Rabu, 28 Oktober 2015

[ TRANSLATE ] Oregairu Vol 8 Chapter 3 : Tidak peduli dimana, Yukinoshita Haruno tidak akan berhenti begitu saja




Kembali ke Chapter II

x Chapter III x









  Aku bersepeda seperti sedang mengejar bayanganku sendiri.

  Ini memang sudah mendekati malam sehingga jalanan terasa mulai terlihat gelap. Dengan matahari yang sudah terlihat sepenuhnya tenggelam di Pelabuhan Tokyo yang berada di belakangku, aku mengayuh sepedaku.

  Mulai besok, aku bisa pulang lebih awal.

  Menghadiri Klub Relawan sementara ini akan menjadi sebuah pilihan bagiku.

  Dengan aturan ‘battle royal’, jika pada akhirnya kita memiliki pendapat yang berbeda, maka kita tidak perlu bekerjasama. Aku sudah punya hal-hal yang kurencanakan, sehingga aku tidak perlu memikirkan persiapan rencanaku.

  Kalau begitu, yang bisa kulakukan sampai pemilihan terjadi adalah tidak terlibat dalam aktivitas keduanya.

  Kurang lebih begitu.

  Bahkan jika aku tidak melakukan sesuatu, selama keduanya melakukan sesuatu, maka itu sudah cukup bagus. Aku juga tidak ragu kalau mereka bisa menyelesaikan masalah itu lebih efektif daripada diriku.

  Kami berdua memilih untuk tidak ikut campur.

  Kita tidak perlu bergantung bersama di tali yang tipis itu dan menjadi lebih dekat. Menjaga jarak diantara kita juga bisa dikatakan cara untuk bersama dengan yang lain.

  Aku memutuskan untuk tidak memikirkan apapun yang berhubungan dengan klub.

  Tapi manusia memang makhluk misterius. Ketika kamu berniat untuk membebaskan pikiranmu dari hal itu, maka kamu akan berakhir memikirkan hal-hal yang mengganggumu.

  Aku mencoba agar tidak memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan sekolah, dan akan tiba di rumah sebentar lagi. Dan yang muncul di pikiranku sekarang adalah apa yang terjadi pagi ini dengan Komachi.

  Dia sepertinya masih marah...

  Melihatnya marah adalah hal yang manis, tapi ketika dia mulai tidak mempedulikan orang-orang, maka itu adalah bukti kalau dia benar-benar marah. Ayahku saja pernah menangis ke Ibuku ketika Komachi tidak mempedulikannya.

  Kedua orang tuaku pasti akan pulang larut malam ke rumah seperti biasanya. Dan itu berarti aku akan berduaan saja dengan Komachi sampai mereka pulang.

  Biasanya, bersama adik perempuan di rumah akan selalu membuat hatiku terasa malu-malu. Oke, pernyataan yang tadi memang menggambarkan hal yang tidak normal.

  Tapi, aku tampaknya akan kesulitan untuk sekedar menatapnya jika melihat situasi hari ini.

  Mungkin lebih baik jika aku berikan waktu dulu dan biarkan dirinya menghilangkan emosi tersebut.

  Jadi, aku mulai membelokkan arah yang kutuju.

  Aku membelokkan sepedaku ke arah kanan.

  Belok ke kanan berarti menuju jalan raya yang biasa menjadi ruteku menuju ke sekolah, dengan kata lain itu jalan menuju pusat kota Chiba. Ada bioskop dengan toko buku, tempat permainan, dan cafe manga yang bisa menjadi pilihan baik untuk menghabiskan waktu.



  Di darmawisata kemarin, aku tidak punya banyak kesempatan untuk menikmati waktu kesendirianku.

  Dan sekarang, aku akhirnya bisa melebarkan sayapku. Lagipula, aku adalah orang yang suka menyendiri.

  Ketika aku mulai berpikir kemana aku harus menghabiskan waktuku, entah mengapa aku mulai sedikit gembira.

  Sambil mendengungkan ‘princess, princess, princess♪’, aku mengayuh sepedaku di jalan raya ini.

  Ketika aku sampai di pusat kota, waktu sudah berganti menjadi malam. Kota ini mulai menunjukkan wajahnya ketika malam. Aku akhirnya berhenti di dekat Stasiun Pusat.

  Di area ini, banyak sekali tempat untuk untuk menghabiskan waktu.

  Aku mampir sebentar ke beberapa toko, membeli dua hingga tiga buku, lalu menyempatkan diriku melihat daftar film yang sedang ditayangkan di bioskop.

  Ada film yang ingin kutonton dan akan mulai tayang 1 jam lagi, jadi aku punya waktu untuk dihabiskan. Bahkan, waktu senggang ini adalah waktu yang sempurna untuk meminum kopi di suatu tempat.

  Kalau terus ke depan dari bioskop ini, ada Starbucks. Aku berniat kesana, tetapi jujur saja aku tidak tahu bagaimana cara memesan kopi disana. Juga, aku tidak tahu bagaimana menikmati atmosfer disana dimana aku sering melihat para pelanggannya tampak gembira dan bangga berada disana. Aku akhirnya memutuskan memilih tempat lain saja. Aku tidak punya kata-kata yang bisa menggambarkan seorang yang modis dengan kacamata besar memegang MacBook Air. “Aku hancurkan laptop Apple sialanmu itu bersama dirimu, kacamata!” atau semacam itu.

  Ada sebuah toko donat yang berada di seberang bioskop, bahkan bisa isi ulang kopi secara gratis[masih menyindir Starbucks...]. Disitu tertulis Cafe au laits gratis isi ulang.

  Aku masuk ke toko donat itu dan memesan menu ‘standar’, yaitu French cruller dan cafe au lait. Lalu aku membawa pesananku itu ke lantai dua, mencari pojokan yang sepi.

  Ya Tuhan...perasaan bisa membaca sambil mengemil makanan manis dan meminum cafe au lait manis adalah hal yang berbahaya bagi perasaanmu.

  Aku melihat ke sekitarku dengan perasaan gembira, sesosok gadis yang familiar terlihat di mataku.

  “Oh, sangat jarang melihatmu ada disini.”



  Gadis itu mencabut headphone-nya, tersenyum, dan melambaikan tangannya.

  Dia memakai blus putih dengan kerah menonjol yang diselimuti cardigan rajutan.  Dia memakai rok panjang yang menyembunyikan kaki-kakinya yang indah tersebut. Dia sepertinya berniat memakai pakaian yang simple saja. Mungkin ini hanya kesan-kesan sekilas saja dari pertemuan-pertemuanmu sebelumnya.

  Gadis ini adalah manusia sempurna yang tidak hanya lebih super dari Ketua Klub Relawan, Yukinoshita Yukino, juga dirinya adalah kakak dari Yukinoshita. Gadis ini adalah Yukinoshita Haruno.

  Berada di toko donat seperti ini tidak cocok dengan image dirinya. Dengan kata lain, jika dia terlihat berada di dalam Starbucks, maka itu akan cocok dengan dirinya.

  Karena aku tidak berharap bertemu siapapun di tempat ini, tubuhku merasa lemas.

  Ketika aku mengintip apa yang Haruno-san lakukan, ada beberapa buku yang terlihat berada di atas meja. Itu tampak seperti literatur, lalu beberapa buku yang terdiri dari kertas-kertas yang disatukan. Tampak pula buku-buku bacaan barat.

  “...Ah, halo.”

  Aku menyapanya begitu saja, berjalan terburu-buru, dan duduk di tempat yang jauh darinya. Tapi, memakai ‘ah’ di awal sapaan tampaknya aneh...

  Lalu aku mulai memakan french crullerku.

  Gadis sialan! Kenapa kau bisa muncul disini?! Ini adalah waktu dimana aku harusnya menikmati kebebasanku! Sekarang malah menjadi sebuah keputusan yang kusesali! Aku harusnya mengintip dahulu ke dalam toko ataupun restoran untuk memastikan tidak ada orang yang kukenal ada di dalamnya...

  Ngomong-ngomong, dengan dia ada disini, ini artinya aku harus memakan habis ini segera dan pergi secepat mungkin dari sini.

  Karena aku seorang Nekojita, sayang sekali, cafe au laitku yang panas tidak bisa kuhabiskan dengan cepat.
[note: Nekojita adalah kondisi lidah yang tidak kuat makan/minum sesuatu yang terlalu panas.]

  Ketika aku sudah mulai putus asa, Haruno-san duduk di sebelahku dengan membawa nampan makanannya.

  “Kamu tidak perlu berlari seperti itu. Ya ampun, kasar sekali loh!”

  “Ah, tidak, tidak, aku hanya tidak ingin mengganggu acaramu saja.”

  Jujur saja, bagi seorang seperti Haruno-san duduk sendirian dan di sekelilingnya tidak ada satupun orang, adalah situasi yang tidak cocok dengannya. Dia duduk dengan gaya yang sama ketika aku bertemu dengannya tadi. Dia lalu membuka bukunya di halaman yang dia baca sebelumnya.

  Jika dia hanya ingin sekedar membaca saja, apa perlu sampai membawa buku dan makanannya lalu duduk di dekatku...?

  Ketika aku melihatnya, aku berpikir ‘gadis ini kok punya banyak sekali waktu luang?’. Dengan kedua matanya masih menatap ke buku, Haruno-san mulai berbicara kepadaku.

  “Kamu sendiri ada apa kesini?”

  “...Menonton film dan menghabiskan waktu.”

  “Oh, tumben, aku juga sedang melakukan hal yang sama.”

  “...Apa kamu juga ingin menonton film?”

  Aku mulai mengatakannya dengan nada yang semakin pelan. Mau bagaimana lagi, coba? Jika pada akhirnya kita akan pergi menonton film yang sama, maka jika aku mencari alibi berpisah disini dan bertemu lagi di bioskop akan menjadi pemandangan yang aneh.

  Tapi kekhawatiranku lenyap oleh suara Haruno-san yang ceria.

  “Hmm? Oh, tidak, tidak. Maksudku aku hanya menghabiskan waktu saja sampai teman-temanku datang menjemputku.”

  Ngomong-ngomong, kampus Haruno-san berada dekat dengan lokasi toko donat ini. Kurasa ada di bagian barat pusat kota ini. Mungkin area disana tidak ada semacam toko para hipster, tapi ada bar. Jika ingin makan malam di suatu tempat, maka tidak aneh jika berada di sekitar sini. Ngomong-ngomong soal makanan enak...Naritake? Maksudku, lemak-lemak di ramennya membuatnya terasa lezat! Sempurna!

  “Oooh, dengan teman-temanmu ya. Wah, kalau begitu aku tidak ingin mengganggu suasananya, jadi aku akan pergi saja.”

  “Itu masih nanti kok. Ayolah, ayo kita habiskan waktu bersama, yaaa~!”

  Dia menggeser kursinya menempel denganku dan memiringkan badannya kepadaku. Terlalu dekat, terlalu dekat, sangat lembut, terlalu dekat, terlalu beraroma wangi, terlalu dekat...Ketika dia berusaha mendekatiku, aku berusaha menjauhinya. Jujur saja, ini permainan yang sia-sia. Jika aku berusaha menjauhinya, dia hanya akan mengulangi lagi untuk mendekatiku.

  Lalu, dia berbisik ke telingaku.

  “Hikigaya, pria sepertimu adalah pria terbaik yang pernah ada.”

  Bulu kudukku langsung berdiri. Aku seperti diteror oleh sebuah ketakutan yang luar biasa. Jari-jari lembutnya yang memegangi bahuku, nada suaranya yang sensual, dan bibirnya yang berkilau...

  Ketika aku melihat ke arahnya, matanya berbinar-binar. Senyumnya yang mencurigakan itu seakan-akan membuatku memberinya lampu hijau untuk meneruskan hal itu. Tapi, mungkin dia sedang tertawa dan menikmati dirinya yang sedang mempermainkanku.

  Kesimpulan terakhirku menjadi masuk akal ketika dia duduk dengan normal dan tertawa lepas setelahnya.

  “Kamu hanya diam dan tidak berbicara dengan orang lain. Tapi ketika seseorang berbicara denganmu, kamu baru mau menjawabnya, begitu? Yep, sangat meyakinkanku. Kamu itu pria terbaik untuk menghabiskan waktu.”

  Entah mengapa, aku tidak merasa dia sedang memujiku...Spesifikasi pria yang dia katakan tadi jelas lebih buruk daripada beberapa game browsing yang kutahu. Seperti, Kancolle atau semacam itu. Game itu meskipun kamu tidak mempedulikannya, mereka tetap berbicara denganmu.

  Haruno-san kembali membaca bukunya.

  “Para pria pada umumnya berusaha keras agar percakapan denganku terus berjalan. Agak menyedihkan ya?”




  ...Aaah, aku mengerti sekarang...Aaah.

  Para pria itu sangat putus asa sehingga berusaha menceritakan apapun agar para gadis menyukainya. Mereka, memang menyedihkan. Mungkin, aku yang semasa SMP adalah pria yang seperti itu.

  Karena ulahnya, sekarang aku kehilangan peluang untuk pergi meninggalkannya. Jadi aku harus menunggu munculnya peluang itu lagi dan pergi secepatnya darinya.

  Mungkin aku duduk saja disini dengan diam.

  Jika begitu, maka pria yang diam adalah pria yang terbaik.

  Selama aku tidak membuka percakapan, maka tidak ada percakapan yang terdengar.

  Dan waktu berlalu dengan nyaman.

  Aku memikirkan itu sejenak, dan baru menyadari kalau terakhir kalinya aku bertemu dengan Haruno-san adalah waktu Festival Budaya.

  Jika dibandingkan waktu itu, kali ini dia terlihat lebih jinak dan terkendali. Tidak, mungkin tepatnya dia terlihat lebih dewasa.

  Tampaknya, selama Yukinoshita tidak berada di sisiku, Haruno-san tidak akan bertingkah yang aneh-aneh. Tapi, seberapa besar dia mencintai adik kecilnya itu? Maksudku, aku mencintai adikku juga. Kurasa, aku mulai membenci diriku jika mengingat apa yang terjadi pagi ini.

  Insiden dengan Komachi memang membuatku sedikit depresi.

  Kurasa, memikirkan hal lain saat ini bisa membuat perasaanku lebih tenang.

  Aah, donat ini sangat enaaaak...Tapi cafe au laitnya tidak begitu manis. Apa aku lupa menaruh susu di dalamnya? Ketika aku mencari bungkusan gula yang sepaket dengan cafe au lait, Haruno terlihat dengan jelas di mataku.

  Dia membaca bukunya dan kadangkala mengambil kopinya. Dia menaruh tangannya di dagunya.

  Jari jemarinya membalikkan halaman buku itu. Lalu, sebuah sosok terlintas di pikiranku ketika dia meminum kopinya, dan matanya yang membaca kata-kata di buku tersebut.

  Dia mengingatkanku kepada seorang gadis yang sudah kukenal selama lebih dari setengah tahun, Yukinoshita Yukino.

  Tiba-tiba, Haruno menyadari kalau aku menatapnya sejak tadi, lalu dia menatapku dan bertanya “hmm?” seakan-akan ingin mendengar apa yang ingin kukatakan.

  Lalu aku meresponnya.

  “...Err, aku ingin mengisi ulang kopiku. Mau kuisikan punyamu?”

  “Ohh, tolong ya.”

  Dia memberikanku cangkirnya, aku lalu berjalan menuju pelayan terdekat dan bertanya mengenai isi ulang. Pelayan tersebut mengambil kedua cangkir kami, lalu kembali lagi ke meja kami dengan cangkir-cangkir yang terisi penuh.

  Kupikir akan sedikit aneh jika aku selalu menatap ke Haruno-san, jadi kuputuskan untuk membaca buku yang kubeli barusan.

  Hanya suara halaman buku yang dibalik, yang terdengar di tempat ini.

  Bahkan alunan background musik di restoran ini tidak terdengar jelas. Meski begitu, aku masih bisa mendengar jelas lirik lagunya.

  Aku meminum cafe au lait yang hangat ini, lalu membalik halaman buku di tanganku. Tiba-tiba, Haruno berbicara.

  “Hikigaya.”

  “Ya?”

  Kami melanjutkan kegiatan membaca kami meskipun kami sedang berbicara.

  “Bicara tentang hal-hal yang menarik dooong~”

  “.....”

  Aku lalu secara tidak karuan berusaha agar terdiam sebisa mungkin. Aku yakin kalau dia tahu diriku sedang tidak nyaman jika mengarah ke pembicaraan itu. Ada apa dengan orang ini...? Ketika aku melihat ke arahnya, dia tersenyum lebar.

  “Reaksimu super ‘enggak bangeet’...Ya ampun, tapi itu sudah kuperkirakan!”

  Haruno-san langsung tertawa. Kamu tidak perlu mengatakannya seperti itu jika tahu banyak tentangku...

  Tepat dimana seharusnya aku mulai membayangkan dia akan bersikap dewasa, dia mulai bersikap aneh-aneh seperti biasanya.

  Seperti yang kuduga, aku sendiri tidak punya kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya. Dia bukanlah gadis yang bisa kutangani.

  Haruno tampaknya menemukan momen yang tepat untuk menutup bukunya. Dia tampaknya sedang merenggangkan tubuhnya sambil menggerutu. Melihat posenya yang seperti itu, membuatku semakin penasaran...Bagian darinya itu adalah hal dimana adiknya tidak punya, itu dia...
 
  “Bagaimana kabar Yukino-chan?”

  Haruno mengambil kopinya, ketika dia memegang pegangan cangkirnya, dia menanyakan hal itu.

  “...Ya seperti biasanya. Kurasa begitu.”

  “Begitu ya. Itu terdengar bagus.”

  Meski dia adalah yang bertanya, tapi dia tampak tidak antusias mendengar jawabanku.

  Haruno-san lalu menatapku.

  “Jadi...bagaimana perkembangan kalian berdua?”

  “Ha...”

  “Ada sebuah perkembangan?”

  Dia tidak menyebutkan siapa, maka aku sulit untuk menjawabnya.

  “Apa maksudmu?”

  “Bukankah kalian pergi darmawisata bersama-sama?”

  “Kau ternyata banyak tahu juga...”

  Well, dia adalah alumni sekolahku, mungkin dia sudah tahu jadwal darmawisata. Meski begitu, dia layak kuberikan poin karena pengetahuannya.

  Ketika melihat ekspresiku yang terkejut, Haruno-san mulai memberitahu alasannya.

  “Aku tahu itu dari oleh-oleh darinya yang dikirim ke rumah.”

  Oleh-oleh itu pasti dari Yukinoshita. Mendengar kata-katanya, tampaknya dia tidak memberikannya secara langsung.

  “Dia sampai segitunya mengirim memakai jasa kurir...”

  Haruno-san lalu meminum kopinya.

  “Kupikir dia masih tidak mau bertemu secara langsung.”

  “Meski begitu, dia masih membelikan oleh-oleh...Setidaknya dia jujur dengan perasaannya...”

  Aku terjebak antara kagum atau terkejut karena kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku. Karena aku paham betul kalau itu sifat Yukinoshita. Tapi, Haruno-san seperti meragukan kata-kataku.

  “Aah, aku tidak berpikir seperti itu.”

  Alasannya menolak hal tersebut cukup janggal. Yukinoshita sangat ketat tentang tata-krama dan dia memegang teguh integritas; setidaknya, aku mengakui hal itu adalah bagian dari dirinya. Apakah aku salah?

  Haruno-san memiring-miringkan cangkir kopinya dan melihat gelombang permukaan kopi tersebut.

  “Dia membenci diriku, tapi dia tidak terlihat seperti membenciku...”

  Dia mengatakannya dengan lembut, penuh sesal, dan ringan. Nadanya diarahkan kepada dirinya dan seseorang yang sedang tidak berada disini.

  Aku merasa kalau melanjutkan topik ini, dia akan mulai membenciku. Jadi, aku memilih untuk diam saja.

  Ketika melihat sikapku, Haruno-san menaruh cangkirnya di meja dan melihatku dengan penuh rasa penasaran.

  “Ngomong-ngomong, dengan usainya darmawisata, maka tidak ada event lain yang datang dalam waktu dekat. Setelah itu, hanya belajar untuk ujian. Apa kamu tidak merasa bosan?"

  Aku memutuskan untuk masuk ke pembicaraan.

  “Tidak juga. Masih ada pemilihan Ketua OSIS.”

  “Pemilihan Ketua OSIS? Huh? Bukankah itu harusnya sudah lama dilakukan?”

  Haruno-san melihatku dengan penuh tanda tanya. Dia tampaknya sedang mencocokkan ingatannya semasa SMA dulu.

  “Mereka menundanya karena kesulitan mencari kandidat ketua.”

  “Ooh. Jadi sudah tiba saatnya bagi Megurin untuk pensiun, ya...”

  Dia tampaknya mengatakan itu dengan penuh emosi. Bagiku, Meguri-senpai adalah kakak kelas yang bisa kuandalkan, tunggu, bukan begitu. Bukan! Faktanya, dialah yang bergantung padaku, yang telah membuatnya terlihat manis sebagai kakak kelas. Di lain pihak, dia adalah junior yang manis bagi Haruno-san. Tahu tidak, dia ternyata terlihat manis bagi kakak kelas dan adik kelasnya! Megurin, kamu sangat luar biasa. Meguriiiin!

  Haruno-san tampak tertawa seperti mengingat-ingat sesuatu mengenai kakak tingkatku yang manis, Meguri-senpai.

  “Karena kita berbicara tentang Megurin, aku berani bertaruh kalau dia akan meminta Yukino-chan untuk maju menjadi kandidat Ketua OSIS, benar tidak?”

  “Aah, sebenarnya, dia tidak melakukannya.”

  “Ah, jadi membosankan deh...”

  Haruno-san tampak kecewa mendengarnya.

  “...Jadi Yukino-chan tidak akan maju jadi kandidat?”

  “Tampaknya begitu.”

  Untuk saat ini, rencana Yukinoshita adalah menjadi support bagi orang yang bersedia maju menjadi kandidat. Aku tidak tahu siapa yang akan dia mintai tolong untuk maju jadi kandidat, tapi aku tahu kalau itu adalah usaha yang sangat sulit. Kalau kau pertimbangkan baik-baik, rencana itu sangat tidak efisien dan terlalu menghabiskan banyak tenaga.

  Ketika aku mulai berpikir bagaimana dia akan melakukannya, gadis di sebelahku ini seperti hendak mengatakan sesuatu.

  “Hmmm...”

  Dia seperti hendak mengatakan sesuatu tetapi tertahan.

  “...Apa yang ingin kau katakan?”

  Lalu Haruno-san tersenyum kepadaku.

  “Hmm? Tahu tidak, aku sendiri tidak pernah maju menjadi kandidat Ketua OSIS.”

  “Huh, begitu ya? Itu memang cukup mengejutkan.”

  Aku awalnya mengira kalau dia akan mengambil segala tawaran jabatan publik yang datang kepadanya. Maksudku, dia bahkan menjabat sebagai Ketua Panitia Festival Budaya.

  Tapi, Haruno-san mengatakan kata-kata tersebut dengan santainya.

  “Masa begitu? Maksudku, pekerjaannya banyak sekali dan membuatku tidak nyaman.”

  “Aah, jadi itu alasannya.”

  Well, itu saja sudah meyakinkanku.

  Pekerjaan di OSIS sangat banyak. Jika ada event besar, maka Pengurus OSIS harus ambil bagian; misalnya Festival Budaya.

  Lalu ada juga pekerjaan di balik layar seperti menjadi bagian kepanitiaan Panitia Pemilihan. Yang agak berbeda dengan Festival, ini hanyalah pekerjaan ‘kantoran’.

  Lagipula, sebagian besar waktumu akan dihabiskan duduk di ruangan OSIS dan bermalas-malasan sambil memakan snack. Jika ada masalah datang, maka langsung beraksi seketika. Lebih dari itu, sebagai Pengurus OSIS, kamu juga harus menjadi contoh bagi siswa sekolah ini.

  Haruno-san sendiri memang lebih cocok jika dihubungkan dengan hal-hal trendi dan berhura-hura. Atau tepatnya, dia suka hal-hal yang terlihat menyenangkan dan menarik. Daripada terlihat seperti Pengurus OSIS yang rajin, pekerjaan sebagai manajer event yang menyenangkan seperti Festival Budaya memang cocok untuknya.

  Meski begitu, dirinya yang bersinar terang seperti itu adalah hal yang tidak bisa kuanggap serius.

  “...Membosankaaaan.”

  Apa dia punya maksud tersembunyi dari kata-kata tersebut?

  Ketika aku mulai berpikir apakah aku akan bertanya maksudnya atau tidak, ada seseorang memanggilku dari arah yang berbeda.

  “Huh? Hikigaya?”

  Suara itu berasal dari sebelah kiriku.

  Ketika aku melihat asal suara tersebut, ada dua orang gadis memakai baju seragam SMA.

  Seorang gadis dengan potongan rambut pendek. Dan satunya lagi memiliki ekspresi yang terkejut. Mungkin gadis ini yang memanggilku tadi.

  Dia memakai seragam SMA Kaihin yang letaknya dekat dengan rumahku. Dia tampaknya familiar denganku.

  Tidak lama kemudian, aku sadar siapa dirinya.

  “...Orimoto.”

  Nama itu keluar begitu saja dari mulutku.

  Padahal aku sudah berusaha keras mengubur semua kenangan tentang masa SMPku dalam-dalam.

  Meski begitu, nama Orimoto Kaori keluar begitu saja dengan mudah.

 





x   x   x







  Pertemuan tidak terduga ini membuat tubuhku lemas.

  Kami saling menatap untuk mengkonfirmasi apakah benar orang yang dimaksud.

  Aku langsung dihujani kenangan 2-3 tahun lalu. Aku mulai berkeringat dingin...

  Gadis di samping Orimoto tampaknya hanya sekedar menemaninya saja. Dia memakai seragam SMA Kaihin dan sedang melihat ke arahku.

  Temannya itu tampak sedikit bosan, tapi Orimoto malah menepuk pundakku dan menaikkan suaranya.

  “Ya ampuuun, ini nostalgia sekali! Kamu ini apa semacam karakter yang langka apa bagaimana?”

  Karena menjadi pusat perhatian, aku hanya bisa tersenyum kecil.

  Orimoto itu seperti figur kakak perempuan idaman bagi setiap pria dan dia adalah tipe gadis yang suka ikut campur masalah orang. Dia adalah tipe gadis yang ingin bisa berbicara dengan siapapaun, tidak peduli siapa dan hanya ingin dianggap dekat.

  Orimoto tampak terkejut untuk sesaat.

  “Eh, Hikigaya, kamu ternyata sekolah di SMA Sobu ya?”

  “Ah, benar.”

  Setelah aku menjawabnya, aku melihat ke arah tubuhku yang berseragam SMA Sobu. Dari seluruh SMA yang berada di dekat sini, memang tidak ada yang memiliki blazer seperti SMA Sobu. Kau bisa mengenali siswa dari SMA mana hanya dengan melihat jasnya.

  Orimoto tampaknya memikirkan sesuatu sambil menahan rasa kagumnya.

  “Ooh. Memang itu super mengejutkan. Kamu ternyata siswa yang pintar ya! Ah, tapi aku juga tidak pernah melihat hasil ujianmu sih. Maksudku, Hikigaya, kamu tidak berbicara dengan siapapun selama di SMP.”

  Seperti biasa, Orimoto mengatakan semua yang bisa dia katakan. Dia mengatakan semuanya sehingga kau merasa tidak punya dinding pemisah diantara kau dan dirinya.

  Tipe gadis yang menyenangkan. Dia mungkin memang melatih dirinya agar memiliki image seperti itu.

  Dan kemudian, perhatiannya berpindah ke orang yang duduk di sebelahku, Yukinoshita Haruno.

  “Dia pacarmu?”
[note: Anda harus jeli dalam komunitas sosial. Jika anda(gadis) bersama teman anda, dan bertemu seorang pasangan dan anda kenal(si pria), anda tidak akan langsung konfrontasi siapa pasangan si pria tersebut. Anda harusnya mengenalkan diri anda dulu ke si pasangan pria tersebut, lalu baru bertanya dia siapanya. Jika anda tidak mengenalkan diri dan langsung bertanya dia apanya si pria, jelas anda masih punya rasa ketertarikan terhadap si pria. Ini semacam tantangan ke pasangan si pria karena anda punya rahasia dengan si pria yang si pasangan pria tidak tahu apa itu. Dan sayangnya, Haruno adalah orang yang pintar membaca hal itu.]

  Dia bertanya dengan penuh rasa curiga, dia seperti membandingkan diriku dengan Haruno-san. Aku merasa tidak nyaman dengan tatapan Orimoto dan membalasnya.

  “Bukan...”

  “Ah, seperti yang kukira~! Itu memang terlihat tidak mungkin!”

  Ketika Orimoto tertawa, temannya juga tersenyum kecil sambil berusaha menutup bibirnya dengan tangannya.

  Kuanggap itu hanya sekedar canda tawa biasa. Sikapnya itu hanyalah cara untuk menunjukkan betapa bersahabatnya dirinya. Itu yang terpikirkan olehku.

  “Hahaha...”

  Kampret! Kenapa aku malah ikut-ikutan tertawa!

  Kalau begini terus, pada akhirnya insiden 2 tahun lalu itu akan muncul lagi di kepalaku.

  Haruno-san yang sedari tadi melihat sikap kami, tiba-tiba menatap ke arahku.

  “Apa mereka temanmu, Hikigaya?”

  Kenapa rasanya dia seperti bilang ‘oooh...ternyata kamu punya teman?’. Apa cuma aku saja yang begitu, okelah, mungkin tidak begitu.

  Tapi, ini gawat juga, aku tidak mungkin bilang ‘dia bukan temanku sama sekali’.

  Meski begitu, aku tahu harus menjawabnya dengan apa.

  “Dia sekelas denganku ketika SMP.”



  Yep, yep, jawaban yang benar! Lagipula, semua orang yang kupikir temanku, kuperkenalkan dengan cara seperti itu.

  Setelah aku menjawabnya, Orimoto memalingkan wajahnya ke arah Haruno-san dan membungkukkan kepalanya sedikit.

  “Saya Orimoto Kaori.”

  Setelah mengenalkan dirinya, Haruno masih menatap penasaran ke arahnya.

  “Hmmm...Ah, aku Yukinoshita Haruno. Aku anunya Hikigaya...Hmm..Hikigaya, aku ini sebenarnya siapamu?”

  “Entahlah, apa itu penting?”

  Sebenarnya, kenapa kamu malah memiringkan badanmu dan menempel kepadaku?

  “Kalau aku disebut temannya, kurasa akan agak aneh. Hmm, mungkin aku adalah kakak perempuanmu? Oh, atau aku ini kakak iparmu...?”
[note: Ini juga perkenalan tidak wajar, sampai membawa ‘kakak ipar’. Jelas, disini Haruno berusaha menyerang secara pelan kalau Hachiman adalah milik Yukino.]

  Haruno-san melihat ke arahku.

  “Ah, bagaimana kalau aku adalah pacarmu yang usil?”

  Oh manisnya, tidak, apa-apaan itu!

  Apa dia semacam idiot? Bagaimana bisa dari seorang teman, lalu ke kakak perempuan, dan berakhir seperti itu? Huuh? Tunggu dulu, jika kamu tadi mengaku sebagai adikku mungkin akan menarik! Tapi sekali lagi, kurasa mustahil.

  Caranya berpura-pura seperti itu memang sangat mengagumkan dan bisa menyebabkan salah paham. Tapi itu justru membuatku bisa menjawabnya dengan tenang.

  “Kenapa kau tidak mengatakan saja kalau kau alumni sekolahku?”

  “Aw, kamu tidak bisa diajak bermain ah!”

   Setelah mengatakannya, Haruno-san membuat ekspresi wajah yang kecewa dan manja. Aku sekarang mulai berpikir bagaimana agar aku bisa mencolek pipinya, tapi mustahil ah!

  Haruno-san pasti melakukan sesuatu dengan tujuan tertentu, tapi jujur saja, ini pertama kalinya dalam sejarah aku senang melihatnya berada di sekitarku. Jika tidak ada dia, mungkin aku sudah tidak tahu harus mengatakan apa ke Orimoto.

  Jika hanya ada aku dan Orimoto, mungkin aku sudah jatuh ke tempat yang dalam sekarang. Bisa pula aku akan berbicara ke dinding di kamarku selama 5 jam setelah pulang ke rumah.

  Orimoto Kaori adalah gadis dari SMP-ku yang wajib kuhindari.

  Saat ini harusnya adalah momen dimana aku harus kabur dari Orimoto dan gerombolannya sebelum tanah bekas galian bangunan yang disebut ‘masa lalu’ mulai menumpuk dan menghalangi pintu keluarku. Tapi ini mulai terlihat sia-sia ketika Orimoto mulai mengobrol dengan Haruno-san pada saat ini.

  “Hubungan senioritas di SMA kalian tampaknya berkembang dengan sangat baik.”

  “Benar kan? Tapi, itu hanya sebagian kecilnya saja loh!”

  “Eeeh? Kasih tahu dong!?”

  Keduanya mulai membuat sebuah obrolan yang tidak penting sambil beberapa kali teman Orimoto juga ikut dalam pembicaraan.

  Aku duduk saja disana dan mendengarkan mereka mengobrol.

   Pembicaraannya melebar kemana-mana dan tidak menunjukkan akan segera berakhir.

  Momen seperti ini, kurasa paling pas digunakan untuk meminum cafe au lait milikku.

  Ini seperti melihat kedua orang gadis sedang bertransaksi di batas area ranjau darat miliknya sendiri.

  Tiba-tiba, pembicaraan terhenti.

  Ini adalah peluang untuk mengakhiri pembicaraan ini dan pergi.

  Tapi, Haruno menyilangkan lengannya. Dia tersenyum kecil dan berbicara.

  “Kalau dipikir-pikir, kamu kan sekelas dengan Hikigaya waktu SMP? Memangnya kamu tahu cerita menarik soal dirinya waktu itu?”

  Kata-katanya malah menandakan obrolan ini akan terus berlanjut. Orimoto tiba-tiba mengatakan ‘eeeeh’, dan dia terlihat seperti mengingat-ingat sesuatu.

  Aku tampaknya bisa mencium sesuatu yang buruk akan muncul sebentar lagi. Lebih tepatnya, aku tahu pasti kalau sesuatu yang buruk akan muncul.

  “Ayolaaah, aku yakin ada sesuatu! Ah, seperti cerita asmara! Mbak ingin tahu tentang cerita asmara Hikigaya ketika SMP!”

  Tampak ingin tahu masalah orang lain, Haruno-san mencoba mengaduk-aduk topik itu lebih dalam.

  Kini tubuhku terus berkeringat dingin, dan akupun hampir saja tertawa lebar jika mengingat kejadian waktu SMP itu. Sebenarnya, itu lebih tepatnya kejadian yang membakar habis diriku hingga tidak tersisa. Ya ampun, ini sangat mengganggu. Manusia selalu mengingat hal-hal yang buruk.

  Jika aku punya skill komunikasi yang bagus, aku tidak keberatan memberitahukan hal itu ke Haruno-san empat mata. Aku bahkan bersedia membicarakan hal itu sambil menertawakan diriku sendiri.

  Orimoto lalu menyisir rambutnya dengan jari-jarinya dan tertawa dengan malu-malu.

  “Aah, itu mengingatkanku akan sesuatu. Hikigaya dulu pernah menembakku sekali!”

  Dia mengatakan kebenaran itu dengan mudahnya.

  “Ah yang benar kamuuuu!”

  “Wah, mbak malah tambah ingin tahu lebih jauh nih!”

  Tidak hanya Haruno-san, tapi teman Orimoto juga menikmati topik itu.

  Itu adalah topik yang bisa mencairkan suasana, tidak peduli siapa yang memulai pembicaraan itu.

  “Kami berdua kan belum pernah berbicara satu sama lain, jadi aku ketakutan banget waktu itu!”

  Orimoto mengatakan kata-kata itu.

  Tapi, kami sebenarnya pernah mengobrol. Pastinya pernah.

  Orimoto mungkin tidak mengingatnya. Atau tepatnya, Orimoto mungkin tidak mengenali diriku sebagai orang yang pernah diajaknya berbicara.

  Bahkan tidak hanya itu. Aku pernah mengirim SMS kepadanya.

  Entah karena aku kasihan melihat diriku atau terlalu bersemangat, aku akhirnya memperolah alamat emailnya. Aku berpikir keras hendak menuliskan apa waktu itu. Pada akhirnya, aku mengirimkan SMS dengan isi yang tidak jelas. Juga pernah aku menunggu dengan antusias SMS balasan darinya, tapi yang mengirimiku SMS malah semacam promo langganan majalah. Sehingga, aku membalas SMS promo tersebut dengan makian.

  Tapi aku sangat yakin kalau Orimoto tahu kejadian itu. Meski dia berusaha mengingatnya, aku memang sejak awal bukan prioritas dalam kepalanya.

  Kalau dipikir-pikir, ini seperti pria yang menyukai seorang gadis, dimana gadis itu menganggap si pria berada di luar lingkaran sosialnya. Lalu, semua aksi dan pengorbanan si pria hanya dianggap bahan becandaan saja. Bahkan diingat saja tidak.

  Kata-kata tersebut seperti membedah memori di kepalaku dan membuat emosiku menjadi liar.

  Insiden tersebut yang saat ini jika dibahas hanya akan menjadi bahan becandaan saja, sebenarnya telah menusuk hatiku, sedalam-dalamnya.

  Aku duduk di tempat ini seperti sedang membeku, melepaskan napasku secara perlahan, dan memaksakan wajahku untuk tersenyum.

  “Ternyata, Hikigaya pernah menembak seorang gadis ya~”

  Haruno-san mengatakannya dengan nada yang terkejut. Tapi tampilan matanya tampak seperti orang sadis. Dia tampaknya ingin menggali lebih dalam tentang apa yang terjadi ketika itu.

  Ketika aku melihat ke arah ujung lantai ruangan ini, aku berusaha untuk mengatakan sesuatu.

  “Sebenarnya, itu hanya cerita yang sudah lama berlalu...”

  “Itu benar sekali! Itu sudah lama sekali berlalu, jadi tidak masalah.”

  Orimoto dan diriku mungkin punya maksud yang berbeda meskipun isi kata-katanya hampir sama.

  Karena itu sudah lama sekali, karena itu sudah terjadi, dan itu sudah berakhir. Oleh karena itu Orimoto mengatakannya dengan santai dan tidak merasa bersalah sama sekali.

  Mungkin dia sebenarnya tidak berniat untuk membahas itu. Dia hanya menganggapnya sebagai bahan pembicaraan saja. Bahkan temannya dan Haruno-san bersikap sama. Mereka hanya menganggap itu bahan becandaan.

  Kejadian ini persis sekali dengan waktu itu.

  Meskipun ketika aku menembaknya, hanya ada kami berdua, entah mengapa, seluruh kejadian itu menyebar seperti kebakaran pada esok paginya. Aku bisa mendengar orang menertawakanku dan membicarakanku dari kejauhan. Ternyata ini sama saja.

  Tidak ada yang salah dengan ditolak seseorang.

  Dan berakhir, menjadi bahan tertawaan. Masa mudaku...akhirnya harus kujalani dengan membawa beban itu.

  Aku sangat terpukul ketika itu, dikecewakan oleh gadis yang kupikir menyukaiku juga. Aku, yang tidak menyadari itu juga bisa dikatakan bersalah. Tapi aku tidak bisa menertawakan diriku yang belum dewasa ketika itu.

  Pembicaraan itu terus berlanjut, tapi jujur saja, aku sudah malas untuk mendengarkannya.

  Aku mungkin sedang melamun, memikirkan masa laluku itu.

  “Ah, benar, Hikigaya.”

  “Hmm?”

  Ketika namaku dipanggil, aku kembali ke diriku yang sekarang.

  Orimoto tampaknya lupa hendak menanyakan sesuatu.

  “Kan kamu siswa SMA Sobu, apa kamu kenal dengan Hayama?”

  “Hayama...?”

  Aku secara spontan mengulang nama tersebut.

  “Yep, Hayama! Hayama yang di Klub Sepakbola!”

  Itu saja cukup untuk membuatku sadar kalau dia sedang membicarakan Hayama Hayato.

  “Ooh, sepertinya iya.”

  “Eh, serius kamu? Soalnya banyak gadis disini ingin kenal dia, tahulah~ Seperti salah satu yang ada di ruangan ini!”

  Orimoto tampaknya sedang mendapatkan sesuatu. Lalu dia menunjuk ke arah teman yang ada di sampingnya itu.

  “Ah, gadis ini bernama Nakamachi Chika dari sekolahku.”

  Nakamachi atau siapa itu duduk di sebelah Orimoto dan mengangguk dengan senyum yang kebingungan. Orimoto mencolek Nakamachi dengan bahunya.

  “Ayolah, Chika, kamu bisa dikenalin sama Hayama loh!”

  “Eeeh. Tidak usahlah...”

  Meski menolaknya, tapi dia terlihat lebih ceria dan jelas sekali kalau dia mengharapkan untuk dikenalkan.

  Sayangnya, aku tidak dekat dengan Hayama. Kami berdua bahkan tidak tahu nomor kami masing-masing.

  “Tunggu dulu. Aku tidak begitu kenal orangnya...”

  “Aah, benar juga. Kalian berdua sepertinya tidak cocok satu sama lain.”

  “Hahaha...”

  Aku mengatakannya dengan tawa yang dipaksakan.

  Lalu, Haruno-san mendekatiku dan berbisik.

  “...Hmmm, ini akan menarik.”

  “Apaan?”

  Ketika aku menatapnya, mata Haruno-san agak mencurigakan. Lalu dia menaikkan tangannya.

  “Okeeeee, kalau begitu Mbak akan kenalin kalian sama dia!”

  “Huh?”

  Baik Orimoto dan diriku bingung dengan maksudnya, tapi Haruno-san langsung mengambil HP-nya dan memanggil seseorang.

  Sambil menunggu telponnya tersambung, dia mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. Mungkin itu sekitar 3 deringan. Setelah itu Haruno-san berbicara.

  “Ah, Hayato? Bisa kesini sekarang? Pokoknya, datang kesini.”

  Haruno-san mengatakan apa yang dia inginkan dan menutup telponnya.

  “Apa yang kamu rencanakan...?”

  “Entahlah♪

  Haruno-san tersenyum.

  Gadis ini tampaknya menemukan mainan baru...






x   x   x






  Ketika semua orang menunggu kedatangan Hayama, aku menatap ke arah jendela dan melihat pemandangan kota Chiba.

  Suasana malam telah tiba, dan kota mulai menunjukkan wajah aslinya.

  Ada sebuah papan iklan tempat Karaoke dengan lampu yang terang, lalu di kejauhan terlihat monorel yang membelah kegelapan malam. Juga, kau bisa melihat banyak sekali anak muda berjalan di jalan.

  Tidak lama kemudian, suara langkah kaki menaiki tangga mulai terdengar.

  “Oh, tampaknya itu Hayato.”

  Haruno-san lalu mencoba melirik ke arah tangga. Ketika dia melakukannya, Hayama Hayato muncul.

  Tampaknya dia kesini setelah aktivitas klubnya. Dia masih memakai seragam sekolah dan tas olahraga bergantung di punggungnya. Ketika Hayama menyadari kami, dia merenggangkan ikatan dasinya dengan ekspresi yang penuh dengan rasa lelah.

  “Haruno. Ini siapa?”

  Hayama melihat ke arah Haruno-san lalu ke arah Orimoto dan Nakamachi. Kemudian, dia menatap ke arahku.

  “Ada gadis yang ingin kenalan denganmu, Hayato.”

  Haruno-san lalu menunjuk ke arah Orimoto dan temannya.

  Mungkin mereka tidak akan pernah menyangka kalau Hayama yang sebenarnya akan datang kesana. Mereka tampak antusias sambil berbisik-bisik kecil ke sesamanya.

  “...Begitu ya.”

  Meski dia tampak sangat keberatan, tapi dia langsung mengeluarkan senyum andalannya.

  “Wah, senang berkenalan dengan kalian. Saya Hayama Hayato.”

  Dia langsung mengganti ke mode Hayama Hayato seperti menekan saklar ON. Setelah itu, dia mengobrol dengan mereka. Orimoto dan Nakamachi mulai berbicara, mereka tampak lebih manis daripada sebelumnya.

  Karena perhatian mereka sekarang mengarah ke Hayama, aku akhirnya bisa kembali normal lagi. Suasana hangat toko ini terasa nyaman untukku.

  Karena Hayama sudah disini, maka aku harusnya bisa meninggalkan para anak muda ini dan pulang ke rumah...Aku tampaknya tidak akan sempat menonton film. Lagipula, kalau aku memaksakan datang menonton film, aku merasa akan langsung tertidur setelah duduk di kursi tersebut.

  Aku tutup bukuku yang belum habis kubaca ini dan menaruhnya di tas. Aku menunggu momen yang tepat untuk mengucapkan selamat tinggal dan pulang ke rumah. Mereka berempat terlihat menikmati obrolan mereka.

  “Ah, apa kamu mau, seperti, pergi keluar dan bersenang-senang di lain waktu?”

  “Wah, itu kedengarannya ide yang bagus!”

  Ketika Orimoto dan Nakamachi mengatakannya, Hayama mengangguk dan tersenyum.

  Dia mengangguk tanpa mengatakan ya atau tidak. Ini adalah skill yang hanya dimiliki oleh pria tampan. Kalau pria berwajah pas-pasan yang melakukannya, maka dia akan dianggap plin-plan.

  “Yep yep, pergi keluar dan bersenang-senang adalah hal yang bagus. Kalian semua harus melakukannya. Itu terdengar seperti ide yang bagus.”

  Haruno-san menyilangkan lengannya dan berbicara serius.

  Dengan pihak lain yang memberikan persetujuan, Orimoto dan temannya mulai terlihat antusias seperti mendiskusikan tempat yang ingin mereka tuju.

  Tapi, aku juga menyadari. Haruno-san mengatakan ‘kalian semua’, berarti aku tidak ikut kan...?

  Tapi ini wajar sekali.

  Bagi mereka, aku hanyalah alat untuk memunculkan Hayama. Untuk membuat monster berevolusi melebihi level 5, kamu harus mengorbankan monster level rendahmu. Tidak ada cara lain selain itu.

  Melihat diriku hanyalah sebuah monster yang dikorbankan, jadi aku hanya bisa melihat mereka saja dari sini.

  Pembicaraannya menjadi cukup menyenangkan untuk saat ini. Meskipun belum sampai 15 menit, aku bisa melihat Hayama sedang berjuang untuk menghindari ajakan keluar tersebut dengan skill yang tinggi dan berusaha mencari momen untuk pulang secepatnya.

  “Ah, ini sudah saatnya aku harus pulang ke rumah...”

  “Oke. Sampai jumpa lagi Hayama! Kami akan SMS kamu nantinya, oke!”



  Mereka melambai-lambaikan tangannya dan Hayama meresponnya dengan melambaikan tangannya juga. Sambil berjalan pergi, Orimoto dan Nakamachi terlihat sambil berbincang-bincang mengatakan “ya ampun”, “dia keren bangeeet!”, “ini buruk sekali”. Ketika mereka sudah tidak terlihat lagi, suara mereka sudah tidak terdengar lagi.

  Setelah mereka benar-benar tidak terlihat, Hayama yang sedari tadi tersenyum langsung berubah menjadi dingin.

  Lalu, dia menatap ke Haruno.

  “...Apa-apaan yang kau lakukan ini?”

  “Soalnya bakal terlihat seru!”

  Haruno-san tersenyum saja tanpa mempedulikan komplainnya.

  Hayama tampak kecewa.

  “Juga...Mengapa dia ada disini? Bukankah dia tidak ada hubungannya dengan ini?”

  Hayama lalu melihat ke arahku.

  “Itu tidak benar! Gadis itu, ah, yang berambut keriting tadi maksudku. Dulu Hikigaya menyukai gadis itu! Bukankah ini menarik? Aku ingin melihat ekspresi wajah Yukino-chan jika dia tahu soal ini, hmmm...Benar, Hikigaya?”

  Dan akhirnya, dia tersenyum ke arahku. Satu-satunya orang yang merasa senang dengan itu hanyalah kamu, Haruno-san.

  Mustahil aku akan bersenang-senang. Dan Hayama mulai terlihat suram.

  “.....”

  Tidak seperti Haruno-san yang ceria, kami berdua hanya terdiam.

  Percakapan terhenti, dan Haruno-san merasa bosan. Melihat peluang untuk mengganti suasana, dia berdiri dan menepuk pundak Hayama.

  “Ngomong-ngomong, kenapa tidak pergi saja dengan mereka? Bisa jadi akan menyenangkan bagimu.”

  “Mustahil-lah...”

  “Oh? Bukankah kau tidak akan tahu sebelum kau coba?”

  Respon Hayama cukup pelan dan Haruno-san tidak mempedulikannya. Ketika dia menarik tangannya kembali, dia lalu melihat ke arah arlojinya.

  “Yep, akhirnya aku berhasil menghabiskan waktuku hari ini dengan baik! Oke, aku pergi dulu ya!”

  Haruno-san lalu mengumpulkan barang-barangnya dan memasukkan ke tasnya.

  “Hikigaya, terima kasih sudah mau menemaniku.”

  Dia lalu mendekatiku dan berbisik di telingaku. Sebuah wangi bunga mulai tercium di hidungku sembari telingaku bisa merasakan napasnya yang lembut. Karena itu, aku tiba-tiba mundur selangkah. Telingaku seperti merasakan geli. Tolong, hentikan itu!

  Lalu Haruno-san mulai berjalan menuju tangga.

  Tiba-tiba, dia membalikkan badannya dan melambaikan tangannya.

  “Kalau ada perkembangan dengan Yukino-chan, kasih tahu aku yaaa~!”

  Dia mengatakannya seperti berbicara denganku, tapi sekarang sedang tidak ada perkembangan, tahu tidak! Begitulah pikirku, jadi aku mengangguk saja kepadanya dan melihatnya pergi.

  Sekarang, karena ‘nona yang ramai’ sudah pergi, yang tersisa disini adalah kesunyian.

  Hanya ada aku dan Hayama.

  Begitulah, dan kami berdua tidak punya alasan untuk tetap berada di tempat ini.

  Ini sudah masuk ‘injury time’ dalam sebuah permainan, tidak ada yang bisa kita bicarakan.

  Di masa lalu, Hayama dan diriku pernah saling berbicara ketika kegiatan dan event berakhir. Meski suasana ini mirip dengan kejadian itu, tampaknya kita berdua sadar kalau kali ini tidak akan sama dengan sebelumnya.

  Aku mengambil tasku dan mulai berjalan.

  “Kamu...”

  Suara itu tampaknya muncul dari belakangku.

  Aku tidak punya alasan untuk berbicara dengannya. Tapi, aku menghentikan langkahku. Aku tidak membalikkan badanku dan menunggunya untuk berbicara.

  “...Haruno tampaknya sangat dekat denganmu.”

  “Hah?”

  Kata-kata yang tidak diduga itu membuatku menolehkan kepalaku.

  Ketika kedua mata kami bertemu, dia tersenyum. Aku merasa itu adalah senyum yang sudah mengetahui sesuatu.

  “Jangan bodoh. Dia cuma mau mengacaukan hariku saja.”

  “Tapi dia terlihat sangat antusias ketika bersamamu.”

  Suara Hayama seperti menembus tubuhku.

  “Jika dia tidak tertarik ke seseorang, dia tidak akan bersikap manja seperti itu...Dia suka ikut campur ke hal-hal yang dia anggap menarik dan mencoba mengacaukannya. Bagi orang yang tidak dia sukai, dia tidak akan pergi sejauh itu.”
[note: Tampaknya ini pengalaman pribadi Hayama.]

  Itu saran atau peringatan? Tapi kata-kata Hayama memang sangat tajam, tidak seperti biasanya. Meski begitu, aku tidak membalikkan badanku.

  “...Oh, menakutkan juga.”

  Aku mengatakan dengan jujur apa yang ada di pikiranku, meskipun aku sudah tahu tentang itu. Aku lalu tidak mengatakan apapun dan meninggalkan tempat itu.








x Chapter III | END x








  Haruno adalah seorang kutu buku juga. Hayama di vol 4 chapter 5 juga memperlihatkan kalau dia adalah kutu buku. Jadi, kita memiliki 4 karakter kutu buku disini, yaitu Hikigaya Hachiman, Yukinoshita Yukino, Yukinoshita Haruno, dan Hayama Hayato. Lucunya, Yukino, Haruno, dan Hayama adalah grup pertemanan selama masa kecil dulu, vol 9 chapter 8.

  ...

  Haruno yang bertaruh kalau Meguri pasti akan membujuk Yukino maju menjadi kandidat ketua.

  Ini juga diperkuat keterangan Meguri sendiri yang berharap kalau Yukino akan maju menjadi kandidat ketua, vol 8 chapter 9.

  Besar dugaan, Meguri berencana seperti itu ketika menemani Iroha ke Klub Relawan.

  ...

  Buat yang belum baca vol 9 chapter 9, Kaori dan Hachiman ini tinggal di satu kompleks perumahan. Mereka hanya dipisahkan oleh sebuah pertigaan jalan. Lurus terus jika ke rumah Kaori, sedang belok kanan kalau hendak ke rumah Hachiman.

  Tentu Kaori merasa aneh jika 2 tahun tidak melihat Hachiman sama sekali, setidaknya ketika berangkat sekolah. Dan ini dijelaskan oleh sikap Hachiman yang sengaja mengambil jalan yang lebih jauh agar tidak bertemu dengan Kaori.

  ...

  Lucu melihat Kaori menganggap Haruno adalah pacar Hachiman. Tentunya, lebih mencurigakan lagi ketika Haruno mengatakan kalau dirinya adalah kakak ipar Hachiman. Dengan kata lain, adik Haruno ada kemungkinan merupakan pacar Hachiman. Setidaknya, itulah yang terbayangkan di kepala Kaori.

  ...

  Monolog Hachiman mengenai betapa mudahnya kejadian 2 tahun lalu dengan Kaori menjadi bahan becandaan dan itu memberikan luka tusuk yang mendalam...

  Jelas disini, Hachiman ini adalah seorang siswa SMA kelas 2 yang memikul trauma mendalam tentang kejadian di masa lalu dengan Kaori.

  Lucunya, baik trauma Yukino dengan bully di kelas 6 SD dan Hachiman dengan Kaori di kelas 3 SMP, semuanya berawal dari salah paham. Mungkin lebih tepatnya...Cinta bertepuk sebelah tangan.

  ...

  Kita mendapat info yang bagus mengenai view Kaori kepada Hachiman ketika SMP dulu. Hachiman merupakan pria yang misterius bagi Kaori waktu itu.

  Namun, anggapan Kaori mulai dibalikkan secara perlahan-lahan di chapter ini.

  Pertama, Hachiman bukanlah pria penyendiri karena dia duduk berduaan dengan gadis cantik, di sebuah kafe, pada sore hari sepulang sekolah. Jelas, setidaknya Kaori pasti berpikir kalau Hachiman ini adalah orang yang menyenangkan.

  Kedua, Hachiman kenal Hayama, pria terpopuler di SMA Sobu. Meski Hachiman mengatakan secara jujur mengenal Hayama, tapi tidak dekat, tapi di mata Kaori ini jelas seperti berusaha merendah. Mengapa? Karena gadis yang menemani Hachiman, Haruno, dengan mudahnya bisa menelpon Hayama dan menyuruhnya datang. Artinya, Hachiman ini terlihat merendah. Dan Hayama, pria terpopuler di SMA Sobu, mau datang hanya ditelpon oleh Haruno, dimana Haruno dianggap teman Hachiman, jelas merupakan sebuah pernyataan kalau Hachiman ini sebenarnya teman Hayama. Meski, kenyataannya Hayama dan Hachiman adalah rival.

  Ketiga, Kaori baru tahu kalau Hachiman adalah siswa yang pintar, karena masuk SMA Sobu.

  Dalam sekali pertemuannya, Kaori mendapatkan kesimpulan kalau Hachiman ini: Orangnya mudah bergaul, termasuk pria-pria populer di SMA Sobu, dan pria yang pintar.

  Ditambah kesan Kaori di vol 9, Hachiman adalah pria yang pintar berorganisasi. Dan tidak lupa, Hachiman adalah pria yang dulu pernah mengatakan kalau dia menyukainya. Lengkap sudah...

  ...

  Meski Hayama tahu kalau Hachiman kenal Haruno, sejak di perkemahan Chiba di vol 4 chapter 7, Hayama masih terlihat terkejut dengan kedekatan Haruno dan Hachiman.

  ...

  Bagi yang belum tahu, pemilihan Ketua OSIS yang baru harusnya dilaksanakan setelah Festival Budaya, yaitu tengah - akhir Oktober. Tapi dihadapkan fakta kalau tidak ada satupun pelamar kandidat ketua dan adanya Festival Olahraga di akhir Oktober, dimana di Festival Budaya panitianya kacau balau dan hampir gagal, Meguri memutuskan untuk menunda pemilihan Ketua OSIS ke awal Desember. Lalu, Meguri menginstruksikan untuk menempatkan seluruh pengurus OSISnya di kepengurusan Festival Olahraga.

  Kesanggupan Meguri sendiri untuk menjalankan proses pemilihan ketua baru tersebut karena dirinya sudah dipastikan diterima di Universitas melalui jalur prestasi. Jadi, Meguri tidak perlu disibukkan dengan belajar ujian masuk universitas dan bisa fokus ke pemilihan ketua bersama para pengurus OSISnya yang masih duduk di kelas 2.

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar