Jumat, 14 Juli 2017

[ TRANSLATE ] Biblia Vol 3 Chapter 1 : Young, Robert F. Gadis Dandelion. Shueisha Bunko. (6/7)




Setelah menutup toko, kami pergi menggunakan Kereta Yokosuka dan pergi ke Ofuna.

Aku berpikir untuk mengajaknya ke sebuah tempat yang kekinian, tapi Shioriko meminta untuk pergi ke sebuah bar yang sering kukunjungi di dekat Stasiun. Kami menuruni tangga stasiun dan menuju ke sebuah kompleks bar bergaya Jepang jaman dahulu. Seorang karyawan bar langsung menyapa kami ketika kami melewati pintu otomatis bar mereka.

Sepertinya pelanggan malam ini tidak begitu banyak. Ini adalah situasi dimana kita bisa minum-minum dengan tenang.

Kita memilih sebuah meja yang diperuntukkan untuk empat orang dan duduk berseberangan. Shioriko memberiku daftar menunya dan ketika pelayan barnya datang untuk menanyakan pesanan, dia bertanya apakah ada Hakkaisan disini. Aku tidak menduga kalau dia akan langsung mau meminum sake sejak awal.

"Aku tidak tahu kalau kau minum sake."

"Aku tidak begitu suka selain yang itu...Aku tidak begitu bisa meminum minuman yang semacam itu."

Aku tidak pernah dengar kalau ada orang yang tidak bisa meminum apapun selain sake. Entah apa dia sadar atau tidak, kalau dia sanggup sake, bukankah dia kuat dengan minuman alkohol lainnya? Aku sendiri hanya memesan bir.

Bahkan setelah "tos" singkat kami, aku masih belum percaya kalau kita bisa minum bersama-sama. Aku tidak pernah sekalipun membayangkan kalau adegan semacam ini bisa terjadi.

Shioriko sedari tadi hanya melihat ke arah bawah dan hanya berbicara sesekali. Aku tidak tahu apa alasannya mengundangku minum, tapi aku ingin memberitahunya sesuatu ketika dirinya masih dalam keadaan "sadar". Kutaruh gelas minumku. Aku masih belum meminta maaf atas kesalahanku di toko tadi.

"Soal kejadian tadi..."

"Umm...Terima kasih banyak atas bantuanmu."

Dia tiba-tiba menatapku.

"Huh? Kenapa kau harus berterimakasih kepadaku?"

"Ketika Hitori datang, kau berdebat dengannya untukku...Itu benar-benar membantuku. Itulah mengapa aku mentraktirmu saat ini."

Aku benar-benar bingung...Sepertinya dia sangat serius untuk berterimakasih kepadaku. Dia menaikkan gelasnya dan meminum kembali sakenya.

"Aku...Ingin meminta maaf."

"Apa maksudmu?"

"Waktu aku bilang kalau kau harusnya mengambil semua buku-buku langka yang ada di pameran jika kau pelakunya..."

"Oh, itu ya."

Dia menepuk kedua tangannya seperti teringat akan sesuatu. Kedua pinggiran matanya mulai tampak memerah.

"Jangan khawatir soal itu. Memang, itu ada benarnya."

Meja-meja yang berada di sekitar kami tampak kosong, dan selain karyawan bar ini, tampaknya hanya Shioriko dan diriku saja yang ada disini. Kami berbicara di bar ini dengan suara yang tidak begitu keras, seperti yang biasa kami lakukan di toko, dan suasana disini tidaklah begitu buruk.

Shioriko tampak lebih tenang, mungkin karena efek dari alkohol di tubuhnya. Dia bukanlah tipe orang yang suka banyak berbicara ketika minum-minum. Sikap dan ekspresinya tampak lebih tenang. Dia adalah pemabuk yang manis!

"Tahun baru akan datang sebentar lagi, benar tidak?"

Dia mengatakan itu sambil melihat ke arah dinding. Ada semacam poster yang bertuliskan semacam promo. "Minum Sesukanya Hanya 3500Yen". Entah mengapa mereka juga menaruh gambar kelinci di poster itu.

"Kenapa mereka menaruh kelinci di poster itu..."

"Bukankah itu shio untuk tahun depan?"

"Ah, benar juga."

Memang, tahun depan adalah tahun kelinci. Aku benar-benar tidak menyadarinya.

"Kemarin lusa aku melihat seekor kelinci, kemarin rusa, dan hari ini adalah dirimu."

Shioriko tersenyum dan mengucapkan itu dengan irama lagu. Dia tampak sangat bahagia, dan ini merupakan pemandangan yang menakjubkan bagiku.

Kalau dipikir-pikir lagi, aku malah ingin membicarakan tentang buku Gadis Dandelion.

"Oh iya, soal Gadis Dandelion..."

"Apa kau ingin tahu kelanjutan ceritanya? Setelah si protagonis berpisah dengan si gadis?"

Sebenarnya cerita itu tidak begitu penting, tapi karena dia sudah mengatakan itu, akupun juga penasaran soal kelanjutan ceritanya. Sepertinya, aku mulai mabuk.

"Ya."

"Liburan si protagonis telah berakhir dan dia kembali kepada kehidupan lamanya. Tapi, dia tidak pernah melupakan si gadis. Kemudian dia menyadari kalau dia masih terhubung dengan si gadis   namun ini dengan cara yang tidak biasa."

Mungkin karena efek dari alkohol, tapi suaranya tampak lebih tenang dari biasanya. Kurasa cerita semacam ini memang cukup baik jika diceritakan dengan nada yang seperti ini.

"Si gadis menyimpan sebuah rahasia besar dari si protagonis. Sebuah rahasia dimana dia tidak bisa memberitahunya, dimana rahasia itu bisa menghancurkan hubungan mereka. Si protagonis bahkan mempertanyakan dirinya sendiri ketika dia mulai menyadari rahasia tersebut, dan dia berpikir kenapa dia tidak memberitahuku? Kenapa dia tidak berterus terang saja selama ini? Cerita berakhir dengan protagonis bertemu kembali dengan si gadis."

"Hmm...Tunggu, bukankah kau melupakan satu hal penting dalam cerita barusan?"

Shioriko tiba-tiba mengangguk dan mengambil tas yang ditaruh di dekatnya. Dia mengeluarkan sebuah buku berjudul Gadis Dandelion yang bersampul wax paper dan memberikannya kepadaku.

"Kurasa akan lebih baik jika kau membaca bagian itu sendiri. Itu cukup pendek...Tapi jika kau ternyata tidak bisa membacanya, aku akan memberitahunya kepadamu."

"Apa kau sejak awal memang berencana untuk membiarkanku membaca ini?"

Shioriko kemudian mengangguk. Dia pasti benar-benar berharap kalau aku akan membacanya. Dengan perlahan kuterima buku itu dan menaruhnya di kantong jaket, sehingga aku tidak lupa. Aku akan merawatnya dengan baik; ini adalah sebuah buku kenangan dari ayahnya.

"Ayahku pasti memiliki pikiran yang sama..."

"Apa maksudmu?"

"Seperti, kenapa dia tidak memberitahuku? Kenapa dia tidak berterus terang saja selama ini?...Hal-hal yang ingin dia katakan ke ibuku."

Spontan aku membetulkan posisi dudukku. Meski dalam pengaruh alkohol, agak mengejutkan bagi Shioriko untuk bercerita tentang ibunya.

"Apa ibumu juga punya rahasia?"

"Aku yakin dia menyembunyikan sesuatu dari kami...Ayahku terus-menerus membaca buku ini setelah ibuku menghilang. Seperti sedang mencari sebuah petunjuk. Dia bukanlah tipe orang yang dengan mudahnya menceritakan perasaannya, dan menjadi lebih sering setelah ibuku pergi. Mungkin dialah orang paling sedih dari kita semua..."

Aku setuju dengan kesimpulannya barusan. Memang sulit untuk memahami apa yang dirasakan oleh anggota keluarga lainnya, terutama jika dia sifatnya tidak mudah untuk menceritakan perasaannya. Aku juga pernah mengalami pengalaman yang serupa.

Seperti ingin mengakhiri percakapan ini, Shioriko mengambil gelasnya kembali, mengisinya dengan sake, dan meminumnya sekaligus.

"Ngomong-ngomong, bagaimana kita bisa menemukan pelakunya?"

Aku memang berencana menanyakan itu waktu toko masih buka, tapi tidak menemukan momen yang tepat karena dia ada di rumah sambil menerima telepon.

"Apa lebih baik kita mendiskusikannya dengan Takino?"

Dia tidak menjawabku.

"Shioriko?"

"Y...Ya...?"

Dia tiba-tiba memberikan jawaban yang tidak jelas sambil menggoyang-goyangkan kepalanya. Dia sepertinya sudah mulai mabuk, dan meminum sakenya lagi hanya membuatnya bertambah pusing.

"Apa kau ingin memesan air minum?"

"Tidak...Aku tidak apa-apa."

Shioriko mengatakan itu dengan nada tersedak. Menurutku, dia tampak mengkhawatirkan.

"Kalau soal buku Gadis Dandelion, jangan khawatir."

Oh, dia sedang membicarakan kasus itu. Tapi kasus itu juga situasinya tidak dalam level "jangan khawatir". Bahkan cara bicaranya mulai tidak karuan.

"Aku...Sudah tahu siapa pelakunya."

"Eh?"

Aku langsung tersadar sepenuhnya.

"Serius?"

"Aku serius...Meski begitu, ada beberapa hal yang tidak aku pahami...*hic*."

Jelas, dia butuh air. Ketika aku hendak memanggil pelayan, Shioriko menaruh kedua tangannya di meja dan tertunduk begitu saja. Dia lalu melihat ke arah wajahku, tapi ujung rambutnya menyentuh mangkok tahu goreng. Secara spontan, aku memindahkan mangkok tersebut.

"Si pelaku harusnya muncul di toko besok...Aku sudah membuat janji. Daisuke, pastikan kau hadir disana."

"Tentu saja. Bukankah itu juga tempat kerjaku."

Shioriko lalu tersenyum kecil. Ini juga membuatku khawatir apakah dia benar-benar sudah memecahkan kasusnya atau tidak.






x Chapter I Part VI | End x








*Jika ada pembaca yang mencoba menebak pelakunya, ini adalah batas akhirnya sebelum mencapai bagian akhir chapter untuk penjelasan kasusnya. Jika memiliki kritik dan saran tentang kualitas translasi Biblia, mohon kiranya untuk tidak ragu menulis di kolom komentar.


3 komentar:

  1. Menurut saya buku tersebut sebenarny tidaklah hilang melainkan hitori sendirilah yang menyembunyikannya.krna di chapter ini hanya fokus pd 4 orng jd kemungkinan hanya 3 orng yang dapat dijadikan tersangka(abaikan goura dia hanya pengemar buku yang tidak bs membaca buku). shioriko sendiri mengatakan sudah mengetahui siapa pelakunya, saya ragu kalau shiorikolah pelakunya. Melihat takino yang aktif mendukung shioriko sulit mengatakan kalau dia pelakunya, tidak ad juga tanda-tanda kalau taniko menjadi kambing hitam antara hitori dan shioriko. Motif hitori disini sangat kuat mengingat dia sangat membenci shioriko (lbh tpt ibuny) mengkn hitori ingin membuat nama Biblia jelek dalam dunia toko buku bekas. Soal mengapa timingny sangat pas dimana shioriko mengeluarkan buku dandelion sya tidak bisa menjelaskan. Mngkn kebetulan.XD

    BalasHapus
  2. Min ada Link Oregairu VN Haruno route ga?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum dapat. Kalau nantinya anda punya, boleh share juga ke email saya =)

      Hapus