Minggu, 22 Januari 2017

[ TRANSLATE ] Oregairu Vol 1 chapter 7 : Dewa Rom-Com Kadang Bisa Bermurah Hati-2






Kata-kataku tadi tentang kekacauan dan amarah, awalnya hanya sebuah candaan dariku. Kini, kurasa itu benar adanya.

Beberapa orang mulai berkumpul di sekitar Lapangan Tenis, dimana lokasinya berada di salah satu sudut di halaman sekolah ini.

Kalau kau tanya jumlahnya secara persis, yang bisa kukatakan adalah sekitar 100-an orang. Perhitungan itu sudah termasuk Grup Hayama, dan sisanya adalah orang-orang yang datang setelah mendengar tentang pertandingan ini.

Kebanyakan orang-orang ini adalah teman-teman Hayama ataupun fans-nya. Kebanyakan siswa kelas 2 SMA, meski begitu aku masih bisa melihat beberapa siswa kelas satu dan tiga disana.

Apa orang semacam ini benar-benar ada eksistensinya...? Dia bahkan lebih populer dari para politikus kita!

"HA~YA~TO~GO!! HA~YA~TO~GO!!"

Para penonton tampak menyemangati Hayama dan mulai meneriakkan yel-yel. Ini seperti berada di tengah-tengah konser idol...Tapi mungkin saja orang-orang disini bukanlah fans Hayama, mereka hanya kebetulan mampir untuk melihat pertandingan yang jarang-jarang digelar ini...

Benar begitu kan? Aku sebenarnya sangat ingin mempercayai skenario barusan...

Entah mengapa, melihat kerumunan massa ini membuat bulu kudukku berdiri. Mereka ini semacam pendukung aliran sesat...Memang, sebuah aliran sesat yang diikuti oleh kumpulan anak muda terlihat menyeramkan.

Dan Hayama Hayato langsung merespon situasi ini, berjalan dengan santainya menuju ke tengah Lapangan. Meski penontonnya banyak, dia tampak tenang-tenang saja. Mungkin dia sudah terbiasa mendapatkan perhatian yang sebegitu banyaknya. Fansnya yang kukira kebanyakan berasal dari kelas sendiri, ternyata ini membuktikan kalau kelas lain juga banyak yang menjadi fansnya.

Kami seperti ditelan sebuah lubang misterius, kurang lebih begitu. Kami hanya bisa menatap ke kerumunan orang ini. Kututup kedua mataku; aku bisa merasakan sesuatu yang kurang nyaman ini dari suara bisikan orang-orang di sekitarku.

Hayama sudah memegangi raketnya dan berdiri di tengah Lapangan. Dia lalu menatap kami dengan penasaran, seperti ingin tahu siapa dari kami yang akan maju.

"Hei...Hikki, apa yang harus kita lakukan?"

"Apa yang harus kita lakukan, katamu..."

Yuigahama tampak gelisah. Lalu kulihat ke arah Totsuka; dia tampak seperti seekor kelinci yang ketakutan di tengah-tengah hutan belantara.

Bahkan ketika dia mengatakan sesuatu kepadaku, dia melakukannya dengan gugup dan kedua kakinya tampak gemetaran. Ya ampun, itu sangat manis sekali...

Aku bukanlah satu-satunya orang yang berpikir seperti itu. Ketika Totsuka berjalan dengan polosnya, aku mendengar para gadis di sekitar berteriak "Sang Putri~~!!" atau "Saichaaan~~!!"

Tapi setiap kali Totsuka mendengar teriakan itu, dia semakin gemetaran. Melihat hal itu, membuat fans Totsuka semakin berteriak lebih kencang lagi. Sedang aku sendiri juga merasa terhibur dengan hal itu.

"Kurasa, Totsuka tidak bisa ikut serta..."

Hayama tadi berkata kalau pertandingan ini antara orang-orang yang tidak menjadi member Klub Tenis...Dengan kata lain, ini adalah pertandingan untuk memenangkan hak penggunaan Lapangan dan Totsuka itu sendiri.

"...Zaimokuza, kau bisa bermain Tenis?"

"Serahkan padaku. Aku sudah membaca seluruh seri manganya dan bahkan aku juga menonton musikal-nya, jadi aku bisa dikatakan ahli dalam el-tenis."

"Akulah yang bodoh dengan bertanya kepadamu...Dan jika kau hendak mengatakan Tenis dalam bahasa Spanyol, maka katakan Musikal dalam bahasa Spanyol juga."

"Ya sudah, kuserahkan kepadamu...Tunggu, memangnya bahasa Spanyol dari Musikal itu apa?"

"Yeah, kurasa aku akan melakukannya..."

"Kau pikir kau punya peluang untuk menang?...Juga, serius, apa bahasa Spanyol dari Musikal?"

"Tidak ada peluang sama sekali...Juga, tutup mulutmu. Kalau kau tidak bisa menyebutnya dengan benar, maka pilih karakter lain saja. Karaktermu barusan sudah benar-benar cacat."

"Be-Begitu ya...Hachiman, kau ini ternyata lumayan pintar juga ya?"

Zaimokuza tampak terkesan. Sepertinya, aku baru saja memecahkan masalahnya, tapi aku sendiri tidak bisa memecahkan masalahku...Ugh. Apa yang harus kulakukan?

Aku berusaha menenggelamkan kepalaku di lipatan lenganku. Ketika aku melakukannya, aku mendengar suara yang menjengkelkan.

"Hei, bisa lebih cepat, tidak?"

Kampret, lonte ini benar-benar menjengkelkan...Kulihat asal suara itu, ternyata Miura yang sedang melihat-lihat tampilannya sendiri. Sedang Hayama, tampak melihat Miura dengan keheranan.

"Huh? Yumiko mau bermain juga?"

"Apa? Jelas lah...Ingat tidak, akulah yang tadi bilang ingin bermain Tenis?"

"Aku tahu, tapi...Tim lain mungkin akan menampilkan laki-laki. Tahulah, itu, umm...Si Hikitani-kun? Dia. Jika kau bertanding dengannya, maka itu akan terasa tidak imbang."

Siapa Si Kampret Hikitani-kun ini? Hikitani-kun tidak akan bermain disini. Hikigaya-kun-lah yang bermain...Maksudku "mungkin" bermain.

Miura yang mendengarkan kata-kata Hayama, tampak mulai berpikir, dengan gaya bermain-main dengan rambutnya yang bergelombang.

"Oh, kalau begitu kita bermain ganda campuran saja! Ya ampun, aku pintar juga ya? Tapi memangnya ada yang mau bermain bersama Hikitani-kun? Haha, itu pasti lucu sekali!"

Miura mulai mengatakan itu dengan nada yang tinggi disertai tawa yang vulgar, dan para penonton juga mulai tertawa mengikutinya. Aku sendiri entah mengapa juga tertawa dengan itu.

Ku ku ku, ku ku ku...Ugh, jujur saja, itu sangat menyakitkanku, tapi barusan itu sangat efektif. Aku sendiri bisa merasakan kalau diriku mulai dimakan pelan-pelan oleh kegelapan.

"Hachiman, ini buruk sekali...Kau sendiri tidak punya teman perempuan, dan tidak ada gadis yang mau menolong bajingan berwajah tanggung sepertimu, bahkan jika kau mengemis pertolongan ke mereka. Jadi apa yang akan kau lakukan?"

Zaimokuza, jangan banyak bacot lu...Dan dia benar, jadi aku tidak bisa menyangkalnya.

Saat ini situasinya sudah lewat dari dimana aku bisa keluar dari situasi ini dengan berkata "ahahah, maaf ya~~". "Ayo kita lupakan saja ini semua *mengedipkan mata*". Akupun menatap ke arah Zaimokuza untuk meminta bantuan, tapi dia hanya memalingkan wajahnya dariku dan mulai bersiul.

Akupun mendesah kesal. Itu sepertinya memicu desahan lainnya ; Yuigahama dan Totsuka juga tampak mendesah pasrah.

"....."

"Hikigaya-kun, maaf ya...Kalau saja aku perempuan, aku dengan senang hati akan bermain bersamamu, tapi..."

Itu benar sekali. Kenapa Totsuka bukan seorang gadis? Dia sangatlah manis...

"...Tenang saja soal itu."

Aku tidak boleh memperlihatkan ketakutanku; aku lalu menepuk kepala Totsuka.

"Juga...Kau tidak perlu khawatir soal ini. Jika kau memiliki sebuah tempat dimana kau merasa disitu dirimu seharusnya berada, maka kau harus melindungi tempat itu."

Bahu Yuigahama tampak terguncang. Dia seperti menggigit bibirnya sendiri dan menatapku dengan ekspresi seperti orang yang sedang meminta maaf.

Yuigahama sendiri, punya posisi di kelas. Tidak seperti diriku, dia orang yang sangat bagus dalam hal hubungan antar manusia, jadi dia punya keinginan untuk bisa terus akrab dengan Miura dan yang lain.

Aku adalah seorang penyendiri, tapi itu tidak berarti aku akan cemburu dengan orang lain yang punya hubungan dengan sesamanya. Aku tidak mengharap mereka itu punya kesialan atau semacamnya...Serius, aku katakan sekali lagi. Aku tidak berbohong.

Kami disini bukanlah semacam grup pertemanan atau sejenisnya; aku tidak mau memanggil salah satu dari mereka sebagai temanku. Kita hanyalah orang-orang yang secara kebetulan berkumpul disini dengan alasan yang berbeda.

Aku memiliki sesuatu untuk dibuktikan. Seorang penyendiri tidaklah berarti orang itu harus dikasihani   mereka juga baik seperti yang lainnya. Aku ingin menunjukkan itu ke mereka.

Aku juga sadar kalau aku tidak hanya terlihat sebagai pria yang sibuk dengan imajinasinya sendiri, tapi aku juga terlihat seperti bermain dengan duniaku sendiri ketika aku sendirian. Sial, bahkan aku bersikap seperti bisa teleport ataupun mengeluarkan napas api jika sendirian.

Tapi aku tidak mau menolak siapa diriku sekarang ataupun siapa diriku dulunya. Aku menolak percaya kalau kesendirian itu adalah sebuah dosa ataupun sesuatu yang salah.

Jadi aku akan bertarung demi sesuatu yang kupercayai itu.

Aku mulai berjalan menuju tengah lapangan, sendirian.

".......................melakukannya."

Aku mendengar suara yang super pelan karena riuhnya penonton tempat ini.

"Huh?"

"Kataku, aku akan melakukannya!"

Yuigahama tampak menggerutu, sementara wajahnya sendiri memerah.

"Yuigahama? Bodoh sekali. Apa kau ini idiot? Sudah hentikan itu."

"Kenapa aku ini bisa disebut idiot?!"

"Kenapa kau mau melakukannya? Apa kau ini seorang idiot? Ataukah kau ini sebenarnya menyukaiku?"

"H...Huh? A-Apa yang kau katakan? Kau bodoh? KAU BODOOOOOOHHH!!"

Wajah Yuigahama tampak memerah dan menyebutku bodoh berulang kali, dia tampak marah sekali. Dia lalu mengambil raket itu dariku dan mulai mengayunkannya ke arahku.

"Ma-Maaf! Maafkan aku!"

Aku mulai meminta maaf sambil menghindari ayunannya. Mendengar suara whoosh dari raket yang hampir menyentuh telingaku benar-benar menakutkan...Tapi meskipun aku meminta maaf, aku tetap menatapnya dengan penuh tanda tanya, Yuigahama dengan malu-malu kemudian memalingkan wajahnya.

"...Well, umm, bagaimana ya...? Aku sendiri kan member Klub Relawan, jadi...Bukankah normal jika aku melakukan ini...Disana-lah tempatku berada."

"Tunggu, tenang dulu...Kau harusnya sadar dengan apa yang terjadi saat ini. Klub Relawan bukanlah satu-satunya tempat dimana kau berada, benar tidak? Coba lihat disana, gadis yang berasal dari Grupmu di kelas mulai menatap ke arahmu."

"Eh, serius kamu?"

Yuigahama yang tampak tegang mulai melihat ke arah Grup Hayama. Aku sendiri saja hampir mendengar suara creak dari tulang lehernya yang menoleh perlahan ke arah tersebut. Aku hampir saja menyarankannya untuk menggunakan balsem atau obat pelemas otot.

Grup gadis di dekat Hayama, dimana Miura sebagai pemimpinnya, sedang melihat ke arah kita. Wajar saja dia melakukannya, karena apa yang baru saja diumumkan oleh Yuigahama.

Ada semacam aura pemburu yang dipancarkan oleh mata Miura, mata yang dipoles dengan warna hitam mascara dan eyeliner. Rambut pirangnya yang dimodel bergelombang dengan ujung yang melingkar, tampak kurang senang.

Apa dia ini Madam Butterfly dari Ace wo Warae atau sejenisnya...?

"Yui, tahu tidak, kalau kau bergabung di tim sana, maka kau akan melawan kita loh?"

Miura bersikap seperti seorang Ratu, menyilangkan lengannya dan menghentak-hentakkan kakinya di tanah. Itu adalah pose Sang Ratu Yang Marah. Yuigahama merasakan tekanan dari pose tersebut dan melihat ke arah tanah. Dia lalu meremas-remas roknya. Dia mungkin saja sedang ketakutan   kedua tangannya tampak bergetar hebat.

Para penonton mulai berbisik satu sama lain. Ini semacam eksekusi mati di depan publik.

Tapi Yuigahama lalu menegakkan kepalanya kembali, dan melihat lurus ke depan.

"...Itu...Bukannya aku mau begitu. Tapi, Klub...Klub juga penting bagiku! Jadi, aku akan melakukan ini."

"Hmm...Begitu ya. Jangan sampai kau mempermalukan dirimu."

Miura meresponnya dengan datar, tapi aku melihat dirinya yang tersenyum. Senyum itu, seperti berasal dari api neraka.

"Ya sudah, ayo kita ganti baju dulu. Aku mau meminjam pakaian olahraga untuk bermain Tenis dari Klub Tenis bagian perempuannya, jadi kau akan ikut denganku kesana."

Miura menggerak-gerakkan kepalanya ke arah ruangan Klub Tenis di dekat Lapangan. Dia mungkin tampak terlihat baik, tapi bagiku itu seperti mengatakan "Aku akan menjeratmu di ruangan itu". Dan ketika Yuigahama pergi bersamanya, ekspresinya tampak tegang sekali, dan semua orang yang melihat adegan itu mulai menebak-nebak apa yang sedang terjadi.

Well, uhh...Terima kasih sudah mengenal dirimu, selamat tinggal...

"Hei, Hikitani-kun."

Ketika aku mendoakan keselamatan Yuigahama, Hayama berbicara denganku. Dia pasti memiliki skill komunikasi yang sangat bagus karena bisa berbicara denganku...Meski menyebutku dengan nama yang salah.

"Apaan?"

"Aku tidak begitu tahu aturan di permainan Tenis, dan bermain double juga tampak sulit bagiku. Apa kau tidak keberatan kalau kita membuat peraturan yang lebih mudah?"

"Well, lagipula ini hanyalah pertandingan Tenis untuk pemula...Bagaimana kalau kita melakukan rally-rally pukulan dan poinnya seperti biasa saja? Semacam Bola Voli."

"Ah, kurasa itu cukup mudah dipahami...Kedengarannya oke."

Hayama lalu tersenyum kepadaku. Lalu aku meresponnya dengan senyum yang kurang menyenangkan.

Ketika itu pula, kedua gadis sudah kembali.

Wajah Yuigahama tampak memerah dan berusaha membetulkan posisi roknya. Dia juga memakai kaos polo.

"Seragam Tenis ini agak...Bukankah roknya ini agak kependekan?"


"Bukankah kau sendiri selalu memakai rok yang sependek itu..."

"Apa...?! Apa maksudmu barusan?! A-Apa kau selalu melihat ke arahku! Menjijikkan! Menjijikkan! Kau benar-benar menjijikkan!"

Yuigahama menatapku dengan emosi, lalu mengayun-ayunkan raketnya.

"Bukan apa-apa! Aku tidak melihatmu sama sekali! Aku tidak menyadarimu sama sekali! Jangan khawatir! Juga, jangan memukulku!"

"Entah mengapa...Jawabanmu barusan sangat menjengkelkan..."

Yuigahama menggumamkan itu dan secara perlahan berhenti mengibaskan raketnya.

Zaimokuza lalu memotongnya dengan suara pura-pura batuk.

"Hemm...Hachiman. Lalu bagaimana dengan strategimu?"

"Well, strategi terbaiknya pasti mengincar pemain perempuannya, benar tidak?"

Gadis sebodoh dia pasti bisa kuhancurkan dalam sekejap, benar tidak? Jadi gadis itu jelas-jelas sebuah celah di pertahanan mereka.

Akan lebih efisien jika memukul ke arahnya daripada melakukan rally dengan Hayama...Tapi ketika Yuigahama mendengar rencana itu, dia langsung menolak itu dengan tergesa-gesa.

"Huh? Hikki, kau tidak tahu? Yumiko itu member Klub Tenis sewaktu SMP dulu. Dia juga terpilih sebagai atlet yang mewakili Propinsi, kau tidak tahu?"

Setelah aku mendengar itu, aku lalu menatap ke arah Madam Butterfly (atau yang dia sebut Yumiko). Bentuk tubuhnya memang mendukung, dan gerakannya tampak lincah...Zaimokuza juga mulai memperhatikannya.

"Hmm, jadi stereotipe gadis dengan model ujung rambut melingkar bukanlah sekedar bahan candaan..."

"Sebenarnya, kau bisa menyebut gaya rambut semacam itu dengan gaya rambut bergelombang..."

Terserah kau saja.








x Chapter VII Part 2 | END x





"Jika kau memiliki sebuah tempat dimana kau merasa disitu dirimu seharusnya berada, maka kau harus melindungi tempat itu."

Kata-kata itu terucap lagi oleh Hachiman di vol 7.5 side B. 

"Mungkinkah suatu saat nanti aku akan memiliki tempat dimana aku pulang?"

Lalu Hiratsuka-sensei mempertegas apa tempat itu di vol 9 chapter 5. 

"Semua hal yang kau lakukan itu, demi Klub Relawan atau demi Yukinoshita?"


.............


Yang harus kita cermati disini, Yui sedari tadi memiliki peluang untuk menjadi gadis pasangan Hachiman dalam Tenis. Tapi, Yui tampak membuang mukanya dan memasang ekspresi meminta maaf. Baru setelah Hachiman mengatakan kalau Totsuka punya tempat dimana dia seharusnya berada, maka Totsuka harus memperjuangkannya.

Setelah itu, Yui tampak shock. Jelas jika demi Klub Relawan, ini bullshit karena seharusnya Yui sejak awal mengatakan bersedia. Ada sesuatu yang lebih besar dari sekedar Grup Miura dan Klub Relawan, yaitu Hachiman sendiri. Jika Yui benar mencintainya, maka Yui harus melindunginya untuk dipermalukan.

Apa yang Hachiman katakan tentang Yui menyukainya ketika mengatakan bersedia, adalah bulls-eye alias tepat.

Anggapan Hachiman kalau Yui menyukainya ini, beruntun terjadi di volume satu, yaitu chapter ini. Lalu volume 2 di chapter 5, juga di vol 3 chapter 6. Semua tebakan Hachiman kalau Yui sebenarnya mencintainya, adalah benar dan akurat.


...........


Miura yang memakai eyeliner dan maskara...Yui yang juga memakai make-up. Seriously, what the fvck...


...........


Mungkin, ini menjawab mengapa Miura bisa masuk SMA Sobu dengan akademis pas-pasan, yaitu jalur prestasi olahraga. Miura adalah mantan atlit tingkat Propinsi. Ini juga didukung fakta vol 10 chapter 5 kalau SMA Sobu juga punya kerjasama dengan Universitas lewat jalur prestasi olahraga. Jika SMA Sobu punya kerjasama dengan Universitas, bukankah tidak heran jika SMA Sobu juga menerima siswa dengan prestasi olahraga dari SMP?

Mungkin juga, Yui ini teman satu SMP dari Miura. Mungkinkah? Entahlah.

Yang masih misteri, bagaimana Yui bisa masuk SMA Sobu dengan akademis yang seperti itu.


...........



Cukup mencurigakan kalau Hachiman ini sebenarnya suka melihat pemandangan paha para gadis, melihat bagaimana komentarnya kalau Yui sering memakai rok pendek. Kemungkinan besar Hachiman suka melihat hal tersebut, dan ketika musim dingin tiba dimana banyak para gadis memakai celana pendek di balik roknya dan Miura tidak, Hachiman mulai fokus ke (paha) Miura, ditambah insiden pink di double date.

Apa-apaan analisis barusan?!!

2 komentar: