Rabu, 14 Oktober 2015

[ TRANSLATE ] Oregairu Vol 11 Chapter 8 : Kapanpun, tatapan dari Yuigahama Yui akan selalu terlihat hangat dan lembut



x Chapter VIII x






  Hari ini, hal yang jarang sekali muncul di Chiba terjadi. Hujan salju. Awan lembab yang bertiup dari Laut Jepang terhalang oleh pegunungan di dekat daerah Honshu.

  Meski begitu, ketika salju turun, angin kering yang berasal dari Pasifik biasanya akan menemani daratan Chiba. Tapi, turun salju dalam cuaca seperti ini memang terasa janggal di Chiba. Dalam 17 tahun pengalamanku, aku pernah menghadapi badai salju ketika awal tahun, yaitu tanggal 1 Januari, dan pernah pula di akhir Maret. Timing munculnya salju tampaknya sudah tidak bisa diprediksi lagi, seperti mengikuti jadwal ujian masuk Komachi saja. Sayangnya, hari ini tidak terasa ada angin bertiup sedikitpun.

  Kelopak bunga terlihat semakin merunduk dalam balutan salju yang menari ini.

  Memakai seragam sekolah bersama dengan mantel dan syal, dia juga memakai sarung tangan beserta sepatu boots kulit. Dia tampaknya memang sudah bersiap-siap ketika hendak meninggalkan rumah. Meski jadwal ujiannya masih lama, menghindari kemacetan tampaknya adalah pilihan terbaik.

  "Tanda pengenal peserta ujian? Penghapus? Sapu tangan dan pensil pentagonal?" Pensil tersebut adalah pensil pemberian Ayah yang katanya dia beli dari kuil dimana dia berdoa untuk kelulusan ujian Komachi.

  Komachi lalu menarik napas dalam-dalam dan menatap tasnya, lalu dia mengangguk dengan penuh semangat. Setelah itu, dia membuka payungnya dan memberi salam.



  "Aku sudah siap! Aku pergi dulu, Oni-chan!"

  "Oh, selamat jalan. Hati-hati di jalan."

  "Oke. Brrrr... dinginnya. Sin, cosinus, tangen...ah, harusnya bukan begitu."

  Sambil menggigil kedinginan, dia tampak menggumamkan rumus-rumus yang perlu dihapalkannya. Melihatnya pergi seperti itu, aku mulai tersenyum. Dia mungkin akan baik-baik saja. Apa mungkin karena terlalu banyak belajar-lah yang membuatnya memiliki semangat setinggi itu?

  Ngomong-ngomong soal kegiatanku, tidak ada kegiatan yang bisa kulakukan hari ini kecuali berdoa untuk Komachi, dan menyerahkan segala keputusannya kepada 'pemilik surga'.

  Awan-awan padat yang berada di ketinggian yang cukup rendah seperti mengatakan kalau cuaca cerah tidak akan terjadi dalam waktu dekat, seperti yang dikatakan butiran salju padat yang jatuh dari langit ini. Tampaknya akan turun salju seharian...

  Sambil menggigil kedinginan, aku berjalan kembali ke rumah. Ketika itu, ada sesuatu yang juga sedang menggigil di tubuhku.

  Aku mencari ke sudut kantongku untuk mengetahui sumber getaran itu, ternyata ada sebuah panggilan telpon masuk. Tulisan di layar tertulis panggilan dari [★✰Yui✰★]. Ini dari Yuigahama. Dulu, ketika pertama kali dia menuliskan nama kontaknya di HP-ku, sampai sekarang belum berubah, dan terus begitu saja sampai saat ini.

  Aku sempat ragu apakah harus kuangkat atau kubiarkan saja panggilan ini. Tapi, panggilannya terus berbunyi dan HP-ku bergetar terus-menerus. Aku menyerah, aku tekan bagian 'jawab' dan mengangkat telpon darinya.
[Note: Kejadian serupa terjadi ketika Haruno menelpon Hachiman untuk mengajaknya minum di kafe terbuka vol 10 chapter 9. Haruno terus menelpon HP Hachiman hingga Hachiman mengangkatnya.]

  "...Halo."

  Ketika aku mengatakannya, langsung muncul suara ceria dari seberang sana.

  "Hikki, ayo kita pergi kencan!"

  "...Hah?"

  Hal pertama yang dia katakan bukanlah salam atau semacamnya, tetapi kata-kata yang tidak terduga. Aku seperti menjadi batu saja mendengar perkataannya, dan hanya terdengar suara "pssshh-tsuuu" dari mulutku.

  Karena menerima panggilan semacam itu, aku mulai mempersiapkan diriku untuk pergi. Tepat ketika hendak pergi, aku memeriksa dahulu tentang titik kemacetan dari aplikasi HP-ku untuk berjaga-jaga. Tampaknya rute yang kupilih tidak akan terlalu ramai. Setidaknya, tidak perlu khawatir telat berada di sana.
[Note: Orang Jepang punya semacam aturan tidak tertulis untuk selalu hadir minimal 5 menit sebelum jam pertemuan. Berbeda dengan kita yang mentoleransi 15 menit telat.]

  Tumpukan salju ini masih belum begitu tebal sehingga aku masih bisa berjalan dengan lancar. Aku berjalan dengan perlahan menuju pemberhentian bus, sambil berjalan di belakang bekas ban mobil yang sudah menghancurkan salju yang mulai padat. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk naik bis dan berpindah ke kereta. Kau bisa juga melihat pemandangan laut dari jendela kereta. Dari jendela itu, aku bisa melihat salju mulai berjatuhan, bergerak dari kanan ke kiri. Posisi matahari kali ini memang cukup tinggi, dengan sinarnya yang berusaha untuk menembus kumpulan awan hitam, memberinya warna putih yang diiringi sebuah bayang-bayang hitam.

  Rute sepanjang bibir pantai adalah rute yang padat. Bukan karena cuaca kali ini. Rute itu biasanya padat jika ada event. Misalnya, Makuhari Messe, Game Show atau Pameran Kendaraan, atau ada Comic Market (Comiket), atau ada pertunjukan musik di Stasiun Shin-Kiba. Jika ada kegiatan itu, kemungkinan besar jalur ini akan padat luar biasa.

  Tapi alasan paling utama, adalah Stasiun akhir rute ini, adalah Stasiun terdekat dengan rumah atraksi terkenal se-antero Jepang. Orang-orang mengenalnya dengan Tokyo Disney Resort, atau TDR.

  Terutama, karena hari ini adalah Hari Valentine.

  Meski bersalju, tampaknya banyak sekali penumpang kereta untuk hari ini. Aku mencoba menguping pembicaraan sebuah pasangan yang berada di dekatku. "Apa salahnya menjadi romantis? Bahkan hujan salju ini tidak akan bisa menghentikan kami!"

  Memang, bagi kencan di Hari Valentine, mereka bisa menjadikannya alasan yang kuat untuk keluar meski turun salju.

  Tidak lama kemudian, White Castle dan Kawah Api dari Volcano terlihat. Ada pengumuman di kereta yang memberitahukan bahwa kereta akan segera berhenti di Stasiun berikutnya, lalu kereta mulai memperlambat lajunya.
[Note: White Castle dan Volcano adalah dua wahana dari Destiny Land. Mungkin karena terkendala Hak Cipta nama, nama Disney Land terpaksa diubah menjadi Destiny Land. Buat yang belum tahu, White Castle adalah tempat diselenggarakannya pesta kembang api Natal di volume 9 chapter 8.]

  Ketika berhenti, pintu terbuka dengan suara 'pshhh-tsuuu'. Udara dingin langsung menerjang gerbong kereta, termasuk pasangan yang baru saja aku dengar pembicaraannya. Ketika berhenti di spot ini, ada sebuah alunan musik khas Disney yang dipakai sebagai melody tanda kereta akan berangkat. Sambil mendengarkannya, orang-orang yang di kereta mulai terlihat berkurang, sehingga membuatku merasa lega dan bisa bersandar dengan santai di pintu kereta. White Castle dan Volcano mulai terlihat menjauh, hingga akhirnya meninggalkan sudut pandangan mataku.

  Hari ini adalah hari dimana aku tidak akan turun di stasiun tersebut.

  Tapi dalam ingatan samarku, aku sepertinya pernah diajak untuk pergi ke tempat itu lagi, entah mengapa akupun tidak tahu apakah terjadi atau tidak.
[Note: Volume 9 chapter 7 Yui pernah mencoba mengajak Hachiman untuk pergi ke Disney Land lagi tetapi Hachiman hanya diam saja dan memalingkan pandangannya ke Pan-San.]

  Bisa dikatakan janji yang tidak terucap, karena aku merasa pembicaraan ketika itu terjadi sudah diluar topik yang seharusnya. Tapi jika diubah sedikit kata-katanya, bisa juga menjadi alasan untuk pergi kesana. Tempat dimana janji akan terbayar, berada di satu Stasiun lagi.
[Note: Hachiman pergi menuruti ajakan Yui karena menepati sebuah janji di vol 6 chapter 7 dimana Yui meminta Hachiman mau menemaninya keluar sebagai 'balas budi' sudah ditraktir kue panggang madu.]

  Melewati sebuah jembatan yang besar, sebuah pemandangan Ferris Wheel yang sangat besar mulai terlihat. Memang, ini adalah Ferris Wheel terbesar di Jepang.

  Aku menerima telepon pagi ini. Aku tidak terkejut jika aku tidak menolak ajakannya di telpon. Yang paling utama, karena yang pertama kali menjanjikan untuk mengajaknya keluar adalah aku. Jadi, ini hanyalah sebagai pemenuhan janji yang pernah kuucapkan.

  Maka, aku tidak punya alasan yang bagus untuk menolaknya.

  Tapi, apakah ini hal yang benar untuk kulakukan? Muncul sebuah keraguan dalam pikiranku. Ketika aku mencari alasannya, laju kereta ternyata sudah mulai melambat. Seakan tidak peduli dengan aku yang sedang memikirkan hal itu, kereta tiba-tiba sudah berhenti.
[Note: Kira-kira kenapa merasa tidak nyaman...Apa karena takut jika Yukino tahu?]

  Keluar dari gerbang tiket, Ferris Wheel yang besar mulai terlihat di depanku. Dari Air Mancur Piazza yang terletak di depan Stasiun, kamu bisa melihat Ferris Wheel terbesar di Jepang. Kau akan terkagum-kagum jika melihatnya dari dekat.

  Dengan pemandangan Ferris Wheel di depanku, aku mulai berjalan menuju tempat pertemuan.

  Berjalan di sepanjang jalan utama yang menuju pinggir pantai, sebuah Dome terlihat di kiriku. Di bawahnya merupakan pintu masuk menuju akuarium.

  Tempat pertemuannya berada disana.

  Setelah berada di bawah atap Dome, aku menutup payungku. Melihat sekitarku terlebih dahulu, lalu aku berlari kecil.

  "Hikki!"

  Dia tampaknya naik kereta yang berangkat lebih dahulu dariku. Yuigahama berjalan menuju ke arahku, memanggil namaku, dan melambaikan tangannya yang memegang payung pink.

  Aku menganggukkan kepalaku dan berjalan menuju ke arahnya.

  Tapi, kakiku tiba-tiba terhenti.

  "... ... Ah."

  Seorang gadis yang memakai mantel abu-abu berdiri di belakang Yuigahama.

  Gadis tersebut lalu melihat ke arahku, kedua matanya seperti terkejut melihatku.

  "Hikigaya-kun... ..."

  Aku mendengarnya menggumamkan namaku. Kenapa dia ada disini? Rasa penasaranku semakin kuat ketika jarak kami semakin dekat.

  "Yukinoshita juga datang kesini?"

  Akan sangat aneh jika kita bertemu satu sama lain seperti ini tanpa bertanya hal seperti itu. Jika dia bertanya, maka aku akan sangat sulit untuk menjelaskan situasi ini. Tapi, tampaknya dia juga memiliki masalah yang sama denganku.

  Yuigahama melihat sikap Yukinoshita yang merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Lalu, dia membuka pembicaraan.

  "Uh, Um...Jika...jika kalian berdua ada rencana kegiatan, aku akan pulang duluan saja..."

  "Ini tidak apa-apa! Ayo kita bersenang-senang bersama!"

  Dia mengatakannya sambil memegang lengan Yukinoshita, yang tampak hendak pulang. Di saat yang sama, dia juga menarik lengan jaketku. Lalu Yuigahama menarik tangan Yukinoshita dan tanganku ke dadanya.

  "Aku ingin kita bertiga pergi bersama-sama..." dia mengatakannya dengan suara pelan. Kedua matanya merendah, aku tidak tahu ekspresinya seperti apa. Tapi, nada suaranya sudah cukup untuk meyakinkan maksudnya. Yukinoshita dan diriku saling melihat satu-sama lain, kami berdua seperti tidak punya kata-kata lagi.

  Setelah Yuigahama menegakkan kepalanya kembali dan melihat kami berdua dengan tatapan yang lembut, Yukinoshita mengangguk sambil berusaha menghela napasnya. Lalu, Yuigahama menatapku.

  Melihat keduanya tidak menolak ide itu, aku juga tidak bisa menolaknya. Aku agak ragu untuk bertanya, dan mulai memalingkan mataku secara perlahan. Entah mengapa, aku mulai memberanikan diriku untuk menanyakan itu.

  "... ...Ini, apakah ini benar-benar tidak masalah?"

  "Ya, ini tidak masalah." Jawab Yuigahama.

  Tanpa memalingkan pandangannya, dia menatapku dengan tajam, ekspresinya seperti hendak memaksaku untuk setuju dengannya.
[Note: Tampaknya Yui sudah merencanakan sesuatu...Melibatkan Yukino, dirinya, dan Hachiman.]

  Aku tidak perlu bertanya dengan basa-basi, jadi aku tanya saja langsung. Mungkin jawabannya barusan adalah jawaban yang jujur. Tidak, aku tampaknya menangkap sesuatu. Aku berpikir kalau dia punya maksud tersembunyi dari kata-katanya barusan. Entah apa rencananya, tapi kalau dia memang benar-benar menginginkannya, maka aku tidak punya alasan yang bagus untuk menolaknya.

  "Begitu ya..."

  "Yap! Tidak perlu khawatir soal salju disini. Akan sangat bagus jika semua orang disini bisa bersenang-senang!" Dia menjawabnya sambil membusungkan dadanya. Memang, jika dia katakan kalau semua orang bersenang-senang disini, tempat ini memang didesain untuk tujuan itu.

  Tempat ini, tampaknya agak aneh jika pergi bertiga. Oleh karena itu, kali ini, mungkin lain hari. Hari dimana aku akan memenuhi janjiku kepadanya.

  "Oke, ayo."

  Tempat ini, adalah tempat bagi semua orang.

  Di kejauhan, aku bisa melihat cahaya matahari bersinar menembus kaca-kaca Dome. Digabungkan dengan beberapa blok besi, memberikan kesan cahaya yang cerah. Sebuah eskalator terlihat siap membawa pengunjung ke akuarium, yang berada di bawah Dome.

  Cahaya di ujung eskalator tampak seperti berada di sebuah Bioskop, tepat sebelum pemutaran film. Setelah meninggalkan eskalator, hal pertama yang kulihat adalah sebuah layar yang menggambarkan keadaan di dalam akuarium besar tersebut. Wow, ini memang besar sekali, Yuigahama mengatakannya juga sambil berlarian menuju ke arah tersebut.

  "Hiu!" Yuigahama sepertinya membicarakan tentang Hiu di akuarium. Tampaknya ada Hiu Karang berwarna hitam dan beberapa variasi lainnya. Meskipun nama Hiunya seperti itu, ikan tersebut memang tidak mirip dengan keluarga Tuna sama sekali. Ini adalah Hiu, Hiu Super! Di akuarium yang sama, ada beberapa kerang dan ikan bertubuh rata seperti sedang berdansa di sekelilingnya. Jika ingin melihat yang lain, disini juga ada Pari dan Sarden. Yuigahama tampak gembira melihatnya, melihat melalui lensa kamera untuk mengambil gambar. Lalu, dia mengatakan "ehehe" sambil menunjuk ke arah akuarium tersebut dan berkata "Hiu!"

  "Apakah ini benar-benar Hiu?" Yukinoshita bertanya dengan terheran-heran. Yuigahama lalu mendekati Yukinoshita.

  "Yukinon, maaf kalau tidak memberitahumu soal ini. Ayolah, mari kita lakukan dengan semangat!"

  "Meski begitu..."

  Aku berdiri di depan akuarium, tidak terlibat dalam pembicaraan mereka. Yuigahama hanya berdiri saja disana dan terdiam.

  Hiu yang menakutkan. Hiu sangat mengagumkan. Aku membayangkannya begitu. Hiu yang sedang berenang di depanku terlihat sangat tenang, lebih dari itu, dia terlihat elegan.

  Seekor Hiu Martil. Aku bisa mengenalinya dari ciri khas kepalanya, aku bahkan tidak perlu membaca keterangan di bawah kaca akuariumnya. Bagi para pria, setidaknya mereka pernah sekali merasa tertarik dengan Hiu semasa kecil. Lebih tepatnya, ada masanya dimana para laki-laki menyukai hal-hal semacam dinosaurus ataupun buku berisi makhluk-makhluk laut.

  Tidak terkecuali Hikigaya Hachiman. Dulu, dinosaurus yang kusuka adalah Triceratops dan makhluk laut favoritku adalah Spook Fish. Aku secara tidak sengaja mengatakan "oops". Aku seperti anak kecil saja yang melihat akuarium, lalu meniup terompet untuk membuat suasana gaduh.

  "Woah!...Hiu Martil! Eh, bolehkah mengambil gambar disini?" Ketika aku menunjukkan jari telunjukku ke arah Hiu tersebut, Yuigahama mengangguk kepadaku seperti seorang kakak perempuan yang memberitahu adik laki-lakinya.

  Wow, jadi boleh mengambil gambar. 'Pasha-pasha', bunyi lensa kamera terdengar. Di salah satu sudut mataku, aku bisa melihat Yuigahama berjalan ke arah Yukinoshita. Lalu, dia berbisik ke telinganya.

  "Lihat! Bahkan Hikki menikmati juga pemandangan ini."

  "Haaa... ..."

  Yukinoshita menjawabnya sambil mengembuskan napasnya, seperti sudah menyerah dengan situasi ini.

  Setelah itu, apa yang mereka bisikkan tidak bisa kudengar lagi. Karena merasa cukup sunyi, lalu aku menatap ke arah Yukinoshita. Dia menekan keningnya dengan tangannya sambil menatap ke arahku, kedua mata kami bertemu.

  "A...Apa?"

  Aku terlihat salah tingkah karena ketahuan sedang berusaha mencuri dengar pembicaraan mereka. Yukinoshita lalu menyisir rambut di bahunya, lalu dia tersenyum kepadaku seperti hendak membalasku.



  "Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedikit terkejut, itu saja. Kalau mau, aku bisa mengambilkan fotomu dengan latar Hiu-Hiu itu." Dia mengatakannya sambil menyodorkan tangannya. Tampaknya, aku akan punya foto kenang-kenangan bersama Hiu Kepala Martil jika aku memberikan HP-ku kepadanya.

  "Serius nih? Aku bisa membanggakan ini ke Komachi nantinya."

  Menerima tawarannya, aku memberikan HP-ku kepadanya.

  "Hiu Kepala Martil. Ketika Hiu Martilnya lewat, tolong tekan tombol 'mengambil foto'! Akan sangat bagus jika Hiu Martilnya agak miring, sehingga bentuk 'martilnya' terlihat jelas."

  "Aku cukup terkejut dengan penjelasan detailmu barusan..."

  Yuigahama tampak tersenyum melihatku diambil gambarnya. Apa ada yang lucu dengan sikapku ini?

  "Bagaimana gambarnya?"

  Melihat hasil fotonya ketika dia mengembalikan HP-ku, aku berada tepat di layar, dan ada satu foto yang tampak sangat bagus, dimana aku terlihat seperti hendak ditelan Hiu Martil.

  "Oh-ho! Ini bagus sekali!"

  "Begitu ya. Aku cukup senang mendengarnya."

  Yukinoshita terlihat lega mendengarnya. Yuigahama lalu memegangi lengan Yukinoshita dan menunjuk ke salah satu arah.

  "Oke, ayo kita pergi ke selanjutnya!"

  "....O-Oke..."

  Tidak lupa, aku ucapkan selamat tinggal dahulu ke para Hiu Martil ini yang telah menjadi bagian dalam hidupku, aku lalu mengikuti keduanya dari belakang.

  Di Taman Akuarium, karena ini hari kerja, tidak banyak pengunjung yang ada disini. Aku bisa melihat beberapa pasangan kakek-nenek, keluarga muda yang membawa bayinya, dan beberapa gadis muda bersama teman-temannya.

  Jika ini akhir pekan atau liburan, tempat ini akan penuh sesak dengan keluarga dan anak kecil.

  Area yang gelap tersebut dibantu pencahayaannya oleh cahaya yang dibiaskan oleh akuarium. Dalam deretan pemandangan ini, semua orang tampaknya memang berusaha untuk membuat suaranya tetap kecil dan tidak berisik. Tidak terkecuali kami. Aku saja hampir menangis karena kagum melihat akuarium besar yang menjadi rumah Tuna Sirip Biru.

  'Sea World' ini terbagi menjadi beberapa grup. Bagian akuarium yang berisi ikan-ikan dari perairan selatan mulai menghipnotisku dengan tampilannya yang menarik.

  Keindahan alami, kekuatan, dan kecantikan. Melihat pemandangan di depan kami, kami tidak memiliki kata-kata yang bisa menggambarkannya kecuali "luar biasa!", "sangat cantik sekali" dan "terlihat enak!". Tunggu dulu, serius ini...terlihat enak?

  Ngomong-ngomong, ketika ada seekor ikan lewat di depan kami, Yuigahama tiba-tiba berhenti berjalan. Melihat gerakannya itu, Yukinoshita dan diriku juga ikut-ikutan berhenti. Aku menatap sebentar, tampaknya ini akuarium yang cukup gelap dan terlihat sederhana, jauh dari kesan akuarium ikan yang berwarna-warni di sekitarnya.

  Disini, tidak ada cahaya sedikitpun, dan ada beberapa kayu seperti sengaja ditenggelamkan dan menjadi tumpukan di atas dasar akuarium. Di kabut lumpur tersebut, ada seekor ikan yang berenang dengan santainya.

  Tidak, tampaknya salah jika menyebutnya sedang berenang. Dia bahkan tidak terlihat sedang bergerak, tampaknya hanya mengapung begitu saja.

  "Ughh, menjijikkan." Yuigahama menggumam.

  "Disini tertulis, nama ikannya Ikan Kurtus. Mereka hidup di arus yang berlumpur dan tidak berenang terlalu jauh."

  Yukinoshita membaca keterangannya lalu dia menatapku.

  Kenapa harus menatapku? Aku mencoba membaca papan keterangannya, penjelasannya tampaknya masih belum lengkap!

  Oh? Disitu tertulis mereka suka memakan udang atau makhluk-makhluk yang kebetulan berenang di dekat mereka.

  "Mereka tampaknya memiliki filosofi hidup yang ideal..."

  "Kamu bersimpati dengan mereka?!"

  Yuigahama tampaknya terkejut dengan kata-kata spontanku barusan. Mendengar kata-kataku, Yukinoshita tiba-tiba tersenyum.

  "Karena kebetulan kau menyebutkannya, ikan ini, tampaknya mirip dengan seseorang. Benar tidak, Hikifishy-kun?"

  "Kami tidak mirip. Begitu pula nama kami."

  Kenapa dia tersenyum kepadaku? Tampaknya Ikan Kortus memiliki nama Komori. Apa bisa diartikan kalau ikan ini semacam baby-sitter? Kalau begitu, aku mau saja kalau disebut ikan Hikikomori...Tidak, baby-sitter sebenarnya adalah ide yang cemerlang, aku suka anak kecil!

  Dengan ekspresi yang jijik, dia mengatakannya dengan nada yang ceria.

  "Ugggh, menjijikkan."

  "Jangan katakan mereka menjijikkan, mereka ini hanya berusaha yang terbaik agar tetap hidup."

  Bukankah kita berasal dari planet yang sama? Maksudku, orang ini terlalu antusias untuk mengatakannya. Ketika Yuigahama terus mengatakan itu, Yukinoshita terlihat berlutut di dekatnya. Mereka berdua seperti membicarakan "menjijikkan, bukan?" dan "terlihat buruk, bukan?"

  Lalu, Yuigahama tersenyum.

  "Tapi...Kalau dipikir-pikir mereka manis juga. Benar tidak?"

  "Aku tidak tahu kalau mereka bisa dikatakan manis, tetapi mereka menurutku cukup menawan."

  Setelah mengatakannya, Yukinoshita dan Yuigahama saling menatap satu sama lain dan tertawa.

  "Aku sangat yakin kalau 'manis' terasa agak janggal setelah dikatakan menjijikkan ..."

  Ngomong-ngomong, Ikan Kortus memang punya wajah yang menjijikkan. Jadi mengatakan mereka 'manis' memang memberikan sebuah tanda tanya besar.

  Aku tidak paham bagaimana gadis menamakan sesuatu 'manis'. Seperti sikapnya yang manis, atau gaya rambutnya manis, atau suaranya terdengar manis. Bukankah itu yang biasanya para pria katakan ketika mereka dikenalkan dengan seorang gadis dan teman-temannya? Bukankah itu hanya sekedar basa-basi yang sebenarnya mereka tidak terlihat manis sama sekali? Aku memang sudah lama menduga hal itu. Serius, jangan pernah percaya kepada gadis yang mengatakan sesuatu itu 'manis'.

  Ikan Landak dan ikan Clownfish. Kuda laut, atau naga laut. Lalu yang terakhir, rambut ekor yang panjang, Lili Laut Jepang.

  Mengikuti rute tur yang terhubung ke arah luar, kami melihat sebuah pameran ikan-ikan laut dalam di "Sea World".

  Setelah lama menghabiskan waktu di dalam ruangan dengan penerangan minim, akhirnya kami berada di area dimana cahaya matahari bisa terlihat menembus masuk. Setelah melewati pintu otomatis, kami tiba di ruangan luar, dimana tiupan angin dingin dari laut mulai terasa menyentuh pipi kami. Di saat yang bersamaan, aku mencium aroma yang sangat kuat.

  Aroma itu berasal dari bagian makhluk laut yang bisa dengan mudah ditemukan di pinggir pantai. Kerang, teripang, bintang laut, dan lain-lain. Jika terus ke depan meninggalkan bagian ini, akan menuju area terbuka tanpa atap. Salju ternyata tidak begitu lebat, terlihat lebih sedikit daripada tadi.

  "Ah, tampaknya ada sebuah kerumunan disana."

  Yuigahama lalu menunjuk dengan jari telunjuknya. Berapa banyak orang yang disana? Terdengar suara teriakan seperti "Kyaaaa" dan "Waa".

  "Ayo kita lihat kesana."

  Kami akhirnya pergi untuk melihat apa yang menyebabkan keramaian ini. Ternyata tempat ini adalah bagian dimana ada kolam-kolam ikan kecil yang memamerkan beberapa ikan yang ada di akuarium di dalam. Airnya cukup dangkal dan kolam-kolam kecil tersebut tidak ditutup. Ada tulisan 'Sentuh mereka dengan kedua jari anda' terpasang di depan bagian tersebut.

  Tampaknya, ini adalah tempat dimana kamu bisa menyentuh hewan-hewan tersebut. Eh, hewan laut apa yang diperbolehkan untuk ku sentuh? Aku membayangkan hal tersebut sambil mencoba mengintip ke kolam kecil tersebut.

  Hiu. Sekali lagi, ada Hiu disana.

  Hiu dan Pari berukuran kecil sedang berenang dengan malas disana. Aku membaca keterangannya, 'Hiu Bambu Coklat', 'Hiu Kepala Sapi Jepang', dan Pari berbintik tertulis di atasnya.

  "Hei, Hikki, ini Hiu Kucing!"

  Yuigahama lalu menarik-narik lenganku sambil melihat ke arah Hiu Kucing. Dia lalu menyentuh ikan tersebut dengan jari-jarinya. Ikannya tidak memberikan respon, hanya terdiam saja disana. Tidak lama kemudian, Yuigahama mengangguk seperti menyadari sesuatu.

  "...Mengingatkanku akan Sable!"

  Bagaimana bisa? Apakah hanya karena warnanya sama-sama coklat muda? Hiu ini, jelas tidak mirip dengan anjing, paham tidak? Maksudku, ini tidak mirip dengan anjingmu. Apa kamu yakin ini anjing? Bukankah ini Hiu? Lagipula, aku juga tidak paham mengapa ini disebut Hiu Kucing. Tampaknya, ada satu orang lagi selain diriku yang heran akan hal tersebut.

  Di sebelahku, Yukinoshita sedang memegangi dagunya, memperhatikan Hiu Kucing tersebut secara dekat.

  "Hiu-Kucing..."

  Yukinoshita berdiri sambil menggumamkan kata-kata tersebut, dia terus memandangi ikan tersebut.

  "Tidak masuk akal. Mengapa Hiu-Kucing bisa terlihat seperti kucing? Menamakannya seperti itu, harusnya ada sebagian tubuhnya yang mirip kucing."

  Oh, jadi dia otomatis akan merespon apapun kata 'kucing' yang menempel di sesuatu? Serius, gadis ini tampaknya sangat mencintai kucing sebagaimana kucing mencintai Frisky.
[Note: Frisky adalah salah satu makanan merk premium untuk kucing.]

  Seperti sudah memutuskan sesuatu, Yukinoshita menaikkan lengannya dan menyentuhkan tangannya ke kulit Hiu Kucing tersebut, lalu menepuk-nepuknya. Setelah itu, dia tersenyum.

  "Kupikir, kulitnya memang terasa seperti lidah dari kucing."

  "Bukankah semua kulit Hiu memang seperti itu?"

  Yukinoshita tampaknya tidak mempedulikan kata-kataku dan meneruskan kegiatannya mengelus-elus Hiu Kucing tersebut.

  "Kucing, Hiu Kucing, Kucing....'Meow'...tidak, mungkin 'Shaaa...'."

  "Hanya karena mereka Hiu, bukan berarti mereka akan mengatakan 'Shaaa' daripada 'Meow'."

  Ngomong-ngomong, intinya adalah Hiu tidak mengeluarkan suara...mungkin. Lalu aku melihat Yuigahama tampaknya sudah berpindah dari Hiu Kucing ke target berikutnya.

  "Ahh, ada belut juga disini!"

  Sambil mengatakannya, Yuigahama menjulurkan tangannya. Kulihat itu adalah seekor Pari. Dia pasti akan salah sebentar lagi.

  "Hyaaa!?"

  Dia berteriak, diikuti reaksi dari jarinya yang menarik diri secara cepat.

  "Aku seperti menyentuh sesuatu yang berlendir!"

  Dia mengatakannya seperti hendak menangis saja. Yukinoshita tiba-tiba terbangun dari mimpinya di Hiu Kucing dan bergegas ke arah Yuigahama dan bertanya.

  "Apa yang kau sentuh? Apa Hikigaya-kun? Kau sebaiknya cepat cuci tanganmu."

  Tunggu, apa? Tolong hentikan memperlakukanku seperti seekor Pari! Aku tidak menghasilkan lendir, oke? Tidak, jika para gadis mengatakan kalau tangannya menyentuh semacam keringat, mungkin lebih tepat jika dikatakan seekor belut? Aku akan memastikan kalau sudah mencuci tanganku terlebih dahulu sebelum menyentuh gadis manapun!

  Tapi, daripada menjadi orang yang mengatakannya, aku sejak tadi tidak mendapatkan kesempatan untuk menyentuh Hiu atau Pari. Aku melipat lenganku dan mulai menyentuh Hiu Kucing tersebut dan Belut untuk memuaskan rasa penasaranku.

  Kulit yang kasar dan lendir dari makhluk ini memang terasa menyenangkan. Yuigahama yang menarik tangannya, terus melihat ke arah Hiu Kucing dengan perasaan kagum.

  "Apa? Apa kamu yakin tidak mau menyentuh mereka lagi?"

  "Yep! Kupikir mereka akan kelelahan jika terlalu sering disentuh."

  "Begitu ya, itu memang dirimu, Yuigahama."

  Aku tiba-tiba tersenyum. Memang, jika hewan terus-terusan disentuh, mungkin akan membuatnya stress. Kucingku, misalnya, biasanya akan memukulku jika aku terlalu sering menyentuhnya. Jujur saja, aku lebih suka jika hewan bersikap seperti itu ketika merasa stress.

  Padahal aku mengatakannya dengan biasa. Tapi, Yuigahama tiba-tiba menatap ke bawah, menghindari tatapanku.

  "...Seperti diriku, apa maksudnya?"

  Aku berusaha mengikuti arah tatapannya. Salju yang turun seperti sedang berdansa dan membuat riak di air. Yuigahama tiba-tiba menaikkan kepalanya dan melihat ke arahku.



  "...Aku, aku tidak sebaik yang kau pikir, Hikki."

  Mata tersebut seperti memberi tahu tentang jarak yang kita miliki, persis seperti senyum yang terlihat di wajahnya.

  Kata-kata pelannya barusan terdengar seperti sebuah monolog.

  Mendengar hal itu, aku menahan napasku.

  Apa yang barusan kulakukan? Aku memang katakan itu mirip Yuigahama Yui, apa yang sebenarnya kumaksud dengan itu?

  Sekali lagi, aku merasakan ketidaknyamanan di seluruh tubuhku dan membuatku ketakutan, membuat dadaku bergetar. Sambil mengepalkan tanganku, aku tampaknya menyadari kalau aku baru saja menyinggung sesuatu yang sangat serius sehingga menimbulkan perasaan gelisah. Meski begitu, aku harus mengatakan sesuatu, tapi tidak ada kata-kata yang bisa kukatakan. Aku melihat bibirnya yang bergetar, senyum yang penuh kesedihan terlihat di matanya.

  Lalu, ada suara seperti "Kyui~~" terdengar.

  Mendengar hal itu, Yuigahama melihat asal suara itu, dan kembali dari sikapnya yang tadi.

  "Ahh, penguin! Hikki, Yukinon, ayo kesana!"






*   *   *





  Yuigahama mengatakannya dengan penuh semangat. Dia memanggil Yukinoshita untuk mengikutinya, dan itu membuat Yukinoshita menatapku keheranan. Aku juga berbalik menatap ke arahnya. Tapi, kedua matanya menatap ke arahku dan Yuigahama, seperti bertanya apa yang harus dilakukan.

  "Apa kita pergi kesana?"

  "Yup! Ayo kesini!"

  Yukinoshita lalu tersenyum ke arahnya. Aku berpikir apa dia juga mendengar pembicaraanku dengan Yuigahama barusan? Dia kemungkinan besar juga melihat ekspresi Yuigahama yang seperti tadi. Yuigahama lalu menarik lengan Yukinoshita, menuju ke wahana dengan nama Rocky Mountain. Tampaknya, lokasinya cukup terang.

  Melihat sosok mereka berdua, mereka terlihat sedang bergembira. Mungkin aku menilainya dari cara mereka berbicara. Sekarang, kami bertiga sedang bersenang-senang, seperti yang diinginkannya.

  Setelah berjalan sebentar, kami melihat bagian dari wahana Rocky Mountain. Disana, ada banyak Penguin sedang berteriak "Kyuuui" "Kyuuu". Mereka berlompatan ke arah kolam, atau duduk-duduk saja berdempetan dengan batu hanya sekedar untuk mendapatkan rasa hangat.

  "Waa. Manisnya!"

  "Tampaknya begitu."

  Yuigahama tampak sangat bersemangat sambil mengambil foto kawanan Penguin tersebut. Aku bisa melihat sebuah senyum kecil dari kejauhan, senyum dari Yukinoshita yang sedang menekan tombol lensa kameranya.

  Seperti yang kuduga, Penguin-san menjadi populer di kalangan para gadis.



  Kupikir mereka adalah makhluk yang keren. Mengesampingkan sikap mereka yang bisa berdiri tegak, mereka masih terlihat memiliki bentuk badan yang bulat. Mata yang bulat, yang melirik kesana-kemari ketika berjalan. Akupun tampaknya mulai menyukai hewan ini.

  "Mustahil, mereka terlihat semanis ini! Aku harus menunjukkan foto mereka ke Komachi!"

  Ketika para Penguin mulai mendekati pagar pembatas, aku menunggu momen-momen yang bagus sebelum kuputuskan untuk menekan tombol lensa kameraku dan berbunyi "pasha" "pasha" ketika mengambil gambar mereka.

  Jika Komachi melihat foto mereka, dia pasti bilang "Komachi ingin pergi kesini juga!" tampaknya akan terjadi. Lalu aku akan berkata "Baiklah, ayo kita pergi!" yang membuat Komachi meresponnya dengan pose yang manis dan lugu. Dan akhirnya, aku akan berkencan dengan adikku! NURUFUFUFUFUFU....


  Ketika aku sedang merencanakan rencana jahatku itu, Yuigahama dan Yukinoshita sudah berjalan meninggalkan lokasi. Sial, mereka meninggalkanku!



  Aku mengejar Yuigahama dan Yukinoshita. Keduanya, tampaknya mengikuti jalan setapak di wahana ini, lalu di depan mereka ada tangga yang menuju ke arah lantai dasar.

  Sebagai tambahan di rute normal wahana Penguin ini, ada semacam spot dimana kita bisa melihat Penguin berenang di kolam. Meski begitu, Penguin juga makhluk yang tinggal di darat, tapi dengan gaya yang berbeda dengan hewan lainnya. Mereka berjalan di daratan dengan langkah yang berat. Jika di air, mereka bisa dengan mudahnya bergerak, berenang dengan kecepatan yang luar biasa, dan membuatnya terlihat seperti sedang terbang di air.

  Melihatnya, Yuigahama langsung berteriak kegirangan, dan terus menarik lengan Yukinoshita.

  "Wow, luar biasa! Lihat cara mereka berenang! Apa kamu tidak berpikir kalau mereka sebenarnya adalah burung atau semacam itu?"

  "...Uh, memang pada dasarnya, Penguin adalah burung."

  Yukinoshita membalasnya dengan nada yang terkejut. Sambil menahan sakit kepalanya, dia mulai memegangi keningnya dengan tangannya. Mendengar jawabannya, Yuigahama lalu membuka mulutnya seperti seorang idiot dan melihat ke arahku.

  "...Aku....aku tahu itu!"

  Yukinoshita lalu tersenyum ke Yuigahama yang terlihat malu-malu, sedangkan aku tersenyum kecut. Tidak, aku sendiri tidak tahu harus memberikan ekspresi yang bagaimana.


  Setelah melihat para Penguin yang berenang dengan takjub, kami lalu mulai berjalan menaiki tangga dari lantai dasar. Dari sini, kami bisa melihat kumpulan Penguin sedang bersantai di Rocky Mountain. Lalu, ada dua Pinguin yang tertangkap oleh mataku. Mereka sedang bermesraan dan menyentuh bulu mereka masing-masing, lalu mereka seperti sedang berteriak-teriak.

  Melihat sikap hewan-hewan ini, memberiku perasaan yang menyenangkan. Sementara, aku mencoba membaca keterangan di depan kami. Yukinoshita dan Yuigahama lalu berada di sampingku membaca apa yang tertulis disana. Setelah menemukan spot yang bagus untuk membacanya, aku mulai membaca perlahan-lahan tulisan disana.

  Sepertinya, menurut penjelasan ini, kedua Pinguin yang kami lihat saat ini adalah suami dan istri. Dalam hidupnya, Pinguin Dewasa akan memilih pasangannya, lalu mereka akan terus berpasangan seperti itu hingga mati. Setelah membaca itu, aku melihat ke arah kedua Pinguin itu. Lalu, aku menyadari kalau bahu Yukinoshita seperti tergetar hebat, dia tampak sedang menahan napasnya karena keterkejutannya akan sesuatu.

  Lalu, dia meninggalkan lokasi tersebut dengan terburu-buru.

  "Ada apa?"

  Yukinoshita meninggalkan tempat ini dengan terburu-buru, dia bahkan tidak menoleh ke belakang hanya untuk membalas kata-kataku yang mencoba bertanya apa yang terjadi.

  "...Aku akan menunggu di dalam saja."

  Dia hanya membalasku dengan kata-kata tersebut, lalu menghilang begitu saja ke pintu masuk akuarium tanpa menoleh ke belakang.

  Area Penguin memang berada di area terbuka. Mempertimbangkan cuacanya, mungkin ini adalah saat yang tepat untuk masuk ke dalam. Lalu aku membalikkan badanku, disana Yuigahama masih melihat ke arah para Penguin tersebut. Dengan keadaan mata setengah tertutup, dia sepertinya menatap mereka dengan lembut.

  "Kupikir kita sebaiknya masuk ke dalam."

  "Ah, umm. Aku masih ingin melihat mereka dulu. Aku masih ingin mengambil beberapa gambar dulu!...Kamu duluan saja!"

  Setelah mengatakannya, dia menunjuk ke arah para Pinguin itu dan mengarahkan HP-nya ke arah mereka. Dia tidak tampak sedang menekan-nekan tombol di HP-nya, lebih tepatnya, dia hanya memegang HP-nya begitu saja.

  "...Begitu ya."

  Melihatnya yang seperti itu, aku malas untuk mengatakan hal-hal yang lain, lalu aku melangkah ke depan dan masuk ke bangunan itu. Suara-suara para Pinguin mulai terlihat menjauh dari belakangku. Dan akhirnya, aku tidak mendengar suara mereka lagi.

  Setelah lama berada di luar ruangan, kehangatan gedung ini seperti membuatku ingin bernapas lega saja. Disini, ternyata masih terdapat banyak sekali akuarium ikan. Di salah satunya, ada papan keterangan bertuliskan "Hutan Rumput Laut". Tanpa membaca keterangannya-pun, aku sudah bisa membaca ini akuarium apa, dipenuhi dengan rumput laut yang melambai-lambaikan tangannya. Rumput laut yang sangat besar...

  Dibanding sebelumnya, di area ini banyak disinari oleh cahaya yang dipantulkan oleh karang dan makhluk-makhluk laut lainnya yang berkilauan di dalam akuarium. Bahkan, di depan akuarium besar ini sengaja ditaruh bangku untuk duduk, seperti menonton sebuah bioskop saja. Tapi, tidak ada seorangpun yang sedang duduk disana. Di salah satu sudut dimana terdapat sedikit cahaya, sesosok orang yang sedang berdiri terlihat disana. Sosok itu...adalah sosok yang tidak mungkin tidak bisa kukenali dengan sekali lihat.

  Yukinoshita Yukino.

  Sosoknya disana, seperti menghalangi cahaya yang dipantulkan oleh akuarium itu, menjadikannya sebagai kanvas lukisan akuarium tersebut. Aku tidak sanggup memanggilnya. Kata-kata yang ingin kuucapkan seperti tertahan oleh sesuatu di hatiku.

  Oleh karena itu, aku menghentikan langkahku. Mendengar ada suara langkah kaki yang terhenti, Yukinoshita lalu membalikkan badannya ke arahku. Dia lalu menganggukkan kepalanya. Dengan begitu, aku mulai berjalan menuju arahnya, secara perlahan-lahan.



  "Dimana Yuigahama?" Yukinoshita bertanya kepadaku, tanpa melihatku sedikitpun dan hanya menatap ke arah akuarium tersebut, bahkan ketika aku tepat berada di sampingnya.

  "Dia sedang mengambil foto-foto Penguin tersebut. Katanya akan menyusul kesini nantinya, jadi aku memilih untuk menunggunya disini."

  "Begitu ya."

  Setelah jawabannya itu, kami berdua terdiam. Kami berdua hanya terdiam melihat akuarium yang berada di depan kami. Pantulan cahaya dari rumput laut raksasa ini memantulkan warna yang beragam ke ikan-ikan yang berenang di sekitarnya. Banyak sekali ikan yang berenang kesana-kemari. Ada juga ikan kecil yang bersembunyi di balik bayangan rumput laut tersebut. Di lain pihak, ada seekor ikan berwarna merah yang berenang kesana-kemari, seakan-akan tidak peduli terhadap sekitarnya.

  Mata Yukinoshita seperti menangkap pergerakan ikan tersebut, lalu dia tiba-tiba berkata.

  "...Mereka terlihat benar-benar bebas."

  "Yeah! Oh, ikan yang disana juga terlihat besar sekali."

  Suara pelan Yukinoshita tadi sepertinya memang tidak ditujukan ke siapapun. Bisa dikatakan sebuah monolog. Tapi, aku berani bertaruh kalau kami sedang melihat ikan yang sama. Jadi, sangat natural jika aku meresponnya seperti itu. Lalu, sebuah embusan napas lemah secara perlahan melewati bibirku ini.

  "Jika tidak bisa menemukan tempat untuk dituju, maka tidak akan menemukan tempat dimana seharusnya berada. Akan selalu bersembunyi, mengikuti kemana arus akan membawanya, sampai menabrak sebuah tembok yang tidak bisa dilihatnya..."



  Yukinoshita mengatakannya dengan lembut dan menyentuh kaca akuarium tersebut. Tapi, tidak lama kemudian, tangannya mulai turun dan kehilangan tenaganya. Aku menatap dirinya yang berada di sampingku, aku sendiri tidak tahu dia sekarang sedang menatap apa, tapi dia jelas-jelas sedang menatap ke arah di depannya.

  "Kamu sedang membicarakan ikan yang mana?"

  Karena aku tidak tahu dia sedang melihat apa, aku hanya bisa mendengarkannya saja.

  Kemudian, Yukinoshita memberikan jawabannya, dengan sebuah embusan napas yang pelan.

  "Diriku..."

  Sambil mengatakannya, dia mulai menyentuh kaca akuariumnya sekali lagi, dengan senyum yang penuh dengan rasa kesendirian di wajahnya, dia mulai mendekatkan wajahnya ke akuarium.

  Sosok dirinya yang menjulurkan tangannya seperti itu, seperti sedang hendak disedot masuk ke dalam akuarium, dia seperti tidak bisa kembali ke tempat yang ingin dia tuju, terhalang oleh tembok kaca. Seperti sebuah gelembung air yang menghilang, momen ini menggambarkan sebuah kehidupan yang memiliki siklus yang pendek.



  Ruangan ini cukup sunyi; tidak ada satupun suara bisa terdengar. Suara dari gelembung air yang keluar seperti terhalang oleh tembok kaca. Ketika aku melihat Yukinoshita menatap ke akuarium tersebut seperti sedang dikucilkan oleh dunia. Tidak lama kemudian, suara langkah kaki mulai terdengar.

  Melihat asal suara itu, aku melihat Yuigahama sedang melihat Yukinoshita dengan tatapan yang lembut. Ekspresi di wajahnya seperti antara wajah yang lembut dan hendak menangis.

  "Maaf sudah membuat kalian berdua menunggu!"

  Yuigahama lalu melambaikan kedua tangannya, memanggil kami berdua dengan senyumannya yang seperti biasa.

  Keluar dari ruangan ini, aku bisa melihat cahaya yang terang mulai menyinariku. Lantai yang sebelumnya dilapisi warna hitam, kini berubah menjadi warna coklat kayu. Lalu, terdengar suara 'tap...tap...tap' seperti sebuah langkah yang enerjik. Lalu dia berhenti tiba-tiba. Aku membayangkan apa yang barusan dia lihat hingga berhenti berjalan.

  "Ah, kesini, kesini!"

 Mengatakan hal itu, dia meminta diriku dan Yukinoshita untuk menuju ke arahnya. Memanggil kami berdua, melihat akuarium ikan yang berbentuk silinder.

  Pink dan Ungu, biru laut. Bermacam-macam warna dari cahaya yang dipantulkan oleh Ubur-Ubur, terlihat menghiasi akuarium ini. Yuigahama lalu memeluk lengan Yukinoshita, keduanya melihat pemandangan itu secara berdampingan. Akuarium air ini punya jendela kecil yang bisa digunakan pengunjung untuk mengintip ke dalam. Ini agak sesak jika dipakai orang bertiga untuk mengintip isi di dalamnya, jadi aku memundurkan diriku di jarak dimana aku bisa melihatnya dengan nyaman.

  "Wow, ini seperti kembang api!"

  Sambil melihat Ubur-Ubur yang berenang kesana-kemari, Yuigahama menggumamkan kata-kata itu seperti hendak mengingat sesuatu.

  "Oh?" Meski begitu, Ubur-Ubur ya Ubur-Ubur. Bahkan kalau aku amati baik-baik sekalipun, aku tidak bisa menemukan kecocokan antara Kembang Api dengan hewan ini.
[Note: Jelas Yui sebentar lagi akan melakukan sesuatu yang mirip dengan adegan paska festival kembang api musim panas.]

  Yuigahama memalingkan wajahnya kepadaku dan menunjuk ke salah satu spot di akuarium.

  "Masa tidak bisa melihatnya? Disana, di tempat itu! Pewww...Bangggggg!"

  Ubur-Ubur yang ditunjuk Yuigahama, memiliki semacam tubuh berbentuk bintang. Seperti sedang berkontraksi, lalu tubuhnya terlihat melonggar, begitu seterusnya hingga berulang.

  Meski dia ngotot mengatakannya, aku masih tidak bisa melihat kaitannya dengan Kembang Api.

  "Oh, apa mungkin begini: Mungkin ketika tubuhnya melingkar membentuk bulatan, maka menggambarkan semacam kembang api, begitu?"

  "Bukan, ini loh..."

  Sambil mengatakannya, dia menunjuk ke arah Ubur-Ubur dengan tentakel yang panjang dan menonjol. Tentakel tersebut berkontraksi, lalu sesudah itu tentakelnya seperti hendak melipatkan dirinya.

  Cahaya yang dihasilkannya memang bersinar. Seperti memancarkan cahaya emas.

  Aku memang pernah melihat kembang api yang semacam ini.

  Waktu itu, musim panas. Di sebuah taman yang padat dengan orang-orang, beberapa kembang api membentuk formasi seperti bintang-bintang di surga, memberikan warna gedung-gedung di Chiba bak sebuah gelas kaca yang memantulkan cahaya warna-warni tersebut. Dan diakhiri, oleh kembang api yang berwarna keemasan. Ingatan akan kejadian tersebut, aku masih bisa melihatnya dengan jelas, tepat di akuarium ini.



  Di depanku, Yuigahama berusaha berdekatan dengan Yukinoshita.

  "Kamu terlalu dekat..."

  "Ehehe."

  Yuigahama tidak mempedulikan kata-katanya, bahkan ketika Yukinoshita berusaha menggoyang-goyangkan tubuhnya agar lepas dari tangannya.

  Lalu, dia menarik Yukinoshita dan berdiri berdampingan di depan akuarium tersebut.

  Melihat refleksi mereka di kaca tersebut, aku meyakinkan posisiku terlebih dahulu kalau aku benar-benar berada di belakang mereka.

  Kemudian, Yuigahama menutup kedua matanya.

  "Aku benar-benar senang...karena kita bertiga bisa melihat ini bersama-sama."

  Nada yang terkesan lega, seperti embusan napasnya itu.

  Meski kata-katanya terdengar aneh, aku cukup yakin kalau aku paham maksudnya. Yukinoshita juga menyentuh dagunya dan mengangguk. Meski aku tidak 100% yakin, tapi aku berani katakan kalau kita merasakan hal yang sama.

  Kami akhirnya berjalan menuju sebuah koridor yang cukup terang, di luar sana terdapat restoran dan toko. Jika belok kiri maka kita akan keluar. Tampaknya akhir rute Sea World berada di sini, jika kita naik tangga ini, maka kita akan kembali ke pintu masuk.

  Melihat ke arah pintu masuk tersebut, jika belok kanan, maka akan menuju tempat dimana aku melihat Hiu Kepala Martil tadi.

  "SELESAI!"

  Yuigahama melompat kegirangan, dan melihat ke arah kami.

  "Hei, ayo kita masuk lagi dari awal!"

  "Tidak. Aku merasa tidak ada gunanya kita berkunjung ke tempat yang sama..."

  "Y-Ya. Aku setuju. Aku sudah agak lelah."

  Kebalikan dari Yuigahama, Yukinoshita tampaknya dihinggapi kelelahan yang luar biasa.

  Berjalan dan mengulang dari awal, aku tidak heran kalau Yukinoshita kelelahan. Pasti akan sangat sulit untuk seseorang dengan stamina sepertinya melakukan hal itu.

  Aku lalu menatap ke arah Yuigahama. Tolong kau pertimbangkan dulu dengan melihat kondisi Yukinoshita, itu yang ingin kukatakan kepadanya.

  Meski begitu, Yuigahama terus memutar-mutar sanggul rambutnya seperti menemukan sesuatu.

  "Begitu ya?...Kupikir akan menyenangkan. Ini kan masih belum waktunya..."

  Yuigahama memeriksa jamnya sambil mengatakan itu. Kemudian, dia seperti menemukan sesuatu.

  "Ah!"

  Dengan meninggikan suaranya, dia menunjuk ke arah Ferris Wheel raksasa yang tidak jauh dari posisi kami.
[Note: Ferris Wheel adalah wahana roda raksasa yang memiliki banyak kabin penumpang dan berputar di tempat secara perlahan. Diciptakan oleh George Washington Gale Ferris Jr, pada musim dingin tahun 1892. George Ferris adalah seorang arsitek dan banyak hasil karyanya menghiasi jembatan-jembatan di Pittsburg dan Chicago kala itu. Ferris Wheel menjadi wahana populer plus trade-mark wahana bermain di seluruh dunia.]

  Ferris Wheel #1 di Jepang. Memang, terlihat sangat besar.

  Aku lalu mengambil tiket Ferris Wheel di kantong dadaku dan membukanya. Kubaca disana, kalau diameternya sepanjang 111meter dan tinggi sepanjang 117 meter.

  Well, aku sendiri tidak bisa membandingkan seberapa tinggi hal tersebut. Kalau ditanya kata-kata yang tepat untuk mengatakannya, bisa kukatakan kalau ini sangat tinggi, juga menakutkan.

  Yuigahama merencanakan untuk naik Ferris Wheel karena tidak melihat ada banyak antrian orang disana. Setelah membeli tiket, kami naik ke atas pijakan untuk menunggu kabin kami tiba.

  Dan kemudian, horor dimulai.

  Kalau diingat-ingat, aku sudah 10 tahun tidak naik Ferris Wheel. Secara alami, aku menjadi sangat gugup ketika berjalan masuk. Ketika kabin kami tiba, perasaan penuh tantangan tiba-tiba menghinggapi diriku. Bahkan tiupan angin yang menerpaku memberiku perasaan kalau ini sama saja dengan bertaruh maut.

  "Menakutkan..." aku mengatakannya secara spontan.

  Tapi, aku hanya mengatakannya dengan berbisik. Seorang pria sejati tidak akan merasa ketakutan di depan kedua gadis. Tapi, jika aku sendirian, aku mungkin sudah memegangi tubuhku dan berteriak histeris.

  Ngomong-ngomong soal keduanya, mereka duduk berdampingan.

  "Whoaaa, tingginya! Menakutkan! Maksudku, ini benar-benar bergoyang seperti menebarkan teror!" Dia seperti mengatakannya dengan senang sambil menempel di jendela, hampir berdiri meninggalkan tempat duduknya. Karenanya, bisikan kecilku soal 'takut' tadi tidak terdengar. Di lain pihak, Yukinoshita terlihat pucat. Dia tidak melihat apapun, hanya melihat ke arah kakinya.

  "Hei, kau dengar aku? Kalau kamu memang tidak mau, aku akan keluar dan meminta mereka untuk stop, lalu mengeluarkan kita secepatnya!"
[Note: Yukinoshita pernah bercerita kalau dia ketakutan di wahana semacam ini karena dulu Haruno sering menakutinya ketika kecil, vol 9 chapter 8. Hachiman tiba-tiba membela Yukino saking segitunya...Jika Yui melihat adegan ini, jelas sekali kalau Yui tidak tahu apapun soal Yukino. Tetapi Hachiman tahu banyak soal Yukino. Ini menjelaskan banyak hal di pikiran Yui.]

  Yukinoshita tersenyum kepadaku, dia sepertinya sudah menduga kalau aku akan mengatakan hal tersebut. Karenanya, dia menatapku dan memberikan tatapan lembutnya.



  "Ini tidak apa-apa...Semuanya, bersama-sama..."

  Dia memalingkan wajahnya ketika mengatakannya. Kemudian, pemandangan kota mulai terlihat. Suaranya seperti tertahan di tenggorokannya. Dan kemudian, seperti hendak meminta tolong, dia memegang lengan Yuigahama dan memaksanya untuk duduk di kursinya.

  "Yuigahama-san. Kamu jangan melakukan hal itu ketika berada di kabin Ferris Wheel. Tidakkah kau baca instruksinya?"

  "Yukinon, kamu terlihat menakutkan! Ma...maaf, aku hanya mencoba untuk bersenang-senang..."

  "Bukannya aku terganggu dengan kamu yang ingin bersenang-senang, hanya saja kita tidak boleh menyepelekan standar keselamatan tempat ini juga."

  "Ahaha," Yuigahama tertawa sambil meminta maaf kepada Yukinoshita yang menatapnya dengan dingin sejak tadi. Meski begitu, Yukinoshita tidak sedikitpun melepas pegangannya di lengan Yuigahama.

  Kemudian, aku melihat dia menunjuk ke arah kanannya.

  "Lihat, arah sana! Rumah Yukinon mungkin ada disana. Ah, jika kita bisa lebih dekat ke arah sana, mungkin kita bisa melihatnya."

  "Ini sudah luar biasa. Kupikir pemandangan yang terlihat dari sini saja sudah bagus."



  Sambil mengatakannya, Yukinoshita memang menolak untuk bergerak sedikitpun. Tapi, dia secara perlahan-lahan mencoba mengintip ke arah luar jendela. Lalu dia menggumam 'Haaa...' seperti rasa penasarannya sudah terpuaskan.

  Tertarik dengan apa yang dilihatnya, akupun melihat ke arah luar jendela.

  Pemandangan salju yang menyelimuti kota Chiba mulai mengisi seluruh sudut mataku.

  Di kejauhan, gedung-gedung kota seperti sedang memakai riasan wajah berwarna putih.

  "Sangat cantik..."

  Aku mengangguk mendengar kata-kata Yuigahama. Aku memang merasakan hal itu juga.

  "Ah, seperti yang diharapkan dari Chiba-ku~"

  "Sejak kapan Chiba jadi milikmu?"

  "Sejak dululah...Tapi tempat kita berada sekarang, ini sudah masuk wilayah Tokyo, ya?"

  "Edogawa adalah salah satu dari 23 titik batas dari Tokyo, tahu tidak? Ngomong-ngomong, tempat ini lebih dekat dengan daerah Kasai. Aku ragu kalau kamu bisa lihat Chiba dari sini."
[Note: Edogawa adalah semacam spot atau daerah yang merupakan salah satu dari 23 titik masuk ke Tokyo, yang namanya didasarkan dari sungai yang mengaliri daerah tersebut, Sungai Edo.]

  Mendengarkan penjelasanku tadi, Yuigahama hanya bisa menggerutu saja sedangkan Yukinoshita tersenyum kepadaku seperti kagum akan jawabanku.

  Kemudian, kami memandangi pemandangan yang terhampar di depan kami, seperti tidak kenal lelah.

  Percakapan yang biasa, suasana yang normal, dan ini menggambarkan keseharian kita. Meski begitu, kakiku seperti terus digerogoti perasaan MENGGANTUNGKAN SESUATU DAN PENUH KETIDAKPASTIAN.

  Agar kestabilan tetap terjaga, Ferris Wheel berputar secara pelan. Perputarannya hanya di tempat itu-itu saja. Meski begitu...



  "...Ini akan berakhir sebentar lagi." dia menggumamkannya.





x Chapter VIII | END x
Menuju Chapter Terakhir






  Pertanyaan banyak sekali forumer tentang alasan Hachiman menerima ajakan kencan Yui terjawab, karena hutang kencan di vol 6 chapter 7.

  Tapi, perlu digarisbawahi kalau Hachiman sudah mengulur dua kali pembayaran kencan ini. Pertama di vol 6 chapter 7, dan kedua di vol 9 chapter 7.

  Lalu, apa yang membuat Hachiman berubah pikiran dan mau memenuhinya kali ini?

  Kita mendapatkan jawabannya jika menengok vol 11 chapter 7, alias tadi malam. Komachi menjelaskan kalau Hachiman yang bukan pembohong adalah kakaknya. Lalu Hachiman mengatakan hanya ada satu jalan untuk mengatasi masalah itu.

  Tidak lupa juga, semalam Hachiman memaki-maki dirinya sendiri dan menyebut dirinya bajingan.

  Kemungkinan besar, Hachiman menerima ajakan kencan ini karena Hachiman hendak menjelaskan Yui soal apa yang terjadi selama ini, dan jawaban atas perasaan Yui. Tentu saja, itu sekaligus menyelesaikan hutang kencan mereka. Plus, Hiu Kepala Martil tentunya.

  ...

  Tentu saja Hachiman gusar dan mempertanyakan tindakannya menemui Yui berduaan di Akuarium Raksasa apakah benar atau tidak...

  Karena Hachiman punya hubungan dengan Yukino, ketahuan berkencan merupakan masalah besar.

  Tapi, ada masalah dimana hanya bisa diselesaikan secara personal antara Yui dan Hachiman. Justru, hadirnya Yukino bisa membuat masalah melebar, meski itu benar-benar menyelesaikan masalahnya secara tuntas.

  Apakah yang Hachiman lakukan ini benar?

  Sebenarnya, konfrontasi dengan Yui sama saja mengulang vol 2 chapter 5, endingnya akan berputar-putar lagi. Tapi, mengapa Hachiman tidak mengajak Yukino ikut serta?

  Seperti yang kita tahu, dalam konfrontasi semacam ini, semua kebenaran akan dibuka, termasuk alasan Yui berteman dengan Yukino dan masuk menjadi Klub Relawan. Bagaimana jika Yukino tahu kalau Yui selama ini mendekatinya hanya untuk mendekati Hachiman?

  Well, sebenarnya kita sudah tahu jawabannya, Yukino akan menangis, tepat seperti vol 11 chapter 9.

  Menurut saya, tindakan Yui-lah yang benar. Yui mengajak Yukino turut serta untuk membuat semua ini menjadi jelas. Sedang alasan Hachiman tidak membawa Yukino juga bisa dipahami, karena ini akan membuat Yukino menangis. Tapi, metode Yui adalah yang terbaik, menyelesaikan masalah ini untuk selama-lamanya

  ...

  "Aku tidaklah sebaik yang kau kira"

  Adalah kata-kata Hayama untuk menyatakan kalau selama ini dirinya sebenarnya pria brengsek. Dan pernyataan Hayama tersebut benar adanya.

  Jika Yui mengatakan hal yang sama persis, kemungkinan besar Yui mengakui kalau selama ini dia brengsek atau membohongi sesuatu yang berhubungan dengan Hachiman.

  Memangnya, Yui berbohong apa saja?

  Vol 1 chapter 3, Yui jelas-jelas berbohong mengenai Miura dan Ebina yang tidak membantunya.

  Vol 3 chapter 1, Yui tidak menganggap pertemanannya dengan Yukino dan membohonginya. Padahal, di vol 1 chapter 7 Yui mengatakan Yukino adalah temannya. Artinya, Yui memang sejak awal bergabung ke Klub Relawan untuk mendekati Hachiman.

  Vol 3 chapter 6, Yui terus menyangkal kalau simpatinya ke Hachiman tidak berdasarkan Hachiman sebagai penolong anjingnya. Faktanya, Yui terus menyinggung kebaikan hati Hachiman yang menolong siapapun, dan yakin akan terus menolong meski seandainya kecelakaan itu tidak pernah terjadi, vol 5 chapter 6.

  ...

  Sekedar info, Yukino saat ini sedang membawa coklat Valentinenya yang harusnya diberikan kepada Hachiman. Dan hari ini adalah 14 Februari!

  ...

  Tampaknya saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar, Watari sendiri sudah memberi kode kalau ini tentang apa.

  Tentang sebuah perasaan yang digantung...

  Well, kita semua tahu siapa dan siapanya yang terlibat...




4 komentar:

  1. "karena Hachiman punya hubungan dengan Yukino, ketahuan berkencan adalah masalah besar."

    maksudnya hubungan antara hachiman dengan yukino apaan ya min?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita semua sama-sama tahu Hachiman suka siapa, apalagi setelah baca monolog adegan atraksi perahu di Disney Land. Lalu Hachiman sendiri tahu kalau Yukino mau memberinya coklat valentine. Jadi menurut anda, kalau Yukino tahu Hachiman menerima ajakan kencan Yui, kira-kira bagaimana mereka?

      Hapus
  2. Di chapter ini semua adegannya di tampilkan jelas di anime. Tapi setelah baca chapter ini, saya dapat kesimpulan kalo yui mau mastikan seberapa dekat hachiman ke yukino. Yui tau kalok dia pasti kalah sama yukino, tapi yui tetep berusaha dapetin haciman. Pernyataan tersebut ada di chapet berapa gitu saya lupa tapi di adegan itu yui waktu mau mencalonkan diri jadi ketua osis dia bilang begitu. Dan kata terahirnya kalo gak salah "aku mencintai klub itu...(jeda)... aku cinta.." sambil hampir menangis. Yah kita tau kalo kata cinta yang ke dua itu adalah cinta hikki. Cuma itu yang muncul di otakku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya betul. Yui bertekad menyelesaikan drama di Klubnya. Dengan kata lain, jika Yui masih ingin mendapatkan Hachiman, maka ini adalah usaha terakhirnya.

      Hapus