sedari tadi hanya mendengarkan percakapan kami, dia seperti memikirkan sesuatu.

  “Begitu ya...Jadi Yukinon akan maju menjadi calon ketua ya...”

  Yuigahama lalu tidak mengatakan apapun.

  Ketika aku merasa bahwa waktu sudah semakin membeku, Yukinoshita lalu menatap ke arahku.

  “Apa ada yang lain lagi?”

  “...Tidak, aku cuma ingin mengkonfirmasinya denganmu saja, tidak ada yang lain lagi.”

  Jujur saja, aku tidak tahu apa yang sedang ingin kukonfirmasi. Keputusanku yang menolak tindakan Yukinoshita ternyata menghadapi situasi yang lebih sulit. Kalau begitu, aku mundur dulu sekarang. Memang keputusanku ini bukan yang terbaik, tapi katakan saja kalau ini plan B dariku.

  “...Begitu ya.”

  Tidak jelas apakah dia hanya sekedar membalas atau bagaimana, tapi dia mulai merapikan kotak makan siangnya.

  Aku membalikkan badanku dan meninggalkan ruangan itu.

  Gema suara pintu yang barusan kututup seperti menjadi satu-satunya suara yang kudengar dari ruangan itu.

  Ketika aku berjalan meninggalkan Gedung Khusus, Hayama terlihat sedang berjalan di lorong ini. Dia lalu melihatku dan melambaikan tangannya.

  “Jadi kamu kesini juga?”

  Dia tampaknya senang sekali berbicara tanpa melihat suasananya.

  “...”

  Aku tidak berniat untuk membuka pembicaraan. Jadi aku memberikan isyarat saja seperti menanyakan mengapa dia ada disini.

  “Oh, aku barusan dipanggil untuk bertemu dengan mereka.”

  “Begitu ya.”

  Aku membalasnya dan mulai berjalan meninggalkannya.

  Ketika kami hampir melewati satu sama lain, Hayama berbicara.

  “Aku akan membantu Yukinoshita...Kamu sendiri, apa yang akan kamu lakukan?”

  “...Aku tidak akan melakukan apapun.”

  Aku mengatakan itu dan melanjutkan langkahku tanpa menoleh ke arahnya.

 


  Sejujurnya, aku bukannya tidak mau melakukan apapun, lebih tepatnya kalau aku tidak bisa melakukan apapun untuknya.




  Akupun tidak punya kata-kata yang bisa melawan Yukinoshita. Kata-katanya memang terdengar lebih logis dari punyaku.




  Lagipula, mengapa aku dari tadi berusaha membuatnya berubah pikiran?




  Aku tidak punya alasan untuk melakukannya.




  Harusnya kubiarkan Yukinoshita maju ke pemilihan, tanpa ragu dia akan memenangkannya. Tidak hanya karena dia mampu, tapi juga karena Hayama juga menjadi juru kampanyenya.


  Aku lalu berjalan kembali ke kelasku, dan baru saja sadar kalau aku lupa untuk makan siang.








x   x   x








  Gara-gara kelaparan, aku tidak bisa fokus kepada pelajaran sampai jam terakhir. Aku juga ragu kalau ada satupun ilmu yang masuk ke telingaku.

  Aku sedari tadi hanya menatap ke arah depan, karena jika aku memalingkan kepalaku, Yuigahama dan Hayama akan terlihat. Setelah itu, hal-hal yang mengganggu akan mulai mengisi kepalaku lagi.

  Bagiku, hal terbaik hari ini adalah cepat pulang ke rumah.

  Setelah jam pelajaran terakhir dari Wali Kelas, kami akhirnya bersiap-siap untuk pulang.

  Ketika aku keluar kelas dan menuju ke lorong, sebuah suara memanggilku dari belakang.

  “Tu-Tunggu dulu!”

  Ketika aku melihat ke belakang, Yuigahama berlari ke arahku. Dia tampak malu-malu sambil berusaha mengatur napasnya.

  “Emm...mau pulang bersama?”

  “Aku bawa sepeda kesini. Juga, rumah kita berada di lokasi yang berbeda.”

  Aku mengatakan hal yang paling normal, tapi Yuigahama tidak menyerah disitu.

  “Ya. Oleh karena itu...cuma sampai disana saja.”

  Ketika dia mengatakannya, Yuigahama menunjuk ke sebuah arah yang tidak kuketahui.

  Ah sudahlah, menuju arah rumah Yuigahama anggap saja sebuah tur singkat. Aku masih bisa pulang ke rumah setelah itu. Akupun tidak punya kegiatan lain selain langsung pulang ke rumah.

  Lagipula, aku sudah tahu apa yang hendak Yuigahama bicarakan denganku.

  “...Aku akan mengambil sepedaku dahulu. Tunggu saja disini.”

  Aku menunjuk ke arah gerbang samping sambil mulai berjalan.

  “Ah, aku juga kesana.”

  Setelah mengatakannya, Yuigahama mengikutiku dari belakang.

  “Nah, tidak usah.”

  Aku menghentikannya dan menuju ke area parkir sepeda. Bagi kami berdua pergi ke tempat parkir seusai sekolah adalah hal yang memalukan. Tidak lupa, Yuigahama pasti terlihat ganjil. Dia jelas-jelas tidak naik sepeda ke sekolah, jadi dia tidak punya alasan untuk berada di sana. Aku juga tahu kalau dia populer di kalangan pria-pira. Melihatnya berada disini bersamaku bukanlah hal yang bagus.]

  Aku lalu membuka kunci sepedaku dan menuntunnya ke gerbang samping.

  Yuigahama menunggu di gerbang samping dan ketika melihatku, dia melambaikan tangannya. Seperti kataku, jangan melakukan hal-hal yang membuat kita terlihat mencolok!

  Kami akhirnya berjalan bersama, dengan diriku menuntun sepedaku sedang Yuigahama berjalan di sampingnya.

  Memikirkan arah tujuan kami, akupun memikirkan sesuatu.

  Kalau dari stasiun ke rumahnya, pasti memakan waktu beberapa menit. Mungkin naik sepeda atau bus lebih cepat. Kupikir, Yuigahama akan ke sekolah dengan naik bus.

  Kami lalu melewati jalan yang berbatasan dengan taman dekat sekolah dan stasiun.
[note: Ini rute yang sama ketika Hachiman mengantar Haruno di vol 10 chapter 6.]

  Pepohonan di taman tampaknya sudah tidak lagi menggugurkan daunnya dan tidak ada tanda-tanda ada anak kecil bermain disana.

  Jalan yang kami lalui ini kadang kala berpapasan dengan siswa-siswa yang juga sedang pulang sekolah.

  Aku tetap terdiam sambil menuntun sepedaku dan Yuigahama juga hanya berjalan dengan terdiam sedari tadi.

  Tampaknya kami berdua sedang mencari timing yang tepat untuk berbicara.

  Kesunyian terus berlanjut, dan sebentar lagi akan melewati belokan yang menuju ke kompleks apartemen. Bayangan-bayangan dari kompleks tersebut mulai mengisi sebagian besar area tersebut.

  Ditemani cahaya matahari yang mulai memudar dan angin dari utara, dingin mulai menjalar ke tubuh kami.

  Tiba-tiba, Yuigahama berbicara.

  “Jadi, Yukinon akan maju sebagai calon di pemilihan nanti, ya?”

  “Yeah.”

  Untuk saat ini, itulah yang mengganggu pikiran kami. Bahkan Yuigahama tidak diberi oleh Yukinoshita. Apa yang sebenarnya Yukinoshita pikirkan dan apa yang sebenarnya ingin dia lakukan?

  Kupikir kita akan membicarakan itu.

  Tapi Yuigahama membicarakan sesuatu yang berbeda.

  “...Aku juga. Aku pikir aku akan mencobanya juga.”

  “Hah?”

  Aku menatap ke arahnya dan berusaha mencari tahu maksudnya.

  Tapi Yuigahama hanya terdiam dan melihat ke arah sepatunya dengan ekspresi serius.

  ‘Aku akan mencobanya juga’. Yang dia katakan tampak serius, dan jika melihat kata-katanya sebelumnya, maka artinya dia akan mencalonkan diri menjadi calon ketua seperti Yukinoshita.

  “Kenapa kau berpikir seperti itu...”

  Aku berpikir kalau Yuigahama bukanlah tipe gadis yang akan maju jadi calon ketua. Sejujurnya, itu tidak cocok dengan image dirinya.

  Ketika kutanya, Yuigahama menendang kerikil di dekat kakinya.

  “Tahu tidak, aku tidak punya apapun. Apa yang ingin kulakukan, apa yang bisa kulakukan, aku tidak punya itu. Oleh karena itu, di lain pihak, mungkin diriku ini bisa berguna untuk sesuatu.”

  Ketika dia selesai, dia menegakkan kepalanya. Dia mencoba tetap tersenyum meskipun dia merasa malu karena membicarakan hal yang sangat serius.

  “Di lain pihak katamu? Jangan secara egois mengambil keputusan untuk dirimu sendiri.”

  “Aku tidak melakukannya untuk egoku.”

  Yuigahama lalu berhenti berjalan. Karena dia menatap ke arah bawah, aku tidak tahu ekspresinya seperti apa. Tapi kata-katanya cukup tajam. Ini pertama kalinya aku mendengar dirinya mengatakan hal semacam itu.

  “Yang egois itu adalah kalian semua.”

  Kata-katanya seperti penuh dengan emosi.

  Memang, aku tidak berhak mengatakan apapun. Insiden waktu darmawisata kemarin memang aku yang egois memutuskannya sendiri. Tentunya kali ini, Yukinoshita menjadi calon ketua juga seperti itu. Kami hanya memutuskan sesuatu berdasarkan ego kami.

  Tapi alasan itu tidak cukup bagus baginya untuk mencalonkan diri.

  “Apa kamu sudah memikirkannya baik-baik?”

  Ketika aku bertanya itu, Yuigahama mengangguk sambil ekspresi wajahnya menghadap ke bawah.

  “Sudah. Aku sudah memikirkannya dan kupikir ini jalan satu-satunya.”

  Dia lalu berhenti sejenak, meremas pegangan tas punggunya.

  “Kali ini, kita semua lakukan yang terbaik. Kami sadar kalau selama ini menyerahkan semuanya ke Hikki untuk melakukan sesuatu.”

  “Aku belum menyelesaikan sesuatu.”

  “Benarkah?”

  Dia lalu tersenyum sambil memiringkan kepalanya.

  “Benar itu. Oleh karena itu kamu tidak perlu memaksakan dirimu.”

  Itulah yang bisa kukatakan.

  Jujur saja, tidak ada hal bagus yang pernah kuselesaikan. Yang kulakukan hanyalah memuji atau mengevaluasi. Yang kulakukan adalah melemparkan teori egoku ke orang lain, itu saja.

  “Itu bukanlah satu-satunya alasanku.”

  Yuigahama menatap ke arah sekolah dari kejauhan.

  “Jika Yukinon menjadi Ketua OSIS, dia mungkin akan fokus ke tugasnya. Dia akan berusaha menjadi Ketua OSIS terbaik yang pernah ada. Tapi, kita mungkin akan kehilangan Klub kita, benar tidak?”

  “Itu belum tentu benar.”

  Aku tidak berbohong. Klub Relawan masih bisa ada.

  Meskipun rambutnya tidak panjang, cahaya matahari senja mulai membayangi rambutnya.

  “Kita akan kehilangan itu. Persis seperti Festival Budaya dan Festival Olahraga. Bagaimana Yukinon fokus ke satu hal, bahkan Hikki tahu ini, benar tidak?”

  “...”

  Aku tahu ini. Ketika kita mendapatkan request yang berkaitan dengan event besar, maka kita akan memberikan totalitas kita disana.

  Tapi Yukinoshita memiliki batasan. Pekerjaan yang bernama Ketua OSIS itu punya pekerjaan sepanjang tahun, sehingga jelas akan sulit untuk terlibat di aktivitas Klub Relawan.

  Ketika aku memikirkannya, Yuigahama berjalan dan sekarang berada di depanku.

  “Kamu tahu, masalahnya adalah...”

  Roknya seakan-akan melambai-lambai. Dia memegang tangannya di belakang dan berhenti.

  Lalu dia menatapku.

  “...Aku suka Klub ini.”

  ‘Oleh karena itu aku ingin melindunginya’. Mungkin itulah kata-katanya selanjutnya.



“...Aku benar-benar suka.”

  Ketika dia mengulangi kata-kata yang terakhir, air matanya mulai terlihat di ujung kedua matanya.

  Aku tidak tahu harus mengatakan apa.

  Dalam situasi ini, apa yang bisa kukatakan?

  Aku berdiri disana tanpa mengatakan apapun, Yuigahama terlihat terkejut dan menggosok-gosok kedua matanya dengan lengan bajunya.

  Lalu, dia pura-pura tersenyum.

  “Tahu tidak, kalau aku jadi Ketua OSIS, kupikir aku bisa melakukan apapun dan membuat Klub tetap berjalan atau semacam itu. Maksudku, itu adalah diriku. Bukannya aku berharap orang-orang punya ekspektasi denganku atau semacamnya.”

  “Tidak, meski begitu.”

  Yuigahama memotongku.

  Yuigahama lalu mendekatiku dan menaruh tangannya di dadaku, dan mengatakan kepadaku untuk tidak mengatakan apapun.

  Di depanku ada wajah Yuigahama yang menghadap ke bawah. Karena aku memegang sepeda dan tidak bisa bergerak, aku diam saja disana.

  Yuigahama lalu menegakkan posisi kepalanya.

  “...Oleh karena itu aku akan menang melawan Yukinon.”

  Air matanya sudah terhenti dan tatapannya memiliki sebuah determinasi tinggi.

  Ketika aku hendak mengatakan sesuatu dan mengawalinya dengan menyebut namanya, Yuigahama lalu melangkah mundur.

  Dia lalu melihat ke sekitarnya, membetulkan posisi tas punggungnya, dan berbicara terburu-buru.

  “Ah. Kurasa cukup sampai disini saja...! Oke, sampai jumpa!”

  “Ah, benar...Sampai jumpa lagi.”

  Aku membalasnya begitu saja dan melihatnya pergi. Lalu tidak lama kemudian dia membalikkan badannya.

  “Sampai jumpa Hikki.”

  Ketika dia mengatakannya, dia sedang melambai-lambaikan tangannya.

  Aku berdiri disana ditemani matahari senja melihat Yuigahama tersenyum menuju tempat dimana tanganku sendiri tidak bisa menggapainya, area dimana dia sendiri menaruh semua rasa sakitnya disana.

  Setelah itu, aku membalikkan sepedaku dan kembali ke jalan semula.

  Setelah menuju jalan raya, aku kayuh sepedaku.

  Lalu aku berpikir.

  Yuigahama menjadi Ketua OSIS untuk melindungi Klub Relawan tempat dimana dia berada.

  Jika memang ada orang yang bisa menang dari Yukinoshita, bisa jadi orang itu adalah Yuigahama.

  Yuigahama adalah member dari grup kasta teratas di sekolah yang juga punya banyak koneksi, lebih banyak dari Yukinoshita. Dia punya peluang dimana bisa mencuri suara Hayama. Meskipun ada Hayama, tapi Yuigahama disupport Miura dan yang lain.

  Selain itu, Yuigahama adalah gadis yang luar biasa.

  Jadi, kurasa tidak ada yang aneh jika melihatnya menjadi Ketua OSIS.

  Yukinoshita Yukino dan Yuigahama Yui.

  Tampaknya pertarungan nanti cuma berada diantara keduanya. Siapapun yang kalah, Isshiki Iroha mungkin merasa kalah dengan wajar.

  Ini adalah metode yang paling baik kalau kita memikirkan hasilnya.

  Request Isshiki terselesaikan.

  Tapi itu kalau melihat hasilnya saja.

  Juga kemungkinan besar, klub akan hilang.

  Mengesampingkan kata-kata Yuigahama, dia mungkin berusaha mengerjakan tugaasnya sebagai Ketua OSIS. Pertama, dia berusaha membagi waktunya, pada akhirnya dia akan mencapai limit.

  Dari tampilannya saja, dia terlihat sebagai orang yang rajin dan peduli kepada sesamanya. Tidak ragu, dia bisa jadi Ketua OSIS yang ideal. Pada akhirnya, dia akan sulit datang ke Klub.

  Oleh karena itu Klub akan hilang.

  Hanya nama dari klub itu sendiri yang masih ada, dan isinya berbeda dari biasanya.

  Ini adalah sesuatu yang kusadari sebelumnya.

  Tidak hanya diriku, juga bagi keduanya.

  Kalau keputusan ini diambil bersama oleh mereka berdua, maka aku tidak keberatan.

  Hanya itu.

  Hanya itulah. Meski begitu.

  Terasa sangat meyakinkan jika kamu memilih sesuatu karena terpaksa oleh kondisi.

  Karena berusaha melindungi suatu hal yang kaurasa penting, maka kau harus merelakan cita-citamu. Melihatnya seperti itu adalah sesuatu yang cukup menyakitkan.

  Tanpa adanya orang yang jadi korban, maka drama akan terus berlanjut. Dan aku tahu hal itu.

  Aku bukanlah korban, jadi hal semacam kasihan dan simpati bukanlah hal yang kubutuhkan. Meski begitu, aku sendirilah yang arogan mengatakan hal-hal tersebut.

  Sebuah kontradiksi...

  Langit sore yang merupakan campuran dari senja dan malam diselingi angin dingin mulai membekukan jari-jemariku. Entah mengapa, kakiku seperti berhenti mengayuh sepeda ini.






x Chapter VI | END x

Menuju Chapter VII









  Lucu jika melihat bagaimana Hachiman bingung dengan sikap Yukino yang memutuskan maju menjadi ketua, tapi terus mempermasalahkan misteri masa lalu antara Hayama dan Yukino.

  Kadang saya berpikir, mengapa Hachiman terus membawa-bawa misteri masa lalu mereka berdua?

  ...

  Hachiman memutuskan untuk menggagalkan pencalonan Yukino sejak di ruang guru. Tidak setelah Yui memutuskan untuk terlibat dalam kandidat Ketua OSIS.

  ...

  Adegan Yui dan Hachiman ketika pulang sekolah...

  Jelas kata "suka" kedua dari Yui belum tentu dialamatkan ke Klub. Kemungkinan besar ke Hachiman. Ini ada hubungannya dengan sikap Yui di vol 3 chapter 1 yang masuk ke Klub Relawan hanya sekedar untuk mendekati Hachiman.

  ...

  Kalau kita jeli, harusnya Sensei memanggil Yui juga jika ingin mencegah Yukino. Tapi kenyataannya, Sensei hanya memanggil Hachiman saja. Artinya, Sensei tahu jika Hachiman bertindak, maka Yukino bisa membatalkan pencalonannya. Sensei tahu kalau Yukino maju menjadi kandidat untuk mencegah Hachiman menjadi juru kampanye hitam Iroha.

  ...

  Kata-kata Hachiman tentang keputusan Yui untuk maju menjadi kandidat Ketua adalah untuk memuaskan ego Yui, memang ada benarnya. Itu karena Yui merasa dirinya membiarkan begitu saja Yukino dan Hachiman menjadi martir sosial, sedang dirinya bisa tenang-tenang saja. Ini terkesan seperti aksi solidaritas saja.

  Padahal, inti masalahnya adalah sederhana : Hachiman tidak sadar kalau keputusannya menjadi jurkam hitam Iroha-lah pemicu terjadinya rentetan kejadian ini.

  ...

  Ada hal yang mengganjal kepala Hachiman sejak berada di ruang guru.

  Yaitu kenapa Yukino memutuskan untuk maju menjadi kandidat ketua?

  Jika karena terprovokasi Haruno, maka Hachiman akan turun tangan, apapun yang diperlukan. Itu sesuai prinsipnya di vol 6 chapter 5, tentang jalan hidup seseorang yang diganggu.

  Tapi jika karena Yukino sendiri berkeinginan menjadi ketua OSIS, maka Hachiman sebenarnya tidak berhak untuk menghalanginya.

  Hal di atas-lah yang menjadi pertimbangan Hachiman mengenai Yukino. Disini, Hachiman benar-benar tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Yukino, karena berpikir secara logis hanya menghasilkan dua kesimpulan di atas. Tapi, Hachiman tidak pernah mau berpikir secara perasaan.

  Maksud berpikir secara perasaan adalah: Hachiman tidak berpikir kalau Yukino melakukannya untuk menyelamatkan dirinya agar tidak menjadi pembohong seluruh siswa di sekolah.

  Hachiman tidak akan pernah berpikir ke arah sana karena itu sudah tertulis dalam keyakinannya di vol 3 chapter 4 : Tidak akan pernah ada satupun gadis yang akan mau berkorban untuknya. Kenyataannya, ada Yukino yang mau melakukannya. Dan Hachiman baru sadar akan hal ini di vol 9 chapter 9.

  ...

  Sebenarnya, alasan Yui kalau dia melakukannya demi Klub yang dia cintai adalah bohong. Jika Yui benar-benar mencintai Klub Relawan, maka di vol 3 chapter 1 Yui tidak akan sengaja bolos dari kegiatan Klub, berbohong ke Yukino hanya demi menghindari Hachiman.

  Yang Yui cintai sebenarnya adalah Hikigaya Hachiman. Yui masuk Klub Relawan untuk mendekati Hachiman. Yui maju menjadi calon Ketua OSIS agar Hachiman tidak mengorbankan dirinya lagi. Tapi Yui tahu kalau dia tidak akan bisa menang dari Yukino, juru kampanye Yukino juga Hayama.

  Miura, juru kampanye Yui adalah musuh seluruh gadis di SMA Sobu, Yui sudah jelas-jelas kehilangan separuh suara. Juga, para pria takut dengan Miura. Bahkan Tobe yang dekat dengan Miura-pun merasa takut dibuatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar