Rabu, 18 Desember 2019

[ TRANSLATE ] Oregairu Vol.14 Chapter 2 : Pada Akhirnya, Akan Tiba Masanya Kita Terbiasa Dengan Hubungan Yang Semacam Ini - 1





Siang yang damai dan bermandikan cahaya matahari ketika aku sedang makan siang di tempat yang biasanya. Kukunyah makan siangku sambil ditemani suara-suara dari Klub Tenis.

Hari ini terasa lebih dingin dari kemarin, tapi itu tidak membuat suasana diluar ruangan kurang nyaman. Pagi dan Sore memang akan lebih dingin, tapi tidak ketika siang, kau malah tidak butuh mantel ketika siang hari disini. Mandi cahaya matahari ketika langit tidak seberapa berawan memang terasa luar biasa.

Dalam beberapa hari, daerah sini akan berganti musim, dan musim semi sudah mulai lebih dekat dari sebelumnya.

Kumakan potongan terakhir dari roti yang kubeli di kantin dan kututup dengan teh. Akupun bernapas lega dan menaruh tanganku di dagu. Dalam posisi bermandikan cahaya, kututup kedua mataku.

Kufokuskan pendengaranku untuk mendengar suara pantulan bola dari lapangan dan suara dari kapten Klub Tenis, Totsuka. Tiba-tiba, suara langkah kaki mulai bercampur. Kubuka kedua mataku menuju arah suara itu, dan disapa oleh rambut bermodel sanggul yang berwarna peach ini. Si pemilik, Yuigahama, menyadari kehadiranku dan melambaikan tangannya.

“Ohh, ada apa?”

“Ketika membeli minuman di kantin, aku berpikir untuk memberikanmu ini ,” katanya. Setelah itu dia memberikanku sekaleng Maxx Coffee, lalu merapikan roknya dan duduk di sebelahku. Kuterima sekaleng kopi hangat tersebut, namun aku kurang tahu ada apa ini sebenarnya.

“Huh, ada apa ini? Ini untukku? Berapa?”

“Tidak usah bayar, karena kau sudah mentraktirku kemarin.”

“Oh, masuk akal. Ya sudah, kuambil ya.”

“OK.”

Sulit rasanya membayangkan dia sejauh itu hanya untuk membalas budiku, namun ini saja sudah sesuatu yang benar untuk dilakukan.

Kubuka penutup kalengnya dan meneguk hangatnya kopi tersebut, Max Coffee yang manis. Akupun mengangguk merasakan kehangatan kopi tersebut di tubuhku, namun...Aku merasakan ada yang menatapku. Kulihat ke arah tersebut, dan Yuigahama sedang melihat ke arahku, sambil memiringkan kepalanya. Tatapannya terasa hangat, sehangat matahari. Namun karena aku sudah merasa kurang nyaman, akupun memindahkan perhatianku dari dirinya dan memandangi daftar gizi di kopi ini.

Apa kau baik-baik saja? Entah mengapa sekarang diriku merasa sangat bersemangat sekali. Jangan bilang...Kalau tidak salah Max Coffee memakai beberapa bahan aneh? Seperti, memakai beberapa bubuk putih berbahaya...? Eh ini becanda kah? Tentu saja, ada disana! Bubuk putih yang membuat semua orang menjadi semangat, dan namanya adalah gula!

Akupun mulai mengumpulkan beberapa fakta tidak berguna di kepalaku. Lalu, Yuigahama berbicara kepadaku.

­“Jadi, kapan kita akan mengadakan pestanya?”

“Ahh...”kataku, untuk mengisi kesunyian ini, dan mengambil waktu untuk berpikir.

Pesta adalah sesuatu yang dia katakan semalam dan juga menjadi hal yang ingin dia wujudkan.

Tujuan pesta itu adalah sebagai apresiasi bagi semua orang yang sudah membantu mewujudkan usulan acara Malam Perpisahan palsu: Zaimokuza, dua member dari Klub Gamers, Miura, dan Ebina-san.

Tentu saja, ketiga laki-laki di atas pasti susah kalau diajak menghadiri pesta...Meski begitu, karena ini adalah keinginan Yuigahama, maka aku tidak bisa menolak.

Menganggap diriku yang terdiam ini sebagai gestur kalau aku sudah menyadari maksudnya, dia lalu menyentuh handphonenya dan menunjukkan sesuatu padaku.

“Yumiko dan Hina bilang mereka ada waktu luang hari ini, dan aku juga. Bagaimana kalau kita adakan hari ini?”

“Tapi kenapa kau tidak bertanya kepadaku apakah aku ada waktu luang hari ini?” tanyaku.

“Bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau ada waktu luang? Katamu besok, lusa, atau setelahnya?” kata Yuigahama sambil mengatakan itu dengan nada jengkel.

“Ya benar juga sih...”

Aku hanya bisa menaikkan bahuku karena tidak akan menyangka kalau itu akan dipakai untuk memastikan komitmenku. Kurasa aku harus hati-hati dalam berbicara di lain kesempatan! Aku sendiri tidak bisa memberikan argumen lain karena faktanya aku memang tidak ada kegiatan hari ini.

“Jadi, sekarang kita tanya ke Chuuni Dkk apakah mereka bisa datang...” katanya, menandakan kalau aku harus mendapatkan konfirmasi dari mereka.

“Kurasa hari ini bisa,” kataku, menjawab begitu saja.

“Huh? Serius?” katanya dengan nada terkejut.

Akupun mengangguk. “Yeah, mereka pasti tidak ada kerjaan lain. Aku ini ahlinya kalau soal ini.”

“Kau jangan terlalu percaya diri...”

Aku ragu kalau Klub Gamers sibuk dengan aktivitas Klub, atau apalah kegiatan mereka, dan itu juga berlaku ke Zaimokuza. Aku tahu karena aku berpengalaman di sebuah Klub yang aktivitasnya tidak jelas. Jadi aku ini bisa dikatakan orang yang berpengalaman.

Yuigahama yang sudah menjadwalkan acaranya, tampaknya tidak begitu paham dengan penjelasanku dan menatapku dengan tatapan curiga.

“Sekedar info saja ya, kalau mereka tidak datang, maka kau akan menjadi satu-satunya laki-laki yang hadir disana.”

“Itu terdengar menakutkan sekali...”

Situasi yang disebut harem adalah sesuatu yang mevvah dimana hanya Raja saja yang bisa menikmatinya. Kenyataannya, ingin muntah adalah hal pertama yang ada di pikiranmu ketika kau adalah satu-satunya laki-laki di dalam ruangan yang dipenuhi gadis-gadis. Dan yang terpenting, kau akan berkeringat seperti kondensasi segelas es teh di musim panas. Akan menyenangkan jika mereka tidak mempedulikanmu, tapi jika sebaliknya dan mereka bertanya “Kau tampak berkeringat, kau tidak apa-apa? Apa kau kepanasan?”, bahkan ketiakmu yang basah itu adalah hal terakhir yang harus kau khawatirkan. Di momen tersebut, air terjun niagara tampak muncul di mulutmu. Jika yang hadir itu adalah member klub yang biasa kau hadiri, kau bisa mencari-cari alasan untuk itu. Tapi jika berada di lingkungan yang tidak dikenal, kau akan seperti kucing sewaan, dan nasibmu akan seperti Patung Jizhou. Jadi, bagaimana jika kutambah Zaimokuza dan dua member Klub Gamer disana? Wow! Sekarang, ada tiga lagi patung yang datang dan totalnya sekarang menjadi empat!

Meski begitu, pepatah mengatakan kalau separuh berisi lebih baik daripada kosong, jadi kehadiran mereka memang jauh lebih baik daripada tidak hadir. Mengesampingkan apa opini Miura Dkk tentang mereka, kehadiran mereka jelas akan membantu kesehatan emosiku.

“Aku akan memikirkan cara untuk mengundang mereka...Karena kalau kuundang dengan cara biasa, mereka pasti akan menolak.”

“Benarkah?” katanya, masih belum yakin dengan kata-kataku.

Akupun mengangguk.

“Aku yakin sekali. Kalau mereka tahu orang seperti Miura akan datang, mereka pasti tidak akan datang. Memaksa orang untuk berpesta dengan orang-orang “flamboyan” adalah sebuah penyiksaan. Selama dua jam, yang mereka lakukan hanyalah menatap ke arah jam dinding dan mengisi ulang minuman mereka. Malah, waktu yang mereka habiskan di toilet jauh lebih lama dari biasanya. Aku sudah berpengalaman dalam hal ini.”

“Kau ini terlalu berlebihan! Itu kan  Cuma pengalamanmu saja!” Yuigahama mengatakan itu dengan kesal.

Kugaruk-garuk dahiku dan mengatakan, “Begini, masalahnya ini berakar dari mereka yang bukan kenalan langsung.”

“Oh, begitu, masuk akal sih...” kata Yuigahama, akhirnya mengerti situasinya.

Aku sendiri tahu Miura adalah orang baik, tapi kelakuannya yang elit itu membuat siapa saja ketakutan di pertemuan pertama mereka. Maksudku, aku sendiri begitu sampai sekarang!

Tapi, dari sudut pandang orang yang terbiasa dengannya, itu bukanlah masalah besar. Yuigahama lalu bertepuk tangan dan menatapku, menunjukku dengan jarinya dan mulai menjelaskan sesuatu.

“Oh, begini, bukankah Chuuni sudah kenal Yumiko dan Hina? Jadi yang dia perlukan tinggal mengakrabkan diri saja dan...”

“Begini, masalahnya itu mereka bukanlah kenalan secara langsung...”

“Alasan itu lagi!?”

“Kamu becanda ya? Aku sendiri tidak yakin kalau aku ini kenalan Miura dan Ebina-san, apalagi Zaimokuza, jelas dia sangat tidak yakin lagi. Juga, mustahil dia akan mengakrabkan diri dengan mereka di pesta.”

“Well, karena itulah aku meminta bantuanmu...Kau pasti bisa melakukannya, Hikki.” Yuigahama mengucapkannya sambil mengepalkan tangannya di depan dadanya.

Hanya senyum kecut yang keluar dari wajahku.

Terimakasih sudah memberiku semangat, tapi kurasa itu tidak akan terjadi...

Kenapa kau sampai sejauh itu mau mengumpulkan makhluk-makhluk yang berbeda habitat di satu tempat? Maksudku, apa kau mencoba membuat Coloseum dimana makhluk bermana Miu-Lion dan Zaimoku-Slave akan bertempur? Apa kau tidak pernah baca sejarah kalau tempat itu hanyalah tempat yang mengerikan dan digunakan untuk tontonan pembantaian saja?

Tapi kukesampingkan pikiranku itu, karena perintah Kaisar Gahama adalah mutlak.

“...Ya sudah, kulakukan sesuatu agar mereka mau datang. Lalu dimana lokasi pestanya?”

“Karaoke, atau sejenisnya...” katanya, sambil menatap ke arah langit. Lalu, dia menatapku kembali seolah-olah menunggu konfirmasiku.

“Ya sudah...Kuusahakan mereka  datang,” kataku setelah terdiam sejenak.

Aku butuh waktu untuk memikirkan ide-ide bagaimana meyakinkan mereka untuk mengikuti ajakanku. Lalu, akupun menambahkan, “Aku akan mengundang mereka setelah pulang sekolah.”

“Oke,” katanya, sambil mengangguk.

Dia lalu membetulkan posisi duduknya lagi dan beberapa cm lebih dekat denganku. Angin dingin meniup rambutnya yang lembut, dan setelah memegangnya dengan tangan, dia memindahkannya ke belakang telinganya. Sambil meliriknya, aku mulai meminum kopi gulaku yang hangat ini.

Aku mengira dia akan pergi setelah menjelaskan tentang detail pestanya, tapi tampaknya tidak begitu. Ah sudahlah, cuacanya memang lagi bagus, dan spot ini juga bukan spot eksklusif milikku. Kalau dia ingin bersantai disini, maka aku tidak akan keberatan.

Karena merasa kurang nyaman dengan situasinya, aku mulai melirik ke arah lapangan tenis. Suara bola yang memantul sudah berhenti, dan member Klub mulai membereskan peralatannya. Setelah berlatih, mereka tampak kotor dan kelelahan, kecuali satu orang disana. Dia seperti Dewi Rembulan dalam Mitologi Yunani, Selene, dan menjadi objek keindahan dan penyembuh dari Klub Tenis, Totsuka Saika. Sungguh Glitterific!

Kulambaikan tanganku ke arahnya, sementara dia sedang menyeka keringat dan menaruh tas ransel di punggungnya. Ketika menyadariku, dia sedikit melambaikan tangannya.

Cara kita memberi gestur agar tidak mencolok sungguh luar biasa...Misalnya, ketika kau pergi ke konsernya aktor pengisi suara anime, semua orang di sekitarmu sibuk melambaikan light-stick dan menyebut-nyebut idolanya, kau lalu mundur ke belakang dan berpose seperti Vega, dengan aura seseorang yang melihat kekasihnya. Kita bisa saja dikira pacar si pengisi suaranya, benar tidak? Kalau tidak dikira pacarnya, biasanya ya dikira orang tidak dikenal saja...

Melihat kita berdua, Totsuka kemudian berbicara kepada member Klubnya, lalu bergegas kemari. Melihat itu, Yuigahama ikut melambaikan tangannya.

“Oh, yahallo, Sai-chan!”

“Uh huh, yahallo.”

Totsuka tampak tersengal-sengal membalas sapaannya tadi. Lalu, dia tersenyum manis kepadaku.

Sapaan yang manis...

Aku sendiri mulai terhipnotis oleh kata-katanya itu...Tunggu, tidak. Ini bahkan tidak termasuk bahasa asli Jepang? Coba kuingat lagi, bahasa apa ada kata “Yahallo”?

Ketika aku mulai diliputi perjuangan panjang untuk memikirkan itu, Yuigahama tiba-tiba mengatakan sesuatu.

“Sibuk dengan kegiatan Klub? Wow, kau kurus sekali.”

“Ku-Kurus...? Hmm, aku tidak terlalu yakin soal itu,” dia mengatakan itu sambil malu-malu.

“Percaya deh Sai-chan, kau ini kurus sekali. Kau butuh asupan daging, wah ini tidak adil.” Yuigahama mengatakan itu dengan ekspresi penuh penyesalan.

“Be-Benarkah...?” tanya Totsuka.

Lalu Yuigahama mulai mencubit Totsuka. “Aduh, ja-jangan...”

“Tuh kan! Kurus sekali! Lihat Hikki, dia kurus sekali!”

Totsuka tampak memelas agar dilepaskan, namun Yuigahama malah tidak menghiraukannya, dan mengajakku ikut serta.

Oh? Apakah aku mendapatkan kehormatan untuk itu juga?

Kugerakkan tanganku  secara perlahan. Atau lebih tepatnya, aku sedang berusaha untuk itu.

“Hachiman...tolong hentikan dia...” Totsuka memelas.

Seketika, aku terdiam. Dadaku seperti baru ditembus oleh anak panah. Kuputuskan untuk segera mengganti topiknya.

Akan segera kulakukan sesuatu, jangan khawatir!

“Totsuka, apa kau ada waktu luang malam ini?” tanyaku.

Dia memiringkan kepalanya. Sedang Yuigahama tiba-tiba berhenti mencubitnya, dan mulai menepuk-nepuk kepalanya. Akupun langsung menambahkan.

“Maksudku pergi ke karaoke. Masih ingat dulu aku butuh bantunmu soal acara Malam Perpisahan Siswa? Rencana itu berjalan dengan baik, jadi kita kali ini hendak merayakannya...”

Agar usulan acara palsu itu lolos, aku berkonsultasi ke Totsuka. Malahan, kalau tidak karena ada dirinya dulu, mungkin aku tidak akan bisa berbicara banyak soal detail acaranya. Karena aku belum berterimakasih kepadanya, aku ingin dia hadir ke pesta itu.

“Betul, betul! Kau harus datang, Sai-chan!” kata Yuigahama, sambil menepuk kedua tangannya.

Totsuka berada di situasi yang sulit untuk menolak, lalu berkata, “Ya sudah kalau kalian tidak keberatan aku bergabung setelah kegiatan Klub...”

Akupun mengangguk untuk membalas senyumnya itu. Kemudian, bel tanda jam makan siang berakhir berbunyi.

“Ayo kita kembali ke kelas,” kata Yuigahama. Dia lalu berdiri, dan membersihkan roknya. Akupun berdiri, dan menghabiskan minumanku. Kubuang sampah roti dan minuman dalam perjalanan ke Gedung Utama, kutaruh jari-jariku yang kedinginan itu di dalam kantong.

Rencana sudah disiapkan. Aku sendiri awalnya tidak begitu antusias dengan rencana pesta ini, tapi entah mengapa, kini aku mulai merasa antusias.





x Chapter 2 Part 1 | END x 

5 komentar: